Anda di halaman 1dari 9

Penjumlahan dan pengurangan suku suku sejenis

Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar

Untuk memudahkan Anda memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar perhatikan

uraian berikut ini. “Wawan memiliki 10 kelereng merah dan 4 kelereng putih. Jika kelereng merah

dinyatakan dengan x dan kelereng putih dinyatakan dengan y maka banyaknya kelereng Wawan adalah

10x + 4y”. Selanjutnya, “jika Wawan diberi kakaknya 7 kelereng merah dan 3 kelereng putih maka

banyaknya kelereng Wawan sekarang adalah 17x + 7y”. Hasil ini diperoleh dari (10x + 4y) + (7x + 3y).

Amatilah bentuk aljabar 3x2 – 2x + 3y + x2 + 5x + 10. Suku-suku 3x2 dan x2 disebut suku-suku sejenis,

demikian juga suku-suku –2x dan 5x. Adapun suku-suku –2x dan 3y merupakan suku-suku tidak sejenis.

Suku-suku sejenis adalah suku yang memiliki variabel dan pangkat dari masing-masing variabel yang

sama. Pemahaman mengenai suku-suku sejenis dan suku-suku tidak sejenis sangat bermanfaat dalam

menyelesaikan operasi penjumlahan dan pengurangan dari bentuk aljabar. Operasi penjumlahan dan

pengurangan pada bentuk aljabar dapat diselesaikan dengan memanfaatkan sifat komutatif, asosiatif,

dan distributif dengan memerhatikan suku-suku yang sejenis. Sifat-sifat tersebut berlaku pada

penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.

Contoh Soal 1

Tentukan hasil penjumlahan 3x2 – 2x + 5 dengan x2 + 4x – 3.

Penyelesaian:

(3x2 – 2x + 5) + (x2 + 4x – 3)

= 3x2 – 2x + 5 + x2 + 4x – 3

= 3x2 + x2 – 2x + 4x + 5 – 3 (kelompokkan suku-suku sejenis)

= (3 + 1)x2 + (–2 + 4)x + (5 – 3) (sifat distributif)


= 4x2 + 2x + 2

Contoh Soal 2

Tentukan hasil pengurangan 4y2 – 3y + 2 dari 2(5y2 – 3).

Penyelesaian:

2(5y2 – 3) – (4y2 – 3y + 2)

= 10y2 – 6 – 4y2 + 3y – 2

= (10 – 4)y2 + 3y + (–6 – 2)

= 6y2 + 3y – 8

OPERASI PERKALIAN PADA BENTUK ALJABAR

Pada postingan sebelumnya Mafia Online sudah mengulas tentang operasi penjumlahan dan
pengurangan pada bentuk aljabar. Perlu Anda ingat kembali bahwa pada perkalian bilangan bulat akan
berlaku sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan, yaitu a(b+c) = (ab)+(ac) dan sifat distributif
perkalian terhadap pengurangan, yaitu a(b – c) = (ab) – (a c), untuk setiap bilangan bulat a, b, dan c.
Bagaimana dengan bentuk aljabar, apakah berlaku juga dengan sifat distributif terhadap penjumlahan
dan sifat distributif terhadap pengurangan?

Sifat distributif terhadap penjumlahan dan sifat distributif terhadap pengurangan juga akan berlaku pada
perkalian bentuk aljabar, yakni:
a. Perkalian antara konstanta dengan bentuk aljabar

Perkalian suatu bilangan konstanta k dengan bentuk aljabar suku satu dan suku dua dinyatakan sebagai

berikut.

<=> k(ax) = kax

<=> k(ax + b) = kax + kb

Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang perkalian antara konstanta dengan bentuk aljabar

perhatikan contoh soal di bawah ini.


Contoh Soal 1

Jabarkan bentuk aljabar berikut, kemudian sederhanakanlah.

a. 4(p + q)

b. 5(ax + by)

c. 3(x – 2) + 6(7x + 1)

d. –8(2x – y + 3z)

Penyelesaian:

a. 4(p + q) = 4p + 4q

b. 5(ax + by) = 5ax + 5by

c. 3(x – 2) + 6(7x + 1)

= 3x – 6 + 42x + 6

= (3 + 42)x – 6 + 6

= 45x

d. –8(2x – y + 3z) = –16x + 8y – 24z

b. Perkalian antara dua bentuk aljabar

Sebagaimana perkalian suatu konstanta dengan bentuk aljabar seperti yang sudah dijelaskan pada

postingan di atas, untuk menentukan hasil kali antara dua bentuk aljabar kita dapat memanfaatkan sifat

distributif perkalian terhadap penjumlahan dan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan.

Selain dengan memanfaatkan sifat distributif, untuk menentukan hasil kali antara dua bentuk aljabar,

dapat menggunakan cara sebagai berikut. Perhatikan perkalian antara bentuk aljabar suku dua dengan

suku dua berikut.


Selain dengan cara skema seperti di atas, untuk mengalikan bentuk aljabar suku dua dengan suku dua

dapat digunakan sifat distributif seperti uraian berikut.

(nx+b)(mx+d) = nx (mx+d)+b(mx+d)

= nmx2+ndx+mbx+bd

=nmx2+(nd+mb)x+bd

Adapun pada perkalian bentuk aljabar suku dua dengan suku tiga berlaku sebagai berikut.

= ax.cx2 + ax.dx + ax.e + b.cx2 + b.dx + b.e

= acx3 + adx2 + aex + bcx2 + bdx + be

= acx3 + (ad + bc)x2 + (ae + bd)x + be

Selain dengan cara skema seperti di atas, untuk mengalikan bentuk aljabar suku dua dengan suku dua

dapat digunakan sifat distributif seperti uraian berikut.


(ax + b) (cx2 + dx + e) = ax(cx2 + dx + e)+ b(cx2 + dx + e)

= acx3 + adx2 + aex + bcx2 + bdx + be

= acx3 + (ad + bc)x2 + (ae + bd)x + be

Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang perkalian bentuk aljabar dengan bentuk aljabar silahkan

perhatikan contoh soal di bawah ini.

Contoh Soal 2

Tentukan hasil perkalian bentuk aljabar berikut dalam bentuk jumlah atau selisih.

1. (2x + 3)(3x – 2)

2. (–4a + b)(4a + 2b)

3. (2x – 1)(x2 – 2x + 4)

4. (x + 2)(x – 2)
Operasi Pecahan Bentuk Aljabar, Contoh Soal dan Pembahasan
Devi Fristasari 5:36 AM
Operasi Pecahan Bentuk Aljabar, Contoh Soal dan Pembahasan - Pecahan adalah salah
satu bab matematika yang cukup rumit dan membingungkan bagi setiap pelajar. Namun jika
kita cermati dan pahami betul materi ini, sangat mudah untuk mengerjakannya. Dari mulai
SD hingga selanjutnya, pecahan akan terus digunakan. Materi ini termasuk materi dasar.

Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya operasi pecahan pada bentuk aljabar. Sebetulnya sama
halnya bentuk aljabar pada umumnya, hanya saja sekarang terdapat pembilang dan penyebut
yang harus disamakan. Langsung saja ke TKP.

OPERASI PADA BENTUK ALJABAR


- Pecahan -
Contoh pecahan dalam bentuk aljabar :

1. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Bentuk Aljabar

Konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan pada bentuk aljabar sama halnya dengan
pengurangan dan penjumlahan pecahan pada umumnya, yaitu dengan menyamakan
penyebutnya terlebih dahulu kemudian baru dijumlahkan atau dikurangkan sesuai soal.

Contoh :
2. Perkalian dan Pembagian Pecahan Bentuk Aljabar

a. Perkalian

Pada perkalian bentuk aljabar, cara penyelesaiannya dengan mengalikan pembilang dengan
pembilang dan penyebut dengan penyebut.

Contoh :

b. Pembagian

Pembagian pecahan bentuk aljabar penyelesaiannya sama halnya dengan pecahan pada
umumnya. Yakni dengan membalik pembilang menjadi penyebut atau sebaliknya pada
bilangan ke-2.

Contoh :