Anda di halaman 1dari 3

SEJARAH TUGU MAC ARTHUR

Pada tanggal 7 Desember 1941 Jepang memulai perang Pasifik dengan


menyerang Pearl Harbour di Hawai. Kurang dari delapan jam kemudian Jepang
membom Clarc Field, utara Manila. Tiga hari kemudian Mac Arthur menyatakan
Manila sebagai kota terbuka dan pindah ke Corregidor. Selama dua minggu kemudian
di bawah tekanan berat tentara Jepang, pasukan Amerika di Filipina ditarik ke Bataan
dan mereka meneruskan perlawanan terhadap Jepang selama tiga bulan. Pada bulan
Maret 1942 Presiden Franklin Roosevelt memerintahkan Mac Arthur dan keluarganya
menuju ke Melbourne. Mac Arthur membuat pernyataan ...”I shall return”.

Tugas utama adalah melindungi Australia. Untuk memutuskan jalur laut


Australia ke Amerika Serikat, Jepang berusaha mengurung Port Moresby lewat pantai
selatan Irian. Setelah Jepang gagal mencapai sasarannya itu lewat laut, mereka
dihentikan di darat pada bulan September 1942 oleh pasukan Australia dibawah
perintah Mac Arthur. Sekutu kemudian mengambil alih pertahanan dan memulai
suatu operasi militer yang panjang dan sulit untuk mengusir keluar Jepang dari Irian.

Pada bulan Februari 1943 Sekutu menang kendali atas Irian bagian tenggara
dan mengeliminasi ancaman jalur laut. Kemenangan Mac Arthur terhadap Jepang di
Irian adalah suatu langkah pertama dalam suatu operasi militer yang membawa
pasukannya menuju ke arah barat Filipina. Sepanjang operasi ini unit-unit angkatan
laut Pasific yang dipimpin oleh Adm William Holsey ditempatkan di bawah komando
strategis Mac Arthur. Setelah membebaskan kepulauan Solomon, pasukan Mac
Arthur menyerbu memasuki kepulauan Admiralty dan menetralisir basis pertahan
Jepang di Rabaul pada tahun 1944. Mereka kemudian bergerak sepanjang pantai
Irian dan akhirnya membuat pertahanan di Jayapura.
Jejak Mac Arthur di Jayapura

1. Jenderal Mac Arthur, setelah terpaksa meninggalkan Bataan dan menyingkir


ke Australia, dan menerima bantuan pasukan serta peralatan dari Amerika,
menyusun kekuatan baru dan strategi yang ditetapkannya adalah serangan
balasan akan dilaksanakan menurut garis yang terpendek ke Jepang. Oleh
karena itu pulau-pulau Indonesia bagian Barat, tidak termasuk dalam strategi
serangan balasan ini.
2. Tempat-tempat pendudukan lainnya seperti: Sorong, Sarmi, Manokwari, Teluk
Kao dan sebagainya tidak disebu tetapi di blokir dari udara dan laut sehingga
hubungan keluar terputus, tidak dapat saling memberi bantuan, dan akhirnya
menyerah.
3. Pembebasan Nieuw Guinea/Papua oleh tentara Sekutu berlangsung hanya
kurang dari tiga bulan, yaitu tanggal 22 april sampai dengan 30 Juli 1944.
Kekuatan tentara Jepang sepanjang pesisir utara dan barat Papua tidak
berdaya terhadap strategi perang Sekutu yaitu taktik perang “lompat katak”.
Sama seperti pasukan Jepang yang memulai masuk Papua dengan
mendaratkan pasukannya di Teluk Humboldt (sekarang Teluk Hamadi), maka
Mac Arthur masuk kembali ke Papua dengan mendaratkan pasukannya
berjalan kaki melalui Danau Sentani dan terus naik keatas gunung, dan
akhirnya membuat markas besar di bukit daerah Ifar Gunung. Dari sini Mac
Arthur kemudian merebut kembali Sarmi, Sorong, Manokwari dan Fak-fak.
4. Kedudukan tentara Sekutu di Hollandia dan sekitarnya makin diperluas, dan
mendesak pertahanan tentara Jepang sehingga tidak terdapat perlawanan dan
lumpuh seluruhnya. Dengan demikian pada tanggal 6 Juni 1944, operasi militer
tentara Sekutu merebut Hollandia di bawah pimpinan Jenderal Douglass Mac
Arthur dinyatakan selesai. Hollandia kemudian oleh Jenderal Mac Arthur
dijadikan sebagai: a) General Head Quarter of the South West Pacific Area
(Markas besar Pasifik Barat Daya), b) Pusat Allied Air Forces (Angkatan Udara
Sekutu), c) Pusat Allied Land Forces (Angkatan Darat Sekutu), d) The US “7”
Fleet Recreation Centre di Ifar.
5. Sejak pendaratan tentara Sekutu di Hamadi atau Depapre pada tanggal 22
April 1944 sampai dengan 6 Juni 1944, dimana operasi penyerangan Hollandia
selesai, korban dipihak Sekutu: 3.332 prajurit tewas dan 1.057 luka-luka.
Sedang korban dipihak Jepang: 3.332 prajurit tewas, 661 tawanan, 611
melarikan diri ke Sarmi, serta ada yang hilang tak diketahui jumlahnya.
Hollandia selanjutnya oleh Mac Arthur dijadikan sebagai “Markas Besar
Tentara Sekutu Wilayah Pasifik Barat Daya” atau “General Headquarter of the
Southwest Pacific Area” Mac Arthur memang tidak salah memilih lokasi itu,
sebab dari atas bukit itu terlihat jelas Bandara Sentani di Sentani dan Danau
Sentani. Mac Arthur memastikan dapat melihat pesawat tempurnya dari tempat
itu, persis yang bisa dilihat pengunjung situs itu sekarang ke arah Bandara
Sentani. Dari bukit itu terlihat jelas berbagai jenis pesawat yang ada di bandara
itu.