Anda di halaman 1dari 21

TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

ALDI PRABOWO

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
KELINGKING SAKTI

Alkisah, ada sepasang suami istri di Jambi yang miskin dan belum memiliki momongan.

Meskipun mereka sudah puluhan tahun membina rumah tangga, namun mereka tak kunjung

memiliki seorang anak. Segala daya upaya sudah dilakukan, tetapi hasilnya selalu nihil.

Hingga akhirnya, sang suami memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengabulkan

permintaanya untuk memiliki seorang anak laki-laki. Walaupun sebesar kelingking, mereka rela

asalkan memiliki anak.

Beberapa bulan kemudian, sang istri pun dikabarkan mengandung seorang anak. Sesuai

doa yang diminta oleh sang suami, anaknya pun lahir hanya sebesar jari kelingking saja.

Meskipun ukuran badannya kecil, suami dan istri tersebut tetap bersyukur dan menyayangi

anaknya.

Pada suatu hari, desa Jambi didatangi oleh hantu pemakan manusia, nenek Gergasi.

Seluruh warga pun ketakutan, sehingga tidak ada satupun yang berani keluar rumah. Demi

menyelamatkan warga, raja dari desa Jambi pun mengajak rakyatnya untuk mengungsi ke tempat

yang lebih aman.

Akan tetapi Kelingking menolak untuk mengungsi, ia lebih memilih tinggal di desa untuk

mengusir nenek Gergasi. Sayangnya, niat tersebut diragukan oleh para warga karena badannya

yang teramat kecil.

Namun Kelingking tidak mempedulikannya. Berkat keberanian dan kecerdasan

Kelingking, ia mampu membunuh setan tersebut dengan cara memasukkannya ke jurang. Oleh

karenanya, Raja Desa Jambi menghadiahkan Kelingking berupa pangkat Panglima Perang.

Salah satu kisah dari kumpulan cerita rakyat nusantara terpopuler di atas berasal dari

Jambi, Riau. Cerita rakyat yang singkat dan menarik tersebut memiliki pesan moral. Salah satu

pesan moralnya adalah selalu meminta pertolongan kepada Allah.


Setiap manusia pastinya akan dihadapi sebuah masalah. Untuk itu, melalui kisah di atas,

ajarkanlah si kecil untuk selalu berdoa dan meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

permasalahan yang dihadapi.


TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

AKBAR PIKRI

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
LUTUNG KASARUNG

Purbasari mempunyai kakak bernama Purbararang, Dia tak setuju jika adiknya diangkat

sebagai pengganti ayah mereka. Kemarahannya sudah melebihi batas hingga timbul niat jahat

untuk mencelakan adiknya. Dia meninta tolong nenek sihir untuk mengguna-guna Purbasari.

Sehingga kulit Purbasari pun muncul totol-totol hitam karena guna-guna nenek sihir itu. Inilah

kesempatan Pubararang untuk mengusir adiknya dan menggantikan adiknya menjadi Ratu.

Dengan sangat teganya, Purbararang mengutus seseorang untuk mengasingkan Purbasari

di tengah-tengah hutan yang sepi. Begitu tiba di hutan, orang suruhan tadi mempunyai niat baik

kepada Purbasari dan dibuatkan gubuk ditengah hutan untuk Purbasari. Dengan tulus orang itu

menasehati Purbasari agar selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan ini, Tuhan pasti selalu

bersama Purbasari. Sang putri pun mengucapkan terima kasih kepada orang itu.

Hari-hari terus berjalan, waktu terus berlalu, selama tinggal ditengah-tengah hutan itu

Purbasari memiliki begitu banyak teman, hewan-hewan dihutan lah yang menjadi teman

Purbasari. Ada satu hewan yang sangat misterius yang menjadi teman Purbasari, yaitu seekor

kera berbulu hitam. Namun kera itu yang paling memberi perhatian lebih kepada Purbasari. Kera

itu bernama Lutung Kasarung, Ia selalu membuat hati Purbasari bahagia karena kera itu selalu

memberikan bunga-bunga nan indah dan buah-buahan segar kepada Purbasari.

Pada suatu malam di bulan purnama, Lutung Kasarung menjadi aneh, ia selalu

menyendiri dan bersemedi, terlihat ia sedang meminta sesuatu kepada Dewata. Keajaiban pun

terjadi di tanah dekat mereka terbentuklah sebuah telaga kecil dengan air yang jernih dan segar

dan ternyata telaga ini airnya bisa untuk menyembuhkan penyakit. Esok harinya Lutung

Kasarung memberitahukan kepada Purbasari untuk berendam di telaga ajaib itu. Akhirnya

Purbasari pun menyetujui permintaan Lutung Kasarung dan tak lama setelah berendam di telaga

tersebut, kulitnya yang semula bertotol-totol hitam kini menjadi bersih dan kembali menjadi

cantik. Purbasari sangat gembira sekali akhirnya guna-guna itu hilang dan ia sembuh.
Purbararang yang berada di istana penasaran dengan keadaan adiknya di hutan, akhirnya ia

memutuskan untuk pergi ke hutan melihat adiknya. Di perjalanan Purbaararang ditemai oleh

tenangannya dan para pengawalnya. Namun apa yang terjadi?, ketika sampai di hutan

Purbararang bertemu dengan Purbasari dan saling berhadapan. Purbararang sungguh tak percaya

melihat keadaan adiknya yang sembuh total dari guna-guna penyihir itu. Dengan hati yang

dengki akhirya Purbararang tidak ingin malu, ia menhajak purbasari untuk beradu rambutnya,

siapa yang punya rambut panjang ia yang menang. Pada awalnya Purbasari menolak ajakan itu,

namun karena desakan kakaknya, akhirnya Purbasari meladeni tantangan itu dan ternyata rambut

Purbasari lebih panjang.

Purbararang pun tak mau kalah, sekarang dia mengajak untuk mengadu ketampanan

tunangannya. Purbasaru pin terlihat gelisah, akhirnya ia manarik Lutung Kasarung, ia melompat-

lompat menenangkan Purbasari. Purbararang mengejek dengan tertawa terbahak-bahak. Namun

keajaiban kembali terjadi, ketika Lutung Kasarung melakukan semedi, tiba-tiba ia berubah

menjadi Pemuda yang gagah dan tampan, bahkan lebih tampan dari tunangan Purbararang.

Semua yang berada di situ terkejut dan senang dengan keajaiban itu.

Akhirnya Purbararang mengaku kalah dan meminta maaf kepada Purbasari, memohon untuk

tidak dihukum. Purbasari dengan baik baik memafkan kakaknya dan mereka pun kembali ke

istana. Setelah kejadian itu Purbasari menjadi seorang Ratu yang di dampingi oelh pemuda gagah

dan tampan yang tak lain adalah seekor lutung yang setia menemaninya dihutan.
TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

AYU SAPUTRI

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
PENAKLUK RAJAWALI

Dahulu, ada seorang raja di Sulawesi Selatan yang memiliki tujuh orang putri. Konon,

jika memiliki 7 orang anak, salah satunya harus dipersembahkan kepada seekor Rajawali

Raksasa agar keluarga istana terhindar dari mala petaka.

Hal tersebut membuat sang raja sedih dan memutuskan untuk membuka sayembara. Siapa saja

yang berhasil menaklukan Rajawali, jika ia laki-laki maka akan dinikahkan dengan salah satu

putrinya. Apabila ia perempuan, maka akan diangkat menjadi anggota keluarga.

Oleh karena itu, banyak warga yang berbondong-bondong untuk menyelamatkan putri kerajaan.

Namun, tidak ada satupun yang mampu mengalahkan Rajawali.

Saat Rajawali Raksasa mendekat dan hendak memakan sang putri, datanglah seorang pemuda

yang menyelamatkannya dengan seutas tali dan badik. Ia pun sukses menikam dan membunuh

Rajawali. Sang putri pun akhirnya selamat dan bisa kembali ke kerajaan dengan perasaan lega

dan tenang.

Sayangnya, pemuda itu lantas pergi dan tidak datang untuk meminta upahnya. Oleh karenanya,

raja pun membuka kembali sayembara untuk menemukan penakluk rajawali tersebut.

Oleh sebab itu, banyak sekali warga yang mengaku-ngaku telah menyelamatkan sang putri.

Untungnya, sang putri masih mengenali wajah laki-laki yang telah menyelamatkannya.

“Ayah! Itulah pemuda yang telah mengalahkan rajawali raksasa! seru sang Putri sambil

menunjuk ke arah pemuda yang berada di tengah arena lomba.”

Sang Raja pun tersentak kaget, seakan-akan tidak percaya apa yang sedang disaksikannya.

Ternyata, selain sakti, pemuda itu juga sangat mahir bermain sepak raga. Sang Raja sangat

kagum kepada pemuda itu. Setelah pemuda itu keluar dari arena lomba, sang Raja pun

memanggil pemuda itu.


Raja pun bertanya, “kenapa kamu tidak datang ke kerajaan, untuk menagih janji atas

keberhasilanmu menyelematkan anakku?” Anak laki-laki itu pun menjawab, “aku

menyelematkan sang putri bukan karena hadiahnya, tapi hamba tulus. Kalaupun baginda raja

ingin menikahkan kami, hamba ingin semua itu berdasarkan permintaan sang putri.”

Sang putri pun mengatakan jika ia telah menyukai laki-laki tersebut sejak awal bertemu. Pada

akhirnya, mereka hidup bersama dan bahagia selamanya.


TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

DELA SARI A

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

Dahulu kala, ada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Mereka memiliki seorang puteri
yang diberi nama bawang putih. Namun pada suatu hari, ibu bawang putih jatuh sakit dan
akhirnya meninggal. Setelah kejadian itu, bawang putih hidup sendiri dengan ayahnya. Ayah
bawang putih adalah seorang pedagang yang sering bepergian jauh. Karena tak tega
meninggalkan bawang putih sendirian di rumah, akhirnya ayah bawang putih memutuskan
menikah lagi dengan seorang janda. Janda tersebut memiliki satu anak yang diberi nama bawang
merah.

Sebenarnya niat ayahnya adalah agar bawang putih tak kesepian dan memiliki teman
yang membantunya di rumah. Namun ternyata, ibu dan kakak tiri bawang putih memiliki sifat
yang jahat. Mereka bersikap baik pada bawang putih hanya ketika ayahnya ada bersamanya.
Namun ketika ayahnya pergi berdagang, mereka menyuruh bawang putih mengerjakan segala
pekerjaan rumah seperti seorang pembantu. Ternyata kemalangan bawang putih belum berhenti
sampai disitu, selang beberapa waktu, ayah bawang putih juga jatuh sakit dan akhirnya
meninggal dunia.

Kini, ibu tiri dan bawang merah bersikap semakin jahat pada bawang putih. Bahkan
waktu beristirahat bawang putih juga semakin terbatas. Tiap hari dia harus melayani semua
kebutuhan bawang merah dan ibu tirinya. Sampai disuatu pagi ketika bawang putih mencuci di
sungai, tanpa disadari salah satu selendang kesayangan bawang merah hanyut. Ketika sampai
rumah, bawang merah memarahi bawang putih karena selendangnya tak dia temukan. Dia
menyuruh bawang putih mencari selendang itu dan tidak boleh pulang sebelum menemukanya.
Akhirnya, bawang putih menyusuri sungai untuk mencari selendang itu. Hingga larut malam,
selendang itu belum juga dia temukan. Ketika tengah menyusuri sungai, bawang putih nelihat
sebuah gubuk, ternyata gubuk itu dihuni oleh seorang nenek sebatang kara. Bawang putih
akhirnya meminta izin untuk menginap semalam.

Nenek itu cukup baik hati, dia mempersilahkan bawang putih untuk menginap. Nenek itu
juga menanyakan perihal tentang bawang putih, dan bagaimana dia sampai di tempat itu.
Bawang putih pun menceritakan nasib yang dialaminya, hingga nenek yang mendengar itu
merasa iba. Ternyata, selendang yang dicari bawang putih ditemukan oleh si nenek. Dan nenek
itu mau menyerahkan selendang itu dengan syarat bawang putih harus menemaninya selama
seminggu. Bawang putih menerima tawaran itu dengan senang hati.

Waktu seminggupun berlalu, dan kini waktunya bawang putih untuk pulang. Karena
selama tinggal disitu bawang putih sangat rajin, nenek itu memberikan selendang yang dulu dia
temukan dan memberi hadiah pada bawang putih. Dia disuruh memilih diantara dua buah labu
untuk dia bawa. Awalnya bawang putih ingin menolak, namun karena ingin menghormati
pemberian, bawang putih akhirnya memilih labu yang kecil dengan alasan takut tak kuat
membawanya. Dan nenek itu hanya tersenyum mendengar alasan itu.

Setelah itu, bawang putihpun segera pulang dan menyerahkan selendang itu pada bawang
merah. Setelah itu dia segera ke dapur untuk membelah labu dan memasaknya. Namun betapa
terkejutnya dia, karena ketika labu itu dibelah, ternyata labu itu berisi emas permata yang sangat
banyak. Secara tak sengaja, ibu tiri bawang putih melihatnya dan langsung merampas semua
emas itu. Bukan hanya itu, dia juga memaksa bawang putih untuk menitakan dari mana dia
mendapat labu ajaib itu. Bawang putihpun menceritakan semua kejadian yang dialaminya.

Mendengar cerita bawang putih, muncul niat jahat di benak ibu tiri yang serakah itu.
Esok paginya, dia menyuruh bawang merah untuk melakukan hal yang sama seperti yang
silakukan bawang putih, dia berharap akan bisa membawa pulang labu yang lebih besar sehingga
isinya lebih banyak.

Singkat cerita, bawang merah yang malas itu tiba di gubuk nenek, dan diapun tinggal
disitu selama seminggu. Namun karena sifatnya yang pemalas, dia hanya bermalas-malasan saja
dan tidak mau membantu pekerjaan si nenek. Dan ketika sudah waktunya pulang, diapun di
suruh memilih labu sebagai hadiah. Tanpa fikir panjang, dia langsung mengambil labu yang
besar dan segera berlari pulang tanpa mengucapkan terimakasih.

Setelah tiba dirumah, ibunya sangat senang melihat anaknya membawa labu yang sangat
besar. Dia berfikir pasti emas di dalamnya cukup banyak. Karena tak ingin diketahui oleh
bawang putih dan takut jika bawang putih minta bagian, mereka menyuruh bawang putih
mencuci disungai. Setelah itu mereka masuk kamar dan menguncinya dengan rapat.

Dengan tak sabar, mereka segera membelah labu itu. Namun diluar dugaan, bukan emas
yang ada didalamnya. Melainkan labu itu dipenuhi ular, kalajengking, kelabang, dan berbagai
hewan berbisa. Dengan cepat hewan-hewan itu keluar dari labu dan menggigit kedua anak dan
ibu serakah itu. Mereka tak mampu kabur, karena pintu kamar mereka kunci rapat dan mereka
tutup dengan lemari dari dalam. Akhirnya, mereka mati di dalam kamar bersama keserakahan
mereka. Setelah mereka mati, hewan-hewan berbisa itu kenyap tak berbekas. Demikian dongeng
singkat yang saya ceritakan mengenai cerita anak bawang merah bawang putih semoga
bermanfaat.
TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

M. MERNI FALIANA

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
TELAGA BIDADARI

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang
Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam
kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang
sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma
diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma
berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening.
Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai
jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. “Hmm, alangkah indahnya telaga ini.
Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa,” gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara
riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip
ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang
bermain air. “Mungkinkah mereka itu para bidadari?” pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik
itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang
digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di
dekat Awang Sukma. “Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon
itu,” gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing.
Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak
menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma
segera keluar dari persembunyiannya. “Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan
tuan putri sudi tinggal bersama hamba,” bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu
menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada
jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri
Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya
mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi
perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma
sangat bahagia.

Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas
permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju
pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. “Apa kira-kira isinya ya?”
pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. “Ini
selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan
jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. “Kini saatnya aku
harus kembali!,” katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil
menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat
dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu.
Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. “Kanda, dinda mohon
peliharalah Kumalasari dengan baik,” kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma.”
Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. “Jika anak kita merindukan
dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan
dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya,” ujar Putri
Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang
Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam
yang dia anggap membawa malapetaka.
TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

YULINAR

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
CANDI PRAMBANAN

Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja bernama Prabu Baka. Ia memiliki kerajaan
yang megah yang bernama kerajaan pengging. Kerajaan Pengging merupakan kerajaan yang
kaya pada masa itu. Karena kekayaannya kerajaan Pengging menjadi terkenal hingga terdengar
oleh seorang raja dari kerajaan lain yang bernama Bandung Bondowoso. Karena kekayaan yang
dimiliki membuat Bandung Bondowoso berambisi untuk untuk merebut kerajaan tersebut.

Memiliki pasukan yang kuat Bandung Bondowoso mempersiapkan diri untuk menyerang
kerajaan Pengging. Penyerbuan pun dimulai. Pasukan Bandung Bondowoso berhasil
mengalahkan pasukan kerajaan Pengging. Bandung Bondowoso pun berhasil membunuh raja
dari kerajaan tersebut yaitu Prabu Baka. Pada saat ingin membunuh keluarga kerajaan, Bandung
melihat sesosok gadis cantik bernama Roro Jongrang yang tidak lain adalah anak dari Prabu
Baka. Bandung jatuh cinta dengan Roro Jongrang. Bandung berjanji tidak akan membunuh Roro
Jongrang apabila Ia mau menjadi isti Bandung.

Roro Jongrang tidak ingin menikahi Bandung Bondowoso, namun karena tidak ingin
dibunuh oleh Bandung Bondowoso Roro Jongrang akhirnya menerima tawaran Bandung.
Dengan satu syarat. Bandung Bondowoso harus membuat seribu candi dalam satu malam
sebagai persembahan terhadap Roro Jonggrang.

Mempertimbangkan paras Roro Jongrang yang Cantik, Bandung menerima tantangan


Roro Jongrang membuat seribu candi dalam satu malam. Dengan dibantu oleh jin yang
dipelihara oleh Bandung Bondowoso. Ia dapat dengan mudah untuk menyelesaikan tantangan
tersebut. Melihat kecurangan yang Bandung perbuat. Roro Jongrang mencari akal untuk
membuat Bandung Bondowoso kalah dan tidak menikahinya. Waktu hampir habis dan Bandung
Bondowoso hampir menyelesaikan tantangan yang diberika kepadanya.

Akhirnya Roro Jongrang menyuruh pelayan kerajaan untuk menumbuk padi dengan
lumpang dan membuat api sehingga langit menjadi berwarna oranye. Pertanda hari sudah pagi.
Bandung Bondowoso kalah karena tipuan Roro Jongrang. Candi yang telah ia buat telah
berjumlah 999 buah. Ia hanya butuh satu candi lagi untuk menyelesaikan tantangan itu, namun
karena tipuan Roro Jongrang para jin Bandung Bondowoso menghilang akibat langit telah
menjadi oranye dan Bandung tidak dapat menyelesaikan tantangan Roro jongrang.

MengetahuiRoro Jongrang berbuat curang, Bandung merasa dibodohi. Ia sangat murka


dan mengutuk Roro Jongrang menjadi Candi untuk menggenapkan candi yang ia buat menjadi
seribu. Candi-candi terrsebut sekarang bernama candi prambanan.

Amanat yang dapat diambil dalam cerita rakyat “Legenda Candi Prambanan” adalah:
1.Kita sebagai manusia hendaklah berbuat baik dan menghindari perbuatan yang jahat. Hal ini
dikarenakan karena apabila kita berbuat jahat maka kita akan mendapatkan balasan berkali lipat
dari kejahatan yang sebelumnya dilakukan.

2.Kita tidak boleh berbohong. Apabila kita berbohong maka orang-orang yang dulunya percaya
pada kita tidak akan percaya lagi terhadap kita. Orang-orang tidak akan memberika kepercayaan
kepada kita karena sering berbohong.

3.Kita harus memiliki kesabaran yang besar, sehingga kita tidak salah dalam mengambil sebuh
keputusan. Keputusan harus dipikir dengan matang dan dengan kesabaran yang besar.
TUGAS

BAHASA INDONESIA

DISUSUN

LILI KHAIRUNI

SEMESTER : II C

DOSEN PEMBIMBING

Drs. M. SYAPRIADI,MA

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI-INDRAGIRI (STIE-I)

RENGAT

2019
DANAU MENINJAU

Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara.
Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah
meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan satu-
satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu
sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.

Semenjak orangtua mereka meninggal dunia, mereka diasuh oleh seorang paman, yaitu Datuk
Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki
bernama Giran.

Setelah menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka
menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak balk,
akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing. Kedua keluarga
itu menyambut hubungan Sani dan Gani dengan suka cita.

Saat panen usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua
bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.

cara bisnis online

Kukuban dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi
pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.

Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban


sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan
tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua
penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban
patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.

Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima dikalahkan oleh
Giran dan menyebabkan kakinya patah.

Suatu hari, Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk
membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang
hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.

“Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran sudah
mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!" ujar Kukuban. Usaha
Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan
hasil.

“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang
menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah.
Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian
yang sebenarnya."

Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran tidak bisa
menikah.
Betapa sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu tempat
membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah ladang di pinggir
sungai.

"Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita," keluh Giran.

"Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada
Abang;" isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba,
sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga
berdarah. Sani merintih kesakitan "Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya," ujar
Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang
dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.

Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah
memanggil warga untuk mengawasi Sani clan Giran.

Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang
buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena dianggap telah
melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.

Sidang adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus
dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.

Sani dan Giran digiring menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain hitam.
Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka tidak bersalah.

Di puncak Gunung Tinjau, Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa.

"Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Ietuskanlah gunung ini sehingga menjadi pelajaran bagi
mereka semua," doa Giran sambil berurai air mata. Lalu, Sani dan Giran meloncat ke dalam
kawah yang sangat panas.

Bujang Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika
ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur.

Tidak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang
menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya.

Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang
semakin lama semakin besar, sehingga menyerupai sebuah danau. Danau tersebut disebut dengan
Donau Maninjau.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Dari Sumatra Barat : Legenda Danau Maninjau adalah Kita tidak
boleh menyimpan dendam dan berprasangka buruk terhadap seseorang. Prasangka buruk dan
dendam hanya akan membuat kita tidak bahagia dan merugikan diri kita sendiri dimasa yang
akan datang.