Anda di halaman 1dari 1

1.

Definisi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh cadangan besi yang
berkurang untuk proses eritropoesis. Anemia ini ditandai dengan anemia hipokromik
monositer dan pada hasil lab akan ditemukan cadangan besi yang kosong. Anemia ini
adalah anemia yang seing dijumpai terutama negara-negara tropik. Anemia ini mengenai
sepertiga dari penduduk dunia sehingga memberikan dampak kesehatan yang merugikan
dan dampak sosial yang cukup serius (Setiati, 2014).
Anemia ini adalah penyebab paling umum dari anemia di Indonesia dan yang
paling umum terlihat dalam praktek kedokteran. Diperkirakan 10-30% dari populasi
yang ada di dunia mengalami kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi tidak identik
dengan anemia defisiensi besi. Karena ada banyak orang mempunyai cadangan besi
kurang namun tidak mengalami anemia. Anemia defisiensi besi merupakan manifestasi
terakhir dari kekurangan zat besi. Pada kondisi ini cadangan besi pada sumsum tulang
akan terpakai seluruhnya sebelum hemoglobin mulai menurun lalu di ikuti dengan
penurunan MCV (mean corpuscular volume) dan akan terlihat gambaran eritrosit
mikrositik pada apusan darah tepi (Kiswari, 2014).
2. Etiologi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh (Setiati, 2014):
- Kehilangan besi akibat perdarahan menahun yang berasal dari saluran cerna (tukak
peptic, pemakaian salisilat/NSAID, kanker lambung, kanker kolon, infeksi cacing
tambang, hemoroid dll), saluran genitalia (menorrhagia/metrorhagia), saluran kemih
(hematuria), saluran nafas (hemoptoe).
- Faktor nutrisi: kurangnya kandungan besi pada makanan/ kualitas besi yang tidak
baik seperti makanan tinggi serat, rendah vitamin C dan rendah daging.
- Kebutuhan dari zat besi yang meningkat seperti pada prematuritas, kehamilan atau
anak yang dalam masa pertumbuhan.
- Adanya gangguan absorbsi besi seperti pada colitis kronis,dan gastrektomi.
3. Pathogenesis
Perdarahan menahun dapat menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi
dalam tubuh semakin menurun. Menurunnya kadar besi didalam tubuh ditandai dengan
penurunan kadar ferritin serum, peningkatan absorbsi besi di usus, serta pengecatan besi
di sumsum tulang negatif. Apabila kekurangan besi ini berlanjut terus maka cadangan
besi menjadi kosong sama sekali yang menyebabkan terjadi gagguan pembentukan
eritrosit. Bila jumlah besi menurun terus, maka eritropoesis semakin terganggu sehingga
kadar hemoglobin menjadi turun, akibatnya timbul anemia hipkromik mikrositer (iron
deficiency anemia). Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta enzim
yang dapat menimbulakn gejala pada kuku, epitel mulut dan faring serta berbagai gejala
lainnya (Setiati, 2014).