Anda di halaman 1dari 7

Journal Arbitrer, Vol. 1 No.

1 Oktober 2013

BAHASA YANG MEMBENTUK JATI DIRI


DAN KARAKTER BANGSA

Oleh
Oktavianus
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Email: okv_26@yahoo.com

Abstract

This short article is an attempt to identify and discuss the types of language that can shape the
identity and character of the nation. The analysis is done by looking at the relationship
between language and culture. The result of the analysis indicates that language, both
proverbs and nonproverbs, contains values. The values are transferred into attitude, behavior
and habit to shape the identity and character of the nation.

key words : language, proverbs, values, identity and character

1. Pendahuluan kehidupan manusia (Oktavianus, 2013).


Bahasa dapat membentuk realitas dan
Jika ada pertanyaan, apakah bahasa itu ? bahkan melebihi realitas yang disebut
Kita sering mendapatkan jawaban yang hiperrealiatas. Bahasa memiliki fungsi
beragam. Ada yang mengatakan bahasa proteksi. Bahasa dapat digunakan sebagai
adalah alat komunikasi. Mahasiswa alat pencitraan. Bahasa bahkan dapat
jurusan bahasa yang sudah mulai mengubah situasi.
mempelajari linguistik memberikan
jawaban dengan mengemukakan defenisi Kemunculan Ferdinand de Saussure
bahasa secara teoritis dengan mengacu sebagai Bapak linguistik moderen telah
kepada buku-buku teks (linguistik) yang memberikan kontribusi besar bagi
sampai ke tangan mereka. Pada tingkatan perkembangan kajian bahasa. Kajian
yang lebih kompleks, para peneliti dan bahasa berkembangan dengan pesat. Cara
mahasiswa jurusan bahasa telah sampai pandang terhadap bahasa tumbuh dan
kepada rumusan konsep bahasa secara berkembang pula secara dinamis. Ini
lebih mendalam dan terperinci. Mereka dibuktikan dengan munculnya berbagai
tidak hanya menyebut bahasa sebagai alat bidang linguistik baik yang bersifat mikro
komunikasi tetapi analisisnya sudah maupun makro. Beragam pola-pola dan
mengalir sampai jauh. Bahasa memiliki sistem bahasa seperti struktur bunyi,
peran yang sangat penting dalam struktur kata, struktur kalimat, dan

68
Oktavianus

struktur makna baik pada tataran mikro yang dimaksud dengan nilai ? Bagaimana
maupun makro sudah diungkapkan oleh nilai menjelma menjadi jati diri dan
para peneliti. Fungsi bahasa bahkan sudah karakter bangsa ?
pula ditelaah secara mendalam.
2.1 Apakah yang Dimaksud dengan
Era global, perubahan konstelasi ekonomi, Nilai ?
politik, soisial dan budaya tampaknya
berpengaruh kepada sikap dan perilaku Kajian terhadap nilai masuk kepada
penutur bahasa. Para ahli linguistik bidang filsafat. Dari sudut pandang fisafat
terutama sekali yang bergerak dalam nilai, ada dua kata yang dapat
bidang antropolinguistik dan memudahkan kita memahami pengertian
sosiolinguistik mulai pula mengkaji nilai. Nilai (value) adalah sesuatu yang
hubungan bahasa dengan berbagai aspek berharga (worth) dan sesuatu yang
social budaya penuturnya (Duranti dan mengandung kebaikan (goodness)
Foley, 1997; Chaika, 1989). Pertanyaan terhadap sesuatu atau pihak lain. Sebagai
pun muncul. Dapatkah bahasa contoh, uang mengandung nilai karena
membentuk jati diri dan karakter suatu uang dapat digunakan untuk membeli
bangsa ? Jika bahasa dapat membangun kebutuhan manusia. Kebernilaian dan
jati diri dan karakter bangsa, keberhargaan mobil terletak pada
bagaimanakah caranya? Tulisan singkat fungsinya sebagai alat transportasi.
ini mencoba merumuskan jawaban Pakaian mengandung nilai karena pakaian
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawaban dapat melindungi tubuh manusia. Air
yang diperoleh dan rumusan yang menjadi bernilai karena dapat
dihasilkan di sini diharapkan dapat menghilangkan dahaga. Telepon genggam
memperlihatkan kontribusi linguistik menjadi bernilai karena dapat
sebagai sebuah ilmu bagi pengembangan memudahkan komunikasi. Dokter menjadi
peradaban manusia. bernilai karena profesinya mengobati
orang sakit. Guru menjadi bernilai karena
2. Dapatkah Bahasa Membangun Jati profesinya memberikan ilmu kepada
Diri dan Karakter Bangsa ? orang lain.

Para linguis melalui penelitian yang Nilai yang terkandung pada benda atau
dilakukan terhadap berbagai bahasa di manusia sebagaimana dikemukakan di
dunia boleh dikatakan sudah sampai atas hanyalah sebagian kecil dari
kepada suatu kesepakatan bahwa bahasa keseluruhan nilai yang terkandung pada
dapat membentuk jati diri dan karakter benda-benda tersebut. Sesuatu atau
penuturnya (bangsa). Ini dimungkinkan sebuah benda mungkin saja memiliki nilai
terjadi karena bahasa mengandung nilai. lebih dari satu tergantung pada sudut
Lalu, pertanyaan berikutnya, apa pula pandang melihatnya dan keperluan akan

69
Journal Arbitrer, Vol. 1 No. 1 Oktober 2013

benda tersebut. Sebagai contoh, air ujaran (1) sampai dengan (5) adalah
menjadi bernilai tidak saja karena dapat kesantunan (lihat juga Oktavianus, 2006
menghilangkan rasa dahaga tetapi air juga dan 2013).
menjadi bernilai karena kegunaan dan
manfaat lainnya seperti untuk mandi, Pada pertuturan (1), penanda kesantunan
mencuci, mengairi sawah, obat dan lain- adalah penggunaan kata maaf dan boleh
lainnya. serta panggilan ibu yang digunakan oleh
A. Pada tuturan B, penanda kesantunan
2.2 Kandungan Nilai dalam Bahasa adalah penggunaan kata boleh, silakan,
dan dengan senang hati. Bahasa yang
Seperti halnya contoh-contoh yang telah digunakan oleh A dan B pada pertuturan
disebutkan di atas, bahasa juga di atas dapat dikatakan sebagai bahasa
mengandung nilai dan bahkan yang mengandung nilai jika ujaran
mencerminkan nilai. Bahasa melalui tersebut memiliki lokusi dan ilokusi yang
konstruksi kata-kata dan kalimat- sama. Ujaran tersebut diucapkan dengan
kalimatnya mencerminkan sesuatu yang tulus sehingga dapat membangun suasana
berharga dan mengandung kabaikan dari hati yang damai dan keakraban di antara
penuturnya, seperti pada pertuturan di keduanya.
bawah ini.
Penanda kesantunan pada ujaran (2)
1. A: Maaf Ibu, boleh saya duduk di adalah penggunaan kata manis dan
sini ? sayang. Penanda kesantunan pada ujaran
B: Boleh, silakan. Dengan senang (3) adalah ucapan selamat datang, sebutan
hati…. Prof, penggunaan pronomina kita dan
2. Aduh Manis, bangun sayang. Sudah ucapan terima kasih. Penanda kesantunan
siang. pada ujaran (4) adalah penggunaan
3. Selamat datang Prof. Bambang. panggilan ibuk dan penguatan yang
Sudah lama kita tidak bertemu. diberikan melalui kalimat tersebut.
Terima kasih mau datang ke Penanda kesantunan pada ujaran (5)
Padang. adalah penggunaan pronominal kita dan
4. Sabar ya Ibuk. Mudah-mudahan terima kasih.
Bapak mendapat tempat yang layak
di sisi-Nya. Bahasa melalui konstruksi kata-kata dan
5. Kita mengucapkan terima kasih dan kalimat-kalimatnya menyampai-kan
memberikan apresiasi yang tinggi sesuatu yang berharga dan mengandung
kepada panitia yang telah bekerja kebaikan bagi penuturnya sebagaimana
keras mempersiapkan seminar ini. tercermin dari peribahasa berikut.
Sesuatu yang berharga dan mengandung
kebaikan yang tercermin dari ujaran-

70
Oktavianus

6. Di mana bumi dipijak, di situ langit waspada dalam kehidupannya akan


dijujung terhindar dari sesuatu yang buruk yang
7. Berjalan pelihara kaki, berkata mungkin terjadi pada dirinya. Ungkapan
pelihara lidah (9) mengandung elemen nilai yaitu
8. Disangka panas sampai petang, bertanggung jawab. Ungkapan (10)
kiranya hujan tengah hari. mengandung elemen nilai yaitu
9. Tangan mencencang, bahu memikul kebersamaan atau senasib
10. Ke bukit sama mendaki, ke lurah sepenanggungan.
sama menurun
Berkaitan dengan kandungan nilai dalam
Rangkaian kata-kata pada peribahasa di bahasa, para linguis baik di tingkat lokal,
atas menyampaikan sesuatu yang berharga regional, nasional dan internasional telah
dan mengandung kebaikan kepada melakukan penelitian pada berbagai
penuturnya. Makna yang terkandung bahasa di dunia. Di Indonesia, kajian
didalamnya tidak bisa ditafsirkan secara terhadap nilai budaya baik terhadap
literal. Makna yang sesungguhnya dari bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa
peribahasa tersebut tidak dibawa oleh daerah sudah banyak dilakukan. Kajian-
kata-kata yang menyusun. Dengan kajian tersebut dilakukan oleh
demikian, cara mengidentifikasi nilai yang Pusat/Badan Bahasa, para mahasiswa dari
terkandung di dalamnya juga berbeda dari berbagai universitas untuk keperluan
ujaran (1-5) di atas. penyelesaian studi baik berupa skripsi,
tesis maupun disertasi. Tentu saja tidak
Ungkapan (6) mengandung elemen nilai tertutup pula kemungkinan peneliti asing
yang pada dasarnya akan merupakan melakukan penelitian terhadap bahasa-
pesan moral kepada penuturnya agar dapat bahasa yang ada di Indonesia.
melakukan adaptasi di manapun ia berada.
Adaptasi dapat dikatakan sebagai nilai Beberapa kajian di antaranya adalah
karena kemampuan dan kemauan Djajasudarma (1997) menulis tentang
seseorang beradaptasi di manapun ia Nilai Budaya dalam Ungkapan dan
berada akan memberikan kabaikan Peribahasa Sunda; Oktavianus dan
kepadanya. Ungkapan (7) mengandung Lindawati (2008 dan 2011) dan Fanany
elemen nilai yaitu kehati-hatian. Kehati- (2003) meneliti nilai budaya dalam
hatian menjadi sebuah nilai karena peribahasa Minangkabau; Ida Pedanda
seseorang yang hati-hati dalam setiap Gede Made Gunung menulis, Bahasa Bali
tindakannya akan selamat dalam dan Budi Pekerti; Roswita Lumban
hidupnya. Ungkapan (8) mengandung Tobing menulis, Ungkapan Metafora
elemen nilai yaitu kewaspadaan. Masyarakat Batak Toba. Hasil-hasil
Kewaspadaan dapat dikatakan sebagai kajian tersebut mengemukakan bahwa
nilai karena seseorang yang senantiasa pada dasarnya bahasa mengandung

71
Journal Arbitrer, Vol. 1 No. 1 Oktober 2013

elemen-elemen nilai baik yang bersifat yang diungkapkan melalui ujaran-ujran


universal maupun kearifan lokal. kelompok kedua. Kandungan nilai pada
Kesantunan, disiplin, tangguh, adaptatif, kelompok kedua ini tersusun sedemikian
waspada, sabar, kebersamaan, jujur, hati- rupa secara berlapis seperti halnya nilai-
hati, dan bijaksana adalah sebagian di nilai yang terkandung pada kata air
antara elemen-elemen nilai yang sebagaimana dikemukakan pada contoh di
terkandung dalam bahasa. Nilai-nilai atas. Sebuah ungkapan dapat saja
tersebut adalah sesuatu yang berharga dan mengintegrasikan beberapa nilai ke
mengandung kebaikan bagi penutur dalamnya seperti terlihat pada contoh
bahasa. berikut.

3. Bahasa yang Membentuk Jati Diri 4. Bagaimana Bahasa dapat


dan Karakter Bangsa Membentuk Jati Diri dan Karakter
Bangsa ?
Bahasa yang bagaimanakah yang dapat
membangun jati diri dan karakter bangsa? Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab
Bahasa yang membentuk jati diri dan adalah bagaimana bahasa dapat
karakter bangsa dapat dibagi menjadi dua membentuk jati diri dan karakter
kelompok. Kelompok pertama adalah penuturnya (bangsa). Elemen-elemen nilai
ujaran-ujaran yang dituturkan secara yang terkandung dalam bahasa ditransfer
literal seperti pada contoh (1-5) di atas. atau dijelmakan menjadi bagian dari
Ujaran-ujaran yang dituturkan secara sikap, perilaku, kebiasaan dan kebutuhan
literal tetapi dapat menunjukkan penutur suatu bahasa. Jika elemen-elemen
kesopanan, keakraban, memberikan nilai kesantunan, disiplin, tangguh,
penguatan, dan menciptakan kedamaian adaptatif, waspada, sabar, kebersamaan,
serta kegembiraan hati dapat membentuk jujur, hati-hati, dan bijaksana telah
jati diri dan karakter penuturnya (bangsa). ditransfer atau telah menjelma menjadi
sikap, perilaku, kebiasaan dan kebutuhan
Kelompok kedua adalah bahasa yang penutur suatu bahasa, maka nilai-nilai
mengandung pesan-pesan moral yang tersebut dapat dikatakan sudah menjadi
dikemas dalam bentuk peribahasa atau jati diri dan karakter seseorang penutur
ungkapan seperti pada contoh (6-10) di bahasa. Dengan demikian, kita akan
atas. Filsafat suatu etnik terletak dibalik memiliki orang-orang yang santun,
berbagai bentuk ungkapannya (Sumarjo, disiplin, tangguh, adaptatif, waspada,
2003). Sebagaimana yang telah sabar, suka menolong, jujur, hati-hati dan
dikemukakan di atas, kesantunan, disiplin, bijaksana.
tangguh, adaptatif, waspada, sabar,
kebersamaan, jujur, hati-hati, dan Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana
bijaksana adalah sebagian dari nilai-nilai cara mentrasfer dan menjelmakan elemen-

72
Oktavianus

elemen nilai tersebut menjadi bagian dari manusia berkualitas akan tercipta. Inilah
sikap, perilaku, kebiasaan dan kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap bangsa.
penutur suatu bahasa ? Pada anak usia
dini, akuisisi adalah salah satu cara yang 5. Penutup
dianggap efektif. Lingkungan baik
lingkungan internal maupun eksternal Demikian paparan singkat ini
harus memberikan contoh nyata sikap dan disampaikan. Mudah-mudahan tulisan
perilaku santun, disiplin, tangguh, kecil ini dapat memberikan inspirasi bagi
adaptatif, waspada, sabar, suka menolong, siapa saja yang membacanya untuk
jujur, hati-hati dan bijaksana. Anak akan kemudian ditindaklanjuti ke dalam sebuah
menirunya. Sesuatu yang semula ditiru penelitian besar. Tidak tertutup pula
akan menjadi kebiasaan dan lama-lama kemungkinannya, para peneliti atau kita
akan menjadi kebutuhan. Jika seseorang yang hadir dalam ruangan ini terinspirasi
sudah beranjak dewasa, cara ini masih pula untuk mencarikan atau merumuskan
dapat dianggap efektif. Akan tetapi, pada cara-cara yang tepat dan praktis untuk
tahap ini pembelajaran baik secara formal mentransfer dan menjelmakan elemen-
maupun informal berkaitan dengan elemen nilai yang terkandung dalam
manfaat nilai-nilai positif dan resiko dari bahasa menjadi bagian dari sikap,
pengabaian nilai tersebut sudah harus pula perilaku, kebiasaan dan kebutuhan
diberikan Dengan demikian, sumber daya penuturnya.

REFERENSI

Chaika, E. 1989. Language: The Social Mirror. New York: Newbury House Publishers.
Djajasudarma, T. F. dkk, 1997. Nilai Budaya dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Duranti, A. 1997. Linguistic Anthropology. First published, Cambridge: Cambridge
University Press.
Fanany, Ismed dan Rebecca Fanany, 2003. Wisdom of the Malay Proverbs. Kuala
Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
Foley, W. A. 1997. Antrophological Linguistics: An Introduction. Blackwell.
Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University Press.
Oktavianus dan Lindawati. 2008. Rekonstruksi Nilai Budaya dari Peribahasa
Minangkabau dan Pembudidayaannya dalam Upaya Memperkokoh Filosofi
Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah. Jurnal Lingua Didaktika
Universitas Negeri Padang.

73
Journal Arbitrer, Vol. 1 No. 1 Oktober 2013

Oktavianus. 2011. Revitalisasi Nilai-Nilai dalam Pepatah Petitih Minangkabau sebagai


Pengembangan Jati Diri dan Karakter Bangsa. Penelitian Pusat Studi dan
Informasi Kebudayaan Minangkabau (PSIKM).
Oktavianus dan Ike Revita. 2013. Kesantunan dalam Bahasa Minangkabau. Padang:
Minangkabau Press.
Sumardjo, J. 2003. Filsafat Etnik Indonesia. Pikiran Rakyat 18 Januari, halaman 3 kol
3-4.

74