Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kurun waktu tahun 1990 hingga tahun 2015, Indonesia memiliki
gambaran perubahan tren perkembangan penyakit yang perlu mendapatkan
perhatian khusus. Peningkatan presentase beban penyakit pada setiap dekade
terlihat signifikan terutama pada penyakit tidak menular yang mengalami
kenaikan hingga 12% setiap dekade, meskipun terjadi penurunan 1% pada
tahun 2015.1 Pemerintah menyusun Program Indonesia Sehat dengan
Pendekatan Keluarga sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup manusia
Indonesia, dimana program tersebut memiliki 12 indikator utama untuk
penanda status kesehatan sebuah keluarga, salah satunya adalah Penderita
gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan.1
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan jiwa merupakan
suatu keadaan dimana seseorang yang terbebas dari gangguan jiwa,dan
memiliki sikap positif untuk menggambarkan tentang kedewasaan serta
kepribadiannya.3 Gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara
langsung, tetapi gangguan ini dapat membuat penderita menjadi tidak produktif
dan bergantung pada orang lain, sehingga menyebabkan penderitaan
berkepanjangan baik bagi penderita, keluarga, masyarakat maupun negara.4
Faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa bervariasi tergantung pada
jenis-jenis gangguan jiwa yang dialami. Secara umum gangguan jiwa
disebabkan karena adanya tekanan psikologis yang disebabkan oleh adanya
tekanan dari luar individu maupun tekanan dari dalam individu. Beberapa hal
yang menjadi penyebab adalah ketidaktahuan keluarga dan masyarakat
terhadap jenis gangguan jiwa, serta ada beberapa stigma mengenai gangguan
jiwa ini.5
Permasalahan kesehatan jiwa sangat besar dan menimbulkan beban
kesehatan yang signifikan. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi
gangguan mental emosional (gejala-gejala depresi dan ansietas) sebesar 6%
untuk usia 15 tahun ke atas. Hal ini berarti lebih dari 14 juta jiwa menderita
gangguan mental emosional di Indonesia. Sedangkan untuk gangguan jiwa
berat seperti gangguan psikosis, prevalensinya adalah 1,7 per 1000 penduduk.
Ini berarti lebih dari 400.000 orang menderita gangguan jiwa berat (psikosis).
Angka pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa berat sebesar 14,3%
atau sekitar 57.000 kasus. Gangguan jiwa berat terbanyak di DI Yogyakarta,
Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi RT yang pernah
memasung ART gangguan jiwa berat 14,3 persen dan terbanyak pada
penduduk yang tinggal di perdesaan (18,2%), serta pada kelompok penduduk
dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (19,5%).
Di Provinsi Jawa Tengah sendiri pada tahun 2013 prevalensi orang dengan
gangguan jiwa berat atau psikotik sebanyak 2,3 orang per 1000 penduduk, di
mana prevalensi terbanyak terdapat di daerah Wonogiri dan Magelang, yakni
6,6 dan 6,7 orang per 1000 penduduk. Sedangkan di Kabupaten Kendal
ditemukan prevalensi orang dengan gangguan jiwa berat atau psikotik
sebanyak 1,5 per 1000 penduduk.
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Jumlah kunjungan
gangguan jiwa tahun 2015 sebanyak 317.504. Persentase kunjungan gangguan
jiwa terbesar adalah di rumah sakit yaitu 60,59%, sedangkan sisanya yaitu
24,30% berada di puskesmas, dan 15,11% berada di sarana kesahatan lainya.
Sedangkan menurut profil kesehatan Kabupaten Kendal 2015 kunjungan pasien
gangguan jiwa di puskesmas sebanyak 1.653 orang. Sedangkan menurut
kinerja puskesmas Limbangan tahun 2015 penanganan kasus ODGJ sebanyak
6 orang.
Prioritas untuk kesehatan jiwa adalah mengembangkan Upaya Kesehatan
Jiwa Berbasis Masyarakat (UKJBM) yang ujung tombaknya adalah Puskesmas
dan bekerja bersama masyarakat, mencegah meningkatnya gangguan jiwa
masyarakat.2

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut: Bagaimana cakupan program pelayanan kesehatan jiwa dengan
peningkatan kasus gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Limbangan?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum :
Mengetahui cakupan program pelayanan kesehatan jiwa di wilayah kerja
Puskesmas Limbangan.
2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui prevalensi gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas
Limbangan, Kabupaten Kendal
b. Mengetahui prevalensi gangguan jiwa di tiap desa di wilayah kerja
Puskesmas Limbangan, Kabupaten Kendal
c. Mengetahui karakteristik orang dengan gangguan jiwa di wilayah
kerja Puskesmas Limbangan, Kabupaten Kendal
d. Mengetahui capaian program pelayanan kesehatan orang dengan
gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Limbangan
e. Mencari kendala dalam program pelayanan kesehatan orang dengan
gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Limbangan

1.4 Manfaat
1. Puskesmas dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari
penyebab dan latar belakang serta hambatan dalam pelayanan kesehatan
orang dengan gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Limbangan,
Kabupaten Kendal.
2. Dinas kesehatan kabupaten/kota dapat mengetahui capaian pelayanan
kesehatan orang dengan gangguan jiwa dan kendala yang dihadapi di
wilayah kerja Puskesmas Limbangan, Kabupaten Kendal.