Anda di halaman 1dari 12

TUGAS 8

Mohammad Ilham Daradjat-1606904964

1. Jelaskan definisi kemampulasan dan faktor apa saja yang mempengaruhi sifat tersebut.

Kemampulasan (weldability) adalah kemampuan material untuk dapat dilas dibawah


kondisi perakitan khusus sehingga dapat menghasilkan hasil las sesuai dengan desain
struktur dan dapat menunjukan performa memuaskan di lapangan. Kemampu lasan dapat
diartikan secara sederhana berbanding terbalik dengan kemampukerasan. Hal ini
disebabkan karena pengelasan yang menggunakan temperatur tinggi dengan pendinginan
yang sangat cepat sehingga kemampukerasan yang baik justru akan menghasilkan hasil
lasan yang buruk. Hampir semua logam dapat dilas namun terdapat logam yang lebih
mudah dilas dibanding logam lainnya. Kemampulasan suatu material digunakan untuk
menentukan proses pengelasan dan membandingkan hasil akhir kualitas suatu material
dengan material lainnya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi kemampulasan:

 Tipe penyambungan

 Proses pengelasan

 Kondisi – kondisi di lapangan

 Sifat material  temperatur lebur, temperatur uap, konduktifitas listrik dan panas,
afinitas lasan terhadap O,N,H, lapisan tipis film

2. Jelaskan kemampulasan dari baja karbon. Jenis baja karbon yang mana yang memiliki
kemampulasan terbaik.
=

Kemampulasan baja karbon sangat dipengaruhi oleh kemampukerasan baja karbon


tersebut. Kemapukerasan baja menggambarkan kemampuan baja untuk dapat membentuk
struktur martensite melalui perlakuan panas. Martensite menghasilkan tegangan sisa yang
besar, sehingga dapat menghasilkan retak pasca proses pengelasan. Oleh karena itu, baja
dengan karbon rendah (low-carbon steel dan mild-steel) memiliki kemampulasan yang
unggul.

Kemampulasan baja karbon dapat ditentukan dengan menggunakan nilai hasil perhitungan
Carbon equivalent dimana weldability dari baja karbon akan sangat baik apabila nilai CE
< 0,4. Berikut ini merupakan rumus perhitungan carbon equivalent (CE):

(𝑀𝑛 + 𝑆𝑖) (𝐶𝑟 + 𝑀𝑜 + 𝑉) (𝑁𝑖 + 𝐶𝑢)


𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 𝐶 + + +
6 5 15

Berikut ini merupakan klasifikasi dari baja karbon dan kemampulasan dari baja karbon:

Common name Carbon content Typical hardness Typical use Weldability


(percent)

Low carbon steel 0.15 max 60 HRB Special plate Excellent


and shapes,
sheet, strip,
welding
electrodes

Mild steel 0.15-0.30 90 HRB Structural Good


shapes, plate,
and bar
Medium carbon Machine parts Fair t preheat and
steel and tools postheat normally
0.30-0.50 25 HRC
required (low
hydrogen welding
process
recommended)

High carbon steel 0.50-1.00 40 HRC Springs, dies, Poor (low hydrogen
railroad rail welding process,
preheat, and
postheat reqiured)

3. Jelaskan hubungan antara komposisi logam yang akan dilas dengan sensitifitas retak.
Ukuran atau parameter apa yang dipakai untuk menentukan sensitifitas retak lasan.
Sebutkan beberapa rumusan yang saudara ketahui.

Komposisi logam menentukan sensitifitas retak logam. Komposisi logam menentukan


kemampuan baja untuk dapat membentuk martensite. Elemen-elemen tertentu yang
ditambahkan pada baja dapat meningkatkan kemampukerasan, sehingga sensitifitas retak
juga akan semakin tinggi.
(𝑀𝑛 + 𝑆𝑖) (𝐶𝑟 + 𝑀𝑜 + 𝑉) (𝑁𝑖 + 𝐶𝑢)
𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 𝐶 + + +
6 5 15
𝑆𝑖 𝑀𝑛 𝐶𝑢 𝑁𝑖 𝐶𝑟 𝑀𝑜 𝑉
𝐶𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 (𝑃𝑐𝑚 ) = 𝐶 + + + + + + + + 5𝐵
30 20 20 60 20 12 10
Ukuran atau parameter yang menentukan sensitifitas retak adalah sebagai berikut:

 Persentase karbon (C),


 Diameter atau tebal sample,
 Waktu pemanasan/kecepatan pengelasan, dan
 Preheating atau kecepatan pendinginan.

4. Jelaskan hubungan antara peak temperature dengan cooling rate logam yang dilas apabila
material tsb hasil canai (rolling). Jelaskan juga daerah mana yang mengalami degradasi
properties (kekuatan, impak & keuletan)

Produk hasil canai, saat peak temperature, butir akan terekristalisasi pada daerah HAZ,
sehingga keuletan meningkat, namun jika panas ditahan lama maka akan terjadi grain
growth. Cooling rate yang cukup tinggi akan menahan terjadinya grain growth sehingga
butir yang didapatkan tetap kecil & material jadi ulet. Sementara based material karena
tidak terkena panas, tidak akan terjadi rekritalisasi sehingga sifatnya masih kuat dan keras,
dibanding hasil lasan & HAZ-nya

Peak temperatur:

- Butir Membesar di HAZ

- Pengerasan Lokal (impuritis tersegregasi di batas butir) akan menyebabkan hot-cracks


- Material yang dikeraskan sebelum pengelasan akan kehilangan sifat kerasnya akibat
panas

Cooling Rate (kecepatan Pendinginan):

- quenching effect pada HAZ (T 800 - 500°C)

- struktur mikro akan bervariasi dari bainite, ferrite + carbide

Pada material hasil pengerolan terjadi work hardening dimana butir membesar di dekat
batas las di HAZ dan akan terjadi rekristalisasi pada daerah HAZ.

Untuk baja peak temperature biasanya terjadi pada suhu sekitar 1600 oC. Seperti yang
diketahui apabila peak temperature semakin tinggi maka laju pendinginan juga akan
semakin lama ditambah lagi apabila pemanasan terjadi dalam waktu yang cukup lama
maka akan terjadi grain growth. Oleh sebab itu laju pendinginan harus ditahan cukup cepat
agar tidak terjadinya grain growth dyang dapat menurunkan sifat mekanis dari daerah hasil
lasan. Daerah yang paling mudah retak pada daerah HAZ tersebut adalah dimana saat butir
berbentuk coarse.
5. Jelaskan secara skematis weldability baja karbon medium yang dilakukan pengerasan
dengan perlakuan panas (heat treatment). Jelaskan juga daerah mana yang mengalami
degradasi properties (kekuatan, impak & keuletan).

Gambar di atas merupakan skema pengelasan material hasil heat treatment dan
hubungannya terhadap sifat mekanis hasil lasan. Grafik pada bagian bawah menunjukkan
bahwa pada daerah HAZ akan mengalami peningkatan kekuatan dan keuletan, namun
kekuatan dan keuletan tersebut akan menurun drastis pada batas daerah dekat fine grain
(memasuki daerah α + martensit).

6. Jelaskan hubungan antara besar butir di daerah HAZ dengan kekuatan impak material
yang di las. Daerah mana yang mengalami penurunan nilai impak khususnya untuk baja
karbon.

=
Kekuatan impak didasarkan pada nilai ketangguhan suatu material. Material dikatakan
tangguh jika dia memiliki kekuatan tinggi, namun tetap ulet, sehingga dapat menyerap
energi dengan baik tanpa terjadinya perpatahan. Butir pada daerah HAZ sebaiknya
merupakan gabungan antara yang coarse dan yang fine, seperti pada hasil lasan yang dianil,
dimana terdapat kesetimbangan antara kekuatannya dan keuletannya. Pada baja karbon
umumnya penurunan nilai impak terjadi pada daerah yang keuletannya rendah, yaitu pada
daerah HAZ.

7. Jelaskan fungsi t-8/5 dalam menentukan struktur mikro daerah HAZ dn diagram apa yang
saudara harus gunakan khususnya untuk baja karbon.

T-8/5 berfungsi dalam menentukan struktur mikro daerah HAZ. Biasanya siklus
temperatur-waktu selama pengelasan ditentukan oleh t-8/5 yang artinya waktu
pendinginan terhitung pada suhu 800 o – 500oC. Oleh sebab itu apabila cooling time 800-
500 besar maka kekerasan dari HAZ akan semakin menurun dan apabila cooling time 800
– 500 kecil maka ketangguhan dan ketahanan impak dari HAZ akan menurun.

Berikut ini merupakan diagram yang akan digunakan untuk baja karbon:

8. Jelaskan hubungan hardenability dengan weldability untuk baja karbon.

Hardenability (kemampukerasan) berbanding terbalik dengan weldability


( kemampulasan ). Kemampukerasan baja menunjukan kemampuan baja untuk
membentuk fasa martensite melalui proses perlakuan panas dengan pendinginan yang
relatif cepat. Martensite memiliki kekerasan yang tinggi namun getas. Selain itu martensite
memiliki tegangan sisa yang cukup besar yang disebabkan oleh transformasi non-difusi
kisi yang menyebabkan kisi meregang menyisakan tegangan pada material. Tegangan sisa
yang tinggi ini tidak diinginkan karena dapat menyebabkan retak. Pengelasan merupakan
proses pemanasan dengan pendinginan yang relatif cepat. Pembentukan martensite pada
pengelasan dihindari karena dapat menyebabkan retak (hot cracking) pada material yang
disambung. Oleh sebab itu apabila nilai CE suatu baja karbon < 0,4 maka weldability dari
baja karbon tersebut akan meningkat namun hardenability dari baja karbon tersebut akan
menurun, begitu juga sebaliknya.
9. Pemanasan awal (preheating) dan pemanasan akhir (PWHT) merupakan suatu keharusan
pada pengelasan baja karbon tinggi untuk mencegah terjadinya retak las. a. Jelaskan secara
prinsip, tujuan utama ke dua treatment tersebut dalam mencegah terjadinya retak las. b.
Sebutkan parameter apa saja yang digunakan dalam menentukan besar kecilnya
pemanasan tersebut baik secara metalurgi maupun aturan kode pengelasan.

a. Pemanasan awal (preheating) adalah proses pemanasan material yang akan disambung
pada temperatur tertentu. Pemanasan ini bertujuan menurunkan laju pendinginan
sehingga pembentukan hotcracking dapat dihindari.
Tujuan:
 memperkecil kecepatan pendinginan pada logam induk & logam lasan,
sehingga membuat lebih ulet dan tahan terhadap retakan.
 memperkecil kecepatan pendinginan untuk memberi kesempatan hydrogen
keluar sehingga memperkecil retakan.
 memperkecil tegangan sisa akibat penyusutan pada logam lasan yang
berbatasan dengan logam induk.
 meningkatkan ketahan terhadap kegetasan yang terjadi pada fabrikasi.

Pemanasan Akhir (PWHT) adalah pemanasan yang berguna untuk pelapasan tegangan
pasca pengelasan (strees relieving) pada material sehingga tegangan pada benda las
menurun dan keuletan meningkat.
Tujuan:
 mereduksi stress karena proses manufaktur.
 meningkatkan ketahanan terhadap brittle fracture.
 meminimalkan potensial hydrogen induced cracking.
b. Parameter preheating
Preheating bergantung pada nilai carbon equivalen dari material

(𝑀𝑛 + 𝑆𝑖) (𝐶𝑟 + 𝑀𝑜 + 𝑉) (𝑁𝑖 + 𝐶𝑢)


𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 𝐶 + + +
6 5 15
Preheating Requirement Based on CE

CE (%) Preheating Required

Up to 0.45 Preheat optional

0.45 to 0.60 Preheat to 93 – 205 deg C

Over 0.60 Preheat to 205 to 370 deg C

- Ketebalan suatu material  menerapkan sumber pemanasan yang berbeda pada


sisi yang tebalnya tidak sama
- Interpass temperatur  harus terdapat di WPS. Ketika interpass temperatur telah
ditentukan maka area pengelasan harus diinspeksi sebelum mendeposisikan weld
bead selanjutnya. Pengelasan tidak akan terjadi apabila temperatur yang telah
dihitung melebihi maksimum interpass temperature oleh sebab itu lasan harus
didinginkan hingga suhu tertentu sebelum proses pengelasan di lanjutkan
- Kadar Carbon Equivalent suatu material
- Berdasarkan metalurgi  sifat mekanik suatu material.

10. Suatu baja konstruksi (carbon steel) dengan tipe A515 grade 70 untuk bejana tekan
(pressure vessel) memiliki komposisi kimia 0.35% C, 1.2% Mn, 0.4% Si, 0.25%Cr,
0.1%Ni, 0.2%Cu, 0.1%V. Hitunglah karbon ekivalen (CE) menurut IIW dan jelaskan
kemampulasan dari baja tersebut serta treatment apa saja yang menurut saudara harus
dilakukan pada pengelasan material tersebut.

Gunakan data tabel dibawah untuk analisa saudara.

Preheating Requirement Based on CE

CE (%) Preheating Required


Up to 0.45 Preheat optional

0.45 to 0.60 Preheat to 93 – 205 deg C

Over 0.60 Preheat to 205 to 370 deg C

Diketahui:

Komposisi kimia dari carbon steel A515 grade 70 untuk bejana tekan:

- C = 0,35%

- Mn = 1,2%

- Si = 0,4%

- Cr = 0,25%

- Ni = 0,1%

- Cu = 0,2%

- V = 0,1%

Karbon Ekivalen carbon steel A515 grade 70?

Untuk menentukan karbon ekuivalen suatu material kita dapat menggunakan rumus:

(𝑀𝑛 + 𝑆𝑖) (𝐶𝑟 + 𝑀𝑜 + 𝑉) (𝑁𝑖 + 𝐶𝑢)


𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 𝐶 + + +
6 5 15
(1,2 + 0,4) (0,25 + 0 + 0,1) (0,1 + 0,2)
𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 0,35 + + +
6 5 15

𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 0,35 + 0,26 + 0,07 + 0,02

𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 (𝐶𝐸 ) = 0,7 %

Dari hasil perhitungan CE tersebut untuk carbon steel A515 grade 70 untuk bejana tekan
didapatkan nilai CE sebesar 0,7%. Berdasarkan tabel “Preheating Requirement Based on CE”
maka untuk carbon steel A515 grade 70 untuk bejana tekan akan dilakukan preheat pada suhu
205 – 370oC.

Berdasarkan kandungan karbon dari carbon steel A515 grade 70 yaitu sebesar 0,35% maka
carbon steel tersebut termasuk dalam medium carbon steel dimana untuk menghasilkan
kemampulasan yang baik diperlukan suhu preheat dan postheat yang sama yaitu pada suhu 205 –
370oC. Pada carbon steel A515 grade 70 ini terdapat proses pengelasan yang direkomendasikan
yaitu proses pengelasan dengan low hydrogen.