Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN POSTPARTUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi


Departement Maternitas

Oleh :
Mira Ramdhani
NIM. 125070201131007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
LAPORAN PENDAHULUAN
POST PARTUM

A. DEFINISI
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6
minggu. (Abdul Bari,2000).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran
yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke
keadaan tidak hamil yang normal.
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan
untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12
minggu.( Ibrahim C, 1998).

B. PERIODE
Masa nifas dibagi dalam 3 periode:
1. Early post partum
Dalam 24 jam pertama.
2. Immediate post partum
Minggu pertama post partum.
3. Late post partum
Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

C. TUJUAN PERAWATAN MASA NIFAS


Dalam masa nifas ini penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang
dilakukan selama ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah
sakit.
Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah:
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologi.
2. Melaksanakan skrining yang komprehrnsif, mendeteksi masalah, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi,
keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan
bayi sehat.
4. Untuk mendapatkan kesehatan emosi (Bari Abdul, 2000)
D. PERUBAHAN MASA NIFAS
Selama menjalani masa nifas, ibu mengalami perubahan yang bersifat fisiologis
yang meliputi perubahan fisik dan psikologik, yaitu:
1. Perubahan fisik
a. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena
peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui,
engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila
dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.
b. Involusi
Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat
kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai
keadaan seperti sebelum hamil.
1) Proses involusi terjadi karena adanya:
 Autolysis yaitu penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena
adanya hiperplasi, dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang
sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil akan
susut kembali mencapai keadaan semula. Penghancuran jaringan tersebut
akan diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh ginjal yang
menyebabkan ibu mengalami beser kencing setelah melahirkan.
 Aktifitas otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah
anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah
karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi
uterus yang tidak berguna. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan
terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan jaringan otot
kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran jaringan otot menjadi lebih
kecil.
 Ischemia yaitu kekurangan darah pada uterus yang menyebabkan atropi
pada jaringan otot uterus.
2) Involusi pada alat kandungan meliputi:
 Uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi
dan retraksi otot-ototnya.
Perubahan uterus setelah melahirkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.1 Tabel Perubahan Uterus Setelah melahirkan
Diameter
Involusi TFU Berat Bekas Melekat Keadaan
Uterus Plasenta Cervix
Setelah Sepusat 1000 gr 12,5 Lembik
plasenta
lahir
1 minggu Pertengah 500 gr 7,5 cm Dapat dilalui
an pusat 2 jari
symphisis
2 minggu Tak teraba 350 gr 5 cm
6 minggu Sebesar 50 gr 2,5 cm Dapat
hamil 2 dimasuki 1
minggu jari
8 minggu Normal 30 gr
Sumber: Rustam muchtar, 1998

3) Involusi tempat plasenta


Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah
besar yang tersumbat oleh trombus. Luka bekas implantasi plasenta tidak
meninggalkan parut karena dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan
endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari
pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka. (Sulaiman S, 1983)
c. Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang besar,
tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang
banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas.

d. Perubahan pada cervix dan vagina


Beberapa hari setelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari,
pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh 1 jari saja. Karena hiperplasi ini dan
karena retraksi dari cervix, robekan cervix jadi sembuh. Vagina yang sangat
diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran yang normal. Pada
minggu ke 3 post partum ruggae mulai nampak kembali.
Rasa sakit yang disebut after pains (meriang atau mules-mules) disebabkan
koktraksi rahim biasanya berlangsung 3 – 4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan
pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu analgesik.
e. Lochia
Lochia adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa
nifas. Lochia bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari darah menstruasi.
Lochia ini berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi tidak busuk.
Pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya yaitu
lokia rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa,
rambut lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan keluar mulai hari pertama sampai
hari ketiga.
 Lochia rubra berwarna putih bercampur merah , mulai hari ketiga sampai
hari ketujuh.
 Lochia serosa berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari
keempat belas.
 Lochia alba berwarna putih setelah hari keempat belas.( Manuaba, 1998)
f. Dinding perut dan peritonium
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama,
biasanya akan pulih dalam 6 minggu. Ligamen fascia dan diafragma pelvis yang
meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsur angsur mengecil dan
pulih kembali.Tidak jarang uterus jatuh ke belakang menjadi retrofleksi karena
ligamentum rotundum jadi kendor. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan
latihan-latihan pasca persalinan.( Rustam M, 1998)
g. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa
kembali setelah 3 minggu post partum.
h. Sistem Gastrointestinal
- Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
- Nafsu makan kembali normal.
- Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.
i. Sistem Urinaria
- Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena
trauma.
- Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
- Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
j. Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil.
Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.
k. Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.
l. Sistem Imun
Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.
m. Sistim Kardiovasculer
Selama kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi
penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh darah
uterus. Penurunan dari estrogen mengakibatkan diuresis yang menyebabkan
volume plasma menurun secara cepat pada kondisi normal. Keadaan ini terjadi
pada 24 sampai 48 jam pertama setelah kelahiran. Selama ini klien mengalami
sering kencing. Penurunan progesteron membantu mengurangi retensi cairan
sehubungan dengan penambahan vaskularisasi jaringan selama kehamilan.
(V Ruth B, 1996)
n. Sistim Hormonal
1) Oxytoxin
Oxytoxin disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan bereaksi pada otot
uterus dan jaringan payudara. Selama kala tiga persalinan aksi oxytoxin
menyebabkan pelepasan plasenta. Setelah itu oxytoxin beraksi untuk
kestabilan kontraksi uterus, memperkecil bekas tempat perlekatan plasenta
dan mencegah perdarahan. Pada wanita yang memilih untuk menyusui
bayinya, isapan bayi menstimulasi ekskresi oxytoxin diamna keadaan ini
membantu kelanjutan involusi uterus dan pengeluaran susu. Setelah placenta
lahir, sirkulasi HCG, estrogen, progesteron dan hormon laktogen placenta
menurun cepat, keadaan ini menyebabkan perubahan fisiologis pada ibu
nifas.
2) Prolaktin
Penurunan estrogen menyebabkan prolaktin yang disekresi oleh glandula
hipofise anterior bereaksi pada alveolus payudara dan merangsang produksi
susu. Pada wanita yang menyusui kadar prolaktin terus tinggi dan
pengeluaran FSH di ovarium ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui kadar
prolaktin turun pada hari ke 14 sampai 21 post partum dan penurunan ini
mengakibatkan FSH disekresi kelenjar hipofise anterior untuk bereaksi pada
ovarium yang menyebabkan pengeluaran estrogen dan progesteron dalam
kadar normal, perkembangan normal folikel de graaf, ovulasi dan menstruasi.
3) Laktasi
Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu
ibu. Air susu ibu ini merupakan makanan pokok , makanan yang terbaik dan
bersifat alamiah bagi bayi yang disediakan oleh ibu yamg baru saja
melahirkan bayi akan tersedia makanan bagi bayinya dan ibunya sendiri.
Selama kehamilan hormon estrogen dan progestron merangsang
pertumbuhan kelenjar susu sedangkan progesteron merangsang
pertumbuhan saluran kelenjar , kedua hormon ini mengerem LTH. Setelah
plasenta lahir maka LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi.
Lobus prosterior hypofise mengeluarkan oxtoxin yang merangsang
pengeluaran air susu. Pengeluaran air susu adalah reflek yang ditimbulkan
oleh rangsangan penghisapan puting susu oleh bayi. Rangsang ini menuju
ke hypofise dan menghasilkan oxytocin yang menyebabkan buah dada
mengeluarkan air susunya.
Pada hari ke 3 postpartum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini
menandai permulaan sekresi air susu, dan kalau areola mammae dipijat,
keluarlah cairan puting dari puting susu.
Hal yang mempengaruhi susunan air susu adalah diit, gerak badan.
Benyaknya air susu sangat tergantung pada banyaknya cairan serta makanan
yang dikonsumsi ibu. (Sastrawinata Sulaiman, 1983)

o. Tanda-tanda vital
Perubahan tanda-tanda vital pada massa nifas meliputi:
Tabel 1.2 Tabel perubahan Tanda-tanda Vital
Parameter Penemuan normal Penemuan abnormal
Tanda-tanda vital Tekanan darah < 140 / 90 Tekanan darah > 140 / 90
mmHg, mungkin bisa naik dari mmHg
tingkat disaat persalinan 1 – 3
hari post partum.
Suhu tubuh < 38 0 C Suhu > 380 C
Denyut nadi: 60-100 x/menit Denyut nadi: >100 x/menit

2. Perubahan Psikologi
Perubahan psikologi masa nifas menurut Reva- Rubin terbagi menjadi dalam 3
tahap yaitu:
a. Periode Taking In
Periode ini terjadi setelah 1-2 hari dari persalinan.Dalam masa ini terjadi
interaksi dan kontak yang lama antara ayah, ibu dan bayi. Hal ini dapat
dikatakan sebagai psikis honey moon yang tidak memerlukan hal-hal yang
romantis, masing-masing saling memperhatikan bayinya dan menciptakan
hubungan yang baru.
b. Periode Taking Hold
Berlangsung pada hari ke – 3 sampai ke- 4 post partum. Ibu berusaha
bertanggung jawab terhadap bayinya dengan berusaha untuk menguasai
ketrampilan perawatan bayi. Pada periode ini ibu berkosentrasi pada
pengontrolan fungsi tubuhnya, misalnya buang air kecil atau buang air besar.
c. Periode Letting Go
Terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Pada masa ini ibu mengambil tanggung
jawab terhadap bayi ( Persis Mary H, 1995)

E. PERAWATAN MASA NIFAS


Setelah melahirkan, ibu membutuhkan perawatan yang intensif untuk pemulihan
kondisinya setelah proses persalinan yang melelahkan. Dimana perawatan post
partum meliputi:
1. Mobilisasi Dini
Karena lelah sehabis melahirkan , ibu harus istirahat tidur telentang selama 8
jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring kekanan kekiri untuk mencegah
terjadinya trombosis dan trombo emboli. Pada hari kedua diperbolehkan duduk,
hari ketiga jalan-jalan dan hari keempat atau kelima sudah diperbolehkan pulang.
Mobilisasi diatas memiliki variasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan
sembuhnya luka-luka.
Keuntungan dari mobilisasi dini adalah melancarkan pengeluaran lochia,
mengurangi infeksi purperium, mempercepat involusi alat kandungan,
melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan, meningkatkan
kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran
sisa metabolisme ( Manuaba, 1998)
2. Rawat Gabung
Perawatan ibu dan bayi dalan satu ruangan bersama-sama sehingga ibu lebih
banyak memperhatikan bayinya, segera dapat memberikan ASI sehingga
kelancaran pengeluaran ASI lebih terjamin.( Manuaba, 1998)
3. Pemeriksaan Umum
Pada ibu nifas pemeriksaan umum yang perlu dilakukan antara lain adalah
kesadaran penderita, keluhan yang terjadi setelah persalinan.
4. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan khusus pada ibu nifas meliputi:
 Fisik : tekanan darah, nadi dan suhu
 Fundus uteri : tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
 Payudara : puting susu, pembengkakan, pengeluaran ASI
 Patrun lochia : Locia rubra, lochia sanginolenta, lochia serosa,
lochia alba
 Luka jahitan episiotomi : Apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda
infeksi. ( Manuaba, 1998)
5. Nasehat Yang Perlu diberikan saat pulang adalah:
a. Diit
Masalah diit perlu diperhatikan karena dapat berpengaruh pada pemulihan
kesehatan ibu dan pengeluaran ASI. Makanan harus mengandung gizi
seimbang yaitu cukup kalori, protein, cairan, sayuran dan buah-buahan.
b. Pakaian
Pakaian agak longgar terutama didaerah dada sehingga payudara tidak
tertekan. Daerah perut tidak perlu diikat terlalu kencang karena tidak akan
mempengaruhi involusi. Pakaian dalam sebaiknya yang menyerap, sehingga
lochia tidak menimbulkan iritasi pada daerah sekitarnya. Kasa pembalut
sebaiknya dibuang setiap saat terasa penuh dengan lochia,saat buang air kecil
ataupun setiap buang air besar.
c. Perawatan vulva
Pada tiap klien masa nifas dilakukan perawatan vulva dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya inveksi di daerah vulva, perineum maupun didalam
uterus. Perawatan vulva dilakukan pada pagi dan sore hari sebelum mandi,
sesudah buang air kemih atau buang air besar dan bila klien merasa tidak
nyaman karena lochia berbau atau ada keluhan rasa nyeri. Cara perawatan
vulva adalah cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka,
setelah BAK cebok ke arah depan dan setelah BAB cebok kearah belakang,
ganti pembalut stiap kali basah atau setelah BAB atau BAK , setiap kali cebok
memakai sabun dan luka bisa diberi betadin.
d. Miksi
Kencing secara spontan sudah harus dapat dilakukan dalam 8 jam post
partum. Kadang kadang wanita sulit kencing, karena spincter uretra mengalami
tekanan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musculus spincter ani selama
persalinan. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing sebaiknya
dilakukan kateterisasi.( Persis H, 1995)
e. Defekasi
Buang air besar harus terjadi pada 2-3 hari post partum. Bila belum terjadi
dapat mengakibatkan obstipasi maka dapat diberikan obat laksans per oral
atau perektal atau bila belum berhasil lakukan klisma.( Persis H,1995)
f. Perawatan Payudara
Perawatan payudara telah mulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas,
tidak keras dan kering, sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Dianjurkan
sekali supaya ibu mau menyusui bayinya karena sangat berguna untuk
kesehatan bayi.Dan segera setelah lahir ibu sebaiknya menyusui bayinya
karena dapat membantu proses involusi serta colostrum mengandung zat
antibody yang berguna untuk kekebalan tubuh bayi.
g. Kembalinya Datang Bulan atau Menstruasi
Dengan memberi ASI kembalinya menstruasi sulit diperhitungkan dan bersifat
indifidu. Sebagian besar kembalinya menstruasi setelah 4-6 bulan.
h. Cuti Hamil dan Bersalin
Bagi wanita pekerja menurut undang-undang berhak mengambil cuti hamil dan
bersalin selama 3 bulan yaitu 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan setelah
melahirkan.
i. Mempersiapkan untuk Metode KB
Pemeriksaan post partum merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan
metode KB untuk menjarangkan atau menghentikan kehamilan. Oleh karena itu
penggunaan metode KB dibutuhkan sebelum haid pertama kembali untuk
mencegah kehamilan baru. Pada umumnya metode KB dapat dimulai 2 minggu
setelah melahirkan (Bari Abdul,2000).
F. PATHWAY
Post partum/masa nifas/puerperium

Aspek fisiologis Aspek psikososial

Sistem Sistem Sistem Sistem Sistem Sistem Proses Reva-Rubin


pencenaan kardiovaskuler muskuloskeletal reproduksi endokrin Perkemihan Parenting

Alat pencernaan Bradikardia Mekanis fase takin inmendapat


tekananTakikardia Sensasi eks.bawah- Involusi uteri Penurunan hormon Oedema dan
Tromboplebitis- Involusi daerah estrogen dan hypermia kandungTak terpenuhi fase taking Kolon menjadiInstability Edemaimplantasi
plasentaprogesteron dindingkemihhold
kosong vasomotor- Robekan cervikKelemahan
- Perubahan pada Prolaktinobstrusi uretra fisik fase letting
Peristaltik usus vagina meningkat go
menurun Diaporesis/Intoleransi- Kencang pada Retensi urine menggigil Aktivitas klitoris dan labia
Prod. ASI& Adanya peran
- Luka perineum Pengeluaran IntoleransisebagaiIbu
Kolostrumaktivitas
GangguanKurang ter
ResikoGangguan rasa nyamanEliminasipaparnya informasi
Konstipasi Resiko infeksi Urine tentang perawatan Nyeri
AkutKesiapan Bayi Baru Lahir
Resiko Infeksi meningkatkan
pemberian ASI
Defisiensi
Pengetahuan
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Data umum klien
b. Riwayat kehamilan sekarang
c. Riwayat persalinan sekarang
d. Riwayat Ginekologi
e. Keadaan Bayi Saat Lahir
f. Nilai Apgar

2. Masalah Keperawatan
a. Nyeri akut
b. Gangguan rasa nyaman
c. Defisiensi pengetahuan
d. Gangguan eliminasi urine
e. Intoleransi aktivitas
f. Kesiapan meningkatkan pemberian ASI
g. Resiko konstipasi
h. Resiko infeksi
3. Intervensi
Nyeri akut
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan:  Pain Level, Pain Management
Agen injuri (biologi, kimia,  pain control, 1. Lakukan pengkajian nyeri
fisik, psikologis),  comfort level secara komprehensif
kerusakan jaringan Setelah dilakukan termasuk lokasi,
tindakan keperawatan karakteristik, durasi,
DS: selama 1x24 jam klien frekuensi, kualitas dan
- Laporan secara verbal tidak mengalami nyeri, faktor presipitasi
DO: dengan kriteria hasil: 2. Observasi reaksi
- Posisi untuk menahan  Mampu mengontrol nonverbal dari
nyeri nyeri (tahu penyebab ketidaknyamanan
- Tingkah laku berhati-hati nyeri, mampu 3. Bantu pasien dan
- Gangguan tidur (mata menggunakan tehnik keluarga untuk mencari
sayu, tampak capek, nonfarmakologi untuk dan menemukan
sulit atau gerakan kacau, mengurangi nyeri, dukungan
menyeringai) mencari bantuan) 4. Kontrol lingkungan yang
- Terfokus pada diri  Melaporkan bahwa nyeri dapat mempengaruhi
sendiri berkurang dengan nyeri seperti suhu
- Fokus menyempit menggunakan ruangan, pencahayaan
(penurunan persepsi manajemen nyeri dan kebisingan
waktu, kerusakan proses  Mampu mengenali nyeri 5. Kurangi faktor presipitasi
berpikir, penurunan (skala, intensitas, nyeri
interaksi dengan orang frekuensi dan tanda 6. Kaji tipe dan sumber nyeri
dan lingkungan) nyeri) untuk menentukan
- Tingkah laku distraksi,  Menyatakan rasa intervensi
contoh : jalan-jalan, nyaman setelah nyeri 7. Ajarkan tentang teknik
menemui orang lain berkurang non farmakologi: napas
dan/atau aktivitas,  Tanda vital dalam dalam, relaksasi, distraksi,
aktivitas berulang-ulang) rentang normal kompres hangat/ dingin
- Respon autonom  Tidak mengalami 8. Tingkatkan istirahat
(seperti diaphoresis, gangguan tidur 9. Berikan informasi tentang
perubahan tekanan nyeri seperti penyebab
darah, perubahan nafas, nyeri, berapa lama nyeri
nadi dan dilatasi pupil) akan berkurang dan
- Perubahan autonomic antisipasi
dalam tonus otot ketidaknyamanan dari
(mungkin dalam rentang prosedur
dari lemah ke kaku) 10. Kolabrasi dalam
- Tingkah laku ekspresif pemberian analgetik untuk
(contoh : gelisah, mengurangi nyeri
merintih, menangis, 11. Monitor vital sign sebelum
waspada, iritabel, nafas dan sesudah pemberian
panjang/berkeluh kesah) analgesik pertama kali
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
Kurang Pengetahuan
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kurang Pengetahuan NOC: NIC :
Berhubungan dengan :  Kowlwdge : infant care Parent education: Infant
keterbatasan kognitif,  Maternal status: 1. Tentukanpengetahuanora
interpretasi terhadap postpartum ng tuadan kesiapandan
informasi yang salah, Setelah dilakukan kemampuan untuk
kurangnya keinginan untuk tindakan keperawatan belajartentang
mencari informasi, tidak selama …. pasien perawatanbayi
mengetahui sumber- menunjukkan 2. Monitorkebutuhan
sumber informasi. pengetahuan tentang belajarkeluarga
proses penyakit dengan 3. Berikan
kriteria hasil: bimbinganantisipatiftentan
DS: Menyatakan secara  Pasien menyatakan g
verbal adanya masalah pemahaman tentang perubahanperkembangan
DO: ketidakakuratan perawatan bayi baru selama tahunpertama
mengikuti instruksi, lahir kehidupan
perilaku tidak sesuai  Pasien dan keluarga 4. Bantuorang tuadalam
mampu melaksanakan mengartikulasikancaraunt
prosedur yang uk
dijelaskan secara mengintegrasikanbayike
benar dalam sistemkeluarga
 Pasien dan keluarga 5. Ajarkan
mampu menjelaskan keterampilanorangtuauntu
kembali apa yang k merawatbayi baru lahir
dijelaskan perawat/tim 6. Berikaninformasikepada
kesehatan lainnya orang tua tentangdot
7. Berikaninformasitentang
menambahkanmakanan
padatuntuk dietibu selama
tahun pertama
8. Bahasalternatif
terhadapdotmenjelang
tiduruntuk
mencegahtimbulnya
karies
9. Ajarkan orang tua tentang
cara untuk mengobati dan
mencegah ruam popok
10. Tunjukkan cara di mana
orang tua dapat
merangsang
perkembangan bayi
11. Dorong orang tua untuk
berpelukan, memijat, dan
memberikan sentuhan
bayi
12. Dorong orang tua untuk
berbicara dan membaca
untuk bayinya,
memberikan pendengaran
menyenangkan dan
stimulasi visual seta
bermain dengan bayinya
13. Perkuat kemampuan
orang tua untuk
menerapkan ajaran
keterampilan perawatan
anak
14. Berikan dukungan orang
tua denganketika belajar
keterampilanperawatan
bayi
15. Bantu orang tua dalam
menafsirkan isyarat bayi,
isyarat nonverbal,
menangis dan vokalisasi
16. Berikan informasi
tentangkarakteristikperilak
ubayi baru lahir dan
bantuorang tuauntuk
mengidentifikasikarakteris
tik perilakubayi
17. Jelaskan dantunjukkan
teknikmenenangkan bayi
18. Monitorketerampilanorang
tuadalam
mengenalikebutuhan
fisiologisbayi
19. Berikanorang
tuainformasitentang
membuatlingkungan
rumah yang
amanuntukbayi.
Kesiapan meningkatkan pemberian ASI
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kesiapan meningkatkan NOC : NIC :


pemberian ASI  Postpartum maternal Lactation counseling
health behavior 1. Berikan informasi tentang
Batasan karakteristik :  Knowledge: manfaat psikologis
- Pola eliminasi bayi breastfeeding menyusui
adekuat sesuai usia  Infant nutritional 2. Tentukan keinginandan
- Pola berat badan bayi status motivasi ibu untuk
tepat sesuai usia Setelah dilakukan menyusui serta persepsi
- Pola komunikasi ibu dan tindakan keperawatan menyusui
bayi efektif selama 1x24 jampasien 3. Koreksi dengan benar
- Bayi kenyang setelah mempunyai kesiapan kesalahpahaman,
menyusui untuk meningkatkan informasi yang salah, dan
- Ibu mampu pemberian ASI dengan ketidakakuratan tentang
memposisikan bayi pada kriteria hasil: menyusui
payudara untuk  Pertahankan asupan 4. Berikan materi pendidikan
meningkatkan respon cairan dan nutrisi 5. Berikan ibu kesempatan
keberhasilan latch on  Supply ASI yang untuk menyusui setelah
- Ibu melaporkan adekuat melahirkan
kepuasan dengan  Vital sign dalam batas 6. Bantu dalam memastikan
proses menyusi normal posisi yang tepat bagi
- Pengisapan reguler  Monitor kelembutan bayi ke payudara
pada payudara puting susu (keselarasanyang tepat,
- Menelan reguler pada  Monitor pegang areolar dan
payudara pembengkakan kompresi, dan suara
payudara menelan)
7. Instruksikan pada
berbagai posisi menyusui
8. Pantau kemampuan bayi
untuk menghisap
9. Instruksikan ibu agar
menyusui bayi untuk
menyelesaikan pada
payudara pertama terlebih
dahulu sebelum
menawarkan payudara
kedua
10. Instruksikan tentang cara
bayi untuk menghisap
pada saat menyusui, jika
perlu
11. Instruksikan ibu tentang
perawatan putting susu
12. Pantau nyeri puting dan
integritas kulit gangguan
puting
13. Diskusikan teknik untuk
menghindari atau
meminimalkan
pembengkakan dan
ketidaknyamanan
payudara
14. Diskusikan kebutuhan
untuk istirahat yang
cukup, hidrasi dan diet
seimbang
15. Dorong ibu untuk
memakai bra yang pas
16. Instruksikan penanganan
yang tepat dari ASI perah
17. Anjurkan pasien untuk
menghubungi konsultan
laktasi untuk membantu
dalam menentukan status
pasokan susu
18. Diskusikan strategi yang
bertujuan untuk
mengoptimalkan pasokan
susu
DAFTAR PUSTAKA

Bennet R. Brown Linda K. 1996. Myles Text Book For Midwives. Tokyo : Chrurcchill
Livingstone.
Dochterman, dkk. 2008. Nursing Intervension Classification sixth edition. Philadelphia :
Elseiver
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan : Edisi dan Klasifikasi 2012-2014.
Jakarta : EGC
Ibrahim, Christin S. 1998. Perawatan Kebidanan (Perawatan Nifas). Jakarta: Bharata
Niaga Media.
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : Pengurus Ikatan Bidan Indonesia.
Mary Hamilton, Persis. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas Edisi 6. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Moechtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, Jilid I,
Edisi 2, Editor : Delfi Lutan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Moorhead, dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification sixth edition.Philadelphia :
Elseiver
Prawirohardjo, Sarwono.2002.Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta :
YBP – SP.
Saifuddin, A.B dkk. 2002.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal. Edisi I,
Catatan I. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sasworo Prawirohardjo.
Saifudin, Abdul Bari Dkk. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sastra, Sulaiman. 1983. Obstetri Patologi. Bandung: Elemen.
Sastrawinata Sullaiman. 1983.Obstetri Fisiologi. Bandung: Offset.
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga.Jakarta : YBP-SP