Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) ATAU IUD

A. Teori Medis
1. Pengertian IUD
Pengertian IUD adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang
telah dirancang sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa
aktif fungsi kontrasepsinya), diletakkan dalam kavum uteri sebagai
usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi, dan menyulitkan telur
berimplementasi dalam uterus (Hidayati, 2009).
Pengertian AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda
kecil yang terbuat dari plastic yang lentur, mempunyai lilitan tembaga
atau juga mengandung hormone dan di masukkan ke dalam rahim
melalui vagina dan mempunyai benang (Handayani, 2010).
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam
rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari
plastik (polythyline), ada yang dililit tembaga (Cu) ada pula yang tidak,
tetapi ada pula yang dililit dengan tembaga bercampur perak (Ag).
Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone.
(Kusmarjati, 2011).
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah
dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur dengan sel sperma
yang mengakibatkan kehamilan, sehingga kontrasepsi adalah upaya
mencegah terjadinya kehamilan dengan cara mengusahakan agar tidak
terjadi ovulasi, melumpuhkan sperma atau menghalangi pertemuan sel
telur dengan sel sperma (Wiknjosastro, 2012).
2. Profil
Menurut Saifudin (2010), Profil pemakaian IUD adalah:
a. Sangat efektif, reversible dan berjangka panjang (dapat sampai 10
tahun: CuT-380A)
b. Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak
c. Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan
d. Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi
e. Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada Infeksi
Menular Seksual (IMS).
3. Jenis – Jenis IUD
Jenis - jenis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain :
a. Copper-T

Gambar 2.1 Jenis IUD Copper-T (Imbarwati : 2009)


Menurut Imbarwati,(2009). IUD berbentuk T, terbuat dari bahan
polyethelen dimana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat
tembaga halus. Lilitan tembaga halus ini mempunyai efek anti fertilitas
(anti pembuahan) yang cukup baik. Menurut ILUNI FKUI ( 2010).
Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan
dengan cara menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga
rahim dan dapat dipakai selama 10 tahun.
b. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya efektif untuk 1
tahun dan dapat digunakan untuk kontrasepsi darurat Copper-7.
Menurut Imbarwati (2009). IUD ini berbentuk angka 7 dengan
maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai
ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan
kawat tembaga luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama dengan
lilitan tembaga halus pada IUD Copper-T.

c. Multi load
Gambar 2.2 Jenis IUD Multi Load ( Imbarwati : 2009)
Menurut Imbarwati (2009), IUD ini terbuat dari plastik
(polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap
yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung bawah 3,6 cm.
Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250
mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis
ukuran multi load yaitu standar, small, dan mini.

d. Lippes loop

Gambar 2.3 Jenis IUD Lippes Loop (Imbarwati : 2009)


Menurut Imbarwati (2009), IUD ini terbuat dari polyethelene,
berbentuk huruf spiral atau huruf S bersambung. Untuk
memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya Lippes loop
terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian
atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm
(benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning) dan tipe
D berukuran 30 mm dan tebal (benang putih). Lippes loop
mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan dari
pemakaian IUD jenis ini adalah bila terjadi perforasi, jarang
menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan
plasti.

4. Cara Kerja
Menurut Saifudin (2010), Cara kerja IUD adalah:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ketuba falopi
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
c. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu,
walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk kedalam alat
reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk
fertilisasi.
d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
5. Efektivitas
Keefektivitasan IUD adalah: Sangat efektif yaitu 0,5 – 1 kehamilan per
100 perempuan selama 1 tahun pertama penggunaan (Arum dan
Sujiyantini, 2009).
6. Kelebihan dan Keterbatasan AKDR pasca plasenta menurut Kemenkes
R.I.(2012)
a. Kelebihan AKDR pasca plasenta bagi klien yaitu:
1) Dapat digunakan oleh semua pasien normal atau sectio sesarea
(tanpa komplikasi)
2) Pencegahan kehamilan dalam jangka panjang yang efektif
3) Insersi AKDRdikerjakan dalam 10 menit setelah keluarnya
plasenta
4) Tidak meningkatkan risiko infeksi ataupun perforasi uterus
5) Kejadian ekspulsi yang rendah hampir sama dibandingkan dengan
pemasangan setelah empat minggu pasca persalinan selama teknik
dilakukan dengan benar
Kelebihan non kontrasepsi bagi klien yaitu:
1) Dapat dipasang langsung saat ostium masih terbuka setelah
plasenta lahir sehingga mengurangi rasa sakit
2) Tidak mempengaruhi hubungan suami istri bahkan dapat
menambah kenikmatan dalam hubungan karena mengurangi
kekhawatiran akan hamil
3) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume Air Susu Ibu (ASI)
4) Dapat membantu mencegah kehamilan diluar kandungan
5) Dilakukan satu kali pemasangan dan ekonomis dalam jangka
waktu maksimal 8-10 tahun
6) Tidak ada interaksi dengan obatobatan lain
7) Kesuburan dapat langsung kembali setelah AKDR terlepas
(reversible)
8) Tidak menimbulkan ada efek sistemik dan efek samping
hormonal.
Kelebihan AKDR pasca plasenta bagi program yaitu:
1) Meningkatkan capaian peserta KB baru MKJP
2) Menurunkan angka unmet need
3) Meningkatkan Contraseptive Prevalence Rate (CPR).
Kelebihan AKDR pasca plasenta bagi provider yaitu:
1) Pemasangan mudah sesaat setelah plasenta lahir dimana ostium
masih terbuka
2) Klien lebih dapat diajak kerjasama karena sensasi sakit tidak
terlalu terasa saat AKDR diinsersi.
b. Keterbatasan alat kontrasepsi ini yaitu
1) Dapat terjadi perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak,
perdarahan bercak (spotting) dan nyeri haid, biasanya pada tiga
bulan pertama setelah pemasangan dan keluhan akan hilang
dengan sendirinya
2) Kemungkinan terjadi resiko infeksi dan keputihan
3) AKDR dapat terlepas dari uterus tanpa diketahui oleh klien
4) AKDR tidak dapat dilepas sendri oleh klien, tetapi harus
dilakukan oleh tenaga terlatih
5) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
Penelitian yang dilakukan oleh Fuadah (2014) menyatakan bahwa
berdasarkan uji chi-square didapatkan ρ value = 0,005 lebih kecil dari
α=0,05 yang artinya terdapat hubungan pemasangan IUD post plasenta
dengan kejadian ekspulsi pada WUS di Puskesmas Bobotsari Kabupaten
Purbalingga. Nilai koefisien kontingensi 0,479 artinya tingkat hubungan
sedang.
Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Erfandi
(2008) yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang kurang
mendukung penggunaan metode kontrasepsi IUD ini, antara lain yaitu
ketakutan akan keluarnya (ekspulsi) material IUD dari rahim/jalan lahir.
Hal ini biasanya terjadi pada waktu haid, disebabkan ukuran IUD yang
terlalu kecil. Ekspulsi ini juga dipengaruhi oleh jenis bahan yang dipakai.
Makin elastis sifatnya makin besar kemungkinan terjadinya ekspulsi.
Sedangkan jika permukaan IUD yang bersentuhan dengan rahim (cavum
uteri) cukup besar, kemungkinan terjadinya ekspulsi kecil. Ketakutan juga
dapat terjadi akibat pengalaman individual orang lain yang mengalami
nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan IUD.
Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
Angka kejadian ekspulsi pada IUD sekitar 2-8 per 100 wanita pada
tahun pertama setelah pemasangan. Angka kejadian ekspulsi setelah post
partum juga tinggi, pada insersi setelah plasenta lepas kejadian ekspulsi
lebih rendah daripada pada insersi yang dilakukan setelahnya. Gejala
ekspulsi antara lain kram, pengeluaran per vagina,spotting atau
perdarahan, dan dispareni. Pemasangan IUD postplasenta meningkatkan
angka ekspulsi disebabkan karena kondisi rahim setelah melahirkan
sehingga ketika dimasukkan alat IUD dan kemungkinan terdorong keluar
rahimn sejalan dengan proses pemulihan ukuran rahim ke bentuk semula
dan adanya kontraksi pada rahim.
BKKBN melakukan Penelitian Operasional (OR) AKDR pasca
plasenta yang dilakukan secara cross sectional terhadap akseptor yang
dilayani di RSUD Abdul Muluk Lampung dan RSUP Dr.Karyadi
Semarang. Hasil OR tersebut menunjukkan bahwa di RSUD Abdul
Muluk Lampung dari 207 akseptor IUD post plasenta yang dilayani
setelah 6 bulan pemakaian sebanyak lima orang ( 2,4 persen) dijumpai
adanya ekspulsi. Sementara di RSUP Dr.Karyadi Semarang dari 203
akseptor AKDR plasenta setelah 6 bulan ekspulsi yang terjadi pada dua
orang (1,0 persen). Kedua Rumah Sakit tersebut menerapkan teknik
pelayanan yang berbeda, dimana RSUD Abdul Muluk Lampung dengan
teknik jari, sedangkan RSUP Karyadi Semarang dengan teknik “Push
and Push”, tetapi pada pemakaian selama 12 bulan di kedua Rumah
Sakit tersebut tidak dijumpai adanya ekspulsi (BKKBN, 2012).
7. Keuntungan
Menurut Saifudin (2010), Keuntungan IUD yaitu:
a. Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi
Sangat efektif → 0,6 - 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun
pertama ( 1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
b. AKDR dapat efektik segera setelah pemasangan.
c. Metode jangka panjang ( 10 tahun proteksi dari CuT – 380A dan
tidak perlu diganti)
d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat –ingat
e. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk
hamil
g. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT -380A)
h. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
(apabila tidak terjadi infeksi)
j. Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebih setelah haid
terakhir)
k. Tidak ada interaksi dengan obat – obat
l. Membantu mencegah kehamilan ektopik.
8. Kerugian
Menurut Saifudin (2010), Kerugian IUD:
a. Efek samping yang mungkin terjadi:
1) Perubahan siklus haid ( umum pada 3 bulan pertama dan kan
berkurang setelah 3 bulan)
2) Haid lebih lama dan banyak
3) Perdarahan ( spotting ) antar menstruasi
4) Saat haid lebih sakit
b. Komplikasi Lain:
1) Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah
pemasangan
2) Merasa sakit dan kejang selama 3 – 5 hari setelah pemasangan
3) Perdarahan berat pada waktu haid atau di antaranya yang
memungkinkan penyebab anemia
4) Perforasi dinding uteru (sangat jarang apabila pemasangannya
benar)
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
d. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan
yang sering berganti pasangan
e. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS
memakai AKDR. PRP dapa memicu infertilitas
t
f. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik terganggu karena
fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal
9. Faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan AKDR
a. Umur
Model sistem kesehatan HBM menyebutkan bahwa karakteristik
umur dapat mempengaruhi seseorang dalam mencari pengobatandan
penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Utami (2013) di RSUP DR. M. Djamil menyebutkan
bahwa sebesar 79% ibu pasca salin yang menggunakan AKDR pasca
plasenta berumur 20-35 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian
Willopo dan Pastuti (2007) menyatakan bahwa variabel umur
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan AKDR.
Hasil analisis penelitian ini menunjukkan semakin meningkatnya
umur seseorang dan telah tercapainya jumlah anak ideal akan
mendorong pasangan untuk membatasi kelahiran, hal ini yang akan
meningkatkan peluang responden untuk menggunakan AKDR.
Didukung juga oleh hasil penelitian oleh Hasibuan (2016),
menunjukkan bahwa sebagian besar responden usia 20-35 tahun
menggunakan IUD post plasenta dengan jumlah responden 56
(25,81%). Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara usia dengan penggunaan IUD post plasenta.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rika (2014) hasil
penelitian menunjukan bahwa dari 66 akseptor yang menggunakan Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD), ibu dengan umur ≥ 35 tahun lebih
banyak yaitu 54 akseptor (81,8%). Dengan demikian dapat diketahui
bahwa ada hubungan antara umur dan pemilihan kontrasepsi, hal ini
disebabkan responden yang berumur ≥ 35 tahun menggunakan
kontrasepsi dengan tujuan mengakhiri kesuburan, karena mereka sudah
mempunyai anak sesuai dengan yang diinginkan keluarga, sehingga tidak
ingin menambah anak lagi.
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi perilaku mengenai
kondisi kesehatannya. Pendidikan dapat meningkatkan akses
pelayanan, yaitu dengan meningkatkan akses wanita terhadap
informasi, dan meningkatkan kemampuan dalam menyerap konsep
kesehatan baru. Konsep variabel pendidikan diperoleh dari teori
Anderson (2003) bahwa pendidikan mempengaruhi pemilihan
kontrasepsi. Pendidikan seorang ibu akan menentukan pola
penerimaan dan pengambilan keputusan, semakin berpendidikan
seorang ibu maka keputusan yang akan diambil akan lebih baik.
Sesuai dengan hasil penelitian Utami (2013) dimana 49 % ibu
pasca salin yang menggunakan AKDR pasca plasenta dengan
pendidikan tinggi. Alasan mengenai pengaruh pendidikan terhadap
peningkatan penggunaan alat kontrasepsi adalah semakin tinggi
pendidikan formal seseorang, maka usia kawin akan semakin tua
sehingga menurunkan jumlah kelahiran (Freedman et al.,1994). Hasil
penelitian di Kenya menunjukkan bahwa responden yang
menggunakan AKDRdan implant adalah responden berpendidikan
tinggi (Magadi dan Curtis, 2003).Penelitian ini sejalan dengan yang
dilakukan oleh Tatarini Purba (2009) yang menyatakan adanya
hubungan antara pendidikan dengan pemakaian
alat kontrasepsi.
c. Paritas
Partias adalah wanita yang pernah melahirkan satu keturunan atau
lebih yang mampu hidup tanpa memandang apakah anak tersebut
hidup pada saat lahir (Bobak dkk, 2005). Hasil analisis
Kusumaningrum (2009) menunjukkan kecenderungan bahwa
sebagian besar responden yang memakai metode kontrasepsi IUD
mempunyai paritas lebih dari dua dan bertujuan untuk membatasi
kelahiran. Hal ini sejalan dengan penelitian Willopo dan Pastuti
(2007) menunjukkan hubungan bermakna antara paritas dengan
penggunaan kontrasepsi bahwa responden yang telah melahirkan tiga
sampai empat kali mempunyai peluang untuk menggunakan AKDR
sebesar 1,5 kali.
Berdasarkan hasil penelitian Mujiastuti (2016) menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara paritas ibu dengan penggunaan IUD
post placenta. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square
diperoleh hasil bahwa p value sebesar 0,002 < 0,05 sehingga dapat
disimpulkan ada hubungan antara paritas dengan penggunaan IUD Post
Placenta di RSUD Wates Kulon Progo tahun 2016. Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian oleh Kusumaningrum (2009), menyatakan bahwa
umur, tingkat pendidikan dan paritas mempengaruhi pemilihan jenis
kontrasepsi yang digunakan pada pasangan usia subur. Semakin
meningkatnya umur seseorang dan telah tercapainya jumlah anak ideal
akan mendorong pasangan untuk membatasi kelahiran, hal ini yang akan
meningkatkan peluang responden untuk menggunakan Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR).
d. Pengetahuan Kontrasepsi AKDR Pasca Plasenta
Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan terjadi setelah
seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu
melalui pancaindra manusia (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan yang
benar tentang program KB termasuk berbagai jenis kontrasepi akan
meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam program KB
(BKKBN, 2008). Penelitian ini sejalan penelitian Utami (2013) yang
menyatakan adanya hubungan pengetahuan ibu dengan unmet need
AKDR pasca plasenta.
e. Dukungan Suami
Pemakaian kontrasepsi oleh istri berhubungan dengan dukungan
suami, bila suami tidak menyetujui penggunaan alat kontrasepsi yang
akan dipakai oleh istrinya maka sedikit yang akan memakai alat
kontrasepsi tersebut. Bentuk partisipasi suami dalam penggunaan alat
kontrasepsi adalah mendukung istri dalam memilih alat kontrasepsi
yang aman dan efektif (BKKBN, 2008).
Hasil penelitian Qamariah (2017) menunjukkan bahwa ada
hubungan dukungan suami dengan penggunaan KB IUD post-plasenta
pada ibu pasca persalinan di Puskesmas Jetis Yogyakarta ditandai dengan
p-value 0,001 <α-value (0,05). Penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Fatimah (2013) pada WUS dengan jumlah 110
orang di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pasar rebo Jakarta Timur.
Hasil penelitian diketahui bahwa dari 74,5% perempuan yang tidak
menggunakan AKDR tidak didukung oleh suaminya, sedangkan 25,5%
perempuan yang tidak menggunakan AKDR didukung oleh suaminya.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang tidak mendapatkan
dukungan dari suaminya lebih tinggi memilih untuk tidak menggunakan
AKDR dibandingkan dengan perempuan yang mendapat dukungan dari
suami. Secara statistik ada hubungan antara dukungan suami dengan
penggunaan AKDR pada WUS.
Penelitian lain di RSUP DR. M. Djamil dengan jumlah responden 88
wanita Pasangan Usia Subur pasca-persalinan pervaginam menunjukkan
bahwa adanya kecenderungan dari responden yang tidak mendapatkan
dukungan dari keluarganya untuk tidak menggunakan IUDpost-plasenta
(unmet need), sementara semua responden yang langsung memakai IUD
post-plasenta (met need) mendapatkan dukungan dari keluarganya
(Utami, S.H, 2013).
10. Mekanisme Kerja
a. Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara
pasti, ada yang berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang
menimbulkan reaksi radang setempat, dengan sebutan leukosit yang
dapat melarutkan blastosis atau seperma. Mekanisme kerja AKDR
yang dililiti kawat tembaga mungkin berlainan. Tembaga dalam
konsentrasi kecil yang dikeluarkan ke dalam rongga uterus juga
menghambat khasiatanhidrase karbon dan fosfatase alkali. AKDR
yang mengeluarkanhormon juga menebalkan lender sehingga
menghalangi pasasi sperma (Prawirohardjo, 2012).
b. Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan
pasti, kini pendapat yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalam
kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang
disertai dengan sebutan leukosit yang dapat menghancurkan
blastokista atau sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami
perubahan – perubahan pada pemakaian AKDR yang menyebabkan
blastokista tidak dapat hidup dalam uterus. Walaupun sebelumnya
terjadi nidasi, penyelidik-penyelidik lain menemukan sering adanya
kontraksi uterus pada pemakaian AKDR yang dapat menghalangi
nidasi. Diduga ini disebabkan oleh meningkatnya kadar
prostaglandin dalam uterus pada wanita (Wiknjosastro, 2012).
c. Sebagai metode biasa (yang dipasang sebelum hubungan sexual
terjadi) AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim dan
mempengaruhi sel elur dan sperma sehingga pembuahan tidak
terjadi. Sebagai kontrasepsi darurat (dipasang setelah hubungan
sexual terjadi) dalam beberapa kasus mungkin memiliki mekanisme
yang lebih mungkin adalah dengan mencegah terjadinya implantasi
atau penyerangan sel telur yang telah dibuahi ke dalam dinding
rahim.
d. Menurut Saifudin (2010), mekanisme kerja IUD adalah:
1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi
2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
3) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu
walaupun AKDR membuat sperma sulit ke dalam alat reproduksi
perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur ke dalam uterus.
11. Kontra Indikasi
Menurut Kusumaningrum (2009), Kontra indikasi dari IUD:
a. Hamil atau diduga hamil
b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit
kelamin
c. Pernah menderita radang rongga panggul
d. Penderita perdarahan pervaginam yang abnormal
e. Riwayat kehamilan ektopik
f. Penderita kanker alat kelamin.
12. Efek samping
Menurut Arum dan Sujiantini (2009), Efek samping IUD:
a. Perdarahan ( menoragia atau spotting menoragia)
b. Rasa nyeri dan kejang perut
c. Terganggunya siklus menstruasi (umumnya terjadi pada 3 bulan
pertama pemakaian)
d. Disminore
e. Gangguan pada suami ( sensasi keberadaan benang iud darasakan
sakit atau mengganggu bagi pasangan saat melakukan aktifitas
seksual)
f. Inveksi pelvis dan endometrium
Menurut Zahra (2008), Efek samping dari penggunaan IUD
meliputi, pada minggu pertama, mungkin ada pendarahan kecil. Ada
perempuan-perempuan pemakai spiral yang mengalami perubahan
haid, menjadi lebih berat dan lebih lama, bahkan lebih menyakitkan.
Tetapi biasanya semua gejala ini akan lenyap dengan sendirinya
sesudah 3 bulan.
Menurut Cunningham et al, 2013 efek samping AKDR mencakup
perdarahan uterus abnormal, dismenore, ekspulsi, atau perforasi uterus.
Akan tetapi dengan penggunaan yang lama serta usia akseptor yang
meningkat maka frekuensi kehamilan, ekspulsi dan komplikasi
perdarahan menurun. Kista ovarium fungsional lebih sering terjadi pada
bulan-bulan awal penggunaan LNG-IUD namun biasanya dapat
sembuh spontan . Efek samping lain yang dapat terjadi yaitu infeksi
pelvis, kehamilan ektopik, anemia, dispareuni, leukorea, bercak
menstruasi, nyeri dan keram, vaginitis, darah menstruasi lebih banyak
dan lebih lama, dan reaksi alergi pada kulit.
13. Peralatan Untuk Pemasangan AKDR Pasca Salin
Peralatan yang dibutuhkan untuk pemasangan AKDR pascasalin antara
lain :
14. Teknik Pemasangan
a. Teknik Pemasangan dengan Forsep Cincin
Prosedur ini membutuhkan asisten, untuk memastikan keadaan
asepsis dan pemasangan AKDR yang aman. Pada penjelasan berikut,
langkah-langkah yang dikerjakan oleh asisten dituliskan dalam huruf
miring. Tahapan-tahapan pemasangan :
1) Palpasi uterus untuk menilai tinggi fundus dan kontraksinya, dan
jika perlu lakukan masase uterus untuk membantu terjadinya
kontraksi yang stabil.
2) Cuci tangan dengan sabun dan keringkan dengan kain kering
yang bersih.
3) Gunakan sarung tangan steril.
4) Letakkan duk steril untuk menutupi perut bagian bawah klien dan
di bawah bokong klien.
5) Susun semua instrumen yang dibutuhkan dan letakkan pada
wadah steril atau duk steril.
6) Pastikan bokong klien terletak pada tepi ujung meja (dengan atau
tanpa penyangga tungkai).
7) Lakukan pemasangan AKDR dalam posisi duduk.
8) Khusus pemasangan pascaplasenta, masukkan spekulum ke
dalam vagina dan periksa adakah laserasi pada serviks. Bila
laserasi dan/atau episiotomi (jika dilakukan) tidak berdarah aktif,
dapat dijahit setelah pemasangan AKDR.
9) Masukkan spekulum ke dalam vagina (dipertahankan dengan
tangan yang non-dominan), lalu lakukan visualisasi serviks.
10) Dengan tangan yang dominan, bersihkan serviks dan
dinding vagina dengan cairan antiseptik.
11) Jepit sisi anterior serviks dengan forsep cincin.
12) Sekali serviks dapat divisualisasi dan dijepit dengan forsep
cincin, visualisasi harus dipertahankan.

13) Asisten membuka kemasan AKDR. Kemasan AKDR cukup


setengah terbuka.
14) Asisten meletakkan kemasan AKDR yang setengah terbuka pada
wadah steril.
15) Jepit AKDR dalam kemasan dengan forsep plasenta Kelly atau
forsep cincin panjang.
16) AKDR dijepit pada bagian lengan vertikalnya, sementara lengan
horizontal AKDR sedikit di luar cincin. Hal ini akan membantu
pelepasan AKDR pada fundus dan menurunkan risiko AKDR
ikut tercabut keluar ketika mengeluarkan forsep
17) Tempatkan AKDR pada lengkung dalam forsep Kelly (bukan
lengkung luar), dengan benang AKDR menjauh dari forsep.
18) Dengan bantuan asisten untuk memegang spekulum, pegang
forsep yang telah menjepit AKDR dengan tangan yang dominan
dan forsep yang menjepit serviks dengan tangan lainnya
19) Tarik forsep yang menjepit serviks secara perlahan ke
arah pemasang, lalu visualisasikan serviks.
20) Masukkan forsep yang menjepit AKDR melalui vagina dan
serviks, secara tegak lurus terhadap bidang punggung ibu. Hal ini
akan mengurangi ketidaknyamanan pasien dan menghindari
kontak antara AKDR dengan dinding vagina.
21) Saat forsep yang menjepit AKDR telah melalui serviks ke dalam
rongga uterus, asisten melepas spekulum.
22) Tangan yang memegang forsep untuk menjepit serviks
dipindahkan ke abdomen pada bagian puncak fundus uteri.
23) Dengan tangan pada abdomen, stabilisasi uterus dengan
dengan melakukan penekanan yang mantap ke arah bawah
melalui dinding abdomen. Hal ini untuk mencegah uterus
bergerak ke atas pada saat forsep yang menjepit AKDR didorong
masuk ke dalam uterus.
24) Masukkan forsep yang menjepit AKDR dengan gerakan yang
lembut ke arah atas menuju fundus (diarahkan ke umbilikus).
Perlu diingat bahwa segmen bawah uterus dapat berkontraksi,
dan oleh karena itu mungkin perlu diberikan sedikit tekanan
untuk mendorong AKDR masuk hingga fundus.
25) Jika terdapat tahanan, tarik forsep sedikit dan arahkan ulang
forsep lebih anterior ke arah dinding abdomen.
26) Berdiri dan pastikan dengan tangan yang berada di abdomen
bahwa ujung forsep telah mencapai fundus.
27) Pada tahap ini, putar forsep 450 ke arah kanan,
untuk menempatkan AKDR secara horizontal setinggi mungkin
pada fundus
28) Buka jepitan forsep untuk melepas AKDR
29) Secara perlahan keluarkan forsep dari rongga uterus, pertahankan
forsep dalam keadaan sedikit terbuka dan merapat ke sisi uterus,
menyusuri dinding lateral uterus hingga forsep ditarik keluar
30) Secara lembut, buka introitus vagina dengan dua jari dan lihat
bagian dalam vagina.
31) Lepaskan dan keluarkan forsep yang menjepit serviks.
32) Lanjutkan dengan perbaikan luka laserasi atau episiotomi.
b. Teknik Pemasangan Manual (Pascaplasenta)
Teknik ini hanya digunakan dalam waktu 10 menit setelah
kelahiran plasenta. Poin-poin utama teknik ini yang membedakannya
dengan pemasangan menggunakan instrumen ialah sebagai berikut :
1) Gunakan sarung tangan panjang (hingga siku lengan) yang steril
ATAU sarung tangan standar yang steril dengan baju kedap air
steril.
2) Gunakan tangan untuk memasukkan AKDR.
3) Pegang AKDR dengan menggenggam lengan vertikal antara jari
telunjuk dan jari tengah tangan yang dominan.
4) Dengan bantuan spekulum vagina, visualisasikan serviks dan
jepit serviks dengan forsep cincin.
5) Keluarkan spekulum.

6) Secara perlahan, dengan arah tegak lurus terhadap bidang


punggung ibu, masukkan tangan yang memegang AKDR ke
dalam vagina dan melalui serviks masuk ke dalam uterus.
7) Lepaskan forsep yang menjepit serviks dan tempatkan tangan
yang nondominan pada abdomen untuk menahan uterus
dengan mantap. Stabilisasi uterus dengan penekanan ke bawah
untuk mencegahnya bergerak ke atas ketika memasukkan tangan
yang memegang AKDR; hal ini juga membantu pemasang
untuk mengetahui ke arah mana tangan yang memegang AKDR
diarahkan serta memastikan tangan telah mencapai fundus.
8) Setelah mencapai fundus, putar tangan yang memegang
AKDR 45 derajat ke arah kanan untuk menempatkan AKDR
secara horizontal pada fundus.
9) Keluarkan tangan secara perlahan, merapat ke dinding lateral
uterus.
10) Perhatikan jangan sampai AKDR tergeser ketika mengeluarkan
tangan.
Teknik Pemasangan IUD pasca plasenta pada persalinan
pervaginam dengan teknik push and push menurut Dr. Hary
Tjahjanto, SpOG-KFER (2009) ialah sebagai berikut:

1) Memotong benang IUD


2) Menejepit inserter IUD yang didalamnya sudah ada IUD (Coper
T)
3) Melakukan eksplorasi dan membersihkan kovum uteri dengan
jari telunjuk dan jari tengah
4) Dengan bimbingan/menyusuri telapak tangan dan jari tengan dan
telunjuk, IUD dalam tabung inserter yang dijepit dengan klem
ovarium secara bertahap dimasukkan ke vagina kanalis servikalis
sampai dengan kavum uteri, sehingga mencapai fundus. Jari
tengah kiri menggerak-gerakan fundus dari luar untuk
mempermudah klem ovarium masuk ke kavum uteri
5) Mendorong klem dan tabung inserter sehingga menekan fundus
dengan dikendalikan jari tangan kiri yang menekan undus dari
luar pada perut ibu
6) Membuka klem ovarium dan mendorong lagi tabung inserter
sehingga lebih mendekat fundus dengan dikendalikan jari tangan
kiri yang menekan undus dari luar pada perut ibu
7) Mengeluarkan klem ovarium, posisi Iud dalam tabung inserter
8) Mendorong lagi tabung inserter dan batang pendorong IUD
sehingga lebih mendekat pada IUD/sefundus mungkin, jari
tangan kiri menahan fundus dari luar
9) Menarik tabung inserter sehingga pangkal menyentuh cincin
batang pendorong
10) Menarik keluar batang pendorong
11) Menarik keluar tabung inserter dengan hati-hati, jari tangan kiri
menegndalikan uterus sehingga gesekan tabung inserter dengan
batang vertikal IUD seminimal mungkin
12) Menarik keluar tabung inserter dengan hati-hati
c. Teknik Pemasangan Transsesarea
Setelah persalinan dengan seksio sesarea :
1) Masase uterus hingga perdarahan berkurang, pastikan tidak ada
jaringan tertinggal dalam rongga uterus.
2) Tempatkan AKDR pada fundus uteri secara manual atau
menggunakan instrumen.
3) Sebelum menjahit insisi uterus, tempatkan benang pada segmen
bawah uterus dekat ostium serviks internal. Jangan keluarkan
benang melalui serviks karena meningkatkan risiko infeksi.
Tahapan Setelah Pemasangan
1) Setelah pemasangan AKDR menggunakan teknik apapun,
langkah-langkah berikut harus diikuti:
2) Rendam semua instrumen dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi.
3) Buang semua sampah .
4) Lepaskan sarung tangan setelah dekontaminasi dalam larutan
klorin 0,5% lalu buang sarung tangan tersebut.
5) Cuci tangan dengan sabun dan air lalu keringkan dengan kain yang
bersih dan kering.
6) Lengkapi kartu kontrol AKDR milik klien dan tulis semua
informasi yang dibutuhkan dalam catatan medis klien.
15. Kunjungan Ulang Setelah Pemasangan IUD
Kunjungan ulang setelah pemasangan IUD Menurut BKKBN (2012):
a. 1 minggu pasca pemasangan
b. 2 bulan pasca pemasang
c. Setiap 6 bulan berikutnya
d. 1 tahun sekali
e. Bila terlambat haid 1 minggu
f. Perdarahan banyak dan tidak teratur
Menurut Prawirohardjo (2008), pemeriksaan sesudah IUD
dipasang dilakukan pada:
a. 1 minggu pasca pemasangan
b. 3 bulan berikutnya
c. Berikutnya setiap 6 bulan
16. Pemeriksaan Pada Saat Kunjungan Ulang
Menurut Varney (2007), Setelah IUD dipasang seorang klien
wanita, ia harus diarahkan untuk menggunakan preparat spermisida dan
kondom pada bulan pertama. Tindakan ini akan memberi perlindungan
penuh dari konsepsi karena IUD menghambat serviks, uterus, dan
saluran falopii tempat yang memungkinkan pembuahan dan penanaman
sel telur dan ini merupakan kurun waktu IUD dapat terlepas secara
spontan. Klien harus melakukan kunjungan ulang pertamanya dalam
waktu kurang lebih enam minggu. Kunjungan ini harus dilakukan
setelah masa menstruasi pertamanya pasca pamasangan IUD. Pada
waktu ini, bulan pertama kemungkinan insiden IUD lebih tinggi untuk
terlepas secara spontan telah berakhir. IUD dapat diperiksa untuk
menentukannya masih berada pada posisi yang tepat. Selain itu, seorang
wanita harus memiliki pengalaman melakukan pemeriksaan IUD secara
mandiri dan beberapa efeksamping langsung harus sudah diatasi.
Kunjungan ulang member kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan
member semangat serta meyakinkan klien. Diharapkan, hal ini
membuahkan hasil berupa peningkatan jumlah pengguna IUD. Data-
data terkait IUD berikut dapat diperoleh pada kunjungan ulang ini.
a. Riwayat
1) Masa menstruasi (dibandingkan dengan menstruasi
sebelum menggunakan IUD)
a) Tanggal
b) Lamanya
c) Jumlah aliran
d) Nyeri
2) Diantara waktu menstruasi (dibading dengan sebelum
menggunakan IUD)
a) Bercak darah atau perdarahan: amanya, jumlah
b) Kram: lamanya, tingkat keparahan
c) Nyeri punggung: lokasi, lamanya, tingkat keparahan.
d) Rabas vagina: lamanya, warna, bau, rasa gatal, rasa terbakar
saat berkemih (sebelum atau setelah urine mulai mengalir)
3) Pemeriksaan benang
a) Tanggal pemeriksaan benang yang terakhir
b) Benang dapat dirasakan oleh pasangan selama melakukan
hubungan seksual
4) Kepuasaan terhadap metode yang digunakan (baik pada wanita
maupun pasangannya)
5) Setiap obat yang digunakan: yang mana, mengapa
6) Setiap kunjungan ke dokter atau keruang gawat darurat sejak
pemasangan IUD: mengapa
7) Penggunaan preparat spermisida dan kondom: kapan, apakah ada
masalah
8) Tanda-tanda dugaankehamilan jika ada indikasi
b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan
pada bagian bawah abdomen
2) Pemeriksaan untuk mengetahui adanya nyeri tekan akibat CVA,
jika diindikasikan untuk diagnose banding
3) Tanda-tanda kemungkinan kehamil, jika ada indikasi.
c. Pemeriksaan pelvic
1) Pemeriksaan speculum
a) Benang terlihat
b) Panjang benang: pemotongan benang bila ada indikasi
c) Rabas vagina: catat karakteristik dan lakukan kultur dan
apusan basah bila diindikasikan.
2) Pemeriksaan bimanual
a) Nyeri ketika serviks atau uterus bergerak
b) Nyeri tekan pada uterus
c) Pembesaran uterus
d) Nyeri tekan pada daerah sekitar
e) Tanda-tanda kemungkinan kehamilan bila diindikasikan
d. Laboratorium
1) Hemoglobin atau hematokrit
2) Urinalis rutin sesuai indikasi untuk diagnosis banding
3) Kultur serviks dan apusan basah, jika ada indikasi
4) Tes kehamilan, jika ada indikasi
Apabila hasil pemeriksaan diatas memuaskan, maka klien
akan mendapatkan jadwal untuk melakukan pemeriksaan fisik
rutinnya. Pada kunjungan tersebut bidan akan melakukan hal-hal
seperti mengkaji riwayat penapisan umum yaitu pemeriksaan fisik
dan pelvic, pap smear, kultur klamedia dan gonorea, tes laboratorium
rutin lain dan pengulangan kunjungan ulang IUD seperti dijelaskan
diatas. Pengarahan supaya klien memeriksakan IUD nya, kapan harus
menghubungi bila muncul masalah atau untuk membuat perjanjian
sebelum kunjungan tahunnya dapat ditinjau kembali bersama klien
selama kunjungan ulang ini.

B. Teori Manajemen Kebidanan


1. Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang di
gunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikirandan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam
rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang
berfokus pada klien Asuhan kebidanan terdiri dari tujuh langkah yang
berurutan, yang di mulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir
dengan evaluasi. Tujuh langkah tersebut membentuk kerangka yang
lengkap dan bisa di aplikasikan dalam suatu situasi (Verney,2012).
2. Tahapan asuhan kebidanan
Dalam praktiknya bidan menggunakan manajemen kebidanan dalam
memberikan asuhan kebidanan. Menurut Varney (2012), manajemen
kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan-keterampilan dalam
rangkaian/ tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan
berfokus pada klien.
Menurut Varney (2012), langkah-langkah manajemen kebidanan
tersebut adalah:
a. Langkah I: Tahap pengumpulan data dasar
Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan
lengkap yang berkaitan dengan kondisi klien. Pendekatan ini harus
bersifat komprehensif meliputi data subjektif, objektif, dan hasil
pemeriksaan.
b. Langkah II : Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau
masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas
dasar data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah
dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa
dan masalah yang spesifik. Diagnosa wanita hamil normal meliputi
nama, umur, gestasi (G) paritas (P) abortus (A), umur kehamilan,
tunggal, hidup, intra-uteri, letak kepala, keadaan umum baik (Varney,
2012).
c. Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan
mengantisipasi penanganannya
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah
diidentifikasikan (Varney, 2012).
d. Langkah IV : Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter
dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota
tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien (Varney,2012).
e. Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh,
ditentukan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan
kelanjutan manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah
diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini informasi/data dasar
yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
f. Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan efisien dan aman
Pada langkah ini, rencana asuhan yang menyeluruh di langkah
kelima harus dilaksanakan secara efisien dan aman.
g. Langkah VII: Mengevaluasi hasil tindakan
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang
sudah diberikan. Rencana dapat dianggap efektif jika memang benar
efektif dalam pelaksanaannya.
3. Pendokumentasian Manajemen Asuhan Kebidanan
a. Subjektif (S)
Menurut Kemenkes RI (2013) data subjektif berisi hasil anamnesa
yang meliputi identitas, riwayat kehamilan sekarang termasuk keluhan
yang dialami, riwayat obstetri lalu, riwayat kontrasepsi, riwayat medis
lain dan riwayat sosial ekonomi termasuk pola pemenuhan kebutuhan
sehari-hari.
1) Umur
Umur di catat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental
psikisnya belum siap, sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan
sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas dan ketika usia
lebih dari 35 tahun kemampuan rahim menerima janin menurun
karena nutrisi rahim berkurang dengan menambahnya usia. (Varney,
2012).
2) Agama
Untuk menentukan bagaimana kita memberikan dukungan kepada
ibu selama memberikan asuhan (Ambarwati, 2009).
3) Pendidikan
Menurut tinjauan teori pendidikan berpengaruh dalam tindakan
kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat
intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai
dengan pendidikannya. Tingkat Pendidikan seorang ibu hamil sangat
berperan dalam kualitas perawatan kehamilan. Peguasaan
pengetahuaan juga erat kaitannya dengan tingkat pendidikan
seseorang (Varney, 2012).
4) Pekerjaan
Berdasarkan Tinjauan Teori dan tinjaun kasus tidak
terdapat kesenjangan antara Tinjauan teori dan tinjauan kasus
karena Ibu melakukan pekerjaan Rumah Tangga dan berdagang
yang tidak terlalu berat. Wanita hamil dapat tetap bekerja namun
aktifitas yang di lakukannya tidak boleh terlalu berat (Varney,
2012).
5) Suku Bangsa: berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-
hari (Ambarawati, 2009).
6) Alamat
Alamat pasien dikaji untuk mengetahui keadaan lingkungan sekitar
pasien. Semakin terpencilnya suatu daerah dan keadaan geografis
yang sulit untuk di jangkau maka akan semakin sulit pula untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan (Varney, 2012).
7) Keluhan utama
Keluhan utama di kaji untuk memberikan asuhan dan diagnosa yang
tepat (Varney, 2012).
8) Riwayat Obstetri
a) Riwayat Haid
(1) Menarche: kapan pertama kali mengalami menstruasi.
Untuk wanita Indonesia pada usia sekitar 12-16 tahun, hal
ini untuk mengetahui riwayat perkembangan organ
genitalnya (Manuaba, 2007).
(2) Siklus haid: siklus haid yang teratur (28 hari) bisa
digunakan untuk menghitung hari perkiraan lahir dengan
rumus Neagle (Varney, 2012).
(3) Lama menstruasi: lama menstruasi ideal terjadi selama 4-7
hari (Manuaba, 2007).
(4) Banyaknya: menjelaskan seberapa banyak darah
menstruasi yang dikeluarkan. Dapat dikaji dengan
menanyakan misal sampai berapa kali mengganti pembalut
dalam sehari (Sulistyawati, 2009).
(5) Keluhan: yang dirasakan ketika mengalami menstruasi
misalnya nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, atau
jumlah darah yang banyak (Sulistyawati, 2009).
(6) Riwayat Persalinan, dan Nifas yang lalu
Untuk menentukan asuhan kehamilan yang akan diberikan
berdasarkan berapa kali hamil, anak yang lahir hidup,
persalinan tepat waktu, persalinan premature, keguguran,
persalinan dengan tindakan (dengan forcep, vakum, atau
seksio sesaria), riwayat perdarahan pada persalinan,
hipertensi pada kehamilan terdahulu, berat badan bayi
kurang dari 2500 gram atau lebih dari 4000 gram
(Mandriwati, 2008).
(7) Riwayat Persalinan Sekarang
9) Riwayat Kesehatan
Untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan yang dapat
mempengaruhi ibu atau bayi (Rukiyah, 2009). Riwayat kesehatan
termasuk penyakit dahulu dan sekarang (penyakit kardiovaskular,
hipertensi, diabetes, malaria, penyakit menular seksual atau
HIV/AIDS) (Mandriwati, 2008).
10) Riwayat KB
Untuk mengetahui status KB ibu masih aktif atau tidak sehingga
diketahui kehamilannya diinginkan atau tidak (Mandriwati, 2008).
11) Pola Nutrisi
Tidak ada kontraindikasi dalam pemberian nutrisi setelah persalinan.
Asupan kalori per hari ditingkatkan sampai 2700 kalori. Asupan
cairan per hari ditingkatkan 3000 ml (susu 1000 ml) (Bahiyatun,
2009).
12) Pola Eliminasi
Berkemih harus terjadi dalam 4-8 jam pertama dan minimal
sebanyak 200 cc (Bahiyatun, 2009).
13) Personal Hygiene
Sering membersihkan perineum akan meningkatkan kenyamanan
dan mencegah infeksi. Membersihkan daerah disekitar vulva dari
depan ke belakang, dan anus. Ganti pembalut setiap 4-6 jam. Jangan
sentuh luka laserasi atau episiotomi (Bahiyatun, 2009).
14) Pola seksualitas
Senggama aman dilakukan setelah darah tidak keluar dan ibu tidak
merasa nyeri ketika memasukan jari ke dalam vagina. Keputusan
bergantung pada pasangan (Kemenkes RI, 2013).
15) Pola istirahat
Ibu dianjurkan untuk tidur saat bayi tertidur (Bahiyatun, 2009).
16) Pola Aktivitas
Pada persalinan normal dan keadaan ibu normal, ibu diperbolehkan
untuk mandi dan ke WC dengan bantuan orang lain yaitu pada 1 atau
2 jam setelah persalinan. sebelumnya ibu diminta untuk melakukan
latihan menarik napas dalam serta latihan tungkai dan harus duduk
(Bahiyatun, 2009).
17) Psikologi ibu baru pada umumnya pasif dan tergantung,
perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya, ia mungkin
akan mengulang ulang menceritakannya waktu melahirkan. Periode
ini disebut periode taking in (Sulistyawati, 2009)
18) Tingkat pengetahuan ibu
Untuk mengetahui manfaat dan efek samping kontrasepsi
b. Obyektif (O)
Data objektif adalah data yang diperoleh melalui observasi dan hasil
pemeriksaan, pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Varney
langkah pertama pengkajian data (Asrinah, 2010).
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum: dinilai baik jika dapat menjawab semua
pertanyaan (Manuaba, 2007).
b) Kesadaran: klien sadar akan menunjukkan tidak ada kelainan
psikologis (Manuaba, 2007).
c) TD : segera setelah melahirkan, banyak wanita mengalami
peningkatan sementara tekanan darah sistolik dan diastolik,
yang kembali secara spontan ke sebelum hamil selama beberapa
hari.
d) N : denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir,
kembali normal setelah beberapa jam pertama pacscapartum.
e) R : pernapasan kembali normal selama jam pertama
pascapartum
f) S : suhu kembali normal dalam 24 jam pertama pascapartum
(Varney , 2008).
2) Status Present
a) Mata: konjungtiva berwarna merah muda dan sklera berwarna
putih. Perubahan warna konjungtiva untuk memprediksi adanya
anemia (Mandriwati, 2008).
b) Mulut dan gigi: estrogen menyebabkan peningkatan aliran darah
ke mulut sehingga gusi menjadi rapuh dan dapat menimbulkan
gingivitis (Varney, 2007).
c) Leher: tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe dan
vena jugularis yang mengindikasikan penyakit jantung atau
aneurisma vena, hipertiroid dan kemungkinan infeksi
(Manuaba, 2007).
d) Ekstremitas: : tidak ada edema, kekakuan otot dan sendi,
varises, reflek patella positif (Marmi, 2012).
e) Genetalia : normalnya tidak ada varises, perdarahan, luka, cairan
yang keluar, tidak ada pembesaran kelenjar skene dan kelenjar
bartholini (Mandriwati, 2008)
PPV: lokea rubra berwarna merah karena mengandung darah
dan jaringan desidua dengan jumlah total lokhea adalah 240-270
mL, keluar segera setelah persalinan sampai dua hingga tiga hari
postpartum (Varney, 2008).
f) Luka perineum : nifasnormalbisa terdapatbekasjahitan bisa juga
tidak, bila ada kondisi jahitan baik. (Marmi, 2012).
g) Kandung kemih: ibu nifas normal kandung kemih tidak teraba
(Marmi, 2012).
3) Pemeriksaan Penunjang: dilakukan jika ada indikasi, (Marmi, 2012).
c. Analisa (A)
Analisa merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan
menurut Varney langkah kedua, ketiga dan keempat, meliputi
diagnosis/masalah kebidanan, diagnosis/masalah potensial dan
kebutuhan segera yang harus diidentifikasi menurut kewenangan bidan
melalui tindakan mandiri, tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk
klien (Asrinah, 2010).
1). Diagnosa
2). Masalah/ Diagnosa Potensial
3). Kebutuhan Segera
d. Penatalaksanaan (P)
Penatalaksanaan yaitu pendokumentasian manajemen kebidanan
menurut Varney langkah kelima, keenam dan ketujuh, meliputi tindakan.