Anda di halaman 1dari 100

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO

DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH PLASTIK

Penanggulangan sumbing ( skisis )


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Prosedur Konsultasi
Bila perlu :
Dokter gigi : untuk obturator.
Dokter THT : bila ada radang telinga tengah bila ada defsit pendengaran.
Speech therapist : untuk belajar bicara.
Psikolog anak : untuk pemeriksaan IQ untuk defisit kepribadan.
Ortodontis : untuk perbaikan pertumbuhan gigi.

Terapi
 Operatif
 Penutupan bibir / labioplasti pada usia 3 bulan ke atas.
 Penutupan langitan / palatoplasti pada usia 12-16 bulan.
 Penyempitan faring / faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun ke atas.
 Penambalan tulang ( bone grafing ) rahang pada usia 8 tahun.
 Perbaikan bentuk muka / maxillary advancement , kalau perlu pada usia 15
tahun ke atas.

 Non bedah
 Speech therapy oleh speech therapist pada usia 4 tahun ke atas.
 Perbaikan gigi oleh ortodontis pada usia 9 tahun setelah perbaikan
tulang.

Penyulit
 Karena penyakit
 Otitis media perforata ( OMP ).
 Pendengaran kurang.
 Maloklusi gigi.
 Suara sengau, kata-kata tidak jelas.

 Karena operasi
 Parut tidak baik.
 Fistula oronasal.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH PLASTIK

Penanggulangan sumbing ( skisis )


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Konsultasi
Bila perlu :
Dokter gigi : untuk obturator.
Dokter THT : bila ada radang telinga tengah bila ada defsit pendengaran.
Speech therapist : untuk belajar bicara.
Psikolog anak : untuk pemeriksaan IQ untuk defisit kepribadan.
Ortodontis : untuk perbaikan pertumbuhan gigi.

Terapi
 Operatif
 Penutupan bibir / labioplasti pada usia 3 bulan ke atas.
 Penutupan langitan / palatoplasti pada usia 12-16 bulan.
 Penyempitan faring / faringoplasti, kalau perlu, pada usia 6 tahun ke atas.
 Penambalan tulang ( bone grafing ) rahang pada usia 8 tahun.
 Perbaikan bentuk muka / maxillary advancement , kalau perlu pada usia 15
tahun ke atas.

 Non bedah
 Speech therapy oleh speech therapist pada usia 4 tahun ke atas.
 Perbaikan gigi oleh ortodontis pada usia 9 tahun setelah perbaikan
tulang.

Penyulit
 Karena penyakit
 Otitis media perforata ( OMP ).
 Pendengaran kurang.
 Maloklusi gigi.
 Suara sengau, kata-kata tidak jelas.

 Karena operasi
 Parut tidak baik.
 Fistula oronasal.
Penanggulangan sumbing ( skisis )
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Informed consent


Perlu tertulis

Lama perawatan
Labio plasti : Tidak selalu diperlukan rawat inap.
2-5 hari : Palatoplasti.
5 hari : Faringoplasti.
5 hari : Bone Grafting rahang
7 hari : maxillary advancement.

Masa pemulihan
1 minggu : Labioplasti.
3 minggu : palatoplasti.
2 minggu : faringoplasti.
3 minggu : bone grafting rahang.
6 minggu : maxillary advancement.

Luaran
 Normal
Bentuk bibir dan hidung simetris, brntuk muka normal, gigi-gigi tumbuh
bagus, suara normal, parut operasi halus.

 Kurang normal
Parut kasar, asimeteri bibir dan lubang hidung, gigi tak beraturan, suara sengau,
bentuk muka bagian tengah lebh ke dalam.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasai rawat jalan bedah, instalasi rawat inap non
bedah.
Penanggulangan Kontraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh akibat proses
kontraksi pada penyembuhan luka.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian plastik di RSUP Dr.Moh.Hosein
Palembang.
Perawatan RS
Rawat jalan kecuali operasi.

Standar RS
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai.

Standar tenaga
 Dokter spesialis bedah umum
 Dokter spesialis bedah plastik
 Dokter spesialis bedah orthopaedi
 Dokter spesialis bedah (K) kepala leher untuk daerah KL
Prosedur Terapi
 Release kontraktur dan graft / flap.

Penyulit
 Perdarahan, Necrosis graft / flap.
 Infeksi.
Informed consent
Perlu tertulis

Lama perawatan
7-10 hari

Masa pemulihan
3 minggu atau lebih bergantung lokasinya dan berat ringan kontrakturnya.

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO


DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH PLASTIK
Penanggulangan Kontraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Luaran
 Sembuh normal, tidak ada gangguan gerakan.
 Masih tersisa sedikit akibat kontraktur.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasai rawat inap bedah, instalasi rawat inap non
bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH PLASTIK
Penanggulangan Keloid
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Suatu penyakit tumor jinak pada kulit yang disebabkan oleh akumulasi kolagen pada
jaringan ikat kendor saat penyembuhan luka.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian plastik di RSUP Dr Moh.Hoesin Palembang.

Kriteria diagnosis
Parut yang menonjol menyebuk ke kulit yang sehat jauh di luar trauma dengan tanda-
tanda inflamasi ( tambah besar gatal, sakit ) berkepanjangan.

Standar RS
 Tipe C untuk penyuntikan kortikosteroid.
 Tipe A dan B untuk balut penekan dan eksisi.

Perawatan RS
Rawat jalan kecuali untuk operasi.

Standar tenaga
 Dokter spesialis bedah plastik, dokter spesialis bedah untuk tindakan operatif.
 Dokter spesialis radiologi untuk radiasi.
 Dokter umum untuk suntikan kortikosteroid.
Prosedur Konsultasi
Dokter spesialis patologi anatomi bila perlu.

Terapi
 Konservatif
 Suntikan kortikosteroid yang bekerja lokal.
 Balut penekan.
 Operatif
Eksisi, kalau perlu full thickness skin graft, dilanjutkan dengan radiasi atau suntikan
kortikosteroid pascaeksisi.
Penanggulangan Keloid
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Penyulit
 Karena penyakit :
 Cacat tubuh yang menyebabkan cacat kepribadian.
 Fungsi alat tubuh yang terkena berkurang.
 Karena operasi :
 Residif

Informed consent
Diperlukan untuk operasi

Lama perawatan
1 hari – 2 minggu

Masa pemulihan
Sangat bervariasi

Luaran
 Sembuh dengan estetika baik
 Residif
 Depigmentasi akibat radiasi

PA
Bila ada keraguan dengan sarkoma
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasai rawat jalan bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH PLASTIK

Penanggulangan Hemangioma
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Dibagi menjadi :
 Hemangioma kapiler simpleks / jenis strawberry.
 Hemangioma kapiler jenis port wine stain atau nevus flamesu.
 Hemangioma kavernosa.
 Hemangioma campuran kapiler simpleks dan kavernosa.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar dan sesuai dengan prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian plastik di RSUP Dr Moh.Hoesin Palembang.
Kriteria diagnosis
1. Cacat berupa bercak merah pada kulit, sedikit menimbul, ada sejak lahir atau
timbul masa-masa awal kelahiran, tumbuh progesif, tak sakit.
2. Cacat berupa bercak merah pada kulit sejak lahir, rata ( bisa timbul setelah
dewasa ) stasioner.
3. Benjolan pada kulit atau subkutis, kebiruan , dapat kempes bila ditekan timbul
setelah lahir, tidak sakit.
4. Campuran 1 dan 3.
Standar RS
 Tipe C untuk suntikan sklerosing, kortikosteroid, eksisi dan perban penekan.
 Tipe A untuk embolisasi dan laser.

Perawatan RS
Rawat jalan kecuali untuk persiapan operasi.
Standar tenaga
 Dokter spesialis bedah plastik.
 Dokter spesialis bedah.
 Dokter spesialis radiologi untuk embolisasi.
 Dokter umum untuk perban penekan.
Prosedur Diagnosa banding
Fistula A – V
Pemeriksaan penunjang
Untuk hemangioma kavernosa, kalau perlu arteriografi.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH PLASTIK
Penanggulangan Amputasi Traumatis ( Telinga,
Rumah Sakit Dr. Sobirin
Hidung, dan penis )
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Terpisahnya sama sekali bagian ekstrimitas dari tubuh tersebut.


 Clean cut ( amputasi secara tajam ) atau bukan.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian plastik di RSUP Dr Moh.Hoesin Palembang.

Standar RS
 Tipe A

Perawatan RS
Rawap inap segera untuk persiapan operasi.

Standar tenaga
 Dokter spesialis bedah plastik.
Prosedur Diagnosa banding
Amputasi parial

Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium
 Radiologis
Terapi
 Bagian yang teramputasi dirawat dengan memasukan kedalam kantong plastik
bersih ( tanpa cairan ). Kantong tersebut ditutup rapat lalu dimasukan kekantong
ke dua yang berisi air biasa + potongan es. Sebaiknya tindakan ini dilakukan
segera ditempat kejadian.
 Operasi replentasi dengan mikroskop + instrumen bedah mikro.

Penyulit :
 Perdarahan.
 Trombus
 Infeksi
 Kegagalan replentasi akibat trombus.
Penanggulangan Amputasi Traumatis ( Telinga,
Rumah Sakit Dr. Sobirin
Hidung, dan penis )
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Informed consent


Diperlukan

Lama perawatan
10 hari – 21 hari

Masa pemulihan
6 minggu sampai 1 tahun

Luaran
 Sembuh total atau amputat tersambung kembali dan berfungsi baik.
 Sembuh kurang sempurna.
 Gagal.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasai rawat jalan bedah, instalasi rawat inap non bedah.
Penanggulangan Tumor Mammae
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Keluhan yang membuat pasien berobat ke rumah sakit : benjolan, nyeri, perdarahan
/ cairan melalui putting susu / koreng.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus Sub bagian bedah Onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.

Riwayat penyakit sekarang :


 Sudah sejak kapan diketahui keluhan-keluhan tersebut dan hingga sekarang
benjola tersebut membesar berapa kali, mengecil atau tetap, nyerinya
bertambah berapa kali intensitasnya, perdarahan / cairan tersebut spontan atau
bila dijit sering bertambah / berkurang.
 Keluhan-keluhan lain : batuk, nyeri dada, nyeri di ulu hati, ditulang belakang,
tulang bokong atau paha.
 Benjola-benjolan ditempat lain : diperinci seperti ada 1.

Riwayat laktasi anak :


Anak berapa orang, yang sulung dan bungsu usianya berapa ? disusui berapa
lama.

Riwayat penyakit dahulu :


1. Pernah sakit apa ? tumor jinak / ganas panyudara ? Hypertiroid ?
2. Diobati ( operasi, radiasi, khemoterapi ) apa dan berapa lama ?

Riwayat penyakit keluarga :


1. Turunan langsung yang pernah menderita penyakit tumor, tumor apa ?
2. Bagaimana pengobatan penyakit-penyakit tersebut ?

Katamenia : Menstruasi teratur / tidak, terakhir kapan, menarche / menopause usia


berapa ?
Penanggulangan Tumor Mammae
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Pemeriksaan Jasmani


Status generalis :
Keadaan umum :
Tulang-tulang belakang dan pelvis : ditekan atau dipukul apakah ada nyeri.

Status Lokalis :
 Tumor mammae kanan / kiri, kuadrannya dan kelenjar axilla / supraclav homo,
heterolat, disertai gambar.
 Tumor digambar secara proporsional dengan besarnya mammae.
 Inspeksi kedua putting apa sama tinggi, ada retraksi tidak ?
 Warna kulit diatas tumor ?
 Ada venektasi atau tidak.
 Ada ulkus atau tidak.

Palpasi :
1. Ukuran tumor, letak di kuadran mana, melekat di kulit, melekat ke sekitarnya,
mudah / sukar digerakkan.
2. Axilla apa teraba kelenjar, melekat / tidak, jumlahnya single / multiple.
3. Supraklavikula teraba ke kelenjar, melekat / tidak.

Diagnosis banding :
 Tumor jinak mammae.
 Tumor ganas mammae ( TNM ).
 Tumor filoides.

Rencana pemeriksaan
 Pemeriksaan rutin untuk operasi dengan nasal.
 Pemeriksaan untuk staging tumor ganas.
 Pemeriksaan untuk tumor jinak / ganas dengan pre opertif patologi : FNAB / VC.

Rencana pengobatan
Tumor jinak
 Eksisi tumor.
 Sub cutaneus mastectomi / rekontruksi.
Penanggulangan Tumor Mammae
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Tumor ganas


 BCT +
 Simple mastectomi
 Radikal mastectomi

Ditambah dengan adjuvant therapie :


 Raio therapie / khemotherapie / hormonal therapie.
 Rekontruksi payudara
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Tumor Tiroid


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Benjolan di leher depan atau pembekakan / pembesaran leher depan atau nyeri
atau sesak napas atau suara berubah mengecil / serak.
 Pembesaran leher depan dengan debar-debar jantung atau banyak kerigat atau
penonjolan kedua mata.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien kasus Sub bagian bedah Onkologi di RSUP Dr.Moh Hoesin
Palembang.
Riwayat penyakit :
1. Sejak kapan benjolan tersebut diketahui single modul / multiple modul dan
hingga sekarang benjolan tersebut membesar berapa kali mengecil atau tetap.
2. Nyerinya sejak kapan, diperinci sifatnya, intensitasnya, bertambah / tidak.
3. Sesak napasnya sejak kapan, bertambah, berkurang, menimbulkan gangguan
suara / tidak, rasa tertekan.
4. Suaranya berubah / tidak ,sejak kapan, bertambah hebat tidak.
5. Benjolan-benjolan di leher samping bila ada, diketahui sejak kapan, diperinci
seperti no 1.
6. Nyeri / benjolan dikepala, tulang-tulang perlvis / vertebra dll.
7. Keluhan-keluhan hiper / hipotiroid.
8. Keluhan-keluhan tambahan, banyak keringat, bedebar-debar, gemetar, gelisah,
suka menelan, cepat marah, tak tahan panas dsb.

Riwayat penyakit dahulu :


 Pernah sakit apa ? tumor jinak / ganas tiroid, organ lain.
 Pernah disidik tiroid ? pernah diradiasi.
 Pernah dioperasi ? diperinci ?

Riwayat tempat tinggal :


Lahir dimana, dibesarkan dimana, 5 tahun terakhir di mana ( pindah dari mana
kemana dan berapa lama di masing-masing tempat
Penanggulangan Tumor Tiroid
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Kebijakan Riwayat kehamilan :


Apakan tumbuh benjola sejak hamil / melahirkan kehamilan yang mana ?

Riwayat keluarga :
Apakah ada orang yang terkena penyakit gondok dikeluargamu , sekampung /
tempat tinggal penderita sekampung / tempat tinggal penderita.

Katamenia : menstruasi teratur atau tidak, terakhir kapan, menarche/menopause


pada usia berapa ?
Prosedur Pemeriksaan jasmani
Status generalis :
1. Peme pemeriksaan kelenjar-kelenjar lain dari pada kelenjar regioner leher,
K.G.B legioner ( leher ) diperiksa pada status lokalis.
2. Tulang tengkorak, pelvis, vetebra : bila ada keluhan nyeri, agar dicatatdan difoto
( X-Ray ).

Status Lokalis :
 Regio leher anterior kanan atau kiri disertai gambar yang proporsionil dengan
besarnya tumor.
 Regio leher lateral / posteriol kanan dan kiri untuk menggambarkan kelenjar-
kelenjar regioner.
 Inspeksi warna kulit, gerakan waktu menelan.
 Palpasi :
 Besarnya dengan ukuran cm.
 Gerakan waktu menelan.
 Konsistensinya, hubungan dengan kulit dan jaringan sekitarnya.
 Kelenjar-kelenjar paratrakheal dan regio jugularis
 Kelenjar-kelenjar supraelavikula.
 Auskultasi : apakah ada “bruish”
Tanda-tanda “eye-sign” hipertiroid, seperti moebius sign dsb.
Penanggulangan Tumor Tiroid
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa banding :


 Struma nodosa non toksik.
 Adenomatosa
 Tumor jinak ( adenoma )
 Tumor ganas ( adenokarsinoma )
 Struma nodosa toksik
 Struma difusa non toksik
 Struma difusa toksik.

Diagnosa kemungkinan : satu yang paling mungkin dan lengkap.


Misalnya : struma nodosa dextra non-toksik, susp. Ganas.

Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose.
 Pemeriksaan dengan indikasi : sidik tiroid, T3 dan T4, foto tulang, foto leher.

Rencana pengobatan :
 Isthmolobektomi tiroid dextra / sinistra.
 Tiroiddektomi bilateral = Isthmolobektomi sebelah + lobektoi sub-total
sebelahnya.
 Tiroidektomi total / sub-total dextra dan siistra, radical neek dissection, operasi
komando.

Follow up :
Post operatif luka operasi dilihat apa ada hematoma, sesak nafas, suara berubah,
kejang-kejang.
Apakah ada kelenjar-kelenjar teraba lagi.

Lama perawatan dirumah sakit :


 Pre operatif : 1 hari.
 Post operatif : 4 hari.
 Angkat dren penrose hari kedua / jumlah kurang dari 10 cc.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
Penanggulangan Tumor Tiroid
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa banding :


 Struma nodosa non toksik.
 Adenomatosa
 Tumor jinak ( adenoma )
 Tumor ganas ( adenokarsinoma )
 Struma nodosa toksik
 Struma difusa non toksik
 Struma difusa toksik.

Diagnosa kemungkinan : satu yang paling mungkin dan lengkap.


Misalnya : struma nodosa dextra non-toksik, susp. Ganas.

Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose.
 Pemeriksaan dengan indikasi : sidik tiroid, T3 dan T4, foto tulang, foto leher.

Rencana pengobatan :
 Isthmolobektomi tiroid dextra / sinistra.
 Tiroiddektomi bilateral = Isthmolobektomi sebelah + lobektoi sub-total
sebelahnya.
 Tiroidektomi total / sub-total dextra dan siistra, radical neek dissection, operasi
komando.

Follow up :
Post operatif luka operasi dilihat apa ada hematoma, sesak nafas, suara berubah,
kejang-kejang.
Apakah ada kelenjar-kelenjar teraba lagi.

Lama perawatan dirumah sakit :


 Pre operatif : 1 hari.
 Post operatif : 4 hari.
 Angkat dren penrose hari kedua / jumlah kurang dari 10 cc.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Tumor Kulit


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Luka yang tidak sembuh-sembuh / kutil yang cepat membesar / kurang yang
berdarah dsb.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Tumor ganas kuit pada regio anu, suspek karsinoma sel basah.
Kebijakan Penangana pasien / kasus sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.

Riwayat penyakit sekarang :


 Sejak kapan diketahui keluhan tersebut dan hingga kini membesar berapa kali,
mengecil atau tetap, single atau multiple.
 Bila kutil / karang mula-mulanya, ditanyakan apakah terjadi
 Perubahan warna.
 Perdarahan spontan.
 Gatal-gatal.
 Apakah ada benjolan ditempat lain.
 Pemeriksaan etiologi :
 Kena sinar matahari yang lama ( pekerjaan petani, kuli perbaikan jalan ).
 Pekerjaan apa, karyawan, pabrik kimia dsb.
 Pernah luka bakar, bekas radiasi, luka yang lama. Tadinya berupa karang.
Sudah berapa lama ?
 Trauma khronis.

Riwayat penyakit dahulu :


 Pernah sakit apa ? tumor jinak / ganas ? dimana lokasinya ?
 Pernah dioperasi, radiasi, obat khemotherapi ? berapa lama, kapan ?

Riwayat penyakit keluarga :


 Apa ada keluarga menderita penyakit serupa atau penyakit kanker lain ?
 Bagaimana pengobatannya ?
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI
Penanggulangan Tumor Kulit
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Prosedur Pemeriksaan jasmani
Status generalis :
Kelenjar-kelenjar lain dari pada kelenjar regional tumor kulit tersebut, kelenjar getah
bening regioner dicatat pada status lokalis.

Status Lokalis :
 Lokal : regionya, kanan atau kiri.
 Inspeksi : warna, tonjolan, ulkus, dasar dan pinggir ulkus, ada infeksi sekunder,
peradangan.Ada rambutnya single, atau multiple.
 Palpasi : diukur dalam cm, diraba pengerasan diluar ulkus,disertai dengan
gambar dengan ukuran yang sesuai proporsinya. Infiltrasinya sudah sampai
kemana hubungan dengan jaringan sekitarnya bagaimana ? Konsistensinya
mudah beradarah / tidak.
 Kelenjar regioner : berapa kelenjar kira-kira lepas satu sama lan, bersatu
(fixed).

Diagnosa banding :
1. Tumor jinak kulit
 Papiloma
 Nevas pigmentosa
 Keratosis seborrhoiea
 Tumor jinak adneksa kulit
 Penyakit-penyakit kulit lainnya.

2. Tumor ganas
 Karsinoma sel basal
 Karsinoma epidermoid
 Melanoma maligna
 Melanoma non-pigmen
 Kaposi sarkom
 Metastase dari tempat lain
 Tumor ganas adneksa kulit
Penanggulangan Tumor Kulit
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa kerja :


Tumor ganas kulit pada regio anu, suspek karsinoma sel basal,…….

Rencana pemeriksaan : ( untuk tumor ganas ).


 Persiapan rutin untuk operasi dengan naskose pemeriksaan-pemeriksaan
dengan indikasi, misalnya foto tulang, bila tumor melekat ke tulang.
 Biopsi insisi / eksisi

Rencana pengobatan :
Jinak : eksisi
Ganas : eksisi luas + STSG / rekonstruksi ditambah radiasi / tidak eksisi luas selalu
berbentuk persegi dan disatu sudut diberi benang. Pada laporan operasi harus
digambar dan diberi tanda sesuai dengan surat pengatar PA.

Follow Up
Post operatif : Luka diperiksa kelenjar regioner diperiksa.

Lama perawatan di rumah sakit :


 Pre operatif : 1 hari.
 Post operatif :bergantung kepada besarnya tumor,sedang buka perban STSG
10 hari
Instalasi yang terkait poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Tumor Kelenjar Ludah


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Peradangan akut kelenjar parotis, submaksilaris dsb.


 Peradangan akut / kronis karena batu ( parotitis e.e sialolithiasis ).
 Infeksi tbc kelenjar parotis, submaksilaris dsb.
 Mikuliez’s disease.
 Boeck’s sarcoidosis.
 Heperrtrofi otot masseter.
 Kista bronchiolus.
 Tumor jinak kelenjar parotis, submaksilaris dsb.
 Tumor ganas kelenjar parotis dsb.
 Metastase dikelenjar getah bening parotis.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Diperiksa apakah ada kelenjar-kelenjar lain dari pada kelenjar regioner ?
Kebijakan Penanganan pasien / kasus Sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.

Riwayat penyakit sekarang :


 Sejak kapan diketahui keluhan tersebut dan hingga kini membesar berapa kali,
mengecil atau menetap ?
 Apakah ada benjolan ditempat lain ( leher dsb ) ?
 Apakah rasa nyeri, adakah nyeri waktu melihat makanan atau sewaktu
mengunyah ?
 Apakah bengkaknya bertambah ketika waktu makan / mengunyah / melihat
makanan ?
 Apakah ada kesukaran menelan ?
 Apakah ada tanda-tanda Bell’s Palsy ?

Riwayat etiologi
 Pernahkah diradiasi, untuk penyakit apa ?
 Pernah menderita tumor mammae ganas atau jinak ?
 Golongan darah apa ?
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI
Penanggulangan Tumor Kelenjar Ludah
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Kebijakan Riwayat penyakit dahulu :


 Apakah pernah sakit demikian dan sembuh karena diobati apa ( operasi,
radiasi, obat-obatan apa ), oleh siapa dan dimana ?
 Pernah sakit apa, tumor jinak / ganas, dimana lokasinya ?
 Diobati apa ( operasi, radiasi, obat-obatan apa ),berapa lama dan kapan ?

Riwayat penyakit keluarga :


Apa ada keluarga yang sakit serupa, kapan, masih hidup, penyakit tumor lain ?
Bagaimana pengobatannya.
Prosedur Pemeriksaan jasmani :
Status generalis :
Diperiksa apakah ada kelenjar lain dari pada kelenjar regioner ?

Status lokalis :
1. Lokasi : regionya, kanan atau kiri, disertai gambar yang proporsionil.
2. Infeksi : warna kulit diatasnya, benjolan yang berukus / tidak.
3. Palpasi : diukur dengan cm atau mm, konsistensinya keras, lunak, kritis,
melekat ke kulit / sekitarnya / tulang di bawahnya ?
4. Kelenjar-kelenjar regioner : berapa buah, regio leher lateral.

Diagnosa kerja
( Satu yang paling mungkin ) misalnya tumor ganas parotisasi yang inoperabel yang
telah bermetastase di K.G.B submandibular.

Rencana pemeriksaan
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose
 Pemeriksaan dengan indikasi, misalnya foto rahang bila ada penyebaran ke
arah rahang, sialogram untuk mlihat obstruksi saluran kelenjar ludah atau untuk
melihat desakan dari tumor pada duktus
 Biopsi insisi,bila tumor inoperabel, bila operabel tidak boleh biopsi insisi, tapi
langsung lobektomi superfisialis.
Penanggulangan Tumor Kelenjar Ludah
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Rencana pengobatan :


 Lobektomi superfisialis parotis sin atau dex
 Parotidektomi totalis sin atau dex
 Lobektomi kelenjar ludah submandibula sin
 Ditambah “radika neck dissection” bila ada metastase di kelenjar getah bening
leher.

Lama perawatan d rumah sakit


 Pre-operatif : 1 hari
 Post operatif : 3 hari

Follow up
 Bagaimana bicaranya, adakah parese otot-otot bibir, kelopak mata dan
sebagainya.
 Bagaimana makan / minum ?
 Kelenjar regioner ?
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan,instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Tumor Jaringan lunak


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Benjolan didaerah ( lokasi yang jelas ) betis, paha, lengan atas, lengan bawah,
kepala, leher, dinding perut retroperitonai dsb kanan-kiri.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Disisi nama tumor yang klinis paling mendekati dengan lokasi, misalnya tumor
ganas jaringan lunak di dinding abdomen, yang telah meluas sampai ke periccnum
suspek thabdomysarkoma.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang

Riwayat penyakit sekarang :


 Sejak kapan benjolan timbul ? mula-mula diketahui sebesar apa, sekarang
sebesar apa, membesar berapa kali ? tetap single atau multiple ?
 Apakah selama membesar terasa nyeri, makin nyeri, tetap berkurang, sifat
nyerinya bagaimana ?
 Kulit diatasnya apakah mula-mula utuh, kemudian pecah, apakah utuh terus ?

Riwayat etiologi :
1. Apakah penderita sedang mengidap kelainan berupa nevas multiple,
neurofibromatosis, tuberous selerosis, polyp usus syndroma Gardaer.
2. Apakah penderita mempunyai cacat kongenital seperti hypogenesis, bibir
sumbing dsb.
3. Apakah pekerjaan penderita sering kontak dengan bahan kimia, seperti bahan-
bahan herbisida, bahan pengawet kayu dsb.
4. Apakah pada tempat lesi pernah terjadi trauma ?
5. Apakah dulu pernah menderita tumor ganas mammae tumor ganas tulang yang
kemudian dilakukan radiasi ?
6. Apakah ada kelainan lain yang kemudian mendapat terapi radiasi.
7. Apakah dulu pernah tertanam benda asing di dalam tubuh seperti susuk, peluru,
pecahan logam, transplantasi tulang dsb.
Penanggulangan Tumor Jaringan lunak
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Kebijakan Riwayat penyakit dulu :
1. Pernah sakit apa tumor ganas / jinak, dimana lokasinya ?
2. Pernah di operasi, radiasi, diberi obat-obatan khemotherapi ?
3. Berapa lama, kapan, operasi apa ?
Riwayat penyakit keluarga :
1. Apakah ada dari keluarga penderita berpenyakit sama terutama saudara
kembar, saudara kandung, paman, keponakan dsb ?
2. Bagaimana pengobatannya ?
Prosedur Pemeriksaan jasmani :
Status generalis :
1. Diperiksa apakah ada pembesaran kelenjar lain dari pada kelenjar regioner.
2. Perhatikan fisik paru-paru dan leher.
Status Lokalis :
1. Inspeksi : regionya yang terinci ( medial, lateral, anterior, kanan, kiri, dsb )
keadaan kulit diatasnya, ada nodul-nodul satelit.
2. Palspasi benjolan ukuran …….x…….x cm
Konsistensi lunak / kenyal / keras, bebas atau melekat dari kulit diatasnya,
hubungan dengan jaringan sekitarnya, ada ulkus sifat ulkusnya dengan
ukuran…….x……..x…….. cm
3. Kelenjar-kelenjar regioner bagaimana ?
Diagnosa banding : Ingat substrat tumornya.
Tumor jinak jaring lunak :
 Fibroma
 Lipoma
 Haemangioma
 Limpangioma
 Kista sebasea
 Myoma
 Neurinoma
 Dsb
Penanggulangan Tumor Jaringan lunak
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Tumor ganas jaringan lunak :


 Fibrosarcoma
 Liposarcoma
 Malignant fibrous hystiocytoma
 Haemangioperisitoma
 Haemangiosarkoma
 Myosarkoma ( 2 jenis )
 Sarkoma kaposi
 “Neurogenic sarcoma”

Rencana pemeriksaan :
 Arteriografi untuk melihat perluasan melalui terbentuknya neovaskuler.
 Foto thorax
 CT scan bila ingin melihat perluasan secara teliti.
 Ultrasonografi, bila ada bagian kimik.
 Biopsi insisional

Rencana pengobatan
Eksisi, eksisi luas, “musele group excision”,”compartmental excision” amputasi.
Diseksi inguinal / uxilla.

Follow up
Post-operatif : luka operasi diperiksa, kelenjar regioner diperiksa.

Lama perawatan di rumah sakit :


Pre-operatif 1 hari.
Post-operatif bergantung kepada besarnya operasi.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inapnon bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI
Penanggulangan Tumor Lidah
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Ada luka / bintik / bercak putih sariawan ( barusuh ), benjolan pada lidah.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Misalnya tumor ganas pinggir kanan lidah bagian belakang yang telah melekat,
mungkin karsinoma.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.

Riwayat penyakit sekarang :


 Sejak kapan diketahui keluhan tersebut dan hingga kini membesar berapa kali,
mengecil atau menetap.
 Apakah ada benjolan di tempat laian ( leher dsb )
 Apakah rasa nyeri, spontan atau bila makan / minum. Apakah ada kesukaran
makan ? apakah otalgia, hipersalivasi, dysfagia, kesukaran bicara, berat badan
menurun ?
 Pemeriksaan etiologi :
 Menyikat gigi pakai apa batu, sikat gigi, jari, ditambah pasta gigi, berapa kali
sehari ?
 Adakah karies dentis, diobati ? pakai gigi palsu sejak kapan ?
 Adakah gigi yang bengkak menekan lidah ?
 Mengunyah sirih, suka mengunyah tembakau atau makan makanan khas
lainnya ?
 Minum alkohol sudah berapa lama ?
 Merokok ? Pipa ? sudah berapa lama ?
 Apakah tadinya ada bercak putih ditempat kelainan utama ?

Riwayat penyakit dahulu :


 Pernah sakit apa ? Tumor ganas / jinak ? dimana lokasinya ?
 Diobati apa ( operasi, radiasi, obat ) berapa tahun lama ? kapan ? dosis ?
Penanggulangan Tumor Lidah
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Kebijakan Riwayat penyakit keluarga :


1. Apakah ada keluarga yang sakit serupa ? penyakit tumor lain ?
2. Bagaimana pengobatannya ?
Prosedur Pemeriksaan jasmani :
Status generalis :
Diperiksa kelenjar-kelenjar lain dari pada kelenjar regioner.

Status Lokalis :
 Lokasi : regionya pinggi lidah ( lateral ) kanan / kiri, ujung lidah, basis ( pangkal )
lidah.Disertai gambar yang proporsional.
 Inspeksi : warna, tonjolan, ulkus dasar dan pinggir ulkus kotor, pinggi ulkus
menggaung, ada infeksi sekunder.
 Palpasi : diukur dalam cm / mm, diraba apakah ada indurasi dibawahnya /
sekitarnya, arah infiltrasi ( ekstensinya ). Hubungan dengan jaringan sekitarnya
bagaimana ? konsistensinya keras, lunak, dsb , mudah berdarah
 Kelenjar-kelenjar regioner : berapa kelenjar membesar, regio lateral superior,
melekat satu sama lain ukurannya

Diagnosa banding :
 Karsinoma lidah.
 Leukoplasia : bercak putih yang bisa merupakan hiperkeratosis,
heperplasia, karsinoma instisitu atau leukoplakia ini kadang-kadang
meupakan manifestasi dari karsinoma lidah.
 Ulkus tuberkulosa
 Papiloma
 Sialadenius
 Lues I
 Aktinomikosia
 Granuloma pyogenik
 Glositis
 Metastase dari organ lain.
Penanggulangan Tumor Lidah
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa kerja : ( satu yang paling mungkin )


Misalnya tumor ganas pinggir kanan lidah bagian belakang yang telah melekat,
mungkin karsinoma.

Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose.
 Pemeriksaan-pemeriksaan dengan indikasi, misalnya foto rahang, bila ada
penyebaran ke arah rahang, foto thoraks, lever fungsi.
 Biopsi insisi / eksisi ( bilsa kooil ).

Rencana pengobatan :
Bila jinak eksisi dan bila ganas hamiglosektomi dextra / sinistra ditambah diseksi
leher radikal.

Follow up :
Post-operatif :
 Luka diperiksa
 Bagaimana bicaranya ?
 Bagaimana makanan / minumannya ?
 Kelenjar regioner ?
Sebaiknya dalam tahun pertama tiap bulan, lalu tiap 2 bulan dsb.

Lama perawatan :
Rata-rata 1 minggu sampai 1 bulan.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan tumor Dasar / Rongga Mulut


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Ada luka / bintik / bercak putih sariawan ( barusuh ), benjolan pada dasar atau
rongga mulut.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Misalnya tumor ganas dasar mulut bagian kanan yang telah menjalar ke mandibula,
mungkin karsinoma
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.
Keluhan yang membawa pasien berobat ke rumah sakit ada luka / bintik / bercak
putih/ sariawan ( barusuh ) benjolan.
1. Sejak kapan diketahui keluhan tersebut dan hingga kini membesar berapa kali,
mengecil atau menetap ?
2. Apakah ada benjolan ditempat lain ( leher dsb )
Bila ada ulkus kapan mulainya.
3. Adakah nyeri spontan atau bila minum / makan / mengunyah ?
Apakah ada kesukaran makan / bicara ?
Apakah ada otaigia, hepersalivasi, perdarahan ?
4. Pemeriksaan etiologi :
 Menyikat gigi pakai apa batu, sikat gigi, jari, ditambah pasta gigi, berapa kali
sehari ?
 Adakah karies dentis, diobati ? pakai gigi palsu sejak kapan ?
 Mengunyah sirih, suka mengunyah tembakau atau makan makanan khas
lainnya ?
 Mengisap rokok, pipa, cerutu, sudah berapa lama ?
 Minum alkohol sudah berapa lama ?
 Suka cuci mulut ( kumur ), dengan obat kumur tertentu, sudah berapa lama.
 Apakah tadinya ada bercak putih ditempat keluhan utama ?

Riwayat penyakit dahulu :


1. Pernah sakit apa ? tumor jinak / ganas ? dimana lokasinya ?
2. Diobati apa ( operasi, radiasi, obat khemotherapi ) berapa lama ? dosis ?
Riwayat penyakit keluarga :
1. Apa ada keluarga sakit serupa ? tumor yang lain ?
2. Bagaimana pengobatannya ?
Penanggulangan tumor Dasar / Rongga Mulut
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Pemeriksaan jasmani :


Status generalis :
Dijelaskan apakah ada kelenjar lain dari pada kelenjar regioner.
Status lokalis :
 Lokasi
Regionya : dasar mulut, ginggiva pada gigi yang mana, palatum durum kanan,
kiri, disertai gambar proporsional.
 Inspeksi
Warna, tonjolan ulkus dasar dan pinggir ulkus kotor, pinggir ulkus menggaung,
ada infeksi sekunder.
 Palpasi
diukur dalam cm / mm, diraba apakah ada indurasi dibawahnya / sekitarnya,
arah infiltrasi ( ekstensinya).Hubungan dengan jaringan sekitarnya bagaimana ?
Konsistensinya keras, lunak dsb mudah berdarah.
 Kelenjar-kelenjar regioner :
Berapa pembesaran kelenjar regio lateral, superior, tengah, inferior, submental,
konsistensi, melekat satu sama lain, ukurannya.

Diagnosa banding :
 Karsinoma dasar mulut
 Karsinoma palatum dunum
 Karsinoma ginggiva
 Leukoplakia :
Bercak putih yang bisa merupakan hiperkeratosis, hiperplasia, karsinoma ini
situ atau leukoplakia ini kadang-kadang merupakan manifestasi dari karsinoma.
 Ranula
 Papiloma
 Tumor kelenjar ludah minor
 Ulkus TBC
 Sialedenitis
 Lues I
 Aktinomikosis.
Penanggulangan tumor Dasar / Rongga Mulut
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa kerja : ( satu yang paling ungkin )


Misalnya tumor ganas dasar mulut bagian kanan yang telah menjalar ke mandibula,
mungkin karsinoma.

Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose.
 Pemeriksaan dengan indikasi, misalnya foto rahang, bila tersangka ada
penyebaranke rahang. X thoraks, fungsi lever dsb.
 Biopsi insisi / eksisi ( bila kecil ).

Rencana pengobatan :
 Eksisi luas atau hemi-mandibulektomi dextra, ditambah diseksi leher radikal
( bila KGB +)
 Bila perlu dibuat trakheoslomi ; cave , lidah terbalik ke belakang.

Follow up :
Post-operatif :
 Luka diperiksa
 Bagaimana bicaranya ?
 Bagaimana makan minumnya ?
 Kelenjar regioner ?

Lama perawatan di rumah sakit :


Tergantung kepada besarnya operasi.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Tumor Bibir


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Ada luka / bintik / bercak putih, sariawan ( barusuh ), jendolan pada bibir.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Misalnya tumor ganas bibir superior kanan yang telah menjalar ke KGB
submandibula, mungkin karsnoma.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.
Keluhan yang membawa pasien berobat ke rumah sakit ada luka / bintik / bercak
putih/ sariawan ( barusuh ) benjolan.
1. Sejak kapan diketahui keluhan tersebut dan hingga kini membesar berapa kali,
mengecil atau menetap ?
2. Apakah ada benjolan ditempat lain ( leher dsb )
Bila ada ulkus kapan mulainya.
3. Pemeriksaan etiologi
 Apakah sering bursugih ?
 Adakah karies dentis, diobati ? pakai gigi palsu sejak kapan ?
 Mengunyah sirih, suka mengunyah tembakau atau makan makanan khas
lainnya ?
 Mengisap rokok, pipa, cerutu, sudah berapa lama ?
 Minum alkohol sudah berapa lama ?
 Suka cuci mulut ( kumur ), dengan obat kumur tertentu, sudah berapa lama.
 Apakah tadinya ada bercak putih ditempat keluhan utama, sejak kapan ?

Riwayat penyakit dahulu :


1. Pernah sakit apa ? tumor jinak / ganas ? dimana lokasinya ?
2. Diobati apa ( operasi, radiasi, obat khemotherapi ) berapa lama ? dosis ?
Riwayat penyakit keluarga :
1. Apa ada keluarga sakit serupa ? tumor yang lain ?
2. Bagaimana pengobatannya ?
Penanggulangan Tumor Bibir
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Prosedur Pemeriksaan jasmani :
Status generalis :
Dijelaskan apakah ada kelenjar lain dari pada kelenjar regioner.
Status lokalis :
 Lokasi
Regionya : dasar mulut, ginggiva pada gigi yang mana, palatum durum kanan,
kiri, disertai gambar proporsional.
 Inspeksi
Warna, tonjolan ulkus dasar dan pinggir ulkus kotor, pinggir ulkus menggaung,
ada infeksi sekunder.
 Palpasi
diukur dalam cm / mm, diraba apakah ada indurasi dibawahnya / sekitarnya,
arah infiltrasi ( ekstensinya).Hubungan dengan jaringan sekitarnya bagaimana ?
Konsistensinya keras, lunak dsb mudah berdarah.
 Kelenjar-kelenjar regioner :
Berapa pembesaran kelenjar regio lateral, superior, tengah, inferior, submental,
konsistensi, melekat satu sama lain, ukurannya.

Diagnosa banding :
 Papiloma
 Tumor ganas bibir
 Tumor kelenjar ludah ramor
 Ulkus TBC
 Aktinomikosis
Diagnosa kerja :
Tumor ganas bibir superior kanan yang telah menjalar ke KGB submandibula,
mungkin karsinoma.
Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose.
 Pemeriksaan dengan indikasi, misalnya foto rahang, bila tersangka ada
penyebaranke rahang. X thoraks, fungsi lever dsb.
 Biopsi insisi / eksisi ( bila kecil ).
Penanggulangan Tumor Bibir
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Rencana pengobatan :


 Eksisi luas atau hemi-mandibulektomi dextra, ditambah diseksi leher radikal
( bila KGB +)

Follow up :
Post operatif :
 Luka diperiksa
 Bagaimana bicaranya ?
 Bagaimana makan minumnya ?
 Kelenjar regioner ?

Lama perawatan di rumah sakit :


Lesi kecil 3 hari, sedang bila dengan diseksi leher redikal 7 hari sampai 10 hari.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Tumor-Tumor Leher dan Kelainan-


Rumah Sakit Dr. Sobirin
Kelainan Kongenital Leher
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Regionya kanan / kiri, disertai gambar yang proposionil leher anterior
kanan/kiri/meidan, submental, leher lat. Sup/med/inf.
 Warna kulit diatasnya, benjolan yang berulkus/tidak, fistel ?
 Diukur dalam cm atau mm, konsistensinya keras, lunak, kritik, melet ke kulit/
sekitarnya / tulang dibwahnya.
 Kelenjar-kelenjar regioner : berapa buah, regio leher lateral superior tengah,
inferior konsistensi kelenjarnya.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kabijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah onkologi di RSUP dr.Moh.Hoesin
Palembang.
Riwayat penyakit sekarang :
 Sejak kapan timbul benjolan tersebut, membesar berapa kali, tetap atau
mengecil. Bila bernafas benjolan membesar tidak. Bila benjolanya besar ditanya
dimana ( lokasi yang tepat ) mulainya,sewaktu masih kecil.
 Sejak kapan ada lubang berair tersebut ( pecah ), sembuh kalau jadi lagi.
 Nyeri tidak, bila nyeri sejak kapan ?
 Ada demam tidak ?
 Keluhan-keluhan lain apakah batuk-batuk, berdarah tidak, sesak napas ?
 Adakah benjolan lain ?
 Adakah trauma ?

Riwayat penyakit dahulu :


 Pernah sakit serupa, diobati apa ?
 Pernah sakit apa, tumor jinak / ganas , kapan ?
 Pernah dioperasi, oleh karena penyakit apa, kapan ?
 Pernah diradiasi, oleh karena sakit apa, kapan ?
 Pernah mendapat khemotherapi, untuk penyakit apa, kapan ?
Penanggulangan Tumor-Tumor Leher dan Kelainan-
Rumah Sakit Dr. Sobirin
Kelainan Kongenital Leher
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Kebijakan Riwayat penyakit keluarga :


 Adakah keluarga yang sakit serupa, diobati, masih hidup ?
 Adakah keluarga yang sakit tumor, pengobatannya
Prosedur Pemeriksaan jasmani :
Status generalis :
Diperiksa apakah ada kelenjar lain dari pada kelenjar regioner.KGB regioner
diperiksa pada status lokalis.

Status Lokalis :
1. Lokasin : regionya kanan / kiri, disertai gambar yang proporsionil leher anterior
kanan / kiri / median, submental, submand, leher lat/supmed/inf.
2. Inspeksi : warna kulit diatasnya , benjolan yang berulkus / tidak, fistel ?
3. Palpasi : diukur dalam cm atau mm, konsistensinya keras, lunak, kristik,
melekat ke kulit / sekitarnya / tulang dibawahnya. Ada infiltrasi tidak sampai di
mana ?
4. Kelenjar-kelenjar regioner : berapa bauah, regio leher lateral superior, tengah,
inferior dsb. ( Lihat atas ), konsistensi kelenjarnya ukuran, melekat satu sama
lain.

Diagnosa banding :
 Krista tiroglosal ( ductus tiroglosa persisten ).
 Kista brankhial ( dengan fisuel yang infeksi / tidak ).
 Higroma kolli ( limfangioma ).
 Hemangioma.
 Tumor kelenjar ludah.
 Tumor ganas jaringan lunak
 Metastase di jaringan getah bening.
 Tumor primer sistera limfa ( selanjutnya lihat pembesaran kelenjar-kelenjar
bening ).
 TBC kelenjar ( idem )
Penanggulangan Tumor-Tumor Leher dan Kelainan-
Rumah Sakit Dr. Sobirin
Kelainan Kongenital Leher
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa kerja :


krista triglosal dengan fistel yang terinfeksi.

Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk operasi dengan narkose.
 Pemeriksaan-pemeriksaan ,dengan indikasi, misalnya foto raharg, bila ada
penyeburan ke rahang.
 Biopsi insisi, bila tumor inoperabel.

Rencana pengobatan :
 Biopsi diteruskan dengan radiasi
 Eksisi / ekstirpasi
 Eksisi luar

Follow up :
 Luka diperiksa
 Bagaimana bicaranya , ada parese otot-otot ?
 Bagaimana makan / minum nya ?
 Kelenjar regioner ?

Lama perawatan di rumah sakit :


Tergantung terhadap besarnya operasi
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ONKOLOGI

Penanggulangan Pembesaran Kelenjar Getah


Rumah Sakit Dr. Sobirin
Bening
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian  Kelenjar-kelenjar didinding belakang abdomen, hepar / lian ( bukan kelenjar
leher ).
 Biopsi eksisi, satu kelenjar utuh kecuali bila kelenjar-kelenjar bersatu
( karsinoma anoplasti ).
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
1. Primer :
 Limpoma malignum
 TBC
2. Sekunder :
 Yang tidak ditemukan lesi primernya.
 Yang diketahui asalnya, diobati sesua dengan tumor primernya.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah Onkologi di RSUP dr.Moh Hoesin
Palembang.
Pembesaran kelenjar getah bening ( di lokasi ).

Riwayat penyakit sekarang :


 Sejak kapan timbul masing-masing kelompok kelenjar yang membesar dan
sampai sekarang membesar berap kali, mengecil, tetap, setelah dberi obat apa
terjadi perubahan itu ?
 Nyeri tidak
 Pecah tidak, sejak kapan, keluar apa ?
 Keluhan-keluhan lain : batuk-batuk ( berdarah / tidak ), malam hari banyak
keringat, badan tambah kurus, suka demam, nyeri-nyeri dibadan ( tulang-
tulang).
 Adakah benjolan-benjolan ditempat lan di luar kelenjar getah bening.

Riwayat penyakit dahulu :


 Pernah sakit apa, tumor jinak / ganas, kapan ?
 Pernah dioperasi, radiasi, oba-obatan khemotherapi, berapa lama, kapan ?
 Pernah di foto thoraks, pernah diobati obat-obatan TBC ?
Penanggulangan Pembesaran Kelenjar Getah
Rumah Sakit Dr. Sobirin
Bening
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Kebijakan Riwayat penyakit keluarga :


 Apakah ada keluarga mengalami penyakit yang sama, bagaimana
sesudahnya ?
 Apakah ada keluarga mengalami penyakit tumor ganas , bagaimana
kesudahannya ?
Prosedur Pemeriksaan jasmani :
Status generalis :
 Hati bila teraba agar diperinci pinggirnya, konsistensinya dsb.
 Tulang-tulang belakang dan pelvis adakah nyeri tekan ?

Status Lokalis :
 Regionya ditulis dulu, jika ada dua regio atau lebih ditulis satu-satu regio
tersendiri, semua tempat kelenjar diperiksa : oksipital, retro aurikuler, leher
posterior / lateral, ( atas, tengah, bawah ), praetrakheral, supraclavula, sulkus
bisipitalis, epitrokhlear, axilla, lien, hepar, inguinal, femeral, poplitea dsb.
 Inspeksi : warna kulit, tonjolan rata, berbenjol-benjol, ada ulkus.
 Palpasi : diukur dengan cm ke 2 atau 3 arah,konsistensinya, berbenjol-benjol
seperti kentang dalam karung, melekat satu sama lain, menjadi satu masa yang
masif. Infiltarsi kedaerah sekitarnya.
Bila perlu dengan gambar yang sesuai proposinya.

Diagnosa banding :
 Limpadenitis akut
 Hiperplasia reaktif / limpadenitis kronis.
 TBC kelenjar
 Tumor primer sistem limfo
 Non hodgkin’s limfoma
 Hodkin’s limfoma
 Tumor sekunder getah bening yang tidak diketahui tumor primernya ( yang
diketahui tumor primernya, dibicarakan di bab tumor primer masing-masing ).
Penanggulangan Pembesaran Kelenjar Getah
Rumah Sakit Dr. Sobirin
Bening
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa banding : satu yang paling mungkin.

Rencana pemeriksaan :
 Persiapan rutin untuk biopsi.
 Persiapan rutin dengan indikasi, USG kelenjar-kelenjar didinding belakang
abdomen, hepar / lian ( bukan kelenjar leher )
 Biopsi eksisi satu kelenjar utuh kecuali kelenjar-kelenjar bersatu. ( karsinoma
anoplasti ).

Rencana pengobatan :
Untuk :
 Limfadenitis akut : antibiotika.
 TBC : TBC statika.
 Tumor primer sistem limpe : radiasi st.I-II, khemotherapi st.III-IV.
 Tumor sekunder : eksisi tumor primer + diseksi leher radikal (radical
neek Dissection), bila tumor primer tidak diketahui : radiasi.

Follow up :
Post operatif : Lukanya diperiksa dan apakah timbul kelenjar-kelenjar baru.

Lama perawatan dirumah sakit :


 Selama diradiasi bila tidak ada dirumah di bandung.
 Untuk diseksi leher radikal 7-10 hari.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi inap bedah, instalasi rawat inap non bedah .
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Urolithiasis ( Batu ginjal dan Batu


Rumah Sakit Dr. Sobirin
sakuran kemih )
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian  Pegal atau nyeri pinggang yang hilang timbul atau terus-menerus didaerah
ginjal atau ureter yang terkena.
 Sifat nyeri yang ditimbulkan biasanya bersifat tumpul, kecuali bila terdapat
sumbatan saluran kemih, akan terjadi nyeri yang bersifat kolik, menjalar ke
distal. Kadang disertai demam yang tinggi, sehingga pasien menggigil.
 Adanya riwayat hematuria setelah nyeri atau saat nyeri berlangsung.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus bedah di IRD RSUP dr.Moh Hoesin Palembang.
 Terdapat massa pada flank, bila telah terjadi hidronefrosis yang berat.
 Adanya nyeri tekan atau nyeri ketok sudut costoverteberal sisi yang sakit.
 Retensi urine bila batu menyumbat di arethra atau fossa naviculare.
Prosedur Pemeriksaan penunjang :
 Laboratorium :
Hb, Ht, Leuco, BT, CT, gula darah sewaktu, Ureum, Kreatinin. Asam urat, urinalisis,
urine kultur dan resistensi test, Kadar Ca, phosphor dan Mg.
 Pencitraan : Ultrasonografi
 BNO-IVP
 Retrograde pyelografi
 Renografi
 GFR ( Glomeruler Filtration Rate )

Diagnosis :
Nephrolililthiasis, batu kaliks superior, media atau inferior single atau multiple :
 Satu sisi atau dua sisi.
 Batu ureter single atau multiple, satu atau dua sisi.
 Batu kandung kencing.
 Batu urethra atau batu di fossa navicularis.
Terapi :
 Expectative therapy : membuat pasien senang atau mudah untuk miclie
mediacamentosa.
Penanggulangan Urolithiasis ( Batu ginjal dan Batu
Rumah Sakit Dr. Sobirin
sakuran kemih )
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur  ESWL ( pemecahan batu luar tubuh dengan gelombang kejut ).


 Perculaneus Nephro ( URS ) dengan laser atau elektrokinetik pemecahan
batunya.
 Operasi terbuak ( open stone sungery )
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Pembesaran Prostat jinak ( BPB )


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian 1. Adanya sisa setelah selesai kencing, sering kencing dalam waktu 2 jam.
2. Raiwayat kencing terputus-putus, pancaran kencing melemah, harus mengedan
saat mulai kencing, sering bangun malam untuk kencing.
3. Semua pertanyaan diatas tergabung dalam IPSS ( internasional prostate
Score )
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus bedah di IRD RSUP dr.Moh Hoesin Palembang :
o Tidak terdapat kelainan, kecuali bila retensi.
o Rectal toucher dinili besar prostat, asimetrinya, serta ada tidaknya module.
Prosedur Pemeriksaan penunjang :
 Laboratorium : HB, HT, Leuko, Thrombo, BT, CT, Gula darah sewaktu, ureum,
creatinin, Prostate Speccific Antigen ( PSA ), asam urat dan Urinalis.
 Uroflowmetri dan Residua Urine
 Pencitraan : Ultrasonografi ginjal bilateral, buli-buli dan prostate transrectal
ultrasonografi
 Diferensial diagnosis : kontraktur leher buli-buli, Vesicolithiasis, Striktua urethrea

Diagnosis : pembesaran prostat jinak ( BPH ), dengan atau tanpa retensio urine.

Terapi :
 IPSS<( ringan ) : watchfull waiting atau medikamentosa.
 IPSS 8-9 ( sedang )
 20-35 ( berat ) : medikamentosa
 Terapi invasive minimal ( TURP ), pembedahan ( open )

Prognosis : quo ad vitam baik


Ad functionam dubia
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)


DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Striktura Urethrae


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Adanya pancaran urine kalibernya mengecil, kadang-kadang bercabang atau


tidak bisa kencing sama sekali.
 Adanya riwayat infeksi salurn kemih, trauma saluran kemih atau riwayat
insrumentasi saluran kemih.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
 Adanya indurasi daerah urethra pars bulbosa atau pars pendulans
Kebijakan Penanganan pasien / kasus bedah di IRD RSUP dr.Moh Hoesin Palembang
Bila struktur pendek abdomen, striktur panjang dubia ad malam
Prosedur Pemeriksaan penunjang :
 Laboratorium : HB, HT, Leuko, Thrombo, BT, CT, Gula darah sewaktu, ureum,
creatinin, gula darah sewaktu, Urinalisis, Urine kultar dan resistansi.
 Pencitraan :
Radiologi : Uratrografi, retrograte Urethrografi, Urethreeystografi.
 Diferential diagnosis :
1. Kontraktur leher buli.
2. Pembesaran prostate jinak
3. Batu urethra.
4. Meatal stenosis
 Terapi :
1. Urethromia interna ( urethroscopy – sachse )
2. Urethromia externa ( open uretheral surgery )
3. Dilatasi ( bouginage ) berkala untuk maintenance.

Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Trauma Ginjal


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian  Riwayat trauma tumpul / tajam pada pingang.
 Nyeri pinggang setelah trauma.
 Trauma penyerta dengan organ intra abdomen ( aepar, lien )
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Tanda vital : tensi, nadi, respiasi
 Pada pinggang : echimosis, jejas, bulging / massa, fraktur corta 12, luka
masuk / tembak.
 Waktu abdomen dengan massa / jejas pada pinggang.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus bedah di IRD RSUP Dr.Moh.Hoesin palembang.
 Trauma yang paling sering ditemukan saluran kemih.
 Laki-laki > perempuan.
 Trauma tumpul > tajam ( 85 % tumpul ).
 Penyebab : kecelakaan, jatuh, olah raga, luka tajam / tembak.
Prosedur Penunjang :
 CT scan abdomen
 BNO – IVP ( bila tidak ada biaya )

Diagnosis :
Dari imaging ( BNO – IVP / CT Scan ) didapatkan
 Perkabutan pada daerah ginjal
 Pendorongan gas colon ke media.
 Ekstravasasi contras dari ginjal.

Tindakan : tergantung stadium


Sbd I, II, III : Konservatif
IV & V : Reapir ginjal / Nefrektomi
Labortorium :
 Darah perfer lengkap
 FS ginjal
 Urinalisis
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Tumor ganas Buli


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Buang air kecil berdarah berulang tanpa nyeri, dapat mikkrohematuri atau
grosshematuri.
 Dapat disertai dengan iritasi buli-buli : frekuensi, urgency, dysuri
 Pada keadaan lanjut timbul gejala metastase ke tulang, hati paru, obstraksi
saluran kemih.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
 Sebagian besar pasien pada stadium arval tidak ditemukan pada kelainan pada
pemeriksaan fisik.
Tapi Stadium lanjut dapat teraba massa suprapubis atau penebalan dnding buli-
buli dengan pemeriksaan bimanual
 Hepatomegali & pembesaran kelenjar supraclacecla mempunya tanda
metastase kadang dapat dijumpai Lymphedema oleh karena lymphadenopaty
pelvis
Kebijakan Penanganan pasien / kasus bedah di IRD RSUP Dr.Moh.Hoesin palembang.
 Laki – laki : perempuan = 2,7 : 1
 Merupakan tumor ke-2 tersering pada saluran kemih dan lebih sering mengenai
orang kulit putih dari pada kulit hitam.
 85 % dtemukan masih terbatas dalam buli-buli dan 15 % telah metastase ke
KGB regional atau jauh.
 Faktor resiko :
1. Merokok.
2. Kontak zat kimia tertentu  dan β Naphthylamine, zat warna, karet,
pengecetan.
3. Obat : cyclophorphamide.
4. Riwayat operasi batu buli
Prosedur Penunjang :
 Imaging : foto thorax, BNO – IVP, CT Scan ( setelah ada PA )
 USG bila tidak dapat dilakukan IVP atau gagal ginjal.
Diagnosis :
Cystokopi + TUR – tumor buli-buli / biopsi ( termasuk staging )
Penanggulangan Tumor ganas Buli
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Tindakan : tergantung stadium


Sbd I, II, III : konservatif
IV, V : Repari gnjal / nefrektomi

Laboratorium
 Darah prifer lengkap
 Fungsi ginjal, hati
 Sitologi urine & kultur urine & resistensi

Terapi :
Stadium tindakan
T1s TUR komplit + intravesical BCG
Ta ( single, G 1-2 ) TUR komplit
Ta ( besar, multiple,G3, recurrent ) TUR komplit + intravesical khemoterapi
( mytomsyn C / Adriamycin ).
TUR komplit + intravesical khemoterapi
T1 Cystectomy radikal + diversi urine
T2-4 Radioterapi + khemoterapi
M1 Khemoterapi

Prognosis : Tergantung stadium penyakit & gradasi tumor

Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Adenocarcinoma Prostat


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Keluhan prostatimus / LUTS.


 Keluarga yang berhubungan dengan metastase ( nyeri tulang, fraktur patologis).
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
 Bila telah jatuh dalam hormon refraktery disease buruk.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah Urologi di IRD RSUP Dr.Moh.Hoesin
palembang.
 Merupakan tumor ganas tersering pada saluran kemih dan penyebab kematian
ke-2 terbanyak di USA.
 Prevalensi meningkat dengan bertambah umur.
 Faktor resiko :
1. Usia.
2. Diet tinggi lemak.
3. Merokok.
4. Famikal.
5. Pemakaan hormom androgen.

Prosedur Pemeriksaan fisik :


 Colok dubur.
 Nyeri tekan didaerah metistae ( tulang ).
 Gangguan meurologi ( fraktur kompresi vertebra ).
 Keadaan umum ( sakal kornofsky ).

Penunjang :
TRUS – Prostat + Biopsi ( indikasi PSA > 10 mgl / ml )
PSAD > 0,15 pada PSA 4 – 10 mg / ml RT ada nobul
BNO – IVP
Foto thorax PA ( setelah ada PA )
Bone scan ( setelah ada PA )
CT scan pelvis ( atas indikas, setelah ada PA )
Diagnosis : Biopsi Prostat
Penanggulangan Adenocarcinoma Prostat
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Tindakan : tergantung dengan stadium dan umur penderita


Tta > 70 th : watchfull waiting
≤ 70 th : Prostatektomy radikal / radioterapi radikal
T1bc – T 2ab > 70 th : radioterapi radikal
≤ 70 th : prostatektomy radikal
T3-4 :Hormunal therapy : medical dan surgical
N+ : hormunal therapy
PSA meningkat pasca
Prostektomy :-tanpa metastase : radiotherapy adjuvant.
-Dengan metastase : hormonal therapy.
PSA meningkat pasca
Radiotherapy radikal : hormunal therapy
M1 : Hormunal therapy ± radio therapy paliatif
Dengan retenteion urine + TUR – prostat
Hormon refractory disease : Khemoterapi : Estamustine, laxane

Laboratorium :
 Pemeriksaan PSA pada semua penderita dengan LUTS atau > 40 tahun
dengan riwayat Ca prostat
 Fungsi ginjal, hati
 Urinalisis dan kultur urine + resistensi
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI

Penanggulangan Trauma Uretra


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian 1. Uretra anterior :
 Trauma Straddle / pada penis.
 Instrumentasi ( pemasangan kateter uretra ).
 Perdarahan dari meatus.
2. Uretra posterior :
 Trauma pada pelvis
 Fraktur pelvis
 Perdarahan dari meatus
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Sering terjadi strictur, maka perlu follow up untuk bouginasi uretra berkala.
Kebijakan  Sering pada laki-laki.
 Berkaitan dengan fraktur pelvis atau straddle injury.
 Gejala dan penanganannya tergantung dari letak trauma pada ureter yaitu
arterior atau posterior.
Prosedur Pemeriksaan fisik :
1. Arterior :
 Nyeri perineum
 Bengkak pada penis / scrotum
 Buli-buli penuh ( retentio urine )
2. Posterior :
 Nyeri pada pelvis / pubis / abdomen bawah
 Buli-buli penuh ( retentio urine )
 Colok dubur : flotting prostat
Laboratorium :
 Darah prefier lengkap
 Fs Ginjal
 Urinalis

Penunjang :
 Foto pelvis
 Uretrografi.
Penanggulangan Trauma Uretra
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosis : Uretrografi : extravasasi

Tindakan :
1. Arterior
 Ruptur partial, BAK spontan → konservatif
 Ruptur total + retentio urine → cystostomy, tunggu 3 bulan
Lagi untuk uretrografi selanjutnya dilakukan uretroscopi sachse
2. Posterior :
 Cystostomy ( retention urine )
Setelah 3 bulan uretrogafi kemudian uretroscopy sachse
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI
Penanggulangan Hipospadia
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian  Lubang kencing tidak diujung penis, bentuk penis bengkok kebawah.
 Kencing harus jongkok
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
 Pada umumnya baik, penyulit dapat berupa fistula, stenosis, ISK.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah Urologi di IRD RSUP Dr.Moh.Hoesin
palembang.
1 : 250-300 bayi laki-laki.
Prosedur Pemeriksaan fisik :
 MUE terletak di ventral, mulai dari sulcus coronarius sampai perineum.
 Didapatkan adanya Chordee
 Kelalaian lain yang mungkin ditemukan bersamaan : UDT 8-9 %, hernia /
hidrokel 9-16 %.

Laboratorium :
Lab rutin, pada bentuk berat diperiksa hormonal dan chromosom.

Pemeriksaan penunjang :
Pada kasus yang disertai UDT, digunakan USG untuk lokalisasi testis.

Terapi :
 Koreksi 2 tahap, tahap pertama Chordectomy, 6 bulan kemudian baru
dikerjakan uretroplasti.
 Teknik uretroplasti yang digunakan berdasarkan : tipe hipospadia, teknik yang
paling dikuasai operator.
 Timing operasi : disarankan pada usia pra sekolah
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI
Penanggulangan Varikokel
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Rasa tidak enak di kantung kemaluan


 Ada massa dikantung kemaluan.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
 Pada umumnya baik penyulit dapat berupa atrofi testis.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah Urologi di IRD RSUP Dr.Moh.Hoesin
palembang.
 25 % pada laki-laki dewasa muda, 90 % pada sisa kiri.
Prosedur Pemeriksaan fisik :
Pada posisi bediri, dapat ditemukan adanya pelebaran plexus pampininformis
( inspeksi dan atau palpasi ) = bags of worms

Laboratorium :
Lab rutin, pada kasus infertilitas – analisa sperma ( stress pattern )

Pemeriksaan penunjang :
USG Doppler

DD : Serpmatocele, Hidrokel funikuli

Diagnosis :
Dilatasi plx pampiniformis, konfirmasi dengan USG Doppler.

Terapi :
 Dimptomatik : varicocelectomy
 Infertilitas : Ligasi vena spermatica interna
 Teknik operasi dapat berupa : palomo, invanisevich, marmar, mikrosikopik dan
laparoskopik.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH UROLOGI
Penanggulangan Hidrokel
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian  Ada massa kistik dikantung kemaluan, tidak hilang timbul.
 Massa ada sejak lahir (kongenital ) atau timbul setelah dewasa.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah Urologi di IRD RSUP Dr.Moh.Hoesin
palembang.
Prosedur Pemeriksaan fisik :
 Ditemukan adanya massa kistik menyelimuti testis ( testis sukar diraba ). Bila
kongenital biasanya disertai hernia
 Transluminasi positif.

Laboratorium :
Lab rutin.

Pemeriksaan penunjang :
USG Skrotum

DD : Hernia skrotalis, hidrokel funikuli, tumor testis.

Diagnosis : Adanya koleksi cairan di tunica vaginalis.

Terapi :
Hidrokelektomi : Bergmann-Winkelmann, Lord jaboulay dsb
Bila disertai hernia, operasi disertai dengan herniotomi.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian  Terputusnya koninuitas jaringan tulang rawan, bisa komplit atau tidak komplit.
Jenis fraktur ditentukan oleh garis frakturnya, isa simpel, multifragmen
( kominutil ), atau segmental.
 Jika kulit diatasnya utuh disebut fraktur tertutup dan bila terdapat luka pada kulit
disebut fraktur terbuka ( terkontaminasi dan risiko infeksi ). Fraktur dapat
disebabkan oleh trauma langsung / tidak langsung, trauma tekanan yang lama (
stress fracture ), atau melemahnya tulang ( patologis ).
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur.
Kebijakan Penanganan fraktur harus dilaksanakan secara benar sesuai dengan standar
pelayanan medis Departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Kriteria Diagnosis
 Fraktur adalah bagian integral pasien, untuk itu harus dilihat keadaan pasien
secara keseluruhan .
1. Syok / perdarahan.
2. Trauma penyerta dikepala, medula spinalis atau visera.
3. Predisposisi (misalnya osteoporosis ).
 Adanya riwayat trauma yang menimbulkan rasa nyeri.
 Look ( inspeksi ) : adanya bengkak dan deformitas
Feel ( palpasi ) : nyeri setempat, nyeri sumbu ( dari keduanya ini dapat
diperkirakan lokasi frakturnya ), krepilasi, status neurovaskuler distal dan fraktur
( trauma vaskuler adalah kasus emergensi ).
Move ( pergerakan tulang dan sendi ) : adanya functio laesa.
 Setelah didiagnosis adanya fraktur, perlu disebutkan :
1. Lokasinya : 1/3 proksimal, 1/3 tengah atau 1/3 distal,karena perubahan letak
fragmen tulang bergantung pada traumanya ( origo dan insersio otot ).
2. Apakah mengenai persendian.
3. Bagaimanakah garis frakturnya : tunggal, multifurgmen, segmental transversal,
oblik atau spiral.
4. Tertutup atau terbuka.
Fraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosa banding :


 Fraktur dislokasi
Dekat sendi
 Fraktur dan dislokasi

Pemeriksaan penunjang :
 Rontgen tulang yang terkena, dengan memperhatikan hal-hal berikut :
 Minimal dua proyeksi.
 Harus terlihat ? sendi yaitu satu sendi di proksimal dan satu distal.
 Dibuat foto pada anggota gerak yang sehat pada anak.
 Trauma fanda / berat : harus dibuat X-ray dibeberapa tempat.
 Dapat ditambah pemeriksaan tomografi untuk fraktur tulang belakang atau
kondilus tibia. Radiografi kontras ( artrogram, mielogram, diskogram,sinogram ),
CT scan, MRI, radioisotop scaning, ultrasonografi untuk penilaian aliran materi.
 Endoskopi : artroskopi, mieloskopi
 Laboratorium darah dan urine rutin.

Perawatan RS
Tipe A, B, C unuk diagnosis dan penatalaksanaan berdasarkan pada kondisi pasien
( diagnosis ), dokternya ( kemampuan dan pengetahuan ) dan saranan kesehatan
yang ada.

Konsultasi
 Dokter spesialis bedah Orthopaedi
 Dokter spesialis bedah bila dokter spesialis bedah Orthopaedi belum ada di
daerah tersebut.
 Pada trauma multiple ke spesialis lain yang terkait ( bedah Toraks, bedah umum
/ Digestif, bedah anak, Bedah Vaskuler, bedah plastik, Urologi, saraf, Bedah
saraf, Rehabilitas dan lain-lain )
Fraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Prosedur Terapi
Tujuan :
1. Mendapatkan penyambungan tulang yang anatomis kedudukannya.
2. Kembalinya fungsi anggota gerak.

Terapi umum
 PPKK : pembidaianuntuk mengurangi pergerkan fragmen tulang, mengurangi
sakit, serta menghindari kerusakan lebih lanjut.
 Transportasi penderita : untuk diagnosis dan penatalaksanaan.
 Pengobatan jika ada syok, perdarahan dan trauma penyerta lainnya.

Terapi umum fraktur,


 Yaitu “4 R” ( recognition, reduction, retaining dan rehabilitation ).
Recognition
Diagnosis pasien, dengan semua pertimbangan mengenai keadaan umum
lokal, dan status sosial ekonomi.
Reduction
 Pengembalian posisi fragmen tulang keposisi semula.
 Metode untuk reduksi adalah :
 Tertutup ( bentuk fraktur yang tertutup sederhana pada anak, dan fraktur yang
stabil setelah tereposisi ).
 Terbuka dilakukan bila gagal secara tertutup, adanya fragmen yang perlu
direduksi dengan akurat, dan fraktur dengan fragmen terpisah.
Retaining ( Imobilisasi / fiksasi / mempertahankan reduksi )
 Yaitu mempertahankan hasil yang dicapai waktu reduksi untuk membantu
penyembuhan daerah yang sakit dan memberikan kesempatan daerah yang
sehat untuk bergerak.
Metode yang dipakai : traksi kontinu ( dengan traksi kulit atau traksi tulang ),
pembidaian dengan gips, functional bercaing, fiksasi internal, dan fiksasi eksterna.
Rehabilitation
 Bertujuan mengembalikan fungsi dengan cara :
 Mempertahankan dan menambah gerak sendi ( gerak aktif, pasif ).
 Meningkatkan kekuatan otot dan fungsi muskuloskeletal secara menyeluruh.
Fraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur  Mobilisasi penting untuk anggota gerak bawah dan tulang belakang, sedangkan
keterampilan gerak penting untuk anggota gerak atas / tangan.

Terapi khusus fraktur tertutup


Dapat dilakukan hanya proteksi ( tanpa reduksi dn fiksasi ), fiksasi dengan
pembidaian eksterna ( tanpa reduksi ), reduksi tertutup diikuti reduksi tertutup
dengan traksi dan dlanjutkan dengan fiksasi, reduksi tertutup dilanjutkan
Functional bracing ,reduksi tertutup dengan fiksasi internal, reduksi tertutup dengan
fiksasi eksterna, dan eksisi fragmen diikuti penggantian dengan endoprostesis.

Terapi khusus fraktur terbuka


Frakturterbuka merupakan kedaratan bedah dengan terapi pembersihan kulit,
debrideman ( eksisi jaringan nonvital ), “ pencucia “ yang bersih ( dilution is solution
polluliton ), pengobatan terhadap fraktur ( umumnya fiksasi eksterna ), obat
antibiotika dan obat antitetanus.

Penyulit
 Dapat timbul dari trauma awaldari pengobatan frakturnya. Dapat terjadi secara
lokal atau sistemis. Waktunya dapat bersamaan dengan waktu trauma, dini,
atau lambat / menahun.
 Pnyulit dapat terjad pada kulit, pembuluh darah, saraf, tulangnya sendiri, (
malunion, delayued union nonanion ), persedian ( ankilosis ), otot, visera, syok,
dan gangguan mental.
Fraktur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Informed consent


Perlu

Masa pemulihan
Antara 6-24 bulan

Luaran
 Sembuh
 Apabila terjadi penyulit akan timbul impairment, disable dan handicap

Patologi Anatomi
Pemeriksaan ini dilakukan bila ada pemeriksaan adanya fraktur patologis.
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Clavicula
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Fraktur clavicula terjadi karena penderita jatuh pada bahu, biasanya tangan dalam
posisi out streached. Pada trauma tulang tulang perhatikan adanya pseudo
paralysis. DP / Erd’s klumpke plexus brachialis palsy, Pre post ganglioner.
Tujuan Mampu melakukan perawatan dan tindakan awal pada fraktur clavicula.
Kebijakan Mampu clavicula harus ditangani secara baik dan benar, agar tidak mengganggu
pergerakan dari sendi bahu.
Prosedur Kriteria diagnosis :
Riwayat trauma dari bahu atau thorax,
Tanda klinis fraktur clavicula ( deformitas, nyeri daerah clavicula ) foto polos adanya
fraktur clavicula.

Diagnosis banding :
Dislokasi acromio-clavicular joint
Dislokasi sendi bahu
Dislokasi steno clavicula

Pemeriksaan penunjang :
Foto polos clavicula AP ( pada fraktur 1/3 tengah, clavicula bagian medial terangkat
keatas oeh tarikan otot sternocleidomastoideus dan frakmen lateral tertarik ke
bawah oleh otot pectoralis major.

Perawatan RS :
Rawat jalan untuk perawatan non bedah
Rawat inap untuk perawatan bedah

Terapi :
Non bedah : arm shmg, figure of 8 bandage ( ransel verband )
Bedah : ORIF :
Plate and screw atau K-wire ( lebih baik ) TBW ( tension band wiring )
Indikasi bedah obsulut :
 Fraktur terbuka
 Gangguan neurovaskular
Fraktur Clavicula
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur komplikasi : gangguan vaskuler, gangguan saraf, infeksi

Informed concent : perlu

Lama perawatan : 1 – 7 hari

Masa pemulihan : 1- 1,5 bulan

Hasil : tereposis dengan baik

Prognosis : baik

Patologi anatomi : tidak diperlukan


Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI

Fraktur Humerus
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Adanya deformitas pada tulang humerus dapat terjadi mulai dari proximal ( kaput )
sampai bagian distal ( kondilus ) humerus.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur humerus.
Kebijakan Penanganan fraktur humerus harus, secara benar, baik itu konservatif / humerus.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Riwayat trauma
 Tanda pasti fraktur humerus ( angulasi perpendekan, rotasi )
 Kondisi klinis nervus radialis.
 Foto polos adanya fraktur humerus

Diagnosis banding :
 Dislokasi bahu anterior
 Fraktur clavicula
 Dislokasi akromio Clavicula

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium :
 Darah rutin
 Foto polos humerus AP / Lat

Terapi :
Non bedah :
 Reposisi dengan pembiusan
 Gips U-slab / hanging cast
 Percutaneces pinning
Bedah :
 ORIF ( intramedula nailing / plate and screw

Komplikasi : Lesi N.Radialis ( masuk informed concent ) infeksi.

Penyulit : kaku sendi


Fraktur Humerus
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Informed consent : perlu

Lama perawatan : 1-14 hari

Masa pemulihan : 4 minggu

Hasil : tereposis dan teriksasi pada posisi fungsional yang optimal

Prognosa : baik

Ouput : sembuh total tidak ada komplikasi


Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Cruris
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Adanya deformitas pada tulang tibia dan fibula.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur cruris.
Kebijakan Penanganan fraktur tibia dan fibula harus secara benar, baik itu konservatif atau
operatif.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Riwayat trauma
 Tanda pasti fraktur tibia, fibula ( angulasi perpendekan, rotasi ).
 Foto polos adanya fraktur tibia dan fibula.

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium :
 Darah rutin.
 Foto polos cruris AP / Lat

Terapi :
Non bedah : Reposisi dengan pembiusan dan Long leg cast / PTB cast.
Bedah : ORIF ( intramedula nailing / plate and screw.

Komplikasi :
 Malunion / delayed uinion
 Cempartemen syndrome ( pada fraktur tertutup ).
 Infeksi

Informed consent : perlu

Lama perawatan : 1 minggu

Masa pemulihan : 3 bulan


Hasil : Tereposisi dan terfiksasi pada posisi. Fungsional yang optimal.
Prognosa : baik

Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Montegia
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Adanya deformitas pada tulang ulna 1/3 proximal disertai dislokasi radus proximal.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur montegia.
Kebijakan Penanganan fraktur montegia harus secara benar.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Riwayat trauma
 Tanda pasti fraktur ulna ( proximal rangulasi perpendekan, rotasi )
 Foto polos adanya fraktur ulna proximal dan dislokasi caput radii.

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium : darah rutin dan foto polos Antebrachii AP / Lat.

Terapi :
Pembedahan : ORIF ( plate and screw ), tidak boleh membuang caput radii, terutama
anak-anak.

Komplikasi :
Non union / malunion / celayed union dan infeksi.

Informed consent : perlu

Lama perawatan : 1 minggu

Masa pemulihan : 6 minggu

Hasil : fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik, caput radii terposisi
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Galeazi
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Adanya fraktur pada tulang radius 1/3 distal disertai dislokasi sendi radio-ulnar distal.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur galeazi.
Kebijakan Penanganan fraktur galeazi harus secara benar, baik itu konservatif atau operatif.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Riwayat trauma
 Tanda pasti fraktur ( angulasi perpendekan, rotasi )
 Foto polos adanya fraktur radius 1/3 distal dan dislokasi sendi radio-ulnar distal.

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium : darah rutin dan foro polos Antebrachii AP / Lat.

Terapi :
Non bedah : reposisi dan long arm cast.
Bedah : ORIF bila konservatif gagal.

Kompliasi :
 Non union / malunion / delayed union.
 Infeksi.
 Gangguan gerak.

Infromed consent : perlu


Lama perawatan : 1 minggu
Masa pemulihan : 6 minggu
Hasil : fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik.
Prognosa : baik
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Colles
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Adanya fraktur radius 1 inei diatas radio-ulnar joint, angurasi ke dorsal fragmen
distal dan pergeseran ke dorsal dari fragmen distal.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur Colles.
Kebijakan Penanganan fraktur colles harus secara benar, baik itu konservatif atau operatif.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Riwayat trauma lengan karena menahan dengan “ out streeht hand “
 Tanda pasti fraktur ( angulasi, perpendekan, rotasi ).
 Foto polos adanya fraktur radius 1/3 distal dengan angulasi fragmen distal ke
dorsal.

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium : darah rutin dan foto polos wrist joint AP / Lat.

Terapi :
 Non bedah : reposisi dengan pembiusan ( fiksasi dalam posisi pronasi, semi
fleksi dan ulnar deviasi long arm cast )
 Bedah : ORIF bila konservatif gagal

Komplikasi :
 Compartemen syndrome
 Suddec atropi
 Infeksi

Informed consent : perlu

Lama perawatan : 1 minggu

Masa pemulihan : 4-6 minggu

Hasil : fragmen tulang tereposisi dan terifiksasi dengan baik, fungsional baik.
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Terbuka
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Adanya deformitas pada tulang disertai dengan perlukaan didaerah fraktur dimana
fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar ( Grade I, II, III ).
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur terbuka.
Kebijakan Penanganan fraktur terbuka harus secara benar, baik itu konservatif atau operatif.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Riwayat trauma
 Tanda pasti fraktur ( angulasi perpendekan, rotasi )
 Ada perlukaan didaerah fraktur ( grade I,II,III ) dengan fragmen tulang
berhubungan dengan dunia luar.
 Foto polos AP / lateral pada daerah fraktur.

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium : darah rutin dan foto polos wrist joint AP / Lat.

Terapi :
 Bedah : Debridement
Fiksasi interna untuk grade I-II ( pertimbangkan berapa lama sesudah
` kejadian, ingat Frederich-golden period )
` fiksasi eksterna untuk grade III

Komplikasi :
 Infeksi
 Perdarahan
 Compartemen syndrome
 Emboli lemak

Informed consent : perlu


Lama perawatan : 1-2 minggu
Masa pemulihan : 12 minggu
Hasil : tereposisi dan terfiksasi pada posisi anatomi dan fungsional yang optimal.
Prognosa : dubia ad bonam
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Femur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Trauma mayor pada paha.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur femur.
Kebijakan Penanganan fraktur femar harus secara benar, sesuai dengan standar pelayanan
medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Kriteria diagnosis : tanda fraktur pada umumnya.

Diagnosis banding :
 Fraktur batang ( shaft ) femur.
 Fraktur trokanter femur
 Fraktur kolom femur
 Fraktur kondilus femur

Pemeriksaan penunjang : Rontgen femur ( minimal 2 proyeksi )

Konsultasi : Dokter Spesialis bedah Orthopedi

Perawatan RS : rawat inap

Terapi : Operatif. Bila menolak dapat dilakukan terapi konservatif berupa traksi
( skeletal atau kulit ).

Standar RS dan standar tenaga


 Konservatif
Semua tipe RS dan puskesmas bertempat tidur ( oleh dokter umum ).
 Operatif
Tipe C keatas, dokter spesialis bedah untuk batang femur
Tipe E keatas, dokter spesialis bedah ortopedi untuk trokanter femur
Tipe B keatas, dokter spesialis bedah ortopedi untuk kolom femur

Penyulit / lauran : penyakit fraktur pada umumnya.

Masa pemulihan : Minimal 6 bulan


Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Vertebra Lumbal
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Trauma dengan arah gaya sepanjang sumbu badan, nyeri tekan pada vertebra,
mungkin ada gibus.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur vertebra
lumbal.
Kebijakan Penanganan fraktur vertebra lumbal harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Kriteria diagnosis : Trauma dengan arah gaya sepanjang sumbu badan, nyeri
tekan pada vertebra, mungkin ada gibus.

Diagnosa banding : Spondilitis tuberkolusis.

Pemeriksaan penunjang : Rontgen vertebra lumbal

Konsultasi : Pada paraplegia dikirim ke pusat rehabilitasi.

Perawatan RS : rawat inap.

Terapi :
 Konservatif
Tirah baring diikuti dengan atau tanpa pemasangan gips badan ( body cast )
untuk fraktur yang stabil.
 Operatif : untuk fraktur yang tidak stabil.

Penyulit / luaran : dekubitus, pada fraktur dengan paraplegia.

Standar tenaga : dokter umum pada pasien tanpa gangguan neurologis dan stabil.

Masa pemulihan :
 3 bulan untuk yang tanpa paraplegia.
 Cacat tetap untuk yang disertai paraplegia.
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI

Fraktur Suprakondiler Humerus ( Anak-Anak )


Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma nyeri, fungsio laesa, hematoma, luka, deformitas, bengkak, nyeri
tekan, gangguan gerak sendi suku.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur
Suprakondiler Humerus ( Anak-Anak ).
Kebijakan Penanganan fraktur Suprakondiler Humerus ( Anak-Anak ) harus secara benar,
sesuai dengan standar pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin
Palembang.
Prosedur Diagnosis banding :
 Dislokasi sendi siku
 Fraktur kondiler humerus
 Fraktur oceoranon
 Fraktur caput radii
 Pulled elbow

Pemeriksaa penunjang :
Foto rontgen : cubiti proyeksi AP ( ekstensi ) dan lateral ( fleksi ) termasuk sisi normal
.

Pelaku :
 Residen orthopaedi dengan pengawasan konsulen
 Orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Konsultasi : tidak diperlukan

Perawatan RS:
 Bila terapi operatif dirawat maksimal selama 3 hari kecuali ada komplikasi
 Berobat jalan bila terapi konservatif.
Fraktur Suprakondiler Humerus ( Anak-Anak )
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Terapi :
 Konservatif repsisi tertutup kalau mungkin dengan panduan C-arm dan
imobilisasi dengan long arm cast / slab
 Operatif : ( reposisi terbuka dan fiksasi interna ), implan yang digunakan :
kurschuer wire

Penyulit :
 Cedera pembuluh darah
 Cedera n. medanus
 Iskemi Vokmann, kontraktur.

Prognosis : baik
Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 1 bulan

Output : dapat sembuh total bila tidak terdapat komplikasi


Patologi Anatomi : tidak diperlukan
Otopsi : tidak diperlukan

Catatan medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan saat pulang. Penentuan
waktu kontrol dan keperluannya.
Instalasi yang terkait IRD, poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Olekranon
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma, nyeri, fungsio laesa, hematoma, luka deformitas, bengkak nyeri
tekan, gangguan gerak eksternsi aktif siku.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur olekranon.
Kebijakan Penanganan fraktur olekranon harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding :
 Dislokasi send siku
 Fraktur suprakondiler humeru
 Fraktur montegia

Pemeriksaan penunjang : foto rontgen, cubiti proyeksi AP dan Lateral ( fleksi )

Pelaku :
 Residen orthopaedi dibawah pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Konsultasi : tidak diperlukan


Perawatan RS :
 Bila terapi operatif, dirawat maksimal selama 3 hari kecuali ada komplikasi
 Berobat jalan bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif : bila undespiaced pada fleksi siku ( imobilisasi dengan arm sling )
 Operatif : ( reposisi terbuka dan fiksasi interna ), implan yag digunakan TBW
( tension band wire )
Penyulit : cedera n.ulnaris
Prognosis : baik
Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 1 bulan
Ouput : dapat sembuh bila tidak terdapat komplikasi.
Patologi Anatomi : tidak diperlukan
Otopsi : tidak diperlukan
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Olekranon
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Catatan medik :


Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan luka dan gerakan sendi siku
pada saat pulang, penentuan waktu kontrol dan keperluannya.
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Falangs
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma, nyeri, fungsio laesa, hematoma, luka deformitas, bengkak nyeri
tekan, gangguan gerak sendi jari-jari tangan.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur falangs.
Kebijakan Penanganan fraktur farangs harus secara benar, sesuai dengan standar pelayanan
medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding : dislokasi sendi interfalang

Pemeriksaan penunjang : foto rongent manus proyeksi AP dan oblique ( mencakup


sendi pergelangan tangan )

Pelaku :
 Residen orthopaedi dibawah pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Perawatan RS :
 Bila terapi operatif, dirawat maksimal selama 3 hari kecuali ada komplikasi
 Berobat jalan bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif reposisi tertutup + neighbouring splint I fore slab dengan posisi
lubmbrical
 Operatif : ( reposisi terbuka dan fiksasi interna ), implan yang digunakan : K wire
atau mini plate screws

Penyulit : ruptur tendon


Prognosis : dubia
Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 1 bulan
Ouput : dapat sembuh bila tidak terdapat komplikasi.
Patologi Anatomi : tidak diperlukan
Otopsi : tidak diperlukan
Fraktur Olekranon
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Catatan medik :


Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan saat pulang, penentuan
waktu kontrol dan keperluannya.
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Vertebra Servikal
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma kepala atau muka dengan nyeri derah leher tanpa atau dengan
gangguan neurologis pada extremitas.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur vertebra
servikal.
Kebijakan Penanganan fraktur vertebra servikal harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding : whiplash injury

Pemeriksaan penunjang :
Foto rongent proyeksi AP Lat ( swimmer’s position ), AP ( open mouth ), CT scan,
MRI dilakukan bila kondisi KU memungkinkan.

Pelaku :
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi
 Orthopaedic spine surgeon

Konsultasi : tidak diperlukan


Perawatan RS : rawat inap segera dengan kesiapan perawatan intensif.

Terapi :
 Bila cedera < 8 jam dapat diberikan terapi metil
Prednisolon sesuai dengan metode NASCIS II atau III
 Konservatif dengan traksi glisson, traksi crutchfield atau gardner bila diperlukan
reposisi atau dengan hard collar bila hanya untuk immobilisasi.
 Operatif : fiksasi interna dengan implan srews atau wire

Penyulit :
 Paralisa otot-otot pernapasan.
 Paralisa extermitas atas dan bawah dan saraf otonomi

Prognosis : tergantung dari berat ringannya cedera neurologis


Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : > 6 bulan
Fraktur Vertebra Servikal
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Output : preservasi fungsi neurlogis semaksimal mungkin


Patologi Anatomi : tidak diperlukan
Otopsi : tidak diperlukan

Catatan medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan saat pulang, penentuan
waktu kontrol.
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Kollom Femoris
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma, nyeri, fungsio laesa, hematoma, luka deformitas, bengkak nyeri
tekan, gangguan gerak sendi panggul.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur Kollom
Femoris.
Kebijakan Penanganan fraktur kollom femoris harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding :
 Dislokasi panggul
 Fraktur trochanter femur

Pemeriksaan penunjang : foto rongent ,panggul proyeksi AP dan aksial.

Pelaku :
 Residen orthopaedi dengan pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Consultas : rehabilitasi medil : untuk mobilisasi


Perawatan RS :
 Bila terapi operatif, dirawat maksimal selama 7 hari kecuali bila ada komplikasi.
 2 minggu bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif : reposisi tertutup + traksi kulit sampai nyeri tulang ( maksimal 3
minggu ).
 Operatif ( hemiartroplasti untuk pasien usia lanjut atau fiksasi interna untuk
pasien usia muda ), implang yang digunakan : Austin Moore prosthesis atau
multiple pinning.

Penyulit :
 Dekubitus
 Pneumonia
 Nekrosis aveskuler
Fraktur Kollom Femoris
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Prognosis : dubia


Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 3 bulan
Output : dapat berjalan, bila tidak ada komplikasi
Patologi anatomi :tidak diperlukan, kecuali fraktur patologis
Otopsi : tidak diperlukan

Catatan medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan saat pulang, penentuan
waktu kontrol.
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Trochanter Femur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma,Nelly , fungsio laesa, hematoma, luka deformitas, nyeri tekan,
gangguan gerak sendi panggul.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur Trochanter
femur.
Kebijakan Penanganan fraktur Trochanter femur harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding :
 Dislokasi panggul
 Fraktur komlumna femoris
 Fraktur proksimal femur

Pemeriksaan penunjang : foto rongent ,panggul proyeksi AP dan aksial.


Pelaku :
 Residen orthopaedi dengan pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Konsultasi : tidak diperlukan

Perawatan RS :
 Bila terapi operatif, dirawat maksimal selama 7 hari kecuali bila ada komplikasi.
 2 bulan bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif : reposisi tertutup + traksi
 Operatif : fiksasi interna, implan yang digunakan :
Plate screw atau DHS ( Dynamic Hip Screw ) atau AM Prothese Straight Stem.

Penyulit : deformitas varus


Prognosis : baik
Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 3 bulan
Output : dapat berjalan bila tidak ada komplikasi
Fraktur Trochanter Femur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Patologi anatomi : tidak diperlukan, kecuali fraktur parologis


Otopsi : tidak diperlukan

Catatan medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan saat pulang
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Kondiler Femur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Riwayat trauma,Nelly,edema , fungsio laesa, hematoma, luka deformitas, nyeri tekan,
gangguan gerak sendi lutu .
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur kondiler
femur.
Kebijakan Penanganan fraktur Kondiler femur harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Dianosis banding :
 Dislokasi sendi lutut
 Fraktur patella
 Fraktur tibial plateu

Pemeriksaan penunjang : foto rongent : genu proyeksi AP dan lateral

Pelaku :
 Residen orthopaedi dengan pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Konsultasi : tidak diperlukan

Perawatan RS :
 Bila terapi operatif selama 7 hari
 3 bulan bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif : reposisi tertutup filtraksi 90-90
 Operatif fiksasi interna, implan yang digunakan :
Plate screw atau candylay blade plate atau DCS ( Dynamic Condylay Screw )

Penyulit :
 Cedera pembuluh darah
 Cedera ligament
 Sindroma kompartemen
Fraktur Kondiler Femur
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Prognosis : dubia


Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 3 bulan
Output : dapat berjalan bila tidak ada komplikasi
Otopsi : tidak diperlukan
Patologi anatomi : tidak diperlukan

Catatan medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan saat pulang, penentuan
waktu kontrol.
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Patella
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma, hemarthrossi, nyeri, edema, fungsio laesa, luka, tidak bisa ekstensi
lutut secara aktif.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur patella.
Kebijakan Penanganan fraktur patella harus secara benar, sesuai dengan standar pelayanan
medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding :
 Dislokasi patella
 Fraktur kodiler femur
 Fraktur tibial plateu

Pemeriksaan penunjang :
foto rongent : genu proyeksi AP dan lateral

Pelaku :
 Residen orthopaedi dengan pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Konsultasi : tidak diperlukan


Perawatan RS :
 Bila terapi operatif maksimal 7 hari
 Berobat jalan bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif : koker gips / cylinder cast ( undi splaced fracture ) / balutan Robert
jones.
 Operatif : fiksasi interna, implan yang digunakan :
Tension band wire

Penyulit : -
Prognosis : baik
Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 3 bulan
Fraktur Patella
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Output : dapat berjalan bila tidak ada komplikasi


Otopsi : tidak diperlukan
Patologi anatomi : tidak diperlukan

Catata medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan luka dan gerakan sendi lutut
pada saat pulang, penentuan waktu kontrol
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ORTHOPAEDI
Fraktur Tibial Plateu
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Riwayat trauma, hemarthrossi, nyeri, edema, fungsio laesa, luka, tidak bisa ekstensi
lutut secara aktif.
Tujuan Mampu merawat dan melakukan tindakan awal dan definitive pada fraktur tibial
plateu
Kebijakan Penanganan fraktur tibial plate harus secara benar, sesuai dengan standar
pelayanan medis departemen bedah RSUP Dr.Moh Hoesin Palembang.
Prosedur Diagnosis banding :
 Dislokasi patella
 Fraktur kodiler femur
 Fraktur tibial plateu

Pemeriksaan penunjang :
foto rongent : genu proyeksi AP dan lateral

Pelaku :
 Residen orthopaedi dengan pengawasan konsulen orthopaedi
 Spesialis orthopaedi dan traumatologi

Konsultasi : tidak diperlukan


Perawatan RS :
 Bila terapi operatif maksimal 7 hari
 Berobat jalan bila terapi konservatif

Terapi :
 Konservatif : koker gips / cylinder cast ( undi splaced fracture ) / balutan Robert
jones.
 Operatif : fiksasi interna, implan yang digunakan :
Tension band wire
Penyulit : -
Prognosis : baik
Informed consent : perlu dibuat
Masa pemulihan : 3 bulan
Fraktur Tibial Plateu
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Output : dapat berjalan bila tidak ada komplikasi


Otopsi : tidak diperlukan
Patologi anatomi : tidak diperlukan

Catata medik :
Identitas pasien, diagnosis, terapi, penyulit dan keadaan luka dan gerakan sendi lutut
pada saat pulang, penentuan waktu kontrol
Instalasi yang terkait IRD , poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ANAK
Penanggulangan Hernia Inguinalis dan Hirocele
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian  Hernia inguinalis adalah penonjolan organ intra abdominal ke dalam kantung
peritoneum ( processus vaginalis ) didalam kanalis inguinalis. Isi kantung bernia
depan berupa usus, omentum, tuba failopii dan ovarium.
 Hidrocele adalah akumulasi cairan didalam skrotum yang berasal dari rongga
abdomen. Hernia inguinalis lateralis dan hidrocele terjadi akibat kegagalan
obliterasi processus vaginalis ( processus vaginalis persistent ).
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai dengan prosedur yang ada.
Hernia inguinalis : ditemukan pada 1-5 % anak. Laki-laki disbanding wanita adalah
6:1.
Insiden meningkat pada bayi-bayi prematur
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah anak di RSUP dr.Moh Hoesin
Palembang.
 Hampi setengah dari seluruh hernia inguinalis diketahui pada tahun pertama
kehidupan terutama pada 6 bulan pertama.
 Benjolan dilipat paha ( kadang-kadang meluas kedalam skrotum ) yang hilang
timbul hampir selalu merupakan hernia inguinalis.
1. Biasanya hernia timbul bila anak menangis atau mengedan, menghilang bila
relaks.
2. Hernia jarang memberikan keluhan kecuali bila terjadi inkarserasi.
Prosedur Pemeriksaan fisik :
 Benjolan lunak dilipat paha yang hilang dengan penekanan jari.
 Silk glove sign dan thickening of the cord merupakan tanda herina yang tidak
terlalu benar.

Pada hernia ingunalis inkarserata ditandai oleh timbulnya benjolan yang tiba-tiba,
nyeri hebat. Dadanya massa yang terfisir dilipat paha dan gejala-gejala obstruksi
usus.

Hidrocele dapat timbul setiap waktu pada early childhood dan jarang setelah usia 5
tahun. Secara klinis berupa benjolan pada skrotum tanpa rasa nyeri. Biasanya
didapatkan variasi diurnal dalam ukuran hidrocele.
Penanggulangan Hernia Inguinalis dan Hirocele
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Diagnosis :
Diagnosis hernia inguinalis dibuat berdasarkan riwayat dan penemuan benjolan yang
reducible dilipat paha.
Diagnosis hidrocele dibuat berdasarkan pemeriksaan fisik ( cairan didalam skrotum ).
Transiluminasi dapat membantu penegakan diagnosis hirocele.

Differensial diagnosis :
1. Pembesaran kelenjar getah bening ( kenyal, immobile, non reducible )
2. Undescensus testis.
3. Abses inguinalis ( nyeri tekan, immobile, non reducible )

Terapi :
 Semua hernia inguinalis harus segera direpair kecuali bila terdapat kondisi medis
yang merupakan risiko untuk anestesia
 Herniotomi ( ligation of the sac ) hampir selalu merupakan tindakan day-surgery
dalam anestesai umum.
 Pada hernia inkaserata selalu diusahakan tindakan reduksi non operatif
( pemberian sedative : Stesiolid per reetal, posisi Trendelenberg ). Apabila tidak
terjadi reduksi maka operasi dilakukan
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ANAK
Penanggulangan Malformasi Anorektal
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Kegagalan pertumbuhan anorektal pada masa embrio yang ditandai dengan
agenesis anal, agenesis rektal dan atresia rektal.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah anak di RSUP dr.Moh Hoesin
Palembang.
Defek pada laki-laki :
 Letak rendah :
 Fistula pada kulit ( perineal )
 Stenosis anal
 Membran anal
 Bucket handle marformation
 Fistula rektouretrobulbar
 Fistula rektouretroprostatika
 Fistula rektovesika
 Tanpa tistula
 Atreai rektal dan stenosis rektal

Defek pada wanita :


 Fistula perincal
 Fistula rektovestibular
 Fistula rektovaginal
 Tanpa fistula
 Atresia rektai dan stenosis rektai
 Kloaka

Defek yang kompleks : Defek yang beragam


Prosedur Gejala klinis :
 Tidak tampak adanya anus
 Perut yang distensi
 Anal dimple (+) / (-)
 Median raphe
Penanggulangan Malformasi Anorektal
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Penatalaksanaan :
 Periksa darah lengkap
 Utinalisa
 Periksa vital sign
 Dekompresi dengan pasang NGT no 8-12
 IV line : RL ( sesuai dengan status dehidrasi )
 Monitor urine dengan memasang kolektor urine
 Foto thoraks
 Foto invertogram setelah 18 jam post partum / crasi table cater foz

Tx.
Letak rendah : Limited PSF ( Anoplasny )
Letak tinggi Fistula + : Colostomy
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ANAK
Penanggulangan Penyakit Hirschprung
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Suatu keadaan fungsi abnormal dari usus ganglional yang menyebabkan secara
klinis adanya obstruksi usus yang parsial yang sedikit dipahami,
Terdiri atas :
1. Segmen pendek
 Daerah aganglion sampai dengan sigmoid
 80 % dari semua kasus Hirschprung
2. Segmen panjang
 Daerah aganglion lebih proksimal dari sigmoid
3. Aganglinosis total
 Seluruh kolom aganglion
4. Aganglinosis universal
 Seluruh usus harus terkena
5. Ultrashort
 Gambaran klinis Hirschprung tetapi histologist tidak aganglion
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah anak di RSUP dr.Moh Hoesin
Palembang.
Tanda dan gejala tampak sejak lahir :
1. Obstruksi akut usus : Distensi massif abdomen, muntah kehijauan, retensi cairan
diusus, hipovolemi dan asidosis.
2. Konstipasi berganti dengan diare dan distensi abdomen
3. Tanda-tanda enterokolitis : Distensi abdomen, diare, muntah, panas, toksik
4. Tidak ada keinginan untuk defekasi
5. Tidak ada soiling
6. malnutrisi
Prosedur Kriteria Dianosis :
 Keluar mekonium terlambat
 Muntah hijau sampai fekal
 Perut kembung
Pemeriksaan fisik :
 Pada colok dubur feses menyemprot
 Enterokolitis ( diare dengan feses abu-abu berbau ).
Penanggulangan Penyakit Hirschprung
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Pemeriksaan penunjang :


 BNO : usus melebar
 Enema barium : khas :
1. Ada derah transisi
2. Gambar kontur usus yag tidak teratur pada segmen yang menyempit
3. Gambar enterokolitis pada segmen yang melebar
4. Rongga region rectal yang melekat
5. Retensi barium setelah 24 jam
 Biopsi : hisap daerah aganglion

Terapi :
a. Operasi bertahap :
 Tahap I : kolostomi
 Tahap II : pullthrough ( reseksi anatomia tahap II setelah berat badan lebih dari 7
kg )
b. Operasi satu tahap
 Dikerjakan satu kali pada anak BB > 6 kg
 Pada perawatan prabedah dilakukan bilas kolon teratur dengan bersih.
 Saat operasi dilakukan reseksi anastomosis kolon yang ganglion
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ANAK
Penanggulangan Invaginasi Usus
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Pengertian Adalah keadaan akut saluran cerna dengan sebagian segmen usus bagian proksimal
masuk ke segmen distal.
Penyebab :
 Organic : polip, divertikel, meekel, hamangioma, atau tumor jinak lainnya.
 Idiopatik : penebalan plak rlayen.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah anak di RSUP dr.Moh Hoesin
Palembang.
Trias – invaginasi :
 Kolik usus
 Teraba massa
 Berak darah lender dapat disertai / tanpa obstruksi usus.

Foto :
 Usus kecil dilatasi
 Ada air fluid level
 Usus besar kosong bayi berumur 3 bulan sampai 2 tahun.
Prosedur Kriteria diagnosis :
 Timbulnya gejala obstruksi usus.
 Invaginasi kronis sangat jarang pada anak, gejala obstruksi usus hilang timbul
 Anak / bayi kesakitan atau menangis mendadak dan berulang-ulang, sering
disertai muntah.
 Dari anus keluas darah dan lender
 Teraba massa tumor inraperitoneal seperti pisang
 Kadang-kadang pada colok dubur tersa pseudoposio.

Pemeriksaan penunjang :
 USG : terlihat massa tumor seperti donat
 Foto polos abdomen tegak
Tidak ada air fluid level kasus masih dini. Ada air fluid level kasus lanjut.
Penanggulangan Invaginasi Usus
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur  Barium Enema


 Untuk diagnosis, melihat gambaran spiral dan “ cuping “
 Untuk terapi, Hidrostatis tinggi botol barium 1 m dari letak bayi
 Tekanan udara perrektum untuk diagnosis dan terapi

Terapi :
Konservatif :
 Terapi tekanan barium / udara harus dipantau oleh dokter spesialis bedah karena
bahaya perforasi.
 Beri pelemas otot.
 Puasa
 Atasi gangguan keseimbangan cairan elektrolit dna asam basa
 Kasus dini diusahakan reposisi dengan barium enema / udara

Operatif :
 Bila terapi konservatif gagal atau kasus dating sudah dalam keadaan dehidrasi
dan kembung, maka pasien harus diresusitasi dan disiapkan laparotomi
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
DAPARTEMEN BEDAH SUB BEDAH DIVISI BEDAH ANAK
Penanggulangan Hernia Diafragma Kongenital
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:
Pengertian Tanda dan gejala : Takhipnea, retraksi dinding dada, pucat, sianosis, abdomen
skafoid, mediastinum bergeser berlawanan dengan lesi di diafragma, auskultrasi
terdengar suara usus di hemitoraks yang bersngkutan. Suara napas menurun
terutama di hemitoraks yang bersangkutan.
Tujuan Dapat mengelola pasien dengan benar sesuai prosedur yang ada.
Kebijakan Penanganan pasien / kasus sub bagian bedah anak di RSUP dr.Moh Hoesin
Palembang.
 Hernia diafragmatika adalah masuknya abdomen ke dalam rongga toraks melalui
defek diafragma. Biasanya defek ini merupakan cacat bawaan / congenital.
Namun pada keadaan lain ditemukan hernia diafragma yang didapat, biasanya
akibat kecelakaan yang mengakibatkan tuptura diafragma.
 Cacat bawaan tersebut lebih dari 90 % tipe posterolateral ( foramen
Bochdaleck ) dan umumnya posterolateral kiri, dengan gejala kardiorespiratoris
berat yang memerlukan pengenalan dan tindakan cepat dan tepat.
 Hernia diafragma tipe lata yang lebih jarang adalah anterolateral ( foramen
Morgagni ), hernia hiatus esophagus dan hernia septum transversum, tidak
memberikan dampak kardiorespiratoris, namun dapat terjadi strangulasi organ
yang masuk karena defek yang sempit.
Prosedur Kriteria Diagnosis :
 Riwayat kesulitan pernapasan sedang sampai berat yang disertai sianosis
segera setelah bayi lahir.
 Gejala klinin didominasi oleh system kardlorespiratoris yang makin berat jika
tidak mendapat penanganan prabedah yang tepat.
 Beratnya gejala dispnea sesuai dengan kapasitas paru yang masih efektif dalam
proses respirasi.
 Sianosis didapatkan pada lebih dari ⅜ kasus, bergantung pada tingkat beratnya
distress pernapasan.
 Pada pemeriksaan fisik didaptkan synopsis, dispnera, abdomen skapoid, toraks
lebih membusung ( bareel shaped ).
 Pada perkusi toraks ips, lateral, pekak dan jantung tergeser ke kontralateral.
 Kadang-kadang dapat diyakini adanya bising napas pada hemitorak.
Penanggulangan Hernia Diafragma Kongenital
Rumah Sakit Dr. Sobirin No. DOKUMEN No. Revisi Halaman

Ditetapkan
Standar Prosedur Operasional Tanggal Terbit Direktur,
(SPO)

Harun,
NIP:

Prosedur Terapi :
1. Sementara :
 Bila timbulnya RDS kurang dari umur 24 jam pertama dipikirkan hipoplasi paru
cukup luas dan bahaya PPH lebih besar , pasien dirawat dengan respirator
( level II ) oleh neonatologist untuk diperbaiki respirasinya dan gas darahnya.
Operasi ditunda.
 Pengambilalihan pernapasan dengan memasang ventilator jika hal itu diperlukan
 Posisi tidur toraks lebih tinggi dari abdomen, mencegah bertambah banyaknya
organ abdomen masuk ke rongga toraks.
 Dekompresi lambung secara maksimal dengan pernapasan pipa nasogastrik.
 Perencanaan operasi setelah perbaikan keadaan umum tercapai. Pada keadaan
hernia dengan tanda strangulasi, operasi segera setelah pardarsitasi angkat.
2. Definitif dengan pertimbangan
 Waktu umum persentasi respiratory distress syndrome ( RDS ) kurang dari 24
jam pertama atau lebih dari umur 24 jam.
 Berat / ringan hipoplasi paru ipsilateral atau juga kontralateral.
 Adanya hipertensi pulmonal yang persisten ( PPH )
 Bila pasien datang umur lebih dari 48 jam dengan RDS ringan. Dirawat oleh
neonatologist untuk persiapan operasi segera.
 Operasi bertujuan mengembalikan organ yang berada dalam rongga toraks ke
abdomen dan menutup defek diafragma. Umumnya defek dapat ditutup secara
primer, namun jika defek terlalu besar pemakaian bahan sintesis seperti Dacron
atau Silastic dapat dipertimbangkan lebih dianjurkan operasi dari abdomen organ
sekaligus dapat menilai organ intrabdomen,pemasangan WSD bila diperlukan
saja. Umumnya ventilator masih diperlukan beberapa hari pascabedah.
Instalasi yang terkait Poliklinik rawat jalan, instalasi rawat inap bedah, instalasi rawat inap non bedah.