Anda di halaman 1dari 11

PANDUAN ASESMEN TAMBAHAN

POPULASI TERTENTU

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MUARA BELITI


KABUPATEN MUSI RAWAS
TAHUN 2019

1
BAB I

DEFINISI

A. LATAR BELAKANG

Rumah sakit merupakan tempat pelayanan kesehatan secara bio,psiko,sosial


dan spiritual dengan tetap harus memperhatikan pasien dengan kebutuhan khusus
dengan melakukan penilaian secara individual serta harus dapat mewakili semua
populasi yang ada diantara nya pada pasien anak-anak, dewasa muda, lanjut usia
yang lemah, dengan nyeri yang kronis dan intens, infeksi atau penyakit menular.
pada semua kasus ini pasien dan keluarga sangat ketergantuangan bantuan pada
pemberi pelayanan kesehatan khusus nya rumah sakit.

Pelayanan kesehatan dengan kelompok khusus ini memerlukan penangan


yang tepat dan efektif dalam mengurangi risiko, serta perlu mendokumentasikan
pelayanan secara tim untuk bekerja dan berkomunikasi secara efektif.

Dengan disusun buku pedoman ini maka diharapkan dapat membantu


meningkatkan mutu pelayanan di seluruh aspek rumah sakit sampai pada tingkat
manajemen dan dapat mengurangi kesalahan dalam meningkatkan kepuasan bagi
pasien dan keluarga yang mendapatkan pelayanan.

B. TUJUAN

Rumah sakit dapat melakukan assesmen atau penilaian awal pada pasien
dengan tipe-tipe tertentu. Tanpa bermaksud untuk menemukan kasus secara proaktif.

C. PENGERTIAN

1. Pasien adalah seorang individu yang mencari perawatan medis


2. Dewasa Muda adalah seorang individu yang masih produktif
3. Rentan adalah suatu keadaan dimana seseorang individu mudah terjangkit
atau terkena penyakit yang disebabkan oleh menurun nya daya tubuh
seseorang
4. Lanjut Usia adalah seseorang baik wanita maupun laki-laki yang telah berusia
60 tahun ke atas.
5. Pasien Dengan Rasa Nyeri Yang Kronis Dan Intens adalah suatu kondisi
dimana pasien merasakan sakit yang hebat secara terus menerus.

2
6. Pasien Dengan Infeksi Atau Penyakit Menular adalah pasien memiliki penyakit
infeksi yang bisa menularkan pada orang lain.
7. Anak Dengan Ketergantungan Bantuan adalah anak yang memerlukan
bantuan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.Pelayanan anak dengan
ketergantungan bantuan adalah melayani anak yang memerlukan bantuan
dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.
8. Pelayanan Pasien Resiko Kekerasan adalah pelayanan terhadap pasien yang
dalam keadaan bahaya atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat kekerasan
yang sedang berlangsung atau kekerasan yang akan datang.

3
BAB II

RUANG LINGKUP

A. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup dari panduan pelayanan pasien dengan kebutuhan


khusus hanya di berlakukan pada semua staf pemberi pelayanan kesehatan di
RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas

4
BAB III

TATA LAKSANA

Rumah sakit menetapkan kriteria tertulis tentang asesmen tambahan, khusus


atau lebih mendalam perlu dilaksanan populasinya seperti pasien anak-anak, dewasa
muda, lanjut usia yang lemah, pasien dengan rasa nyeri yang kronis dan intens, pasien
dengan infeksi atau penyakit menular.Kriteria tentang asesmen tambahan, khusus atau
lebih mendalam disusun oleh Kelompok Staf Medis Rumah Sakit. Proses asesmen
untuk populasi pasien dengan kebutuhan khususnya dapat dimodifikasi secara tepat
sehingga mencerminkan kebutuhannya, dengan melibatkan keluarga bila perlu sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi yang dapat diterima oleh budaya dan diperlakukan
secara konfidensial
Bila Pasien yang teridentifikasi kebutuhan tambahan asesmen khusus seperti
kebutuhan khusus akan jantung, hipertensi, diabetes mellitus dan lain-lain dirujuk ke
pemberi pelayanan kesehatan yang berkompeten baik di internal rumah sakit maupun
eksternal rumah sakit apabila pelayanan yang dibutuhkan tidak tersedia di dalam
rumah sakit pasien dirujuk keluar rumah sakit. Asesmen khusus yang dilakukan
dilengkapi dan dicatat dalam rekam medis pasien.

Berikut ini adalah panduan tatalaksana pelayanan Asesmen tambahan / khusus:

1. ASUHAN PASIEN LANJUT USIA

dengan ketergantngan bantuan diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang


sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Muara
Beliti Kabupaten Musi Rawas. Pemberian asuhan untuk pasien yang rentan dan
lanjut usia dengan ketergantungan sesuai dengan kebijakan dan prosedur
meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.

Pasien yang rentan, lanjut usia yang tidak mandiri menerima asuhan sesuai
kebijakan dan prosedur dengan tujuan untuk menghasilkan proses asuhan yang
efisien dan lebih efektif dalam bentuk pelayanan dan didokumentasikan dalam
rekam medis.

5
2. PASIEN DENGAN RASA NYERI YANG KRONIS DAN INTENS

a. Asesmen nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale


Gambar NRS (Numerical Rating Scale)

a. Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang dapat
menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya
b. Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan
dilambangkan dengan angka antara 0 – 10
 0 = tidak nyeri
 1 – 3 = nyeri ringan (sedikit menganggu aktivitas sehari-hari).
 4 – 6 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari).
 7 – 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari).
c. Pada pasien yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan
angka, gunakan asesmen Wong Baker FACES Pain Scale sebagai berikut:

d. Perawat menanyakan mengenai faktor yang memperberat dan memperingan


nyeri kepada pasien.
e. Tanyakan juga mengenai deskripsi nyeri :
1)Lokasi nyeri
2)Kualitas dan atau pola penjalaran / penyebaran
3)Onset, durasi, dan faktor pemicu
4)Riwayat penanganan nyeri sebelumnya dan efektifitasnya
5)Efek nyeri terhadap aktivitas sehari-hari
6)Obat-obatan yang dikonsumsi pasien
f. Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedang,
asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon
berupa ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri.

6
g. Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa
jam dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut:
Asesmen ulang nyeri adalah prosedur menilai ulang derajat nyeri pada pasien
yang bertujuan untukmengevaluasi intervensi yang telah dilakukan terkait
penatalaksanaan nyeri yang telah diberikan, dengan interval waktu sesuai
kriteria sebagai berikut :

1. Menit Setelah Intervensi Obat Injeksi


2. 1 Jam Setelah Intervensi Obat Oral Atau Lainnya
3. 1 X / Shift Bila Skor Nyeri 1 – 3
4. Setiap 3 Jam Bila Skor 4 -6
5. Setiap 1 Jam Bila Skor Nyeri 7 – 10
6. Dihentikan bila skor nyeri 0
h. Tatalaksana Nyeri:
1. Berikan analgesik sesuai dengan anjuran dokter
2. Perawat secara rutin (setiap 4 jam) mengevaluasi tatalaksana nyeri kepada
pasien yang sadar / bangun
3. Tatalaksana nyeri diberikan pada intensitas nyeri ≥4. Asesmen dilakukan 1
jam setelah tatalaksana nyeri sampai intensitas nyeri ≤ 3
4. Sebisa mungkin, berikan analgesik melalui jalur yang paling tidak
menimbulkan nyeri
5. Nilai ulang efektifitas pengobatan
6. Tatalaksana Non-farmakologi
a) Berikan heat / cold pack
b) Lakukan reposisi, mobilisasi yang dapat ditoleransi oleh pasien

c) Latihan relaksasi, seperti tarik napas dalam, bernapas dengan irama /


pola teratur, dan atau meditasi pernapasan yang menenangkan
d) Distraksi / pengalih perhatian

i. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai:


1. Faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab nyeri
2. Menenangkan ketakutan pasien
3. Tatalaksana nyeri
4. Anjurkan untuk segera melaporkan kepada petugas jika merasa nyeri
sebelum rasa nyeri tersebut bertambah parah

3. ASESMEN PEDIATRIK

7
Penting untuk melakukan pemeriksaan sistematis karena anak sering tidak
dapat mengungkapkan keluhannya secara verbal.Amati adanya pergerakan
spontan pasien terhadap area tertentu yang di lindungi. Tahapan asesmen berupa:
1) Keadaan umum:
a) Tingkat kesadaran, kontak mata, perhatian terhadap lingkungan sekitar
b) Tonus otot: normal, meningkat, menurun/fleksid
c) Respons kepada orang tua/pengasuh: gelisah, menyenangkan
2) Kepala:
a) Tanda trauma
b) Ubun – ubun besar (jika masih terbuka): cekung atau menonjol

3) Wajah:

a) Pupil: Ukuran, kesimetrisan, refleks cahaya


b) Hidrasi: air mata, kelembaban mukosa mulut

4. ANAK - ANAK
Penting untuk melakukan pemeriksaan karena anak atau bayi sering tidak dapat
mengungkapkan keluhannya secara verbal dan amati adanya pergerakan spontan
anak atau bayi terhadap area tertentu yang dilindungi.Tahapan asesmen
keperawatan anak dan neonatus :
1) Identitas meliputi nama, tanggal lahir, jenis kelamin, tanggal dirawat,
tanggal pengkajian dan diagnose
2) Keluhan utama :

a) Riwayat penyakit sekarang

b) Riwayat penyakit dahulu


c) Riwayat penyakit keluarga
d) Riwayat imunisasi BCG, DPT, Polio, Hepatitis dll
e) Riwayat alergi
3) Pertumbuhan dan perkembangan
4) Rasa nyaman Neonatal Infant Paint Scale (NIPS) rentang 0-7 semakin
tinggi score semakin nyeri
5) Dampak hospitalisasi (Psikososial): orang tua,anak tenang, takut, marah,
sedih, menangis, gelisah
6) Pemeriksaan fisik :

 Acral hangat, kering, merah, pucat dingin

 Conjungtiva anemis ya/tidak

 Sklera mata icterus, hiperemis

8
 Panca indera tidak ada gangguan/ada

 Tingkat kesadaran berespon terhadap nyeri ya/tidak

 Tangisan kuat, lemah, tidak ada, melengking, merintih

 Kepala lingkar kepala, kelainan ada/tidak ada dan ubun-ubun datar


,cekung /cembung

 Pupil bereaksi terhadap cahaya ya/tidak

 B4

 Kebersihan bersih, kotor, dan secret ada/tidak

 B5

7) Sosial ekonomi

 Kontak mata ya/tidak

8) Persiapan Pemberian Obat

Keamanan penanganan obat sitostatika merupakan hal yang penting yang


harus diperhatikan oleh dokter,perawat,farmasi,pasien,Gudang/distribusi
obat,oleh karena itu persiapan harus sesuai prosedur.

BAB III
DOKUMENTASI

9
A. Semua asesmen tambahan didokumentasikan direkam medis meliputi:
1. Pengkajian secara keseluruhan terhadap pasien, menegakkan diagnosa,
menyusun intervensi, melakukan implementasi dan membuat evaluasi
akhir dari pelayanan yang telah kita berikan kepadan pasien tersebut.
2. Pembuatan asuhan pasien secara tim yang berkesinambungan antara
dokter, perawat, PPK lain yang memberikan asuhan pasien serta staf
rehabilitasi medik pasien.
3. Melakukan ronde pasien dengan multi departemen agar dapat mengetahui
keadaan pasien serta dapat membuat asuhan yang berkesinambungan.
4. Membuat dokumentasi dalam bentuk rekam medis terhadap pelayanan
yang telah diberikan kepada pasien baik secara verbal maupun nonverbal.

10
BAB IV
PENUTUP

Panduan pelayanan pasien ini dibuat untuk menjadi acuan bagi dokter,
perawat, PPK lain yang memberikan asuhan diantara nya pada pasien anak-anak,
dewasa muda, lanjut usia yang lemah, dengan nyeri yang kronis dan intens, infeksi
atau penyakit menular, dalam melakukan pelayanan kepada pasien RSUD Muara Beliti
Kabupaten Musi Rawas. Panduan ini mencakup cara – cara bagaimana mengelola
pelayanan pasien dengan Asesmen tambahan. Semoga dengan adanya panduan ini
dapat meningkatkan layanan asuhan terhadap pasien di RSUD Muara Beliti Kabupaten
Musi Rawas.

11