Anda di halaman 1dari 27

TAFSIR TARBAWI:

PENDIDIKAN MASJID (TEMPAT IBADAH)


DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Disusun oleh: Dodi Irwandi (11011100462)

A. Pendahuluan
Masjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat
sujud, dan mesjid yang berukuran kecil disebut musholla, langgar atau surau.
Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas
muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah
dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah
Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan
hingga kemiliteran. 1
Selain itu masjid juga merupakan sarana pendidikan Islam karena
bagaimanpun Penyelenggaraan pendidikan agama Islam dan perkembangannya
tidak terlepas dari jasa besar masjid. Hidup sebagai muslim tidak dapat
dipisahkan dari keberadaan masjid, karena beberapa ibadah wajib diantaranya
harus dilaksanakan di masjid. Ibadah tersebut juga berarti praktek pendidikan
agama Islam yang sudah kita dapat sejak kecil, seperti sholat berjamaah dan
sholat jum’at. 2
Salah satu fungsi masjid dalam islam adalah sebagai tempat pendidikan
dan pengajaran. Beberapa masjid, terutama masjid yang didanai oleh
pemerintah, biasanya menyediakan tempat belajar atau sekolah, yang
mengajarkan baik ilmu keislaman maupun ilmu umum. Sekolah ini memiliki
tingkatan dari dasar sampai menengah, walaupun ada beberapa sekolah yang
menyediakan tingkat tinggi. Beberapa masjid biasanya menyediakan pendidikan
paruh waktu, biasanya setelah subuh, maupun pada sore hari. Pendidikan di
masjid ditujukan untuk segala usia, dan mencakup seluruh pelajaran, mulai dari
keislaman sampai sains. Selain itu, tujuan adanya pendidikan di masjid adalah

1
Moh. E. Ayob, dkk, Manajemen Masjid, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 141.
2
http://id.wikipedia.org/wiki/masjid. Diakses tanggal 06 Januari 2013 jam 13.20 wib.

1
untuk mendekatkan generasi muda kepada masjid. Pelajaran membaca Qur'an
dan bahasa Arab sering sekali dijadikan pelajaran di beberapa negara
berpenduduk Muslim di daerah luar Arab, termasuk Indonesia.3
Ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan
Beliau adalah membangun sebuah masjid kecil yang berlantaikan tanah dan
beratapkan pelepah kurma. Dari sana beliau membangun masjid yang besar,
mambangun dunia yang besar, sehingga kota tempat beliau membangun itu
benar-benar besar menjadi Madinah yang arti harfiyahnya adalah tempat
peradaban. Atau paling tidak lahir peradaban baru. Masjid yang pertama
dibangun Rasulullah ini bernama Quba’ lalu disusul masjid Nabawi. Maka
dimasjid inilah Rasulullah melakukan segala aktifitas mulai dari dakwah, politik,
ekonomi, sosial, budaya, sampai pendidikan.4
Salah satu contoh masjid yang digunakan sebagai sarana pendidikan
adalah pada masa khalifah Abbasiyah, dimana masjid digunakan sebagai tempat
pertemuan ilmiah bagi para sarjana dan ulama. Selain itu Masjidil haram
misalnya, masjid ini selain digunakan sebagai tempat ibadah juga digunakan
untuk mendalami ilmu-ilmu agama berbagai madzhab.5
Adapun fungsi masjid yang ada di pedesaan cuma sebatas sarana untuk
beribadah seperti, shalat, mengaji saja, dan belum banyak yang menjadikan
mesjid di pedesaan/pedalaman sebagai tempat pendidikan yang sudah
berkembanga saat ini.
Al-Qur’an sebagai sumber utama pendidikan Islam banyak mengungkap
tentang pendidikan. Salah satunya adalah mengenai fungsi masjid, maka
pertanyaan mendasar yang menjadi problem pokok dalam makalah ini adalah;
apa itu pendidikan masjid?, apa tujuan pendidikan masjid?, siapa yang menjadi
peserta didik pendidikan masjid?, seperti apa metode pendidikan masjid?,
bagaimana lingkungan pendidikan masjid? dan bagaimana sistem evaluasi

3
http://jakabillal.blogspot.com/2011/04/makalah-fungsi-masjid-sebagai-sarana.html.
Diakses tanggal 06 Januari 2013 jam 13.07 wib.
4
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan
Umat, (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 461.
5
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), hlm. 286.

2
pendidikan dalam masjid?. Melalui fokus kajian tersebut akan memberikan
pemahaman kepada penulis dan pembaca mengenai konsep pendidikan mesjid.

B. Pengertian Pendidikan Masjid


Kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di dalam al-
Qur’an. 6 Kata masjid berasal dari bahasa Arab, sajada (fiil madi) yusajidu
(mudhari’) masaajid/sajdan (masdar), artinya tempat sujud. 7 Dalam bahasa
Inggris disebut dengan mosque. 8 Kata mosque ini berasal dari kata mezquita
dalam bahasa Spanyol. Dan kata mosque kemudian menjadi populer dan dipakai
dalam bahasa Inggris secara luas9.
Dalam pengertian yang lebih luas berarti tempat solat dan bermunajat
kepada Allah sang pencipta khalid dan tempat merenung dan menata masa
depan(zikir). Dari perenungan terhadap penciptaan Allah tersebut, masjid
berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan. Tetapi karena akar katanya
mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan
segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu
al-Qur’an surat al-Jin (72) ayat 18, misalnya menegaskan bahwa:
    
   
Artinya: Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka
janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping
(menyembah) Allah.(Q.S. al-Jin [72] ayat18)
Dengan demikian, masjid menjadi pangkal tempat muslim bertolak dan
pelabuhan tempat bersauh.10

6
M. Quraish Shihab, Op. Cit.,hlm. 459.
7
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era
Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 116.
8
John M. Echols & Hassan Sadhily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2008), hlm. 386.
9
www.google.com/mosque.html. Diakses tanggal 06 Januari 2013 jam 13.20 wib.
10
M. Quraish Shihab, Op. Cit., hlm. 459-460.

3
Pendidikan pula dapat diartikan dengan proses transformasi ilmu
pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik, agar ia memiliki sikap dan
semangat yang tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya, sehingga
terbentuk ketakwaan, budi pekerti dan pribadi yang luhur. 11 Pendidikan juga
dapat diartikan bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan
jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang
utama.12
Dari pengertian di atas dapat digarisbawahi, bahwa dalam pendidikan
ada sebuah proses dan transformasi pengetahuan dari pendidik terhadap peserta
didik. Sehingga terjadi suatu perubahan ke arah yang positif pada peserta didik,
baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomutorik. Dengan kata lain,
pendidikan merupakan suatu sistem, antara sub sistem dangan yang lainnya
saling berkaitan.13
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa yang dimaksud dengan
pendidikan masjid adalah proses transformasi ilmu pengetahuan yang
dilaksanakan di dalam masjid. sebagaimana firman Allah Swt:
    
  
  
    
    
   
Artinya: hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka

11
Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkair, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada
Media, 2006), hlm.12-13.
12
Zuhairini dan Abdul Ghafir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
(Malang: UM PRESS, Cetakan Pertama, 2004) hlm. 1.
13
M. Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang, Bayumedia Publishing, edisi kedua
cetakan pertama, 2006), hlm. 116.

4
merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk. (Q.S. at-Taubah [9] ayat 18).14
Menurut Al-Maraghi, kata imarat terkadang diartikan menetap dan
bermukim di dalamnya untuk beribadah, yang termasuk di dalamnya bimbingan
dan pendidikan. Sementara menurut Ash-Shabuni, yang dimaksud dengan
“innamaa ya’muru masaajidillah” adalah; sesungguhnya orang-orang yang mau
memakmurkan dan menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan yang terpuji,
hanyalah orang Islam. Dengan demikian masjid harus dijadikan sebagai suatu
lingkungan yang mengarahkan kepada terbentuknya individu dan masyarakat
yang terpuji, yang senantiasa mendasarkan perbuatannya kepada prinsip-prinsip
dasar keimanan. 15 Dari kedua penjelasan ulama ini jelaslah bahwa masjid
disamping sebagai tempat ibadah juga menjadi sarana/ lembaga pendidikan yang
sekarang dikenal dengan Istilah Pendidikan Berbasis Masjid (PBM).
Al-‘Abdi menyatakan bahwa masjid merupakan tempat terbaik tempat
terbaik untuk kegiatan pendidikan. Dengan menjadikan lembaga pendidikan
dalam masjid, akan terlihat hidupnya Sunnah-sunnah Islam, menghilangkan
segala bid’ah, mengembangkan hukum-hukum Tuhan, serta menghilangnya
stratifikasi status sosial-ekonomi dalam pendidikan.karena itu, masjid
merupakan lembaga kedua setelah lembaga pendidikan keluarga, yang terdiri
dari sekolah menengah dan sekolah tinggi pada waktu yang sama.16

C. Tujuan Pendidikan Masjid


Istilah “tujuan” atau “sasaran” atau “maksud”, dalam bahasa Arab
dinyatakan dengan ghayat atau ahdaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa
Inggris, istilah “tujuan” dinyatakan dengan goal atau purpose atau objective atau
aim. Semua istilah ini mengandung arti yang sama yaitu arah suatu perbuatan
atau yang ingin dicapai melalui upaya atau aktivitas.17

14
Al-Qur’an dan terjemahnya. 1993. Depag RI
15
Nurwajah Ahmad E.Q., Tafsir Ayat-ayat Pendidikan: Hati yang Selamat Hingga
Kisah Lukman, (Bandung: Penerbit Marja, 2010), hlm. 147.
16
Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkair, Op. Cit., hlm.231-232.
17
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 222.

5
Tujuan, menurut Zakiah Drajat adalah sesuatu yang diharapkan tercapai
setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan As-Syaibani menyebut
tujuan dengan istilah matlamat (tanda-tanda), ramalan, hasil, keinginan, nilai-
nilai dan hubungannya, yakni: a. Hubungan antara tujuan dan tanda-tanda b.
Hubungan antara tujuan dengan ramalan c. Hubungan antara tujuan dan hasil d.
hubungan antara tujuan dan keinginan e. Hubungan antara tujuan dan nilai-
nilai.18
Ahmad D. Marimba pula mengatakan bahwa tujuan adalah standar usaha
yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan
merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu,
tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus kepada
apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian
atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.19
Dalam tujuan pendidikan yang ingin dicapai pendidikan masjid adalah:
1. Menjadi hamba Allah, sebagaimana firmannya:

    


 
Artinya: Dan aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. al-Zhariat [51] ayat 56)
Tujuan ini sejalan dengan tujuan dan peciptaan manusia, yaitu untuk
semata-mata beribadah kepada Allah. Dalam hal ini, pendidikan harus
memungkinkan manusia memahami dan menghayati tentang Tuhannya
sedemikian rupa, sehingga semua peribadatannyadilakukan dengan
penuh penghayatan dan kekhusyukan terhadapnya, melalui seremoni
ibadah dan tunduk senantiasa pada syari’ah dan petunjuk Allah.
2. Mengantarkan peserta didik menjadi khalifah Allah fi al-Ardh, yang
mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya, dan lebih jauh lagi,

18
Ramayulis, Op. Cit., hlm. 133.
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: al-Ma’arif, 1989),
19

hlm. 45-46.

6
mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan
penciptaannya, dan sebagai konsekuensinya setelah menerima Islam
sebagai pedoman hidup. Sebagaimana firman Allah Swt:
   
... 
Artinya: Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di
bumi...(Q.S. al-An’am [6] ayat 165).
Firman Allah juga:
   
 
Artinya: Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya’ [21] ayat 107)
Tujuan ini dalam rangka mengupayakan peserta didik mampu menjadi
khalifah Allah di mukan bumi ini, memanfaatkan, memakmurkannya,
mampu merealisasikan eksistensi Islam yang rahmatan lil alamin.
Dengan demikian peserta didik mampu melestarikan bumi Allah ini,
mengambil manfaat, untuk kepentingan dirinya, untuk kepentingan umat
manusia, serta untuk kemashlahatan semua yang ada di alam ini.
3. Untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup di dunia sampai
akhirat, baik individu maupun masyarakat. Firman Allah Swt:
   
    
   
   
    
      
 
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...(Q.S. al-Qashshas [28] ayat 77)

7
Ketiga tujuan ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena
pencapaian tujuan yang satu memerlukan pencapaian tujuan yang lain, bahkan
secara ideal ketiga-tiganya harus dicapai secara bersamaan melalui proses
pencapaian yang sama dan seimbang.20

D. Peserta Didik Pendidikan Masjid


Dalam istilah tasawuf, peserta didik seringkali disebut dengan “murid”
atau “thalib”. Secara etimologi, murid berarti “orang yang menghendaki”.
Sedangkan menurut arti terminologi, murid adalah “pencari hakikatdi bawah
bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (mursyid). Sedangkan
thalib secara bahasa berarti “orang yang mencari” dan secara istilah tasawuf
adalah penempuh jalan spiritual, dimana ia berusaha keras menempah dirinya
untuk mencapai derajat sufi.
Istilah murid atau thalib ini sesungguhnya memiliki kedalaman makna
daripada penyebutan siswa. Artinya, dalam proses pendidikan itu adanya
individu yang sungguh-sungguh menghendaki dan mencari ilmu pengetahuan.
Hal ini menunjukkan bahwa perlunya keaktifan peserta didik dalam
pembelajaran.21
Dalam bahasa Arab pula dikenal tiga istilah yang sering digunakan untuk
menunjukkan kepada anak didik. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara
harfiah berarti orang yang membutuhkan sesuatu, tilmidz yang berarti murid dan
tholib-al-ilmi yang menuntut ilmu, pelajar atau mahasiswa. Ketiga istilah ini
mengacu kepada seseorang yang sedang menempuh pendidikan.22
Sedangkan yang dimaksud peserta didik di pendidikan masjid adalah
semua orang yang membutuhkan ilmu. Artinya tidak ada perbedaan bagi siapa
yang ingin menuntut ilmu di pendidikan masjid (untuk semua usia/pendidikan
sepanjang masa). Contohnya banyak remaja yang bersekolah umum tidak
mampu membaca al-Qur’an, maka masjid menyediakan jawabannya melalui

20
Ramayulis, Op. Cit., hlm. 135-136.
21
Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkair, Op. Cit., hlm.103.
22
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Griya Media Pratama, 2005), hlm.
79.

8
belajar mengaji. Bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang ingin mendalami agama,
masjid juga menyediakan solusinya yaitu melalui wirid pengajian, tausiyah,
ceramah agama, dsb. Bahkan pemerintah sekarang mencanangkan pendidikan
PAUD berbasis masjid(dipusatkan di masjid).23
Yang terpenting adanya kemauan untuk menuntut ilmu, karena manusia
telah diberikan Allah alat/potensi untuk memperoleh ilmu. Sebagaimana firman
Allah Swt:
   
  
  
   

Artinya: Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan


bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu
bersyukur.(Q.S. al-Mulk [67] ayat 23).

Allah juga berfirman:

   


   
  
  
  

Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan
tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan
dan hati, agar kamu bersyukur.(Q.S. al-Nahl [16] ayat 78)

Dari dua ayat ini dapat diambil kata kunci “pendengaran”, “penglihatan”
dan “hati” sebagai tanda bahwa Allah telah memberi potensi kepada manusia
untuk berfikir(belajar).

Seiring dengan perkembangan zaman, maka dalam menjalankan


fungsinya sebagai tempat pendidikan dan lembaga pembinaan masyarakat Islam

23
www.kompas.com diakses tanggal 06 Januari 2013 jam 14.05 wib.

9
yang didirikan atas dasar takwa dan fungsinya untuk mensucikan masyarakat
Islam yang dibinanya, maka ada sekarang istilah Remaja Mesjid, yang mana
peserta didiknya adalah remaja-remaji muslim. Jadi, para remaja ini akan
diberikan pembinaan dan bimbingan agama dan moral secara rasional.

Disamping itu juga, dengan adanya remaja masjid, para remaja dapat
berdiskusi, bermusyawarah, belajar bertanggungjawab melalui wahana
organisasi, telindung dari pengaruh negatif dan dapat menyalurkan hobi yang
bermanfaat serta berkesenpatan mengikuti olahraga yang diminati.24

E. Metode Pendidikan Masjid


Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab al-Quran yang
lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat
universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam
yang prinsip dasarnya dari al-Qur’an. Diantara metode tersebut adalah:25
1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui penuturan
secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini
terdapat di dalam al-Qur’an:
   
   
   
  
   
   
  
  
Artinya: Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka
membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai
manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu
sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi,

24
Moh. E. Ayub, dkk, Op. Cit., hlm.142
25
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Citra, 2007), hlm. 6

10
kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus [10] ayat 23)

2. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan
pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta
didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau
menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah.
Abdurrahman Anahlawi 26 menyebut metode ini dengan sebutan hiwar
(dialog). Prinsip dasar metode ini terdapat dalam al-Qur’an yang
berbunyi :
َ َ‫ش ُروا الَّذِّين‬
‫ظلَ ُموا‬ ُ ْ‫اح‬ َ‫ص ِّل الَّذِّي ُكنتُم بِّ ِّه تُك َِّذبُون‬ ْ َ‫ِّين َهذَا يَ ْو ُم ْالف‬
ِّ ‫َوقَالُوا يَ َاو ْيلَنَا َهذَا يَ ْو ُم الد‬
‫اط ا ْل َج ِّح ِّيم‬ ِّ ‫َوأ َ ْز َوا َج ُه ْم َو َماكَانُوا يَ ْعبُدُونَ ِّمن د‬
ِّ ‫ُون هللاِّ فَا ْهد ُو ُه ْم إِّلَى‬
ِّ ‫ص َر‬

Dan mereka berkata:”Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.


Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya(kepada
Malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim
beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu
mereka sembah,Selain Allah; Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke
neraka. (Q.S. Assafat [37] ayat 20-23).

Selain itu terdapat juga dalam hadits yang berbunyi :

‫ي ْبنُ حُجْ ٍر قَ َاَل َحدَّثَنَا إِّ ْس َم ِّعي ُل َوه َُو ا ْبنُ َج ْعفَ ٍر َع ْن ْالعَ ََل ِّء َع ْن أ َبِّي ِّه َع ْن‬ َ ُ‫َحدَّثَنَا قُت َ ْيبَةُ ْبن‬
ُّ ‫س ِّعي ٍد َو َع ِّل‬
‫س فِّينَا َم ْن ََل‬ ُ ‫س قَالُوا ْال ُم ْف ِّل‬ ُ ‫سلَّ َم قَا َل أ َتَد ُْرونَ َما ْال ُم ْف ِّل‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِّه َو‬ َ ِّ‫َّللا‬َّ ‫سو َل‬ ُ ‫أَبِّي ه َُري َْرة َ أ َ َّن َر‬
َ ْ‫صيَ ٍام َوزَ كَاةٍ َويَأْتِّي قَد‬
‫شت ََم‬ ِّ ‫ص ََلةٍ َو‬ َ ‫س ِّم ْن أ ُ َّمتِّي يَأْتِّي يَ ْو َم ْال ِّقيَا َم ِّة ِّب‬ َ ‫ع فَقَا َل ِّإ َّن ْال ُم ْف ِّل‬ َ ‫د ِّْره ََم لَه ُ َو ََل َمت َا‬
َ ‫سنَاتِّ ِّه َو َهذَا ِّم ْن َح‬
‫سنَاتِّ ِّه‬ َ ‫طى َهذَا ِّم ْن َح‬ َ ‫ب َهذَا فَيُ ْع‬ َ ‫س َفكَ دَ َم َهذَا َو‬
َ ‫ض َر‬ َ ‫ف َهذَا َوأَ َك َل َما َل َهذ َا َو‬ َ َ‫َهذَا َو َقذ‬
ِّ َّ‫ط ِّر َح ِّفي الن‬
.‫ار‬ ُ ‫ت َعلَ ْي ِّه ث ُ َّم‬
ْ ‫ط ِّر َح‬ َ ‫ضى َما َعلَ ْي ِّه أ ُ ِّخذَ ِّم ْن َخ‬
ُ َ‫طا َيا ُه ْم ف‬ َ ‫سنَاتُهُ قَ ْب َل أ َ ْن يُ ْق‬
َ ‫ت َح‬ ْ ‫فَإ ِّ ْن فَ ِّن َي‬

26
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Op. Cit., hlm. 194

11
Artinya: Hadis Qutaibah ibn Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya
hadis Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’ dari ayahnya dari Abu
Hurairah ra. bahwassnya Rasulullah Saw. bersabda: Tahukah kalian
siapa orang yang muflis (bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak
memiliki dirham dan harta.Rasul bersabda; Sesungguhnya orang yang
muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan
(pahala) salat, puasa dan zakat,. Dia datang tapi telah mencaci ini,
menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah
(membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala
miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus
kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan
kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka.(Muslim, t.t, IV: 1997)

3. Metode kisah27
Yaitu memberikan materi pelajaran melalui kisah atau cerita. Prinsip
dasar ini diambil dari Al-Quran surat Al_Qashas ayat 76:
     
   
  
   
 
   
      
  
Artinya: “Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, Maka ia
berlaku aniaya terhadap mereka, dan kami Telah menganugerahkan
kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat
dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya
Berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan
diri".(Q.S. al-Qashas [28] ayat 76)

27
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 175.

12
Dalam mengemukakan kisah-kisah, al-Qur’an tidak segan-segan untuk
menceritakan “kelemahan manusiawi”. Namun hal tersebut digambarkan
sebagaimana adanya tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat
mengundang tepuk tangan atau rangsangan. Kisah itu biasanya diakhiri
dengan akibat dari kelemahan itu atau melukiskan saat kesadaran
manusia atas kesadarannya mengakhiri kelemahan tadi. Contohnya kisah
qarun yang mengakui bahwa harta yang diperolehnya hasil usahanya
sendiri sehingga membuat orang-orang kagum. Lalu Allah
menenggelamkannya dan hartanya sehingga membuat orang yang
mengaguminya menyadari bahwa orang yang durhaka tidak akan pernah
beroleh keberuntungan
4. Metode al-Hikmah, Mau’izah al-Hasanah dan al-Mujadalah28
Ketiga metode ini tergambar dalam Surat al-Nahl (16) ayat 125, yaitu:
   
 
  
    
    
    
 
Artinya:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah 29
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk.”
a. Tafsir (Pendapat Ulama)
Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW
dianjurkan untuk meniru Nabi Ibrahim yang memiliki sifat-sifat

28
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Op Cit., hlm. 193.
Lihat juga Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi, (Pekanbaru: Zanafa Publishing, 2011),
hlm 117-121.
29
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang
hak dengan yang bathil.

13
mulia, yang telah mencapai puncak derajat ketinggian martabat
dalam menyampaikan risalahnya30. Allah berfirman31:
   
  
    
 
Artinya: Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad):
“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Seruan disini dengan macam-macam nasihat dan pengajaran yang
telah Allah terangkan dalam Al-Qur’an untuk menjadi hujjah
terhadap mereka, dan debatlah dengan cara yang paling baik.32
b. Metode Al-Hikmah ( ‫) الحكمة‬
Dalam bahasa Arab Al-hikmah artinya ilmu, keadilan, falsafah,
kebijaksanaan, dan uraian yang benar. Al-hikmah berarti mengajak
kepada jalan Allah dengan cara keadilan dan kebijaksanaan, selalu
mempertimbangkan berbagai faktor dalam proses belajar mengajar,
baik faktor subjek, obyek, sarana, media dan lingkungan pengajaran.
Pertimbangan pemilihan metode dengan memperhatikan audiens
atau peserta didik diperlukan kearifan agar tujuan pembelajaran
tercapai dengan maksimal.
Imam Al-Qurtubi menafsirkan Al-hikmah dengan “kalimat yang
lemah lembut”. Beliau menulis dalam tafsirnya :
‫ وهكذا ينبغي أن‬,‫وأمره أن يدعو إلى دين هللا وشرعه بتلطف ولين دون مخاشنة وتعنيف‬
21 ‫يوعظ المسلمون إلى يوم القيامة‬
Nabi diperintahkan untuk mengajak umat manusia kepada “dinullah”
dan syariatnya dengan lemah lembut tidak dengan sikap

30
Ibid., h. 289
31
Al-Qur’anul Karim Surat an-Nahl (16) ayat 123.
32
Hasbi Ash - Shiddieqy, Tafsir Al- Qur’anul Madjid”Annur” juz xv,(Jakarta: Bulan
Bintang, 1969), h. 157
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemahan al-Maraghi Jilid 14 , (Semarang: Toha
Putra, 1994), hlm. 287

14
bermusuhan. Hal ini berlaku kepada kaum muslimin seterusnya
sebagai pedoman untuk berdakwah dan seluruh aspek penyampaian
termasuk di dalamnya proses pembelajaran dan pengajaran.
Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar
manakala ada interaksi yang kondusif antara guru dan peserta didik.
Komunikasi yang arif dan bijaksana memberikan kesan mendalam
kepada para siswa, Guru yang bijaksana akan selalu memberikan
peluang dan kesempatan kepada siswanya untuk berkembang.
Al-Hikmah dalam Tafsir At-Tobari adalah menyampaikan sesuatu
yang telah diwahyukan kepada nabi. Ath-Thobari menguraikan33 :
22 ‫يقول بوحى بالحكمة وكتابه الذى نزله عليك هللا الذى يوحيه اليك‬
Hal ini hampir senada dengan Mustafa Al-Maroghi bahwa Al-
Hikmah yaitu perkataan yang kuat disertai dengan dalil yang
menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kesalah pahaman 34 .
Demikian pula dalam tafsir Al-Jalalain Al-hikmah diartikan dengan
Al-Qura’nul kariem sebagai sesuatu yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad SAW. An-Naisaburi menegaskan bahwa yang dimaksud
Al-hikmah adalah tanda atau metode yang mengandung argumentasi
yang kuat (Qoth’i) sehingga bermanfaat bagi keyakinan.
Pelaksanaan realisasi memerlukan seperangkat metode, metode itu
memerlukan pedoman untuk bertindak merealisasikan tujuan
pendidikan. Pedoman itu memang diperlukan karena pendidik tidak
dapat bertindak secara alamiah seja agar tindakan pendidikan dapat
dilakukan lebih efektif dan lebih efisien. Disinilah teladan
35
merupakan salah satu pedoman bertindak. Seorang guru
henndaknya tidak hanya mampu memerintahkan atau memberi teori
kepada siswa, tetapi lebih dari itu ia harus mampu menjadi panutan

33
Ja’far Muhmaad ibn Jarir Ath-Thobarii, Tafsir Ath-Thobari ; Jami’ul BAyan Ta’wilul
Qur’an, (Bairut-Libanon : Darul kutubul Ilmiuah, 1996), hlm. 663.
34
Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Op. Cit., hlm. 283.
35
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. 1994), hlm. 142 – 143.

15
bagi siswanya, sehingga siswa dapat mengikutinya tanpa merasakan
adanya unsur paksaan.36
c. Metode Mauizhah Hasanah ( ‫سنَ ِّة‬ ْ ‫ظ‬
َ ‫ةال َح‬ َ ‫) َو ْال َم ْو ِّع‬
‫ اَلد ﺐ الجميل الذي‬- ‫ مواعظةالقران‬- : ‫ذكره الزجاﺝ فى الموعظة الحسنة قوَلن‬
37
‫يعرفونه‬
Mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata “al-Mauizhah dan Hasanah”.
Al-mauizhah dalam tinjauan etimologi berarti “wejangan,
pengajaran, pendidikan, sedangkan hasanah berarti baik. Bila dua
kata ini digabungkan bermakna pengajaran yang baik. Mau’izhah
adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada
kebaikan. 38 Ibnu Katsir menafsiri Al-mauizhah hasanah sebagai
pemberian peringatan kepada manusia, mencegah dan menjauhi
larangan sehingga dengan proses ini mereka akan mengingat kepada
Allah.
At-Thobari mengartikan mauizhah hasanah dengan “Al-ibr al-
jamilah” yaitu perumpamaan yang indah bersal dari kitab Allah
sebagai hujjah, argumentasi dalam proses penyampaian. Pengajaran
yang baik mengandung nilai-nilai kebermanfaatan bagi kehidupan
para siswa. Mauizhah hasanah sebagai prinsip dasar melekat pada
setiap da’i (guru, ustadz, mubaligh) sehingga penyampaian kepada
para siswa lebih berkesan. Siswa tidak merasa digurui walaupun
sebenarnya sedang terjadi penstranferan nilai.
Imam Jalaludin Asy-Suyuthi dan Jalaludin Mahali39 mengidentikan
kata “Al-Mau’izhah” itu dengan kalimat ‫ مواعظه أو القول الرقيق‬artinya
perkataan yang lembut. Pengajaran yang baik berarti disampaikan
melalui perkataan yang lembut diikuti dengan perilaku hasanah

36
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat
Press, 2002) hlm. 118 -119.
37
Imam Abi Al-Farj Jamaluddin Abd. Ar Rahman, Kitab Zadul Masir fi
‘Ilmuttafsir, (Bairut, Libanon: Darul Kitab Al – ‘Amaliyah, 1994), hlm. 359
38
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 6, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 775
39
Jalaluddin as-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir Jalalain: Berikut Asbabun
Nuzul Ayat, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1997) hlm. 173.

16
sehinga kalimat tersebut bermakna lemah lembut baik lagi
baik. Dengan melalui prinsip mau’idzoh hasanah dapat memberikan
pendidikan yang menyentuh, meresap dalam kalbu. Metode ini juga
pleksibel bisa digunakan diberbagai kondisi, usia dan jenjang
pendidikan. Menurut Quraish Shihab metode ini cocok kepada orang
awam, sesuai dengan taraf pengetahuan mereka.
d. Metode Mujadalah ( ‫) َجاد ِّْل ُه ْم‬
‫وجادلهمباالﻂريقة التى هى أحسن الﻂريق‬
Kata mujadalah berasal dari kata “jadala” yang makna awalnya
percekcokan dan perdebatan. Kalimat “jadala” ini banyak terdapat
dalam al-Qur’an. Bahkan ada surat yang bernama “Al-Mujaadilah” (
perempuan-perempuan yang mengadakan gugatan). Mujadalah
dalam konteks dakwah dan pendidikan diartikan dengan dialog atau
diskusi sebagai kata berbantah-bantahan. Mujadalah berarti
menggunakan metode diskusi ilmiyah yang baik dengan cara lemah
lembut serta diiringi dengan wajah penuh persahabatan sedangkan
hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Metode penyampaian ini
dicontohkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun ketika berdialog-
diskusi dan berbantahan dengan Fir’aun. Sedangkan hasil akhirnya
dikembalikan kepada Allah SWT.
5. Metode Amtsal
Yaitu guru menyampaikan materi pembelajaran dengan membuat suatu
perumpamaan. Prinsip dasar metode tersebut terdapat dalam al-Quran
Surat al-A’raaf [7] ayat 176-17740
   
  
   
  
    
    
  
  
40
Al-Qur’anul Karim Surat al-A’raaf (7) ayat 176-177.

17
 
   
  
 
  

Artinya: (176) dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami


tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung
kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka
perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya
(juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar
mereka berfikir. (177) Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim. (al-A’raaf [7] ayat 176-177).
Bahwa (‫ )ولوشئنا لرفعنه بها‬Sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya)
dengan ayat-ayat itu dan menjadikan kalian kedudukan yang tinggi
melalui pengamalan ayat-ayat tersebut, akan tetapi dia cenderung kepada
dunia dan harta, lebih mencintai dunia dan mementingkan kenikmatan
dunia.41 Firman Allah:
‫ولكنه اخلد إلى األرض ولتبع هواه‬
Bagi orang-orang yang belum dihadapkan dengan kenikmata akhirat,
belum diberikan petunjuk dengan ayat-ayat Allah, lahir bathinnya belum
diberikan kesempurnaan dan belum bisa mensyukuri nikmat Allah
dengan adanya keridhoan-Nya.
‫ إن تحمل عليه يلهث او تتركه يلهث‬،‫فمثله كمثل الكلﺐ‬
Artinya:Perumpaman orang yang seperti itu bagaikan seekor anjing
yang lagi hina yaitu anjing yang apabila dihalau maka dia mengulurkan
lidahnya dan apabila dibiarkan maka dia mengulurkan lidahnya juga.

41
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemahan al-Maraghi Jilid 9 , (Semarang: Toha
Putra, 1994), hlm.199.

18
Ini merupakan sifat yang jelek dan hina yang diserupakan dengan seekor
anjing.42 Andaikan ada sifat orang yang serupa dengan seekor anjing ini
merupakan kejadian yang sangat aneh/asing, yaitu merupakan bagi
orang-orang hampa akan pengetahuan mengenai ayat-ayat Allah. Pada
ayat diatas, terdapat isyarat bahwa betapa besar manfaat pemberian
perumpamaan-perumpamaan seperti yang disebut pada ayat diatas,
dalam memberi keputusan hati, dan bahwa pengeruhnya lebih kuat
daripada sekedar memberi alasan-alasan dan bukti-bukti tanpa dibarengi
dengan perumpamaan. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah
Saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna,
sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang
konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi
sesuatu yang sangat jelas.
6. Metode Pemberian Tugas43
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang
guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan
hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid harus mempertanggung
jawabkannya. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam al-Qur’an yang
berbunyi :

  


   
   
   
   
  

Artinya :(1)Hai orang yang berkemul (berselimut), (2)Bangunlah, lalu


berilah peringatan!(3)Dan Tuhanmu agungkanlah!(4) Dan pakaianmu
bersihkanlah, (5) Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (6) Dan janganlah
kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih

42
Ibid., hlm. 201.
43
http://farhansyaddad.wordpress.com/2010/06/09/metode-pendidikan-islam/ diakses
tanggal 02 November 2012 jam 15.15 WIB

19
banyak. (7)Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.(Q.S.
al-Mudatsir [74] ayat 1-7).

F. Lingkungan Pendidikan Masjid


Lingkungan adalah mencakup segala material dan stimulasi di dalam dan
di luar diri individu, baik yang bersifat fisikologis, psikologis, maupun sosial-
kultural. Sedangkan menurut Zakiah Drajat lingkungan pendidikan adalah segala
sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa
berkembang. Ia adalah seluruh yang ada, baik manusia, atau benda buatan
manusia, yang bergerak dan tidak bergerak, kejadian-kejadian atau hal-hal yang
mempunyai hubungan dengan seseorang.44Lingkungan pendidikan ada tiga yaitu
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiganya saling terkait untuk
keberhasilan pendidikan.
Keberhasilan suatu pendidikan masjid juga ditentukan oleh
lingkungannya. Jika pendidikan yang dilakukan di masjid itu tidak didukung
oleh lingkungan yang baik, maka pendidikan yang dilaksanakan di masjid itu
tidak akan berjalan lancar. Sebagaimana firman Allah Swt:
   
  
   
   
   
   
   
    
Artinya: dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua
tangannya 45 [1064], seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil
jalan bersama-sama Rasul".) kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu)

44
www.google.com/download/12088494.pdf diakses tanggal 05 Januari 2013 jam
14.50 wib.
45
Menggigit tangan (jari) Maksudnya menyesali perbuatannya.

20
tidak menjadikan sifulan46 itu teman akrab(ku). (Q.S. al-Furqan [25] ayat 27-
28).
Ayat ini turun berkaitan dengan Ubay bin Khalaf dan Uqbah bin Abu
Mu’taitaith. Diceritakan tentang uqbah, walaupun ia belum masuk Islam, tetapi
hubungan pribadinya dengan Nabi cukup baik. Suatu hari Uqbah datang ke
rumahnya. Ketika makanan telah dihidangkan, Nabi belum mau makan jika
Uqbah belum mengucakapkan dua kalimat syahadat. Maka bersyahadatlah
Uqbah demi menhormati tamunya. Beberapa waktu kemudian, Uqbah bertemu
dengan Ubay yang sangat membenci Nabi, kemudian ia menceritakan peristiwa
tersebut. Maka Ubay mencela sikap Uqbah yang telah meninggalkan tradisi
leluhurnya. Karena kondisi Uqbah masih lemah, ia pun meminta nasehat Ubay
bagaimana caranya menarik kembali persaksian yang pernah ia ucapkan.
Menurur Ubay, caci maki dan meludahi muka Muhammad dengan begitu
berarti engkau tidak menuruti ajarannya yang sesat itu. Tanpa berpikir panjang
Uqbah langsung melakukan apa yang disarankan Ubay. Ketika beliau
menemukan Nabi sedang solat di Darul Nadwah, Nabi menyambutnya dengan
ucapan bahwa kelak diwaktu berjumpa di luar Makkah ia akan memotong kepala
Uqbah. Melihat peristiwa itu Ubay pun tertawa dan memuji Uqbah. Dalam hati
kecil Uqbag merasa perbuatan itu salah. Akhirnya, Nabi memerintahkan Ali
untuk membunuhnya. Sedangkan Ubay dibunuh oleh tangan Nabi sendiri pada
waktu perang uhud.
Dari riwayat diatas terlihat bahwa lingkungan, baik lingkungan keluarga,
masyarakat atau pertemanan, mempunyai pengaruh terhadap pola pikir
seseorang yang pada akhirnya termanifestasikan dalam tindakan.47

G. Evaluasi Pendidikan Masjid


Evaluasi secara bahasa berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang
berarti penilaian atau penaksiran.48Dalam bahasa Arab dijumpai istilah imtihan

46
Yang dimaksud dengan si Fulan, ialah syaitan atau orang yang telah menyesatkannya
di dunia.
47
Nurwajah Ahmad E.Q., Op. Cit., hlm. 144.

21
yang berarti ujian dan khataman yang berarti cara menilai hasil akhir dar proses
kegiatan. 49 Sedangkan secara istilah oleh Abudin Nata evaluasi adalah proses
membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu dalam rangka
mendapatkan informasi dan menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam
rangka membuat keputusan.50
Adapun bentuk evaluasi pada pendidikan masjid dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu:
1. Ujian, sebagaimana firman Allah Swt:
  
 
    
  
Artinya: yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun, Q.S. al-Muluk [67] ayat 2).
Pada ayat tersebut pada kata liyabluwakum menunjukkan bahwa proses
pengujian pada intinya melakukan penilaian terhadap amal yang
dilakukan. Seperti itu pula evaluasi, sehingga diketahui tercapai atau
tidaknya tujuan pendidikan.
2. Penskoran, sebagaimana firman Allah Swt:
     
    
   
   
  
    
    
Artinya: kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam

48
John M. Echols & Hassan Sadhily, Op. Cit., (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2008), hlm. 220.
49
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Griya Media Pratama, 2005), hlm.
307.
50
Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 307.

22
hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat
perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah
mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang
dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Q.S. al-
Baqarah [2] ayat 284).
Pada kata yuhasabu dijelaskan bahwa Allah mengadakan perhitungan
terhadap hambanya dengan tujuan mengetahui skor atau jumlah apa yang
telah dilahirkan oleh hati hambanya. Seperti halnya evaluasi pendidik
membuat penskoran terhadap hasil belajar peserta didik.
3. Tes dan Wawancara, sebagaimana firman Allah Swt:
   

Artinya: dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena
Sesungguhnya mereka akan ditanya:
ayat tersebut diatas menceritakan bahwa allah akan menanyakan semua
perbuatan hambannya di dunia. Dalam evaluasi pertanyaan , merupakan
salah satu teknik evaluasi seperti tes, wawancara.

H. Kesimpulan
Masjid yang fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah, juga
mempunyai fungsi lainnya yang juga tidak kalah penting adalah sebagai pusat
pendidikan Islam. Semenjak zaman Rasulullah sampai hari ini, pendidikan tidak
lepas dari peran penting masjid.
Didalam mesjid terjadi berbagai kegiatan pendidikan Islam seperti kajian
keislaman, ceramah, wirid pengajian, pembinaan remaja masjid dan lain
sebagainya yang mana semuanya berkaitan dengan pendidikan. Masjid sebagai
lembaga pendidikan bisa juga dikatakan sebagai lembaga pendidikan non-
formal.

23
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad E.Q., Nurwajah. 2010. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan: Hati yang Selamat

Hingga Kisah Lukman. Bandung: Penerbit Marja.

Arifin, M. 1991. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Al-Qur’an dan terjemahnya. 1993. Depag RI.

Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta:

Ciputat Press.

24
Ash – Shiddieqy, Hasbi. 1969. Tafsir Al- Qur’anul Madjid”Annur” juz xv.

Jakarta: Bulan Bintang.

D. Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: al-

Ma’arif.

Daryanto. 2007. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Citra

Djumransjah, M. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing,

edisi kedua cetakan pertama.

E. Ayob, Moh. dkk,. 1996. Manajemen Masjid. Jakarta: Gema Insani Press.

Imam Abi Al-Farj Jamaluddin Abd. Ar Rahman. 1994. Kitab Zadul Masir fi

‘Ilmuttafsir. Bairut, Libanon: Darul Kitab Al – ‘Amaliyah.

Jalaluddin as-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. 1997. Tafsir Jalalain: Berikut

Asbabun Nuzul Ayat. Bandung: Sinar Baru Algensindo

John M. Echols & Hassan Sadhily. 2008. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT

Gramedia Pustaka Utama.

Nata, Abudin. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Griya Media Pratama.

Nata, Abudin. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Nizar, Samsul. 2009. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah

Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana.

M. Yusuf, Kadar. 2011. Tafsir Tarbawi. Pekanbaru: Zanafa Publishing.

Muhmaad ibn Jarir Ath-Thobarii, Ja’far. 1996. Tafsir Ath-Thobari ; Jami’ul

BAyan Ta’wilul Qur’an. Bairut-Libanon : Darul kutubul Ilmiuah

Mujib, Abdul dan Muzakkair, Jusuf. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:

Kencana Prenada Media.

25
Mustafa Al-Maraghi, Ahmad 1994. Terjemahan al-Maraghi Jilid 14. Semarang:

Toha Putra.

Mustafa Al-Maraghi, Ahmad. 1994. Terjemahan al-Maraghi Jilid 9. Semarang:

Toha Putra

Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Shihab, M. Quraish. 1998. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu

dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Shihab, M. Quraish. 2005. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai

Persoalan Umat. Bandung: Mizan

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Volume 6. Jakarta: Lentera Hati..

Tafsir, Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya.

Zuhairini dan Ghafir. 2004. Abdul. Metodologi Pembelajaran Pendidikan

Agama Islam. Malang: UM PRESS.

http://farhansyaddad.wordpress.com/2010/06/09/metode-pendidikan-islam/

diakses tanggal 02 November 2012 jam 15.15 WIB

http://jakabillal.blogspot.com/2011/04/makalah-fungsi-masjid-sebagai-

sarana.html.

http://www.google.com/download/12088494.pdf diakses tanggal 05 Januari

2013 jam 14.50 wib.

26
http://www.google.com/mosque.html. Diakses tanggal 06 Januari 2013 jam

13.20 wib.

http://www.kompas.com diakses tanggal 06 Januari 2013 jam 14.05 wib.

http://id.wikipedia.org/wiki/masjid. Diakses tanggal 06 Januari 2013 jam 13.20

wib.

27