Anda di halaman 1dari 9

3.

1 Ilustrasi Kasus
Pihak RS Awal Bros Beberkan Kasus Maureen Chairul
04 Mar 2011 (Tangerang, Kompas.com)
Dugaan kasus malpraktik yang terjadi di Rumah Sakit Awal Bros Tangerang, Banten
terhadap bayi Maureen Angela berusia delapan bulan yang kini kehilangan jari kelingkingnya,
masih perlu pembuktian. Tim Kementerian Kesehatan juga telah diturunkan untuk mengawasi
penyelesaian kasus tersebut. Dalam jumpa pers yang digelar di lantai 5 RS Awal Bros
Tangerang, Kamis {3/3) sekitar pukul 13.00 WIB, Dr Elizabeth yang menangani Maureen
menjelaskan, Maureen datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada 16 November 2010
dengan alasan ndak sadar, kejang, nafas tersengal-sengal, denyut jantung sangat cepat, demam
tinggi, kekurangan cairan berat, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Menurutnya, tim dokter yang bertugas di IGD saat itu mengambil langkah-langkah medis untuk
mengatasi ke gawat daruratan tersebut "Maureen diberi cairan bicnat yang disuntikkan jarum
infus. Karena kandungan pH darahnya asam, maka diberi cairan bicnat sebelum dilakukan
tindakan, kami telah meminta persetujuan keluarga dan telah disetujui, papar Elizabeth. Jarum
infus yang terpasang di tangan Maureen dibalut dengan perban agar jarum tidak lepas.
"Langkah yang sama juga dilakukan bagi pasien anak. Pemantauan dilakukan dengan baik
terbukti aliran infus berjalan dengan baik," ungkapnya. Setelah itu, kondisi Maureen berangsur-
angsur membaik dan nyawanya terselamatkan. "Dengan membaiknya kesehatan Maureen,
maka kemungkinan tangan Maureen bergerak-gerak sehingga mengakibatkan cairan infus
merembes ke tangan," paparnya.
Rembesan itu mengakibatkan kerusakan pada ujung jari kelingking kanan. Kerusakan
jaringan tersebut merupakan suatu hal yang sangat tidak diharapkan terjadi. "Semua yang kami
lakukan itu adalah upaya untuk menyelamatkan nyawa pasien. Namun sampai dari resiko
memang dapat terjadi dalam suatu proses pengobatan terhadap siapa saja," kilahnya. Namun,
sangat disayangkan Elizabeth dan pihak RS Awal Bros tidak memberi kesempatan kepada
wartawan untuk bertanya lebih jauh. "Kami selaku manajemen rumah sakit akan senantiasa
menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga pasien," katanya mengakhiri
keterangan persnya. Secara terpisah, Direktur Bina Upaya Rujukan Direktorat Jenderal Bina
Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan dr Chairul Rajab Nasution mengatakan, kasus
dugaan malpraktik di RS Awal Bros itu perlu pembuktian secara obyektif. "Kita harus
membuktikan secara obyektif, apakah ini kasus sebab akibat penyakit sebelumnya atau karena
ada kelalaian yang dilakukan oleh tim medis," kata Chairul kepada wartawan di Kantor
Kementerian Kesehatan, Kamis (3/3) sekitar pukul 15.00 WIB. Dia mengatakan, Kemenkes
telah melakukan koordinasi terhadap kasus dugaan malpraktik yang menimpa anak Maureen
Angela. "Jika ada yang salah, Kementerian Kesehatan pasti akan melakukan tindakan tegas
sesuai dengan kesalahan yang terbukti," kata Chairul. Untuk pembuktian itu, harus melalui
beberapa proses melalui Komite Medik Rumah Sakit untuk membuktikan secara diagnostik
medik. Sedangkan Kementerian Kesehatan sebagai regulator akan melihat secara
administratifnya.
RS, dokter Rumah Sakit Awal Bros, Kota Tangerang, belum menerima surat panggilan
dari Kepolisian Resor Metro Tangerang Kota terkait pelaporan sang dokter oleh orang tua
Maureen (8 bulan). Dokter yang merawat Maureen itu dilaporkan Linda Kurniawati (33) dan
Budi Kuncahya (39) ke Polda Metro Jaya, tapi dilimpahkan ke Polrestro Tangerang Kota.
"Belum ada panggilan dari polisi untuk dokter RS. Kami menunggu proses hukum berjalan,"
kata juru bicara Rumah Sakit Awal Bros, dokter Elizabeth, saat dihubungi wartawan, Rabu
(9/3/2011). Dokter RS dilaporkan atas dugaan perawatan dari sang dokter yang menyebabkan
dua ruas jari kelingking Maureen putus. Pihak RS Awal Bros berupaya menjalin komunikasi
dengan keluarga Maureen. Usaha tersebut sebagai iktikad baik RS yang dahulu bernama RS
Global Medika untuk tidak mengabaikan penderitaan yang dialami Maureen. "Keluarga pasien
terakhir kali kontak dengan kami pada tanggal 28 Februari 2011 saat Maureen kontrol
kesehatan rutin tiap akhir bulan," kata Elizabeth.
Sementara, ibu korban, Linda, mengatakan, belum tahu perkembangan kasus hukum
dokter yang merawat anaknya. Keluarga masih menunggu proses hukum berjalan. Linda
mengatakan, terakhir kali datang ke RS Awal Bros pada 28 Februari 2011 lalu. Pihak RS
menjanjikan akan melakukan operasi 3-6 bulan mendatang. "Tapi, belum tahu untuk biaya
operasi, apakah gratis atau membayar lagi. Padahal, kami sudah keluar uang sampai puluhan
juta rupiah," ucap Linda. Seperti diberitakan, Maureen adalah korban dugaan tindak
malapraktik di RS Awal Bros pada November 2010. Akibat diberikan cairan keras, yakni
bicnat di infusnya, tangan Maureen membengkak, membiru, hingga bernanah. Dokter bedah
plastik sempat menyarankan jari Maureen diamputasi. Namun, saran itu akhirnya tidak
dilakukan hingga dokter bedah plastik menjalani operasi pertama untuk mengangkat nanah di
punggung telapak tangan Maureen. Setelah operasi itu, jari di tangan kanan Maureen semakin
mengerucut sampai akhirnya pada bulan Desember 2010 dua ruas kelingking Maureen terputus.

3.2 Analisis Kasus


Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa.
Dugaan kasus malpraktek yang terbaru adalah kasus malpraktek mauren yang mengalami
putusnya dua jari kelingking mauren. Namun, sampai kini, belum ada yang tuntas
penyelesaiannya. Tadinya masyarakat berharap bahwa UU Praktik Kedokteran itu akan juga
mengatur masalah malpraktek medik. Namun, materinya ternyata hanya mengatur masalah
disiplin, bersifat intern. Walaupun setiap orang dapat mengajukan ke Majelis Disiplin
Kedokteran, tetapi hanya yang menyangkut segi disiplin saja. Untuk segi hukumnya, undang-
undang merujuk ke KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) bila terjadi tindak pidana.
Indonesia berdasarkan hukum tertulis, seharusnya tetap terbuka putusan pengadilan
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap menjadi yurisprudensi. Masyarakat semakin
sadar terhadap masalah pelayanan kesehatan, DPR yang baru harus dapat menangkap kondisi
tersebut dengan berinisiatif membentuk Undang-Undang (UU) tentang Malpraktik Medik,
sebagai pelengkap UU Praktik Kedokteran. Bagaimana materinya, kita bisa belajar dari negara-
negara yang telah memiliki peraturan tentang hal tersebut. Harapan masyarakat, ketika mereka
merasa dirugikan akibat tindakan medis, landasan hukumnya jelas. Sedangkan di pihak para
medis, setiap tindakannya tidak perlu lagi dipolemikan sepanjang sesuai undang-undang.
Ketidaktercantuman istilah dan definisi menyeluruh tentang malpraktek dalam hukum
positif di Indonesia, ambiguitas kelalaian medik dan malpraktek yang berlarut-larut, hingga
referensi-referensi tentang malpraktek yang masih dominan diadopsi dari luar negeri yang
relevansinya dengan kondisi di Indonesia masih dipertanyakan. Inovasi pemerintah guna
menangani kasus malpraktek dan sengketa medik adalah lahirnya RUU Praktik Kedokteran.
Dalam beberapa pasal, RUU Praktik Kedokteran memang memberikan kepastian hukum bagi
dokter sekaligus perlindungan bagi pasien. Secara substansial, RUU yang terdiri dari 182 pasal
ini memuat pasal-pasal yang implisit dengan teori-teori pembelaan dokter yang umumnya
digunakan dalam peradilan. RUU Praktek Kedokteran memungkinkan sebuah sistem untuk
meregulasi pelayanan medis yang terstandardisasi dan terkualifikasi sehingga probabilitas
terjadinya malpratek dapat diatasi seminimal mungkin. Dengan dicantumkannya peraturan
pidana dan perdata serta peradilan profesi tenaga medis, harapan perlindungan terhadap pasien
dapat terealisasi.
Salah satu upaya untuk menghindarkan dari malpraktek adalah adanya informed
consent (persetujuan) untuk setiap tindakan dan pelayanan medis pada pasien. Hal ini sangat
perlu tidak hanya ntuk melindungi dari kesewenangan tenaga kesehatan seperti doter atau
bidan, tetapi juga diperlukan untuk melindungi tenaga kesehatan dari kesewenangan pasien
yang melanggar batas-batas hukum dan perundang-undangan malpraktek. Kasus Mauren
mauren memang harus dianalisi oleh pihak-pihak terkait untuk menentukan dugaan-dugaan
yang muncul dan penyelesaian yang diajukan untuk mengatasi kasus ini.
3.3 Malpraktek Ditinjau dari Segi Hukum
1. Sangsi hukum
Jika perbuatan malpraktik yang dilakukan dokter terbukti dilakukan dengan unsur
kesengajaan (dolus) dan ataupun kelalaian (culpa)seperti dalam kasus malpraktek dalam bidang
orthopedy yang kami ambil, maka adalah hal yang sangat pantas jika dokter yang bersangkutan
dikenakan sanksi pidana karena dengan unsur kesengajaan ataupun kelalaian telah melakukan
perbuatan melawan hukum yaitu menghilangkan nyawa seseorang. Perbuatan tersebut telah
nyata-nyata mencoreng kehormatan dokter sebagai suatu profesi yang mulia.
Pekerjaan profesi bagi setiap kalangan terutama dokter tampaknya harus sangat berhati-
hati untuk mengambil tindakan dan keputusan dalam menjalankan tugas-tugasnya karena
sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Tuduhan malpraktik bukan hanya ditujukan terhadap
tindakan kesengajaan (dolus) saja.Tetapi juga akibat kelalaian (culpa) dalam menggunakan
keahlian, sehingga mengakibatkan kerugian, mencelakakan, atau bahkan hilangnya nyawa
orang lain. Selanjutnya, jika kelalaian dokter tersebut terbukti merupakan tindakan medik yang
tidak memenuhi SOP yang lazim dipakai, melanggar Undang-undang No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan, maka dokter tersebut dapat terjerat tuduhan malpraktik dengan sanksi
pidana.
Dalam Kitab-Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) kelalaian yang mengakibatkan
celaka atau bahkan hilangnya nyawa orang lain. Pasal 359, misalnya menyebutkan,
“Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun”. Sedangkan kelalaian
yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa seseorang dapat diancam dengan sanksi
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 360 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP), (1) ‘Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka
berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu
tahun’. (2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian
rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian
selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.
Pemberatan sanksi pidana juga dapat diberikan terhadap dokter yang terbukti
melakukan malpraktik, sebagaimana Pasal 361 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP),
“Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan
atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut hak
untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat
memerintahkan supaya putusannya diumumkan.” Namun, apabila kelalaian dokter tersebut
terbukti merupakan malpraktik yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa dan atau
hilangnya nyawa orang lain maka pencabutan hak menjalankan pencaharian (pencabutan izin
praktik) dapat dilakukan.
Berdasarkan Pasal 361 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Tindakan
malpraktik juga dapat berimplikasi pada gugatan perdata oleh seseorang (pasien) terhadap
dokter yang dengan sengaja (dolus) telah menimbulkan kerugian kepada pihak korban,
sehingga mewajibkan pihak yang menimbulkan kerugian (dokter) untuk mengganti kerugian
yang dialami kepada korban, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab-Undang-
Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa
kerugian pada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.” Sedangkan kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian (culpa)
diatur oleh Pasal 1366 yang berbunyi: “Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk
kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian
atau kurang hati-hatinya.”

2. Kepastian hukum
Melihat berbagai sanksi pidana dan tuntutan perdata yang tersebut di atas dapat
dipastikan bahwa bukan hanya pasien yang akan dibayangi ketakutan. Tetapi, juga para dokter
akan dibayangi kecemasan diseret ke pengadilan karena telah melakukan malpraktik dan
bahkan juga tidak tertutup kemungkinan hilangnya profesi pencaharian akibat dicabutnya izin
praktik. Dalam situasi seperti ini azas kepastian hukum sangatlah penting untuk dikedepankan
dalam kasus malpraktik demi terciptanya supremasi hukum. Apalagi, azas kepastian hukum
merupakan hak setiap warga negara untuk diperlakukan sama di depan hukum (equality before
the law) dengan azas praduga tak bersalah (presumptions of innocence) sehingga jaminan
kepastian hukum dapat terlaksana dengan baik dengan tanpa memihak-mihak siapa pun.
Hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang dapat dikategorikan seorang dokter telah
melakukan malpraktik, apabila (1) Bahwa dalam melaksanakan kewajiban tersebut, dokter
telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim dipakai. (2) Pelanggaran terhadap standar
pelayanan medik yang dilakukan merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik Kedokteran
Indonesia (Kodeki). (3) Melanggar UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
3.4 Malpraktek Ditinjau dari Segi Etika
Ditinjau dari Sudut Pandang Etika (Kode Etik Kedokteran Indonesia /KODEKI) Etika
punya ari yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari istilah
itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah
hal-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sitem tentang motifasi, perilaku dan
perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika
sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang
amat fundamental: bagaimana saya harus hidup dan bertindak?. Bagi seorang sosiolog, etika
adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi
professional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya, etika berarti kewajiban dan
tanggungjawab memenuhi harapan profesi dan masyarakat, serta bertindak dengan cara-cara
yang professional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga terjadinya interaksi antara
pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, professional dan terhormat.
Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa; “ seorang dokter harus senantiasa berupaya
melaksanakan profesinya sesuai denga standar profesi tertinggi”. Jelasnya bahwa seeorang
dokter dalam melakukan kegiatan kedokterannya seebagai seorang proesional harus sesuai
dengan ilmu kedokteran mutakhir, hokum dan agama. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan
bahwa “setiap dokter hrus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani”.
Arinya dalam setiap tindakan dokter harus betujuan untuk memelihara kesehatan dan
kebahagiaan manusia.

Peran pengawasan terhadap pelanggaran kode etik (KODEKI) sangatlah perlu


ditingkatkan untuk menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang mungkin sering
terjadi yang dilakukan oleh setiap kalangan profesi-profesi lainnya seperti halnya
advokat/pengacara, notaris, akuntan, dll. Pengawasan biasanya dilakukan oleh lembaga yang
berwenang untuk memeriksa dan memutus sanksi terhadap kasus tersebut seperti Majelis Kode
Etik. Dalam hal ini Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK). Jika ternyata terbukti melanggar
kode etik maka dokter yang bersangkutan akan dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur
dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia. Karena itu seperti kasus yang ditampilkan maka juga
harus dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam kode etik.

Namun, jika kesalahan tersebut ternyata tidak sekedar pelanggaran kode etik tetapi juga
dapat dikategorikan malpraktik maka MKEK tidak diberikan kewenangan oleh undang-undang
untuk memeriksa dan memutus kasus tersebut.
Lembaga yang berwenang memeriksa dan memutus kasus pelanggaran hukum hanyalah
lembaga yudikatif. Dalam hal ini lembaga peradilan. Jika ternyata terbukti melanggar hukum
maka dokter yang bersangkutan dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Baik secara pidana
maupun perdata. Sudah saatnya pihak berwenang mengambil sikap proaktif dalam menyikapi
fenomena maraknya gugatan malpraktik. Dengan demikian kepastian hukum dan keadilan
dapat tercipta bagi masyarakat umum dan komunitas profesi. Dengan adanya kepastian hukum
dan keadilan pada penyelesaian kasus malpraktik ini maka diharapkan agar para dokter tidak
lagi menghindar dari tanggung jawab hokum profesinya.

3.5 Malpraktek Ditinjau dari Sudut Pandang Agama


Ditinjau dari Sudut Pandang Agama. Adapun agama–agama memandang malpraktek,
khususnya yang menyebabkan kematian atau bisa pasien kehilangan nyawanya. Menurut
pandangan Islam. Dikatakan bahwa jatah hidup itu merupakan ketentuan yang menjadi hak
prerogatif Tuhan, biasanya disebut juga haqqullâh (hak Tuhan), bukan hak manusia (haqqul
âdam). Artinya, meskipun secara lahiriah atau tampak jelas bahwa saya menguasai diri saya
sendiri, tapi saya sebenarnya bukan pemilik penuh atas diri saya sendiri. Untuk itu, saya harus
juga tunduk pada aturan-aturan tertentu yang kita imani sebagai aturan Tuhan. Atau, meskipun
saya memiliki diri saya sendiri, tetapi saya tetap tidak boleh membunuh diri.
Dari sini dapat kita katakana bahwa, sebagai individu saja kita tidak berhak atas diri
atau kehidupan yang kita miliki, apalagi kehidupan orang lain. Karena itu maka setiap tindakan
yang oada akhirnya menghilangkan hidup atau nyawa seseorang bisa dianggap sebagai satu
tindakan yang melanggar hak prerogatif Tuhan. Dengan demikian segala macam tindakan
malpraktek adalah suatu pelanggaran.

BAB VI
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Atas dasar beberapa uraian yang telah disebutkan di muka kiranya dapat diambil suatu
kesimpulan sehubungan dengan masalah malpraktek bidan, adalah sebagai berikut:
1. Kasus malapraktek merupakan suatu kasus yang menarik, yang sering dialami oleh
masyarakat, dan yang sekaligus merupakan manifestasi dari kemajuan teknologi kesehatan
dengan berbagai peralatannya yang canggih. Sementara itu dengan semakin banyaknya
kasus malpraktek yang disidangkan di Pengadilan dan bermunculannya berita-berita tentang
malpraktek tenaga medis di mass media karena kegagalannya dalam berpraktek sehingga
mengakibatkan cidera-nya atau meninggalkan pasien, menunjukkan bahwa tingkat
kesadaran hukum masyarakat mulai meningkat, sehingga perpaduan antara kedua hal
tersebut di atas akan menimbulkan suatu perbenturan atau sengketa.
2. Sedangkan altrnatif untuk menyelesaikan sengketa itu sendiri, untuk sementara waktu ini
belum memadai, sehingga kasus-kasus malpraktek dijumpai kandas di pemeriksaan sidang
pengadilan. Oleh sebab sangst diperlukan adanya suatu pemikiran-pemikiran yang jernih
dari para arsitek hukum untuk mene-mukan alternatif apa yang dapat dipakai dalam
menghadapi kasus-kasus malpraktek tersebut, sebab kasus ini sangat banyak berkaitan
dengan kepentingan masyarakat, khususnya bagi yang merasa dirugikannya.

3.2 Saran
1. Kiranya pihak aparat penegak hukum, sebagai pencari penegakan hukum yang aktif di
dalam masyarakat, kiranya dapat berperan aktif dan melihat dengan jeli indikasi-indikasi
kasus malapraktek ini.
2. Selanjutnya, sebagai rangkaian dalam keaktifannya dalam mencari penegakan hukum,
Kejaksaan sebagai Penuntut Umum dan sebagai pengawasan penyidik sesuai dengan isi
KUHP, dapat meningkatkan peranannya dengan jalan membina kerja sama yang erat dengan
pihak penyidik (polisi) untuk dapat membongkar kasus-kasus malapraktek yang selama ini
masih banyak yang ter-tutup, baru kemudian tugas bagi hakim untuk lebih teliti dan obyektif
dalam mengambil vonisnya.
3. Perlu juga untuk menambah pengetahuan bagi para penegak hukum ini, khususnya
pengetahuan dalam bidang kebidanan, sehingga jika terjadi kasus malapraktek mereka dapat
menyidik, menuntut dan memutus perkara dengan tepat sesuai dengan
kemampuan/pengetahuannya. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mengadakan seminar-
seminar atau diberikan semacam pendidikan khusus yang menyangkut masalah kebidanan,
khususnya hal-hal yang sangat erat kaitannya dengan kejadian-kejadian yang timbul di
sekitar malapraktek. Atau minimal mereka diberikan suatu pegangan/pedoman tentang
hokum untuk profesi bidan dan segala aspeknya. Dari hal ini diharapkan agar nantinya setiap
kasus malpraktek dapat benar-benar diselesaikan dengan tuntas.
4. Diharapkan tenaga medis akan lebih waspada dan hati-hati dalam melaksanakan tugasnya,
masyarakat menjadi aman dan puas atas pelayanannya dan penegak hukum dapat lancar
dalam bertugas, akhirnya penegakan hukum dapat berjalan sebagaimana kita harapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Ameln, F., 1991, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya, Jakarta.
Mariyanti, Ninik, 1988, Malpraktek Kedokteran, Bina Aksara, Jakarta.

Undang undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;