Anda di halaman 1dari 109

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP

BIAYA EKUITAS DAN BIAYA UTANG


(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2012-2016)

SKRIPSI

(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Akademisi


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi)

Oleh:
WAHYU MAROLOP TAMPUBOLON
20140411034159

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2018
HALAMAN PERSETUJUAN

JUDUL : Pengaruh GOOD Corporate Governance terhadap Biaya

Ekuitas dan Biaya Utang

Nama Mahasiswa : WAHYU MAROLOP TAMPUBOLON

NIM : 20140411034159

Program Studi : AKUNTANSI

Jurusan : AKUNTANSI

Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS

Disetujui Pada Tanggal:

………………………………………

Pembimbing I Pembimbing II

Sylvia Christina Daat, S.E, M.Sc.,Ak Hastutie N. Andriati, SE.,M.Si.,Ak.,CA


NIP. 1979 0405 200501 1 006 NIP. 1973 1128 200812 2 002

Ketua Jurusan

Sylvia Christina Daat,S.E, M.Sc.,Ak


NIP. 1979 0405 200501 1 006

ii
HALAMAN PENGESAHAN

JUDUL : Pengaruh GOOD Corporate Governance terhadap Biaya

Ekuitas dan Biaya Utang

Nama Mahasiswa : WAHYU MAROLOP TAMPUBOLON

NIM : 20140411034159

Program Studi : AKUNTANSI

Jurusan : AKUNTANSI

Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS

Telah dinyatakan lulus ujian skripsi oleh Tim Penguji Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih pada :

Hari/Tanggal : Selasa, 17 Juli 2018

Waktu : 10.00 WIT

Tempat : Gedung Jurusan Akuntansi

Tim Penguji :

1) Sylviana Christina Daat, S.E., M.Sc., Ak Ketua (. . . . . . . . . .)


NIP. 1979 0405 2005 011 006

2) Hastutie N. Andriati, S.E., M.Si., Ak., CA Anggota (. . . . . . . . . .)


NIP. 1973 1128 2008 12 2 02

3) Anthonius H. Citra Wijaya, SE., M.Sc., Ak., CA Anggota (. . . . . . . . . .)


NIP. 19850209 2008 12 1 001

4) Linda Y. Hutadjulu, SE., M.Si., Ak., CA Anggota (. . . . . . . . . .)


NIP. 1983 0717 2006 042 028

5) Mariolin A. Sanggenafa., SE., M.SA., Ak Anggota (. . . . . . . . . .)


NIP. 1983 0409 2008 122 005

iii
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Wahyu Marolop Tampubolon
NIM : 20140411034159
Program Studi : AKUNTANSI
Jurusan : AKUNTANSI
Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya susun berjudul:

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP BIAYA


EKUITAS DAN BIAYA UTANG
Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2012-2016

Adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan plagiat dari
skripsi orang lain. Apabila kemudian hari pernyataan saya tidak benar, maka saya
bersedia menerima sanksi akademis yang berlaku (dicabut predikat kelulusan dan
gelar kesarjanaannya).
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya, untuk dapat
dipergunakan bila mana diperlukan.

Jayapura, 4 Juli 2018


Pembuat Pernyataan

Wahyu M. Tampubolon
Nim: 20140411034159

iv
RIWAYAT HIDUP

Biodata Diri
Nama lengkap : Wahyu Marolop Tampubolon
Tempat, Tanggal Lahir : Jayapura, 08 Mei 1995
Status : Single
Alamat : Jln. Olahraga no.25
Telepon : 085244149489
E-mail : wahyutampubolon14@gmail.com

Latar Belakang Pendidikan


2000-2001 : TK Trikora 2
2001-2007 : SD Kartika VI-1
2007-2010 : SMP Negeri 1 Jayapura
2010-2013 : SMA Negeri 5 Jayapura
2014-2018 : Universitas Cenderawasih Jayapura-Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Jurusan Akuntansi

iv
MOTTO

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala

rencanamu”

(Amsal 16:3)

“Jika kamu benar menginginkan sesuatu, kamu akan menemukan caranya.

Namun jika tak serius, kau hanya akan menemukan alasan”

(Jim Rohn)

PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
1. Ayah, Ibu, dan juga kakakku terimakasih atas ketulusan, kasih sayang,
dukungan , dan doa yang senantiasa mengiringi setiap langkah
keberhasilanku.
2. Pacarku Eklecia Rona terimakasih atas dukungan dan doa yang senantiasa
kau berikan demi kesuksesanku.
3. Dosen Pembimbingku, Ibu Sylvia Christina Daat, SE., M.Sc., Ak Selaku
Dosen Pembimbing I dan Ibu Hastutie N. Andriati, SE., M.Si., Ak., Ca
Selaku Dosen Pembimbing II, yang telah memberikan arahan dan petunjuk
kepada penulis dalam menyusun Skripsi penelitian ini hingga dapat selesai
dengan baik dan tepat waktu.
4. Ibu Linda Y. Hutadjulu, SE.,M.Si.,Ak.,CA selaku Dosen Wali yang selalu
memberikan dukungan dan juga nasihat kepada penulis.
5. Bapak ibu dosen jurusan akuntansi, terimakasih untuk ilmu yang diberikan
selama ini
6. Teman-teman baikku terimakasih untuk semangat, saran, kritikan kalian
yang luar biasa dan membangun.

v
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh good corporate


governance terhadap biaya ekuitas dan biaya utang. Good corporate governance
diproksikan dengan kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, frekuensi
pertemuan komite audit, kualitas audit, dan komisaris independen. Sedangkan
variabel dependen yang digunakan didalam penelitian ini adalah biaya ekuitas
dinilai dengan menggunakan pengukuran model Ohlson dan biaya utang yang
dinilai dengan menggunakan pengukuran cost of debt (COD). Selain itu, didalam
penelitian ini juga menambahkan tiga variabel kontrol yaitu leverage, kinerja
perusahaan, dan ukuran perusahaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas audit berpengaruh negatif
signifikan terhadap biaya ekuitas. Sedangkan kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, Frekuensi pertemuan komite audit dan komisaris independen tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap biaya ekuitas. Serta hasil penelitian ini juga
menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan
terhadap biaya utang. Hasil lainnya mencatatkan bahwa komisaris independen
berpengaruh positif signifikan terhadap biaya utang. Sedangkan kepemilikan
institusional, frekuensi pertemuan komite audit dan kualitas audit tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap biaya utang. Secara keseluruhan dapat
disimpulkan dari hasil penelitian ini bahwa good corporate governance
mempengaruhi biaya ekuitas dan biaya utang.

Kata kunci: good corporate governance, biaya ekuitas, biaya utang

vi
ABSTRACT

This research aims to determine the impact of good corporate governance


to cost of equity and cost of debt. The proxy of good corporate governance is
managerial ownership, institutional ownership, frequency of audit committees
meeting, audit quality, and independent commissioner. While the dependent
variable used in this study is the cost of equity is assessed by using Ohlson model
measurement and the cost of debt assessed by using cost of debt measurement
(COD). In addition, the research also adds three control variables: leverage,
company performance, and firm size.
The results of this study indicate that audit quality has a significant negative
effect on cost of equity. While managerial ownership, institutional ownership,
Frequency of audit committee meeting and independent commissioner have no
significant effect on cost of equity. And the results of this study also shows that
managerial ownership has a significant negative effect on the cost of debt. Other
results noted that independent commissioners have a significant positive effect on
the cost of debt. While institutional ownership, frequency of audit committee
meetings and audit quality does not significantly affect the cost of debt. Overall can
be concluded from the results of this study that good corporate governance affects
the cost of equity and cost of debt.

Keywords: good corporate governance, cost of equity, cost of debt

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas

rahmat yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul “Pengaruh GOOD Corporate Governance terhadap Biaya Ekuitas dan

Biaya Utang” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar S1 dalam

pendidikan akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih.

Hal yang mendorong penulis melakukan penelitian ini yaitu untuk

menganalisis bagaimana Biaya Ekuitas dan Biaya Utang dipengaruhi oleh struktur

corporate governance yang dimiliki sebuah perusahaan.

Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis banyak mengalami hambatan

dan kesulitan namun berkat bantuan, bimbingan, dukungan, dan doa berbagai pihak

sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu perkenankan

penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kesehatan dan berkat sehingga

laporan ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.

2. Rektor Universitas Cenderawasih, bapak Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT. atas

kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menempuh pendidikan di

Universitas Cenderawasih.

3. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, bapak Dr.

Mesak Ick, SE.,M.Si beserta para Pembantu Dekan atas bimbingan serta

arahannya.

4. Ibu Sylvia Christina Daat, SE.,M.Sc.,Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih yang juga sekaligus

viii
Dosen Pembimbing I yang telah memberikan waktu, arahan, dorongan, serta

semangat dan bimbingannya dalam penyusunan skripsi ini

5. Ibu Hastutie N. Andriati SE.,M.Si.,Ak.,CA selaku Dosen Pembimbing II yang

telah banyak meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam

menyempurnakan penulisan skripsi ini.

6. Ibu Linda Y. Hutadjulu, SE.,M.Si.,Ak.,CA selaku Dosen Wali yang selalu

memberikan dukungan dan juga nasihat kepada penulis.

7. Seluruh dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Cenderawasih yang telah memberikan berbagai ilmu, terutama ilmu di bidang

akuntansi.

8. Papa, Mama, Kakak serta seluruh keluarga yang selalu memberikan semangat,

dukungan, nasehat, tuntunan dan kasih sayang serta doanya sehingga penulis

bisa menyelesaikan skripsi ini.

9. Eklecia Rona yang selalu memberikan doa dan dukungan, serta selalu bersama

penulis selama perkuliahan hingga penyusunan skripsi.

10. Untuk sahabat-sahabatku terimakasih banyak untuk waktu indahnya selama

bersama-sama, kalian yang selalu setia menemani dalam suka maupun duka,

yang selalu rela begadang bersama, berbagi ilmu, berbagi makanan, berbagi

pengalaman, saling mendukung, memberi nasehat, saling bercanda bersama,

saling membantu, semoga kita bisa sukses dan bertemu kembali.

11. Teman-teman Jurusan Akuntansi angkatan 2014 yang telah membantu penulis

dan memberikan semangat agar dapat lulus bersama-sama.

ix
Akhir kata, penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini tidak luput dari

kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu dengan kerendahan hati, penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikannya yang

bermanfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkan serta mampu memberikan

pengetahuan tambahan bagi diri pribadi dalam ilmu akuntansi.

Jayapura, 4 Juli 2018


Penulis,

Wahyu M. Tampubolon

x
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................. iii

SURAT PERNYATAAN ..................................................................................... iv

RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. iv

MOTTO ................................................................................................................. v

ABSTRAK ............................................................................................................ vi

ABSTRACT .......................................................................................................... vii

KATA PENGANTAR........................................................................................ viii

DAFTAR ISI......................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv

DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 7

1.3 Tujuan Penelitian...................................................................................... 8

1.4 Manfaat Penelitian.................................................................................... 9

xi
1.4.1 Manfaat Teoritis................................................................................... 9

1.4.2 Manfaat Praktis.................................................................................... 9

1.5 Sistematika Penulisan............................................................................. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 11

2.1 Teori Keagenan (Agency Theory) ............................................................... 11

2.2 Good Corporate Governance....................................................................... 13

2.2.1 Kepemilikan Manajerial....................................................................... 14

2.2.2 Kepemilikan Institusional .................................................................... 14

2.2.3 Frekuensi Pertemuan Komite Audit..................................................... 15

2.2.4 Kualitas Audit ...................................................................................... 16

2.2.5 Komisaris Independen.......................................................................... 17

2.3 Biaya Ekuitas .............................................................................................. 18

2.4 Biaya Utang................................................................................................. 19

2.5 Pengembangan Hipotesis & Penelitian Terdahulu...................................... 20

2.6 Model Penelitian ......................................................................................... 28

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 30

3.1 Jenis Penelitian............................................................................................ 30

3.2 Populasi dan Sampel ................................................................................... 30

3.3 Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 31

3.4 Teknik Pengumpulan Data.......................................................................... 31

xii
3.5 Pengukuran dan Definisi Operasional Variabel.......................................... 32

3.6 Metode Analisis Data.................................................................................. 34

3.6.1 Analisi Statistik Deskriptif................................................................... 34

3.6.2 Uji Asumsi Klasik ................................................................................ 34

3.6.3 Analisis Regresi Berganda ................................................................... 36

3.6.4 Pengujian Hipotesis.............................................................................. 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 39

4.1 Deskriptif Objek Penelitian......................................................................... 39

4.2 Statistik Deskriptif ...................................................................................... 41

4.2.1 Statistik Deskriptif Biaya Ekuitas ........................................................ 41

4.2.2 Statistik Deskriptif Biaya Utang .......................................................... 46

4.3 Uji Asumsi Klasik ....................................................................................... 50

4.3.1 Uji Normalitas...................................................................................... 50

4.3.2 Multikolinearitas .................................................................................. 54

4.3.3 Uji Autokorelasi ................................................................................... 56

4.3.4 Uji Heterokedasititas............................................................................ 59

4.4 Analisis Data ............................................................................................... 61

4.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R²) ............................................................ 61

4.4.2 Uji t-statistik (Uji Parsial) .................................................................... 63

4.4.3 Uji F ..................................................................................................... 65

xiii
4.5 Pembahasan Hipotesis................................................................................. 67

4.5.1 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Biaya Ekuitas................. 67

4.5.2 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Biaya Ekuitas .............. 68

4.5.3 Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Biaya Ekuitas.

....................................................................................................................... 69

4.5.4 Pengaruh Kualitas Audit terhadap Biaya Ekuitas. ............................... 70

4.5.5 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Biaya Ekuitas. .................. 71

4.5.6 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Biaya Utang................... 72

4.5.7 Pengaruh Kepemilikan terhadap Institusional Biaya Utang ................ 73

4.5.8 Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Biaya Utang. 74

4.5.9 Pengaruh Kualitas Audit terhadap Biaya Utang. ................................. 75

4.5.10 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Biaya Ekuitas. ................ 75

BAB V PENUTUP............................................................................................... 78

5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 78

5.2 Keterbatasan................................................................................................ 79

5.3 Saran............................................................................................................ 80

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 81

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Proses Purposive Sampling Penelitian...................................................30

Tabel 3.2 Pengukuran dan Definisi Operasional Variabel.....................................31

Tabel 4.1 Proses Purposive Sampling Penelitian.................................................. 39

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Biaya Ekuitas ......................................................... 41

Tabel 4.3 Statistik deskriptif Biaya Utang ............................................................ 46

Tabel 4.4 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test untuk Biaya Ekuitas............. 51

Tabel 4.5 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Biaya Utang ......................... 53

Tabel 4.6 Coefficientsa untuk Biaya Ekuitas ........................................................ 55

Tabel 4.7 Coefficientsa untuk Biaya Utang........................................................... 56

Tabel 4.8 Uji Autokorelasi terhadap Biaya Ekuitas............................................. 57

Tabel 4.9 Pengujian Asumsi Autokorelasi Biaya Ekuitas .................................... 57

Tabel 4.10 Uji Autokorelasi terhadap Biaya Utang .............................................. 58

Tabel 4.11 Pengujian Asumsi Autokorelasi Biaya Utang..................................... 58

Tabel 4.12 Uji koefisien Determinasi (R2) terhadap Biaya Ekuitas ..................... 61

Tabel 4.13 Uji koefisien Determinasi (R2) terhadap Biaya Utang ....................... 62

Tabel 4.14 Uji T terhadap Biaya Ekuitas Coefficientsa ........................................ 63

Tabel 4.15 Uji T terhadap Biaya Utang Coefficientsa .......................................... 64

Tabel 4.16 Uji F terhadap Biaya Ekuitas ANOVAb ............................................. 66

Tabel 4.17 Uji F terhadap Biaya Utang ANOVAb ................................................ 66

Tabel 4.18 Kesimpulan Hipotesis Penelitian ........................................................ 77

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Penelitian Biaya Ekuitas.........................................................28

Gambar 2.2 Model Penelitian Biaya Utang...........................................................29

Gambar 4.1 Histogram untuk r........ ..................................................................... 52

Gambar 4.2 P-Plot untuk r .............. ..................................................................... 52

Gambar 4.3 Histogram untuk COD........ .............................................................. 54

Gambar 4.4 P-Plot COD ........................ .............................................................. 54

Gambar 4.5 Uji Heterokedasititas Biaya Ekuitas.................................................. 59

Gambar 4.6 Uji Heterokedasititas Biaya utang..................................................... 60

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Corporate Governance menjelaskan tentang tata kelola dalam sebuah

perusahaan. Setiap perusahaan pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Untuk

mencapainya, selain implementasi dari sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan

manajemen, good corporate governance juga merupakan salah satu hal yang

diperlukan sebagai tolak ukur bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya.

Istilah good corporate governance bukan hal baru lagi untuk didengar,

Forum for Governance in Indonesia mengatakan bahwa, corporate governance

adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan pengelola perusahaan,

pemegang saham, pemerintah, karyawan, pihak kreditur, serta pemegang

kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan

kewajiban mereka, atau dengan arti lain suatu sistem yang mengatur dan

mengendalikan perusahaan (FCGI, 2000). Sedangkan menurut Pramono (2011)

dalam Ashkhabi (2015) corporate governance merupakan seperangkat aturan

yang digunakan untuk memastikan aktivitas dan tujuan perusahaan untuk

memenuhi kepentingan-kepentingan dan mensejahterakan pemangku

kepentingan, tidak hanya mencapai tujuan perusahaan itu sendiri. Berdasarkan

dari dua pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa corporate

governance merupakan aturan-aturan yang digunakan untuk mengatur hubungan

1
2

antara pihak pemegang saham dan managemen agar mencapai tujuan perusahaan

yang diinginkan demi kesejahteraan bersama.

Pelaksanaan praktik corporate governance di Indonesia menganut 5 (lima)

prinsip, yaitu:

1. Transparasi (Transparency)

Untuk menjaga obyektivitas, perusahaan harus menyediakan informasi

yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.

Perusahaan harus inisiatif untuk mengungkapkan tidak cuman masalah

yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang

penting untuk pengambilan keputusan oleh kreditur, pemegang saham dan

pemangku kepentingan lainnya.

2. Akuntabilitas (Accountability)

Perusahaan harus bisa mempertanggungjawabkan kinerjanya secara

transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola dengan baik,

terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap

memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku

kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan agar

tercapai kinerja yang berkesinambungan.

3. Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan juga

melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan

sehingga kesinambungan usaha dalam jangka panjang dapat terpelihara

dan dapat diakui sebagai good corporate citizen.


3

4. Independensi (Independency)

Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola

secara independen sehingga tiap-tiap organ perusahaan tidak saling

mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun.

5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)

Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan wajib senantiasa

memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan

lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

Good corporate governance mendapat perhatian khusus di masyarakat

dipicu dari kasus yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Amerika dan

Eropa, seperti Enron, Wolrdcom, Tyco, London & Commonwealth, Poly Peck,

Maxwell, dan lainnya. Keruntuhan perusahaan-perusahaan tersebut diakibatkan

kegagalan strategi serta praktek curang manajemen puncak yang berlangsung tanpa

terdeteksi dalam waktu yang cukup lama karena lemahnya pengawasan yang

independen oleh corporate boards (Kaihatu, 2006 dalam Nugroho, 2014).

Di Indonesia terdapat beberapa kasus penerapan good corporate

governance, salah satunya yaitu kasus audit umum PT.Kereta Api Indonesia (PT.

KAI). Kasus ini menunjukan bagaimana proses tata kelola yang dijalankan didalam

suatu perusahaan, dan bagaimana peran dari organ-organ pengawasan dalam

memastikan laporan keuangan tidak salah saji dan mampu menggambarkan

keadaan keuangan yang sesungguhnya. Kasus PT.KAI bermula dari adanya

perbedaan pandangan antara manajemen dan komisaris, khususnya ketua komite

audit dimana komisaris menolak untuk menyetujui laporan keuangan yang sudah
4

diaudit oleh auditor eksternal, dan komisaris juga meminta agar dilakukan audit

ulang supaya laporan keuangan bisa tersaji secara transparan dan sesuai dengan

fakta yang ada (Nugroho, 2014).

Kasus lainnya yang terjadi di Indonesia adalah kasus laporan keuangan

Kimia Farma yang overstated. Kasus ini merupakan penggelembungan laba bersih

pada laporan keuangan senilai Rp 132.668 Miliar, padahal laporan keuangan

sesungguhnya hanyalah Rp 99.594 Miliar, kasus ini juga menyeret sabuah Kantor

Akuntan Publik (KAP) yang mengaudit PT.Kimia Farma. Pada kasus ini terjadi

pelanggaran terhadap prinsip-prinsip good corporate governance, yaitu

pengungkapan yang akurat dan transparansi (Setiajatnika, 2008 dalam Nugroho,

2014).

Isu corporate governance timbul akibat terdapatnya pemisahan antara

kepemilikan dan pengelolaan perusahaan (Gunarsih, 2003 dalam Siregar, 2012).

Pemisahan tersebut memunculkan kemungkinan timbulnya agency problem yang

bisa mengakibatkan agency conflict, yaitu konflik yang terjadi karena keinginan

manajemen (agent) untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya

yang dapat mengorbankan kepentingan dari pemegang saham (principal). Pihak

yang paling diuntungkan disini adalah manajemen (agent) karena mereka lebih

mengetahui seluk-beluk perusahaan dibandingkan dengan para pemegang saham

(principal).

Hollis & Ryan (2004) mengatakan bahwa “agency costs timbul akibat dari

terbentuknya asimetri informasi di pasar yang disebabkan akibat pemegang saham

tidak dapat mengamati tindakan manajer secara langsung, yang berpotensi


5

menimbulkan masalah moral hazard, atau tidak bisa mengetahui nilai ekonomis

perusahaan yang sebenarnya, dan berpotensi memunculkan masalah adverse

selection. Tanpa pemantauan yang efektif, pengendalian yang memadai, dan

informasi keuangan yang transparansi, investor yang rasional akan melindungi diri

dengan menaikkan biaya ekuitas perusahaan. Dengan membatasi sikap oportunistik

manajer, menurunkan risiko informasi yang ditanggung oleh pemegang saham,

serta menambah pemantauan terhadap aktivitas manajemen, mekanisme corporate

governance bisa digunakan untuk menurunkan agency problem

Pengaturan perusahaan secara baik memang gampang diucapkan, tetapi

sulit dilakukan. Salah satu contohnya yaitu masyarakat dan investor berkepentingan

mengetahui tingkatan good corporate governance yang sudah dilakukan oleh setiap

emiten. Emiten yang berpengalaman akan melakukan pemisahan antara pemegang

saham, direksi dan komisaris. Sementara emiten yang tradisional telihat dari

campur tangannya pemegang saham dalam menentukan posisi direksi dan

komisaris. Agar masyarakat investor mengetahui kategori manajemen mana yang

termasuk profesional dan tradisional, akuntan publik harus menginformasikan

realisasi dari good corporate governance, misalnya, pemisahan tugas dan personel

antara pemegang saham, komisaris, dan direksi dalam laporan hasil audit, atau

setidaknya informasi pelaksanaan peraturan bursa efek tentang keberadaan dan

kinerja para komisaris independen, direksi independen, dan komisi audit. Hal-hal

tersebut dapat diungkapkan oleh perusahaan dalam annual report yang dimilikinya.

Namun, saat ini masih terdapat sejumlah perusahaan yang tidak mengungkapkan
6

annual report dan financial report secara lengkap. Ini menunjukkan bahwa masih

terdapat perusahaan yang belum memenuhi good corporate governance.

Pengaruh good corporate governance terhadap biaya ekuitas dan biaya

utang dapat kita lihat dari peneliti-peneliti terdahulu. Tetapi beberapa dari mereka

meneliti kedua hal tersebut secara terpisah. Penelitian mengenai biaya ekuitas yang

dilakukan oleh Nugroho (2014) menyatakan bahwa: 1) Kepemilikan manajerial

berpengaruh positif terhadap biaya ekuitas; 2) Kepemilikan institusional

berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas; 3) Kualitas audit berpengaruh negatif

terhadap biaya ekuitas. Peneliti lain seperti Natalia, Sun, & Nusantara (2012)

memiliki hasil penelitan seperti berikut: 1) Kepemilikan manajerial berpengaruh

positif terhadap biaya ekuitas; 2) Kepemilikan institusional memberikan pengaruh

negatif terhadap biaya ekuitas; 3) Kualitas audit menunjukkan pengaruh positif

terhadap biaya ekuitas. Kedua penelitian ini memiliki hasil yang berbeda mengenai

variabel kualitas audit.

Jika melihat penelitian mengenai biaya utang, maka kita dapat melihat

penelitian yang dilakukan oleh Yunita (2012) menunjukan bahwa: 1) Kepemilikan

manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang; 2) Kepemilikan

institusional berpengaruh positif signifikan terhadap biaya utang; 3) Komisaris

independen tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang. Sedangkan hasil

yang berbeda ditunjukan oleh Taniau (2014) yang memiliki hasil sebagai berikut:

1) Kepemilikan manajerial memiliki hubungan yang signifikan terhadap biaya

utang; 2) kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh terhadap biaya utang;

3) komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap biaya utang.


7

Penelitian ini replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Nugroho, Dwi,

Ricky dan Meiranto, Wahyu. (2014) yang menulis tentang “Pengaruh Good

Corporate Governance terhadap Biaya Ekuitas dan Biaya Utang (Studi pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2010-2012)”.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, serta adanya perbedaan hasil penelitian oleh

para peneliti, sehingga penulis merasa tertarik dan mencoba untuk menganalisis

kembali mengenai hal yang sama tetapi dengan periode waktu yang berbeda yaitu

2012-2016.

Berdasarkan uraian diatas maka penelitian ini berjudul “pengaruh good

corporate governance terhadap biaya ekuitas dan biaya utang (Studi pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2012-2016)”.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap biaya ekuitas

perusahaan manufaktur di Indonesia?

2. Apakah Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap biaya utang

perusahaan manufaktur di Indonesia?

3. Apakah Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap biaya ekuitas

perusahaan manufaktur di Indonesia?

4. Apakah Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap biaya utang

perusahaan manufaktur di Indonesia?

5. Apakah Frekuensi Pertemuan Komite Audit berpengaruh terhadap biaya

ekuitas perusahaan manufaktur di Indonesia?


8

6. Apakah Frekuensi Pertemuan Komite Audit berpengaruh terhadap biaya

utang perusahaan manufaktur di Indonesia?

7. Apakah Kualitas Audit berpengaruh terhadap biaya ekuitas perusahaan

manufaktur di Indonesia?

8. Apakah Kualitas Audit berpengaruh terhadap biaya utang perusahaan

manufaktur di Indonesia?

9. Apakah Komisaris Independen berpengaruh terhadap biaya ekuitas

perusahaan manufaktur di Indonesia?

10. Apakah Komisaris Independen berpengaruh terhadap biaya utang

perusahaan manufaktur di Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan utama dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap biaya ekuitas

perusahaan manufaktur di Indonesia.

2. Menganalisis pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap biaya utang

perusahaan manufaktur di Indonesia.

3. Menganalisis pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap biaya ekuitas

perusahaan manufaktur di Indonesia.

4. Menganalisis pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap biaya utang

perusahaan manufaktur di Indonesia.

5. Menganalisis pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap biaya

ekuitas perusahaan manufaktur di Indonesia.


9

6. Menganalisis pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap biaya

utang perusahaan manufaktur di Indonesia.

7. Menganalisis pengaruh Kualitas Audit terhadap biaya ekuitas perusahaan

manufaktur di Indonesia.

8. Menganalisis pengaruh Kualitas Audit terhadap biaya utang perusahaan

manufaktur di Indonesia.

9. Menganalisis pengaruh Komisaris Independen terhadap biaya ekuitas

perusahaan manufaktur di Indonesia.

10. Menganalisis pengaruh Komisaris Independen terhadap biaya utang

perusahaan manufaktur di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dibidang akuntansi khususnya

mengenai good corporate governance, biaya ekuitas, dan biaya utang.

1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat berguna bagi perusahaan di Indonesia, yaitu:

1. Memberikan pengetahuan kepada para investor dan kreditur mengenai good

corporate governance pada perusahaan manufaktur di Indonesia.

2. Memberikan pemahaman bagi setiap perusahaan manufaktur tentang

pentingnya penerapan corporate governance yang baik dan sehat.


10

1.5 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah :

Bab I Pendahuluan

Dalam bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat

penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab II Landasan Teori

Dalam bab ini berisi uraian-uraian teori mengenai penelitian ini, penelitian

sebelumnya dan pengembangan hipotesis, serta model penelitian.

Bab III Metode Penelitian

Dalam bab ini berisi Desain Penelitian, Populasi dan Sampel Penelitian,

Metode Pengumpulan Data, Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian dan

Metode Analisis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori agensi erat hubungannya dengan good corporate governance karena

menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antara pemegang saham

(principal) dan managemen (agent). Menurut Jensen & Meckling (1976) teori

agensi merupakan hubungan keagenan sebagai sebuah kontrak dimana satu atau

lebih pihak (principal) melibatkan pihak lain (agent) untuk melakukan beberapa

layanan atas nama principal. Kedua belah pihak ini disatukan oleh sebuah

perjanjian atau kontrak kerja untuk mengatur hubungan, wewenang, serta tanggung

jawab di antara mereka. Pemegang saham sebagai principal mendelegasikan

wewenangnya kepada manajemen (agent) untuk menjalankan perusahaan dan

menggunakan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dan membuat

keputusan yang dapat menguntungkan para pemilik perusahaan.

Dengan adanya pendelegasian kekuasaan ini para manajemen diharapkan

untuk melaporkan setiap hasil kerjanya kepada para pemegang saham atau pemilik.

Manejemen juga diharapkan mampu membuat keputusan yang dapat

menguntungkan bagi pemegang saham baik itu keuntungan jangka panjang maupun

jangka pendek.

Menurut Eisenhardt (1989) dalam Ashkhabi (2015) teori agensi memakai

tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu (1) manusia pada umumnya mementingkan

11
12

diri sendiri, (2) manusia mempunyai daya pikir terbatas mengenai persepsi masa

depan, dan (3) manusia selalu menjauhi resiko. Berdasarkan asumsi tersebut, maka

dapat diketahui bahwa seorang manajer akan memprioritaskan kepentingannya

sendiri yaitu untuk memperoleh keuntungan pribadi yang dapat merugikan

pemegang saham sebagai principal. Hal ini bisa menimbulkan agency problem yang

bisa memperlambat berjalannya sebuah perusahaan.

Agency problem juga bisa terbentuk akibat pemegang saham memiliki

keterbatasan dalam mengamati kinerja yang dilakukan oleh manajer sebagai

agennya, apakah mereka bekerja sesuai harapan atau tidak. Pemisahan antara fungsi

kepemilikan dan pengelolaan perusahaan mengakibatkan kemungkinan timbulnya

agency problem yang dapat menyebabkan agency conflict, yaitu konflik yang

timbul akibat keinginan manajemen untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan

kepentingannya yang dapat mengorbankan kepentingan pemegang saham (Siregar,

2012). Kenyataannya manajer mempunyai lebih banyak informasi mengenai

perusahaan dibandingkan para pemegang saham. Hal ini merupakan suatu

keuntungan bagi seorang manajer guna menambah kesejahteraan dirinya sendiri.

Maka dari itu diperlukan suatu good corporate governance untuk menangani

agency problem yang timbul antara pemegang saham dan manajer. Maka dengan

adanya corporate governance perusahaan bisa menurunkan atau mencegah

teimbulnya agency conflict.

Kaitan antara agency teory dan corporate governance terhadap biaya

ekuitas dan biaya utang, menurut Byun et al., (2008) dalam Nugroho (2014) adalah

dengan adanya corporate governance yang baik, perusahaan mempunyai biaya


13

ekuitas yang lebih kecil. Serta menurut Sengupta & Bhojraj (2003) mekanisme

corporate governance mempunyai pengaruh negatif terhadap biaya utang

perusahaan. Struktur corporate governance yang baik merupakan salah satu

indikator penting yang sangat dipertimbangkan oleh kreditur saat memutuskan risk

premium perusahaan (Siregar, 2012).

2.2 Good Corporate Governance

Pasal 1 Surat Keputusan Menteri BUMN No. 117/M-MBU/2002 tanggal

31 Juli 2002 tentang Penerapan Good Corporate Governance pada BUMN

menyatakan bahwa corporate governance ialah suatu proses dan struktur yang

digunakan oleh organisasi BUMN untuk mengikat keberhasilan usaha dan

akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka

panjang dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya, berlandaskan

peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika. Menurut FCGI (2000) good

corporate governance adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara

pemegang saham, pengurus perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan

serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan

hak-hak dan kewajiban mereka. Sedangkan menurut Suranta dan Midiastuty

(2005) dalam Taniau (2014) good corporate governance sebagai cara-cara

manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya.

Para pengambil keputusan di perusahaan haruslah bisa

dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai lebih

bagi shareholders lainnya. Dari beberapa pengertian tersebut bisa disimpulkan


14

bahwa good corporate governance mengatur hubungan antara orang-orang yang

berkepentingan didalam sebuah perusahaan, agar terjalin hubungan yang

harmonis dan saling mendukung demi terbentuknya suatu keuntungan bagi semua

pihak dan mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan.

2.2.1 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah keadaan dimana seorang manajer disuatu

perusahaan merangkap juga sebagai pemegang saham di dalam perusahaan

tersebut. Hal ini bisa terjadi dengan adanya kebijakan perusahaan untuk

membayarkan upah atau gaji seorang manajer dengan cara mengganti uang tunai

dengan lembaran saham atas nama perusahaan tersebut. Manajer yang

mempunyai saham perusahaan pastinya akan menyelaraskan kepentingannnya

dengan kepentingan sebagai pemegang saham. Sementara manajer yang tidak

memiliki saham perusahaan, ada kemungkinan hanya memikirkan

kepentingannya sendiri. Kepemilikan manajerial ini dapat mengurangi terjadinya

agency problem didalam sebuah perusahaan. Kepemilikan manajerial dapat

diukur dengan menghitung persentase proporsi saham biasa yang dimiliki oleh

majerial dibagi dengan jumlah saham yang beredar.

2.2.2 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan suatu perusahaan yang

dimiliki oleh suatu badan atau pemilik institusional, seperti pemerintah,


15

perusahaan asuransi, bank, institusi luar negeri dan lembaga lainnya. Dengan

kepemilikan institusi di luar perusahaan dalam jumlah yang signifikan akan

menyebabkan pihak luar perusahaan melakukan pengawasan yang ketat terhadap

pengelolaan yang dilakukan oleh manajemen. Bagi manajemen, pengawasan oleh

pihak luar mendorong mereka untuk memperlihatkan kinerja yang lebih baik, dan

melakukan pengelolaan secara transparan. Investor institusional dipercaya dapat

memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan dengan investor

individual, dimana investor institusional tidak akan mudah diperdaya dengan

tindakan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen.

Kepemilikan institusional bisa diukur dengan indikator persentase jumlah

saham yang dimiliki pihak institusional dari jumlah saham perusahaan.

Kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak

manajemen dalam proses monitoring secara efektif sehingga mengurangi tindakan

oportunistik manajemen.

2.2.3 Frekuensi Pertemuan Komite Audit

Menurut Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance mengenai

Komite Audit, Komite Audit adalah Suatu komite yang beranggotakan satu atau

lebih anggota Dewan Komisaris dan dapat meminta kalangan luar dengan

berbagai keahlian, pengalaman, dan kualitas lain yang dibutuhkan untuk

mencapai tujuan Komite Audit. Menurut Hiro Tugiman (1995) dalam Taniau

(2014) Komite Audit adalah sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang

lebih besar untuk melakukan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas
16

khusus atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang

bertanggungjawab untuk menolong auditor dalam mempertahankan

independensinya dari manajemen.

Frekuensi pertemuan komite audit adalah rapat yang dilakukan komite

audit untuk melakukan pembahasan mengenai laporan keuangan yang dilakukan

dalam satu periode. Demi menjaga komunikasi yang baik didalam komite audit

maka rapat ini perlu dilakukan, dan untuk mengurangi asimetri informasi yang

dimiliki di antara para anggota komite audit, serta baik dilakukan untuk

meyatukan suara atau pendapat yang berbeda-beda diantara anggota audit.

Sehingga frekuensi pertemuan komite audit diharapkan mampu untuk mengurangi

atau mengatasi risiko pengungkapan informasi yang salah dalam pelaporan

keuangan.

2.2.4 Kualitas Audit

Kualitas audit adalah audit yang dilakukan oleh auditor yang kompeten

dan independen (Pangestika, 2013 dalam Taniau, 2014). Yang dimaksud dengan

auditor yang berkopenten adalah auditor yang memiliki pelatihan dan kecakapan

teknis yang memadai. Sedangkan auditor yang independen adalah auditor yang

jika menemukan salah saji meterial atau kekeliruan dalam laporan keuangan yang

diaudit akan secara independen melaporkan kekeliruan tersebut.

Demi meningkatkan nama dan derajat perusahaan di kalangan masyarakat

biasanya perusahaan akan menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik (KAP)

dengan reputasi nama baik dan besar. Biasanya KAP yang dipilih merupakan
17

KAP yang berlaku secara universal yang biasa dikenal dengan Big Four

Worldwide Accounting Firm (Big 4).

Kualitas audit akan mengurangi asimetri informasi antara pemegang

saham dan manajer, karena dengan kualitas audit yang baik akan menunjukkan

hasil laporan keuangan yang sebenar-benarnya. Auditor dapat berfungsi sebagai

pemantau bagi sebuah perusahaan terhadap hasil laporan keuangan, apakah sudah

sesuai dengan standar serta apakah sudah benar apa yang diinformasikan sesuai

dengan keadaan yang sebenarnya.

2.2.5 Komisaris Independen

Adanya unsur komisaris independen dalam struktur organisasi perusahaan

yang umumnya beranggotakan dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan

berfungsi untuk menyeimbangkan dalam pengambilan keputusan, khususnya

dalam rangka perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dan pihak-pihak

lain yang terkait. Komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris

yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya, dan

pemegang saham mayoritas, serta bebas dari hubungan bisnis dan/atau hubungan

lainnya yang bisa mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen

atau semata-mata demi kepentingan perusahaan. Komisaris independen

merupakan posisi terbaik dalam melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta

perusahaan yang good governance.

Dewan komisaris independen dapat membantu para pemegang saham

untuk mengawasi perilaku para manajernya, sehingga para manajer tidak akan
18

dapat dengan mudah untuk bertindak dengan leluasa untuk meningkatkan

kesejahteraan dirinya sendiri. Dengan adanya kinerja yang baik maka akan

mengurangi asimetri yang terjadi antara pemegang saham dan manajer, karena

dewan komisaris akan ikut andil dalam menjalankan kebijakan disebuah

perusahaan.

2.3 Biaya Ekuitas

Menurut Karamony dan Wokas (2011) dalam Nugroho (2014) biaya

ekuitas adalah biaya rill yang wajib dikeluarkan oleh perusahaan untuk

memperoleh dana baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa,

maupun laba ditahan untuk mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan.

Sedangkan menurut Bodie, Kane, Marcus (2009) dalam Taniau (2014) biaya

ekuitas merupakan tingkat pengembalian yang harus dicapai oleh perusahaan

untuk memenuhi tingkat pengembalian harapan (expected return) para pemegang

saham.

Menurut Karamony dan Wokas (2011) dalam Nugroho (2014), biaya

ekuitas memiliki beberapa komponen yaitu:

1. Debt (utang jangka pendek dan utang jangka panjang)

2. Preferred (saham preferen)

3. Common Equity (saham biasa dan laba ditahan)

Biaya ekuitas yang rendah dalam suatu perusahaan menunjukkan

rendahnya tingkat resiko yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga tingkat


19

pengembalian resiko yang diharapkan oleh investor pun akan rendah. Oleh karena

itu, biaya ekuitas merupakan salah satu faktor penentu estimasi besarnya tingkat

pengembalian yang diharapkan oleh investor dalam melakukan investasi dan

merupakan besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk bisa

memperoleh dana dari investor.

2.4 Biaya Utang

Biaya utang adalah tingkat pengembalian (yield rate) yang diharapkan

oleh kreditur saat melakukan pendanaan dalam suatu perusahaan (Fabozzi, 2007

dalam Siregar, 2012). Sedangkan menurut Singgih (2008) dalam Taniau (2014)

biaya utang adalah tingkat bunga sebelum pajak yang dibayar perusahaan kepada

pemberi pinjamannya. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

biaya utang adalah pinjaman yang dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk

memperoleh dana yang dibutuhkan, pinjaman ini menghasilkan bunga pinjaman

yang harus dibayarkan perusahaan kepada kreditur.

Biaya utang dihitung dari besarnya beban bunga yang dibayarkan oleh

perusahaan dalam periode satu tahun dibagi dengan rata-rata jumlah pinjaman

yang menghasilkan bunga tersebut (interest bearing debt) atau disebut juga

dengan metode weighted average.


20

2.5 Pengembangan Hipotesis & Penelitian Terdahulu

a. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Biaya Ekuitas

Jika dilihat dengan menggunakan teori agensi maka dapat diketahui

dengan adanya kepemilikan manajerial, setiap keputusan yang diambil akan dapat

menguntungkan pihak pemegang saham dan pihak manajer, sehingga setiap

keputusan yang dibuat dapat ditanggung dan dinikmati bersama. Hal ini dapat

mengurangi konflik kepentingan yang sering terjadi diantara kedua belah pihak.

Dengan adanya kepemilikan manajerial, maka peran manajer akan semakin besar

dalam pengelolaan perusahaan, pengambilan keputusan, penyusunan laporan

keuangan, dan menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan

perusahaan.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H1: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

b. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Biaya Ekuitas

Kepemilikan institusional merupakan salah satu cara untuk mengurangi

konflik yang terjadi diantara para pemegang saham dengan manajer. Karena

dengan adanya kepemilikan institusional dapat mempengaruhi kinerja sebuah

perusahaan dengan meningkatkan pengawasan yang lebih optimal terhadap

kinerja manajemen yang ada.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2012) menyatakan bahwa

kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya

ekuitas. Hal ini dapat disebabkan karena mayoritas jenis perusahaan publik di

Indonesia masih merupakan perusahaan milik keluarga sehingga adanya


21

monitoring oleh pihak institusional cenderung tidak mempengaruhi keputusan

investor dalam menentukan biaya ekuitas perusahaan. Sedangkan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Natalia et al. (2012) menyatakan bahwa kepemilikan

institusional memberikan pengaruh negatif yang signifikan dalam menurunkan

biaya ekuitas perusahaan karena pengawasan efektif yang dilakukan oleh pihak

institusional dapat mengurangi perilaku opportunistic manajemen yang cenderung

memanfaatkan peluang sebagai pihak yang lebih memahami kondisi perusahaan

untuk melakukan manipulasi informasi keuangan yang menimbulkan asimetri

informasi antara manajemen dengan pemegang saham. Hasil tersebut sama

dengan penelitian yang dilakukan oleh Taniau, (2014) yang menyatakan bahwa

kepemilikan institusional memiliki pengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H2: Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

c. Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Biaya Ekuitas

Jika kita melihat dengan menggunakan teori agensi, maka dengan adanya

pertemuan komite audit yang rutin dapat mengurangi masalah yang terjadi

diantara pemegang saham dan manajer. Karena komite audit akan dapat

melakukan pengawasan terhadap kinerja para manajer untuk mengurangi masalah

didalam pelaporan keuangan. Sehingga dapat membuat kinerja perusahaan lebih

baik dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan adanya kinerja yang

membaik maka akan dapat menambah kepercayaan investor dan para kreditur

untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Frekuensi pertemuan

komite audit yang tinggi mengurangi biaya pengawasan manajemen, sehingga


22

meningkatkan nilai pasar perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976 dalam

Marichel, 2016). Semakin tinggi harga pasar perusahaan, maka semakin rendah

biaya ekuitasnya.

Beasley et al. (2000) dalam Marichel (2016) membuktikan bahwa semakin

sedikit frekuensi pertemuan komite audit maka berhubungan dengan besarnya

kemungkinan adanya kecurangan dalam laporan keuangan, dan aktivitas yang

berhubungan dengan kecurangan terdapat pada perusahaan yang tidak sering

melakukan pertemuan komite audit. Dengan seringnya frekuensi pertemuan

komite audit diharapkan mengurangi informasi yang berisiko sehingga

menurunkan cost of equity perusahaan.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H3: Frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh negatif terhadap biaya

ekuitas.

d. Pengaruh Kualitas Audit terhadap Biaya Ekuitas

Kualitas audit merupakan salah satu komponen dalam pelaporan hasil

keuangan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, yang akan menentukan apakah

kualitas laporan keuangan yang dihasilkan sudah baik dan memenuhi standar yang

ada serta apakah laporan keuangan yang dihasilkan sudah menunjukkan keadaan

yang sebenarnya pada sebuah perusahaan. Laporan keuangan harus dilaporkan

secara akurat, reliable, dan transparan agar mampu mengurangi asimetri

informasi yang dapat berdampak pada penurunan biaya ekuitas.

Jika kita lihat dengan menggunakan teori agensi (agency theory), maka

kualitas audit akan mengurangi asimetri informasi antara para pemegang saham
23

dan manajer. Karena dengan kualitas audit yang baik dapat menunjukkan hasil

laporan keuangan yang sebenar-benarnya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014) menyatakan bahwa

kualitas audit menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan terhadap biaya

ekuitas. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh Taniau (2014) yang menyatakan

bahwa kualitas audit memiliki pengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H4: Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

e. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Biaya Ekuitas

Jika kita lihat dengan menggunakan teori agensi (agency theory), maka

dengan adanya dewan komisaris independen dapat membantu para pemegang

saham untuk mengawasi perilaku para manajernya, sehingga para manajer tidak

akan dapat dengan mudah untuk bertindak dengan leluasa untuk meningkatkan

kesejahteraan dirinya sendiri. Komisaris independen dituntut untuk bertindak

independen atau semata-mata demi kepentingan perusahaan, sehingga dewan ini

dipercaya dapat melakukan fungsi monitoring dengan baik. Oleh sebab itu,

dengan adanya komisaris independen dapat meningkatkan kepercayaan investor

yang mengakibatkan menurunnya biaya ekuitas. Hasil penelitian yang dilakukan

oleh Taniau (2014) menunjukkan bahwa komisaris independen memiliki

pengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H5: Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

f. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Biaya Utang


24

Berdasarkan teori agensi maka akan terjalin hubungan yang lebih baik

antara manajer dan pemegang saham. Karena kedua belah pihak ini memiliki

tujuan yang sama sehingga akan sangat kecil kemungkinan timbulnya agency

conflict. Dengan hal ini, maka para manajer akan menekan terjadinya transaksi

hutang untuk tetap menjaga proporsi kepemilikan di sebuah perusahaan. Dengan

menekan jumlah hutang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, maka akan

membuat para kreditur melihat kinerja perusahaan tersebut lebih baik.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H6: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap biaya utang.

g. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Biaya Utang

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2012) menyatakan bahwa

kepemilikan institusional berpengaruh signifikan negatif terhadap biaya utang.

Dalam hal ini, pihak institusional yang umumnya juga berperan sebagai fidusiari,

dianggap memiliki persepsi yang sama dengan pihak kreditur dan memiliki

insentif yang lebih besar untuk melakukan monitoring terhadap tindakan

manajemen sehingga dapat mengurangi risiko perusahaan dan risiko yang akan

ditanggung oleh kreditur. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ashkhabi (2015)

menyatakan bahwa kepemilikan institusional terbukti berpengaruh signifikan dan

memiliki arah hubungan yang negatif terhadap biaya utang. Kedua hasil tersebut

sama dengan hasil penelitian Agustiawan (2012) yang menyatakan bahwa

kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap biaya

utang yaitu signifikan negatif yang mengindikasikan bahwa jumlah kepemilikan

institusional mengurangi biaya hutang dikarenakan tindakan pengawasan yang


25

dilakukan oleh sebuah perusahaan dan pihak investor insitusional dapat

membatasi perilaku manajemen dan meningkatkan kinerja sehingga menurunkan

resiko dimata investor sehingga biaya utang lebih kecil.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H7: Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap biaya utang.

h. Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Biaya Utang

Salah satu tugas dan tanggung jawab Komite Audit adalah membantu

Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa laporan keuangan disajikan secara

wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dengan adanya

pertemuan komite audit yang rutin dapat mengurangi masalah dalam pelaporan

keuangan. Karena komite audit akan dapat melakukan pengawasan terhadap

kinerja para manajer, sehingga dapat membuat kinerja perusahaan lebih baik

dalam mencapai tujuannya.

Pengawasan terhadap laporan keuangan sangat penting karena kreditor

bergantung pada laporan keuangan dalam menentukan perjanjian pinjaman. Hasil

penelitian Anderson et al. (2003) dalam Marichel (2016) mengungkapkan bahwa

frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh negatif terhadap biaya utang,

pertemuan komite audit dirasa cukup penting bagi kreditor yang mengindikasikan

adanya perhatian kreditor terhadap proses pengawasan akuntansi keuangan secara

efektif oleh dewan, perusahaan dengan banyak pertemuan komite audit

berhubungan signifikan dengan berkurangnya biaya utang.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:


26

H8: Frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh negatif terhadap biaya

utang.

i. Pengaruh Kualitas Audit terhadap Biaya Utang

Jika dilihat dengan menggunakan teori agensi (agency theory) maka

kualitas audit akan mengurangi asimetri informasi antara para pemegang saham

dan manajer. Karena dengan kualitas audit yang baik dapat menunjukkan hasil

laporan keuangan yang sebenar-benarnya.

Perusahaan memilih menggunakan KAP big-four karena memiliki

reputasi yang baik. Demi menjaga reputasinya, KAP big-four menggunakan

sistem yang lebih baik, sumber daya manusia yang berkualitas, dan bertindak

lebih berhati-hati dalam melakukan proses pemeriksaan (auditing). Hal ini

dipandang sebagai hal yang positif bagi pihak kreditur karena perusahaan tersebut

dinilai lebih transparan, sehingga resiko perusahaan lebih rendah. Dengan

demikian maka akan dapat menambah kepercayaan investor maupun kreditur

untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

Hasil penelitian Nugroho (2014) menunjukkan bahwa kualitas audit

memiliki pengaruh negatif terhadap biaya utang. Hasil penelitian tersebut sejalan

dengan Yenibra (2014) yang menyatakan bahwa kualitas audit yang tinggi dapat

menurunkan biaya utang perusahaan.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H9: Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap biaya utang.

j. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Biaya Utang


27

Dewan komisaris independen dipercaya dapat melakukan fungsi

monitoring dengan baik karena dituntut untuk bertindak independen atau semata-

mata demi kepentingan perusahaan. Oleh sebab itu, dengan adanya komisaris

independen dapat memberikan jaminan bagi kreditur yang mengakibatkan

menurunnya biaya utang.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agustiawan (2012) menunjukkan

bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap biaya utang. Hal ini

mengindikasikan bahwa jumlah komisaris independen yang lebih besar

mengurangi biaya hutang karena besarnya proposi komisaris yang independen

mempunyai tingakat kepercayaan yang lebih besar dan pengawasaan yang lebih

baik di mata kreditur. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh Taniau (2014) yang

menyatakan bahwa komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap

biaya utang.

Berdasarkan paparan diatas, maka dihasilkan hipotesis berikut:

H10: Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap biaya utang.


28

2.6 Model Penelitian


Model Penelitian mengenai hubungan antara variabel-variabel yang telah

dijelaskan, dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1
Model Penelitian
Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Biaya Ekuitas
Variabel Independen

Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan Institusional

Frekuensi Pertemuan Komite Variabel Dependen


Audit
Biaya Ekuitas

Kualitas Audit

Komisaris Independen

Variabel Kontrol

a. Leverage Sumber: Data Diolah, Tahun 2018


b. Kinerja Perusahaan
c. Ukuran Perusahaan
29

Gambar 2.2
Model Penelitian
Pengaruh Good Corporate Governance terhadap dan Biaya Utang
Variabel Independen

Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan Institusional

Frekuensi Pertemuan Komite Variabel Dependen


Audit
Biaya Utang

Kualitas Audit

Komisaris Independen

Variabel Kontrol
Sumber: Data Diolah, Tahun 2018

a. Leverage
b. Kinerja Perusahaan
c. Ukuran Perusahaan
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas. Penelitian kausalitas adalah

penelitian kuantitatif dalam melihat hubungan variable yang terdapat objek-objek

yang diteliti bersifat sebab dan akibat (kausal) sehingga dalam penelitian ada

variable independen dan dependen.

3.2 Populasi dan Sampel


Populasi yang digunakan didalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan

manufaktur yang terdapat di Indonesia dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI) selama tahun 2012-2016. Sedangkan metode sampel yang akan digunakan

didalam penelitian ini adalah metode purposive sampling yaitu merupakan teknik

penentuan sampel dengan memilih sumber data berdasarkan kriteria-kriteria serta

berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Kriteria yang dimaksud adalah

sebagai berikut:

1. Laporan keuangan perusahaan disajikan secara lengkap selama tahun

2012-2016.

2. Perusahaan yang menerbitkan Financial Report dalam Rupiah.

3. Perusahaan tidak memiliki nilai ekuitas negatif.

4. Perusahaan memiliki utang berbunga, baik jangka pendek maupun jangka

panjang.

5. Perusahaan memiliki semua data yang diperlukan.

30
31

Tabel 3.1
Proses Purposive Sampling Penelitian

Data: Diolah Penulis 2018

JUMLAH
LANGKAH KETERANGAN PERUSAHAAN
Total perusahaan manufaktur yang terdaftar di
1 BEI tahun 2012-2016 . 156
Laporan keuangan perusahaan yang tidak
disajikan secara lengkap berturut-turut selama
2 tahun 2012-2016. (44)
Perusahaan yang tidak menerbitkan Financial
3 Report dalam Rupiah. (28)
Perusahaan tidak memiliki utang berbunga,
4 baik jangka pendek maupun jangka panjang. (30)
Perusahaan tidak memiliki semua data yang
5 diperlukan. (35)
Total (19)
Total data yang diteliti pada tahun 2012-2016 = 19 x 5 95

3.3 Jenis dan Sumber Data


Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data

kuantitatif. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data

sekunder dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur

yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Studi dokumentasi menjadi teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam

penelitian ini, yaitu dengan mengumpulkan data sekunder dari situs BEI

berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Data sekunder penelitian ini berupa
32

laporan keuangan tahunan (annual report) perusahaan manufaktur yang telah

dipublikasikan.

3.5 Pengukuran dan Definisi Operasional Variabel


No Variabel Definisi Pengukuran
Tipe variabel yang dijelaskan atau
Dependen: dipengaruhi oleh variabel -
independent
Tingkat pengembalian yang harus
r=
dicapai oleh perusahaan untuk
memenuhi tingkat pengembalian Keterangan:
harapan (expected return) para r = cost of equity
a Biaya Ekuitas pemegang saham. Pengungkapan Bt = Nilai buku per lembar saham
informasi biaya ekuitas pada periode t
penelitian ini diukur dengan Pt = Harga saham pada periode t
menggunakan metode Ohlson. Xt+1 = Laba per lembar saham
1 periode t+1
Pinjaman yang dilakukan oleh COD=
sebuah perusahaan untuk
interest expense
memperoleh dana yang
dibutuhkan, pinjaman ini average interest bearing debt
menghasilkan bunga pinjaman Keterangan:
b Biaya Utang yang harus dibayarkan perusahaan COD= Biaya Utang
kepada kreditur. Biaya utang Interest Expense= Beban bunga
dihitung dari besarnya baban yang dibayarkan oleh perusahaan
bunga yang dibayarkan oleh dalam periode satu tahun
perusahaan dalam periode satu Average Total Debt=
tahun dibagi dengan jumlah rata- total debt periode t + debt t − 1
rata pinjaman. 2
Tipe variabel yang menjelaskan
Independen: atau mempengaruhi variabel yang -
lain.
2 A Manajer yang ikut mengambil
Kepemilikan bagian sebagai pemegang saham
Manajerial untuk ikut serta dalam MAN=
pengambilan keputusan yang
dilakukan demi tercapainya tujuan
perusahaan.
33

B Kepemilikan Kepemilikan saham perusahaan


institusional yang dimiliki oleh investor
institusional, seperti perusahaan INST=
investasi, bank, perusahaan
asuransi, institusi luar negeri, dana
perwalian serta institusi lainnya.
C Frekuensi Rapat yang dilakukan komite audit Melihat jumlah rapat yang
Peremuan untuk melakukan pembahasan dilakukan komite audit
Komite mengenai laporan keuangan yang perusahaan manufaktur dalam
Audit dilakukan dalam satu periode. satu tahun.

D Kualitas Apakah laporan keuangan yang


Audit dihasilkan oleh sebuah perusahaan 1 = Diaudit oleh KAP Big 4
diaudit oleh KAP yang termasuk 0= Diaudit oleh Non Big 4
dalam big four ataupun tidak.
E Komisaris Anggota dewan komisaris yang
Independen tidak terafiliasi dengan
manajemen, anggota dewan
komisaris lainnya dan pemegang
saham pengendali, bebas dari ID=
hubungan bisnis atau hubungan
lainnya yang dapat mempengaruhi
kemampuannya untuk bertindak
independen atau bertindak semata-
mata demi kepentingan
perusahaan.
Variabel Variabel yang dikendalikan atau
Kontrol dibuat konstan sehingga pengaruh
variabel independen atau variabel
bebas terhadap variabel dependen -
atau variabel tergantung, tidak
dapat dipengaruhi oleh faktor luar
yang tidak diteliti.
a Leverage Tingkat kewajiban atau utang yang
dimiliki oleh sebuah perusahaan,
Leverege=
baik itu utang jangka pendek
maupun utang jangka panjang.
b Kinerja Melihat bagaimana kemapuan
Perusahaan sebuah perusahaan untuk
menghasilkan laba dengan Roa=
menggunakan aset yang
dimilikinya.
c Ukuran Dapat dinyatakan dalam total
Size = Ln (Total Assets)
Perusahaan aktiva, penjualan, dan kapitalisasi
pasar. Kita dapat menarik
34

kesimpulan bahwa semakin besar


aktiva yang dimiliki oleh sebuah
perusahaan, maka semakin besar
pula penjualan yang diperoleh oleh
perusahaan tersebut dan
perusahaan tersebut akan semakin
dikenal di mata masyarakat.

3.6 Metode Analisis Data


3.6.1 Analisi Statistik Deskriptif

Yaitu statistik yang digunakan untuk analisa data dengan cara

mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana

adanya tanpa ada tujuan membuat kesimpulan untuk generalisasi. Beberapa hal

yang dapat dilakukan adalah penyajian data melalui tabel, perhitungan modus,

median, mean (pengukuran tendensi sentral), perhitungan penyebaran data

melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan presentase.

Kemudian analisis statistik frekuensi untuk mengukur data tunggal yaitu variabel

dummy.

3.6.2 Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi

berganda maka dilakukan uji asumsi klasik untuk menguji kelayakan atas model

regresi yang digunakan. Uji asumsi klasik yang digunakan meliputi uji normalitas,

uji multikolineritas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedasitas.


35

3.6.2.1 Uji Normalitas

Pengujian asumsi normalitas untuk menguji data variabel bebas (X) dan

variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan, apakah berdistribusi

normal atau berdistribusi tidak normal. Jika distribusi data normal, maka analisis

data dan pengujian hipotesis digunakan statistik parametrik. Pengujian normalitas

data menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Adapun kriteria uji : jika

probabilitas signifikan > 0,05 maka data berdistribusi normal.

3.6.2.2 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

terdapat adanya korelasi antar variabel bebas. Dalam model regresi yang baik

seharusnya tidak terdapat korelasi di antara variabel bebas. Uji Multikolinearitas

dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dari

hasil analisis dengan menggunakan SPSS. Apabila nilai tolerance value lebih

tinggi daripada 0,10 atau VIF lebih kecil daripada 10 maka dapat disimpulkan

tidak terjadi multikolinearitas.

3.6.2.3 Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan

pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem

autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
36

Cara mendeteksinya adalah dengan melakukan Uji Durbin Watson (DW). Regresi

yang bebas dari autokorelasi jika memenuhi syarat dU<DW<4-Du.

3.6.2.4 Uji Heteroskedastisitas

Dalam persamaan regresi berganda perlu diuji mengenai sama atau tidak

varians dari residual dari observasi yang satu dengan observasi lainnya. Jika

residual mempunyai varians yang sama, disebut homoskedastisitas. dan jika

variansnya tidak sama disebut terjadi heteroskedastisitas. Persamaan regresi yang

baik jika tidak terjadi heteroskedastisitas.

Analisis uji asumsi heteroskedastisitas hasil output SPSS melalui grafik

scatterplot antara Z prediction (ZPRED) untuk variabel bebas (sumbu X=Y hasil

prediksi) dan nilai residualnya (SRESID) merupakan variabel terikat (sumbu Y=Y

prediksi - Y rill). Homoskedastisitas terjadi jika titik-titik hasil pengolahan data

antara ZPRED dan SRESID menyebar di bawah ataupun di atas titik origin (angka

0) pada sumbu Y dan tidak mempunyai pola yang tertentu.

3.6.3 Analisis Regresi Berganda

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi

berganda dengan menggunakan aplikasi SPSS. Analisis regresi berganda ini

digunakan untuk mengetahui bagaimana arah hubungan antara variabel dependen

dengan variabel indipenden serta seberapa besar hubungan antara variabel

dependen dan variabel indipenden. Hasil analisi regresi berupa koefisiensi untuk

masing-masing variabel independen. Pemilihan model penelitian didasari dari


37

penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014) dengan beberapa modifikasi.

Adapun persamaan regresi berganda yang akan digunakan adalah:

ri,t= α + β1MANi,t + β2INSTi,t+ β3FREKi,t + β4AQi,t + β5IDi,t + β6LEVi,t +

β7PERFORMi,t+ β8SIZEi,t + εi,t

CODi,t= α + β1MANi,t + β2INSTi,t + β3FREKi,t + β4AQi,t + β5IDi,t + β6LEVi,t

+ β7PERFORMi,t + β8SIZEi,t + εi,t

Keterangan:

β: Koefisien regresi dari variabel independen

MAN: Kepemilikan manajerial

INST: Kepemilikan institusional

FREK: Frekuensi pertemuan komite audit

AQ: Kualitas audit

ID: Komisaris independen

LEV: Leverage

PERFORM : Kinerja perusahaan

SIZE: Ukuran perusahaan

ε: Error

3.6.4 Pengujian Hipotesis

3.6.4.1 Pengujian Signifikansi Model (F-test)

Uji F dilakukan untuk mengatahui apakah variabel dependen secara

bersama-sama dipengaruhi oleh variabel independen. Pengujian dapat dilakukan


38

dengan melihat tingkat signifikansi F. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 5%

maka hipotesis ditolak dan sebaliknya jika nilai signifikansi lebih kecil dari 5%

maka hipotesis diterima.

3.6.4.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R ) digunakan untuk mengetahui seberapa jauh

kemampuan suatu model penelitian dalam menjelaskan variasi variabel dependen

yang ada. Dengan demikian akan diketahui seberapa besar variabel dependen

dapat diterangkan oleh variabel independen yang ada. Nilai yang medekati angka

1 berarti variabel independen hampir atau mampu memberikan informasi yang

dibutuhkan untuk memprediksi variasi dependen (Ghozali, 2007 dalam Nugroho,

2014).

3.6.4.3 Uji Statistik t (t-test)

Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh variabel independen

secara individu dalam menerangkan variabel dependen. Uji statistik t digunakan

untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang terjadi antara variabel-variabel uji

terhadap kelompok uji. Hipotesis dapat diterima dan ditolak dengan melihat

keriteria sebagai berikut:

1. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak.

2. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis diterima.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskriptif Objek Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh good corporate

governance terhadap biaya ekuitas dan biaya utang perusahaan. Objek penelitian

yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan tahunan dan keuangan

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode tahun 2012-2016.

Jumlah populasi perusahaan yang akan diteliti berjumlah 156 perusahaan.

Berdasarkan hasil proses pengumpulan data yang telah dilakukan penulis, maka

diperoleh sampel sebanyak 19 perusahaan dari tahun 2012-2016. Adapun distribusi

pengambilan sampel penelitian yakni sebagai berikut:

Tabel 4.1
Proses Purposive Sampling Penelitian
JUMLAH
LANGKAH KETERANGAN PERUSAHAAN
Total perusahaan manufaktur yang terdaftar di
1 BEI tahun 2012-2016 . 156
Laporan keuangan perusahaan yang tidak
disajikan secara lengkap berturut-turut selama
2 tahun 2012-2016. (44)
Perusahaan yang tidak menerbitkan Financial
3 Report dalam Rupiah. (28)
Perusahaan tidak memiliki utang berbunga,
4 baik jangka pendek maupun jangka panjang. (30)
Perusahaan tidak memiliki semua data yang
5 diperlukan. (35)
Total (19)
Total data yang diteliti pada tahun 2012-2016 = 19 x 5 95

Data: Diolah Penulis 2018.

39
40

Pada tahap pertama dilakukan pemilihan sampel perusahaan manufaktur

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2012-2016. Pada tahap

ini diperoleh 156 perusahaan manufaktur.

Pada tahap kedua dilakukan pemilihan sampel perusahaan yang mempunyai

laporan keuangan yang lengkap selama periode pengamatan. Pada tahap ini terdapat

44 perusahaan yang tidak mempunyai laporan keuangan yang lengkap selama

periode pengamatan. Sehingga pada tahap ini, jumlah perusahaan yang memiliki

laporan keuangan lengkap dari tahun 2012-2016 berjumlah 112 perusahaan.

Pada tahap ketiga dilakukan pemilihan sampel perusahaan yang

menerbitkan laporan keuangan dalam rupiah. Pada tahap ini terdapat 28 perusahaan

yang tidak menerbitkan laporan keuangan dalam rupiah. Sehingga pada tahap ini

diperoleh 84 perusahaan.

Pada tahap keempat dilakukan pemilihan sampel perusahaan yang memiliki

utang berbunga. Pada tahap ini terdapat 30 perusahaan yang tidak memiliki utang

berbunga. Sehingga pada tahap ini diperoleh 54 perusahaan.

Pada tahap kelima dilakukan pemilihan sampel perusahaan yang memiliki

semua data yang dibutuhkan. Pada tahap ini terdapat 35 perusahaan tidak memiliki

data yang dibutuhkan. Sehingga pada tahap ini diperoleh 19 perusahaan.

Berdasarkan kelima tahapan penyeleksian sampel tersebut, maka diperoleh

19 perusahaan yang menjadi sampel penelitian selama periode 2012-2016.


41

4.2 Statistik Deskriptif

4.2.1 Statistik Deskriptif Biaya Ekuitas

Statistik deskriptif yaitu statistik yang digunakan untuk analisa data dengan

cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa ada tujuan membuat kesimpulan untuk generalisasi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah penyajian data melalui tabel, perhitungan

modus, median, mean (pengukuran tendensi sentral), perhitungan penyebaran data

melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan presentase.

Tabel 4.2
Statistik Deskriptif Biaya Ekuitas

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

R 95 -,820 7,570 ,76944 1,356524

MAN 95 ,000 ,840 ,06273 ,110638

INS 95 ,000 ,977 ,63316 ,208567

FREQ 95 2.000 46.000 7.54737 7.441643

AQ 95 0 1 .37 .485

ID 95 ,250 ,500 ,39445 ,077529

LEV 95 ,039 5,390 1,33308 1,399483

PERFORM 95 -,066 11,264 ,28306 1,207376

SIZE 95 25,608 32,151 28,40005 1,726323

Valid N (listwise) 95
Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Berdasarkan table diatas, diketahui terdapat 9 variabel penelitian yaitu:

r : Biaya Ekuitas

MAN : Kepemilikan Manajerial

INS : Kepemilikan Institusional


42

FREQ : Frekuensi Pertemuan Komite Audit

AQ : Kualitas Audit

ID : Komisaris Independen

LEV : Leverage

PERFORM : Kinerja Perusahaan

SIZE : Ukuran Perusahaan

Berdasarkan tabel hasil statistik deskriptif tersebut maka berikut ini

keterangan tiap tiap variabel penelitian:

4.2.1.1 Biaya Ekuitas

Biaya ekuitas disini mengacu pada tingkat pengembalian yang merupakan

hak investor atas investasinya di perusahaan tertentu (Ross et al. 1998:404, dalam

Taniau, 2014). Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata biaya ekuitas

perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 0,76. Berdasarkan nilai rata-rata biaya

ekuitas dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa biaya ekuitas

yang dikeluarkan oleh perusahaan secara umum masih tergolong rendah. Hal

tersebut dapat dilihat dari rata-rata nya yang bernilai kurang dari 1 yaitu 0,76.

4.2.1.2 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola. Dari hasil

pengujian statistik deskriptif, rata-rata kepemilikan manajerial perusahaan pada


43

tahun 2012-2016 adalah 0,06 atau sekitar 6% dari total kepemilikan perusahaan.

Berdasarkan nilai rata-rata kepemilikan manajerial dalam statistik deskriptif, maka

dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan masih

tergolong kecil.

4.2.1.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan yang

dimiliki oleh investor institusional, seperti perusahaan investasi, bank, pemerintah,

institusi luar negri serta institusi lainnya. Dari hasil pengujian statistik deskriptif,

rata-rata kepemilikan institusional perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 0,63

atau sekitar 63% dari total kepemilikan perusahaan. Berdasarkan nilai rata-rata

kepemilikan institusional dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan

bahwa setiap perusahaan lebih didominasi oleh kepemilikan institusi lain.

4.2.1.4 Frekuensi Pertemuan Komite Audit

Frekuensi pertemuan komite audit adalah rapat yang dilakukan komite

audit untuk melakukan pembahasan mengenai laporan keuangan yang dilakukan

dalam satu periode. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata frekuensi

pertemuan komite audit perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 7,54 atau

sebanyak 8 kali. Berdasarkan nilai rata-rata frekuensi pertemuan komite audit

dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum rata-rata
44

perusahaan telah melakukan frekuensi pertemuan komite audit sebanyak 8 kali

dalam setahun.

4.2.1.5 Kualitas Audit

Kualitas audit adalah laporan keuangan yang dihasilkan oleh sebuah

perusahaan diaudit oleh KAP yang termasuk dalam big 4 ataupun tidak. Kualitas

audit dalam penelitian ini akan diukur menggunakan variabel dummy, yaitu akan

diberikan angka 1 bila laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP big four dan

/akan diberikan angka 0 bila laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP non-

big four. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata kualitas audit perusahaan

pada tahun 2012-2016 adalah 0,37 atau sebesar 37%. Berdasarkan nilai rata-rata

kualitas audit dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian

besar perusahaan lebih memilih menggunakan jasa KAP non-big four.

4.2.1.6 Komisaris Independen

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak

terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang

saham pengendali, bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat

mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen. Dari hasil pengujian

statistik deskriptif, rata-rata komisaris independen perusahaan pada tahun 2012-

2016 adalah 0,39 atau 39%. Berdasarkan nilai rata-rata komisaris independen

dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi monitoring

perusahaan dapat dilakukan dengan baik.


45

4.2.1.7 Leverage

Leverage adalah tingkat kewajiban yang dimiliki oleh sebuah perusahaan,

baik itu utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Dalam penelitian ini

leverage diukur menggunakan debt to equity ratio. Dari hasil pengujian statistik

deskriptif, rata-rata leverage perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 1,33.

Berdasarkan nilai rata-rata leverage dalam statistik deskriptif, maka dapat

disimpulkan bahwa perusahaan mampu memenuhi kewajibannya dari jumlah

ekuitas yang dimilikinya.

4.2.1.8 Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan adalah kemampuan sebuah perusahaan untuk

menghasilkan laba dengan menggunakan aset yang dimilikinya. Dalam penelitian

ini kinerja perusahaan diukur menggunakan return on asset. Dari hasil pengujian

statistik deskriptif, rata-rata kinerja perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 0,28.

Berdasarkan nilai rata-rata kinerja perusahaan dalam statistik deskriptif, maka

dapat disimpulkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih

28% dari total aset yang digunakan.

4.2.1.9 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan logaritma natural

total aset perusahaan. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata ukuran
46

perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 28,4. Hasil tersebut menunjukan total

aset yang dimiliki perusahaan.

4.2.2 Statistik Deskriptif Biaya Utang

Tabel 4.3
Statistik deskriptif Biaya Utang
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

COD 95 ,000 ,166 ,04175 ,025282

MAN 95 ,000 ,840 ,06273 ,110638

INS 95 ,000 ,977 ,63316 ,208567

FREQ 95 2.000 46.000 7.54737 7.441643

AQ 95 0 1 .37 .485

ID 95 ,250 ,500 ,39445 ,077529

LEV 95 ,039 5,390 1,33308 1,399483

PERFORM 95 -,066 11,264 ,28306 1,207376

SIZE 95 25,608 32,151 28,40005 1,726323

Valid N (listwise) 95

4.2.2.1 Biaya Utang

Biaya utang adalah tingkat pengembalian (yield rate) yang diharapkan oleh

kreditur saat melakukan pendanaan dalam suatu perusahaan (Fabozzi, 2007 dalam

Siregar, 2012) atau tingkat bunga yang harus dibayar oleh perusahaan ketika

melakukan pinjaman. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata biaya utang

pada tahun 2012-2016 adalah 0,04. Berdasarkan nilai rata-rata biaya utang dalam
47

statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa biaya utang yang dikeluarkan

perusahaan masih tergolong kecil.

4.2.2.2 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola. Dari hasil

pengujian statistik deskriptif, rata-rata kepemilikan manajerial perusahaan pada

tahun 2012-2016 adalah 0,06 atau sekitar 6% dari total kepemilikan perusahaan.

Berdasarkan nilai rata-rata kepemilikan manajerial dalam statistik deskriptif, maka

dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan masih

tergolong kecil.

4.2.2.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan yang

dimiliki oleh investor institusional, seperti perusahaan investasi, bank, pemerintah,

institusi luar negri serta institusi lainnya. Dari hasil pengujian statistik deskriptif,

rata-rata kepemilikan institusional perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 0,63

atau sekitar 63% dari total kepemilikan perusahaan. Berdasarkan nilai rata-rata

kepemilikan institusional dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan

bahwa setiap perusahaan lebih didominasi oleh kepemilikan institusi lain.


48

4.2.2.4 Frekuensi Pertemuan Komite Audit

Frekuensi pertemuan komite audit adalah rapat yang dilakukan komite

audit untuk melakukan pembahasan mengenai laporan keuangan yang dilakukan

dalam satu periode. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata frekuensi

pertemuan komite audit perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 7,54 atau

sebanyak 8 kali. Berdasarkan nilai rata-rata frekuensi pertemuan komite audit

dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum rata-rata

perusahaan telah melakukan frekuensi pertemuan komite audit sebanyak 8 kali

dalam setahun.

4.2.2.5 Kualitas Audit

Kualitas audit adalah laporan keuangan yang dihasilkan oleh sebuah

perusahaan diaudit oleh KAP yang termasuk dalam big 4 ataupun tidak. Kualitas

audit dalam penelitian ini akan diukur menggunakan variabel dummy, yaitu akan

diberikan angka 1 bila laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP big four dan

/akan diberikan angka 0 bila laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP non-

big four. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata kualitas audit perusahaan

pada tahun 2012-2016 adalah 0,37 atau sebesar 37%. Berdasarkan nilai rata-rata

kualitas audit dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian

besar perusahaan lebih memilih menggunakan jasa KAP non-big four.


49

4.2.2.6 Komisaris Independen

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak

terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang

saham pengendali, bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat

mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen. Dari hasil pengujian

statistik deskriptif, rata-rata komisaris independen perusahaan pada tahun 2012-

2016 adalah 0,39 atau 39%. Berdasarkan nilai rata-rata komisaris independen

dalam statistik deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi monitoring

perusahaan dapat dilakukan dengan baik.

4.2.2.7 Leverage

Leverage adalah tingkat kewajiban yang dimiliki oleh sebuah perusahaan,

baik itu utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Dalam penelitian ini

leverage diukur menggunakan debt to equity ratio. Dari hasil pengujian statistik

deskriptif, rata-rata leverage perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 1,33.

Berdasarkan nilai rata-rata leverage dalam statistik deskriptif, maka dapat

disimpulkan bahwa perusahaan mampu memenuhi kewajibannya dari jumlah

ekuitas yang dimilikinya.

4.2.2.8 Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan adalah kemampuan sebuah perusahaan untuk

menghasilkan laba dengan menggunakan aset yang dimilikinya. Dalam penelitian


50

ini kinerja perusahaan diukur menggunakan return on asset. Dari hasil pengujian

statistik deskriptif, rata-rata kinerja perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 0,28.

Berdasarkan nilai rata-rata kinerja perusahaan dalam statistik deskriptif, maka

dapat disimpulkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih

28% dari total aset yang digunakan.

4.2.2.9 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan logaritma natural

total aset perusahaan. Dari hasil pengujian statistik deskriptif, rata-rata ukuran

perusahaan pada tahun 2012-2016 adalah 28,4. Hasil tersebut menunjukan total

aset yang dimiliki perusahaan.

4.3 Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk melihat apakah asumsi-asumsi

yang diperlukan dalam analisis regresi linear terpenuhi. Uji asumsi klasik dalam

penelitian ini menguji normalitas data secara statistik, uji multikolineritas, uji

heterokedastisitas, serta uji autokorelasi.

4.3.1 Uji Normalitas

Pengujian asumsi normalitas untuk menguji data variabel bebas (X) dan

variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan, apakah berdistribusi

normal atau berdistribusi tidak normal. Jika distribusi data normal, maka analisis
51

data dan pengujian hipotesis digunakan statistik parametrik. Pengujian normalitas

data menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Adapun kriteria uji : jika

probabilitas signifikan > 0,05 maka data berdistribusi normal.

Hasil pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini menunjukan bahwa

data yang digunakan terdistribusi normal. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel

4.4, ini ditandai dengan besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov untuk biaya ekuitas

0,084. Karena nilai Kolmogorov-Smirnov untuk biaya ekuitas lebih besar dari 0,05

maka dapat disimpulkan bahwa normalitas tercapai.

Tabel 4.4
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test untuk Biaya Ekuitas

Unstandardized
Residual

N 94

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 1.05772681

Most Extreme Differences Absolute .130

Positive .130

Negative -.087

Kolmogorov-Smirnov Z 1.259

Asymp. Sig. (2-tailed) .084

a. Test distribution is Normal.


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)

Untuk membuktikan dengan cara lain, Uji normalitas juga dapat dilakukan

dengan mengamati normal probability plot dan grafik Histogram. Jika residual

berasal dari distribusi normal, maka nilai-nilai distribusi jika terletak di sekitar garis

diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya (Wasef, 2010
52

dalam Agustiawan, 2012). Hasil uji normalitas untuk seluruh sampel perusahaan

menunjukkan data terdistribusi normal. Hal ini terlihat pada grafik histogram

maupun grafik P-Plot, dimana grafik histogram titik sebaran datanya mengikuti

pola kurva dan grafik P-Plot titik sebaran datanya berada didekat garis diagonal.

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, baik grafik histogram maupun

grafik P-Plot menunjukan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4.1 Histogram untuk r Gambar 4.2 P-Plot untuk r


53

Tabel 4.5
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Biaya Utang

Unstandardized
Residual

N 94

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation .01782672

Most Extreme Differences Absolute .078

Positive .078

Negative -.057

Kolmogorov-Smirnov Z .755

Asymp. Sig. (2-tailed) .620

a. Test distribution is Normal.


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)

Dari hasil pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini menunjukan

bahwa data yang digunakan terdistribusi normal. Hal tersebut dapat dilihat pada

tabel 4.5, ini ditandai dengan besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov untuk biaya

utang 0,620. Karena nilai Kolmogorov-Smirnov untuk biaya ekuitas lebih besar

dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa normalitas tercapai.

Untuk membuktikan dengan cara lain, Uji normalitas juga dapat dilakukan

dengan mengamati normal probability plot dan grafik Histogram. Jika residual

berasal dari distribusi normal, maka nilai-nilai distribusi jika terletak di sekitar garis

diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya (Wasef, 2010

dalam Agustiawan, 2012). Hasil uji normalitas untuk seluruh sampel perusahaan

menunjukkan data terdistribusi normal. Hal ini terlihat pada grafik histogram
54

maupun grafik P-Plot, dimana grafik histogram titik sebaran datanya mengikuti

pola kurva dan grafik P-Plot titik sebaran datanya berada didekat garis diagonal.

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, baik grafik histogram maupun

grafik P-Plot menunjukan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4.3 Histogram untuk COD Gambar 4.4 P-Plot COD

4.3.2 Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Jika terjadi korelasi,

maka terdapat multilineritas. Regresi bebas dari gangguan multikolineritas apabila

nilai tolerance > 0,10 atau VIF < 10.


55

Tabel 4.6
Coefficientsa untuk Biaya Ekuitas

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

MAN .411 2.434

INS .358 2.793

FREQ .941 1.062

AQ .554 1.807

ID .740 1.352

LEV .695 1.439

PERFORM .944 1.059

SIZE .413 2.423

Lag_y .875 1.143


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)

Berdasarkan hasil analisis, tidak ada variabel independent dalam penelitian

ini yang memiliki nilai variance inflation factor (VIF) lebih dari 10. Dengan

demikian hasil analisis menunjukkan tidak adanya masalah multikolonier. Hasil

perhitunggan tolerance juga menunjukkan hal yang sama, variabel independen

dalam penelitian ini memiliki nilai tolerance lebih dari 0,10 yang berarti tidak ada

korelasi antar variabel independen.


56

Tabel 4.7
Coefficientsa untuk Biaya Utang

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

MAN .368 2.719

INS .357 2.799

FREQ .910 1.098

AQ .555 1.802

ID .656 1.524

LEV .709 1.411

PERFORM .893 1.120

SIZE .416 2.404

Lag_y .652 1.533


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)

Berdasarkan hasil analisis, tidak ada variabel independent dalam penelitian

ini yang memiliki nilai variance inflation factor (VIF) lebih dari 10. Dengan

demikian hasil analisis menunjukkan tidak adanya masalah multikolonier. Hasil

perhitunggan tolerance juga menunjukkan hal yang sama, variabel independen

dalam penelitian ini memiliki nilai tolerance lebih dari 0,10 yang berarti tidak ada

korelasi antar variabel independen.

4.3.3 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada

korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu


57

pada periode t-1. Cara mendeteksinya adalah dengan melakukan Uji Durbin Watson

(DW). Regresi yang bebas dari autokorelasi jika memenuhi syarat dU<DW<4-Du.

Tabel 4.8
Uji Autokorelasi terhadap Biaya Ekuitas

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .631a .398 .333 1,112949 1.900

a. Predictors: (Constant), Lag_y, PERFORM, INS, FREQ, ID, AQ, LEV, SIZE, MAN

b. Dependent Variable: r
Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa nilai Durbin-Watson 1,900. Nilai

ini akan dibandingkan dengan tabel signifikansi 5%. Jumlah sampel (N=95) dan

jumlah variabel independen 5 (K=5), maka diperoleh dU 1,7781 dari tabel Durbin-

Watson.

Tabel 4.9 Pengujian Asumsi Autokorelasi Biaya Ekuitas

dL dU 4-dL 4-dU DW Interprestasi

1,5572 1,7781 2,4428 2,2219 1,900

Sumber: Data diolah peneliti (2018)

Dari hasil pengujian autokorelasi pada tabel 4.9 diatas, nilai DW 1,900 lebih

besar dari nilai dU yakni 1,7781 dan kurang dari 4-dU sebesar 2,2219 (dU < DW <

4-dU), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.


58

Tabel 4.10
Uji Autokorelasi terhadap Biaya Utang

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .711a .505 .452 ,018757 1.709

a. Predictors: (Constant), Lag_y, LEV, SIZE, FREQ, PERFORM, INS, ID, AQ, MAN

b. Dependent Variable: COD


Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa nilai Durbin-Watson 1,709. Nilai

ini akan dibandingkan dengan tabel signifikansi 5%. Jumlah sampel (N=95) dan

jumlah variabel independen 5 (K=5), maka diperoleh dU 1,7781 dari tabel Durbin-

Watson.

Tabel 4.11
Pengujian Asumsi Autokorelasi Biaya Utang

dL dU 4-dL 4-dU DW Interprestasi

1,5572 1,7781 2,4428 2,2219 1,709

Sumber: Data diolah peneliti (2018)

Dari hasil pengujian autokorelasi pada tabel 4.11 diatas, nilai dW 1,709

lebih kecil dari nilai dU yakni 1,7781 dan kurang dari 4-dU sebesar 2,2219 (dU >

DW < 4-dU) akan tetapi nilai DW lebih besar dari nilai dL yakni 1,5572, maka dari

tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi autokorelasi positif.


59

4.3.4 Uji Heterokedasititas

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan membuat Scatterplot (alur

sebaran) antara residual dan nilai prediksi dari variabel terikat yang telah

distandarisasi. Jika residual mempunyai varians yang sama, disebut

homoskedastisitas, dan jika variansnya tidak sama disebut terjadi

heteroskedastisitas. Persamaan regresi yang baik jika tidak terjadi

heteroskedastisitas. Homoskedastisitas terjadi jika titik-titik hasil pengolahan data

antara ZPRED dan SRESID menyebar di bawah ataupun di atas titik origin (angka

0) pada sumbu Y dan tidak mempunyai pola yang tertentu.

Gambar 4.5
Uji Heterokedasititas Biaya Ekuitas
60

Gambar 4.6
Uji Heterokedasititas Biaya utang

Berdasarkan hasil pengujian Uji Heteroskedastisitas terhadap cost of equity

dan cost of debt, terlihat bahwa sebaran titik tidak membentuk suatu pola/alur

tertentu serta titik-titik hasil pengolahan data menyebar di bawah ataupun di atas

titik origin (angka 0) pada sumbu Y dan tidak mempunyai pola yang tertentu.

Sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas atau dengan kata lain

terjadi homoskedastisitas. Asumsi klasik tentang heteroskedastisitas dalam kedua

model ini terpenuhi, yaitu terbebas dari heteroskedastisitas.


61

4.4 Analisis Data

4.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R²)

Koefisien determinasi mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam

menjelaskan variasi dalam independen. Karena yang digunakan dalam penelitian

ini adalah regresi berganda, maka yang digunakan adalah adjusted r square. Hasil

perhitungan adjusted R2 dapat dilihat pada output model summary. Pada kolom

adjusted R2 dapat diketahui berapa persentase yang dapat dijelaskan oleh variabel-

variabel bebas terhadap variabel terikat. Sedangkan sisanya dipengaruhi atau

dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model

penelitian.

Tabel 4.12
Uji koefisien Determinasi (R2) terhadap Biaya Ekuitas

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .631a .398 .333 1,112949 1.900

a. Predictors: (Constant), Lag_y, PERFORM, INS, FREQ, ID, AQ, LEV, SIZE, MAN

b. Dependent Variable: r

Sumber: Data diolah SPSS (2018)


62

Berdasarkan tabel 4.12 di atas, terlihat pada model summary besarnya nilai

Adjusted R Square adalah 0,333 yang menunjukkan bahwa hanya sebesar 33%

variasi variabel dependen (biaya ekuitas) yang dapat dijelaskan oleh variabel

independen (MAN, INS, FREK, AQ, ID) dalam penelitian ini. Sedangkan sisanya

(100% - 33% = 67%) dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan

kedalam penelitian yang mungkin dapat mempengaruhi biaya ekuitas.

Tabel 4.13
Uji koefisien Determinasi (R2) terhadap Biaya Utang

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .711a .505 .452 ,018757 1.709

a. Predictors: (Constant), Lag_y, LEV, SIZE, FREQ, PERFORM, INS, ID, AQ, MAN

b. Dependent Variable: COD

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Berdasarkan tabel 4.13 di atas, terlihat pada model summary besarnya nilai

Adjusted R Square adalah 0,452 yang menunjukkan bahwa hanya sebesar 45%

variasi variabel dependen (biaya utang) yang dapat dijelaskan oleh variabel

independen (MAN, INS, FREK, AQ, ID) dalam penelitian ini. Sedangkan sisanya

(100% - 45% = 55%) dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan

kedalam penelitian yang mungkin dapat mempengaruhi biaya ekuitas.


63

4.4.2 Uji t-statistik (Uji Parsial)

Uji t adalah pengujian secara statistik untuk mengetahui apakah variabel

independen secara individual mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

Uji t dapat dilakukan dengan melihat nilai probabilitas. Jika tingkat probabilitasnya

lebih kecil sama dengan dari 0,05 maka dapat dikatakan varibel independen

berpengaruh terhadap variabel dependen.

Tabel 4.14
Uji T terhadap Biaya Ekuitas Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta T Sig.

1 (Constant) -1.841 3.294 -.559 .578

MAN -.474 1.620 -.039 -.292 .771

INS -.404 .922 -.062 -.438 .663

FREQ .008 .016 .042 .482 .631

AQ -.862 .319 -.307 -2.699 .008

ID -.707 1.722 -.040 -.411 .682

LEV .139 .099 .143 1.410 .162

PERFORM .192 .098 .171 1.959 .053

SIZE .101 .104 .128 .972 .334

Lag_y .444 .091 .442 4.887 .000

a. Dependent Variable: r

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Berdasarkan tabel 4.14 diatas menunjukkan bahwa variabel AQ yang

memiliki pengaruh signifikan, sementara variabel MAN, INS, FREQ, ID, LEV,
64

PERFORM dan SIZE tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.

Hal ini dapat dilihat dari nilai profitabilitas dari MAN 0,771, INS 0,663, FREQ

0,631, AQ 0,008, ID 0,682, LEV 0,162, PERFORM 0,053 dan SIZE 0,334. Dengan

melihat unstandardized coefficient maka dapat disimpulkan persamaan berikut:

ri,t = α + β1MANi,t + β2INSTi,t+ β3FREKi,t + β4AQi,t + β5IDi,t + β6LEVi,t

+ β7PERFORMi,t+ β8SIZEi,t + εi,t

= α -0,474MAN - 0,404INS + 0,008FREK - 0,862AQ - 0,707ID +

0,139LEV + 0,192PERFORM + 0,101SIZE + e

Tabel 4.15
Uji T terhadap Biaya Utang Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) .051 .055 .917 .362

MAN -.087 .029 -.382 -3.020 .003

INS -.023 .016 -.193 -1.502 .137

FREQ -7.236E-5 .000 -.021 -.265 .791

AQ .005 .005 .087 .840 .403

ID .123 .031 .378 3.987 .000

LEV -.003 .002 -.154 -1.694 .094

PERFORM .007 .002 .355 4.372 .000

SIZE -.002 .002 -.124 -1.043 .300

Lag_y .359 .095 .357 3.762 .000

a. Dependent Variable: COD

Sumber: Data diolah SPSS (2018)


65

Berdasarkan tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa variabel MAN, ID dan

PERFORM memiliki pengaruh signifikan, sementara variabel INS, FREQ, AQ,

LEV dan SIZE tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya utang. Hal ini

dapat dilihat dari nilai profitabilitas dari MAN 0,003, INS 0,137, FREQ 0,791, AQ

0,403, ID 0,000, LEV 0,094, PERFORM 0,000 dan SIZE 0,300. Dengan melihat

unstandardized coefficient maka dapat disimpulkan persamaan berikut:

CODi,t = α + β1MANi,t + β2INSTi,t + β3FREKi,t + β4AQi,t + β5IDi,t +

β6LEVi,t + β7PERFORMi,t + β8SIZEi,t + εi,t

= α - 0,087MAN - 0,023INS - 7,236FREK + 0,005AQ + 0,123ID -

0,003LEV + 0,007PERFORM - 0,002SIZE + e

4.4.3 Uji F

Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-

sama (simultan) terhadap variabel terikat. Signifikan berarti hubungan yang terjadi

dapat berlaku untuk populasi. Hasil uji F dilihat dalam tabel ANOVA. Dalam

penelitian ini, penulis menggunakan taraf signifikansi 5% (0,05), jika nilai

probabilitas < 0,05, maka dapat dikatakan terdapat pengaruh yang signifikan secara

bersama-sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Namun, jika nilai

signifikansi > 0,05 maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-

sama antara variabel bebas terhadap variabel terikat.


66

Tabel 4.16
Uji F terhadap Biaya Ekuitas ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 68.749 9 7.639 6.167 .000a

Residual 104.047 84 1.239

Total 172.796 93

a. Predictors: (Constant), Lag_y, PERFORM, INS, FREQ, ID, AQ, LEV, SIZE, MAN

b. Dependent Variable: r

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Dari uji ANOVA yang ditunjukkan dalam tabel 4.16 di atas, terlihat bahwa

nilai probabilitas sebesar 0,00. Karena nilai probabilitas kurang dari 0,05, maka

dapat disimpilkan bahwa variabel MAN, INS, FREK, AQ, ID, LEV, PERFORM

dan SIZE secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.

Tabel 4.17
Uji F terhadap Biaya Utang ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression .030 9 .003 9.529 .000a

Residual .030 84 .000

Total .060 93

a. Predictors: (Constant), Lag_y, LEV, SIZE, FREQ, PERFORM, INS, ID, AQ, MAN

b. Dependent Variable: COD


Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Dari uji ANOVA yang ditunjukkan dalam tabel 4.17 di atas, terlihat bahwa

nilai probabilitas sebesar 0,00. Karena nilai probabilitas kurang dari 0,05, maka

dapat disimpilkan bahwa variabel MAN, INS, FREK, AQ, ID, LEV, PERFORM

dan SIZE secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap biaya utang.


67

4.5 Pembahasan Hipotesis

4.5.1 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Biaya Ekuitas

H1 Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.

Variabel kepemilikan manajerial diukur dengan melihat persentase (%)

kepemilikan manajerial didalam suatu perusahaan. Pada tabel 4.14 menunjukkan

bahwa pengujian untuk variabel kepemilikan manajerial memperoleh nilai

signifikan sebesar 0,771 (lebih besar dari 0,05) dan nilai beta sebesar -0,474.

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H1

ditolak (tidak berpengaruh signifikan).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014)

yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan

terhadap biaya ekuitas. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian yang

dilakukan oleh Natalia et al. (2012). Hal ini mungkin dikarenakan masih sedikitnya

kepemilikan manajerial pada sampel yang diuji, yaitu dengan objek penelitian pada

perusahaan manufaktur.

Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial

tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas. Hasil penelitian ini tidak

signifikan mungkin karena masih sedikitnya kepemilikan manajerial pada

perusahaan manufaktur di Indonesia.


68

4.5.2 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Biaya Ekuitas

H2 Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas

Variabel kepemilikan manajerial diukur dengan melihat persentase (%)

kepemilikan institusional didalam suatu perusahaan. Pada tabel 4.14 menunjukkan

bahwa pengujian untuk variabel kepemilikan institusional memperoleh nilai

signifikan sebesar 0,663 (lebih besar dari 0,05) dan nilai beta sebesar -0,404.

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H2

ditolak (tidak berpengaruh signifikan).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siregar

(2012) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh

signifikan terhadap biaya ekuitas. Hal ini dapat disebabkan karena terdapat

kemungkinan bahwa pihak institusional tidak melakukan tindakan pengawasan

karena tindakan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas. Hal ini mungkin dapat disebabkan

karena banyaknya kepemilikan institusional yang terdapat pada perusahaan

manufaktur di Indonesia merupakan investor asing yang hanya melakukan

monitoring sesekali waktu karena tidak dapat dilakukan sesering mungkin akibat

adanya keterbatasan jarak dan waktu. Dan juga untuk melakukan pengawasan

membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga pihak institusional cenderung

enggan mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pengawasan.


69

4.5.3 Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Biaya Ekuitas.

H3 Frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh negatif terhadap biaya

ekuitas.

Variabel frekuensi pertemuan komite audit diukur dengan melihat jumlah

pertemuan komite audit dalam satu tahun. Pada tabel 4.14 menunjukkan bahwa

pengujian untuk variabel frekuensi pertemuan komite audit memperoleh nilai

signifikan sebesar 0,631 (lebih besar dari 0,05) dan nilai beta sebesar 0,008.

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H3

ditolak (tidak berpengaruh signifikan).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakuakan oleh Taniau (2014)

yang menyatakan bahwa frekuensi pertemuan komite audit tidak berpengaruh

signifikan terhadap biaya ekuitas. Hal ini dikarenakan frekuensi pertemuan komite

audit tidak menjamin peningkatan kinerja dari komite audit.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa frekuensi pertemuan komite audit

tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas. Salah satu tugas komite audit

adalah membantu dewan komisaris untuk memastikan bahwa laporan disajikan

secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Namun, jika

tidak adanya peningkatan kinerja dari komite audit maka hal ini tidak menjamin

dapat meningkatkan kepercayaan investor.


70

4.5.4 Pengaruh Kualitas Audit terhadap Biaya Ekuitas.

H4 Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas

Variabel kualitas audit diukur dengan menggunakan variabel dummy,

dengan memberikan angka 1 untuk perusahaan yang di audit oleh KAP BIG 4 dan

angka 0 jika tidak. Pada tabel 4.14 menunjukkan bahwa pengujian untuk variabel

kualitas audit memperoleh nilai signifikan sebesar 0,008 (lebih kecil dari 0,05) dan

nilai beta sebesar -0,862. Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa H4 diterima (berpengaruh signifikan negatif).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014) dan

Taniau (2014) yang menyatakan bahwa kualitas audit berpengaruh negatif terhadap

biaya ekuitas. Hal ini dapat disebabkan karena investor masih belum melihat

pengaruh ukuran KAP BIG 4 terhadap informasi pelaporan keuangan yang

dihasilkan.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa kualitas audit berpengaruh

negatif terhadap biaya ekuitas. Perusahaan memilih menggunakan KAP BIG 4

dikarenakan memiliki reputasi yang baik di mata publik. Hal tersebut juga

memberikan jaminan bagi investor dalam melihat laporan keuangan perusahaan.

Sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor yang mengakibatkan

menurunnya biaya ekuitas.


71

4.5.5 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Biaya Ekuitas.

H5 Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas

Variabel komisaris independen diukur dengan menghitung persentase

jumlah komisaris independen dengan cara membagi jumlah komisaris independen

dengan jumlah komisaris didalam suatu perusahaan. Pada tabel 4.14 menunjukkan

bahwa pengujian untuk variabel komisaris independen memperoleh nilai signifikan

sebesar 0,682 (lebih besar dari 0,05) dan nilai beta sebesar -0,862. Berdasarkan

hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H5a ditolak (tidak

berpengaruh signifikan).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014)

yang menyatakan bahwa variabel komisaris independen tidak berpengaruh

signifikan terhadap biaya ekuitas. Hal ini dapat terjadi karena masih banyak jumlah

komisaris independen pada perusahaan dalam jumlah yang sedikit sehingga tidak

dapat mempengaruhi hak manajemen dalam menentukan besarnya biaya ekuitas.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa komisaris independen tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas. Hal ini dikarenakan masih banyak

perusahaan manufaktur yang memiliki sedikit jumlah komisaris independen.

Sehingga tidak dapat mempengaruhi hak manajemen dalam menentukan besarnya

biaya ekuitas.
72

4.5.6 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Biaya Utang

H6 Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap biaya utang.

Variabel kepemilikan manajerial diukur dengan melihat persentase (%)

kepemilikan manajerial didalam suatu perusahaan. Pada tabel 4.15 menunjukkan

bahwa pengujian untuk variabel kepemilikan manajerial memperoleh nilai

signifikan sebesar 0,003 (lebih kecil dari 0,05) dan nilai beta sebesar -0,087.

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H6

diterima (berpengaruh signifikan negatif).

Berdasarakan teori agensi maka dapat diketahui dengan adanya kepemilikan

manajerial, setiap keputusan yang diambil akan dapat menguntungkan pihak

pemegang saham dan pihak manajer. Karena kedua belah pihak ini memiliki tujuan

yang sama, sehingga akan sangat kecil kemungkinan timbulnya agency conflict.

Dengan hal ini, maka manajer akan menekan terjadinya transaksi utang untuk tetap

menjaga proporsi kepemilikan di sebuah perusahaan. Dengan menekan jumlah

utang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, maka akan membuat kreditur melihat

kinerja perusahaan tersebut lebih baik.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial

berpengaruh negatif terhadap biaya utang. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan

dengan kepemilikan manajerial akan membuat manajemen lebih berhati-hati dalam

menekan jumlah utang. Selain itu, adanya kepemilikan manajerial, akan

mengakibatkan resiko perusahaan dinilai rendah di mata kreditur karena melihat

kinerja manajemen yang lebih baik.


73

4.5.7 Pengaruh Kepemilikan terhadap Institusional Biaya Utang

H7 Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap biaya utang

Variabel kepemilikan manajerial diukur dengan melihat persentase (%)

kepemilikan institusional didalam suatu perusahaan. Pada tabel 4.15 menunjukkan

bahwa pengujian untuk variabel kepemilikan institusional memperoleh nilai

signifikan sebesar 0,137 (lebih besar dari 0,05) dan nilai beta sebesar -0,023.

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H7

ditolak (tidak berpengaruh signifikan).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho

(2014) dan Taniau (2014) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap biaya utang. Hal ini mungkin dapat

disebabkan karena banyaknya kepemilikan institusional yang terdapat pada

perusahaan manufaktur di Indonesia merupakan investor asing yang hanya

melakukan monitoring sesekali waktu karena tidak dapat dilakukan sesering

mungkin akibat adanya keterbatasan jarak dan waktu.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional

tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang. Hal ini mungkin dapat

disebabkan karena banyaknya kepemilikan institusional yang terdapat pada

perusahaan manufaktur di Indonesia merupakan investor asing yang hanya

melakukan monitoring sesekali waktu karena tidak dapat dilakukan sesering

mungkin akibat adanya keterbatasan jarak dan waktu. Selain itu ada beberapa hal

yang menjadi pertimbangan kreditur untuk meminjamkan dana ataupun aktivitas

lain yang secara kredit dengan perusahaan, misalnya dengan melihat leverage yang
74

menggambarkan tingkat hutang suatu perusahaan. Oleh sebab itu, tidaklah cukup

jika hanya mempertimbangkan dari jumlah kepemilikan institusional saja.

4.5.8 Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Biaya Utang.

H8 Frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh negatif terhadap biaya

utang.

Variabel frekuensi pertemuan komite audit diukur dengan melihat jumlah

pertemuan komite audit dalam satu tahun. Pada tabel 4.15 menunjukkan bahwa

pengujian untuk variabel frekuensi pertemuan komite audit memperoleh nilai

signifikan sebesar 0,791 (lebih besar dari 0,05) dan nilai beta sebesar 7,236.

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H8

ditolak (tidak berpengaruh signifikan).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014)

yang menyatakan bahwa frekuensi pertemuan komite audit tidak berpengaruh

signifikan terhadap biaya utang. Hal ini dikarenakan mau tidaknya kreditur

meninjamkan dananya tergantung dari presepsi kreditur itu sendiri.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa frekuensi pertemuan

komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang. Dengan adanya

frekuensi pertemuan komite audit yang rutin dan sering maka akan dapat

mengurangi masalah pelaporan keuangan. Hal ini dapat meningkatkan kinerja

perusahaan yang semakin baik, kepercayaan kreditur juga dapat ditingkatkan

dengan adanya kinerja perusahaan yang baik. Tetapi mau tidaknya seorang kreditur

meminjamkan dananya tergantung dari persepsi kreditur itu sendiri.


75

4.5.9 Pengaruh Kualitas Audit terhadap Biaya Utang.

H9 Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap biaya utang.

Variabel kualitas audit diukur dengan menggunakan variabel dummy,

dengan memberikan angka 1 untuk perusahaan yang di audit oleh KAP BIG 4 dan

angka 0 jika tidak. Pada tabel 4.15 menunjukkan bahwa pengujian untuk variabel

kualitas audit memperoleh nilai signifikan sebesar 0,403 (lebih besar dari 0,05) dan

nilai beta sebesar 0,005. Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa H9 ditolak (tidak berpengaruh signifikan).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustiawan (2012)

yang menyatakan kualitas audit mempunyai pengaruh yang tidak signifikan

terhadap biaya utang. Hal ini dapat disebabkan karena perusahaan memilih

menggunakan KAP Big Four karena memiliki reputasi yang baik di mata publik,

tetapi hal itu tidak menjamin untuk mengurangi biaya utang.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa kualitas audit tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya utang. Hal ini dapat disebabkan karena

perusahaan memilih menggunakan KAP Big Four karena memiliki reputasi yang

baik di mata publik, tetapi hal itu tidak menjamin untuk mengurangi biaya utang.

4.5.10 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Biaya Ekuitas.

H10 Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap biaya utang

Variabel komisaris independen diukur dengan menghitung persentase

jumlah komisaris independen dengan cara membagi jumlah komisaris independen

dengan jumlah komisaris didalam suatu perusahaan. Pada tabel 4.15 menunjukkan
76

bahwa pengujian untuk variabel komisaris independen memperoleh nilai signifikan

sebesar 0,000 (lebih kecil dari 0,05) dan nilai beta sebesar 0,123. Berdasarkan hasil

pengolahan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa H10 ditolak

(berpengaruh signifikan positif).

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2014)

yang menyatkan bahwa komisaris independen berpengaruh positif terhadap biaya

utang. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan dewan komisaris didalam perusahaan

merupakan suatu hal yang penting, dan dengan adanya dewan komisaris dapat

mencegah terjadinya asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham.

Dengan dilakukannya monitoring yang rutin oleh dewan komisaris independen.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa komisaris independen

memiliki pengaruh yang positif terhadap biaya utang. Hal ini dikarenakan dengan

adanya dewan komisaris dapat mencegah terjadinya asimetri informasi antara

manajemen dan kreditur. Dengan dilakukannya monitoring yang rutin oleh dewan

komisaris independen, dapat meningkatkan kepercayaan kreditur. Sehingga

kreditur dapat dengan mudah memberikan pinjaman kepada perusahaan.


77

4.6 Kesimpulan Penerimaan Hipotesis Penelitian

Tabel 4.18
Kesimpulan Hipotesis Penelitian

Hipotesis Pengaruh Kesimpulan

H1 Kepemilikan manajerial Tidak Berpengaruh Ditolak


berpengaruh negatif terhadap
biaya ekuitas.
H2 Kepemilikan institusional Tidak Berpengaruh Ditolak
berpengaruh negatif terhadap
biaya ekuitas
H3 Frekuensi pertemuan komite Tidak Berpengaruh Ditolak
audit berpengaruh negatif
terhadap biaya ekuitas.
H4 Kualitas audit berpengaruh Berpengaruh Negatif Diterima
negatif terhadap biaya ekuitas.
H5 Komisaris independen Tidak Berpengaruh Ditolak
berpengaruh negatif terhadap
biaya ekuitas.
H6 Kepemilikan manajerial Berpengaruh Negatif Diterima
berpengaruh negatif terhadap
biaya utang.
H7 Kepemilikan institusional Tidak Berpengaruh Ditolak
berpengaruh negatif terhadap
biaya utang.
H8 Frekuensi pertemuan komite Tidak Berpengaruh Ditolak
audit berpengaruh negatif
terhadap biaya utang.
H9 Kualitas audit berpengaruh Tidak Berpengaruh Ditolak
negatif terhadap biaya utang.
H10 Komisaris independen Berpengaruh Positif Ditolak
berpengaruh negatif terhadap
biaya utang.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh Good Corporate

Governance terhadap biaya ekuitas dan biaya utang pada perusahaan manufaktur

yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Variabel dependen yang digunakan adalah

biaya ekuitas dan biaya utang. Sedangkan variabel independen yang digunakan

adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, frekuensi pertemuan

komite audit, kualitas audit, dan komisaris independen sebagai proksi dari good

corporate governance. Pada penelitian ini juga digunakan variabel kontrol yaitu

leverage (debt equity ratio), perform (kinerja perusahaan), dan size (ukuran

perusahaan). Dalam penelitian ini terdapat sepuluh hipotesis yang diuji dengan

periode pengamatan tahun 2012-2016 serta menggunakan 95 sampel penelitian.

Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis, dapat dibuat kesimpulan

sebagai berikut:

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.

2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh

negatif terhadap biaya utang.

3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.

78
79

4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya utang.

5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi pertemuan komite audit

tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.

6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi pertemuan komite audit

tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang.

7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas audit berpengaruh negatif

terhadap biaya ekuitas.

8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh

signifikan terhadap biaya utang.

9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisaris independen tidak

berpengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.

10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisaris independen memiliki

pengaruh yang positif terhadap biaya utang.

5.2 Keterbatasan

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Masih terdapatnya perusahaan manufaktur yang tidak lengkap dalam

menerbitkan annual report dan financial report selama tahun penelitian.

2. Adanya hipotesis yang tidak didukung dengan penelitian-penelitian

sebelumnya, dikarenakan masih sedikitnya research yang menguji

pengaruh good corporate governance terhadap biaya ekuitas dan biaya

utang.
80

3. Masih terdapatnya perusahaan manufaktur yang tidak memiliki unsur-unsur

good corporate governance secara lengkap.

5.3 Saran

Dari keterbatasan-keterbatasan diatas maka saran yang dapat diberikan oleh

peneliti adalah sebagai berikut:

1. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas populasi

sampel dengan menggunakan seluruh perusahaan yang ada di Bursa efek

Indonesia untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih baik.

2. Untuk penelitian selanjutnya, dapat menambah unsur-unsur good corporate

governance lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Agustiawan, A. S. (2012). Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap


Cost Of Debt (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di BEI Periode
2006-2010). Retrieved from http://www.eprints.undip.ac.id

Ashkhabi, I. R. (2015). Pengharuh Corporate Governance Index, Struktur


Kepemilikan Perusahaan, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Biaya Utang.
Retrieved from https://www.lib.unnes.ac.id

FCGI. (2000). Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan
Corporate Governance ( Tata Kelola Perusahaan ) The Roles of the Board of
Commissioners and the Audit Committee Peranan Dewan Komisaris dan
Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance ( Ta, 45. Retrieved
from www.fcgi.or.id

Hollis, a, & Ryan, L. F. (2004). Corporate Governance and the Cost of Equity
Capital, (October), 49. https://doi.org/10.2139/ssrn.639681

Jensen, M. C., & Meckling, W. H. (1976). Theory of the firm: Managerial behavior,
agency costs and ownership structure. Journal of Financial Economics, 3(4),
305–360. Retrieved from https://doi.org/10.1016/0304-405X(76)90026-X

Marichel. (2016). Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Biaya Modal.


Retrieved from https://www.digilib.unila.ac.id

Natalia, D., Sun, Y., & Nusantara, U. B. (2012). Penerapan Good Corporate
Governance Terhadap Biaya Ekuitas Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2009-2012. Retrieved from https://www.ejournal.stiesia.ac.id

Nugroho, D. (2014). Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Biaya


Ekuitas dan Biaya Utang.

Sengupta, P., & Bhojraj, S. (2003). Effect of Corporate Governance on Bond


Ratings and Yields : The Role of Institutional Investors and Outside Directors
Author ( s ): Sanjeev Bhojraj and Partha Sengupta Published by : The
University of Chicago Press Stable URL : http://www.jstor.org/stable. The
Journal of Business, 76(3), 455–475. Retrieved from
https://www.jstor.org/stable.

Siregar, S. V. (2012). Pengaruh Corporate Governance Index, Kepemilikan


Keluarga, dan Kepemilikan Institusional terhadap Biaya Ekuitas dan Biaya
Utang: Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI,
(2004), 1–28. Retrieved from https://www.academia.edu

81
82

Taniau, A. (2014). Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Biaya Ekuitas


dan Biaya Utang.

Yenibra, R. (2014). Pengaruh Corporate Governance, Kualitas Audit, Voluntary


Disclosure terhadap Biaya Utang. Retrieved from
https://www.ejournal.unp.ac.id

Yunita, N. (2012). Pengaruh Corporate Governance Terhadap Voluntary


Disclosure dan Biaya Hutang. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi, vol 1(1),
90–96.
83

LAMPIRAN
Lampiran 1
Statistik Deskriptif Biaya Ekuitas

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

R 95 -,820 7,570 ,76944 1,356524

MAN 95 ,000 ,840 ,06273 ,110638

INS 95 ,000 ,977 ,63316 ,208567

FREQ 95 2.000 46.000 7.54737 7.441643

AQ 95 0 1 .37 .485

ID 95 ,250 ,500 ,39445 ,077529

LEV 95 ,039 5,390 1,33308 1,399483

PERFORM 95 -,066 11,264 ,28306 1,207376

SIZE 95 25,608 32,151 28,40005 1,726323

Valid N (listwise) 95

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Lampiran 2

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Biaya Ekuitas

Unstandardized
Residual

N 94

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 1.05772681

Most Extreme Differences Absolute .130

Positive .130

Negative -.087

Kolmogorov-Smirnov Z 1.259

Asymp. Sig. (2-tailed) .084

a. Test distribution is Normal.


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)

83
84

Lampiran 3

Histogram untuk r P-Plot untuk r

Lampiran 4

Coefficientsa untuk Biaya Ekuitas

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

MAN .411 2.434

INS .358 2.793

FREQ .941 1.062

AQ .554 1.807

ID .740 1.352

LEV .695 1.439

PERFORM .944 1.059

SIZE .413 2.423

Lag_y .875 1.143


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)
85

Lampiran 5

Uji Autokorelasi terhadap Biaya Ekuitas

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .631a .398 .333 1,112949 1.900

a. Predictors: (Constant), Lag_y, PERFORM, INS, FREQ, ID, AQ, LEV, SIZE, MAN

b. Dependent Variable: r

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Lampiran 6

Uji Heterokedasititas Biaya Ekuitas


86

Lampiran 7

Uji koefisien Determinasi (R2) terhadap Biaya Ekuitas

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .631a .398 .333 1,112949 1.900

a. Predictors: (Constant), Lag_y, PERFORM, INS, FREQ, ID, AQ, LEV, SIZE, MAN

b. Dependent Variable: r

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Lampiran 8

Uji T terhadap Biaya Ekuitas Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta T Sig.

1 (Constant) -1.841 3.294 -.559 .578

MAN -.474 1.620 -.039 -.292 .771

INS -.404 .922 -.062 -.438 .663

FREQ .008 .016 .042 .482 .631

AQ -.862 .319 -.307 -2.699 .008

ID -.707 1.722 -.040 -.411 .682

LEV .139 .099 .143 1.410 .162

PERFORM .192 .098 .171 1.959 .053

SIZE .101 .104 .128 .972 .334

Lag_y .444 .091 .442 4.887 .000

a. Dependent Variable: r
Sumber: Data diolah SPSS (2018)
87

Lampiran 9

Uji F terhadap Biaya Ekuitas ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 68.749 9 7.639 6.167 .000a

Residual 104.047 84 1.239

Total 172.796 93

a. Predictors: (Constant), Lag_y, PERFORM, INS, FREQ, ID, AQ, LEV, SIZE, MAN

b. Dependent Variable: r

Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Lampiran 10

Statistik Deskriptif Biaya Utang

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

COD 95 ,000 ,166 ,04175 ,025282

MAN 95 ,000 ,840 ,06273 ,110638

INS 95 ,000 ,977 ,63316 ,208567

FREQ 95 2.000 46.000 7.54737 7.441643

AQ 95 0 1 .37 .485

ID 95 ,250 ,500 ,39445 ,077529

LEV 95 ,039 5,390 1,33308 1,399483

PERFORM 95 -,066 11,264 ,28306 1,207376

SIZE 95 25,608 32,151 28,40005 1,726323

Valid N (listwise) 95

Sumber: Data diolah SPSS (2018)


88

Lampiran 11

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Biaya Utang

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized
Residual

N 94

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation .01782672

Most Extreme Differences Absolute .078

Positive .078

Negative -.057

Kolmogorov-Smirnov Z .755

Asymp. Sig. (2-tailed) .620

a. Test distribution is Normal.

Sumber: Data diolah SPSS

Lampiran 12

Histogram untuk COD P-Plot COD


89

Lampiran 13

Coefficientsa untuk Biaya Utang

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

MAN .368 2.719

INS .357 2.799

FREQ .910 1.098

AQ .555 1.802

ID .656 1.524

LEV .709 1.411

PERFORM .893 1.120

SIZE .416 2.404

Lag_y .652 1.533


Sumber: Data diolah SPSS
(2018)

Lampiran 14

Uji Autokorelasi terhadap Biaya Utang

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .711a .505 .452 ,018757 1.709

a. Predictors: (Constant), Lag_y, LEV, SIZE, FREQ, PERFORM, INS, ID, AQ, MAN

b. Dependent Variable: COD


Sumber: Data diolah SPSS (2018)
90

Lampiran 15

Uji Heterokedasititas Biaya utang

Lampiran 16

Uji koefisien Determinasi (R2) terhadap Biaya Utang

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .711a .505 .452 ,018757 1.709

a. Predictors: (Constant), Lag_y, LEV, SIZE, FREQ, PERFORM, INS, ID, AQ, MAN

b. Dependent Variable: COD

Sumber: Data diolah SPSS (2018)


91

Lampiran 17

Uji T terhadap Biaya Utang Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) .051 .055 .917 .362

MAN -.087 .029 -.382 -3.020 .003

INS -.023 .016 -.193 -1.502 .137

FREQ -7.236E-5 .000 -.021 -.265 .791

AQ .005 .005 .087 .840 .403

ID .123 .031 .378 3.987 .000

LEV -.003 .002 -.154 -1.694 .094

PERFORM .007 .002 .355 4.372 .000

SIZE -.002 .002 -.124 -1.043 .300

Lag_y .359 .095 .357 3.762 .000

a. Dependent Variable: COD


Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Lampiran 18

Uji F terhadap Biaya Utang ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression .030 9 .003 9.529 .000a

Residual .030 84 .000

Total .060 93

a. Predictors: (Constant), Lag_y, LEV, SIZE, FREQ, PERFORM, INS, ID, AQ, MAN

b. Dependent Variable: COD


Sumber: Data diolah SPSS (2018)

Anda mungkin juga menyukai