Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN

ANGKA KEJADIAN INFEKSI RUMAH SAKIT

TRIWULAN PERIODE JANUARI s/d MARET


LAPORAN

ANGKA KEJADIAN INFEKSI RUMAH SAKIT


TRIWULAN PERIODE JANUARI s/d MARET
RUMAH SAKIT UMUM DADI KELUARGA
JL. SULTAN AGUNG NO. 8 A TELUK
PURWOKERTO SELATAN
BANYUMAS

2019

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,

hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan “Laporan Triwulan Angka Kejadian Infeksi di RSU Dadi Keluarga

tahun 2019”.
Laporan Angka Kejadian Infeksi RSU Dadi Keluarga ini dibuat sebagai upaya dalam mendapatkan data infeksi rumah sakit, menurunkan laju infeksi rumah

sakit, identifikasi dini KLB infeksi rumah sakit, memenuhi standar mutu pelayanan medis dan keperawatan dan untuk memenuhi akreditasi RSU Dadi Keluarga.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus disampaikan kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam

pengumpulan data dan informasi sehingga laporan ini bisa diselesaikan tepat pada waktunya.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi susunan kalimat maupun tata

bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar laporan ini mencapai kesempurnaan.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi pelayanan kesehatan di RSU Dadi Keluarga.

Ditetapkan di : Purwokerto
Pada Tanggal : 4 April 2019
Ketua Tim PPI

dr. Shofa Shabrina H.

BAB I
PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN
Pencegahan dan Pengendalian infeksi adalah merupakan suatu upaya untuk meminimalkan atau mencegah terjadinya infeksi. Mengingat besarnya kerugian
yang harus ditanggung pasien, keluarga dan Rumah Sakit akibat terjadinya infeksi di rumah sakit. Pelaksanaan di lapangan, Komite Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi sering menemukan beberapa kendala antara lain : banyaknya pasien yang dirawat di Rumah Sakit sehingga dapat menjadi sumber infeksi bagi lingkungan
dan pasien lain, adanya kontak langsung antara pasien satu dengan pasien lainnya, adanya kontak langsung antara pasien dengan petugas Rumah Sakit yang
terinfeksi, penggunaan alat-alat yang terkontaminasi, kurangnya perhatian tindakan aseptik dan antiseptik serta kondisi pasien yang lemah. Juga persediaan sarana
dan prasarana yang ada masih kurang memadai, sehingga mudah untuk menimbulkan terjadinya infeksi.
Infeksi dirumah sakit merupakan masalah global dan menjangkau paling sedikit sekitar 9 % (variasi 3% - 21 %) lebih dari 1.4 juta pasien rawat inap di
rumah sakit di seluruh dunia. Angka ini dilaporkan oleh WHO dari hasil surveynya di 14 negara, meliputi 28.861 pasien di 47 rumah sakit yang berada di 4
wilayah (region) WHO pada tahun 1986. Survey WHO ini juga menghasilkan : 18 % dari pasien yang terkena infeksi di rumah sakit menderita lebih dari satu
jenis infeksi, terutama pada pasien penyakit kronis, adanya kemiripan tentang jenis infeksi di rumah sakit dan penyebabnya. infeksi di rumah sakit merupakan
salah satu infeksi yang sering terjadi di negara-negara berkembang maupun di negara-negara industri. Sebagian besar masalah dan kendala yang dihadapi berbagai
negara untuk mencegah dan mengendalikan kejadian infeksi di rumah sakittidak jauh berbeda sehingga strategi dan pelaksanaan pencegahan dan pengendalian
infeksi di rumah sakit dapat disusun untuk diterapkan pada kondisi masing-masing negara dan rumah sakit. Akibat lain dari kejadian infeksi di rumah sakit
adalah : Lama perawatan (LOS) lebih lama.
Upaya yang dilakukan Komite Pencegahan dan Pengendalian infeksi di rumah sakit adalah monitoring yaitu untuk mengamati pelayanan sedini mungkin,
untuk dapat menemukan dan selanjutnya memperbaiki masalah dan pelaksanaan program.
II. LATAR BELAKANG
Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga berupaya untuk meningkatkan mutu dalam memberikan pelayanan dan dukungan kesehatan bagi masyarakat umum.
Demikian juga dalam bidang pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah sakit dimana hal ini merupakan faktor utama yang menggambarkan kualitas
pelayanan. Hal ini mengacu pada komitmen bersama dalam mempersiapkan akreditasi.
Infeksi di Rumah Sakit merupakan masalah serius yang berdampak langsung terhadap pasien dan Rumah sakit, berpengaruh terhadap lama hari perawatan
yang berakibat meningkatnya biaya, morbiditas dan mortalitas sehingga mutu pelayanan Rumah sakit menurun, bahkan dapat terjadi tuntutan hukum. Sebagai
Rumah sakit yang berorientasi pada keselamatan pasien akan menerapkan metode yang tepat untuk mencegah dan mengendalikan hal tersebut.

Laporan kerja Tim PPI di RSU Dadi Keluarga ini digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan yang terencana dalam sembilan bulan ke depan.

III. TUJUAN
a. Tujuan Umum

1. Untuk memberikan gambaran kinerja TIM PPI dalam melaksanakan kegiatan Pencegahan dan Pengendalian infeksi di rumah sakit di RSU Dadi
Keluarga.

2. Sebagai pedoman bagi Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RSU Dadi Keluarga dalam melakukan surveilans kegiatan PPI untuk
menurunkan resiko infeksi pada pasien dan karyawan rumah sakit.

b. Tujuan Khusus :

1. Mendapatkan data dasar infeksi RSU Dadi Keluarga.


2. Menurunkan laju infeksi RSU Dadi Keluarga.
3. Identifikasi dini KLB infeksi RSU Dadi Keluarga.
4. Meyakinkan para tenaga kesehatan tentang adanya masalah yang memerlukan penanggulangan.
5. Mengukur dan menilai keberhasilan suatu program PPI di RSU Dadi Keluarga.
6. Memenuhi standar mutu pelayanan medis dan keperawatan
7. Salah satu unsur pendukung untuk memenuhi akreditasi RSU Dadi Keluarga.

BAB II

PROSES PELAKSANAAN KEGIATAN PPI

A. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Melakukan survei harian untuk angka kejadian plebitis
2. Melakukan survei harian untuk angka kejadian ISK
3. Melakukan survei harian untuk angka kejadian IDO
4. Melakukan survei harian untuk kepatuhan HH
5. Melakukan survei harian Pembuangan Benda Tajam
6. Melakukan survei harian Pembuangan Limbah
7. Melakukan pertemuan pembahasan ICRA, setiap kegiatan rehab gedung.
8. Melakukan kunjungan monitoring terkait PPI ke ruangan dan Unit kerja
9. Audit Insiden plebitis, ISK dan IDO

B. DATA
1. Angka Kejadian Plebitis
Plebitis adalah iritasi vena oleh alat IV, obat-obatan, atau infeksi yang ditandai dengan kemerahan, bengkak, nyeri tekan pada sisi IV.(Weinstein, 2001)

Dalam istilah yang lebih teknis lagi, plebitis mengacu ke temuan klinis adanya nyeri, nyeri tekan, bengkak, pengerasan, eritema, hangat dan terbanyak
vena seperti tali. Semua ini diakibatkan peradangan, infeksi dan atau trombosis. Banyak faktor telah dianggap terlibat dalam patogenesis plebitis,
antara lain:
1. Faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan;
2. Faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi serta
3. Agen infeksius.
Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka plebitis mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni. diabetes melitus, infeksi, luka bakar).
Suatu penyebab yang sering luput perhatian adalah adanya mikropartikel dalam larutan infus dan ini bisa dieliminasi dengan penggunaan filter.

KEJADIAN PLEBITIS JANUARI 2019

No Nama Ruangan ∑ Pasien Terpasang Infus ∑ Plebitis ‰


1 R. ICU 52 2 38
2 R. ZONA 1 470 4 9
3 R. ZONA 2 1742 0 0
4 R.MERANTI 383 5 13
5 R.CENDANA 253 2 0
6 R.PINUS 148 2 14
7 R.POLIKLINIK 0 0 0
TOTAL 3048 15 5
Dari tabel diatas pada bulan Januari 2019 dapat tergambar ada 6 (enam) ruangan rawatan yang terdapat angka kejadian plebitis yaitu ruangan ICU 2
kejadian, ruang zona 1 sebanyak 4 orang, ruang zona 2 tidak terjadi phlebitis,ruang meranti terjadi 5 orang,ruang cendana terdapat 2 phlebitis,ruang
pinus 2 orang.

Dari 3048 orang pasien secara keseluruhan ruangan yang terpasang infus di bulan Januari terdapat kasus plebitis sebanyak 15 orang dengan persentase
5‰

KEJADIAN PLEBITIS FEBRUARI 2019

No Nama Ruangan ∑ Pasien Terpasang Infus ∑ Plebitis ‰


1 R. ICU 43 2 47
2 R. ZONA 1 411 4 10
3 R. ZONA 2 184 4 22
4 R.MERANTI 541 5 9
5 R.CENDANA 527 2 4
6 R.PINUS 165 0 0
7 R.POLIKLINIK 0 0 0
TOTAL 1871 17 9

Dari tabel diatas pada bulan Februari 2019 dapat tergambar ada 6 (enam) ruangan rawatan yang terdapat angka kejadian plebitis yaitu ruangan ICU 2
kejadian, ruang zona 1 sebanyak 4 orang, ruang zona 2 terjadi 4 phlebitis,ruang meranti terjadi 5 orang,ruang cendana terdapat 2 phlebitis,ruang pinus
0 orang.
Dari 1871 orang pasien secara keseluruhan ruangan yang terpasang infus di bulan Februari terdapat kasus plebitis sebanyak 17 orang dengan
persentase 9 ‰

KEJADIAN PLEBITIS MARET 2019

No Nama Ruangan ∑ Pasien Terpasang Infus ∑ Plebitis ‰


1 R. ICU 43 3 70
2 R. ZONA 1 433 0 0
3 R. ZONA 2 1916 11 6
4 R.MERANTI 422 3 7
5 R.CENDANA 306 2 7
6 R.PINUS 0 0 0
7 R.POLIKLINIK 0 0 0
TOTAL 3120 19 6

Dari tabel diatas pada bulan Maret 2019 dapat tergambar ada 6 (enam) ruangan rawatan yang terdapat angka kejadian plebitis yaitu ruangan ICU 3
kejadian, ruang zona 1 tidak terjadi plebitis, ruang zona 2 terjadi 11 phlebitis,ruang meranti terjadi 3 orang,ruang cendana terdapat 2 phlebitis,ruang
pinus 0 orang.

Kesimpulan Jumlah keseluruhan pasien yang terpasang infus dari Januari s/d Maret 2019 adalah 3120 orang, kejadian plebitis 51 orang.
Pada triwulan (Januari-Maret) 2019 terjadinya kejadian plebitis, hal ini menurut observasi yang dilakukan disebabkan karena banyaknya pasien yang
mendapatkan terapy D40 ,KCL dan pemasangan infus masih banyak yang belum sesuai SPO.

a. Rencana Tindak Lanjut :


1. Mengaadakan pelatihan bagaimana melakukan pemasangan infus yang benar agar tidak terjadi phlebitis
2. Tehnik pemasangan infuse harus sesuai SPO
3. APD petugas harus selalu diperhatikan
2. Angka Kejadian ISK

KEJADIAN ISK 2019

∑ Pasien Terpasang
∑ ISK ‰
No Nama Ruangan Kateter
Februari Maret Februari Maret Jan Feb Mar
Januari Januari
41 35 0 0 0 0
1 R. ICU 62 1 16
58 60 0 0 0 0
2 R. ZONA 1 179 4 22
141 172 0 0 0 0
3 R. ZONA 2 192 0 0
36 38 0 0 0 0
4 R.MERANTI 4 0 0
20 24 0 0 0 0
5 R.CENDANA 14 0 0
14 14 0 0 0 0
6 R.PINUS 14 0 0
R.POLIKLINI 0 0 0 0 0 0
7 K 0 0 0
TOTAL 465 310 343 5 0 0 11 0 0
Jumlah keseluruhan pasien yang terpasang kateter dari Januari s/d Maret 2019 adalah 1.118 orang, kejadian ISK 5 orang

a. Analisa Masalah

Dari 1.118 orang yang terpasang kateter terdapat kejadian ISK 5 orang, hal ini harus di jadikan evaluasi dan rencana tindak lanjut yang lebih
baik secara SPO maupun pemakaian APD agar ISK tidak terjadi.

b. Rencana Tindak lanjut


Melakukan pengawasan dalam pemasangan kateter baik secara teknik maupun APD.

3. Angka Kejadian IDO

KEJADIAN INFEKSI DAERAH OPERASI 2019

No Nama Ruangan ∑ Jumlah Pasien Operasi ∑ Pasien IDO %


Bersih
Februari Maret Februari Maret Jan Feb Mar
Januari Januari
8 7 0 0 0 0
1 R. ICU 8 0 0
44 47 0 0 0 0
2 R. ZONA 1 60 0 0
174 189 0 0 0 0
3 R. ZONA 2 142 0 0
25 17 0 0 0 0
4 R.MERANTI 24 0 0
9 9 0 0 0 0
5 R.CENDANA 9 0 0
9 9 0 0 0 0
6 R.PINUS 13 0 0
R.POLIKLINI 0 0 0 0 0 0
7 K 0 0 0
TOTAL 256 269 278 0 0 0 0 0 0

Jumlah keseluruhan pasien operasi dengan jenis luka bersih dari Januari s/d Maret 2017 adalah 803 orang, kejadian IDO 0.
a. Analisa Masalah

Jumlah keseluruhan pasien operasi dengan jenis luka bersih dari Januari s/d Maret 2017 adalah 803 orang, kejadian IDO 0.

b. Rencana Tindak Lanjut

1. Melakukan pengawasan terhadap SPO yang telah dibuat.

2. Melakukan monitoring penggunaan CLIPPER untuk pencukuran sebelum operasi


4. Kepatuhan Hand Hygiene

a. Analisa Masalah

Laporan kepatuhan handhygiene dari bulan Januari sampai Maret 2019 yang rata- rata 80 % mulai ada kesetabilan kepatuhan handhygiene.

b. Rencana Tindak Lanjut :


1. Untuk pelaksaaan hand hygiene agar maksimal rumah sakit sudah menyediakan fasilitas yang dibutuhkan perawat,tinggal perbaikan aliran air
kemasing-masing wastafle.
2. Tingkatkan monitoring kepatuhan handhygiene
3. Setiap petugas RSU Dadi Keluarga harus mengerti urutan hand hygiene yang benar dan tepat sesuai dengan WHO.
4. Sosialisasi ulang penginputan kepatuhan handhygiene di masing – masing unit.
5. Monitoring jobdisk ipcln dan ipcl guna mendukung pelaporan dan menurunkan resiko infeksi sesuai dengan program PPI
5. Kepatuhan Alat Pelindung Diri (APD )

NO. STANDAR APD


1 JANUARI 100% 80,00%
2 FEBRUARI 100% 82,20%
3 MARET 100% 85,00%

1. Analisa masalah
Data monitoring pemakaian APD Januari sampai Maret setabil waluapun belum sesuai dengan standar capaian.
2. Rencana Tindak Lanjut
a. Tingkatkan lagi sosialisasi kepatuhan APD baik kepada petugas medis atau non medis
b. Monitoring dan penginputan pemakaian APD lebih ditingkatkan lagi.
c. Fasilitas APD selalu di pantau
d. Edukasi dan sosialisasi ulang ipcln dan ipcl tentang penginputan kepatuhan APD guna mensukseskan program – program PPI

C. JADWAL KEGIATAN
JADWAL KEGIATAN
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
RSU DADI KELUARGA TAHUN 2019

BULAN
NO URAIAN KEGIATAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES KETERANGAN
1 MELAKSANAKAN SURVEILANS
a. Plebitis
b. Infeksi Daerah Operasi
c. Infeksi Saluran Kemih
d. Kejadian Dekubitus
e. Kejadian Infeksi Emerging dan Re-Emerging
f. Infeksi dengan virulensi tinggi

2 MONITORING :
a. Sterilisasi
b. Proses pencucian linen
c. Peralatan kadaluwarsa, single-use menjadi re- use
d. Pembuangan sampah infeksi dan cairan tubuh
e. Penanganan pembuangan darah dan komponen darah
f. Area transit jenazah
g. Pembuangan benda tajam
h. Penggunaan ruang isolasi
i. Kepatuhan Hand Hygiene
j. Kepatuhan penggunaan APD

3 KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


a. Chek-Up kesehatan karyawan
b. Pemberian Imunisasi Hepatitis B Sesuai Kebutuhan
c. Penanganan pasca pajanan Sesuai Kebutuhan

4 PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Sesuai Kebutuhan


a. Anggota dan Tim PPI
b. Karyawan Sesuai kebutuhan

5 SOSIALISASI PPI
a. Karyawan Baru Sesuai Kebutuhan
b. Mahasiswa Praktek Sesuai Kebutuhan
c. Pasien/keluarga/pengunjung 2 kali setiap bulan
6 Pengadaan Handrubs, handwash dan APD

7 PENYUSUNAN ICRA HAIs

8 LAPORAN

9 EVALUASI
D. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN
Evaluasi dan analisis dilakukan tiap 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun oleh Tim
Pencegahan dan Pengedalian Infeksi dan hasil evaluasi diserahkan kepada Direktur,
kemudian dilakukan tindak lanjut dari hasil yang didapat.

E. Pencatatan Pelaporan Evaluasi Kegiatan


a. Pencatatan
Survelilans, dokumentasi kegiatan, dst...

b. Pelaporan
Kegiatan dilaporkan oleh komite PPI kepada direktur pada akhir tahun
kegiatan

c. Evaluasi Kegiatan
Evaluasi kegiatan dilakukan dalam rapat triwulan PPI, evaluasi akhir
dilakukan dalam rapat tahunan komite PPI
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI . 2008 ,Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dan


Fasilitas Kesehatan Lainya, Jakarta, Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 2004, Pedoman Manajemen Linen di Rumah Sakit, Jakarta
Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, Pedoman Penata Laksanaan Pengelolaan Limbah Padat dan
Cair di Rumah Sakit, Jakarta Depkes RI.

Keputusan Mentri Kesehatan 1204 / MENKES/SK/X/2004, 2015, Persyaratan


KesehatanLingkunganRumah Sakit, Jakarta Kepmenkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 1994, Buku Pedoman Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan
Rumah Sakit ( Konsep dasar dan Prinsip ), Jakarta Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 2008, PanduanNasional Keselamatan Pasien RumahSakit


( Patien Safety ), Jakarta Depkes RI.

Permenkes RI No. 1691 / MENKES / PER / VIII/ 2011, Keselamatan Pasien RumahSakit,
Jakarta, Kemenkes RI.

Kepmenkes 875/MENKES/SK/VIII/2001, 2015, Penyusunan Upaya Pengelolaan


Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan( UKL-UPL) Kegiatan Bidang
Kesehatan,Jakarta Kemenkes RI.

Kepmenkes 876/ MENKES/SK/VIII/2001, 2015, PedomanTeknis Analisis Dampak


Kesehatan Lingkungan, Jakarta Kepmenkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 2010, Pedoman Pelaksanaan Universal di Pelayanan Kesehatan ,


Jakarta Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pengendalian infeksi di rumah sakitdiRumahSakit,


Jakrata Depkes RI.

Departemen kesehatan RI, 2011, Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
di RumahSakit dan Fasilitas Pelayan kesehatan Lainnya, Jakarta, Depkes RI.
Departemen Kesehatan RI, 2002, Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia, Jakarta,
Depkes RI.

Departemen Kesehhatan RI , 2012 , Pedoman Pencegahan dan Pengendalian


InfeksiTuberculosis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Jakarta Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 2004, Pedoman Manajemen Linen di Rumah Sakit, Jakarta
Depkes RI.