Anda di halaman 1dari 13

LABORATORIUM TEKNOLOGI FORMULASI

SEDIAAN STERIL
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
BANDUNG

Zat Aktif : Atropin Sulfat


Sediaan : Tetes Mata
Jumlah sediaan : 10 mL

1. FORMULA
R/Atrofin Sulfat 1%
NaCl q.s
Benzalkoni Chloridum 0,01%
Dinatrii Edetas 0,05%
Aqua Pro Injection ad 10 mL

2. KEGUNAAN ZAT DALAM FORMULA


Tabel 2.1 Kegunaan Zat Dalam Formula
Zat Kegunaan
Atropin Sulfat Zat Aktif
Benzalkonii Chloridum Pengawet
Na2EDTA Antioksidan
NaCl Pengisotonis
Aqua Pro Injection Zat Pembawa

3. ALASAN PEMILIHAN FORMULA


3.1 Atropin Sulfat
Atropin Sulfat dipilih sebagai zat aktif karena mempunyai khasiat untuk
menimbulkan efek meringankan peradangan pada mata dengan melebarkan
pembuluh darah
3.2 Benzalkonium Klorida
Dalam formula ini digunakan sebagai pengawet untuk membunuh
mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi sediaan karena sediaan ini
harus bersifat steril.
3.3 NaCl
Dalam formula ini digunakan sebagai pengisotonis karena tonisitas
larutan bersifat hipotonis sehingga diperlukan penambahan NaCl 0,9% agar
larutan menjadi isotonis.
3.4 Na2EDTA
Dalam formula ini Na2EDTA digunakan sebagai pengompleks untuk
mengikat ion-ion logam yang berasal dari wadah gelas yang digunakan,
terutama pada saat proses pembuatan karena ion logam dapat bereaksi dengan
zat berkhasiat yang digunakan.
3.5 Aqua Pro Injection
Diunakan sebagai pelarut dalam sediaan tetes mata

4. MONOGRAFI
4.1 Monografi Zat Aktif
4.1.1 Atropin Sulfat

Gambar 4.1 Struktur Kimia Atropin Sulfat


(Japanese Pharmacopeia, hal 407)
Bobot molekul : 694,83 (monohidrat) dan 676,83 (anhidrat)
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur,
putih, tidak berbau, mengembang di udara
kering, perlahan-lahan terpengaruh oleh
cahaya.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut
dalam etanol, terlebih dalam etanol
mendididh, mudah larut dalam gliserin.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hal 183)
Titik lebur : 188o-194oC
(Japanese Pharmacopeia, hal 424)
Stabilitas : meleleh pada suhu 190oC dengan
dekomposisi setelah pengeringan suhu 135oC
selama 13 menit
(The Pharmaceutical Codex Twelve Edikon, hal 748)
4.2 Monografi Zat Tambahan
4.2.1 Natrium klorida (NaCl)
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Natrium klorida terjadi sebagai bubuk
kristal putih atau kristal tidak berwarna, ini
memiliki rasa asin. Kisi kristal adalah struktur
kubik yang berpusat pada wajah. Natrium
klorida padat tidak mengandung air
kristalisasi meskipun, di bawah 0°C, garam
dapat mengkristal sebagai dihidrat.
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian
air mendidih dan dalam lebih kurang 10
bagian gliserol P, sukar larut dalam etanol
(95%)P.
(Farmakope Indonesia III, hal 403-404)
pH : 6,7-7,3
Titik leleh : 804˚C
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil
dapat menyebabkan pengguratan partikel dari
tipe gelas.
OTT : Larutan natrium klorida encer bersifat
korosif terhadap zat besi. Bereaksi
membentuk endapan dengan garam perak,
timah, dan merkuri. Zat pengoksidasi kuat
membebaskan klorin dari larutan natrium
klorida yang diasamkan.
(Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6nded: 637-639)
4.2.2 Benzalkonii Chloridum

Gambar 4.2 Struktur Kimia Benzalkonii Chloridum


(Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6nded: 57)
Nama Lain : Benzalkonium Klorida
Pemerian : Gel kental atau potongan seperti gelatin;
putih atau kekuningan. Biasanya berbau
aromatik lemah. Larutan dalam air berasa
pahit, jika dikocok sangat berbusa dan
biasanya sedikit alkali.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam
etanol; bentuk anhidrat mudah larut dalam
benzen dan agak sukar larut dalam eter.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hal. 211)
Titik lebur : 40oC
Stabilitas : Benzalkonium klorida bersifat higroskopis
dan dapat dipengaruhi oleh cahaya, udara,
dan logam.
(Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6nded: 57)
4.2.3 Dinatrii Edetas
Nama Lain : Dinatrium Edetat
Rumus Molekul : Na2EDTA
Berat Molekul : 372,24 (monohidrat) dan 336,21 (anhidrat)
Pemerian : Serbuk hablur, putih.
Kelarutan : Larut dalam air.
pH : 4,0-6,0
Stabilitas : Stabil dalam bentuk padat, bentuk garam
lebih stabil dari bentuk asam bebas.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
(Farmakope Indonesia Edisi IV, hal. 329)
4.2.4 Aqua Pro Injection
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup kedap, disimpan
dalam wadah tertutup kapas berlemak, harus
digunakan dalam waktu 30 hari setalah
pembuatan.
Kestabilan : Stabil secara kimia dalam bentuk fisika
bagian dingin cairan uap.
OTT : Bereaksi dengan obat dan bahan tambahan
yang mudah terhidrolisis (terurai karena
adanya air) atau kelembaban pada suhu tinggi,
bereaksi kuat dengan logam alkali.
(FI Edisi III, hal. 97 ; Excipient, hal. 337 – 338)

5. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN


5.1 Tonisitas
Tabel 5.1 Tonisitas

Zat C ∆tb a
Atropin Sulfat 1% 0,07 0,07
Benzalkonii Chloridum 0,01% 0,09 0,0009
Dinatrium Edetat 0,05% 0,13 0,0065
Jumlah 0,0774

5.2 Perhitungan tonisitas


0,52− 𝑎
W NaCl = 𝑏
0,52−0,0774
= = 0,767 g/ml
0,576

Tonisitas larutan yang sebenarnya :


0,9-0,767 = 0,133 g/100 mL (Hipotonis)P
Penambahan NaCl
0,9-0,133= 0,767 g/ 100mL = 76,7 mg/10mL
5.3 Perhitungan bahan
a. Volume sediaan yang telah dilebihkan (dibuat 1 vial = 10 mL)
V = n x C + 2 ml
= 1 x 10,5 + 2 ml
= 12,5 ml ~ 13 ml
b. Per Unit
Atropin Sulfat = 0,13 mg /10 mL
NaCl = 76,7 mg/10 mL
Benzalkonii Chloridum = 0,0013 mg/10 mL
Na2EDTA = 0,0065 mg/ 10 mL
Aqua Pro Injection = ad 13 mL
c. Per Batch
Atropin Sulfat = 130 mg
NaCl = 99,71 mg
Benzalkonii Chloridum = 1,3 mg
Na2EDTA = 6,5 mg
Aqua Pro Injection = ad 13 mL
5.4 Penimbangan bahan
Atropin Sulfat = 130 mg
NaCl = 99,71 mg
Benzalkonii Chloridum = 1,3 mg
Na2EDTA = 6,5 mg
Aqua Pro Injection = ad 13 mL

6. STERILISASI ALAT DAN PROSEDUR


6.1 Sterilisasi
Tabel 6.1 Sterilisasi alat
Alat Sterilisasi Waktu
Batang Pengaduk Api langsung 20”
Kaca Arloji Api langsung 20”
Spatel logam Api langsung 20”
Beaker glass Oven 170oC 30’
Erlenmeyer Oven 170oC 30’
Kertas saring Autoklaf 121oC 30’
Corong Autoklaf 121oC 30’

6.2 Prosedur Sterilisasi


Sterilisasi dengan cara proses aseptik, pertama-tama peralatan dan bahan
yang digunakan harus sudah steril. Pengerjaan sediaan tetes mata ini dilakukan
di LAF. Pada pengerjaannya semua bahan dicampurkan kemudian sediaan
dimasukan ke dalam vial tetes mata yang telah disediaan.
6.3 Prosedur Kerja
Alat dan bahan disiapkan, kemudian ditimbang dan ukur bahan yang akan
digunakan. Pengerjaannya dilakukan dengan cara proses aseptik di LAF.
Pertama-tama atropin sulfat dilarutkan dalam 3 mL aqua pro injection.
Kemudian NaCl dilarutkan dalam 2 mL aqua pro injection. Selanjutnya
Na2EDTA dilarutkan dalam 1 mL aqua pro injection, lalu benzalkonii
chloridum dilarutkan dalam 1 mL aqua pro injection. Setelah semua bahan
terlarut, lalu semua larutan tersebut dicampurkan sampai homogen. Setelah itu
larutan digenapkan dengan aqua pro injection ad 13 mL, dikocok sampai
homogen. Kemudian dicek pHnya dengan menggunakan pH universal, jika
tidak memenuhi rentang ditambahkan peng-adjust pH yang sesuai hingga
diperoleh rentang 3,5-6,0. Selanjutnya larutan yang sudah homogen tersebut
disaring dengan kertas saring terlebih dahulu, kemudian disaring kembali
dengan mikroba filter. Filtrat yang diperoleh langsung diisikan ke dalam vial
yang sudah disediakan dengan volume 10 mL. Vial yang sudah terisi kemudian
ditutup. Sediaan yang sudah jadi kemudian dievaluasi.
6.4 Prosedur Evaluasi
6.4.1 Uji kejernihan
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh
seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan
cahaya yang baik, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat
dilihat dengan mata.
6.4.2 Uji kebocoran
Ampul disimpan secara terbalik didalam wadah, kemudian
permukaan bawahnya diletakan tisu. Kemudian dimasukan kedalam
autoklaf selama 15 menit pada suhu 121oC. Apabila sediaan bocor maka
volume pada ampul berkurang.
6.4.3 Uji keseragaman volume
Ampul diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu
dilihat keseragaman volume secara visual.
6.4.4 Uji penampilan fisik wadah
Pemeriksaan dilakukan secara visual dengan diperhatikan bentuk
wadah atau ampul yang digunakan pada sediaan yang sudah jadi.

7. HASIL EVALUASI SEDIAAN


Tabel 7.1 Hasil Evaluasi Sediaan

Jenis Evaluasi Hasil


Kejernihan Jernih
Penampilan fisik wadah Baik
Jumlah Sediaan 1
Ph 5
Keseragaman volume 10 mL

8. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini telah dilakukan tentang pembuatan obat tetes mata
dengan menggunakan zat aktif atropin sulfat. Sediaan tetes mata ini digunakan
untuk mediatris dan siklopegia. Obat yang memiliki sifat medriatris merupakan
golongan obat yang mempengaruhi dilatasi atau ukuran pupil bola mata (dapat
membesar pupil mata), midriasis dapat mengakibatkan fotopobia. Selain itu atropin
dapat digunakan untuk siklopegia (dengan melemahkan otot siliari) sehingga
memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Atropin sulfat bekerja
dengan menghambat reseptor muskarinik constrictor pupillae dan M. ciliaris lensa
mata, sehingga menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralisis mekanisme
akomodasi). Konsentrasi atropin sulfat untuk memberikan efek pada sediaan tetes
mata yaitu 100 mg dalam 10 ml volume tetes mata.
Pembuatan sediaan obat tetes atropin sulfat dibuat dengan menggunakan pelarut
air. Atropin sulfat memiliki sifat sangat mudah larut dalam air, sehingga pada
pembuatanya juga stabil dengan pelarut air. Pembawa air yang digunakan yaitu a.p.i
(aqua pro injeksi). Pada formulasinya ditambahakan zat tambahan yaitu
Natrium klorida (NaCl) sebagai pengisotonis. Sehingga perlu ditambahkan NaCl
agar isotonis dan untuk mencapai isohidris pH sediaan harus tetap diperhatikan
dalam rentang kestabilan bahan. Obat tetes mata dengan zat aktif atropin sulfat ini
memiliki stabilitas pH sediaan pada rentang 3,5-6,0. Pada sediaan dilakukan cek
pH setelah proses pembuatan, dimana diperoleh pH sediaan sebesar 5 hal ini telah
masuk rentang sesuai dengan pH stabilitas tetes mata atropin sulfat yaitu 3,5-6,0.
Uji Ini merupakan uji yang sangat penting dan erat kaitannya terhadap stabilitas
bahan yang terdapat dalam sediaan. Selain NaCl, pada formulasi ini digunakan
benzalkonium chloridium sebagai bahan pengawet. Semua larutan untuk mata harus
dibuat steril dan bila mungkin ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk
menjamin sterilitas selama pemakaian. Walaupun obat tetes mata yang dibuat sudah
steril tetapi perlu penambahan pengawet karena obat tetes mata yang dibuat ini
digunakan dalam multiple dose, sehingga besar kemungkinan terjadi kontaminasi
mikroba dari udara saat obat tetes mata dibuka ketika akan digunakan. Pengawet
dalam obat tetes mata harus memenuhi syarat yaitu efektif dan efisien (harus aktif
terhadap Pseudomonas aeruginosa), tidak berinteraksi dengan zat aktif dan eksipien
lain, tidak iritan terhadap mata dan tidak toksik. Pengawet yang dipilih adalah
benzalkonium klorida karena efektif dalam dosis rendah (0,01 – 0,02 %) sangat
aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa, reaksi antimikrobanya cepat dan stabilitas
tinggi pada rentang pH lebar, tetapi masih kompatibel dengan zat aktif dan eksipien
lain. Zat tambahan lain yang digunakan yaitu dinatrium edetat sebagai agen
pengkhelat dengan konsentrasi 0,005-0,1% b/v. Umumnya Na2EDTA ditambahkan
untuk meningkatkan aktivitas amonium kuartener salah satunya yaitu
benzalkonium klorida. Dalam sediaan obat mata, benzalkonium klorida adalah
pengawet yang sering digunakan kombinasi dengan pengawet atau eksipien lain,
terutama dengan dinatrium EDTA untuk meningkatkan aktivitas melawan
Pseudomonas aeruginosa.
Pada pembuatan sediaan obat tetes mata ini ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan yaitu ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan, sterilitas
akhir dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk menghambat
pertumbuhan dari mikroorganisme selama penggunaan serta isotonisitas dari
larutan. Berdasarkan hal tersebut pembuatan tetes mata ini dibuat dengan metode
sterilitas teknik aseptik, karena sediaan tetes mata ini menggunakan kemasan
plastik maka metode yang digunakan aseptik. Keadaan steril pada tetes mata sangat
diperlukan, karena apabila tetes mata yang digunakan telah terkontaminasi
mikroorganisme maka dapat terjadi rangsangan berat yang dapat menyebabkan
hilangnya daya penglihatan atau terlukanya mata.
Kemudian pada sediaan tetes mata ini, selain dilakukan sterilisasi aseptik
dilakukan pula proses penyaringan dengan kertas saring untuk memastikan bahwa
sediaan tidak adanya endapan yang ada pada larutan. Tetes mata steril selain harus
bebas mikroba harus isotonis dan isohidris. Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat
mendekati isotonis agar dapat diterima tanpa rasa nyeri dan tidak dapat
menyebabkan keluarnya air mata, yang dapat mencuci keluar bahan obatnya.
Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima dari pada hipotonis. Jika tonisitas
tetes mata tidak mendekati cairan mata, maka pada pemakaian dapat menimbulkan
rasa nyeri dan iritasi.
Pengerjaan sterilisasi metode aseptis dilakukan dalam ruang bersih kelas A
dengan latar belakang kelas B. Dalam pembuatannya di ruang kelas A harus
dilengkapi dengan Laminar Air Flow (LAF) yang bertujuan agar proses pengerjaan
benar-benar steril dan sediaan yang dibuat dapat terhindar dari adanya pirogen
karena Laminar Air Flow (LAF) merupakan alat yang memiliki pola pengaturan
dan penyaring aliran udara secara kontinyu melewati tempat kerja, sehingga tempat
kerja tersebut bebas dari debu dan spora-spora yang mungkin jatuh kedalam
sediaan. Kecepatan udara pada Laminar Air Flow (LAF) ini yaitu 0,36-0,54 m/detik
karena apabila kurang dari 0,36 m/detik maka partikel tidak bisa terbawa dan tidak
boleh lebih dari 0,54 m/detik menghindari terjadinya udara turbulen sehingga akan
menimbulkan kontaminasi. Selain aliran tersebut LAF memiliki sinar UV yang
berfungsi untuk mensterilkan udara dengan membunuh bakteri melalui mitasi gen.
Selanjutnya tetes mata steril dikemas dalam botol plastik yang tertutup kedap
kemudian dilakukan evaluasi sediaan. Evaluasi umum yang dilakukan pada sediaan
tetes mata yaitu uji kejernihan, penampilan fisik wadah dan pH.. Berdasarkan uji
penampilan fisik wadah , hal ini menunjukan tidak adanya perubahan apapun dan
sediaan berada dalam kondisi baik. Setelah itu pada sediaan dilakukan uji
kejernihan yang berfungsi untuk memastikan bahwa seluruh partikel-partikel dalam
sediaan tersebut homogen atau terlarut sempurna dalam pelarutnya. dan pada
sediaan didapat hasil yang jernih. Artinya sediaan memenuhi syarat dengan sifat
semua bahan yang terdapat dalam formula dapat larut dengan baik.

9. KESIMPULAN
Berdasarkan pembuatan sediaan tetes mata atropin sulfat ini dapat disimpulkan
bahwa sediaan memenuhi syarat dan hasil evaluasi sediaan yang didapat berupa
larutan yang jernih dan memiliki pH sediaan
10. DAFTAR PUSTAKA
American Society of Health System Pharmacists. 2011. AHFS Drug
Information. Maryland: Bethesda.

British pharmacopoeia. 2009. British Pharmacopoeia. volume I dan II.


London : buttler, T. P. 470.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi


IV. Jakarta : DepKes. Hal. 112; 158.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional


Edisi II. Jakarta : DepKes. Hal. 99.

Rowe,R.C.,Shesky,P.L,. dan Owen,S.C. 2009. Handbook Pharmaceutical


Excipients 6th. London : The Pharmaceutical Press and The American
Pharmacist Association. P. 242-244; 637-639; 648-649

Sweetman, S.C. 2009. Martindale the complete drug reference. London. P.


294.
11. LAMPIRAN