Anda di halaman 1dari 2

Pasangan sempurna

Waktu menunjukan pukul 10.00 siang. Ini merupakan waktu ku untuk mengistirahatkan sejenak
pikiran yang sedari tadi sudah mengirimkan sinyal lapar dari perut. Tanpa menunggu waktu lama aku
pun bergegas ke kantin untuk segera menghindari percakapan-percakapan ricuh di kelas pada saat jam
istirahat. “indira !” teriak seorang perempuan di belakang ku, aku pun melirik kearah suara tersebut dan
ternyata itu adalah Dian sahabatku, sudah tiga tahun aku mengenalnya maka akupun tak segan untuk
selalu menceritakan masalahku dengannya. Namun kami berada di kelas yang berbeda. Dian
mengajakku untuk pergi membeli buku sore ini, aku pun mengiyakan ajakan nya barusan.lalu ia kembali
ke kelasnya.

Ketika aku melewati koridor mwnuju kantin mataku tertuju pada sepasang sejoli yang hendak
berjalan bersama. Aku cukup mengenal pasangan tersebut bagaimana tidak, yang satu tampan dan yang
satu nya lagi cantik, membuat para siswa yang melihat iri seketika. Namanya Revan dan Sofie, mereka
dijuluki pasangan sempurna di sekolah. Saat mereka berjalan kulihat sofie yang tak sengaja menyenggol
Bu Mirna, sehingga sampah-sampah yang diakut Bu Mirna pun berserakan, tanpa mengucapkan minta
maaf Sofie mengajak Revan untuk pergi meninggalkan Bu Mirna yang buru-buru membersihkan sampah.
Akupun cepat membantu Bu Mirna yang kesulitan. “Bu Mirna gak papa?” tanyaku, “enggak nak, makasih
sudah membantu” jawabnya. Jujur aku marah dengan sikap Sofie barusan, tak kusangka dia akan
bertindak seenaknya.
Keesokan harinya Aku memulai aktivitas ku kembali di sekolah, tapi pada saat itu aku ingin pergi ke
warung langgananku untuk sekedar membeli sarapan. Saat di warung aku pun memesan roti bakar,
namun pada saat itu dengan mendadak sofie membalikan badannya sehingga minuman yang ia pegang
jatu mengotori baju seragamku. Sofie yang menyadari keberadaanku langsung kaget. “ngapain sih
disitu? Jadi tumpahkan minumanku !!” bentak Sofie. “loh harusnya kamu dong yang hati-hati !” jawabku
denagan nada yang tegas. Kami cekcok di kantin, sampai akhirnya Revan datang untuk menghentikan
percekcokan kami berdua dengan cara mengajak Sofie untuk bergegas pergi, disitu Aku kecewa kepada
Revan karena seharusnya ia memihak padaku yang menjadi korban. Namun apalah dayaku yang hanya
sebatas orang lain di hadapannya.

Jam pulang pun tiba, hari ini Dian mengajakku untuk pulang bersama “oh yaa, tadi Revan Tanya
tetang kamu dan katanya sih pengen ngobrol.” Ucap Dian yang sontak membuatku sedikit kaget. Aku
pun mngiyakannya. Dian langsung mengantarku menuju revan. Melihat kedatanganku ia langsung
menyapa namaku. Tanpa basa-basi ia meminta maaf atas perlakuan Sofie padaku. Dan betapa kagetnya
aku ketika Revan menyatakan bahwa ia telah memutuskan hubungannya dengan Sofie. Aku tak
menyangka ternyata kisah pasangan sempurna itu pun berakhir. Revan mengungkapkan bahwa Sofie itu
memiliki karakter yang kurang baik dibalik kecantikan fisiknya.

Seketika aku tahu bahwa pasangan yang sempurna bukanlah pasangan yang sama-sama
memiliki kesempurnaan secara fisik saja. Tapi pasangan yang sederhana namun memcancarkan
kebahagiaan dari hatinya.