Anda di halaman 1dari 17

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM

1. Judul Pengabdian: Teknik Budidaya Galo-galo (trigona leaviceps) Untuk


Meningkatkan Produktivitas Kelompok Tani di Jorong Pasia Tangah Kecamatan X
Koto Singkarak

2. Tim Pelaksana
No Nama/NIDN Jabatan Alokasi
Bidang Instansi
Waktu
keahlian Asal
(Jam/minggu)
1 Dr. Jasmi, M.Si Ketua  Ekologi Hewan STKIP 10
 Budidaya Lebah PGRI
Madu Sumatera
 Teknik Barat
Penangkaran
Serangga
 Entomologi
2 Drs.Ismed Wahidi, Anggota  Ekologi Hewan STKIP 10
M.Si PGRI
Sumatera
Barat
3 Elza Safitri, M.Si Anggota  Ekologi Hewan STKIP 10
PGRI
Sumatera
Barat
4 Novi, M.Si Anggota  Fisiologi STKIP 10
Tumbuhan PGRI
Sumatera
Barat

3. Objek (khalayak sasaran) Pengabdian Kepada Masyarakat : Kelompok tani di Jorong Pasia
Tangah Kecamatan X Koto Singkarak
4. Masa pelaksanaan :
Mulai : bulan April tahun : 2018
Berakhir : bulan Juli tahun : 2018
5. Usulan biaya Yayasan STKIP PGRI Sumatera Barat
Tahun ke–1 : Rp. 25.000.000,00
6. Lokasi Pengabdian Kepada Masyarakat : Jorong Pasia Tangah Kecamatan X Koto Singkarak
7. Mitra yang terlibat : Kelompok tani di Jorong Pasia Tangah Kecamatan X Koto Singkarak
8. Permasalahan yang ditemukan :
9. Kontribusi mendasar pada khalayak sasaran : penyuluhan tentang kualitas madu, mengingat di
daerah tersebut banyak masyarakat mencari madu secara tradisional. Inti dari penyuluhan yang
dilakukan juga mengajarkan masyarakat lebih mengenal lebah dan madu serta upaya
menjadikannya peluang dalam kegiatan ekonomi
10. Rencana luaran: Publikasi pada media massa lokal yaitu koran ANTARA SUMBAR

iii
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

DAFTAR ISI iii

RINGKASAN iv

BAB 1. PENDAHULUAN 1

BAB 2. SOLUSI DAN TARGET LUARAN 6

BAB 3. METODE PELAKSANAAN 6

BAB 4. KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI 7

BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 8

DAFTAR PUSTAKA 9

LAMPIRAN 12

iv
RINGKASAN

Tujuan kegiatan pengabdian Teknik Budidya Galo-galo (lebah Trigona leaviceps)


bagi masayarakat adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan arahan
masayarakat yang belum produktif secara ekonomi di Kanagarian Andaleh, Kecamatan
Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Target khusus yang ingin dicapai pada Pengabdian Tennik budidaya Galo-galo adalah
1) terdapat anggota masyarakat yang memahami dan dan menyadari manfaat keberadaan
Galo-galo sebagai penghasil produk koloni bernilai ekonomi tinggi; dan memiliki minat
untuk berwirausaha budidaya galo-galo. 2) terbentuk kelompok calon-calon wirausaha
budidaya Galo-galo yang mampu mewadahi kepentingan mereka dalam meningkatkan
kapasitas diri, mengatasi permasalahan, memperkuat posisi tawar, meningkatkan
produktifitas dan mempertahankan keberlanjutan wirausaha Galo-galo. 3) terdapat calon-
calon wirausaha budidaya Galo-galo secara berkelompok yang menguasai pengetahuan dan
memiliki kemampuan untuk menerapkan teknologi tepat guna dalam penangkaran dan
budidaya Galo-galo. 4) terbentuknya kelompok wirausaha yang memahami manajemen
kemampuan manajerial di bidang wirausaha.
Kegiatan Pengabdian Teknik budidya Galo-galo dilakukan dengan metode
penyuluhan dan pelatihan. Pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku wirausaha budidaya
Galo-galo dalam meningkatkan produktivitas usaha tani dan kesejahteraan masyarakat
dilakukan dengan metode penyuluhan. Untuk tujuan pemberdayaan dilakukan dengan
metode dalam bentuk edukasi, fasilitasi dan representasi. Edukasi terhadap mitra yang terdiri
dari anggota masyarakat pengangguran yang berpotensi sebagai calon pelaku wirausaha
budidaya Galo-galo. Proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan “hadap masalah”.
Pada pendekatan “hadap masalah” calon wirausaha dan tenaga pelatih atau penyuluh sama-
sama belajar dari masalah yang dihadapi dalam mengatasi rendahnya produksi tanaman
cabai merah dan menemukan peluang usaha baru dari budidaya Galo-galo. Kegiatan
fasilitasi dilaksanakan dalam bentuk upaya memberikan bantuan, dorongan, semangat dan
bimbingan. Kegiatan representasi merupakan upaya pelatihan atau penyuluh menjembati
kepentingan-kepentingan calon pelaku wirausaha budidaya Galo-galo dengan pihak-pihak
lain di luar lingkungan kelompok pelaku wirausaha.

Kata kunci: Galo-galo, Trigona laeviceps, budidaya, polinator, palawija

v
1

BAB 1.PENDAHULUAN

1.1. Analisis situasi

Pemberdayaan masyarakat (community development) pada dasarnya memberi daya


dan kesempatan kepada masyarakat yang belum berdaya agar mampu menggali potensi dan
memanfaatkan sumber daya mereka untuk memecahkan masalah, meningkatkan
produktifitas dan kesejahteraan hidupnya (Maad, 2014). Kurang berdayanya masayarakat
dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengetahuan, keterampilan atau
arahan. Kondisi tersebut ditemukan pada sebagian besar masayarakat kanagarian Andaleh,
Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Dari data yang ada pada
Kantor Wali Nagari Andaleh terlihat bahwa sebanyak 1000 dari 2500 orang penduduknya
adalah generasi muda produktif dengan kisaran umur 20-30 tahun, rata-rata pendidikan
tamatan SLTA dengan status pekerjaan tidak tetap (Anonim, 2016). Salah satu dampak dari
belum berdayanya masayarakat adalah banyaknya jumlah pengangguran.
Kondisi geografis nagari Andaleh terletak pada ketinggian 900-1400 m dpl.
Sebanyak 80 jenis tumbuhan berbunga sebagai sumber pakan lebah tersedia sepanjang tahun
dan 36 jenis diantanranya tanaman budidaya (Jasmi, 2017). Lebih dari 85% penduduknya
bekerja sebagai petani palawija dan tanaman keras. Jenis palawija yang umum
dibudidayakan adalah cabai merah, terung, kacang-kacangan, saledri bawang daun dan lain-
lain sedangkan tanaman keras yang banyak diusahakan adalah kopi, kayu manis, jeruk
manis dan tanaman kehutanan (Anonim, 2016).
Kanagarian Andaleh Kecamatan Batipuh memiliki potensi sumber daya hayati yang
bernilai ekonomi tinggi dan belum dimanfaatkan. Sumber daya hayati tersebut adalah lebah
Trigona (galo-galo bahasa Minang, klanceng, lenceng bahasa Jawa) dari jenis Trigona
laeviceps. Jenis galo-galo tersebut sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki
beberapa keunggulan, diantaranya: (1) mampu hidup pada berbagai tipe kondisi habitat dan
ketiggian (Salmah, 1991; Putra et al., 2016), (2) memiliki volume rongga sarang mencapai
dua liter (Salmah, 1991), (3) dapat menempatkan sarangnya pada berbagai rongga seperti
2

pada bambu, lubang kayu, tempurung kelapa dan celah-celah bebatuan (Putra & Jasmi
2016), (4) menghasilkan propolis serta berperan sebagai polinator berbagai jenis tanaman
dan tumbuhan liar.
Galo-galo memiliki potensi untuk mengatasi permasalahan, produktifitas usaha
pertanian, sumber pendapatan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jenis galo-galo T. laeviceps sangat potensial untuk dibudidayakan di kanagarian Andaleh
karena beberapa alasan diantaranya 1) galo-galo tersebut telah beradaptasai dan cocok
dengan kondisi lingkungan di Andaleh, 2) sarang galo-galo tersebut dapat ditemukan pada
berbagai tempat (Gambar 1), 3) keragaman jenis tumbuhan sumber pakan tersedia dalam
kondisi berlimpah, 4) tersedia sumber daya alam untuk bahan pembuatan stup dan 5) ada
delapan kelompok tani aktif dan terdaftar di Kantor Wali Nagari serta 6) Andaleh telah
dicanangkan oleh gubernur Sumatera Barat sebagai ”Nagari Bunga” dari tahun 2008.

A B C

D E F
Gambar 1. Habitat sarang alami galo-galo (Trigona leaviceps) di Andaleh Kecamatan
Batipuh, Tanah Datar. A= sarang ditempatkan pada pintu kamar mandi yang
terbuat dari fiber. B= sarang ditempatkan dalam rongga dinding rumah papan.
C= sarang ditempatkan di dalam rongga dinding rumah yang terbuat dari
tembok. D = sarang ditempatkan dalam rongga pohon andalas (Morus sp.). E =
sarang ditempatkan di dalam rongga lobang kunci. F= sarang ditempatkan
dalam rongga pipa paralon.
3

Potensi galo-galo sebagai sumber perekonomian masyarakat terlihat dari produk


koloni dari galo-galo yang bernilai ekonomi tinggi. Produk koloni galo-galo yang bernilai
ekonomi tinggi adalah madu dan propolis. Nilai ekonomi galo-galo dihitung dari hasil
analisis finansial budidaya galo-galo seperti yang dilakukan Djajasaputra (2010) pada
peternakan lebah madu Alam Lestari di Kampung Beunying, Kelurahan Cilaja, Kecamatan
Majasari, Kabupaten Pandeglang, Banten (Tabel 1). Usaha budidaya 200 koloni galo-galo
dalam rentang waktu satu tahun dapat mendatangkan keuntungan sebesar Rp12.825.160.
Tabel 1. Analisis finansial budidaya 200 koloni galo-galo (lebah Trigona) selama satu tahun
No Jenis kegiatan Penerimaan (Rp) Pengeluaran (Rp)
1 Pembelian bibit Trigona - 36.000.000
2 Pembuatan kotak sarang - 51.450.000
3 Pembelian botol kosong - 60.000
4 Upah pekerja dan sewa lahan - 57.600.000
5 Pembelian obat hama - 50.000
6 Penjualan madu sarang 2.400.000 -
7 Penjualan madu curah 10.000.000 -
8 Penjualan propolis 46.800.000 -
9 Penjualan koloni 240.000.000 -
Total 299.200.000 145.310.000
Pendapatan/tahun 153.890.000
Pendapatan/bulan 12.824.166

Beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Andaleh adalah tingginya


persentase tenaga penangguran pada usia produktif. Tenaga produktif yang menganggur
relatif besar yaitu 33,33% dari 1000 penduduk (Anonim, 2017). Tingginya persersentase
pengangguran disebabkan relatif kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedian baik di
nagari Andaleh maupun di luar Andaleh. Namun sampai saat ini belum ada lapangan kerja
alternatif yang dapat menyerap tenaga kerja untuk menekan jumlah angka pengangguran.
Dalam satu sisi tenanga pengangguran adalah usia potensial yang produktif dan jika tidak
segera diarahkan tentu tidak tertutup pula kemungkinan mereka akan mengarah pada
prilaku-prilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada.
Persoalan lain yang dihadapi petani produktif adalah rendahnya produksi buah dari
tanaman palawija yang dibudidayakan. Rendah produksi buah yang dihasilkan oleh tanaman
palawija disebabkan oleh kurangnya serangga polinator yang berkunjung pada saat tanaman
berbunga. Sampai saat ini peran galo-galo belum dimanfaatkan sebagai polinator untuk
membantu polinasi tanaman. Pada hal, tanaman cabai merah merah termasuk komoditi
4

pertanian penting bagi pemenuhan kebutuhan pangan dan harganya sangat berfluktuasi
sehingga mempengaruhi perekenomian masyarakat baik dari sisi petani produsen maupun
masyarakat konsumen. Dari hasil-hasil penelitian telah dilaporkan bahwa galo-galo dapat
meningkatkan produksi buah berbagai jenis tanaman budidaya seperti cabai merah (Putra at
al., 2015).

1.2. Permasalahan Mitra


Mitra dari Program Kemitraan Masyarakat ini adalah masyarakat yang belum
produktif tetapi memiliki hasrat yang kuat untuk menjadi wirausaha mandiri, mereka terdiri
dari masyarakat petani cabai merah merah dan angkatan kerja terdidik yang masih
menganggur, baik sebagai penggangguran nyata maupun sebagai penggnggur tersembunyi.
Bagi masyarakat petani yang berjiwa kewirausahaan, usaha tani cabai merah memberi
peluang keuntungan yang lebih besar dibandingkan komoditi pertanian lain seperti padi dan
tanaman pangan lainnya, namun peluang ini berhadapan dengan ancaman berupa serangan
penyakit dari jamur dan bakteri yang dapat menimbulkan kerugian lebih besar bagi mitra
bila tidak mampu dikendalikan dan diatasi.
Mitra dari masyarakat petani cabai merah belum tahu dan menyadari bahwa
permasalahan rendahnya produksi tanaman cabai merah salah satunya disebabkan oleh tidak
tersedianya serangga penyerbuk seperti galo-galo pada aeral pertanaman cabai merah.
Selama ini galo-galo yang hidup secara liar, bersarang pada bangunan atau benda-benda
lain yang berada di pemukiman penduduk, cenderung dipandang masyarakat sebagai
binatang yang tidak memiliki potensi manfaat, bahkan sering dibunuh atau diusir karena
dianggap merusak atau minimal menimbulkan ketidaknyamanan.
Demikian pula masyarakat yang masih tergolong pengangguran belum mengetahui
dan menyadari mengenai peluang wirausaha dari peternakan galo-galo. Mereka belum
mengetahui bahwa galo-galo adalah penghasil madu dan propolis sebagai bahan baku
industri komestik dan obat-obatan yang bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat menciptakan
lapangan kerja dan menjadi sumber pendapatan bagi mereka.
Upaya mengembangkan wirausaha dengan komoditi galo-galo T. leaviceps yang
selama ini masih hidup secara liar, memerlukan kemampuan teknologi penangkaran dan
budidaya lebah. Di samping itu, juga diperlukan manajemen usaha, meliputi: perencanaan
5

usaha, jaringan pemasaran, pengelolaan modal usaha, pengelolaan produksi, dan


pengelolaan keuangan perusahaan.
Untuk meningkatkan kapasitas mitra di bidang penguasaan teknologi dan manajemen
usaha, mitra memerlukan organisasi sebagai wadah untuk mengefektifkan dan
mensinergikan pemanfaatan sumberdaya serta proses transformasi pengetahuan dan
pengalaman diantara mitra atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan;
guna mengatasi masalah bersama dalam berusaha dan menguatkan posisi tawar menawar
anggota kelompok mitra.
Selama ini karena faktor ketidaktahuan mitra akan nilai guna galo-galo, mereka
sudah pasti tidak memiliki kemampuan (daya) teknologi penangkaran dan pembudidayaan.
Mitra belum memiliki kemampuan mengelola (manajemen) wirausaha, khususnya
wirausaha peternakan galo-galo. Selanjutnya mereka belum memiliki organisasi atau
kelompok usaha yang diperlukan untuk mewadahi usaha peningkatan kapasitas diri,
mengatasi permasalahan dan memperkuat posisi tawar menawar dalam menjalankan usaha.
Berdasarkan kondisi mitra yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan mitra
adalah bagaimana memberdayakan masyarakat sebagai mitra dalam penangkaran dan
pembudidayaan Galo-galo untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan
masyarakat, dengan rincian permasalahan berikut:
1. Bagaimana mengedukasi mitra tentang keberadaan Galo-galo sebagai penghasil
madu dan propolis yang bermanfaat dalam meningkatkan produktivitas, pencipta
lapangan kerja dan sumber pendapatan.
2. Bagaimana mengedukasi mitra dalam membangkitkan kesadaran akan pentingnya
organisasi, memanfasilitasi mitra dalam pembentukan organisasi yang mampu
mewadahi kepentingan mereka dalam meningkatkan kapasitas diri, mengatasi
permasalahan, menciptakan kekuatan posisi tawar menawar dan meningkatkan
produktifitas dan menjaga keberlanjutan usaha mereka.
3. Bagaimana mengedukasi dan memfasilitasi mitra dalam menerapkan teknologi
penangkaran dan budidaya galo-galo sehingga menghasilkan madu, propolis dan
koloni yang dimanfaatkan sebagai barang ekonomi yang bernilai tinggi maupun
polinator.
4. Bagaimana mengedukasi, memfasililitasi dan mengadvokasi mitra dalam
menjalankan manajemen wirausaha, meliputi: perencanaan usaha, membangunan
6

jaringan pemasaran, mengelola permodalan, mengelola produksi dan mengelola


keuangan perusahaan.

BAB 2. SOLUSI DAN TARGET LUARAN

Dalam upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh mitra, ditawarkan solusi
berupa Budidaya Galo-galo, dengan target luaran sebagai berikut:
1. Terdapat anggota masyarakat yang memahami dan dan menyadari manfaat
keberadaan Galo-galo sebagai penghasil produk koloni bernilai ekonomi tinggi; dan
memiliki minat untuk berwirausaha budidaya galo-galo.
2. Terbentuk kelompok calon-calon wirausaha budidaya Galo-galo yang mampu
mewadahi kepentingan mereka dalam meningkatkan kapasitas diri, mengatasi
permasalahan, memperkuat posisi tawar, meningkatkan produktifitas dan
mempertahankan keberlanjutan wirausaha Galo-galo.
3. Terdapat calon-calon wirausaha budidaya Galo-galo secara berkelompok yang
menguasai pengetahuan dan memiliki kemampuan untuk menerapkan teknologi
tepat guna dalam penangkaran dan budidaya Galo-galo.
4. Terbentuknya kelompok wirausaha yang memahami manajemen kemampuan
manajerial di bidang wirausaha.
5. Luaran Kegiatan ini akan dipublikasikan pada koran Lokal.

BAB 3. METODE PELAKSANAAN


Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penyuluhan, diskusi serta praktek
langsung di lapangan. Metode penyuluhan dan diskusi digunakan untuk menguraikan seluruh
materi. Sedangkan praktek lansung di lapangan meliputi praktek mendesain tempat dan
peralatan untuk penangkaran dan budidaya galo-galo yang lansung dipraktekkan oleh
peserta sebagai bentuk latihan. Dalam kegiatan di lapangan juga dilakukan demo aplikasi
teknik penangkaran dan budidaya galo-galo oleh tim dosen.
7

BAB 4. KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI

Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat memiliki profil
lulusan utama sebagai sarjana pendidikan dan profil pendamping sebagai entrepreneurship.
Salah satu bidang entrepreneurship yang tawarkan dan kembangkan pada bagi mahasiswa
melalui mata kuliah pilihan adalah teknik penengkaran serangga dan budidaya lebah madu.
Untuk pemantapan materi dan keterampilan mahasiswa peserta mata kuliah tersebut
dilakukan kerjasa dengan kelompok Apiari Sakato Padang Pariaman yang telah
berpengalaman dalam budidaya lebah dari tahun 1984. Teknik pembuatan perangkap stup
dan budidaya Trigona sudah merupakan kegiatan rutin mahasiswa dibawah bimbingan
dosen.

Terkait kelayakan perguruan tinggi penyelenggara PKM yang diusulkan yaitu unit
P3M STKIP PGRI Sumatera Barat, secara legalitas unit P3M STKIP PGRI Sumatera Barat
tahun 2017 menduduki peringkat Madia. Kegiatan-kegiatan pengabdian yang telah
dilakukan Unit P3M STKIP PGRI Sumatera Barat sebagai berikut, pada tahun 2013
sebanyak 38 judul kegiatan dengan sumber dana dari perguruan tinggi sendiri, tahun 2014
sebanyak 22 judul kegiatan dengan sumber dana dari perguruan tinggi sendiri dan dua judul
dari dana Dikti, tahun 2015 sebanyak 15 judul kegiatan dengan sumber dana dari perguruan
tinggi sendiri dan empat judul dari dana Dikti dan tahun 2016 sebanyak empat judul
pengabdian pada masyarakat dari dana Dikti.

Kepakaran yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan mitra terkait dengan


budidaya Galo-galo adalah keahlian dalam bidang penangkaran dan budidaya lebah
khususnya yang mendalami bidang kajian lebah madu. Dalam hal ini, tesis dan disertasi
serta publikasi dari ketua tim pengususul secara akademis cukup mendukung untuk
melalukan kegiatan pengabdian tersebut. Selain itu, substansi materi untuk menyelesaikan
seluruh persoalan mitra juga didukung oleh mata kuliah yang diampu oleh tim pengusul
seperti mata kuliah Ekologi Hewan, Budidaya Lebah Madu, Teknik Penangkaran Serangga
dan Entomologi seperti terlihat pada Tabel 3.
8

Tabel 3. Tim pengusul dan uraikan kepakaran dan tugas masing-masing


No Nama/NIDN Jabatan Bidang keahlian
1 Dr. Jasmi, M.Si Ketua  Ekologi Hewan
 Budidaya Lebah Madu
 Teknik Penangkaran Serangga
 Entomologi
2 Drs.Ismed Wahidi, M.Si Anggota  Ekologi Hewan

3 Elza Safitri, M.Si Anggota  Ekologi Hewan

4 Novi, M.Si Anggota  Fisiologi Tumbuhan

BAB V. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI


5.1. HASIL YANG DICAPAI
Sebelum melakukan kegiatan pengabdian masyarakat inipenulis melakukan diskusi
bersama tim dosen yang terlibat. Kegiatan ini dilakukan untuk menyamakan pengetahuan
dan pemahaman tentang Teknik Budidaya Galo-galo (trigona leaviceps) Untuk
Meningkatkan Produktivitas Kelompok Tani di Jorong Pasia Tangah Kecamatan X Koto
Singkarak. Setelah kegitan ini dilakukan, penulis beserta tim dosen mulai mendistribusikan
jobdesk darimasing-masing individu.
Kegiatan pengabdian ini diawali dengan mensurvei lokasi pengabdian dengan
kriteria memiliki potensi sumber daya hayati yang bernilai ekonomi tinggi dan belum
dimanfaatkan yaitu lebah. Akhirnya jatuh pilihan pada daerah Jorong Pasia Tangah
Kecamatan X Koto Singkarak. Setelah tempat untuk melakukan kegiatan diperoleh, penulis
beserta tim pengabidan masyarakat melakukan serangkaian perizinan surat menyurat dan
segala sesuatu yang diperlukan agar kegiatan dapat segera terlaksana.
Peserta pengabdia adalah dosen, mahasiswa serta anggota Kelompok Tani di Jorong
Pasia Tangah Kecamatan X Koto Singkarak. Dalam acara ini dilakukan beberapa rangkaian
kegiatan. Mulai dari penyuluhan dan diskusi menguraikan seluruh materi. Setelah itu
dilanjutkan dengan praktek lansung di lapangan meliputi praktek mendesain tempat dan
peralatan untuk penangkaran dan budidaya galo-galo yang lansung dipraktekkan oleh
peserta sebagai bentuk latihan. Dalam kegiatan di lapangan juga dilakukan demo aplikasi
teknik penangkaran dan budidaya galo-galo oleh tim dosen.
9

5.2. LUARAN YANG DICAPAI


Luaran yang dicapai dalam pengabdian ini telah dipublikasikan pada media cetak
ANTARA SUMBAR yaitu pada Jum’at 3 Agustus 2018 19:34 WIB dengan alamat link
https://sumbar.antaranews.com/berita/230490/pengabdian-masyarakat-dosen-stkip-pgri-
sumatera-barat-penyuluhan-madu-berkualitas

BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA


Rencana tahapan berikutnya adalah penyuluhan mengenai pengenalan pakan alami dan
hama yang menyerang dalam budidaya galo-galo serta upaya pencegahannya.

BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan dalam kegiatan ini yaitu penyuluhan mengenai Teknik Budidaya Galo-galo
(trigona leaviceps) Untuk Meningkatkan Produktivitas Kelompok Tani di Jorong Pasia
Tangah Kecamatan X Koto Singkarak membawa dampak positif dalam meningkatkan
pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan dan membudidayakan sumber daya
yang telah tersedia di alam serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Baconawa, A.D. 2002. The economics of bee pollination in the Philippines. The Mayamang
Masa Multi-Purpose Development Cooperative (MMMPDC) Bee Project.

Bankova, V.S, S.L. de Castro & M.C. Marucci. 2000. Propolis: Recent advances in
chemistry and plant origin. Apidologie 31, 3-15.

Djajasaputra, M. R. S.2010. Potensi budidaya lebah Trigona DAN pemanfaatan propolis


sebagai antibiotik alami untuk sapi po. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor

Free, J.B. 1982. Bees and Mankind. George Allen and Unwin, London..

Kelly, N., M. S. N.Farisya, T. K. Kumara and P. Marcela. 2014. Species Diversity and
External Nest Characteristics of Stingless Bees in MeliponiculturePertanika J.
Trop. Agric. Sci. 37 (3): 293-298.

Kumar, M.S., A.JA. Ranjit Singh and G. Alamuguthu. 2012. Traditional beekeeping
stingless bee (Trigona sp.) by Kani tribes of Western Ghats, Tamil Nadu, India.
Indian Journal of Traditional Knowledge 11 (2): 342-345
10

Meda, A., C. e. Lamien, M. Romito, J. Meilongo & O. G. Nacoulma. 2005. Determination


of the total phenolic, flavonoid and proline contents in Burkina Fasan honey, as
well as their radical scavening activity. Food chemistry 91:571-577.

Putra, N. S, N. L. Watiniasih, M. Suartini. 2016. Jenis lebah Trigona (Apidae: Meliponinae)


pada ketinggian tempat berbeda di bali. Jurnal SimbiosisIV (1): 6-9

Sakagami, S. F. 1978. Tetragonula Stingless Bees of the Continental Asia and Sri Lanka
(Hymenoptera, Apidae). J. Fac. Sci. Hokkaido Univ.(Zool). 21: 165-247.

Salmah, S. 1986. Postembryonic development and devision in labor in three species of


Sumatera stingless bees. Disertation for doctor of Science, Hokaido University
Japan.

Salmah, S. 1989. Jenis lebah pengahasil madu dan potensinya di Sumatera Barat. Laporan
penelitian. BKS-B dan USAID Pusat Penelitian Universitas Andalas. Padang
--------.1991. Jenis lebah sosial (Apidae) dan distribusinya di Taman Nasional Kerinci
Seblat. Laporan penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat
Penelitian Universitas Andalas. Padang

Sanpa, S., M. Popova, V. Bankova, T. Tunkasiri,S. Eitssayeam, P. Chantawannakul. 2015.


Antibacterial Compounds from Propolis ofTetragonula laeviceps and TeTrigona
melanoleuca (Hymenoptera: Apidae) from Thailand. PLoS ONE10(5): e0126886.
doi:10.1371/journal.pone.0126886.

Seeley,T.D., R. H. Seeley and P. Akratanakul.1982. Colony defence strategies of the


honeybee in Thailand. Ecological Monograph. 52 (1): 43-63.

Schmidt, J. O. and H. Kaya. 1995. Selection of nest cavities by Africanized honeybee.


Apidologie. 26: 467-75

Syafrizal, Daniel Tarigan, Roosena Yusuf. 2014. Keragaman dan habitat lebah Trigona pada
hutan sekunder tropis basah di hutan Pendidikan Lempake, Samarinda,
Kalimantan.Jurnal Teknologi Pertanian 9(1):34-38.

Taher, T. 2011. Identifikasi senyawa flavonoid dari ekstrak metanol dari kulit batang langsat
(Lansium domesticum L.). Skripsi. Gorontalo: UNG.

Tukan, G.D. 2008. Pengaruh propolis Trigona spp. asal Pandeglang terhadapbeberapa isolat
bakteri usus sapi dan penelusuran komponen aktifnya. Tesis.Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Woo, K.S. 2004. Use of bee venom and propolis for apitherapy in Korea. In: Proceeding of
the 7th Asian Apicultural Association and 10th Beenet Symposium and
Technofora;Los Banos, 23-27 Februari 2004. University of Philippines, Los
Banos, 311-315.
11

Yaghoubi, S.M.J., G.R Gharbani, S. Soleimanian Zad, & R. Satari. 2006.Antimicrobial


activity of Iranian propolis and its chemical composition.Departement of Animal
Sciences, Departement of Food Sciences andTechnology. College of Agriculture,
Isfahan University of Technology,Isfahan, Iran., DARU vol. 15, No 1. 2007
12

LAMPIRAN
13
14

LAPORAN AKHIR

PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT (PPM)

TEKNIK BUDIDAYA GALO-GALO (Trigona leaviceps) UNTUK


MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KELOMPOK TANI
DI JORONG PASIA TANGAH KECAMATAN X KOTO SINGKARAK

Oleh:

Dr. Jasmi, M.Si 0014085603


Drs. Ismed Wahidi, M.Si 0031126410
Elza Safitri, M.Si 1027108501
Novi, M.Si 1028108402
Widuri Handayani 14010135

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)


PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2018