Anda di halaman 1dari 11

Critical book report

Kesehatan Keselamatan Kerja (K3)

Disusun oleh:

Nama : ASTONI SINAMBELA


Nim : 5171121001
Judul buku : Gas Beracun Fall Kerja
Dan Ergonomi Kecelakaan Kerja

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


2017
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
HIGIENE spesialis dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang liangkup dedikasinya
adalah mengenali, mengukur dan melakukan penilaian (evakuasi) terhadap faktor penyebab
gangguan kesehatan atau penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan.

Tujuan
Hakikat higiene perusahaan dan kerja (hiperker) adalah dua hal:
1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja seoptimal mungkin
(dalam hal tertentu mungkin setinggi-tingginya, seandainya kondisi yang di perlukan
cukup memadai ), pada pekerja/ buruh,petani, nelayan pegawai negeri, pengusaha,
manajer atau pekerja bebas di semua sektor kegiatan ekonomi dan non-ekonomi
formal, informal dan non -formal; dengan demikian di maksudkan untuk tujuan
menyejahterakan tenaga kerja.
2. Sebagai alat untuk meningkatkan produksi dan produktifitas , yang berlandaskan
kepada perbaikan daya kerja dan produktifitas faktor manusia dalam produksi.

MANFAAT
Dengan menerapkan higiene perusahaan kesehatan tenaga kerja/pekerja dapat
dilindungi dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya faktor lingkungan
yang mungkin terjadi di akibatkan oleh beroperasinya suatu perusahaan.
BAB II
RINGKASAN MATERI PER-BAB

GAS BERACUN

A.Gas Beracun
Di antara gas beracun terpenting dalam higiene perusahaan dan kesehatan kerja
adalah asam sianida, asam sulfida,karbonmonoksida (CO) serta derivat – derivatnya.Selain
itu, gas seperti ozon dan CO2 kadang- kadang dapat menyebabkan terjadinya keracunan pula.
Selain itu terdapat aneka racun gas yang khas untuk suatu proses produksi tertentu sehingga
terhadapnya dituntut kewaspadaan yang tinggi.
Gas beracun merupakan gas kimia yang berupaya menyebabkan kesankeracunan
apabila gas tersebut masuk melalui paru-paru. Kesan
keracunan boleh dilihat dalam jangka masa singkat (juga dikenali sebagai kesanmendadak
atau akut). Setelah memasuki badan, gas beracun mendatangkankesan sama ada iritan
(menyebabkan kecederaan sel-sel di tapak kemasukan),anestetik (menyebabkan kesan hilang
kesedaran), kelemasan (mengalihkanoksigen sehingga mangsa tidak memperolehi oksigen
mencukupi) dankecederaan organ tertentu.

B.Asam Sianida
Asam sianida (HCN) atau di sebut pula asam biru di gunakan untuk fumigasi tikus
dan untuk sintesa bahan –bahan kimia.Persenyawaan lain yaitu nitroprussida dipergunakan
untuk membuat bahan-bahan kimia secara sintetis terapi kepada penderita di lakukan
seperlunya sesuai dengan tingkat berat nya keracunan ,tetapi selalu lebih penting adalah
pencegahan ,yaitu di upayakannya kadar HCN dalam ruang kerja agar tidak melampaui
NAB-nya.
Sebagian besar sianida sangat beracun. Anion sianida adalah inhibitor enzim sitokrom
c oksidase (disebut juga aa3) pada kompleks keempat rantai transpor elektron (ditemukan
pada membran mitokondria pada sel eukariotik). Sianida akan menempel ke besi dalam
protein ini. Ikatan sianida dengan enzim ini akan mencegah transpor elektron darisitokrom
c ke oksigen. Akibatnya, rantai transpor elektron terganggu, artinya sel tidak dapat lagi
memproduksi (secara aerobik) ATP untuk energi beraktivitas. Jaringan yang sangat
mengandalkan respirasi aerobik, seperti sistem saraf pusat dan jantung, akan sangat
terpengaruh.

C. Asam Sulfida
Asam sulfida (H2S), garam sulfida, merkaptans, dan karbon sulfida adalah senyawa-
senyawa yang mengandung sulfur.Karbondisulfida adalah zat pelarut terutama untuk industri
rayon,karbondisulfida merusak susunan saraf pusat dan perifer,serta juga sistem hemopoitis.
Pengaruh asam sulfida dalam bentuk gas sangat tergantung dari kadarnya dalam udara.
Hidrogen sulfida, H2S, adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan
berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis
ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik),
seperti dirawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul
dari aktivitas gunung berapi dan gas alam.

D. Karbonmonoksida
Karbonmonoksida (CO) adalah hasil pembakaran tidak sempurna bahan karbon atau
bahan-bahan yang mengandung karbon. saluran gas ke rumah yang sebentar saja terbuka
dapat menyebabkan pencemaran berat kamar dan pada ruang kecil kadar gas cukup tinggi
hanya dalam beberapa menit saja.
Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa
kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah
atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir
diatmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira
387 ppm berdasarkan volume walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi
dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap
gelombang inframerah dengan kuat.
FAAL KERJA DAN ORGONOMI

A.FAAL KERJA
Ilmu faal yang di khususkan untuk manusia yang bekerja di sebut ilmu faal kerja atau
fisiologi kerja. Secara fisiologis, bekerja adalah hasil kerja sama dalam koordinasi yang
sebaik –baik nya dari sraf pusat dan perifer ,panca dria(mata,telinga,peraba,perasa,dan lain –
lain),serta otot dan rangka(kedua yang terakhir ini adalah pelaku utama perbuatan).Bekerja
mungkin di kelompokan menjadi kerja otak (mental) dan kerja otot(fisik),dalam kerja
faal,perhtian utama di fokuskan kepada kerja fisik atau otot.
Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang dapat
meminimasi Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang
dikeluarkan dalam suatu pekerjaan. konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja. Secara
faal, bekerja adalah hasil kerjasama dalam koordinasi yang sebaikbaiknya dari dria (mata,
telinga, peraba, perasa dan lain-lain), otak dan susunan saraf-saraf di pusat dan perifer, serta
otot-otot. Selanjutnya untuk petukaran zat yang diperlukan dan harus dibuang masih
diperlukan peredaran darah ked an dari otot-otot. Dalam hal ini, jantung, paru-paru. hati,
usus, dan lain-lainnya menunjang kelancaran proses pekerjaan.
Pembagian kerja adalah suatu sistem pengaturan pekerjaan atau bisa disebut juga
sebagai pembagian kerja. Secara umum jenis kerja dibedakan menjadi dua bagian yaitu
kerja fisik dan kerja mental.

a. Kerja fisik
Pengeluaran energi relatif lebih banyak, dibandingkan kerja mental membutuhkan
usaha dan energi yang cukup besar dan kerja fisik dibedakan atau dibagi menjadi dua
macam, yaitu:

1). Kerja statis


• Tidak menghasilkan gerak
• Kontraksi otot bersifat isometris
• Kelelahan lebih cepat terjadi
2). Kerja dinamis
• Menghasilkan gerak
• Kontraksi otot bersifat isotonos
• Kontraksi otot bersifat ritmis
• Kelelahan relatif lebih lama terjadi

b. Kerja mental
Pengeluaran energi relatif sedikit dan kerja pun relatif lebih ringan dibandingkan
dengan kerja fisik yang membutuhkan energi lebih besar dan cukup sulit untuk
mngukur kelelahannya. Hasil kerja manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
1. Faktor-faktor dari individu, meliputi sikap, fisik,motivasi, jenis kelamin, pendidikan
keterampilan, pengalaman, dan sebagainya.
2. Fakto-faktor situasional, meliputi lingkungan fisik, mesin, peralatan, metode
kerja, dan sebagainya.

B. ERGONOMI
Kata ergonomi berasal dari bahasa yunani; ergon (kerja) dan nomos (peraturan,
hukuman). Ergonomis adalah penerapan ilmu-ilmu manusia bersama-sama dengan ilmu
teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuian satu sama lain secara optimal dari manusia
terhadap pekerjaan nya yang manfat daripadanya di ukur dengan efisiensi dan kesejahteraan
kerja.

Pembahasan:
a. Ergonomi adalah ”Ilmu” atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan
mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara dan
lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan efisien (Manuaba, A, 1981).
b. Ergonomi adalah ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau
menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas
maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun
mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka. dkk,
2004).
c. Ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan
kenyamanan di lingkungan kerja (Nurmianto, 1996).
d. Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan
pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya
produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia
seoptimal-optimalnya (Suma’mur, 1987).
e. Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai
dengan kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja.
(OSHA, 2000).

Konsep ergonomi adalah berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan


kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan
produktivitas, efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja,
pekerjaan dan manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.

A. SEJARAH ERGONOMI
Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan
dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting
diilustrasikan sebagai berikut:
 C.T. Thackrah, England, Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England
yang meneruskan pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzini, dalam
serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak
nyaman yang dirasakan oleh para operator di tempat kerjanya. Ia mengamati
postur tubuh pada saat bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat
itu Trackrah mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi
kursi-meja yang kurang sesuai secara antropometri, serta pencahayaan yang tidak
ergonomis sehingga mengakibatkan menbungkuknya badan dan iritasi indera
penglihatan.
 F.W. Taylor, U.S.A. Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang
menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan
suatu pekerjaan.
 F.B. Gilbreth, U.S.A. Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja,
dalam hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan
Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia
menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain
suatu sistem meja yang dapat diatur turun-naik (adjustable).
B. PERKEMBANGAN ERGONOMI
Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun
yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia
merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan
pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk
memudahkan penggunanya.

Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu pada
saat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah melakukan studi tentang waktu
dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata dimulai pada Perang Dunia I untuk
mengoptimasikan interaksi antara produk dengan manusia. Pada tahun 1924 sampai 1930
Hawthorne Works of Wertern Electric (Amerika) melakukan suatu percobaan tentang
ergonomi yang selanjutnya dikenal dengan “Hawthorne Effects” (Efek Hawthorne).

Hasil percobaan ini memberikan konsep baru tentang motivasi ditempat kerja dan
menunjukan hubungan fisik dan langsung antara manusia dan mesin. Kemajuan ergonomi
semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya bukti nyata bahwa penggunaan
peralatan yang sesuai dapat meningkatkan kemauan manusia untuk bekerja lebih efektif. Hal
tersebut banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan senjata perang.

C. APLIKASI / PENERAPAN ERGONOMI


Terdapat beberapa aplikasi / penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Aplikasi /
penerapan tersebut antara lain:
a. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani
dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi
tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
b. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja
dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat
dan timur.
c. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol
yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.
d. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan,
punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung,
jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

D. METODE ERGONOMI
Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Metode-metode tersebut antara
lain:
a. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja
penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan pengukuran lingkungan
kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.
b. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis.
Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi mebel, letak pencahayaan atau jendela yang
sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
KECELAKAAN KERJA

A.Penyebab Kecelakaan Kerja


Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebab nya.Oleh karena ada
penybab nya, sebab kecelakaan harus di teliti dan di temukan, agar untuk selanjutnya dengan
tindakan korektif yang ditujukan. Ada dua golongan penyebab kecelakaan kerja: golongan
pertama adalah faktor meknis dan lingkungan, yang meliputi segala sesuatu selain faktor
manusia.Golongan kedua adalah faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab
kecelakaan.

B.Kecendrungan Untuk Celaka


Adalah kenyataan bahwa pekerja tertentu cenderung untuk mengalami kecelakaan
(accident prone).kecelakaan bertubi-tubi terjadi pada yang bersangkutan.Di sini jelas betapa
pentingnya faktor manusia selaku indvidu pada terjadinya peristiwa kecelakaan yang
termasuk kecelakaan di tempat kerja.

C.Kerugian Oleh Karena Kecelakaan


Korban kecelakaan kerja mengeluh dan menderita,sedangkan sesama pekerja ikut
bersedih dan berduka cita,dengan terjadinya luka ataupun kelainan maka pekerja yang
bersangkutan menjadi sakit.Ganggun terhadap pekerja demikian adalah suatu kerugian besar
bagi pekerja dan juga keleuarganya serta juga perusahaan tempat ia bekerja.

a. Pengertian Kecelakaan Kerja


Kecelakaan didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tak terduga, semula tidak
dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat
menimbulkan kerugian baik bagi manusia dan atau harta benda, Sedangkan kecelakaan
kerja adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan dan tidak terencana yang
mengakibatkan luka, sakit, kerugian baik pada manusia, barang maupun lingkungan.
Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan dapat berupa banyak hal yang mana
telah dikelompokkan menjadi 5, yaitu :

 Kerusakan
 Kekacauan organisasi
 Keluhan, kesakitan dan kesedihan
 Kelainan dan cacat
 Kematian

b. faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja :


 Tempat Kerja
Tempat kerja harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja, seperti ukuran
ruangan tempat kerja, penerangan, ventilasi udara, suhu tempat kerja, lantai dan
kebersihan luangan, kelistrikan ruang, pewarnaan, gudang dan lain sebagainya.Jika
tempat kerja tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, maka kecelakaan
kerja sangat mungkin terjadi.

 Kondisi Peralatan
Mesin-mesin dan peralatan kerja pada dasarnya mengandung bahaya dan menjadi
sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau peralatan yang
berputar, bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan,
roda gigi yang bergerak, transmisi serta peralatan lainnya. Oleh karena itu, mesin dan
perlatan yang potensial menyebabkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar
tidak membahayakan operator atau manusia.

 Bahan-bahan dan peralatan yang bergerak


Pemindahan barang-barang yang berat atau yang berbahaya (mudah meledak,
pelumas, dan lainnya) dari satu tempat ke tempat yang lain sangat memungkinkan
terjadi kecelakaan kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja tersebut, perlu
dilakukan pemikiran dan perhitungan yang matang, baik metode memindahkannya,
alat yang digunakan, jalur yang akan di lalui, siapa yang bisa memindahkan dan lain
sebagainya. Untuk bahan dan peralatan yang berat diperlukan alat bantu seperti
forklift. Orang yang akan mengoperasikan alat bantu ini harus mengerti benar cara
menggunakan forklift, karena jika tidak, kemungkinan akan timbul kesalahan dan
mengancam keselamatan lingkungan maupun tenaga kerja lainnya.
BAB III
PEMBAHASAN

KELEBIHAN BUKU
Sangat detail menjelaskan tentang teori Gas Beracun Fall Kerja Dan Ergonomi Kecelakaan
Kerja. Bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti bagi para pembaca.

KEKURANGAN BUKU
Hanya sedikit memberikan aplikasi (contoh) untuk mempermudah mejelaskan yang diberikan
dalam buku ini. Tidak memuat gambar pendukung, sehingga si pembaca mudah bosan untuk
membaca buku ini. Dan sampulnya kurang menarik.
PENUTUP

1. KESIMPULAN

Higiene spesialis dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang liangkup dedikasinya
adalah mengenali, mengukur dan melakukan penilaian terhadap faktor penyebab gangguan
kesehatan atau penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan
Tujuan hygiene adalah sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja seoptimal
mungkin (dalam hal tertentu mungkin setinggi-tingginya, seandainya kondisi yang di
perlukan cukup memadai), pada pekerja/ buruh, petani, nelayan pegawai negeri, pengusaha,
manajer atau pekerja bebas di semua sektor kegiatan ekonomi dan non-ekonomi formal,
informal dan non –formal dengan demikian di maksudkan untuk tujuan menyejahterakan
tenaga kerja.

2. SARAN
Dengan menerapkan higiene perusahaan kesehatan tenaga kerja/pekerja dapat
dilindungi dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya faktor
lingkungan yang mungkin terjadi di akibatkan oleh beroperasinya suatu perusahaan.