Anda di halaman 1dari 6

Nama : Nanda Eka Dewi Amarta

NIM : 1504000007
Prodi / Kelas : DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

Istadevata, Murtipuja, dan Adhikara


Tuhan adalah satu, Tuhan yang Maha Esa, Mahakuasa, Mahaagung, abadi. Keinginan
bertemu Tuhan adalah tujuan semua umat namun hal ini adalah suatu yang tidak masuk akal.
Sesungguhnya umat beragama tidak bisa menghadirkan Tuhan dalam setiap upacara
keagamaan yang dilakukan pada setiap saat dan di setiap tempat di dunia ini
Sebagai wujud syukur atas karunia dan kerahasiaan Tuhan,seseorang hanya bisa meyakini
dan memvisualisasikan Tuhan dalam pikiran, dan diaplikasikan wujud ketulus-ikhlasan
dengan berbagai jalan dan budaya yang dihasilkan. Kenyataannya, Tuhan tetap tidak pernah
tampak nyata dan sama rupa. Didalam kitab-kitab Purana dalam rangka memantabkan bhakti
umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, manifestasi utama-Nya, masing-masing
Brahma disebut dengan ribuan nama-Nya (Brahma Sahasranama), (Visnu Sahasranama),
(Siva Sahasranama). Durga atau Lalita dengan ribuan nama-Nya (Lalita Sahasranama), dan
lain-lain. Nama-nama atau Abhiseka-Nya sesungguhnya merupakan sikap, sifat, karunia atau
kasih-Nya yang diharapkan dan didambakan oleh setiap umat manusia. Pemberian atau
persembahan nama sesuai dengan sifat-sifat-Nya yang maha luhur, memantabkan keimanan
(Sraddha) umat kepada-Nya. Salah satu devata yang sangat digandrungi, didambakan dan
selalu diyakini memberi perlindungan, pemilihan salah satu devata yang memantapkan
Sraddha seseorang disebut dengan Istadevata.
Berkaitan dengan Istadevata dan Murtipuja, seorang penyembah yang tekun
melakukan pemujaan kepada-Nya dengan menyembah dewata pujaannya dengan sarana arca
yang disebut Adhikara. Kata Adhikara yang mempunyai pengertian yang sangat luas,
diantaranya: yang berwenang, pemerintah, gelar, hak istimewa, pembenaran dan lain-lain
adalah kebebasan untuk memilih disiplin dan jalan tertentu sesuai dengan kemampuan dan
bakat atau kesenangannya, sesuai dengan sabda Sri Krsna dalam :
Bhagavadgita IV. 11:
“Dengan jalan apapun ditempuh oleh umat manusia, semuanya menuju Aku,
semuanya Aku terima, dari mana semua mereka menuju jalan-Ku, Oh Partha.”
Bila kita mengkaji lebih jauh wujud dewa-dewa tersebut, dalam kitab suci Veda,
dewa-dewa atau dewata itu digambarkan dalam berbagai wujud yang menampakkan sebagai
“Yang Berpribadi” dan “Yang Tidak Berpribadi”. “Yang Berpribadi” aspeknya kita
dapat amati, sentuh dan rasakan dari keterangan tentang dewa Indra, Vayu,Surya, Garutman,
Ansa yang terbang di angkasa, dan sebagainya.Sedang “Yang Tidak Berpribadi”, antara lain
sebagai Om (Omkara/Pranawa), Sat, Tat, dan lain-lain.
Istadevata adalah devata yang dipuja dan didambakan oleh seseorang sesuai dengan
bidang dan profesinya. Contohnya, seorang ilmuwan senantiasa mendekatkan diri dengan
devi Sarasvati, wujud Tuhan yang Maha Esa sebagai dewi ilmu pengetahuan. Seorang
pandita (seperti padita Siva di Bali) sangat dekat dengan Sang Hyang Siwa atau dewa Siva,
demikian pula seorang nelayan yang senantiasa memohon perlindungan kepada dewa Varuna
sebagai penguasa lautan, termasuk melindungi ikan-ikan dan binatang lainnya didalam air.
Seorang bebas menentukan devata pilihannya karena sesuai dengan tingkat pemahaman
orang yang bersangkutan. Profesi juga berpengaruh besar dalam menentukan devata yang
akan dipujanya.
Istadevata juga disebut abhistadevata atau “devata pilihan” khususnya devata yang
diarcakan atau dalam bentuk lukisan (citradevata) yang menggambarkan devata yang sangat
menyenangkan hati seseorang. Meskipun seseorang menyadari bahwa devata itu tidaklah
memiliki gambaran yang khusus secara material, dan semua gambaran atau arca devata itu
hanyalah untuk menunjukkan keagungan Tuhan yang Maha Esa, seseorang memiliki pilihan
devata dengan arcanya tersendiri. Pemujaan melalui arca atau gambar devata ini dengan sikap
dan persembahannya yang menyenangkan, yang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi
penyembahnya.
Dengan seseorang menentukan devata pujaannya, seseorang ingin lebih mendekatkan
diri kepada-Nya maka yang bersangkutan membuat sarana pemujaan tertentu untuk-Nya.
Seperti “citradevata”, yakni gambar dewa atau arca yang mereka perlukan. Pemujaan
melalui sarana arca ini disebut dengan Murtipuja, yakni menyembah Tuhan yang Maha Esa
melalui devata yang diarcakan atau dibuatkan patung-Nya. Pemujaan melaui sarana arca ini
sangat umum di India sejak masa yang silam hingga dewasa ini.
Di Indonesia kita menemukan peninggalan berupa arca-arca yang menunjukkan
adanya Murtipuja yang menyebar baik di Jawa maupun di Bali. Kini pemujaan melalui
sarana arca (bagi umat Hindu di Indonesia) tidak begitu nampak pada saat runtuhnya
Kerajaan Majapahit. Kebanyakan digantikan dengan sarana sesajen yang disebut dengan
“daksina palinggih”.
Mereka yang melaksanakan disiplin tertentu untuk mendekatkan diri kepada-Nya,
biasanya melalui Sampradaya-Sampradaya (perguruan antara Siva [Nabe] dengan Sisya
[siswa] tertentu), seperti Saiva, Vaisnava, dan Sakta disebut Adhikara, yakni yang mengikuti
latihan spiritua tertentu untuk mengikuti ajaran-Nya. Kita warisi kini berbagai tradisi
Sampradaya yang kini dikenal dengan Sekta-Sekta dalam Hindu yang di Bali kini tidak
ditemukan secara solid, kecuali Saiva Siddhanta seperti tradisi beragama umat Hindu di Bali
dewasa ini.
Bila kita menyaksikan tempat-tempat pemujaan atau tempat-tempat suci India yang
disebut mandir (mandira), devalaya atau devagrha dan membandingkannya dengan pura
atau kahyangan di Bali dan candi di Jawa maka akan nampak jelas perbedaannya.
1. Di India
Bentuk bangunan meru beratap ijuk bertumpang seperti meru terdapat juga di
India Utara, dan terutama Nepal. Umunya tempat suci di India di dalamnya terdapat
ruangan yang disebut “devaghra” tempat disemayamkannya arca dewa-dewa
termasuk juga arca “parivara devata”nya, misalnya pada Mandir Siva (disebut Siva
Mandir), yang dishtanakan di ruang induk adalah arca dewa Siva dan umunya
didampingi oleh Sakti-Nya seperti Parvati atau Durga. Ada bagia depan biasanya
terdapat arca vahana (kendaraan) berupa lembu Nandini. Di depan pintu gerbang
utama atau di sebelah kanan pintu masuk terdapat arca Ganesa, kadang-kadang arca
penjaga pintu yang bernama Nandisvara dan Mahakala. Disebelah kiri kanan atau
belakang arca utama ditempatkan pula arca Brahma dan Visnu atau dewi-dwei
lainnya yang merupakan perwujudan lain dari dewi Durga.
Pada Visnu Mandir, umunya arca utamanya adalah Visnu dengan Laksmi atau
dalam manifestasi lain Laksmi Narayana, vahananya Garuda atau arca utamanya
adalah Sri Rama didampingi dewi Sita, Laksmana dan Hanuman. Pada Visnu Mandir,
juga Sri Krsna dan Radhadevi sebagai devata utama. Pada Mandir Sri Krsna, biasanya
juga ditampilkan arca Krsna Arjuna Samvada (ketika Sri Krsna memberikan
wejangan tentang Bhagavadgita).
Di India, hanya Mandir dari Sampradaya Arya Samaj, yakni perguruan
keagamaan yang didirikan oleh Svami Dayananda Sarasvati (yang hanya
mengutamakan upacara sesuai Veda) tidak menempatkan arca pada tempat sucinya
karena perguruan ini tidak memuja Tuhan yang Maha Esa melalui sarana arca dewa-
dewa. Tempat suci Arya Samaj hanya menempatkan Vedi atau tungku api pada
upacara Agnihotra, oleh karena itu mandir mereka umunya disebut Yajnasala.
2. Di Indonesia
Bila kita bandingkan dengan candi-candi di Jawa Tengah, Jawa Timur
termasuk pula di Bali pada zaman Bali Kuno makan nampak sekali sistem pemujaan
pada zaman kejayaan Nusantara, umat Hindu di Indonesia juga menggunakan sarana
arca. Pemujaan arca memudar di Indonesia (khususnya di Bali) konon setelah
datangnya Dang Hyang Nirartha ke pulau ini. bagaimana kebenaran informasi perlu
dikaji lebih jauh. Pada zaman belakangan, hingga kini walaupun umat Hindu
memakai sarana pemujaan berupa arca dan pratima, tata cara pemujaannya tidak sama
dengan di India. Kini timbul pertanyaan, mengapa di India dikebal nama-nama
Mandir itu disebut sesuai dengan dewa utama yang dipuja pada mandir itu? Untuk
menjawab permasalahan ini, kita mesti mengkajinya berdasarkan perkembangan
pemujaan melalui Sampradaya-Sampradaya (perguruan agama) yang oleh orang barat
disebut Sekta dan di Indonesia dikenal pula dengan Paksa. Mengingat Sampradaya itu,
orang kemudian memilih devata pujaan yang paling dianggap cocok dengan diri
pribadinya. Demikianlah, umat yang berguru pada Saiva Sampradaya, memuja dewa
Siva dengan “parivara devata”, demikian pula pemujaan kepada Visnu dan Durga
(pemuja Sakti disebut Sakta). Di antara Sampradaya-Sampradaya itu, sebagian besar
adalah Saiva Sampradaya, kemudian disusul oleh Visnu Sampradaya dan Sakta
Sampradaya.
Pemujaan kepada dewa atau dewi tertentu sesuai dengan Sampradaya atau atas
pilihannya sendiri disebut Istadevata. Kata Istadevata berarti dewa yang sangat populer,
sangat dicintai dan dipuja oleh umat-Nya, dewa yang sangat didambakan dan menjadi
pelindung seseorang yang sangat akrab dan selalu memberi pertolongan kepada penyembah-
Nya (Apte, 1078:250). Istadevata merupakan dewa yang menjadi objek pemujaan, penuntun
atau wijud tertentu dari para dewa yang dipuja oleh para penyembah, misalnya Narayana atau
Visnu atau wujud-Nya sebagai Sri Krsna dan Rama bagi Vaisnava, Siva dengan delapan
wujud (Astamurti) bagi para Saiva dan Devi bagi para Sakta.
Kadang-kadang para penyembah memikih “parivara devata”,”kuladeva” atau
“kuladevi”-Nya, yaitu para keluarga devata atau devata pengiring sebagai objek pemujaan.
Kadang-kadang devata pujaan (Istadevata)nya dipilihkan oleh Guru Rohani atau Guru
Spiritualnya. Kadang-kadang penyembah sendiri langsung memilih devata paling berkenan
pada hati mereka dan wujud atau dewa ini adalah Istadevata-Nya (Sivananda, 1992:111).
Di India hampir setiap umat Hindu mempunyai Istadevata baik dalam wujud gambar
dewa atau arca dewa-dewa yang disucikan dan ditempatkan pada altar pemujaan. Umat
Hindu di India tidak mengenal sistem Sanggah Pamarajan seperti di Bali melainkan
umumnya mempunyai kamar suci atau tempat/altar untuk sembahyang sehari-hari. Cara
menyucikan gambat atau arcapun umat Hindu di India melakukan dengan sederhana, yakni
cukup dipercikkan air kelapa muda atau air suci Ganga, mengingatkan kita pada sesajen
Prayascitta, yang menggunakan sarana kelapa muda (kelungah nyuh gading).
Seperti yang telah disebutkan diatas, umumnya umat Hindu memuja Tuhan Yang
Maha Esa atau para devata melalui sarana arca dan sarana ini sagat tepat bagi umat
kebanyakan. Mungkin orang menyatakan bahwa umat Hindu menyembah patung atau
berhala, bukankah jelas dalam doa yang disembah senantiasa hanyalah Tuhan Yang Maha
Esa, para dewa manifestasi-Nya. Arca adalah sarana atau media konsentrasi, sebab tidak
semua orang mampu memuja-Nya tanpa sarana, bahkan kira mengucapkan doapun juga
adalah media. Adakah orang mampu berkomunikasi tanpa sarana?
Beekenaan dengan devata pujaan (Istadevata) tersebut diatas, maka arca dewa atau
dewi bermacam wujudnya, kadng-kadang lengkap dengan “parivaradevata” atau
“kuladeva”nya. Pemujaan melalui sarana inilah yang disebut Murtipuja atau Murti Upasana.
Selanjutnya, untuk meningkatkan pemahaman kita tentang Murtipuja ini, Sri
Chandrasekharendra Sarasvati menyatakan; “Setiap objek di dunia, hisup atau tidak hisup
adalah manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Bila orang sadar akan kebenaran ini, orang tidak
akan berbuat buruk. Orang tidak akan marah, muak, benci atau muak kepada sesuatu atau
seseorang. Orang tidak akan nafsu terhadap sesuatu yang istimewa. Orang mungkin dapat
dengan sungguh-sungguh menumbuhkan suatu kepercayaan dengan jalan mempelajari kitab-
kitab suci. Tetapi apabila seseorang tidak sanggup menghindari kebejatan dan agoni mental
yang ditumbuhkan oleh amarah atau hawa nafsu, maka ia tidak bisa dikatakan menyadari
adanya Tuhan Yang Maha Esa di dalam segala sesuatu disekitarnya.
Realisasi dan pengalaman dari kenenaran fundamental ini adalah tujuan hidup yang
sebenarnya. Dan bagi seseorang, untuk sampai pada kesadaran tertinggi tentang Tuhan Yang
Maha Esa ini, ia harus terus berjuang dengan jalan penuh kesujudan. Ia harus mulai dengan
jalan berusaha melihat Tuhan Yang Maha Esa sekurang-kurang dalam suatu objek dengan
jalan konsentrasi atas objek itu sendiri. Rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang diperoleh dari
kensentrasi terus menerus itu akan mwmungkinkan ia berjalan lebih jauh dan melihat Tuhan
Yang Maha Esa termanifestasikan didalam semuanya itu, oleh karenanya ia akan terbebas
dari batas-batas yang ditimbulkan oleh ketidak pengalaman akan kebenaran, bahwa Tuhan
Yang Maha Esa ada dalam segala-galanya. Ini adalah basis fundamental dari Murti Upasana
(Sagunopasana). Sangat disayangkan pada dewasa ini Upasana dituding sebagai penyembah
berhala. Seorang pemuja Murti yang sejati tidak pernah merasa ia sedang menyembah batu
atau sepotong logam. Ia hanya memikirkan Tuhan Yang Maha Esa dan melupakan segalanya
(1993:56).
Berkaitan dengan Istadevata dan Murtipuja, seorang penyembah yang tekun
melakukan pemujaan kepada-Nya dengan menyembah devata pujaannya melalui sarana arca
disebut seorang Adhikara. Kata Adhikara mempenyai pengertian yang sangat luas, di
antaranya: yang berwenang, pemerintah, administrasi, pembenaran, hak istimewa, gelar,
pangkat, kantor, kebenaran, kebajikan, atau disiplin tertentu teristimewa untuk pengorbanan
atau pemujaan dengan keberuntungan., hak-hak istimewa dan lain-lain (Monier, 2993:20).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Adhikara adalah kebebasan untuk memilih disiplin
dan cara tertentu sesuai dengan kemampuan dan bakat atau kesenangannya. Penjelasan ini
sesuai dengan sabda Sri Krsna Bhagavadgita sebagai berikut:
ye yatha mam prapaddyante
tamstathai ‘va bhajamyaham
mama vartma ‘nuvartante
manusyah partha sarvasah
Bhagavadgita IV.11.
(Dengan jalan apapun ditempuh umat manusia, semuanya menuju Aku
semuanya Aku terima, dari mana semua mereka menuju jalan-Ku, Oh
Partha).
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka agama Hindu sangat toleran dan memberi
kebebasan memilih disiplin tertentu kepada umat-Nya untuk meningkatkan Sraddha dan
Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa sesuai dengan Istadevata yang
dirindukannya. Kebebasan itu tidaklah bebas di luar atau bertentangan dengan dharma atau
kebajikan, melainkan tetap menghargai setiap cara mendekatkan diri kepada Tuhan Yang
Maha Esa, misalnya dalam cara bersembahyang, di India dikenal tiga jenis sikap sembahyang,
yaitu Krtanjali, mencakupkan tangan di atas, kepala atau dada, Sastanga, dengan bersujud
mrncium alas arca dan Dandavat, merebahkan diri bagaikan sebatang tongkat, sangat rendah,
dan tiada artinya di hadapan-Nya. Demikian pula dalam hal persembahan, Svami
Vivekananda dan juga gurunya Sri Rama Krsna menekankan penyerahan diri secara total
kepada-Nya: “Bila orang lain ya Tuhan Yang Maha Esa mempersembahkan beraneka
persembahan yang lezat, mempersembahkan meru, candi, pura, atau mandir yang megah,
kami tidak mempunyai apa-apa, ijinkanlah kami mempersembahkan tubuh kami sebagai
sthana suci-Mu, dan aku persembahkan hidup untuk-Mu”.
Berbeda dengan di India, di Bali (Indonesia) tempat pemujaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, para devata, roh suci para rsi dan leluhur disebut pura. Istilah yang tertua untuk
tempat pemujaan ini adalah “devalaya” yang kemudian di Indonesiakan (bahasa Jawa Kuno)
adalah Kahyangan atau Parhyangan, yakni tempat untuk memuja Hyang, sebutan untuk yang
maha suci. Pada pura atau kahyangan di Bali, kini kita tidak menjumpai pemujaan melalui
sarana arca seperti halnya di India. Pemujaan melalui arca atau pratima memang masih ada
dan tetap lestari, hanya cara melaksanakan pemujaan melalui sarana tersebut sangat berbeda.
Kita tidak menjumpai arca-arca besar yang dipuja seperti di India. Rupanya sejak runtuhnya
kerajaan Nusantara Majapahit, maka sistem pemujaan melalui sarana arca berangsur-angsur
digantikan dengan sarana upacara seperti penggunaan daksina ataucanang palinggih sehingga
bentuknya nampak jauh lebih abstrak dibandingkan dengan pemujaan melalui sarana arca.
Arca atau pratima umunya tersimpan di sebuah pura, pada saat upacara “Malasti(penyucian
arca atau pratima) ke mata air atau tepi pantai, barulah arca atau pratima tersebut ditempatkan
dalam sebuah usungan yang disebut Jempana. Umat Hindu sangat bhakti melihat atau ketika
mengambil arca atau pratima tersebut ketika akan disucikan atau ditempatkan di tempat
pemujaan baik di Pasamuhan Agung (Balai Sidang/Balai Panjang), maupun di tempat lain,
termasuk di dalam Gedong atau Meru sebagai sthana-Nya. Umat penuh keyakinan bahwa
arca atau pratima tersebut telah berjiwa dan hidup karena telah melalui proses penyucian dan
dengan bhakti yang mantap umat akan memperoleh rahmatnya.
Penggunaan Pratima diperkirakan sudah berkembang sejak abad ke IX dan berakhir
sampai abad ke XIII. Pada jaman kerajaan singasari dan Majapahit penggunaan pratima/objek
pemujaan sudah banyak berkurang. Sedangkan yang kita jumpai saat ini hanya merupakan
alat kelengkapan Pura/Sanggah.
Seseorang disamping memuja langsung hasil ciptaan-Nya, dalam mengungkapkan
perasaan isi hati, baik berupa harapan, permohonan dan tujuan kepada-Nya, juga
menggunakan nyasa/simbol-simbol tertentu. Bagi umat awam simbolisme mendapat tempat
yang sangat penting dalam penghayatan, dalam proses pendekatan diri kepada Tuhan/Hyang
Widhi. Simbolisme religius akan menghasilkan kreatifitas seni dan budaya yang religius pula.
Benda-benda alam sebagai manifestasi perwujudan-Nya, yang disucikan, diupacarai, dan
dipuja-puji, diyakini bisa menghasilkan nilai magis/gaib yang tidak bisa dipecahkan oleh akal
sehat dari pikiran manusia.

Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakukan kehidupan
wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan-keterikatan pemuasan
jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan. Sehingga hasil perenungan para
resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni dan diaplikasikan sifat dan fungsi
Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima, upakara, bahasa, tari wali. Yang mempunyai
nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para
leluhur kita terdahulu, misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak
tangan arca disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan
tampak tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak
tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan dengan
banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.

Di dalam Weda di ungkapkan segalanya,apakah nama Tuhan, tempat Tuhan,


bagaimana berhubungan dengan Tuhan, termasuk pemujaan kepada Tuhan, dalam bentuk
arca/pratima, kitab suci Weda secara khusus bagian Silpha sastra menjelaskan bagaimana
caranya membuat arca-arca, dari bahan-bahan apa saja,siapa saja yang berhak membuat arca,
dan siapa yang berhak menstanakan arca tersebut.

Cara pemujaan dan pelayanan terhadap arca yng sudah di stanakan di dalam Kitab
Suci weda di jelaskan secara mendetail. Dengan demikian jika kita bertindak di luar dari yang
diajarkan dalam kitab suci Weda maka itulah yang disebut berhala.

Dalam Weda dijelaskan tentang arca dalam Agama Hindu, sebagai berikut :

Yasya Visnu Para Bhaktir Yatha Visnu Tatha Gurau


Sa Eva Stapako Jeneyah Satyam Etad Vadami Tu
Artinya:
Tuhan Hayagriva bersabda: Jika seorang penyembah memiliki bhakti yang tidak pernah
menyimpang kepada Tuhan dan kepada Gurunya Aku dengan ssesungguhnya menyatakan
bahwa dia secara alami memiliki kualifikasi untuk memuja arca.

Khandite Sphutite Dagdhe Bhrarte Mana Vivarjite


Yagahine Pasusprste Patite Duste Bhumisu
Anya Mantrarecite Caiva Patite Sparsa Dusite
Dadasu Etesu No Cakruh Sannidhanam Dikaukasah
Iti Sarvagato Visnoh Paribhasancakara Ha

Artinya :
Jika arca itu retak, atau terbakar, jika terjatuh, tidak di puja dengan tepat dalam setiap upacara,
di sentuh oleh binatang, telah jatuh ke tempat yang kotor, dan di puja dengan mantra arca
yang lain, atau tidak murni karena di sentuh oleh orang yang merosot. Di sembah dengan cara
yang berbeda – beda kepribadian arca tidak tinggal di dalam arca. (Hari Bhakti Vilasa
19.1025.10.26)
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Mahabharata Shanti Parwa bahwa dengan
bersujud di hadapan arca, orang akan mendapatkan hasil dari pelaksanaan korban kuda, orang
yang melaksanakan korban itu akan pergi ke Surga, selanjutnya kembali ke bumi dan seorang
brahmana yang berkualifikasi akan pergi ke dunia rohani dan tidak akan kembali lagi ke
dunia material ini. Di dalam kitab Nawa Rahasya III dijelaskan:
Smaranam Kirtanam Vapi Darsanam Srarsanam Tatha
Sambhasanam Ca Kurute Raja Suya Dhikam Phalam

Artinya:
Dengan mengingat, memuji, melihat, menyentuh, dan mendiskusikan arca dari Tuhan
seseorang akan mencapai hasil dari pelaksanaan Yadnya Raja Suya .

Dengan demikian jika kita bisa mengambil keuntungan dengan bertepuk tangan di depan arca
maka dosa-dosa nya akan terbang seperti ayat ini:

Nityanan Sripater Agte Talika Vodanair Bhrsam


Uddiyante Savirasthah Sarveh Pataka Paksinah
Artinya:
Narada Muni bersabda jika siapapun dia yang menyanyi dan bertepuk tangan di hadapan Sri
Krishna demi keberuntungan.Dosa- dosanya akan lari dari badannya bagaikan segerombolan
burung-burung terbang menjauh karena mendengar suara tepuk tangan. (Wisnu Dharmottara)