Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Biologi Laut

MONITORING TERUMBU KARANG

Disusun untuk memenuhi


tugas praktikum biologi laut

Oleh :
M. Aidiel Fitra
1608104010036

Asisten Meja : Yudi Gebri Foenna

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2019
BAB III
METODE PERCOBAAN

3. 1. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alat tulis, kertas,
proyektor dan labtop.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah video pembelajaran
tentang terumbu karang dan foto-foto terumbu karang.

3. 2. Cara Kerja
Cara kerja praktikum ini yaitu dengan didengarkan penjelasan asisten terkait
monitoring terumbu karang.
BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4. 1. Data Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Pengamatan pengelompokan jenis terumbu karang
No. Gambar Keterangan

1
1. Branching Coral (CB)

2. Massive Coral (CM)

3. Foliose Coral (CF)

4. Mushroom Coral (CMR)

5. Tabulate Coral (CT)


6. Sub-Massive Coral (CS)

7. Digitate Coral (CD)

8. Fire Coral (CML)

9. Blue Coral (CHL)

10. Encrusting Coral (CE)

4. 2. Pembahasan
Ekosistem terumbu karang, padang lamun, serta mangrove merupakan
ekosistem yang memiliki peranan penting sebagai sumber nutrisi serta tempat
hidup banyak biota laut. Binatang karang yang berukuran sangat kecil, disebut
polip, yang dalam jumlah ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai (karang
batu atau karang lunak) (Dahuri, 1996). Istilah “terumbu karang”, karang yang
dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang
menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu, sedangkan terumbu
adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang
mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu
dapat berasal dari karang maupun alga. Terumbu karang (Coral Reefs) merupakan
ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih
dari 220C), memiliki kadar CaCO3 (kalsium karbonat) tinggi, dan komunitasnya
didominasi berbagai jenis hewan karang keras (Giyanto, 2012).
Survey kondisi terumbu karang dapat dilakukan dengan berbagai
metode,adapun langkah-langkag melakukan survey yaitu menentukan tujuan
survey, rancangan survey, melaksanakan survey dan evaluasi berkala jika di
inginkan. Agar hasil survey dapat dipertanggung jawabkan cesara ilmiah maka
perlu diperhatikan cara pemilihan keterwakilan lokasi, panjang transek yang
diambil dan banyaknya ulangan yang diperlukan (Giyanto et al, 2010).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan ulangan dilakukan sebanyak 1 kali
ulangan pada tiga titik yag berbeda-beda. Menurut Suharsono (1994)
penggunakaan metode survey dalam menggambarkan kondisi terumbu karang
biasanya disajikan dalam bentuk strukur komunitas yang terdiri dari data.
Beberapa metode pemantaun terumbu karang yaitu yang pertama metode
skala luas yang terdiri dari metode Manta tow dan Timed swim, kedua metode
skala menengah yang terdiri dari point intercept transect dan line intercept transect
dan ketiga yaitu metode detil yang terdiri dari quadrat dan transek sabuk. Menurut
Suharsono (1996) metode umum digunakan oleh peneliti daalam menggambarkan
kondisi terumbu karang adalah metode transek garis, metode transek kuadrat,
metode manta tow daan metode transek sabuk (Belt Transect). Berdasarkan
praktikum yang dilakukan menggunakan line point transect.
Line point transect atau transek garis digunakan untuk menggambarkan
struktur komunitas karang dengan melihat tutupan karang hidup, karang mati,
bentuk substrat, alga dan keberadaan biota lain. Spesifikasi karang yang
diharapkan dicatat adalah berupa bentuk tumbuh karang (Life form) dan dicacat
jenis karang. Bedasarkan praktikum yang telah dilakukan garis transek dimulai
dari kedalaman kurang lebih 2 meter dan panjang minmal 50 meter menggunakan
tali rafia sebagi garis dan ditempatkan sejajar dengan garis pantai, pengambilan
atau pengamatan terumbu karang setiap 50 centimeter.
Karang memiliki bentuk pertumbuhan koloni yang berbeda-beda. Variasi
tersebut dapat dipengaruhi oleh sifat karang itu sendiri, maupun kondisi
lingkungan. Life form atau benruk pertumbuhan karang biasanya menggunakan
kode, ini digunakan untuk mempermuudah dalam melakukan survey, adapun
beberapa kode life form yaitu seperti Branching Coral (CB) yaitu karang yang
berbentuk koloni yang bercabang menyerupai ranting pohon yang lebar contohnya
Acropora aspera. Tabulate Coral (CT) yaitu karang yang berkoloni sehingga
bentuknya menyerupai meja, pertumbuhannya mendatar contohnya Acropora
hyacnthus. Digitate Coral (CD) memiliki percabangan yang rapat dengan bentuk
menyerupai jari-jemari tangan manusia contohnya Acropora humilis.
Masif Coral (CM) karang ini memiliki bentuk yang padat dan solid.
Memiliki ukuran yang bervariasi, beberapa diantaranya bahkan berbentuk
bongkahan batu, contoh Favia speciosa. Foliose Coral (CF) bebentuk tipis
menyerupai lembaran-lembaran , mampu berkoloni membentuk lipatan
melingkar, contohnya Favona frondifera. Mushroomi Coral (CMR) berbentuk
oval dan memiliki tonjolan yang beralur dari tepi hingga pusat mulutnya mirip
seperti jamur, contohnya Fungia danai. Sub-massive Coral (CS) karang kategori
ini memiliki bentuk yang kokoh dengan tonjolan-tonjolan atau kolom yang kecil,
contohnya Pocillopora eydouxi. Fire (CML) berwarna cerah menyala dengan
ujung yang cenderung menguning serta rasa panas seperti terluka bakar apabila
tersentuh, contohnya Milepora complanata. Blue Coral (CH) berwarna biru
contohnya Heliopora coerulea. Adapun kode lifeform lainnya seperti DC (dead
coral) atau karang yang mati, S (sand) pasir, RCK (rock) batu, DCA atau koral
mati yang tertutupi alga dan W (water) air.
BAB V
KESIMPULAN

5. 1. Kesimpulan
Kesimpulan dapat diperoleh dalam praktikum Monitoring Terumbu
Karang adalah sebagai berikut :.
1. Terdapat 3 metode pematauan terumbu karang yaitu metode skala luas,
metode skala menengah dan metode detil.
2. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk survey monitoring terumbu
karang ada 4 yaitu menentukan tujuan survey, merancang survey,
melaksanakan survey dan evaluasi berkala.
3. Pengambilan data survey minimal pada kedalaman 2-6 meter dan sejajar
dengan garis pantai.
4. Line intercept transect menggunakan tali minimal sepanjang 50 meter.
5. Kode lifeform terumbu karang seperti CB (Branching Coral), CM (Masif
Coral), CF (Folios Corali) dan lain sebagainya
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dahuri. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara
Terpadu. Jakarta; pradnya Paramita.
Giyanto. 2012. Kajian tentang panjang transek dan jarak antar pemotrean pada
penggunaan metode transek foto bawah air. Oseanologi dan
Limnologi di Indonesia. 38(1): 1-18.
Giyanto, B. H., Iskandar, D., Soedharma dan Suharsono. 2010. Effiensi dan
akurasi pada proses analisis foto bawah air untuk menilai kondisi
terumbu karang. 41 Oseaanologi dan Limnologi di Indonesia. 36(1):
111-130.
Suharsono. 1994. Metode penelitian terumbu karang, pelatihan metode penelitian
dan kondisi terumbu karang. Materi Pelatihan Metodologi Pebelitian
Penentuan Kondisi Terumbu Karang. 115 hlm.
Suharsono. 1996. Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di perairan Indonesia.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanologi. Proyek penelitian dan Pengembangan
Daerah Pantai: 116 hlm