Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN NEONATUS INTENSIVE CARE UNIT (NICU)

DI SUSUN OLEH :
TRIPENA DESPIANTI
P180749

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIYATA HUSADA
SAMARINDA
2019
LAPORAN PENDAHULUAN NEONATUS INTENSIVE CARE UNIT (NICU)

A. Definisi
Unit perawatan intensif merupakan bagian dari rumah sakit yang terpisah, dengan
staf khusus dan perlengkapan khusus. Perawatan intensif ditujukan untuk observasi,
perawatan, dan terapi pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit yang
mengancam jiwa atau potensial mengancam jiwa. Unit tersebut menyediakan
kemampuan, sarana, dan peralatan khusus untuk menunjang fungsi vital, serta
keterampilan staf medik, perawat, dan staf lain yang berpengalaman dalam
pengelolaan keadaan-keadaan tersebut (White dkk., 2005).
Unit perawatan intensif pertama kali muncul dan berkembang tahun 1940-1950an
di Amerika Serikat. Perkembangan unit perawatan intensif berawal dari kejadian
epidemic poliomyelitis di Eropa dan Amerika Utara pada tahun 1947–1948, banyak
pasien meninggal karena paralisis otot pernapasan (Luce dan White, 2009).
Penggunaan pipa napas endotrakeal (endotracheal tube) dan alat bantu napas baik
secara manual atau mekanis adalah cara optimal untuk mengamankan pernapasan. Hal
ini mengubah konsep hidup dan mati, serta membuka lembaran baru dalam sejarah
ilmu kedokteran dan pasien yang mengalami henti napas dapat dipertahankan hidup
(Luce dan White, 2009; White dkk., 2005).
Unit perawatan intensif neonatus merupakan ruang perawatan intensif neonatus
dengan kegawatan/sakit kritis di rumah sakit. Unit perawatan intensif diperlukan untuk
perawatan neonatus yang memerlukan penanganan khusus dan neonatus dengan
risiko tinggi mengalami kematian. Penanganan pasien neonates pada dasarnya tidak
bisa disamakan atau disatukan dengan pasien dengan keluhan dan penyakit lain.
Neonatus memerlukan penanganan dan perlakuan khusus karena memiliki risiko
kematian yang tinggi (Powers dan Lund, 2005). Ruang perawatan khusus neonatus
terdiri dari tiga tingkat berdasarkan derajat kesakitan, risiko masalah, dan kebutuhan
pengawasan. Tingkat pertama adalah untuk neonatus dengan risiko rendah, yaitu: bayi
sehat, bayi berat lahir lebih dari 2000 gram, dan bayi rawat gabung (perawatan
bersama ibu). Tingkat kedua adalah untuk neonatus dengan risiko tinggi tetapi belum
memerlukan pengawasan intensif, yaitu bayi dengan berat lahir kurang dari 2000 gram,
bayi dengan persalinan bermasalah, bayi yang menderita sakit seperti diare, infeksi,
dan bayi kuning yang memerlukan terapi sinar. Tingkat ketiga merupakan unit
perawatan intensif neonatus untuk neonatus dengan risiko tinggi dan memerlukan
pengawasan ketat (White dkk., 2005).
Unit perawatan intensif neonatus dilengkapi dengan peralatan khusus sehingga
dapat dilakukan observasi ketat. Peralatan di NICU pada masing-masing rumah sakit
tidak sama tetapi umumnya beberapa peralatan yang umum ada yaitu:
1. Feeding tube; merupakan selang kecil yang dimasukkan melalui mulut sampai
lambung untuk memasukkan air susu ibu (ASI) atau susu formula.
2. Infant warmer; merupakan tempat tidur dengan penghangat di atasnya.
3. Inkubator; merupakan tempat tidur kecil yang tertutup plastik keras transparan,
dengan lubang pada samping untuk jalan memeriksa bayi dan suhu dapat diatur
sesuai kondisi bayi.
4. Jalur infus; sebuah kateter kecil fleksibel yang dimasukkan ke dalam pembuluh
darah vena umumnya pada lengan dan kaki, atau kateter yang dimasukkan ke
umbilikus. Jalur infus diperlukan untuk kebutuhan cairan dan obat-obatan.
5. Monitor; bayi disambungkan ke monitor melalui elektrode dan dapat terekam
tanda-tanda vital antara lain laju jantung, pernapasan, tekanan darah, suhu dan
kandungan (saturasi) oksigen dalam darah.
6. Alat terapi sinar; digunakan untuk bayi-bayi yang kadar bilirubinnya di atas normal
dan memerlukan terapi sinar.
7. Bubble CPAP (Continuous Positive Airway Pressure); merupakan alat yang
mempertahankan tekanan positip pada saluran napas bayi dengan pernapasan
spontan.
8. Ventilator; merupakan suatu alat (mesin) yang memompa dan mengatur aliran
udara ke dalam saluran pernapasan bayi melalui pipa (pipa endotrakea) (White
dkk., 2005).
B. Fasilitas dan kompetensi pada ruang NICU
Penanganan pasien neonatus pada dasarnya tidak bisa disamakan atau disatukan
dengan pasien keluhan dan penyakit lain. Pasien neonatus harus mendapatkan
penanganan dan perlakukan ekstra khusus karena resiko kematiannya sangat tinggi.
Meski demikian, beberapa rumah sakit tetap melakukan perawatan terhadap neonatus
dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan. Akibatnya penanganan yang dilakukan
tidak maksimal, inilah yang menyebabkan angka kematian pasien neonatus tetap
tinggi.
Penanganan kasus neonatus harus dilakukan dalam ruang perawatan khusus yang
terdiri dari tiga level, berdasarkan derajat kesakitan, risiko masalah dan kebutuhan
pengawasannya.
1. Level 1 adalah untuk bayi risiko rendah dengan kata lain bayi normal yang sering
digunakan istilah rawat gabung (perawatan bersama ibu).
2. Level 2 untuk bayi risiko tinggi tetapi pengawasan belum perlu intensif. Pada level
ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam akan tetapi perbandingan perawat dan bayi
tidak perlu 1:1.
3. Level 3 pengawasan yang dilakukan benar-benar ekstra ketat. Satu orang perawat
yang bertugas hanya dapat menangani 1 pasien selama 24 jam penuh.

Tujuannya agar bisa merawat bayi-bayi yang berisiko tinggi secara baik dan benar,

sehingga bayi yang sakit itu jangan sampai meninggal.

C. Kegawatan pada Neonatus


Kegawatan pada neonatus merupakan keadaan yang berdampak pada kematian
atau kecacatan neonatus. Kegawatan terjadi akibat kegagalan adaptasi neonatus pada
keadaan ekstra uterin terutama pada bayi kurang bulan atau pada bayi cukup bulan
dengan adanya banyak faktor risiko infeksi atau kegawatan (Kim dkk., 2008).
Neonatus dengan faktor risiko tinggi mengalami kegawatan akan membutuhkan
ruang perawatan intensif. Faktor risiko tersebut berhubungan dengan kondisi ibu,
proses persalinan, dan faktor dari neonatus itu sendiri. Faktor ibu yang memengaruhi
yaitu: umur ibu kurang dari 16 tahun atau lebih dari 40 tahun, diabetes, hipertensi,
perdarahan, ibu dengan penyakit menular seksual, kehamilan ganda, cairan amnion
yang kurang atau berlebihan, dan ketuban pecah dini. Proses persalinan yang bisa
memengaruhi kondisi neonatus adalah fetal distress/asfiksia, aspirasi mekoneum,
belitan tali pusat, persalinan forsep, dan presentasi bokong atau presentasi abnormal
lainnya. Neonatus dengan risiko tinggi yaitu: umur kehamilan kurang dari 37 minggu
atau lebih dari 42 minggu, berat lahir kurang dari 2500 gram, kecil masa kehamilan,
resusitasi saat persalinan, kelainan kongenital, gawat napas, infeksi, kejang,
hipoglikemia, dan memerlukan tunjangan suportif cairan, oksigen, tansfusi darah atau
yang lainnya (Suradi, 2008).

Penggunaan sarana pelayanan intensif diharapkan mampu mengurangi

angka kematian neonatus, meskipun demikian tidak selalu neonatus yang


dirawat di NICU terhindar dari kematian. Beberapa kelainan atau kondisi

neonatus yang sering dirawat di NICU yaitu: anemia, apneu, bradikardia,


hidrosefalus, perdarahan intrakranial, hiperbilirubinemia, enterokolitis

nekrotikan, patent ductus arteriosus (PDA), gawat napas, sepsis, transient


tachypnea of the newborn, dan kondisi klinis lainnya (Butsashvili dkk., 2009).
Perawatan neonatus di ruang intensif diindikasikan untuk neonatus dengan:
asfiksia, kegawatan pada pernapasan, prematuritas dan berat lahir sangat

rendah, kejang, perdarahan intrakranial, syok, hiperbilirubinemia yang


memerlukan transfusi tukar, enterokolitis nekrotikan dan sepsis (Meadow dkk.,

2008; White dkk., 2005).


D. Sistem Skoring sebagai Alat Duga Kematian Neonatus
1. Perkembangan sistem skoring
Penilaian derajat keparahan penyakit diperlukan untuk mengetahui
kemungkinan prognosis mengenai perjalanan penyakit, mekanisme fisiologi
spesifik suatu penyakit serta penatalaksanaannya. Penilaian ini akan memberikan
informasi yang sesuai sehingga antara rumah sakit dan pasien (orangtua pasien)
mempunyai persepsi yang sama (Ricardson dkk., 1993).
Sistem skoring diharapkan mempertimbangkan kondisi fisiologis, klinis
neonatus, dan tempat demografis. Sistem skoring untuk menentukan derajat
keparahan penyakit dikembangkan secara luas. Beberapa sifat sistem skoring
keparahan penyakit neonatal yang baik yaitu:
a. Kemudahan penggunaan
b. Kemampuan untuk diterapkan pada awal pemeriksaan atau rawat inap
c. Kemampuan untuk menduga kematian, morbiditas, atau biaya untuk neonatus
d. Kegunaan untuk semua kelompok neonatus. Secara umum kemungkinan
masing-masing sistem skoring sulit untuk memenuhi semua sifat. Berbagai
pendekatan digunakan untuk menyusun beberapa kondisi yang dipakai dan
diberikan skor/penilaian (Richardson dkk., 2001).
Beberapa skor alat duga kematian neonatus dirancang untuk neonatus. Pilihan
variabel yang dimasukkan dalam skor tersebut benar-benar dapat mengukur
faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas neonatus. Beberapa sistem skoring
diantaranya:
a. Clinical Risk Index of Babies (CRIB) digunakan untuk memprediksi kematian
untuk bayi lahir pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu. Penilaian ini
dikembangkan di Inggris pada empat NICU dari tahun 1988 sampai 1990
melibatkan 812 neonatus dengan berat lahir sangat rendah.
b. CRIB II merupakan revisi dari CRIB, dengan variabel penilaian berdasarkan usia
kehamilan dan berat lahir, suhu tubuh saat masuk, jenis kelamin, dan
kehilangan basa untuk memprediksi kematian.
c. Neonatal Therapeutic Intervention Scoring System (NTISS) merupakan
modifikasi dari skor perawatan intensif dewasa, didasarkan pada perlakuan atau
tindakan yang diberikan kepada neonatus (Dorling dkk., 2005; Richardson dkk.,
1993).
Score for Neonatal Acute Physiology (SNAP) dikembangkan di Boston Amerika
Serikat pada tahun 1990 menggunakan data dari tiga unit perawatan neonatus.
Penilaian derajat keparahan sakit neonatus berdasarkan ketidakstabilan fisiologi
neonatus yang diperoleh dari skor parameter klinis dan laboratorium dalam 24
jam pertama (Dorling dkk., 2005; Richardson dkk., 1993b). Score for Neonatal
Acute Physiology mempunyai 27 parameter penilaian, tiap parameter dinilai
berdasarkan skor tingkat ketidakstabilan fisiologi yang terburuk. Score for
Neonatal Acute Physiology didesain untuk menilai secara objektif kuantitas
derajat berat sakit neonatus (Richardson dkk., 1993). Penentuan skala dan
variabel SNAP ditentukan oleh para ahli dengan pertimbangan variabel tersebut
berhubungan dengan kondisi neonatus.
a. Score for Neonatal Acute Physiology Perinatal Extension (SNAPPE)
b. Score for Neonatal Acute Physiology II (SNAP II)
c. Score for Neonatal Acute Physiology Perinatal Extension II (SNAPPE II)
merupakan sistem skoring hasil revisi dari SNAP/SNAPPE.
Tabel. 1 Skore for Neonatal Acute Physiology
Parameter Rentang Score
1 3 5
Tekanan darah (rerata), mmHg Hi 66-80 81-100 >100
Lo 3-35 20-29 <20
Laju jantung Hi 180-200 201-250 >250
Lo 80-90 40-79 <40
Laju Napas 60-100 >100 -
Suhu tubuh °F 95-96 92-94.9 <92
PaO2, mmHg 50-65 30-50 <30
Rasio PaO2/FiO2 2.5-3.5 0.3-2.49 <0.3
PCO2, mmHg 50-65 66-90 >90
Indeks Oksigenasi 0.07-0.20 0.21-0.40 >0.40
Hematokrit, % Hi 66-70 >70 -
Lo 30-35 20-29 <20
Jumlah Lekosit (K/uL) 2.5-5.0 <2.0 -
Rasio immature/total >0.21 - -
Jumlah netrofil absolut(/uL) 500-999 <500 -
Jumlah trombosit (K/uL) 30-100 0-29 -
Nitrogen urea darah, md/dL 40-80 >80 -
Kreatinin, mg/dL 1.2-2.4 2.5-4.0 >4.0
Keluaran urin, ml/kg.jam 0.5-0.9 0.1-0.49 <0.1
Bilirubin inderek (sesuai BL) >2 kg 15-20 >20 -
mg/dL <2 kg 5-10 >10 -
Bilirubin direk, mg/dL >2.0 - -
Natrium, mEq/L Hi 150-160 161-180 >180
Lo 120-130 <120 -
Kalium, mEq/L Hi 6.6-7.5 7.6-9.0 >9.0
Lo 2.0-2.9 <2.0 -
Kalsium terionisasi, mg/dL Hi >1.4 - -
Lo 0.8-1.0 <0.8 -
Kalsium total. Mg/dL Hi >12 - -
Lo 5.0-6.9 <5.0 -
Gula darah, mg/dL Hi 150-250 >250 -
Lo 30-40 <30 -
Serum bikarbonat, mEq/L Hi >33 - -
Lo 11-15 <10 -
pH serum 7.20-7.30 7.10-7.19 <7.10
Kejang Tunggal Multipel -
Apneu Respon Tidak Henti
dengan respon nafas
stimulus dengan
stimulus
Perdarahan saluran cerna Ada - -
Sumber: Richardson dkk., 1993.
Hi: nilai tertinggi; Lo: nilai terendah

Tabel 2 Score for Neonatal Acute Physiology Perinatal Extension


Skor SNAP
ditambah:
Berat lahir <749 gram 30
Berat lahir 750-999 gram 10
Nilai Apgar <7 pada menit ke-5 10
Kecil masa kehamilan (< 5
persentil 5)
Sumber: Richardson dkk., 1993.
Daftar Pustaka
Richardson dkk (1993) Score for Neonatal Acute Physiology Perinatal Extension.
Dorling dkk (2005) Score for Neonatal Acute Physiology (SNAP) Boston Amerika Serikat.
White dkk (2015) Neonatal Intensif Care Unit. Jakarta