Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini terdapat 180
juta penduduk dunia yang mengalami cacat penglihatan. Sebanyak 40-45 juta di
antaranya tidak dapat melihat atau buta. Laporan WHO juga mengungkapkan bahwa
setiap detik tambah satu penderita kebutaan di dunia.
Sembilan dari 10 penderita kebutaan tersebut berada di negara miskin dan
berkembang, terutama negara-negara Afrika dan Asia Selatan atau Asia Tenggara.
Khusus untuk Indonesia, diperkirakan 3,1 juta jiwa (1,5 persen) penduduknya
mengalami kebutaan.Penyebab utama kebutaan di dunia adalah katarak (45 persen).
Penyebab lain antara lain adalah glaucoma, diabetes melitus, dan trauma (37,5
persen); trachoma (12,5 persen); dan onchocerciasis atau river blindness (0,6 persen).
Katarak adalah istilah medis untuk setiap keadaan keruh pada lensa mata.
Lensa mata terutama disusun oleh air, protein, dan lipid. Protein tersusun demikian
sehingga cahaya dapat menembus lensa dan difokuskan pada retina. Kadang-kadang
protein tersebut mengumpul bersama sehingga memperkeruh atau menutupi bagian
kecil pada lensa. Itulah yang disebut katarak. Makin lama, kumpulan protein tersebut
membesar dan memperkeruh lensa. Tanda-tanda katarak antara lain penglihatan
kabur, cahaya lampu kelihatan terlalu terang pada malam hari, cahaya matahari atau
lampu silau, dan warna tampak pudar.

B. Rumusan Masalah
a. Apa definisi dari katarak?
b. Ksasifikasi katarak ?
c. Bagaimana etiologi katarak ?
d. Bagaimana patofisiologi dan pathyaw katarak ?
e. Bagaimana manifestasi klinis katarak ?
f. Bagaimana patofisiologi dan pathway katarak?

1
g. Bagaimana penatalaksanaan pada katarak ?
h.Bagaimanapemeriksaankatarak?
i. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien katarak ?

C. Tujuan
1. Supaya mahasiswa memahami tentang penyakit katarak secara lebih detail.
2. Supaya mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan yang benar
pada klien dengan penyakit katarak .
3. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas diskusi dan kelompok presentasi
mata kuliah KMB ( Keperawatan Medikal Bedah ).

D. Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan melakukan tinjauan pusaka yaitu dari referensi
buku dan intenet.

E. Sistematika Penulisan
Makalah ini tersusun atas 3 bab yaitu Bab I Pendahuluan yang terdiri dari
latar belakang ,rumusan masalah, tujuan , metode penulisan dan sistematika
penulisan. Bab II Pembahasan dan Bab III Penutup .

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran
yang diproyeksikan pada retina . Katarak merupakan penyebab umum kehilangan
pandangan secara bertahap (Springhouse Co). Derajat disabilitas yang ditimbulkan
oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas keburaman . Intervensi
diindikasikan jika visus menurun sampai batas klien tidak dapat menerima perubahan
dan merugikan atau mempengaruhi gaya hidup klien (yaitu visus 5/15). Katarak
biasanya mempengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang secara
independen . perkecualian ,katarak traumatic bisanya unilateral dan katarak
congenital biasanya stasioner.
Tindaka operasi mengembalikan pandangan mata kurang lebih 95% klien
(Springhouse Co). Tanpa pembedahan , katarak yang terjadi dapat menyebabkan
kehilangan pandangan komplet. Katarak terbagi menjadi jenis menurut
perkembangan (katarak congenital) dan menurut proses degenerative ( katarak primer
dan katarak komplikata).
1. Katarak Kongenital
Katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saat
pembentukan lensa. Kekeruhan sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini
sering ditemukan pada bayi yang dilahirkanoleh ibu yang menderita
rubella,DM,toksoplasmosis, hipoparatiroidisme,galaktosemia.Ada pula yang
menyertai kelainan bawaan pada mata itu sendiri seperti mikroftalmus, aniridia,
koloboma,keratokonus, ektopia leentis, megalokornea, hetekronia iris. Kekeruhan
dapat dijumpai dalam bentuk arteri hialoidea yang persisten ,katarak Polaris
anterior,posterior, katarak aksialis,katrak zonularis,katarak stelata,katarak totalis dan
katarak kongenita membranasea.
2. Katarak Primer

3
Katarak primer, menurut umur ada tiga golongan yaitu atarak juvenilis (umur <20
tahun), katarak senilis (umur >50 tahun ). Katarak primer dibagi menjadi empat
stadium :
1. Stadium Insipien
Jenis katarak ini adalah stadium paling dini . Visus belum terganggu ,
dengan koreksi masih bisa 5/5 -6/6. Kekeruha terutama terdapat pada
bagian perifer berupa bercak-bercak seperti jari-jari roda.
2. Stadium Imatur
Kekeruhan sebelum mengenai seluruh lapisan lensa , terutama terdapat
dibagian posterior dan bagian belakang nucleus lensa . Shadow test
posotif . Saat ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang menyebabkan lensa
menjadi cembung sehingga indeks refraksi berubah dan mata menjadi
miopa. Keadaan ini disebut intumesensi. Cembungnya lensa akan
mendorong iris kedepan, menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi
sempit dan menimbulkan komplikasi glaucoma.
3. Stadium Matur
Pada stadium ini terjadi pengeluaran air sehingga lensa akan berukuran
normal kembali. Saat ini lensa telah keruh seluruhnya sehingga semua
sinar yang masuk pipil dipantulkan kembali. Shadow tes negative .Di
pupil tampak lensa seperti mutiara.
4. Stadium Hipermatur (Katarak Morgagni)
Korteks lensa yang seperti bubur telah mencair sehingga nucleus lensa
turun karena daya beratnya. Melalui pupil, nucleus terbayang sebagai
setengah lingkaran dibgian bawah dengan warna berbeda dari yang
diatasnya yaitu kecoklatan .Saat ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa
yang menjadi lebih permeable sehingga isi korteks dapat keluar dan lensa
menjadi kempis yang dibawahnya terdapat nucleus lensa.Keadaan ini
disebut katarak morgani.

4
5. Katarak Komplikata
Katarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagian komplikasi dari
penyakit lain . Penyebab katarak jenis ini adalah :
a. Gangguan okuler, karena retinitis pigmentosa, glaucoma,
ablasio retina yang sudah lama , uveitis, myopia maligna.
b. Penyakit siskemik , DM, hipoparatiroid, sindromdown,
dermatritis atopic.
c. Trauma , trauma tumpul, pukulan , benda asing didalam mata
terpajan panasa yang berlebihan , sinar X , radio aktif, terpajan
sinar matahari, toksik kimia.
Merokok meningkatkan resiko berkembangnya katarak, demikian pula
dengan peminum berat. Kadang-kadang katarak tejadi lagi setelah operasi jika kapsul
lensa ditinggalkan utuh selama operasi katarak (dewit,1998).

B. ETIOLOGI
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan
tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat
hamil muda. Penyebab katarak lainnya meliputi:
a.Faktor keturunan.
b.Cacat bawaan sejak lahir.
c. Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
d. Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
e. Gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
f. Gangguan pertumbuhan,
g. Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
h.Rokok dan Alkohol
i.Operasi mata sebelumnya.
j.Trauma (kecelakaan) pada mata.

5
k. Faktor-faktor lainya yang belum diketahui

C. PATOFISIOLOGI
Lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting. Katarak merupakan
kondisi penurunan ambilan oksigen,penurunan air,peningkatan kandungan kalsium
dan berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak larut. Pada proses penuaan,
lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam ukuran dan
densitasnya. Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi sentral serta lensa yang
lebih tua. Saat serat lensa yang baru diproduksi dikorteks,serat lensa ditekan menuju
sentral. Serat-serat lensa yang padat lama-lama menyebabkan hinlangnya transparansi
lensa yang tidak terasanyeri dan sering bilateral. Selain itu berbagai penyebab katarak
diatas menyebabkan gangguan metabolisme pada lensa mata. Gangguan metabolisme
ini , menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada didalam lensa yang
pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat berkembang
diberbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini sinar yang masuk
memalui kornea yang dihalangi oleh lensa yang keruh atau huram. Kondisi ini
memburamkan bayangan semu yang sampai pada retina.Akibat otak
mengiterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak
diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian berubah kuning , bahkan menjadi
coklat atau hitam dank klien mengalami kesulitan dalam membedakan warna.

D. MANIFESTASI KLINIS
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya klien
melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional
sampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi. Temuan
objektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga
retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak,
cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi
bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pendangan menjadi kabur atau redup,

6
emnyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di
malam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih.

E. PEMERIKSAAN
1. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan
kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi,
penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina
2. Iluminasi oblik tampak kekeruhan yang keabu-abuan atau putih dengan
bayangan hitam disebut iris shadow.
3. Pemeriksaan dengan optalmoskop tampak warna hitam diatas dasar
orange disebut fundus reflek.
4. Pada katarak yang lebih lanjut, kekeruhan bertambah sehingga iris shadow
menghilang dan fundus reflek menjadi hitam saja (negatif).
5. Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg)
F. PENATALAKSANAAN
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai
ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya
konservatif.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut
untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam
penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila
ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasi
segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit
retina atau sarf optikus, seperti diabetes dan glaukoma.
Ada 2 macam teknik pembedahan ;
1. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler (ECCE)
Adalah pengangkatan korteks dan nukeus ,kapsul posterior
ditinggalkan untuk mencegah kolaps vitreus, untuk melindungi retina dari

7
sinar ultraviolet dan memberikan sokongan untuk implantasi lensa
intraokuler.
2. Ekstraksi katarak intrakapsuler (ICCE)
Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 %
pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata
selama pembedahan.Pada pembedahan jenis ini lensa diangkat seluruhnya .

8
BAB III
TINJAUAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnesis
Keluhan yang sering ditemukan adalah adanya penurunan penglihatan seperti
pandangan mata yang kabur, silau bila terkena cahaya/sinar, sulit melihat di
malam hari.
2. Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to toe yang meliputi
keadaan umum, status kesadaran, tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik.
3. Riwayat kesehatan
A. Keluhan Utama
Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
1. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kesehatan dahulu pasien perlu diketahui untuk menemukan
masalah primer pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur,
pandangan ganda, atau hilangnya daerah penglihatan soliter. Perawat
harus menemukan apakah masalahnya hanya mengenai satu mata atau
dua mata dan berapa lama pasien sudah menderita kelainan ini.
Riwayat mata yang jelas sangat penting. Apakah pasien pernah
mengalami cedera mata atau infeksi mata, penyakit apa yang terakhir
diderita pasien.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Tanyakan kepada
pasien apakah ia mengenakan kacamata atau lensa kontak, apakah
pasien mengalami kesulitan melihat (fokus) pada jarak dekat atau
jauh, apakah ada keluhan dalam membaca atau menonton televisi,
bagaimana dengan masalah membedakan warna atau masalah dengan
penglihatan lateral atau perifer.
3. Riwayat Penyakit Keluarga

11
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau
kakek-nenek.
4. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara
keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan
oftalmoskop (Smeltzer, 2002). Katarak terlihat tampak hitam terhadap
refleks fundus ketika mata diperiksa dengan oftalmoskop direk.
Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan katarak secara
rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait usia
biasanya terletak di daerah nukleus, korteks, atau subkapsular.
Katarak terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior.
Tampilan lain yang menandakan penyebab okular katarak dapat
ditemukan, antara lain deposisi pigmen pada lensa menunjukkan
inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris menandakan trauma mata
sebelumnya (James, 2005).
5. Perubahan pola fungsi
Data yang diperoleh dalam kasus katarak, menurut Gordon, 2006
adalah sebagai berikut :
a. Persepsi tehadap kesehatan
Bagaimana manajemen pasien dalam memelihara kesehatan,
adakah kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol,dan apakah
pasien mempunyai riwayat alergi terhadap obat, makanan atau
yang lainnya.
b. Pola aktifitas dan latihan
Bagaimana kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas atau
perawatan diri, dengan skor : 0 = mandiri, 1= dibantu sebagian, 2=
perlu bantuan orang lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4=
tergantung/ tidak mampu. Skor dapat dinilai melalui : Aktifitas 0
1234

12
c. Pola istirahat tidur
Berapa lama waktu tidur pasien, apakah ada kesulitan tidur seperti
insomnia atau masalah lain. Apakah saat tertidur sering terbangun.
d. Pola nutrisi metabolik
Adakah diet khusus yang dijalani pasien, jika ada anjuran diet apa
yang telah diberikan. Kaji nafsu makan pasien sebelum dan
setelah sakit mengalami perubahan atau tidak, adakah keluhan
mual dan muntah, adakah penurunan berat badan yang drastis
dalam 3 bulan terakhir.
e. Pola eliminasi
Kaji kebiasaan BAK dan BAB pasien, apakah ada gangguan atau
kesulitan. Untuk BAK kaji warna, bau dan frekuensi sedangkan
untuk BAB kaji bentuk, warna, bau dan frekuensi.
f. Pola kognitif perseptual
Status mental pasien atau tingkat kesadaran, kemampuan bicara,
mendengar, melihat, membaca serta kemampuan pasien
berinteraksi. Adakah keluhan nyeri karena suatu hal, jika ada kaji
kualitas nyeri.
g. Pola konsep diri
Bagaimana pasien mampu mengenal diri dan menerimanya seperti
harga diri, ideal diri pasien dalam hidupnya, identitas diri dan
gambaran akan dirinya.
h. Pola koping
Masalah utama pasien masuk rumah sakit, cara pasien menerima
dan menghadapi perubahan yang terjadi pada dirinya dari sebelum
sakit hingga setelah sakit.
i. Pola seksual reproduksi
Pola seksual pasien selama di rumah sakit, menstruasi terakhir dan
adakah masalah saat menstruasi.

13
j. Pola peran hubungan
Status perkawinan pasien, pekerjaan, kualitas bekerja, sistem
pendukung dalam menghadapi masalah, dan bagaiman dukungan
keluarga selama pasien dirawat di rumah sakit.
k. Pola nilai dan kepercayaan
Apa agama pasien, sebagai pendukung untuk lebih mendekatkan
diri kepada Tuhan atas sakit yang diderita.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi:
1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
2. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
penyakit.
Post Operasi:
1. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
2. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
3. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan
penglihatan.
(Menurut NANDA NIC NOC 2015)

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN
a. Prioritas Diagnosa Keperawatan menurut Virginia Handerson
Pre Operasi:
1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan
gangguan penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

14
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
penyakit.
Post Operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan
penglihatan.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
b. Rencana Asuhan Keperawatan
Pre Operasi:
1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan
gangguan penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
a. Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah
persepsi sensori penglihatan teratasi.
b. Kriteria Hasil:
1. Pasien mampu mengidentifikasi lingkungan di sekitarnya
dengan cukup baik.
2. Pasien tidak mengalami disorientasi.
c. Rencana Tindakan:
1. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata
terlibat.
Rasional: Kebutuhan tiap individu dan pilihan intervensi
bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambatdan
progresif.
2. Observasi tanda-tanda disorientasi.
Rasional: lingkungan yang tidak dikenal dan mengalami
keterbatasan penglihatan dapat mengakibatkan kebingungan
terutama pada lansia.

15
3. Observasi penglihatan kabur dan iritasi mata dimana dapat
terjadi bila menggunakan obat tetes mata.
Rasional: Gangguan penglihatan/ iritasi dapat berakhir 1-2 jam
setelah tetesan mata tetapi secara bertahap menurun dengan
penggunaan yang teratur dan tepat.
4. Berikan pengenalan lingkungan sekitar pada klien
Rasional: Memberikan peningkatan kenyamanan dan
kekeluargaan, menurunkan kecemasan dan disorientasi.
5. Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam
jangkauan/posisi yang tepat.
Rasional: Memungkinkan pasien melihat objek dengan lebih
baik dan memudahkan panggilan untuk pertolongan bila
diperlukan.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
a. Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah
ansietas /kecemasan berkurang.
b. Kriteria Hasil:
1. Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa
cemas/takutnya.
2. Pasien tampak rileks dan mengatakan kecemasannya
berkurang.
c. Rencana Tindakan:
1. Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda
verbal dan nonverbal.
Rasional: Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana
informasi tersebut diterima oleh individu.
2. Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien.

16
Rasional: Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan
akibat kecemasan.
3. Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan,
petugas, dan peralatan yang akan digunakan.
Rasional: Mengurangi kecemasan dan meningkatkan
pengetahuan.
4. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan
perasaan takutnya.
Rasional: Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana
rasa takut dapat ditujukan.
5. Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi,
harapan dan akibatnya.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka
mengurangi kecemasan dan kooperatif.
6. Beri penjelasan dan suport pada pasien setiap melakukan
prosedur tindakan.
Rasional: Mengurangi perasaan takut dan cemas.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang


penyakit.
Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah kurang
pengetahuan teratasi.
Kriteria Hasil:
1. Pasien dan keluarga menyatakan paham mengenai kondisi,
penyakit serta program pengobatan.
2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan dengan benar.

17
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali informasi yang
telah dijelaskan oleh petugas medis.
Rencana Tindakan:
1. Kaji penilaian tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik.
Rasional: mengetahui seberapa banyak pengetahuan yang
dimiliki pasien mengenai penyakitnya.
2. Jelaskan patofisiologi penyakit pasien dengan bahasa yang mudah
dimengerti dan dipahami.
Rasional: memudahkan pasien untuk menyimak dan memahami
informasi yang diberikan oleh petugas medis.
3. Jelaskan tanda dan gejala penyakit pasien dengan cara yang tepat.
Rasional: membantu pasien untuk mengenal penyakit dengan
lebih spesifik.
4. Berikan dukungan pada pasien untuk menjalani operasi.
Rasional: meningkatkan kepercayaan diri pasien mengenai
prosedur operasi yang akan dijalani.

Post Operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
a. Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan masalah nyeri
berkurang /terkontrol.
b. Kriteria Hasil:
1. Pasien mengatakan nyeri berkurang/terkontrol.
2. Pasien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah.
c. Rencana Tindakan:
1. Kaji tingkat nyeri pasien dengan metode PQRST

18
Rasional: untuk mengetahui tingkat nyeri yang berguna dalam
pengawasan keefektifan obat serta kemajuan kesembuhan.
2. Observasi tanda-tanda vital
Rasional: mengetahui perkembangan kondisi kesehatan
pasien.
3. Pertahankan tirah baring selama fase nyeri
Rasional: istirahat dapat mengurangi rasa nyeri pasien.
4. Berikan teknik distraksi dan relaksasi
Rasional: tindakan ini dapat menurunkan tekanan vaskuler
serebral yang memperlambat atau memblok respon simpatis
serta efektif dalam menghilangkan nyeri.
5. Delegatif dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
Rasioanal: menurunkan dan mengontrol nyeri serta
menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.
2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan
penglihatan.
Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cedera dapat
dicegah.
Kriteria hasil:
1. Pasien menyatakan paham mengenai faktor yang terlibat dalam
kemungkinan cedera.
2. Pasien terlihat lebih aman dengan lingkungan sekitar yang telah
dimodifkasi untuk meminimialkan risiko cedera.
Rencana Tujuan:
1. Kaji apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri,
pembatasan aktivitas, penampilan dan balutan mata.
Rasional: membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan
kerja sama dalam pembatasan yang diperlukan.

19
2. Beri pasien posisi bersandar, kepala tinggi atau miring ke sisi
yang tak sakit sesuai kebutuhan pasien.
Rasional: pemberian posisi yang benar pada pasien dapat
menurunkan tekanan pada mata yang sakit, meminimalkan risiko
perdarahan pada luka post operasi.
3. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba,
menggaruk mata dan menyentuh balutan pada mata
Rasional: mengurangi risiko terlepasnya balutan post operasi dan
mencegah terjadinya perdarahan bila pasien menggaruk matanya.
4. Pasang penghalang pada bagian sisi tempat tidur pasien saat
pasien sedang istirahat.
Rasional: megurangi risiko pasien terjatuh dari tempat tidur saat
istirahat.
5. Berikan bantuan pada pasien bila ingin ke kamar mandi jika
pasien mampu berjalan
Rasional: mengurangi risiko cedera saat pasien pergi ke kamar
mandi sendirian.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Rencana Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan risiko infeksi
berkurang/tidak terjadi.
Kriteria Hasil:
1. Tidak tampak tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan iritasi
pada luka pasien.
2. Luka pasien tampak bersih, tidak ada pus.
Rencana Tindakan:
1. Observasi tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan iritasi pada
luka pasien

20
Rasional: mengenali adanya tanda-tanda infeksi lebih awal untuk
menentukan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan.
2. Lakukan teknik yang tepat untuk merawat luka.
Rasional: mengurangi risiko infeksi saat proses merawat luka.
3. Lakukan teknik mencuci tangan yang benar saat memulai dan
mengakhiri suatu tindakan.
Rasional: mencuci tangan yang benar dapat menurunkan risiko
infeksi pada luka pasien.
4. Beri penjelasan pada pasien untuk tidak selalu menyentuh balutan
mata dan menggaruk mata.
Rasional: tangan pasien yang kotor saat menyentuh balutan dapat
meningkatkan risiko infeksi pada luka.
5. Kolaborasi dalam pemberian obat topikal bila terjadi iritasi.
Rasional: sediaan topikal digunakan secara profilaksis, dimana
terapi lebih diperlukan bila terjadi infeksi.
D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa
serangkaian kegiatan sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai
hasil yang optimal. Pada tahap ini perawat menggunakan segala kemampuan
yang dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik
secara umum maupun secara khusus pada klien dengan katarak. Pada
pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen,
interdependen dan dependen.
Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang
diprakarsai oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan
keterampilan yang dimilikinya Pada fungsi interdependen adalah dimana
fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/disiplin ilmu
yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan, sedangkan fungsi

21
dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan atas
pesan dari anggota medis yang lain (Tarwoto, 2015)
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Pre Operasi:
1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
a. Pasien mampu mengidentifikasi lingkungan di sekitarnya dengan
cukup baik.
b. Pasien tidak mengalami disorientasi.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
a. Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.
b. Pasien tampak rileks dan mengatakan kecemasannya berkurang.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
penyakit.
a. Pasien dan keluarga menyatakan paham mengenai kondisi, penyakit
serta program pengobatan.
b. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan
dengan benar.
c. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali informasi yang
telah dijelaskan oleh petugas medis.
Post Operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi.
a. Pasien mengatakan nyeri berkurang/terkontrol.
b. Pasien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah.
2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan
penglihatan.
a. Pasien menyatakan paham mengenai faktor yang terlibat dalam
kemungkinan cedera.

22
b. Pasien terlihat lebih aman dengan lingkungan sekitar yang telah
dimodifkasi untuk meminimialkan risiko cedera.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
a. Tidak tampak tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan iritasi pada
luka pasien.
b. Luka pasien tampak bersih, tidak ada pus.

23
BAB IV
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
 Nama : Ny. W
 Umur : 50 th
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Agama : islam
 Status Perkawinan : kawin
 Suku Bangsa : Indonesia
 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan : swasta
 Tgl masuk RS : 01 Januari 2012
 No. Register : 15665
Penanggung Jawab
 Nama : Tn. F
 Umur : 56 th
 Pekerjaan : swasta
 Alamat : Hibrida 10

B. KELUHAN UTAMA
Klien mengalami penglihatan kabur. Klien mengalami penglihatan kabur,
kesulitan melihat dari jarak jauh ataupun dekat.
C. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat kesehatan Sekarang
Pasien datang kerumah sakit dengan keluhan pusing dan penglihatannya
kabur, penglihatan kabur dirasakan sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu.
Penglihatan kabur/tidak jelas dan seperti ada kabut serta terkadang pasien merasa

24
silau saat melihat cahaya. Klien juga mengalami kesulitan melihat pada jarak
jauh atau dekat, pandangan ganda, susah melihat pada malam hari. Setelah
dilakukan pengkajian pupil berwarna putih dan ada dilatasi pupil, nucleus pada
lensa menjadi coklat kuning, lensa menjadi opak, retina sulit dilihat, terdapat
gangguan keseimbangan pada susunan sel lensa oleh factor fisik dan kimiawi
sehingga kejernihan lensa berkurang.klien disarankan oleh dokter untuk
dilakukan tindakan pembedahan atau dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi
kuat sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari.klien jg
mengalami hiperglikemia karena panyakit diabetis yang dideritanya.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat penyakit Diabetes Mellitus, didiagnosis sejak
kurang lebih 1 tahun yang lalu.
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Ada dari keluarga pasien yang menderita penyakit Diabetes Melitus /gejala-
gejala yang sama seperti yang diderita oleh pasien saat ini.
D. PEMERIKSAAN FISIK
a. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan :
Keluarga klien takut akan penyakit yang diderita klien, dan berharap
agar bisa cepat sembuh.
Penggunaan tembakau (bungkus/hari, pipa, cerutu, berapa lama, kapan
berheti) : tidak menggunakan tembakau
Alkohol : tidak mengkonsmsi alkohol
Alergi (obat-obatan, makanan, plster dll) : makanan
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Diet/suplemen khusus : tidak ada
Nafsu makan : menurun
Penurunan sensasi kecap, mual-muntah, stomatitis : mual muntah
Fluktuasi BB 6 bulan terakhir (naik/turun) : turun

25
Kesulitan menelan (disfagia) : disfagia
Gigi : Lengkap
Frekuensi makan : 1-2x sehari
Jenis makanan : nasi, sayur, buah-buahan
Pantangan/alergi : ikan
3) Pola eliminasi
BAB :
Frekuensi : lebih dari 3x sehari
Warna : kuning
Waktu : tidak teratur
Konsistensi : cair
Kesulitan (diare, konstipasi, inkontinensia) : inkontinensia
BAK :
Frekuensi : lebih dari 8x perhari jika dalam keadaan kejang
Kesulitan : inkotinensia
4) Pola aktivitas dan latihan
Kekuatan otot : penurunan kekuatan/tonus otot secara menyeluruh
Kemampuan ROM : ada keterbatasan rentang gerak
Keluhan saat beraktivitas : mudah lelah, dan lemas saat berktivitas
5) Pola istirahat dan tidur
Lama tidur : 4-6 jam sehari
Waktu : malam
6) Pola kognitif dan persepsi
Status mental : penurunan kesadaran
Bicara : aphasia ekspresif
Kemampuan memahami : tidak
Tingkt ansietas : berat
Penglihatan : pandangan kabur
Ketidaknyamanan/nyeri : nyeri kronik

26
7) Persepsi diri dan konsep diri
Perasaan klien tentang masalah kesehatan ini : klien merasa malu dan
minder
8) Pola peran hubungan
Pekerjaan : swasta
Sistem pendukung : keluarga
9) Pola koping dan toleransi aktivitas
Hal yang dilakukan saat ada masalah : cerita dengan orang terdekat atau
keluarga
Penggunaan obat untuk menghilangkan stress : ada
Keadaan emosi dalam sehari-hari : tegang
10) Keyakinan dan kepercayaan
Agama : islam
Pengaruh agama dalam kehidupan : segala sesuatu dalam kehidupannya
diserahkan pada agamanya
1. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum : tampak gelisah dan bingung
Penampilan umum : bersih dan rapi
Kliean tampak sehat/sakit/sakit berat : sakit
Kesadaran :
BB : 50 kg
TB : 155 cm
2) Tanda-tanda vital
TD : 150/ 110mmHg
ND : 90 x/i
RR :22 1x/i
S : 36,5 derajat celcius

27
3) Kulit
Warna kulit : tidak sianosis
Kelembapan : kering
Turgor kulit : elastic berkurang
Ada/tidaknya oedema : ada oedema
4) Kepala :
Inspeksi : rambut bersih
Palpasi :tidak Ada benjolan
5) Mata
Inspeksi : kekeruhan, berkabut atau opak pada lensa mata. Pada inspeksi
visual katarak Nampak abu-abu atau putih susu. Pada inspeksi pada lampu
senter, tidak timbul refeksi merah.
Fungsi penglihatan : gangguan penglihatan
Ukuran pupil : pupil dilatasi
Konjungtiva : anemis
Sklera : putih
6) Telinga
Fungsi pendengaran :tidak ada gangguan pendengaran
Kebersihan : bersih
Sekret : tidak ada
7) Hidung dan sinus
Fungsi penciuman : baik
Pembegkakan : tidak ada
Perdarahan : tidak ada
Kebersihan : bersih
Sekret : tidak ada
8) Mulut dan tenggokan
Membran mukosa : kering
kebesihan mulut : bersih

28
Keadaan gigi : lengkap
Tanda radang : Lidah
Trismus :tidak ada
Kesulitan menelan : tidak ada, disfagia tidak ada
9) Leher
Trakea : simetris
Kelenjar limfe : ada
Kelenjar tiroid : tidak ada pembesaran
10) Thorak/paru
Inspeksi : dada simetris dan tidak menggunakan otot bantu pernafasan
Perkusi :tidak ada massa, dengan tidak adanya peningkatan produksi mukus
Auskulktasi : pernafasan stridor (ngorok)
11) Jantung
Inspeksi : iktus kordis terlihat
12) Abdomen
Inspeksi : simetris
Auskultasi : peristaltik usus
Palpasi : tidak ada benjolan atau massa, tidak ada ascites
13) Ekstremitas
Ekstremitas atas : pergerakan normal
Ekstremitas bawah : pergerakan normal
ROM :
Kekuatan otot : penurunan kekuatan tonus otot
14) Neurologis
Kesadaran (GCS) :
Status mental : penurunan kesadaran
Motorik : kejang
Sensorik : gangguan pada sistem penglihatan,mata kabur ,pengelihatan sil
dan gangguanpendengaran

29
Refleks fisiologis : mengalami penurunan terhadap respon stimulus

E. . ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah
1 DS: Gangguan Gangguan persepsi
-klien mengatakan mengalami penglihatan sensori
penglihatan kabur.
-Klien mengatakan mengalami
penglihatan kabur, kesulitan
melihat dari jarak jauh ataupun
dekat
DO:
- pupil berwarna putih dan ada
dilatasi pupil, nucleus pada
lensa menjadi coklat kuning,
lensa menjadi opak, retina sulit
dilihat
2 Faktor resiko Peningkatan paparan Resiko infeksi
1. Penyakit kronis organisme patogen
2. Efek prosedur infasif lingkungan
3. Malnutrisi
4. Peningkatan paparan
organisme patogen
lingkungan
3 Faktor resiko Terpapar patogen Resio cidera
Eksternal
1. Terpapar patogen
2. Terpapar zat kimia toksik

30
3. Terpapar agen nosokomial
4. Ketidakamanan transportasi

1. Diagnosa keperawatan yang muncul


1) Gangguanpersepsi sensoriberhubungan dengan gangguan penglihatan
2) Resiko infeksi berkaitan dengan Peningkatan paparan organisme patogen
lingkungan
3) Resiko cidera berkairan dengan terpapar patogen

31
F. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 Gangguan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji fungsi dan penglihatan 1. Untuk mengetahui fungsi dan
persepsi sensori keperawatan selama 7 X 24 klien penglihatan klien
jam diharapkan tidak terjadi 2. Catat reaksi pasien terhadap 2. Untuk mengetahui reaksi
gangguan persepsi sensori rusaknya penglihatan (misal, pasien terhadap rusaknya
dengan kriteria hasil: depresi, menarik diri, dan penglihatan (misal, depresi,
 Menunjukkan tanda dan menolak kenyataan) menarik diri, dan menolak
gejala persepsi dan sensori 3. Berikan pengenalan lingkungan kenyataan)
baik penglihatan, sekitar pada klien 3. Memberikan peningkatan
pendengaran, makan dan 4. Letakkan barang yang kenyamanan dan
minum baik dibutuhkan/posisi bel pemanggil kekeluargaan, menurunkan
 Mampu mengungkapkan dalam jangkauan/posisi yang kecemasan dan disorientasi.
fungsi persepsi dan sensori tepat. 4. Memungkinkan pasien melihat
dengan tepat 5. Ajarkan klien dengan pamflet objek dengan lebih baik dan
tulisan besar dan kontras memudahkan panggilan untuk
6. Kolaborasi dengan dokter pertolongan bila diperlukan.
spesialis mata untuk pengobatan 5. Menilai perkembangan katarak
dan terapi lebih lanjut pasien
6. untuk pengobatan dan terapi
lebih lanjut

32
2 Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda dan gejala infeksi 1. Untuk mengetahui tanda
keperawatan selama 2 X 24 sistemik dan lokal dan gejala infeksi sistemik
jam diharapkan tidak terjadi 2. Inspeksi kulit dan membran dan lokal
infeksi dengan kriteria hasil: mukosa terhadap kemerahan, 2. Untuk mengetahui keadaan
 Klien bebas dari tanda dan panas, drainase kulit dan membran mukosa
gejala infeksi 3. Lakukan teknik yang tepat untuk 3. mengurangi risiko infeksi
 Menunjukkan kemampuan merawat luka. saat proses merawat luka.
untuk mencegah 4. Lakukan teknik mencuci tangan 4. mencuci tangan yang benar
timbulnya infeksi yang benar saat memulai dan dapat menurunkan risiko
mengakhiri suatu tindakan. infeksi pada luka pasien.
5. Ajarkan cara menghindari 5. untuk menghindari infeksi.
infeksi 6. agar sesuai dengan dosis
6. Kolaborasi dengan dokter dalam antibiotik
pemberian antibiotik
3 Resiko cidera Setelah dilakukan asuhan 1. Iderntifikasi kebutuhan 1. Untuk mengatahu kebutuhan
keperawatan selama 2 X 24 keamanan pasien, sesuai dengan dan keamanan pasien, sesuai
jam diharapkan tidak terjadi kondisi fisik dan fungsi kognitif dengan kondisi fisik dan
infeksi dengan kriteria hasil: pasien dan riwayat penyakit fungsi kognitif pasien
 Klien terbebas dari cidera terdahulu pasien 2. Agar pasien dapat dibantu
 Klien mampu menjelaskan 2. Menganjurkan keluarga untuk dalam berkatifitas
cara atau metode untuk menemani pasien 3. pemberian posisi yang benar
mencegah cedera 3. Beri pasien posisi bersandar, pada pasien dapat

33
 Klien mampu memodifikasi kepala tinggi atau miring ke sisi menurunkan tekanan pada
gaya hidup untuk mencegah yang tak sakit sesuai kebutuhan mata yang sakit,
cindera pasien. meminimalkan risiko
4. Batasi aktivitas seperti perdarahan pada luka post
menggerakkan kepala tiba-tiba, operasi.
menggaruk mata dan menyentuh 4. mengurangi risiko
balutan pada mata terlepasnya balutan post
5. Pasang penghalang pada bagian operasi dan mencegah
sisi tempat tidur pasien saat terjadinya perdarahan bila
pasien sedang istirahat. pasien menggaruk matanya.
6. Berikan bantuan pada pasien bila 5. megurangi risiko pasien
ingin ke kamar mandi jika pasien terjatuh dari tempat tidur
mampu berjalan saat istirahat.
7. Berikan penjelasan pada pasien 6. mengurangi risiko cedera
dan keluarga atau pengunjung saat pasien pergi ke kamar
adanya perubahan status mandi sendirian.
kesehatan dan penyebab 7. Agar pengunjung
penyakit. mengetahui adanya
8. Kolaborasi dengan fisoterapi perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit
8. Untuk koordinasi yang lebih
baik

34
G. CATATAN PERKEMBANGAN
No Diagnose Keperawatan Implementasi Evaluasi
1. Mengkaji fungsi dan penglihatan klien
2. Mencatat reaksi pasien terhadap rusaknya
penglihatan (misal, depresi, menarik diri,
dan menolak kenyataan)
3. Memberikan pengenalan lingkungan S: Pasien mengatakan bahwa penglihatannya mash
sekitar pada klien sedikit kabur.
4. Meletakkan barang yang dibutuhkan/posisi O: Pasein mendekatkan matanya ke tulisan beras
1 Gangguan persepsi sensori
bel pemanggil dalam jangkauan/posisi dan kontras saat membaca.
yang tepat. A: Masalah teratasi sebagian.
5. mengajarkan klien dengan pamflet tulisan P: Lanjutkan intervensi no. 1-4, 6
besar dan kontras
6. Berkolaborasi dengan dokter spesialis
mata untuk pengobatan dan terapi lebih
lanjut

35
2. Resiko infeksi 1. Memonitor tanda dan gejala infeksi S:
sistemik dan lokal Pasien mengatakan tidak ada kemerahan, bengkak,
2. Menginspeksi kulit dan membran dan panas pada wajah pasien.
mukosa terhadap kemerahan, panas, Klien belum mampu menerapkan cara mencegah
drainase infeksi
3. Melakukan teknik yang tepat untuk O: Tidak ada tanda-tanda infeksi pada klien
merawat luka. (Kolor, Dolor, Rubor, Tumor)
4. Melakukan teknik mencuci tangan yang A: Masalah teratasi sebagian.
benar saat memulai dan mengakhiri P: Lanjutkan intervensi no. 1-4,6
suatu tindakan.
5. Mengajarkan cara menghindari infeksi
6. Berkolaborasi dengan dokter dalam
pemberian antibiotik
3. Resiko cedera 1. Menidentifikasi kebutuhan keamanan S: Pasien mengatakan belum mampu
pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan memodifikasi gaya hidup untuk mencegah cedera
fungsi kognitif pasien dan riwayat O: Klien terbebas dari cedera
penyakit terdahulu pasien A: Masalah teratasi sebagian.
2. Menganjurkan keluarga untuk P: Lanjutkan intervensi no. 1-6,8
menemani pasien
3. Memberikan pasien posisi bersandar,
kepala tinggi atau miring ke sisi yang
tak sakit sesuai kebutuhan pasien.

36
4. Membatasi aktivitas seperti
menggerakkan kepala tiba-tiba,
menggaruk mata dan menyentuh
balutan pada mata
5. Memasang penghalang pada bagian sisi
tempat tidur pasien saat pasien sedang
istirahat.
6. Memberikan bantuan pada pasien bila
ingin ke kamar mandi jika pasien
mampu berjalan
7. Memberikan penjelasan pada pasien dan
keluarga atau pengunjung adanya
perubahan status kesehatan dan
penyebab penyakit.
8. Berkolaborasi dengan fisoterapi

37
38
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang
mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam
mata, seperti melihat air terjun. Menjadi kabur atau redup, mata silau yang
menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat Katarak didiagnosis
terutama dengan gejala subjektif. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman
penglihatan dan silau serta gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang
diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi. Temuan objektif biasanya meliputi
pengembunann seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak
dengan oftalmoskop.
Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya
ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah
pendangan di malam hari.Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau
putih.

B. SARAN
Katarak adalah suatu penyakit degeneraf karena bertambahnya faktor usia,
jadi untuk mencegah terjadinya penyakit katarak ini dapat dilakukan dengan pola
hidup yang sehat seperti tidak mengkonsumsi alcohol dan minum minuman keras
yang dapat memicu timbulnya katarak. Dan salalu mengkonsumsi buah-buahan serta
sayuran yang lebih banyak untuk menjaga kesehatan mata.

39
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, (1999), Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,


Edisi 6, EGC, Jakarta.
Doengoes, Mariyln E., (2000) Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Sidarta Ilyas, (1997), Katarak, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Tamim Radjamin RK, Dkk, (1993), Ilmu Penyakit Mata, Airlangga University Press,
Surabaya.

40