Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gelombang Seismik
Gelombang seismik merupakan gelombang yang merambat melalui bumi. Perambatan
gelombang ini bergantung pada sifat elastisitas batuan. Gelombang seismik dapat ditimbulkan
dengan dua metode yaitu metode aktif dan metode pasif. Metode aktif adalah metode
penimbulan gelombang seismik secara aktif atau disengaja menggunakan gangguan yang
dibuat oleh manusia, biasanya digunakan untuk eksplorasi. Metode pasif adalah gangguan
yang muncul terjadi secara alamiah, contohnya gempa. Gelombang seismik termasuk dalam
gelombang elastik karena medium yang dilalui yaitu bumi bersifat elastik. Oleh karena itu sifat
penjalaran gelombang seismik bergantung pada elastisitas batuan yang dilewatinya. Teori
lempeng tektonik telah menjelaskan bagaimana pergerakan dari lempeng bumi. Pergerakan
lempeng bumi menyebabkan batuan terdeformasi atau berubah bentuk dan ukuran karena
adanya pergerakan antar lempeng. Deformasi akibat bergerakan lempeng ini berupa tegangan
(stress) dan regangan (strain).
Tegangan (Stress) didefinisikan sebagai gaya persatuan luas. Gaya merupakan
perbandingan dari besar gaya terhadap luas dimana gaya tersebut dikenakan. Gaya yang
dikenakan tegak lurus terhadap benda maka tegangan tersebut normal, jika gaya berarah
tangensial terhadap luas maka tegangan tersebut tegangan geser, dan jika tidak tegak lurus
maupun paralel maka gaya tersebut dapat diuraikan kekomponen yang paralel dan tegak lurus
terhadap elemen luas. Persamaan matematis dari tegangan (𝜎)
𝐹
𝜎=𝐴 (2.1)
Benda elastis yang mengalami stess maka akan terdeformasi atau mengalami perubahan
bentuk maupun dimensi. Perubahan tersebut disebut dengan regangan atau strain.Strain adalah
jumlah deformasi material persatuan luas. Hukum hooke menyatakan bahwa stress akan
sebanding dengan Strain pada batuan (antara gaya yang diterapkan dan besarnya deformasi).
𝜎 = 𝐶. 𝑒 (2.2)
Strain (𝑒) dan Stress (𝜎) merupakan besaran tensor, sedangkan 𝐶 adalah konstanta yang
berupa matriks (tensor) yang menentukan sifat dasar elastisitas dari batuan, parameter
𝐶 merupakan parameter elastik bebas yang dapat mencirikan sifat elastisitas batuan.

2.1.1 Gelombang Badan ( Body Wave)


Gelombang badan adalah gelombang yang menjalar dalam media elastik dan arah
perambatannya keseluruh bagian di dalam bumi. Berdasarkan gerak partikel pada media dan arah
penjalarannya gelombang dapat dibedakan menjadi gelombang P dan gelombang S.

Gelombang P disebut dengan gelombang kompresi/gelombang longitudinal. Gelombang


ini memiliki kecepatan rambat paling besar dibandingkan dengan gelombang seismik yang lain,
dapat merambat melalui medium padat, cair dan gas. Persamaan dari kecepatan gelombang P
adalah sebagai berikut :

𝜆+2𝜇
𝑉𝑝 = √ (2.3)
𝜌

Keterangan: 𝜆 = konstanta lame

𝜇 = rigiditas

𝜌 = densitas

Gelombang S disebut juga gelombang shear/ gelombang transversal. Gelombang ini


memiliki cepat rambat yang lebih lambat bila dibandingkan dengan gelombang P dan hanya dapat
merambat pada medium padat saja. Gelombang S tegak lurus terhadap arah rambatnya. Persamaan
dari kecepatan Gelombang S (𝑉𝑠 ) adalah sebgai berikut:

𝜇
𝑉𝑠 = √𝜌 (2.4)

Gambar 2.1 Gekombang P(kiri) dan gelombang S (kanan). (Elnashai dan Sarno, 2008)

2.1.2 Gelombang Permukaan


Gelombang permukaan merupakan salah satu gelombang seismik selain gelombang badan.
Gelombang ini ada pada batas permukaan medium. Berdasarkan pada sifat gerakan partikel media
elastik, gelombang permukaan merupakan gelombang yang kompleks dengan frekuensi yang
rendah dan amplitudo yang besar, yang menjalar akibat adanya efek free survace dimana terdapat
perbedaan sifat elastik (Susilawati, 2008). Jenis dari gelombang permukaan ada dua yaitu
gelombang Reyleigh dan gelombang Love.

Gelombang Reyleigh merupakan gelombang permukaan yang Orbit gerakannya elips


tegak lurus dengan permukaan dan arah penjalarannya. Gelombang jenis ini adalah gelombang
permukaan yang terjadi akibat adanya interferensi antara gelombang tekan dengan gelombang
geser secara konstruktif. Persamaan dari kecepatan gelombang Reyleigh (𝑉𝑅 ) adalah sebagai
berikut : 𝑉𝑅 = 0,92 √𝑉𝑠
Gambar 2.2 Gelombang Reyleigh (Elnashai dan Sarno, 2008)

Gelombang Love merupakan gelombang permukaan yang menjalar dalam bentuk


gelombang transversal yang merupakan gelombang S horizontal yang penjalarannya paralel
dengan permukaannya (Elnashai dan Sarno, 2008)

Gambar 2.3 Gelombang Love (Elnashai dan Sarno, 2008)

2.2 Panas Bumi


Energi panas bumi, didefinisikan sebagai panas dari dalam Bumi, murni dan berkelanjutan.
Permintaan energi oleh penduduk dunia meningkat karena ekspansi ekonomi dan pertumbuhan
populasi planet Bumi dan kemajuan teknologi energi. Antara tahun 2008 dan 2035, penggunaan
energi dunia diperkirakan akan tumbuh sekitar 53% dengan separuh peningkatan yang dikaitkan
dengan India dan China (Energy, 2011). Sebagian besar pertumbuhan energi berasal dari negara-
negara berkembang. Bahan bakar fosil diperkirakan akan memasok sekitar 80% penggunaan
energi dunia pada 2035. Energi terbarukan adalah sumber energi yang tumbuh paling cepat di
dunia, sebesar 2,8% per tahun, dengan bagian terbarukan dari pasokan energi dunia yang tumbuh
hingga sekitar 15% pada 2035 (Energy, 2011). Energi terbarukan secara umum dan energi panas
bumi secara khusus dapat memainkan peran penting dalam memasok sumber energi yang bersih
dan ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan energi dunia dan tantangannya.

The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melakukan studi komprehensif


tentang iklim. IPCC mengasumsikan peningkatan suhu kira-kira 2–4oC dimulai tahun 2000–2100
dengan nilai konsentrasi CO2 tinggi mulai dari 550 ppm (dua kali lebih tinggi dari preindustrial)
hingga 850 ppm. Peningkatan suhu dan konsentrasi CO2 disebabkan emisi CO2 dari sistem
produksi energi bahan bakar fosil. (Energy, 2011)

Energi panas bumi adalah salah satu yang direkomendasikan untuk mengurangi emisi CO2.
Energi panas bumi adalah energi terbarukan yang paling serbaguna dan telah digunakan selama
ribuan tahun untuk mencuci, mandi, memasak dan kesehatan. Sistem Panas bumi (geothermal
energy) pertama di dunia dimulai pada abad keempat belas di Chaudes-Aigues, Prancis, dan sumur
geotermal pertama dibor dekat Reykjavik, Islandia, pada tahun 1755. Namun, hanya pada abad ke-
20 energi panas bumi telah dimanfaatkan secara besar-besaran. skala untuk pemanasan ruangan,
produksi listrik, dan penggunaan industripersebaran enery panas bumi pertama kota besar pertama
dimulai di Islandia pada 1930-an dan saat ini menyediakan panas geothermal untuk sekitar 99%
dari 200.000 penduduk Reykjavik. Produksi listrik dari panas bumi pertama berada di Larderello,
Italia. Penggunaan energi geotermal telah meningkat pesat sejak tahun 1970-an. Selama periode
2000–2010, kapasitas pengaliran secara global ditingkatkan dari 15 ke 50GWth, sedangkan
kapasitas terpasang untuk produksi listrik meningkat dari 8,0 menjadi 10,7GWe (Energy, 2011)

Panas yang keluar dari pusat Bumi selama sekitar 4,5 juta tahun. Pada kedalaman 6437,4
km (4.000 mil), pusat Bumi berada di sekitar suhu yang sama dengan permukaan matahari, yakni
9932° F (5.500 ° C) (Gambar 2.4). Para ilmuwan memperkirakan bahwa 42 juta megawatt (MW)
aliran listrik dari dalam Bumi, terutama oleh sistem konduksi. Energi panas bumi (Geothermal
Energy) merupakan sumber daya terbarukan. Salah satu keuntungan terbesarnya adalah bahwa ia
selalu tersedia (tidak habis). Aliran konstan panas dari Bumi menjamin pasokan energi yang tak
habis-habisnya dan tanpa batas selama jutaan tahun yang akan datang.

Gambar 2.4 Temperatur Bumi (Association, 2014)

Sistem panas bumi membutuhkan sumber panas, permeabilitas, dan air. Peneliti mengeksplorasi
reservoir panas bumi untuk menguji potensinya untuk pengembangan dengan cara pengeboran dan
pengujian suhu dan laju aliran Akuifer air hujan (Gambar 2). Ketika air panas atau uap
terperangkap di dalam retakan dan pori-pori di bawah lapisan batu yang impermeable , ia
membentuk reservoir geotermal.
Gambar 2.5 Geothermal Reservoir (Association, 2014)

2.2.1 Persyaratan Tatanan Geologi Sistem Panas Bumi


Persyaratan utama untuk pembentukan sistem panas bumi (hidrotermal) adalah sumber
panas yang besar (heat source), reservoir untuk mengakumulasi panas, dan lapisan penudung
terakumulasinya panas (cap rock). Dalam system hidrotermal ini, panas dapat berpindah secara
konduksi dan konveksi. Menurut (Hochstein, 1990), transfer panas dari kerak dapat berasal dari
busur vulkanik, plume, pelelehan subcrustal oleh underplating, pemekaran kerak., atau akibat
deformasi plastis. Reservoar panasbumi yang produktif harus memiliki porositas dan permeabilitas
yang tinggi, ukuran cukup besar, suhu tinggi dan kandungan fluida yang cukup. Permeabilitas
dihasilkan oleh karakteristik stratigrafi (misal porositas intergranular pada lapilli, atau lapisan
bongkah-bongkah lava) dan unsur struktur (misalnya sesar, kekar, dan rekahan). Geometri
reservoar hidrotermal di daerah vulkanik merupakan hasil interaksi yang kompleks dari proses
vulkano-tektonik aktif antara lain stratigrafi yang lebih tua dan struktur geologi.

Menurut(Putra, Kusuma, widya utama, 2016) sistem panas bumi secara umum terletak di
daerah aktivitas tektonik dan vulkanik , dimana pada daerah panas bumi yang kuat dipengaruhi
oleh struktur regional. Mikrotremor merupakan salah satu metode seismik pasif untuk merekam
getaran yang dihasilkan aktivitas bumi , ataupun aktivitas manusia. Dan biasanya metode ini
digunakan untuk eksplorasi atau pengembangan daerah panas bumi

Salah satu metode untuk mengetahui adanya persebaran sumber serta kedalaman dari
persebaran sumber di lapangan panas bumi adalah analisis pergerakan partikel seismik. Pergerakan
partikel pada komponen horisontal dan vertikal untuk menentukan episenter dan hiposenter
seismic

2.3 Hydrothermal System


Sistem panasbumi jenis hidrothermal terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu
sumber ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara konveksi. Berdasarkan gambar
2.5 perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan perpindahan panas
secara konveksi terjadi melalui kontak antara air dengan suatu sumber panas. Perpindahan panas
secara konveksi pada dasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Karena adanya gaya
gravitasi air selalu mempunyai kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air
tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga
temperatur berbeda ada yang lebih tinggi dan lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang
lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi
sirkulasi air atau arus konveksi

2.3.1 Water-DominatedSystems
Ciri utama dari jenis sistem panas bumi ini adalah air yag terus berproduksi dan tekanan
yang mengontrol perubahan fase di Reservoir. Sumur produksi yang lebih baik akan menghasilkan
campuran uap dan air. Suhu reservoir yang didominasi cairan berkisar dari 210oC hingga lebih dari
300oC. Ada banyak sistem geotermal yang didominasi air di seluruh dunia, seperti di Wairakei di
Selandia Baru, Olkaria di Kenya, Tongonan di Filipina, Momotombo di Nikaragua, dan
Hatchobaru di Jepang. (Energy, 2011)

2.3.2 Vapor-DominatedSystem
Air dan uap, keduanya akan selalu ada di reservoir geotermal, tetapi uap kontinu, dan
tekanannya dikkendalikan oleh fase uap. Geothermal reservoir yang didominasi uap hanya
menghasilkan uap kering, dengan suhu berkisar antara 230 hingga 260 ºC. Sistem yang didominasi
uap jarang terjadi, beberapa contoh adalah The Geysers di AS, Kamojang di Indonesia, Matsukawa
di Jepang, dan Larderello di Italia. Keuntungan dari sudut pandang teknik adalah reinjeksi tidak
diperlukan dan fasilitas permukaan pembangkit listrik sederhana dibandingkan dengan
pembangkit listrik geothermal yang didominasi air.(Energy, 2011)

2.3.3 Hot Dry Rock Systems


Pada prinsipnya sistem panas bumi Hot Dry Rock menggunakan panas yang tersimpan
dalam batuan impermeable, dimana untuk mengekstraksi energi panas, sistem dibuat menyerupai
sistem konvekstif dengan cara membuat rekahan artifisial pada batuan yang diikuti dengan injeksi
air dingin pada lapisan batuan impermeable yang mengandung panas. Fracture dengan
permeabilitas dan konektivitas untuk menciptakan jalur aliran yang dilalui fluida, sehingga air
dingin tersebut terpanaskan dan digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. Suhu lebih tinggi dari
250oC. Sistem panas bumi ini belum digunakan secara umum, hanya beberapa negara saja yang
pernah melakukan dalam skala eksperimen, seperti LosAlamos di Amerika Serikat, Hiijori dan
Ogachiin Jepang , dan Soultz di Prancis.(Energy, 2011)

2.4 Metode seismik tiga komponen


Gempabumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi yang terjadi akibat adanya
sumber getar di dalam bumi. Sumber getar tersebut dapat berasal dari letusan gunung api,
longsoran masa batuan, atau tumbukan lempeng. Kejadian gempa bumi erat kaitannya dengan
patahan atau tahapan deformasi batuan atau aktivitas tektonik (Noor, 2006) . Titik pusat gempa
bumi terjadi di dalam bumi disebut hiposenter, sedangkan titik pusat gempa bumi pada permukaan
bumi.

Metode seismik tiga komponen ini efektif digunakan di area panasbumi, dimana hasil dari
pengukuran diperoleh getaran tanah dan fungsi waktu yang terdiri dari tiga komponen, yaitu
komponen horizontal (North-South), komponen horizontal (East-West), dan komponen vertikal
(Up-Down) (Hurukawa, 2008). Akibat dari adanya gelombang seismik biasanya ditandai dengan
fenomena geologi salah satunya adalah gempabumi. Kerusakan yang diakibatkan gempabumi
merupakan akibat pecahnya dan adanya patahan di kerak bumi yang diakibatkan aktivitas seismik
di bawah permukaan bumi atau biasa disebut Fault (patahan).
Setiap kejadian dibawah permukaan bumi akan menghasilkan informasi seismik berupa
rekaman sinyal berbentuk gelombang dimana informasi seismik akan mengalami proses
pengumpulan data, pengolahan data dan analisis sehingga menjadi parameter gempabumi.
Parameter gempa bumi tersebut terdiri dari:

1. Episenter
Episenter adalah titik di permukaan bumi yang merupakan refleksi tegak lurus dari kedalaman
sumber gempa bumi.
2. Hiposenter
Hiposenter adalah titik kejadian gempa bumi difocus (bagian dalam bumi).
3. Magnitudo
Magnitudo adalah ukuran kekuatan gempa bumi yang menggambarkan besarnya energi yang
terlepas pada saat gempa bumi terjadi. Umumnya magnitudo diukur berdasarkan amplitudo
dan periode fase gelombang tertentu.
4. Origin Time
Waktu kejadian gempa bumi (Origin Time) adalah waktu terlepasnya akumulasi tegangan
(stress) yang berbentuk penjalaran gelombang gempa bumi dan dinyatakan dalam hari,
tanggal, bulan, tahun, jam, menit, detik dalam satuan UTC (Universal Time Coordinated)

2.5 Pergerakan partikel (Particle motion)


Salah satu metode untuk mengidentifikasi hiposenter (episenter dan kedalamannya) adalah
metode gerak partikel (particle motion). Metode ini efektif digunakan di area panas bumi untuk
menunjukkan distribusi hidrothermal melalui ditribusi hiposenter gepa mikro. Hasil dari
pengukuran diperoleh getaran tanah dan fungsi waktu yang terdiri dari tiga komponen. Arah awal
impuls (kompresi atau dilatasi) ketiga komponen tersebut merupakan faktor penting untuk
mengidentifikasi posisi hiposenter(J.R. Kayal dkk., 2017).

Metode gerak partikel digunakan untuk menentukan hiposenter (episenter dan


kedalamannya) menggunakan satu stasiun yang memiliki tiga komponen, yaitu komponen
horizontal (North-South dan East-West), dan komponen vertical (Up-Down). Dalam metode ini
arah awal impuls (kompresi ataupun dilatasi) ketiga komponen merupakan faktor penting yang
harus jelas ketika ditentukan. Variabel yang dipakai adalah setengah amplitudo awal impuls
gelombang P ketiga komponen dan beda waktu gelombang S dan P. Langkah-langkah
mengidentifikasi posisi hiposenter (episenter dan kedalamnnya) menggunakan metode particle
motion :
• Menentukan arah impuls awal ketiga komponen, kompresi (C) atau dilatasi (D)

• Apabila komponen vertikal kompresi (C), maka komponen horizontalnya tandanya harus dibalik
(C = minus, D = plus)

• Apabila komponen vertikal dilatasi (D), maka komponen horizontalnya tandanya tetap (C = plus,
D = minus)
• Dari bacaan setengah amplitudo komponen horizontalnya dibuat vektor resultannya, misal AH
• Dari bacaan setengah amplitudo komponen vertikal (AV) dan AH dibuat vektor resultannya,
misal AR (Sunarjo dan Pribadi, 2012)

Gambar 2.6 Penentuan arah gerak partikel gempabumi dari pembacaan awal seismogram
(Sunarjo dan Pribadi, 2012)
Gambar 2.7 Penentuan arah dan kedalaman gerak partikel gempabumi dari pembacaan awal
seismogram dalam perspektif horizontal (kiri) dan vertikal (kanan) (Sunarjo dan Pribadi, 2012)

Menurut (Alessandrini dkk., 1994) dengan mengasumsikan bahwa arah pergerakan partikel
gelombang P terletak sepanjang arah rambatan gelombang seismik. Analisis amplitudo gerakan
tanah gelombag P untuk masing-masing komponen N-S, E-W dan vertikal disebut sebgai AN, AE,
AZ. Persamaan yang digunakan untuk menghitung azimut pergerakan partikel hrizontal :
𝐴
AZM = arctan 𝐴 𝐸 (2.5)
𝑁

Dengan mengandaikan arah polarisasi gelombang P terletak pada bidang vertikal yang terdapat
sumber (source) dan penerima (receiver), maka sudut antara komponen vertikal dan horizontal
adalah E’. Amplitudo gerakan tanah komponen radial ARAD yaitu :

𝐴𝑅𝐴𝐷 = 𝐴𝐸 sin (AZM) + 𝐴𝑁 cos (AZM) (2.6)

Berdasarkan perhitungan menggunakan persamaan tersebut diperoleh amplitudo untuk komponen


radial dan vertikal :
𝐴𝑍
AZM = arctan (2.7)
𝐴𝑅𝐴𝐷

Berdasarkan amplitudo yang terekam pada gerakan awal sinyal gempa pada masing-masing
komponen dapat ditentukan darimana arah pusat gempa bumi tersebut.

2.6 Model Densitas Bumi

Dari kajian sebelumnya dapat dilihat bahwa 𝑉𝑝 mengandung modulus bulk dan modulus
geser dan pada 𝑉𝑠 hanya mengandung modulus bulk saja namun kedua persamaan tersebut
mengandung densitas. Untuk dapat menentukan besar kedua modulus tersebut maka diperlukan
persamaan densitas sebagai fungsi jari-jari atau kedalaman bumi.
Variasi densitas terhadap kedalaman bumi dapat diturunkan secara sederhana dengan
menggunakan persamaan Adams-Williamson. Persamaan ini diturunkan berdasarkan asumsi-
asumsi bahwa bumi terdiri dari lapisan-lapisan tipis dan setiap lapisan mempunyai sifat homogen
(tidak ada perubahan sifat fisis dalam arah lateral).
Dengan asumsi-asumsi tersebut maka persamaan Adams-Williamson dapat ditulis sebagai berikut
:
𝑑𝜌 −𝐺𝑀𝑟
= 𝜌(𝑟)∅−1 (2.8)
𝑑𝑟 𝑟2
dimana :
4
∅ = 𝛼 2 − 𝛽2
3
𝛼 = 𝑉𝑝
𝛽 = 𝑉𝑠
persamaan Adams-Williamson yang dapat digunakan untuk menurunkan kurva densitas sebagai
fungsi dari kedalaman (Widiyantoro, 2007).

2.7 Metode Inversi


Metode inversi ini digunakan pada bidang seismologi, karena pengamatan yang dilakukan
tidak mungkin dilakukan secara langsung di bawah permukaan bumi. Proses inversi merupakan
proses pengolahan data lapangan yang melibatkan teknik penyelesaian matematika dan statistik
untuk mendapatkan informasi yang berguna mengenai distribusi sifat fisis bawah permukaan.
Tujuan proses inversi adalah untuk mengestimasi parameter fisis batuan yang tidak diketahui
sebelumnya (unknown parameter). Contoh masalah inversi dalam bidang geofisika adalah
penentuan struktur bawah tanah, estimasi parameter-parameter bahan tambang, estimasi
parameter-parameter akumulasi sumber energi, dan penentuan lokasi gempa bumi berdasarkan
waktu gelombang datang.
Proses Inversi

Masukan : Peninjauan tempat


(Respon-respon sistem bumi)

Menentukan : Model Parameter bumi

Pengamatan Alat Matematika Estimasi dari


Data (Teori Inversi) parameter sistem

Input Operator Output

Gambar 2.8. Alur pemodelan inversi (Dr. Eng. Supriyanto, 2007)

Tujuan utama dari kegiatan eksplorasi geofisika adalah untuk membuat model bawah
permukaan bumi dengan mengandalkan data lapangan yang diukur bisa pada permukaan bumi
atau di bawah permukaan bumi atau bisa juga di atas permukaan bumi dari ketinggian tertentu.
Untuk mencapai tujuan ini, idealnya kegiatan pengukuran harus dilakukan secara terus menerus,
berkelanjutan dan terintegrasi menggunakan sejumlah ragam metode geofisika.
Seringkali bahkan hampir pasti terjadi beberapa kendala akan muncul dan tak bisa
dihindari, seperti kehadiran noise pada data yang diukur. Ada juga kendala ke tidak lengkapan data
atau malah kurang alias tidak cukup. Namun demikian, dengan analisis data yang paling mungkin,
kita berupaya memperoleh informasi yang relatif valid berdasarkan keterbatasan data yang kita
miliki.
Setelah proses analisis dilalui, berikutnya adalah membuat model bawah permukaan yang
nantinya akan menjadi modal dasar interpretasi. Ujung dari rangkaian proses ini adalah penentuan
lokasi pemboran untuk mengangkat sumber daya alam bahan tambang/mineral dan oil-gas ke
permukaan. Kesalahan penentuan lokasi berdampak langsung pada kerugian meteril yang besar
dan waktu yang terbuang percuma. Dari sini terlihat betapa pentingnya proses analisis apalagi bila
segala keputusan diambil berdasarkan data eksperimen (Dr. Eng. Supriyanto, 2007)
Beberapa metoda inversi telah berhasil dikembangkan untuk "mengekstraksi" informasi
tentang parameter gempa dan struktur kecepatan gelombang gempa dari sekumpulan data waktu
tiba gelombang gempa. Sejak itulah secara teoritis dan teknis struktur kecepatan gelombang gempa
di bawah permukaan bumi dapat ditentukan dengan melakukan inversi pada sekumpulan data
waktu tiba gelombang gempa yang terekam pada seismogram (Dr. Eng. Supriyanto, 2007)

2.7.1 Aplikasi Inversi dengan Pendekatan Linier untuk Menentukan Hiposenter


Salah satu yang diperoleh apabila melakukan pengamatan seismik adalah waktu tiba
gelombang (tobs) di stasiun seismik. Bila gelombang seismik menjalar pada medium yang homogen
dari posisi sumber (x0, y0, z0), maka waktu tiba gelombangnya, misalnya gelombang P dapat
dihitung di stasiun seismik seperti Gambar 2.6 dengan persamaan sebagai berikut,

Gambar 2.6. Sumber gempa dan stasiun seismik (Sulaeman, 2010).

𝑐𝑎𝑙 √(𝑥𝑠𝑖 −𝑥0 )2 +(𝑦𝑠𝑖 −𝑦0 )2 +(𝑧𝑠𝑖 −𝑧0 )2


𝑡𝑝𝑖 = 𝑡0 + ; i = 1,...,N (2.9)
𝑣𝑝

Keterangan :
𝑐𝑎𝑙
𝑡𝑝𝑖 = waktu tiba gelombang P di stasiun seismik ke i

𝑡0 = waktu terjadi gempa


𝑣𝑝 = kecepatan gelombang P

Dalam menentukan hiposenter memakai metode tersebut, maka langkah yang harus
dilakukan adalah menyusun matriks yang berelemen parameter model, matriks jacobi dan matriks
berelemen selisih data waktu tiba dengan waktu tiba perhitungan (𝑡𝑜𝑏𝑠 − 𝑡𝑐𝑎𝑙 ). Kecepatan
gelombang P (𝑣𝑝 ) diasumsikan konstan dan waktu terjadi gempa t0 diketahui dari hubungan data
waktu tiba gelombang P dengan selisih waktu tiba gelombang S dengan P.
Solusi diperoleh bilamana parameter model memiliki kesalahan terkecil atau kesalahan
dengan kriteria yang di inginkan. Nilai kesalahan (E) dapat dihitung dari jumlah kesalahan kuadrat
terkecil :
𝑐𝑎𝑙 𝑜𝑏𝑠
𝐸 = ∑𝑁
𝑖=1(𝑡𝑝𝑖 − 𝑡𝑝𝑖 ) (2.10)

Keterbatasan pendekatan linear antara lain adalah model awal harus cukup dekat dengan solusi
dan kemungkinan konvergensi pada minimum lokal bukan minimum global (Grandis, 2009)

2.7.1 Metode Joint Hypocenter Determination (JHD)


Salah satu metode untuk merelokasi hiposenter dengan lebih akurat adalah Joint
Hypocenter Determination (JHD). Metode ini secara simultan akan menginversi waktu
tempuh sekelompok hiposenter untuk mendapatkan lokasi hiposenter yang lebih akurat serta
besaran koreksi stasiun sebagai koreksi terhadap kesalahan akibat model kecepatan 1-D
yang digunakan. Koreksi stasiun adalah suatu koreksi untuk memasukkan variasi kecepatan ke
arah lateral yang tidak diperhitungkan dengan penggunaan model kecepatan 1-D. Koreksi ini
dilakukan pada semua stasiun pengamat. Dengan memperhitungkan koreksi stasiun, maka
residual waktu tempuh yang didapatkan pada stasiun ke-i pada persamaan(Fitrianna dkk., 2016) :

𝑟𝑖 = 𝑡𝑖 − (𝑇𝑖 − 𝑆𝑖 ) (2.9)

REFERENSI
Alessandrini, B., Cattaneo, M., Demartin, M., Gasperini, M. dan Lanza, V. (1994), "A simple P-
wave polarization analysis: its application to earthquake location", Annals of Geophysics,
Vol.37, No.5, hal. 883–897. http://doi.org/10.4401/ag-4181.
Association, G.E. (2014), Basics of Geothermal Energy, hal. 0–65.
Dr. Eng. Supriyanto (2007), "Analisis Data Geofisika : Memahami Teori Inversi", Universitas
Indonesia, http://doi.org/10.1371/journal.ppat.1003585.
Elnashai, A.S. dan Sarno, L. Di (2008), Fundamentals of Earthquake Engineering.
http://doi.org/10.1016/0013-7952(95)00070-4.
Energy, I.W. (2011), IEA. World Energy Outlook 2011, International Energy Agency. 2011.,
http://doi.org/10.1787/weo-2011-en.
Fitrianna, C., Harmoko, U., Fisika, D., Sains, F. dan Diponegoro, U. (2016), "Relokasi
Hiposenter Gempa Mikro dengan Metode SED dan JHD Sebagai Analisis Reservoar Area
Panas Bumi-X", Youngster Physics Journal, Vol.5, No.3, hal. 97–104.
Grandis, H. (2009), Pengantar Pemodelan Inversi Geofisika.
http://doi.org/10.1145/2166896.2166921.
Hochstein, manfred P. (1990), "Classification and assessment of geothermal resources", Small
Geothermal Resources - A Guide to Development and Utilization, No.May, hal. 31–59.
Hurukawa, N. (2008), Practical Analyses of Local Earthquakes,.
J.R. Kayal, Former Deputy Director General (Geophysics) Geological Survey of India, Kolkata,
I.E.S. (CSIR), Jadavpur University, Kolkata, I. and dan Adjunct Professor Indian School of
Mines, Dhanbad, I. (2017), Microearthquake Seismology and Seismotectonics of South
Asia.
Noor, D. (2006), Geologi Lingkungan, hal. 434–449.
Putra, Kusuma, widya utama, makkay jaya (2016), Application of Ensemble Empirical Mode
Decomposition The Passive Seismic Signals for Identification of ..., No.April 2015, hal. 0–8.
Sunarjo dan Pribadi, M.T.G.S. (2012), Gempabumi edisi populer, Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika, 2012.