Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Suatu kontrak konstruksi yang telah memenuhi syarat- syarat yang sah dan asas-asas suatu
kontrak, tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya kegagalan bangunan (Building Failure).
Dalam pekerjaan konstruksi sering ditemukannya kegagalan bangunan yang dapat diakibatkan
oleh pihak penyedia jasa atau pengguna jasa.

Semua pekerjaan konstruksi melakukan pergerakannya sesuai dengan tahapan (siklus)


kegiatannya yaitu diawali dengan perencanaan, sifat bahan bangunan yang digunakan, pengujian
bahan dan bangunan/konstruksi, pelaksanaan dan pengawasan serta pemeliharan bangunan.
Kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan secara bertahap agar memperoleh hasil yang baik dan
memuaskan. Tahap-tahap tersebut harus dilakukan dengan baik, jika pada salah satu tahap terjadi
kegagalan maka akan mempengaruhi kegiatan yang lainnya serta harus mengikuti ketentuan atau
standar yang berlaku

Kegagalan bangunan dapat disebabkan oleh faktor kesalahan manusia itu sendiri. Kesalahan
manusia itu dapat diakibatkan dari ketidaktahuan, kesalahan kinerja (kecerobohan dan kelalaian)
dan keserakahan. Ketidaktahuan dapat diakibatkan dari kurangnya pelatihan, pendidikan dan
pengalaman.

Kesalahan kinerja ( kecerobohan dan kelalaian) termasuk salahnya dalam perhitungan dan
tidak terperinci, tidak benar dalam membaca gambar dan spesifikasi dan cacat konstruksi.
Walaupun demikian, konsultan tersebut harus merencanakan segala sesuatunya dengan baik,
sehingga mendapatkan hasil yang maksimal juga.

1.2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:


 Mengetahui yang dimaksud dengan kegagalan konstruksi bangunan irigasi.
 Menjelaskan penyebab dan unsur-unsur yang dapat mengakibatkan
kegagalan pada konstruksi bangunan.
 Mengenal dampak yang dapat ditimbulkan akibat kegagalan konstruksi irigasi.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 1


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kegagalan Konstruksi Bangunan


Berdasarkan UU-RI No.18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi, Bab 1, Pasal 1 ayat 6
menyatakan Kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan, yang setelah diserah terimakan oleh
penyedia jasa kepada penguasa jasa, menjadi tidak berfungsi baik secara keseluruhan maupun
sebagian dan/atau tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kontrak kerja konstruksi
atau pemanfaatannya yang menyimpang sebagai akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau
pengguna jasa.
Sedangkan menurut Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Jasa Konstruksi, Peraturan
Pemerintah No.29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Bab V Pasal 34
menyatakan Kegagalan bangunan merupakan keadaan bangunan yang tidak berfungsi, baik secara
keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat, keselamatan dan kesehatan kerja, dan atau
keselamatan umum sebagai akibat kesalahan Penyedia jasa dan atau Pengguna jasa setelah
penyerahan akhir pekerjaan konstruksi.
Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) pada tahun 2001 mencoba mengkaitkan dengan
UU-RI No.18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi, dan memberikan usulan definisi sebagai
berikut:
 Definisi Umum
Suatu bangunan baik sebagian maupun keseluruhan dinyatakan mengalami kegagalan bila
tidak mencapai atau melampaui nilai-nilai kinerja tertentu (persyaratan minimum,
maksimum dan toleransi) yang ditentukan oleh Peraturan, Standar dan Spesifikasi yang
berlaku saat itu sehingga bangunan tidak berfungsi dengan baik.
 Definisi Kegagalan Bangunan akibat Struktur. Suatu bangunan baik sebagian maupun
keseluruhan dinyatakan mengalami kegagalan struktur bila tidak mencapai atau melampaui
nilai-nilai kinerja tertentu (persyaratan minimum, maksimum dan toleransi) yang
ditentukan oleh Peraturan, Standar dan Spesifikasi yang berlaku saat itu sehingga
mengakibatkan struktur bangunan tidak memenuhi unsur-unsur kekuatan (strength),
stabilitas (stability) dan kenyamanan layak pakai (serviceability) yang disyaratkan.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 2


2.2. Penyebab Kegagalan Konstruksi
Penyebab kegagalan konstruksi dapat dibagi dalam dua klasifikasi, yaitu:
 Dapat diprediksi, yang artinya dapat dikendalikan atau dikarenakan
oleh manusia, diantaranya mencakup:
a. Desain, harus diperhatikan bahwa resiko tidak dapat dihilangkan
sama sekali, tetapi hanya dapat diminimalisir hingga batas yang
dapat diterima.
b. Perencanaan dan pendetailan.
c. Material, kegagalan material biasanya terjadi dikarenakan akibat
kesalahan dalam pemilihan material (mutu yang tidak sesuai)
atau dikarenakan kegagalan dalam proses pembuatan material
tersebut.
d. Pekerja atau tenaga ahli
e. Pengawasan
 Tidak dapat diprediksi, biasanya hal-hal yang berkaitan dengan alam, seperti gempa
bumi, angin yang terlalu kencang melebihi batas maksimum peraturan yang ada,
kebakaran, dan bencana alam lainnya.

2.3. Kasus Kegagalan Proyek Irigasi Seluma


2.3.1. Latar Belakang Kasus

Tertuang dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 293/KPTS/M/2014


Tentang Penetapan Status Irigasi Daerah Irigasi Yang Pengelolaannya menjadi
wewenang dan Tanggung Jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Kabupaten/Kota. Penetapan status Daerah Irigasi ini dimaksudkan untuk menegaskan
Daerah Irigasi mana saja yang pengelolaannya menjadi wewenang dan tanggung jawab
Pemerintah pusat atau daerah. Keputusan inilah yang kemudian menjadi dasar SNVT
PJPA Balai Wilayah Sungai Sumatra VII Provinsi Bengkulu dalam melaksanakan
kegiatan operasi pemeliharaan dan rehabilitasi Jaringan Irigasi Air Seluma.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 3


Januari 2018 lalu, SNVT PJPA Balai Sumatra VII Provinsi Bengkulu mengumumkan
lelang di situs LPSE Kementrian PUPR. Tertera di LSPE lelang umum menggunakan
metode pacakualifikasi sistem gugur dengan nilai pagu 10.818.063.000,00. 107
perusahaan terdaftar untuk lelang paket tersebut namun hanya 9 perusahaan yang serius
mengajukan penawaran.

 PT. TUJUH PUTERA MANDIRI - Rp 8.654.900.000,00


 PT. ROGANTINA JAYA SAKTI - Rp 8.870.800.000,00
 PT. MULIA PERMAI LAKSONO - Rp 9.078.700.000,00
 PT.BIMA ARJUNA PRAKASA - Rp 9.515.691.000,00
 PT. WIDYA PRATAMA PERKASA - Rp 9.545.400.000,00
 PT. WAHANA INFONUSA - Rp 9.708.319.000,00
 PT. ADHITYAMULIA MITRA SEJAJAR - Rp 9.790.013.000,00
 PT. ADTA SURYA PRIMA - Rp 10.002.092.000,00
 PT. ALBE PUTRI JAYA - Rp 10.140.509.000,00

PT Adhityamulia Mitrasejajar (AMMS) kemudian diberi centang bintang pertanda


sebagai pemenang lelang. Delapan perusahaan lainya gugur dengan alasan yang sama
yaitu metode kerja yang tidak sesuai dengan dokumen lelang. Unik memang, kedelapan

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 4


perusahaan tersebut digugurkan dengan alasan tidak memenuhi syarat teknis. PT Tujuh
Putera Mandiri dan PT Rogantina Jaya Sakti dua perusahaan asal Jambi ini adalah
penawar terendah diantara 9 perusahaan peserta penawar. Namun keduanya gagal jadi
pemenang, dengan sistem gugur seharusnya salah satu perusahaan tersebut menjadi
pemenang.

Pada Perpres 54 Tahun 2010 berikut empat perubahannya, Metode lelang


pascakualifikasi sistem gugur menggunakan sistem penilaian secara berjenjang. Yang
pertama dinilai adalah dokumen administrasi, penilaian teknis, pembukaan harga,
kemudian dibuka penawaran harganya. Penawaran harga terendahlah yang dinyatakan
memenangkan pengadaan. Namun, yang sering digunakan sistem gugur terbalik. Pada
saat pembukaan penawaran, langsung membuka harga penawaran dari seluruh peserta.
Yang diperiksa administrasi dan teknisnya adalah perusahaan yang berada pada urutan 1
hingga 3 yang terendah didalam penawaran harganya.

Pada kasus ini terjadi indikasi kejanggalan dalam proses pelelangan. Apabila
menggunakan sistem gugur berjenjang seharusnya 8 perusahaan selain PT Adhityamulia
Mitra Sejajar tidak dapat melanjutkan pada tahapan penawaran karena 8 perusahaan
tersebut gugur di kualifikasi teknis (metode kerja yang tidak sesuai). Sebaliknya, apabila
menggunakan sistem gugur terbalik maka PT Adta Surya Prima dan PT Albe Putri Jaya
tidak perlu dilakukan penilaian teknis karena kedua perusahaan tersebut menawar diatas
AMMS. Sedangkan dalam LPSE masih tertera dengan jelas penilaian teknis untuk PT
Adta Surya Prima dan PT Albe Putri Jaya. Kedua perusahaan tersebut gugur di metode
kerja (kualifikasi teknis). Kondisi inilah yang kemudian memperkuat dugaan adanya
persengkongkolan dalam proses lelang, bukan rahasia lagi apabila proses pelelangan
umum paket proyek telah didahului negosiasi diluar prosedur.

Dalam banyak kasus, wilayah kualifikasi teknis pada proses pelelangan umum
adalah titik terawan yang sering dijadikan ajang persekongkolan antara panitia lelang
dengan penyedia tertentu. Tahapan ini biasanya dijadikan titik kunci panitia lelang untuk
berlaku tidak adil terhadap peserta lelang. Penilaian pemenang lelang memang hak
preogratif panitia lelang sepanjang memenuhi syarat dan ketentuan. Namun, secara

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 5


ekonomis tentulah penawaran harga terendah akan menguntungkan bagi pemilik proyek.
Terlebih lagi menggunkan metode sitem gugur pascakualifikasi.

2.3.2. Penyebab Terjadinya Pelanggaran

AMMS KONTRAKTOR LANGGANAN BERMASALAH

AMMS selaku pemenang lelang dalam proyek Irigasi Air Seluma memang kerap
bermasalah dalam mengerjakan proyek. Namun, perusahan ini selalu ‘gagal’ mengisi list
daftar hitam di LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). AMMS
sempat bermasalah pada proyek Jembatan Seguring Curup Tahun 2015. BPKP
mengkalkulasi, iktisar kerugian negara mencapai 800 Juta pada proyek yang dikerjakan
AMMS tersebut. Pada waktu itu AMMS dipimpin oleh Dede Darmawansyah, yang
bersangkutan sudah menjalani pemeriksaan di Polres Rejang Lebong. Kasus selanjutnya,
proyek jalan Muara S ahung-Air Tombok Dinas PUPR Kabupaten Kaur tahun 2013. Kasus
ini lebih fatal, Direktur II AMMS atas nama, Edion Indra divonis 3 tahun 4 bulan dan uang
pengganti 977 juta plus denda 50 juta. Dalam kasus ini Direktur II AMMS terbukti secara
sah dan menyakinkan telah merugikan keuangan negara mencapai 1,1 miliar. AMMS
memang langganan bermasalah, Proyek Jalan Hotmix Desa Tumbuan-Napal Jungur Tahun
2015 milik Dinas PUPR Kabupaten Seluma juga harus terbengkalai. Proyek ini
dimenangkan oleh AMMS dengan nilai kontrak 5,3 miliar. Masalah ini terungkap ketika

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 6


Sekda kabupaten Seluma, Irihadi melakukan inspeksi mendadak, dengan penemuan,
proyek sama sekali belum dikerjakan sedangkan tanda tangan kontrak telah lama selesai.

Kasus yang sama, AMMS memenangkan lelang proyek Duplikasi Jembatan Air
Bengkenang setahun lalu. Proyek yang berlokasi di Bengkulu Selatan ini adalah milik
Kementrian PUPR, SNVT PJ Wilayah II Provinsi Bengkulu. AMMS dibayar 15,5 miliar
lebih untuk menyelesaikan proyek tersebut. Namun, kasus yang sama kembali terulang,
AMMS selalu telat dalam pengerjaan proyek. Contoh kasus irigasi Seluma mungkin tidak
‘diketahui’ oleh panitia lelang proyek Jaringan Irigasi Air Seluma Tahun 2018. Sehingga
mereka menyakini AMMS adalah perusahan yang paling kridibel, professional, dan taat
hukum untuk kemudian menunjuk AMMS sebagai pelaksana proyek. Cukup banyak
refrensi maya yang menyajikan informasi seputar AMMS, dari hasil penelusuran kami
tidak ada satu pun kabar 'baik' tentang perusahaan ini kecuali kabar lelang.

Azas penyelenggaraan lelang secara tegas mencantumkan kewajiban penyelenggara


negara untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip pengadaan yang harus menganut azas
efektifitas, efesiensi, dan akuntabel. Dimana salah satu indikatornya menunjuk penyedia
barang dan jasa yang kridibel dan profesional. Belum lagi, kewajiban panitia lelang selaku
penyelenggara negara untuk menjalankan azas-azas penyelenggaraan negara yang bersih
dan bebas KKN.

ANALISA KEGAGALAN PROYEK IRIGASI SELUMA

Tercatat di situs LPSE milik Kementrian PUPR, paket proyek tersebut ditandatangani
kontrak pada Tanggal, 26 Februari 2018. Namun, dalam surat pemberitahun yang
disampaikan oleh Kepala SNVT PJPA, Dasmiri, ST proyek baru akan dikerjakan bulan
April dan akan berakhir bulan November 2018. Dalam suratnya, Dasmiri selaku Kepala
Satker SNVT PJPA memberitahu Bupati Seluma bahwa irigasi akan dikeringkan secara
total, tidak ada ganti rugi tanam tumbuh atas pelaksanaan proyek, terakhir meminta agar
Bupati Seluma dan masyarakat untuk memberi dukungan. Sejak dikeringkan April lalu,
fisik pekerjaan hanya berupa lapisan cor beronjong kiri kanan siring lebih kurang 50 meter
dan dua tumpuk koral dipinggir alur irigasi dekat Desa Sengkuang. Informasi yang kami

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 7


terima dari warga sekitar, juga ada tumpukan material ke arah Desa Merbau. Selebihnya
tidak ditemukan fisik proyek atau material proyek.

Dari pantauan Konsorsium LSM Provinsi Bengkulu, progres fisik proyek tidak sesuai
dengan jadwal pelaksanaan proyek. “kemaren kita langsung turun ke lokasi, ada informasi
yang kita terima dari masyarakat, hampir dua bulan lalu proyek sudah ditinggal kontraktor,
hanya ada sekali-sekali beberapa orang membersihkan siring” Ujar Syaiful Anwar

Progres fisik tidak seimbang dengan jadwal pelaksanaan dalam kontrak.


Tandatangan kontrak dilaksanakan Tangal 30 Februari 2018 dengan masa kontrak 240 hari
kalender. Artinya proyek tersebut akan berakhir 30 November 2018 atau 8 bulan masa
kerja. Namun, sudah 5 bulan proyek berjalan fisik proyek tidak menunjukan data yang
seimbang dengan jadwal pekerjaan. “Kondisi ini seharusnya masuk dalam katagori
kontrak kritis, aturanya jelas” Tukas Syaiful Anwar

Merujuk pada SE Menteri PUPR No. 07/Db/2015 tentang tata cara penanganan
kontrak kritis. Disebutakan dalam huruf E angka 2, kontrak kritis dapat diuji dengan
dengan cara sebagai berikut yaitu ; Ketika realisasi fisik pelaksanaan terlambat lebih besar
10% pada periode I (rencana fisik pelaksanaan 0%-70% dari kontrak) atau terlambat lebih
besar 5% pada periode II (rencana fisik pelaksanaan 70%-100% dari kontrak), Maka sesui
dengan difinisi kontrak kritis yang dimaksud dalam SE tersebut, kontrak proyek
Rehabilitasi Jaringan Irigasi Air Seluma sudah lebih dari kritis bahkan terancam gagal
kontrak.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 8


Konsorsium LSM Provinsi Bengkulu, mensiyalir proyek tersebut akan mengalami
kegagalan serius karena jadwal pelaksanaan yang hanya menyisakan 3 bulan sedangkan
progress fisik tidak lebih dari 20%. “tidak logis apabila pihak PJPA tetap melanjutkan
kontrak ini, pihak AMMS sudah bekerja 5 bulan namun fisik hanya segitu, jadi tidak
mungkin dengan waktu tiga bulan pihak AMMS dapat menyelesaikan proyek dengan baik,
kecuali dengan cara disulap” Ujarnya. Lebih lanjut, Syaiful Anwar memaparkan,
seharusnya PPK melakukan pemutusan kontrak secara sepihak karena hampir dapat
dipastikan kontraktor pelaksana tidak kompeten dalam melaksanakan proyek. Ketentuan
diatur dalam Perpres 54 Tahun 2010 berikut perubahan terakhirnya menjadi Perpres No.
04 Tahun 2015 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah dan Permen PU
No.07/PRT/M/2014 tentang tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi.

2.3.3. Kerugian Negara

Pengertian jasa konstruksi menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi mencakup layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan
jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan
konstruksi. Proyek rehabilitasi Jaringan D.I irigasi Air Seluma masuk dalam tahapan
pelaksanaan jasa konstruksi. Pada tahapan pelaksanaan ini pihak penyedia dituntut untuk
melaksanakan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dalam kontrak kerja.

Data terhimpun, rehab irigasi ini dikerjakan oleh pihak ketiga yakni PT. Adhitya Mulia Mitra
Sejajar dan konsultan pengawasnya PT. Estetika Panca Sanjaya, yang mana sesuai dengan kontrak kerja
pekerjaan dilaksanakan selama 240 hari terhitung dimulai pada 28 Februari 2018. Diperkirakan kerugian
Negara dari proyek rehabilitasi irigasi D.I Seluma sekitar 9,7 Miliar.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 9


SNVT PJPA Balai Wilayah Sungai Sumatra VII pihak yang paling bertanggungjawab
karena instansi ini adalah pemilik proyek. Selanjutnya, AMMS selaku pelaksana dan PT
Estetika Panca Sanjaya selaku konsultan, panitia lelang dan masih banyak lagi pihak yang
harus dimintai pertanggungjawaban apabila potensi kerugian negara benar terjadi. Miliaran
uang negara akan terbuang percuma apabila terjadi pemutusan kontrak sedangkan dilain
pihak pemilik proyek harus dihadapakan pada situasi kontrak kritis. “kegagalan diawal
akan berdampak pada hasil akhir, kalau diputus kontrak memang mereka punya uang
jaminan pelaksanaan tapi itu bukanlah prinsip penyelenggaraan negara yang baik, potensi
kerugian negara sangat mungkin terjadi karena fisik yang ada belum tentu sesuai spesfikasi
dalam dokumen kontrak” Ucap Syaiful Anwar. Konsorsium sendiri akan tetap mengawal
pelaksanaan proyek, dalam waktu dekat Konsorsium LSM Provinsi Bengkulu akan
mendatangi langsung Kementrian PUPR “ kami meyakini kondisi ini diluar informasi yang
diterima pihak Kementrian, kita akan mendatangi langsung Kementrian PUPR untuk
melaporkan kondisi proyek karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak” ujarnya.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 10


2.3.4. Dampak Akibat Pelanggaran Proyek Irigasi Seluma

Tanggal 2 Juli 2018 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Merbau, Kecamatan
Seluma Selatan mendatangi Kantor DPRD Seluma untuk menyampaikan keluhan
masalah irigasi yang tak kunjung mengalir. Masa yang dipimpin oleh Kepala Desa
Merbau ini mengeluhkan kondisi proyek irigasi yang tidak menunjukan tanda-tanda akan
selesai. “Kedatangan kita ke DPRD untuk hearing mempertanyakan kejelasan proyek
irigasi bendungan seluma,” kata Kepala Desa Padang Merbau Kecamatan Seluma
Selatan, Sasyadi, Senin 02 Juli 2018, dikutip dari garudadailly.com. Kekesalan
masyarakat bukan tanpa alasan, sebab sudah hampir dua bulan proyek ditinggal minggat
oleh kontraktornya. Sejak dimulai bulan April lalu pengerjaan proyek hanya aktif sekitar
satu bulan saja selebihnya pekerja hanya datang sekali-sekali. “sudah dua bulan proyek
ini ditinggal kontraktor, ada sekali-sekali pihak kontraktor yang datang” Demikian ucap
Bapak Samsun, Warga Desa Sengkuang. Desa ini adalah desa yang paling terkena
dampak dari proyek irigasi karena sawah-sawah mereka tepat berada di jalur irigasi Air
Seluma.

Keluhan ini disampaikan warga lantaran proyek tidak kunjung dikerjakan sedangkan
dilain pihak warga membutuhkan air untuk mengairi sawah. Irigasi Air Seluma adalah
sumber air utama bagi warga sekitar. Air irigasi ini sudah kering sejak April lalu namun
tidak kujung dikerjakan sehingga warga mengkhwatirkan proyek itu gagal dan sawah
mereka jadi korban.

“kalau biasanya kita sudah dua kali panen namun karena irigasi lagi direhab sawah
kami kering, banyak yang beralih tanam kacang” Ujar Iriadi, Warga Desa Tanjung Serui.
Iriadi sendiri beralih menanam kacang tanah. “kacang juga banyak yang mati karena tidak
ada air” Tambahnya.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 11


Berbeda dengan Bapak Nyoto warga Desa Padang Genting yang juga mengandalkan
Irigasi Air Seluma untuk mengairi sawah miliknya. Bapak Nyoto terpaksa membeli mesin
air untuk menyambung kelangsungan garapan sawah. Ini dilakukan lantaran sawah adalah
satu-satunya usaha yang ia miliki. “saya beli mesin air, harganya 7 juta” Ujar Nyoto
sambil menggendong pipa mesin air.

Bendung Air Seluma yang dibangun era Presiden Suharto, 1975–1980 memilik luasan
7.467 Hektar. Irigasi Air Seluma adalah sumber utama pengairan sawah petani terutama
di Kecamatan Seluma Selatan yang luas lahan persawahannya mencapai 1891 Hektar.
Ribuan hektar sawah itu harus terbengkalai lantaran irigasi dalam ‘perbaikan’.

2.3.5. Sanksi Hukum Pelanggaran Proyek Konstruksi

Berdasarkan kasus runtuhnya penambahan gedung grosir tanah abang, sanksi hukum
yang diberikan adalah sebagai berikut:

1. Tanggung jawab penyedia jasa dalam UUJK Nomor 18 Tahun 1999 disebutkan dalam
pasal 26 ayat 1 dan 2.
2. Sanksi bagi penyelenggara konstruksi dijelaskan dalam Bab X pasal 41, 42 dan 43
UUJK.
3. dikenakan dua dugaan pidana yaitu pelanggaran pasal pelanggaran pasal 359 KUHP
mengenai kelalaian yang mengakibatkan meninggalnya orang lain, pasal 360 KUHP
mengenai kelalaian yang mengakibatkan orang lain luka- luka, serta pelanggaran UU
nomor 28 tahun 2002 mengenai bangunan dan gedung.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 12


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijelaskan pada bab II, maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
 Suatu bangunan baik sebagian maupun keseluruhan dinyatakan mengalami kegagalan bila
tidak mencapai atau melampaui nilai-nilai kinerja tertentu (persyaratan minimum,
maksimum dan toleransi) yang ditentukan oleh Peraturan, Standar dan Spesifikasi yang
berlaku saat itu sehingga bangunan tidak berfungsi dengan baik.
 Kegagalan Konstruksi dapat diakibatkan oleh 2 hal, yaitu akibat kesalahan manusia
(Korupsi, Kolusi, dan kurangnya etika moral manusia) dan akibat kejadian alam yang tidak
dapat diprediksi. Sedangkan unsur utama keruntuhan dapat diakibatkan oleh keruntuhan
bangunan itu sendiri karena kesalahan pada desain sehingga bangunan tidak mampu
menopang beban yang bekerja dan diakibatkan oleh kinerja pelaksanaan konstruksi yang
tidak bagus.

3.2. Saran
Diharapkan pada semua pihak terkait dalam bidang konstruksi,khususnya kalangan kontraktor
dan jasa konstruksi agar selalu meningkatkan mutu dan kualitas saat pengerjaan proyek.
Maupun dari sisi desainer, arsitek dan perancang agar selalu melakukan konsolidasi dan
pengawasan secara berkala terhadap pihak-pihak terkait dilapangan, agar kegagalan
konstruksi yang dapat menimbulkan banyak korban dapat diminimalisir.

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 13


DAFTAR ISI

SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.……...…………………………………….………………...……………….1
1.2. Tujuan Penulisan……………………………………………………………………………..1

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kegagalan Konstruksi……………………….…..…………………………… ...2
2.2. Penyebab Kegagalan Konstruksi………………………….…………………………………3
2.3. Kasus Kegagalan Proyek Irigasi Seluma……………………………………………………4
2.3.1. Latar Belakang Kasus………………………………………………………………...4
2.3.2. Penyebab Terjadinya Pelanggaran……………………………………………………7
2.3.3. Kerugian Negara……………………………………………………………………..10
2.3.4. Dampak Akibat Pelanggaran Proyek Irigasi Seluma………………………………...12
2.4. Sanksi Hukum Pelanggaran Proyek ………………………………………………………..12

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………13
3.2. Saran………………………………………………………………………………………..13

DAFTAR PUSTAKA

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 14


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT. Karena atas rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah Kegagalan Konstruksi Bangunan Irigasi sebagai tugas Mata
Kuliah Etika profesi dan aspek hokum konstruksi. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada bapak Mubassirang Pasra sebagai dosen pengajar pada
mata kuliah Etika Profesi dan Aspek Hukum Konstruksi.
kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat selesai tepat
waktu. Penulis juga menyadari akan adanya keterbatasan pengetahuan yang penulis
miliki, namun penulis juga berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata dengan segala kekurangan dan kerendahan hati
penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Gowa, 4 Maret 2019

PENULIS

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 15


DAFTAR PUSTAKA

https://www.bengkuluinteraktif.com/dibalik-kegagalan-proyek-irigasi-air-seluma
https://www.pengadaan.id/tender/detil/36438064--rehabilitasi-jaringan-irigasi-di-air-seluma-
kab-seluma
dlscribe.com_kegagalan-konstruksi-bangunan.pdf

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 16


STUDI KASUS PELANGGARAN KONSTRUKSI PROYEK IRIGASI
JARINGAN IRIGASI D.I AIR SELUMA, BALAI WILAYAH SUNGAI SUMATRA VII

( ETIKA DAN ASPEK HUKUM KONSTRUKSI )

KELOMPOK VI

IRFANDU WIJAYA ( D111 16 030 )


RIZAL ( D111 16 031 )
FADHIL INIYANTO SAUD ( D111 16 305 )
TRYANTO CHRISMA RATU ( D111 16 533 )
MUH. RAFI FAHROZI ( D111 16 511 )
MUH. IMAWAN DHEDE ( D111 16 515 )

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNUVERSITAS HASANUDDIN

GOWA

2019

Studi Kasus Pelanggaran Proyek Irigasi SELUMA 17