Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk mengukur

derajat kesehatan perempuan.Tingkat kematian ibu merupakan masalah kesehatan

yang menarik perhatian WHO. Fakta menunjukan lebih dari 350.000 di seluruh dunia

meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan dan persalinan (Priyanto, 2009).

World Health Organization (WHO) pada tahun 2005 menyatakan bahwa Indonesia

merupakan salah satu Negara penyumbang AKI terbesar di dunia dan di Asia

Tenggara dengan AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (KH), sedangkan

Thailand sebesar 129 per 100.000 KH, Malaysia jauh lebih baik yaitu hanya sekitar

39 per 100.000 KH dan Singapura sudah sangat baik sebesar 6 per 100.000 KH

(WHO,2007). Hasil Survei demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012

melaporkan AKI sebesar 359 per 100.000 KH (SKDI, 2012).

Sebagian besar kematian ibu terjadi selama melahirkan dan periode

postpartum langsung, dengan penyebab utama akibat komplikasi obstetric seperti

perdarahan, sepsis, Persalinan lama dan gangguan pada saat melahirkan,

gangguan hipertensi dan komplikasi aborsi (Chowdhury, 2009). Berdasarkan data

WHO tahun 2003 didapatkan bahwa dalam setiap menit seorang perempuan

meninggal karena komplikasi yang terkait dengan proses kehamilan dan

persalinannya (Indriyani, 2006). Di Indonesia, sekitar 28 persen kematian ibu

disebabkan karena perdarahan, 13 persen ekslampsi atau gangguan akibat tekanan


darah tinggu saat kehamilan, 9 persen persalinan lama, 11 persen komplikasi abprsi

dan 10 persen akibat infeksi (UNDP, 2009; Depkes, 2010).

Proses persalinan pada dasarnya merupakan proses alami yang

akan berlangsung dengan sendirinya, akan tetapi persalinan pada manusia

memungkinkan adanya penyulit yang dapat membahayakan ibu maupun janin

sehingga perlu adanya pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas

yang memadai. Persalinan pada manusia terdiri dari beberapa tahapan penting

dimana pada setiap tahapan tersebut memungkinkan terjadinya suatu penyulit yang

harus diatasi demi keselamatan ibu dan janin ( Manuaba, 2010).

Persalinan yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan proses

persalinan tidak berjalan lancar sehingga lama persalinan lebih lama dari normal

atau terjadi Persalinan lama. Persalinan Lama merupakan salah satu dari beberapa

penyebab kematian ibu dan janin. Persalinan Lama adalah persalinan yang

berlangsung lebih dari 18 jam yang dimulai dari tanda-tanda persalinan. Persalinan

lama akan menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi pada ibu, kadang

dapat terjadi perdarahan post partum yang dapat menyebabkan kematian ibu. Pada

janin akan terjadi infeksi, cedera dan asfiksia yang dapat meningkatkan kematian

bayi (Prawirohardjo,2007).

Persalinan lama merupakan salah satu penyebab langsung dari kematian ibu,

berdasarkan data International NGO on Indonesian Development (INFID) pada

tahun 2013, angka kejadian persalinan lama di Indonesia adalah sebesar 5% dari

seluruh penyebab kematian ibu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Hamranani (2013) tentang hubungan stress dengan lama persalinan beberapa BPM
(Bidan Praktek Mandiri) di kota Malang menunjukkan bahwa kejadianpersalinan

lama adalah sebanyak 53,3%. Sedangkan penelitian sejenis yang dilakukan

Hutagalung (2011) tentang hubungan usia, paritas dengan persalinanlama di RS

Soewandi Surabaya menjukkan bahwa 12,08 % usia ibu bersalin < 20tahun dan

4,17% usia ibu bersalin > 35 tahun. Sedangkan kejadian persalinan lama dalah

sebesar 7,08%. Hal ini menunjukkan bahwa angka kejadian persalinanlama di

Surabaya masih tinggi (Hutagalung,2011).

Persalinan lama rata-rata di dunia menyebabkan kematian ibu sebesar 8 %

dan di Indonesia sebesar 9 %. Kejadian Persalinan lama di RSIA Siti Fatimah

Makasar tahun 2006 adalah 74 kasus dari 2552 persalinan yaitu sekitar 2,89 % dari

seluruh persalinan. Penelitian yang dilakukan Soekiman di RS Mangkuyudan di

Yogyakarta didapatkan bahwa dari 3005 kasus Persalinan lama, terjadi kematian

pada bayi sebanyak 16,4 % (50 bayi), sedangkan pada ibu didapatkan 4 kematian

(Indriyani, 2006) . Menurut hasil AMP (Audit Maternal dan Perinatal) di RSUD

Jombang yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan, selama periode Januari

sampai Desember 1994 mendapatkan bahwa penyulit ibu terbanyak adalah partus

lama sebanyak 16 % (Supriatmaja dkk, 2005). Sedangkan penelitian yang dilakukan

oleh Hadi (2001) insidensi partus lama di RSUD Dr. Soedono Madiun selama 1

Januari 1998-31 Desember 1998 sebanyak 55 % dan insidensi partus lama di

Sulawesi Tengah sebanyak 781 (Dinkes, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya persalinan meliputi faktor ibu,

faktor janin, dan faktor jalan lahir. Faktor ibu meliputi paritas, his dan usia. Faktor

janin meliputi sikap, letak, malposisi dan malpresentasi, janin besar, dan kelainan
kongenital seperti hidrosefalus (Oxorn, 2003).Sedangkan faktor jalan lahir meliputi

panggul sempit, tumor pada pelvis, kelainan pada serviks dan vagina (Prawirohardjo,

2007).Menurut penelitian di RS.Muh. Hoesin Palembang menunjukkan lama rata-

rata waktu mulai inpartu sampai terjadinya persalinan pada kelompok primigravida

dan multigravida mempunyai perbedaan yang bermakna dimana pada primigravida

waktu rata-rata 10,88 jam dan multigravida 9,14 jam (Mirani,2009).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting bagi tenaga kesehatan

untuk dapat menngetahui persalinan lama meliputi etiologi, factor resiko, diagnosis,

pemeriksaan fisik,pemeriksaan penunjang dan penatalaksaan yang tepat pada

kasus tersebut. Untuk itu dilakukan penulisan laporan kasus dengan judul

“Persalinan Lama”.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah

sebagai berikut :

1. Apakah etiologi dan faktor risiko terjadinya persalinan lama?

2. Bagaimana cara penegakkan diagnosis persalinan lama?

3. Bagaimana tatalaksana yang tepat pada kasus persalinan lama?

4. Apakah komplikasi yang dapat muncul pada kasus persalinan lama?


1.3 Tujuan

Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui :

1. Apakah etiologi dan faktor risiko terjadinya persalinan lama?

2. Bagaimana cara penegakkan diagnosis persalinan lama?

3. Bagaimana tatalaksana yang tepat pada kasus persalinan lama?

4. Apakah komplikasi yang dapat muncul pada kasus persalinan lama?

1.4 Manfaat

Menambah pemahaman dan pengetahuan dokter muda mengenai etilogi,

factor resiko, diagnosis dan penatalaksanaan pada kasus persalinan lama.


BAB II

URAIAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

No Register : 11435262

Nama : Ny. E

Umur : 29 tahun

Pekerjaan : Swasta

Pendidikan : S1 ( 16 Tahun)

Agama : Katolik

Suku : Jawa

Status : Menikah 1x

Lama menikah : 3 Tahun

Suami : Tn. A

Umur : 32 Tahun

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : S1 (16 Tahun)

Agama : Katolik

Suku : Jawa

Alamat : Perumahan Green city residence blok F/37 malang

Tanggal MRS : 12 April 2019


2.2 Subyektif

Ny.F/ tahun /menikah 1x3 tahun/G3P0000Ab200/ HPHT = 18-7-2018.

2.2.1. Keluhan utama

Pasien rujukan dari RS lawang medika dengan keluhan utama kenceng-kenceng

2.2.2. Perjalanan penyakit

12 April 2019

19.00 : Pasien mengeluh kenceng-kenceng dan memutuskan untuk datang ke RS

Lawang Medika. Lalu diperiksa dalam (vaginal touche) dan didapatkan hasil

pembukaan 6. Lalu pasien di observasi.

13 April 2019

01.00 : Pasien dilakukan pemeriksaan dalam dan didapatkan pembukaan lengkap.

Ibu dipimpin mengejan.

03.00 : Ibu dipimpin mengejan 2 jam namun tidak lahir. Lalu konsul ke SpOG dan

direncanakan SC CITO. Namun tidak dapat dokter Anestesi sehingga dirujuk ke

RSSA.

06.30 : Pasien dirujuk ke RSSA.

2.2.3. Riwayat Kehamilan Sekarang

HPHT: 18 Juli 2018 38-39 minggu

Taksiran Persalinan: 25 April 2019


Pasien mengeluhkan kenceng-kenceng. Lalu datang ke RS Lawang medika.

Dilakukan pemeriksaan dalam, didapatkan pembukaan 6. Lalu di lakukan

pemeriksaan dalam lagi pada pukul 01.00 dan didapatkan pembukaan lengkap. Ibu

di pimpin mengejan, namun sudah 2 jam tetap tidak lahir. Sehingga direncanakan

SC CITO oleh SpOG. Namun dokter anestesi tidak ada, sehingga pasien dirujuk ke

RSSA.

2.2.4. Riwayat Pernikahan

Perkawinan 1 kali selama 3 tahun.

2.2.5. Riwayat Kehamilan/Persalinan

Pasien hamil anak ke-3 :

1. Abortus/2bulan/kuretase di RS Lawang Medika

2. Abortus/2bulan/tidak kuretase

2.2.6. Riwayat Antenatal Care

Pasien rutin ANC ke dokter SpOG (sudah 5x ANC), ke poli kandungan RSUD

Lawang medika terakhir tanggal 30 Maret 2019.

2.2.7. Riwayat Kontrasepsi

Pasien tidak mengunakan obat kontrasepsi.


2.2.8. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak memiliki riwayat alergi, hipertensi, maupun kencing manis sebelumnya.

Riwayat masuk rumah sakit disangkal.

2.2.9. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi ataupun kencing manis.

2.2.10. Riwayat Pengobatan

Pasien

2.2.11. Riwayat Sosial

Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga, tinggal bersama suaminya. Pasien tidak

mempunyai riwayat merokok maupun minum alkohol.

2.3 Objektif

2.3.1 Status Generalis

Keadaan umum : Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis, GCS 456

Berat Badan Sebelum : 53 kg

Hamil

Berat Badan Sesudah : 62 kg

Hamil

Tinggi Badan : 151 cm


BMI : 25,58kg/m2

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Nadi : 88x/menit

Laju Pernapasan : 20x/menit

Tax : 36,2o C

Trect : Tidak diperiksa

Kepala dan leher : Anemis -/-, icterus -/-, pembesaran KGB (-)

Thorax : Rongga dada simetris, retraksi (-)

C/ S1S2 tunggal, murmur (-)

P/ v|v Rh - | - Wh - |-

v|v - | - - |-

v|v - | - - |-

Abdomen : Protuberant, soefl, BU (+) normal

Ekstremitas : Normal, akral hangat, CRT <2 detik, edema (-)

2.3.2 Status Obstetri

Abdomen : TFU: 32 cm, letak bujur U, TBJ 3255gr, DJJ 168x/bpm

Hsg : 10.3.40 kali

Genitalia Eksterna : Edema vulva

Inspeksi : Portio terbuka lengkap

VT : Pembukaan lengkap, efficement (-), ketuban (+) meconeal,

hodge III caput presentasi kepala


2.4 Pemeriksaan Penunjang

Urine Lengkap 12/04/2019 ( RS Lawang Medika) :

Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

URINALISIS

Kekeruhan Jernih

Warna Kuning

pH 6,5 4,5 – 8,0

Berat Jenis 1,010 Negatif

Glukosa Negatif Negatif

Protein Negatif Negatif

Keton +1 Negatif

Bilirubin Negatif Negatif

Urobilinogen Negatif Negatif

Nitrit Negatif Negatif

Leukosit Negatif Negatif

Darah Trace Negatif

Darah Lengkap (13 April 2019) /07.00 :

Hb : 8,60 g/dL (N: 12 -18)

Eritrosit (RBC) : 4,36 . 109/μL (N: 4,0-5,5)


Leukosit (WBC) : 18,40 . 109/μL (N: 4,5-11)

Hematokrit : 29,00% (N: 32-64)

Trombosit (PLT) : 228.103/μL (N: 150-450)

MCV : 66,50 fL (N: 76-96)

MCHC : 29,70 g/dL (N: 26-35)

Hitung Jenis Limfosit : 4,1 % (N: 25-45%)

Hitung Jenis Neutrofil` : 92,1% (N: 51-67%)

Darah Lengkap (13 April 2019) /12.00 :

Hb : 5,60 g/dL (N: 12 -18)

Eritrosit (RBC) : 2,88 . 109/μL (N: 4,0-5,5)

Leukosit (WBC) : 24,39 . 109/μL (N: 4,5-11)

Hematokrit : 19,10% (N: 32-64)

Trombosit (PLT) : 231.103/μL (N: 150-450)

MCV : 66,30 fL (N: 76-96)

MCHC : 29,30 g/dL (N: 26-35)

Hitung Jenis Limfosit : 6,2 % (N: 25-45%)

Hitung Jenis Neutrofil : 87,8% (N: 51-67%)

Darah Lengkap (14 April 2019):

Hb : 7,0 g/dL (N: 12 -18)

Eritrosit (RBC) : 3,10 . 109/μL (N: 4,0-5,5)

Leukosit (WBC) : 15, 83 . 109/μL (N: 4,5-11)


Hematokrit : 22,90% (N: 32-64)

Trombosit (PLT) : 221 . 103/μL (N: 150-450)

MCV : 73,90 fL (N: 76-96)

MCHC : 30,60 g/dL (N: 26-35)

PCT : 0, 03% (N: 0,13-0,28)

Hitung Jenis Limfosit : 13 % (N: 25-45%)

Hitung Jenis Neutrofil` : 78,2% (N: 51-67%)

2.5 Diagnosa

G3P0000Ab200 gr 38 – 39 minggu T/H Letak Bujur U

+ Kala II lama

+ BOH

+ HSVB

+ Fetal Tachycardi

2.6 Tatalaksana

Pdx :-

Ptx :

 O2 10 liter / menit NRBM

 Ibu miring kiri

 Pro terminasi dengan CITO + IUD

 Persiapan SC : Pasang DC, Injeksi Cefadroxil 500 mg, metoclopramide

3x10mg dan Ranitidine 1x1gr


P Mo : VS, Keluhan subjektif, his, DJJ, suhu badan

P Edu : KIE (Komunikasi, Infomasi, Edukasi) pasien dan keluarga tentang:

Penyakit yang diderita

Tindakan medis yang akan dilakukan, jika dibutuhkan

Efek samping dari tindakan yang akan dilakukan

Asupan nutrisi

2.7 Perkembangan Pasien

12 April 2019

05.00 Pasien datang ke IGD RSSA dari RS Lawang Medika dengan

diagnosis G3P0000Ab200 gr 38 – 39 minggu T/H Letak Bujur U

disertai

+ Kala II lama

+ BOH

+ HSBV

Dilakukan pengkajian ulang identitas pasien, anamnesis,

`pemeriksaan fisik, DJJ ulang, Pemasangan infus dan obat-obatan.

05.15 Dilakukan VT pembukaan lengkap DJJ 168X/menit

06.00 KIE pasien perencanaan operasi.

07.30 Pasien masuk Ruang OK direncanakan SC Cito


2.8 Laporan Persalinan

URAIAN OPERASI :

 Pasien tidur terlentang di atas meja operasi.

 Antiseptik dan demarkasi lapangan operasi.

 Dilakukan insisi pfanensteil, insisi diperdalam secara tajam, kecuali otot

secara tumpul ,sampai cavum peritoneum terbuka.

 Tampak uterus gravidarum, dilakukan bladder flap.

 Bayi dilahirkan dengan tarikan kepala ringan dilanjutkan dengan melahirkan

badan dan kaki, bayi dirawat.

 Plasenta di corpus posterior dilahirkan dengan tarikan ringan.

 Evaluasi tidak ada perdarahan atau sisa plasenta, dilakukan insisi IUD.

 Sudut SBR D/S dijahit, dilanjutkan jujur feston 2 lapis.

 Evaluasi perdarahan aktif tidak ada .

 Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.

 Operasi selesai.

OUTCOME :

Pada tanggal 12 April 2019 pukul 08.00, lahir bayi perempuan dengan berat

badan bayi lahir 3250 gram, panjang 48 cm dan Apgar score 7-8, tidak ditemukan

kelainan kongenital.
BAB III
PERMASALAHAN

3.1 Etiologi dan Faktor Resiko


Apakah etiologi dan faktor resiko terjadinya persalinan lama pada kasus ini?
3.2 Diagnosis
Bagaimana penegakan diagnosis persalinan lama pada kasus ini?
3.3 Penatalaksanaan
Apakah tatalaksana persalinan lama pada kasus sudah sesuai dengan
guideline yang berlaku?
3.4 Komplikasi dan Prognosis
Apakah komplikasi yang dapat muncul pada kasus persalinan lama dan
apakah muncul pada kasus ini?
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Persalinan

Persalinan adalah suatu proses hasil konsepsi (janin dan uri), yang dapat

hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain Rustam

Mochtar 1998). Sedangkan menurut Bobak (1995) persalinan adalah proses

pengeluaran janin dan plasenta dari uterus.

Menurut Farer (2001) menyatakan persalinan normal adalah:

 Terjadi pada kehamilan aterm (bukan prematur atau postmatur).

 Selesai dalam 24 jam (bukan partus presipitalis atau partus lama)

 Terlaksana tanpa bantuan artificial (seperti forceps)

 Mempunyai janin tunggal dengan presentasi vertex (puncak kepala)

 Tidak mencakup komplikasi (seperti perdarahan yang hebat)

 Mencakup kelahiran plasenta yang normal

4.2 Definisi Persalinan Lama

Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar,MPH (1998), partus lama adalah

persalinan yang berlangsung >24 jam pada primigravida dan >18 jam pada

multigravida serta dilatasi serviks di kanan garis waspada pada persalinan fase aktif.

Persalinan lama atau dapat disebut distosia, didefinisikan pula sebagai persalinan

abnormal yang sulit.


4.3 Etiologi Persalinan Lama

Penyebab terjadinya partus lama adalah multi kompleks dan bergantung

pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan yang baik dan

penatalaksanaannya (Mochtar, 2010).

Etiologi dari persalinan lama dapat dilihat dari tiga aspek, meliputi: Power,

Passage, Pessenger (Johanes, 2010).

4.3.1 Power

His atau kontraksi yang tidak normal, baik dari segi kekuatan atau sifatnya

dapat menyebabkan hambatan pada saat persalinan.Faktor ini sangat bergantung

pada ibu.Kontraksi uterus pada persalinan yang normal dimulai dari salah satu sudut

di fundus uteri (bisa kiri maupun kanan), kemudian menjalar secara merata dan

simetris ke seluruh bagian korpus uteri.

Dominasi kekuatan terdapat pada fundus uteri di mana lapisan miometerium

paling tebal. Kemudian baik korpus maupun fundus uteri akan melakukan relaksasi

secara bersamaan, dan kembali ke tonus awal, sehingga tekanan dalam ruang

amnion kembali ke asalnya, yakni sebesar ± 10 mmHg (Johanes, 2010).

Jenis-jenis kelainan dalam his yang berpengaruh pada persalinan lama

antara lain:

1. Inersia Uteri

Inersia uteri atau biasa disebut hypotonic uterine contraction, adalah

kondisi di mana kontraksi berlangsung lebih aman, singkat, dan jarang daripada

biasanya.Fundus masih berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu daripada bagian

lain.Apabila inersia uteri timbul setelah terjadinya his yang adekuat, maka
disebut inersia uteri sekunder. Diagnosis dari inersia uteri susah ditegakkan

pada fase laten, karena akan terjadi false positif dengan kondisi his yang tidak

adekuat dan nyeri yang tidak terlalu signifikan. Tidak ada waktu pasti yang dapat

dipakai sebagai patokan untuk memulai terapi aktif.Sebaiknya tindakan tidak

dilakukan secara tergesa-gesa, sebab kejadian yang sering terjadi adalah

hiperterapi pada pasien yang false labour (persalinan belum mulai).

2. Incoordiante uterine action

Tonus uterus baik ketika his maupun di luar his meningkat.Sementara

sifat his berubah, karena tidak ada sinkronisasi kontraksi antar bagian.Tidak

adanya koordinasi pada uterus bagian atas, tengah, dan bawah menyebabkan

his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.Tipe ini disebut hipertonik

apabila tonus uterus yang meningkat menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras

dan lama, sehingga janin rawan mengalami hipoksia.

Pada beberapa kasus, ketuban yang sudah pecah pada persalinan lama

dapat membentuk lingkaran konstriksi pada uterus akibat spasmus sirkuler lokal,

sehingga terjadi penyempitan pada kavum uteri di lokasi tertentu.Hal ini dapat

terjadi di mana saja, namun lokasi paling sering adalah pada perbatasan antara

segmen atas dengan segmen bawah uterus.

Persalinan tidak maju yang disebabkan karena kelainan serviks disebut

distosia servikalis. Distosia servikalis dibedakan menjadi primer dan sekunder.

Salah satu yang disebabkan oleh incoordinated uterine action adalah distosia

servikalis primer, yang mana tidakadanya kontraksi serviks disebabkan karena

tidak adanya kontraksi uterus yang bagus. Sementara distosia servikalis


sekunder disebabkan oleh kelainan organik pada serviks itu sendiri, misalnya

karsinoma atau jaringan parut.

4.3.2 Passage

Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena ukuran dan

bentuk jalan lahir tidak memadai untuk dilewati oleh janin. Persalinan abnormal (

distosia ) adalah persalinan yang berjalan tidak normal. Seringkali pula disebut

sebagai partus lama, partus tak maju , disfungsi persalinan atau disproporsi sepalo

pelvik (CPD) (Distosia yang secara literatur berarti persalinan yang sulit, memiliki

karakteristik kemajuan persalinan yang abnormal atau lambat. (Cunnigham, 1995).

Persalinan abnormal atau umum terjadi bila ada disproporsi antara ukuran

bagian terbawah janin dengan jalan lahir. CPD (cephalopelvic disproportion) adalah

akibat dari panggul sempit, ukuran kepala janin yang besar, malposisi kepala bayi

ketika melewati jalan lahir, atau lebih sering kombinasi dari hal-hal tersebut

(Maharaj, 2010). Setiap penyempitan diameter panggul yang mengurangi kapasitas

pelvis dapat mengakibatkan distosia selama persalinan. Panggul sempit bisa terjadi

pada pintu atas panggul, midpelvis, atau pintu bawah panggul, atau umumnya

kombinasi dari ketiganya. Karena CPD bisa terjadi pada tingkat pelvic inlet, outlet

dan midlet, diagnosisnya bergantung pada pengukuran ketiga hal tersebut yang

dikombinasikan dengan evaluasi ukuran kepala janin (Reader, 1997).

4.3.3 Passenger

Kelainan janin baik berupa posisi, letak, bentuk, maupun ukuran sangat

berpengaruh terhadap persalinan. Bayi atau passanger yang berukuran besar, di


atas 4 kg,kadang tidak sesuai ukuran panggul ibu. Akibatnya, pembukaan tak maju-

maju karena si bayi tertahan di atas. Walaupun panggul ibunya normal, tetap saja

susah keluar. Alhasil, pembukaannya pun terpengaruh. Bisa juga karena posisi bayi

yang salah. Posisi melintang atau posisi kepala berubah sampai tertahan di tulang

panggul. Yang normal, lahir dengan posisi kepala belakang terlebih dahulu.(Indiarti,

2008).

Maka dari itu selama perawatan antepartal, dilakukan pengkajian ukuran

pelvic ibu dan ukuran janin yang sedang berkembang. Ukuran janin ditentukan

dengan palpasi panjang crown-rump janin dalam uterus (Hamilton, 1995).

4.4 Faktor Risiko Persalinan Lama

Berikut merupakan faktor resiko yang berperan pada kasus persalinan lama

adalah

4.4.1 Host

4.4.1.1 Usia

Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu untuk hamil dan melahirkan

adalah 20-35 tahun karena pada usia ini secara fisik dan psikologi ibu sudah cukup

matang dalam menghadapi kehamilan dan persalinan. Usia 35 tahun organ

reproduksi mengalami perubahan yang terjadi karena proses menuanya organ

kandungan dan jalan lahir kaku atau tidak lentur lagi. Selain itu peningkatan umur

seseorang akan mempengaruhi organ yang vital seperti sistim kardiovaskuler, ginjal

dll (pada umur tersebut mudah terjadi penyakit pada ibu yang akan memperberat
tugas organ-organ tersebut sehingga berisiko mengalami komplikasi pada ibu dan

janin) (Rochjati,1990).

4.4.1.2 Paritas

Paritas 1-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian

maternal. Paritas 0 dan paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian maternal

yang lebih tinggi. Lebih tinggi paritas lebih tinggi kematian maternal

(Prawirohardjo,1999).

Ibu hamil yang memiliki paritas 4 kali atau lebih, kemungkinan mengalami

gangguan kesehatan, kekendoran pada dinding perut dan kekendoran dinding rahim

sehingga berisiko mengalami kelainan letak pada janin, persalinan letak lintang,

robekan rahim, persalinan macet dan perdarahan pasca persalinan (Rochjati, 2003).

4.4.1.3 Riwayat Persalinan

Riwayat Persalinan Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan

persalinan prematur, seksio caesarea, bayi lahir mati, persalinan lama, persalinan

dengan induksi serta semua persalinan tidak normal yang dialami ibu merupakan

risiko tinggi pada persalinan berikutnya (WHO,2002).

4.4.1.4 Anatomi Tubuh Ibu Melahirkan

Ibu bertubuh pendek < 150 cm yang biasanya berkaitan dengan malnutrisi

dan terjadinya deformitas panggul merupakan risiko tinggi dalam persalinan, tinggi

badan < 150 cm berkaitan dengan kemungkinan panggul sempit. Tinggi badan Ibu <

145 cm terjadi ketidakseimbangan antara luas panggul dan besar kepala janin

(WHO,2002).
Sebagian besar kasus partus tak maju disebabkan oleh tulang panggul ibu

terlalu sempit sehingga tidak mudah dilintasi kepala bayi waktu bersalin. Proporsi

wanita dengan rongga panggul yang sempit menurun dengan meningkatnya tinggi

badan, persalinan macet yang disebabkan panggul sempit jarang terjadi pada wanita

tinggi. (Royston,1994).

4.4.2 Agent

Partus tak maju disebabkan faktor mekanik pada persalinan yaitu

terhambatnya jalan lahir janin. Terhambatnya jalan lahir disebabkan

ketidakseimbangan bentuk dan ukuran panggul (passage), besarnya janin

(passenger) dan kontraksi uterus (power). Bentuk dan ukuran panggul yang sempit

menghambat jalan lahir janin, panggul yang sempit dipengaruhi faktor nutrisi dalam

pembentukan tulang panggul, penyakit dan cedera pada tulang panggul (Liewellyn,

2001).

4.4.3 Enviroment

4.4.3.1 Keadaan Sosial Ekonomi

Derajat sosial ekonomi masyarakat akan menunjukan tingkat kesejahteraan

dan kesempatannya dalam menggunakan pelayanan kesehatan. Perbedaan

pemukiman antara daerah perkotaan dan pedesaan ternyata mempengaruhi tinggi


rendahnya kematian maternal. Kemiskinan, ketidaktahuan, kebodohan, transportasi

yang sulit, ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik, kurangnya fasilitas

pelayanan kesehatan, jarak rumah yang jauh untuk mendapatkan bantuan tenaga

ahli juga mempengaruhi persalinan, kebiasaan kawin muda, kepercayaan

masyarakat dan praktik tradisional, pantangan makanan tertentu pada wanita hamil

merupakan faktor ikut berperan (WHO,2002).

4.4.3.2 Ketersediaan Tenaga Ahli dan Rujukan

Angka kematian maternal yang tinggi disuatu negara sesungguhnya

mencerminkan rendahnya mutu pelayanan. Pelayanan kesehatan mempunyai peran

yang sangat besar dalam kematian materal. Faktor tersebut meliputi : kurangnya

kemudahan untuk pelayanan kesehatan maternal, asuhan medik yang kurang dan

kurangnya tenaga yang terlatih (Ben-Zion, 1998).

Petugas kesehatan yang tidak terlatih untuk mengenali persalinan macet

(partograf tidak digunakan). Kegagalan dalam bertindak terhadap faktor risiko dan

penundaan dalam merujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi (misalnya untuk

seksio caesarea) merupakan fakor partus tak maju (WHO,2002).

4.5 Klasifikasi Kelainan dalam Persalinan

4.5.1 Kelainan Kala Satu


4.5.1.1 Fase Laten Memanjang

Menurut Friedman, kriteria minimalkecepatan dari kala satu fase laten

menuju fase aktif adalah kecepatan pembukaan serviks 1,2 cm/jam untuk

nulipara, dan 1,5 cm/jam untuk multipara. Ia mendefinisikan fase laten

memanjang apabila lama fase ini lebih dari 20 jam pada nulipara, dan 14 jam

pada ibu multipara. Faktor-faktor yang memengaruhi durasi fase laten antara

lain: anestesia regional atau sedasi yang berlebihan, kondisi serviks yang

buruk (tebal, tidak mendatar, tidak membuka), dan persalinan palsu.

Stimulasi oksitosin dan pengistirahatan pasien dinilai efektif dan aman

untuk memperbaiki fase laten yang berkepanjangan. Dengan sedatif kuat, 85%

ibu akan memulai persalinan aktif. 10% lainnya berhenti kontraksi, karena

mengalami persalinan palsu. 5% sisanya mengalami kejadian fase laten

memanjang berulang dan memerlukan stimulasi oksitosin lagi. Fase laten

yang memanjang tidak dianjurkan amniotomi, sebab ada kemungkinan 10%

pasien mengalami persalinan palsu yang terkadang tidak terdeteksi dengan

baik. Namun pada umumnya, fase laten yang memanjang tidak terlalu

berbahaya (Johanes, 2010)

4.5.1.2 Fase Aktif Memanjang

Fase aktif persalinan menunjukkan kecepatan pembukaan serviks

yang tertinggi, dan secara konsisten berawal saat serviks mengalami

pembukaan 3 atau 4 cm. Menurut Friedman, rata-rata durasi persalinan fase

aktif pada nulipara adalah 4,9 jam dan nilai maksimumnya11,7


jam.Dilaporkan kasus fase aktif memanjang terjadi pada 25% persalinan

nulipara, dan 15% pada persalinan multipara.

Fase aktif memanjang dibagi menjadi protraction

(berkepanjangan/berlarut-larut), dan arrest (macet). Seperti halnya fase laten,

pada fase aktif didefinisikan memanjang apabila kecepatan pembukaan

serviks pada nulipara kurang dari 1,2 cm per jam, atau penurunan

kepalajanin kurang dari 1 cm per jam. Dan pada pasien multipara kecepatan

pembukaan serviks kurang dari 1,5 cm per jam, atau penurunan kepala janin

kurang dari 2 cm per jam. Sedangkan kriteria diagnostik menurut American

College of Obstetricians and Gynecologistsuntuk partus macet, baik nulipara

maupun multipara adalah tidak didapatkannya kemajuan dari pembukaan

serviks lebih dari 2 jam, atau tidak ada kemajuan dari penurunan kepala janin

lebih dari 1 jam.

4.5.2 Kelainan Kala Dua

Kala dua diawali saat pembukaan serviks telah lengkap, dan berakhir dengan

keluarnya janin.Rata-rata durasinya adalah 50 menit untuk nulipara, dan 20 menit

untuk multipara. Kala dua yang memanjang sering terjadi pada pasien dengan

panggul sempit, janin besar, atau ada kelainan gaya ekspulsif akibat anestesi

regional (epidural lumbal, kaudal, atau intrarektal) ataupun sedasi yang berat.

Anestesi regional dapat menyebabkan pemanjangan sekitar 25 menit.

Kala 2 pada nulipara dibatasi 2 jam, dan diperpanjang menjadi 3 jam apabila

pada dengan anestesi regional. Sedangkan pada multipara dibatasi 1 jam, dan
diperpanjang menjadi 2 jam apabila menggunakan anestesi regional..Rata-rata lama

persalinan kala I dan II adalah sekitar 9 jam pada nulipara tanpa analgesia regional,

dengan batas maksimal hingga 18,5 jam. Sedangkan untuk multipara adalah sekitar

6 jam dengan batas 13,5 jam.

Anestesi regional diberikan sebagai upaya untuk mengurangi rasa sakit saat

mengejan.Pada beberapa pasien, keinginan alami untuk mengejan dikalahkan oleh

rasa sakit ketika harus mengejan. Hal ini tentu dapat menghambat keinginan ibu

dalam upaya ekspulsif volunter.Walaupun demikian,anestesi regional dapat

mengurangi kemampuan pasien untuk mengontraksikan otot-otot abdomen, serta

mengurangi dorongan refleks untuk mengejan. Bagi ibu yang kurang dapat

mengejan dengan benar pada setiap kontraksi diakibatkan nyeri hebat, analgesia

mungkin akan memberi banyak manfaat. Pilihan yang aman untuk janin dan ibu

adalah Nitrose Oksida yang dicampur dengan oksigen dengan perbandingan volume

1 : 1, dan diberikan setiap kali kontraksi.

4.6 Tatalaksana

4.6.1 Tatalaksana Umum

Diet disesuaikan dengan kondisi pasien (diet cair bisa digunakan untuk

persiapan operasi). Selain itu, infus D5% atau NaCl 0,9% diberikan secara secara

bergantian. Perkirakan tatalaksana pembedahan dengan narkosis. Untuk

mengurangi rasa nyeri dapat diberikan petidin 50 mg, pada permulaan kala 1 dapat

diberikan morfin 10 mg.


4.6.2 Monitoring selama menunggu proses persalinan

1. Tekanan darah diukur setiap empat jam sekali. Perlu dilakukan lebih sering

apabila terdapat gejala preeklamsia.

2. DJJ dicatat setiap setengah jam selama kala 1 berlangsung, dan intervalnya

lebih sering pada saat kala 2.

3. Monitor kemungkinan dehidrasi (subjektif, keadaan umum, turgor kulit, urine

output, osmolaritas plasma),

4. Monitor kemungkinan asidosis (frekuensi dan tipe napas, BGA)

5. Lakukan pemeriksaan dalam secara berkala, namun tetap perhatikan risiko

infeksi. Apabila didapatkan pembukaan serviks, sedikitnya 3 cm, maka sudah

dapat dikatakan bahwa persalinan sudah dimulai.

6. Pastikan bahwa persalinan bukan false labour

7. Cari faktor risiko seperti CPD, dapat menggunakan pelvimetri roentgenologik

ataupun MRI

8. Klasifikasikan kondisi pasien, apakah masuk kategori inersia uteri atau

incoordinate uterine action

9. Lihat kondisi ketuban. Apabila ketuban sudah pecah, maka dalam waktu

kurang dari 24 jam segera lakukan prosedur terminasi,apakah melalui SC

ataupunsecara pervaginam

10. Setelah diagnosis tegak, harus dimonitor keadaan serviks, presentasi, serta

posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul, dan keadaan panggul.
11. Apabila ada proporsi sefalopelvik yang signifikan, sebaiknya dilakukan seksio

sesarea, tetapi bila tidak ada atau panggul sempit ringan dapat

dipertimbangkan tatalaksana yang lain.

12. Jika ada indikasi, segera lakukan tindakan pembedahan, karena menunggu

terlalu lama dapat menambah risiko kematian janin

13. Selama menunggu persalinan, perbaiki keadaan umum, kandung kemih dan

rektum dikosongkan.

14. Apabila presentasi terbawah janin sudah masuk ke dalam panggul, ibu dapat

disarankan berjalan-jalan. Diharapkan agar his menjadi lebih kuat, dan

persalinan berjalan lancar.

15. Dapat dilakukan amniotomi, apabila pada waktu pemeriksaan dalam

ditemukan ketuban belum pecah. Namun, konsekuensinya bayi harus

dilahirkan dalam waktu kurang dari 24 jam.

16. Pemberian oksitosin 5 IU dalam larutan Dextrose 5% dapat diberikan dengan

kecepatan 12 tpm, dapat dititrasi maksimal hingga 50 tpm.

17. Pemberian oksitosin diharapkan agar dapat memperbaiki his, sehingga

serviks dapat membuka

4.6.3 Indikasi Sectio Caesaria

Operasi SC dapat dilakukan apabila:

 Ketuban sudah pecah, namun bukaan belum lengkap

 Didapatkan lingkaran konstriksi saat masih dalam kala I


 Sudah dilakukan persalinan dengan bantuan cunam (forceps), namun gagal

dan janin masih hidup.

 Distosia servikalis sekunder, karena jaringan parut dan kelainan lain di dalam

serviks rawan membuat robekanke atas, hingga mengenai segmen bawah

uterus

 Terkadang persalinan lambat dilakukan dengan bantuan cunam (forceps).

Faktor kegagalan yang sering terjadi adalah didapatkannya lingkaran

kontriksi. Dengan narkosis dalam, lingkaran konstriksi dapat dihilangkan, dan

persalinan dengan menggunakan cunam pun dapat dilanjutkan.

Gambar 3.3 Cunam (Forceps)

4.7 Dampak dan Komplikasi

Persalinan yang lama dapat menimbulkan konsekuensi sebagai berikut:

A. Komplikasi pada Ibu


a. Infeksi intrapartum; terutama pada pasien dengan pecah ketuban.

Bakteri dalam cairan amnion dapa menginvasi desidua serta

pembuluh darah korion, sehingga rentan terjadi sepsis pada ibu dan

pneumonia sampai sepsis pada janin. Untuk mencegah hal ini,

prosedur pemeriksaan dalam sebaiknya dibatasi.

b. Ruptur uteri; terjadi jika ada penipisan abnormal di segmen bawah

uterus yang berlangsung dalam waktu yang lama. Jika ini sampai

terjadi, maka indikasi SC.

c. Terbentuknya cincin retraksi patologis; merupakan kontraksi lokal

uterus akibat persalinan yang berkepanjangan, biasanya disertai

dengan penipisan dinding segmen bawah uterus. Sehingga apabila

ini sampai terjadi, pikirkan terjadinya kemungkinan ruptur uteri. Cincin

retraksi patologis dapat dikendurkan dengan anestesia umum dan

janin dapat dilahirkan secara normal. Namun apabila gagal, lebih baik

dilakukan SC segera.

d. Pembentukan fistula; terjadi apabila jaringan di sekitar uterus terjadi

nekrosis akibat penekanan yang berlebihan dan terlalu lama. Fistula

ini dapat berupa vesikovaginal, vesikoservikal, atau rektovaginal yang

dapat jelas terlihat beberapa hari setelah melahirkan. Umumnya

disebabkan kala II yang berkepanjangan.

e. Cedera otot-otot dasar panggul; semua persalinan pervaginam

memiliki risiko untuk terjadinya cedera otot dasar panggul. Robekan

ini terjadi pada 3 – 6 % persalinan. Separuh dari itu, mengalami


cedera yang berat sampai dapat menimbulkan inkontinensia uri dan

alvi, serta prolaps organ panggul. Intervensi yang dapat diupayakan

adalah persalinan dengan forceps profilaktik.

B. Komplikasi Pada Bayi

a. Terbentuknya caput suksedaneum; terjadi pada bayi dengan ibu yang

memiliki panggul sempit. Kaput terjadi pada bagian terbawah dari

kepala janin. Biasanya kaput suksadeneum, bahkan yang besar sekali

pun, dapat menghilang dalam beberapa hari.

b. Terbentuknya molase kepala janin; akibat tekanan his yang kuat,

diserta medan tempuh yang sempit, lempeng-lempeng tulang

tengkorak pada kepala janin dapat mengalami tumpang tindih satu

sama lain, sebab sutura-suturanya masih membuka. Proses ini disebut

molase (molding moulage). Molase dapat menyebabkan robekan

tentorium, laserasi pembuluh darah otak janin, perdarahan intrakranial

pada janin, dan fraktur tengkorak. Faktor yang membentuk molase

adalah nuliparitas, stimulasi dengan oksitosin, dan pengeluaran janin

dengan vakum.

c. Kematian bayi; risiko bakteremia berupa pneumonia, aspirasi, sepsis,

semuanya dapat menimbulkan kematian pada bayi.


Tanggal/Jam: 12 April 2019/05.00

Objektif Planning

Subjektif Lab dan Assessment


TTV Pemeriksaan Fisik PDx PTx Pmo
Penunjang

Pasien KU: K/L : Anemis (- - G3P0000Ab200 Pro SC Inj. Ceftriaxone 1gr

mengeluh tampak ), ikterik (-) 38-39 minggu cito + iv

kenceng- sakit Thorax : + Kala II lama IUD Inj. Metoclopramide

kenceng sedang C/ S1S2 tunggal, + BOH 1 amp

T: 110/70 murmur (-) + HSVB Inj. Ranitidine 1 amp

N: 88 bpm Rh - | - + Fetal Distress

RR: 20x/m -|-

S: 36ºC -|-

Wh - | -

-|-

-|-

Abdomen: fundus
uteri 32 cm letak

bujur kepala, TBJ

3225 gr, DJJ 168

bpm/152 bpm, his

(10.3.35)

GE : edema

vulva

Vt : Pembukaan

lengkap, presentasi

kepala ,

effacement (+) ,

KET (-) ,
Tanggal/Jam: 14 April 2019 / 08.00

Objektif Planning

Subjektif Pemeriksaan Assessment


TTV Lab dan Penunjang PDx PTx Pmo
Fisik

Post SCTP KU: K/L : Anemis DL : P1001Ab200 Cek DL Pro transfuse PRC subjektif,

cukup (+), ikterik (-) 5.6/24.390/19.1/231.000 SCTP +IUD post 2lb/hari sampai Hb TTV, DJJ,

GCS: Thorax : dengan kala II transfusi ≥ 8 g/dl His, Kondisi

456 C/ S1S2 tunggal, fase lama IVFD RL 500 + post op (BU

T: 100/60 murmur (-) + BOH Inj.Ceftriaxone dan flatus)

N: 80 P/ v | v + HSVB 3x1gr iv

bpm v|v + Fetal distress Inj.Paracetamol

RR: v|v + Leukositosis 3x500mg iv

20x/m Rh - | - Inj. Metergin 3x1

S: 36ºC -|- Asam mefenamat

-|- 3x1amp

Wh - | -
-|-

-|-

Abdomen: TBJ

3475 kg , DJJ

142 bpm, his

( 2.10.25)

Tanggal/Jam: 15 April 2019/08.00

Objektif Planning

Subjektif Pemeriksaan Assessment


TTV Lab dan Penunjang PDx PTx PMo
Fisik

Keluhan KU: K/L : Anemis DL : P1001Ab200 -cek DL Pro transfuse PRC subjektif,

post op (-) cukup , (-), ikterik (-) 7/15.830/22.9/225.000 SCTP +IUD post 2lb/hari sampai Hb TTV, Puasa

CM Thorax : dengan kala II transfusi ≥ 8 g/dl sampai


GCS: 456 C/ S1S2 tunggal, fase lama IVFD RL 500 + Flatus+BU

T: 110/60 murmur (-) + BOH Inj.Ceftriaxone normal , HB

N: 80 P/ v | v + HSVB 3x1gr iv post op

bpm v|v + Fetal distress Inj. Metergin 3x1

RR: 18 v|v + Leukositosis Asam mefenamat

x/m Rh - | - 3x1amp

S: 35,2ºC -|- Mobilisasi ringan

-|-

Wh - | -

-|-

-|-

Abdomen:,