Anda di halaman 1dari 10

Peraturan Perundang-undangan & Etika Kefarmasian

“Rangkuman Perundang-undangan Pelayanan Swamedikasi’’


Dosen : Fauzi Kasim, Drs.,M.Kes., Apt.

Disusun Oleh : KELOMPOK 5


NURUL ARAFAH (18340027)
NURUL ARIYANI (18340028)
ANGGIE HENNY MATASIK (18340029)
AYU APRILIA TIKUPADANG (18340030)
OLIVIA PEBRIANTI DATY (18340031)
YOLANDA PASANG (18340032)
SITI NURSYAM (18340033)

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
RANGKUMAN PPERUNDANG-UNDANGAN PELAYANAN SWAMEDIKASI

NO ASPEK PELAYANAN FARMASI DI RUMAH SAKIT PELAYANAN FARMASI DI APOTEK


1. Definisi Peraturan Direktur Rumah Sakit Nomor : 346//Dir-
Sk/XII/2016
Swamedikasi adalah Pengobatan diri sendiri yaitu
penggunaan obat-obatan atau menenangkan diri
bentuk perilaku untuk mengobati penyakit yang
dirasakan atau nyata. Pengobatan diri sendiri sering
disebut dalam konteks orang mengobati diri sendiri,
untuk meringankan penderitaan mereka sendiri atau
sakit
2. Standar yang dipakai PMK No. 919 tahun 1993 pasal 3
(1) Daftar Obat yang dapat diserahkan tanpa resep
ditetapkan oleh Menteri
(2) Penilaian terhadap obat yang dapat digolongkan
menjadi obat yang dapat diserahkan tanpa resep
dilakukan secara terus menerus dengan
mempertimbangkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

3. Persyaratan PMK No. 919 tahun 1993 pasal 2


Obat yang dapat diserahkan tanpa resep harus
memenuhi kriteria :
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan
pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun
dan orang tua di atas 65 tahun
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak
memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau
alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang
prevalensinya tinggi di Indonesia
5. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat
keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk pengobatan sendiri.
4. Sumber Daya Manusia PMK No. 72 tahun 2016 BAB IV PMK No. 35 tahun 2014 BAB III (halaman 13)
Instalasi Farmasi harus memiliki Apoteker dan Apoteker di Apotek juga dapat melayani Obat
tenaga teknis kefarmasian yang sesuai dengan beban non Resep atau pelayanan swamedikasi. Apoteker
kerja dan petugas penunjang lain agar tercapai harus memberikan edukasi kepada pasien yang
sasaran dan tujuan Instalasi Farmasi. Ketersediaan memerlukan Obat non Resep untuk penyakit ringan
jumlah tenaga Apoteker dan Tenaga Teknis dengan memilihkan Obat bebas atau bebas terbatas
Kefarmasian di Rumah Sakit dipenuhi sesuai dengan yang sesuai.
ketentuan klasifikasi dan perizinan Rumah Sakit
yang ditetapkan oleh Menteri.

5. Sarana / Prasarana PP 51 tahun 2009 BAB I Pasal 1 (11)


Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana
yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian, yaitu apotek, instalasi farmasi rumah
sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek
bersama.
6. Sumber Daya Lain

7. Kegiatan / Proses PMK No. 35 tahun 2014 BAB IV


Dalam melakukan Pelayanan Kefarmasian seorang
apoteker harus menjalankan peran yaitu:
a. Pemberi layanan
Apoteker sebagai pemberi pelayanan harus
berinteraksi dengan pasien. Apoteker harus
mengintegrasikan pelayanannya pada sistem
pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.
b. Pengambil keputusan
Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam
mengambil keputusan dengan menggunakan
seluruh sumber daya yang ada secara efektif dan
efisien.
c. Komunikator
Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan
pasien maupun profesi kesehatan lainnya
sehubungan dengan terapi pasien. Oleh karena itu
harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang
baik.
d. Pemimpin
Apoteker diharapkan memiliki kemampuan untuk
menjadi pemimpin. Kepemimpinan yang
diharapkan meliputi keberanian mengambil
keputusan yang empati dan efektif, serta
kemampuan mengkomunikasikan dan mengelola
hasil keputusan.
e. Pengelola
Apoteker harus mampu mengelola sumber daya
manusia, fisik, anggaran dan informasi secara
efektif. Apoteker harus mengikuti kemajuan
teknologi informasi dan bersedia berbagi informasi
tentang Obat dan hal-hal lain yang berhubungan
dengan Obat.
f. Pembelajar seumur hidup
Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan profesi melalui pendidikan
berkelanjutan (Continuing Professional
Development/CPD)
g. Peneliti
Apoteker harus selalu menerapkan prinsip/kaidah
ilmiah dalam mengumpulkan informasi Sediaan
Farmasi dan Pelayanan Kefarmasian dan
memanfaatkannya dalam pengembangan dan
pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian.
8 Izin yang diperlukan &
Proses Perizinannya
9. Jaminan / Pengawasan PMK No. 35 tahun 2014 BAB I Pasal 5
Mutu Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di
Apotek, harus dilakukan evaluasi mutu pelayanan
kefarmasian.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenaievaluasi mutu
pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksudpada
ayat 1 tercantum dalam lampiran yang merupakan
tidak terpisahkan dari peraturan menteri ini.
10. Pencatatan PMK No. 35 tahun 2014 BAB II
Pencatatan dilakukan pada setiap proses
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat
pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stock),
penyerahan (nota atau struk penjualan) dan
pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.
11. Pelaporan PMK No. 35 tahun 2014 BAB II
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan
eksternal. Pelaporan internal merupakan pelaporan
yang digunakan untuk kebutuhan manajemen
Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan
lainnya. Pelaporan eksternal merupakan pelaporan
yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
meliputi pelaporan narkotika (menggunakan
Formulir 3 sebagaimana terlampir), psikotropika
(menggunakan Formulir 4 sebagaimana terlampir)
dan pelaporan lainnya.

1. Definisi

Menurut Peraturan Direktur Rumah Sakit Nomor : 346//Dir-Sk/XII/2016 Tentang Kebijakan Pengobatan Sendiri / Swamedikasi
Rumah Sakit.
Swamedikasi, atau pengobatan sendiri adalah perilaku untuk mengatasi sakit ringan sebelum mencari pertolongan ke petugas atau
fasilitas kesehatan. Lebih dari 60% dari anggota masyarakat melakukan swamedikasi, dan 80% di antaranya mengandalkan obat modern.
Swamedikasi adalah Pengobatan diri sendiri yaitu penggunaan obat-obatan atau menenangkan diri bentuk perilaku untuk mengobati
penyakit yang dirasakan atau nyata. Pengobatan diri sendiri sering disebut dalam konteks orang mengobati diri sendiri, untuk meringankan
penderitaan mereka sendiri atau sakit. Dasar hukumnya permekes No.919/MENKES/PER/X/1993, secara sederhana swamedikasi adalah
upaya seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Namun bukan berarti asal
mengobati, justru pasien harus mencari informasi obat yang sesuai dengan penyakitnya dan apoteker-lah yang bisa berperan di sini.
Apoteker bisa memberikan informasi obat yang objektif dan rasional. Swamedikasi boleh dilakukan untuk kondisi penyakit yang ringan,
umum dan tidak akut. Setidaknya ada lima komponen informasi yang yang diperlukan untuk swamedikasi yang tepat menggunakan obat
modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan aktif obat (isinya apa?), indikasi (untuk mengobati apa?), dosage (seberapa banyak? seberapa
sering?), effek samping, dan kontra indikasi (siapa/ kondisi apa yang tidak boleh minum obat itu?).
2. Standar yang Dipakai
Menurut PMK No. 919 tahun 1993 Pasal 3 Tentang Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep
Pasal 3
(3) Daftar Obat yang dapat diserahkan tanpa resep ditetapkan oleh Menteri
(4) Penilaian terhadap obat yang dapat digolongkan menjadi obat yang dapat diserahkan tanpa resep dilakukan secara terus menerus dengan
mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
3. Persyaratan
Menurut PMK No. 919 tahun 1993 Pasal 2 Tentang Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep
Pasal 2
Obat yang dapat diserahkan tanpa resep harus memenuhi kriteria :
a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun
b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.
c. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
d. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia
e. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
4. Sumber Daya Manusia
- Di Rumah Sakit
Menurut PMK No. 72 tahun 2016 BAB IV Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Instalasi Farmasi harus memiliki Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang
lain agar tercapai sasaran dan tujuan Instalasi Farmasi. Ketersediaan jumlah tenaga Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian di Rumah
Sakit dipenuhi sesuai dengan ketentuan klasifikasi dan perizinan Rumah Sakit yang ditetapkan oleh Menteri.
- Di Apotek
Menurut PMK No. 35 tahun 2014 BAB III (halaman 13) Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
Apoteker di Apotek juga dapat melayani Obat non Resep atau pelayanan swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada
pasien yang memerlukan Obat non Resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan Obat bebas atau bebas terbatas yang sesuai.
5. Sarana / Prasarana
Menurut PP 51 tahun 2009 BAB I Pasal 1 (11) Tentang Pekerjaan Kefarmasian
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yaitu apotek, instalasi
farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek bersama.
6. Sumber Daya Lain

7. Kegiatan / Proses
Menurut PMK No. 35 tahun 2014 BAB IV Tentang Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
Dalam melakukan Pelayanan Kefarmasian seorang apoteker harus menjalankan peran yaitu:
h. Pemberi layanan
Apoteker sebagai pemberi pelayanan harus berinteraksi dengan pasien. Apoteker harus mengintegrasikan pelayanannya pada sistem
pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.
i. Pengambil keputusan
Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan dengan menggunakan seluruh sumber daya yang ada secara
efektif dan efisien.
j. Komunikator
Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan pasien maupun profesi kesehatan lainnya sehubungan dengan terapi pasien. Oleh karena
itu harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik.
k. Pemimpin
Apoteker diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan yang diharapkan meliputi keberanian mengambil
keputusan yang empati dan efektif, serta kemampuan mengkomunikasikan dan mengelola hasil keputusan.
l. Pengelola
Apoteker harus mampu mengelola sumber daya manusia, fisik, anggaran dan informasi secara efektif. Apoteker harus mengikuti
kemajuan teknologi informasi dan bersedia berbagi informasi tentang Obat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan Obat.
m. Pembelajar seumur hidup
Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan profesi melalui pendidikan berkelanjutan (Continuing
Professional Development/CPD)
n. Peneliti
Apoteker harus selalu menerapkan prinsip/kaidah ilmiah dalam mengumpulkan informasi Sediaan Farmasi dan Pelayanan Kefarmasian
dan memanfaatkannya dalam pengembangan dan pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian.
9. Jaminan/ pengawasan mutu

Menurut PMK No. 35 tahun 2014 BAB I Pasal 5 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
1. Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Apotek, harus dilakukan evaluasi mutu pelayanan kefarmasian.

2. Ketentuan lebih lanjut mengenaievaluasi mutu pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksudpada ayat 1 tercantum dalam lampiran
yang merupakan tidak terpisahkan dari peraturan menteri ini.

10. Pencatatan dan pelaporan

Menurut PMK No. 35 tahun 2014 BAB II Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi
pengadaan (surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan
dengan kebutuhan.
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan
manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.
Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan meliputi pelaporan narkotika (menggunakan Formulir 3 sebagaimana terlampir), psikotropika (menggunakan Formulir 4
sebagaimana terlampir) dan pelaporan lainnya.

Anda mungkin juga menyukai