Anda di halaman 1dari 7

SKENARIO

Seorang laki-laki bernama Tn. Naas dibawa ke puskesmas Ilung Larut oleh teman-
temannya sesama Buruh Bangunan, akibat sebelumnya dipukul oleh sebatang kayu
pada dadanya oleh kawan sekerjanya. Di puskesmas, dr. Gagah sedang
menyelenggarakan pelayanan dengan antrian 30, pasien karena kedatangan orang-
orang yyanf membawa Tn. Naas, maka Tn. Naas didahulukan pemeriksaannnya, dan
dr. Gagah memeriksa dengan teliti, dr. Gagah mendapatkan adanya fraktur costae 3
dan 4 kanan dan telah terjadi mekanisme ventil pneumothorax. dr. Gagah
memutuskan untuk melakukan pemasangan WSD namun karena keterbatasan alat, dr.
Gagah menggunakan katetedan surflo nomor paling besar lalu menusukkan di linea
axillaris anterior ICS 4, sesak yang dirasakan korban berkurang dan Tn. Naas
diputuskan untuk mendapatkan rawat inap di puskesmas tersebut. Karena dr. Gagah
harus mengikuti ilmiah di RS Kayu Jabuk, maka pasien tadi dititipkan pada dr. Lalai
seorang dokter umum dan dr. Linglung seorang dokter internship. Pada sabtu malam,
Tn. Naas kembali sesak dan semakin hebat yang menyebabkan kepanikan di
Puskesmas tersebut, para petugas mencoba menghubungi dan mencari dr. Lalai dan
dr. Linglung yang tinggal di rumah di komplek puskesmas. Namun petugas tidak
dapat menemukan dan menghubungi kedua dokter tersebut, ternyata keduanya
berjalan ke Dunia Mall.
Karena Tn. Naas sangat gelisah, tenaga meds senior berinisiatif memberikan suntikan
valium intravena 2 ampul untuk Tn. Naas, namun Tn. Naas menjadi tenang untuk
selamanya. Keluarga tidak terima dan memperkarakan pihak puskesmas

Pertanyaan
1. Tentukan adakah kesalahan etika, disiplin dab hukum pada kasus tsb! Dan oleh
siapa pelanggaran tsb dlakukan?
2. Apakah ada pihak yang berbuat baik pada kasus tsb dari sisi etika, disiplin, dan
hukum?
3. Buatlah kesimpulan VeR kasis tsb bila dilakukan pemeriksaan dalam!
4. Kematian Tn. Naas termasuk kematian yang mana wajar atau tidak wajar?

Jawaban :

A. Etika
1. Definisi
Etik kedokteran merupakan ”terjemahan” dari asas-asas etika menjadi
ketentuan-ketentuan pragmatis yang memuat hal-hal yang boleh dilakukan dan
hal-hal yang harus dihindari. Aturan-aturan etika yang disusun oleh asosiasi
atau perhimpunan keprofesian sebagai pedoman perilaku bagi anggota-anggota
profesi itu, umumnya dinamakan kode etik (Inggris: code of ethics). Istilah
”kode” berasal dari kata latin codex yang antara lain berarti buku, atau sesuatu
yang tertulis, atau seperangkat asas-asas atau aturan-aturan.
Dari pengertian seperti inilah Kode Etik Kedokteran dapat diartikan sebagai
seperangkat (tertulis) tentang peraturan-peraturan etika yang memuat amar (apa
yang dibolehkan) dan larangan (apa yang harus dihindari) sebagai pedoman
pragmatis bagi dokter dalam menjalankan profesinya. Dapat juga dikatakan,
Kode Etik Kedokteran adalah buku yang memuat aturan-aturan etika bagi
dokter.
Sebenarnya yang disebut sebagai etik (ethos) adalah suatu adat kebiasaan,
namun karena telah menjadi istilah umum dimana etik diartikan sebagai adat
kebiasaan yang ”baik, selayaknya, seharusnya”, maka sampai sekarang
pengertian inilah yang dipakai. Perkembangan Dalam pada itu, Profesor Kaiser
Ali (Kanada) dalam presentasinya pada Pertemuan Nasional Jaringan Bioetika
dan Humaniora Kesehatan Indonesia (JBHKI) IV di Surabaya 2006
menyatakan bahwa, bioetika kedokteran (medical bioethics) adalah aspek moral
dari ilmu kedokteran (Practice of Moral medicine). Saat ini sudah sangat lazim
pula kita dengar istilah ”Bioetika dan Humaniora kesehatan” atau Health
bioethics and humanities. Humaniora medik (medical humanities) mengandung
pengertian aspek kemanusiaan dari ilmu kedokteran (Practice of Humane
medicine). Karena kita ketahui bahwa antara ilmu kedokteran, moral dan
kemanusiaan tak dapat dipisahkan satu sama lain.

2. Prinsip-prinsip Etika
Bioetika kedokteran merupakan salah satu etika khusus dan etika sosial dalam
kedokteran yang memenuhi kaidah praksiologik (praktis) dan filsafat moral
(normatif) yang berfungsi sebagai pedoman (das sollen) maupun sikap kritis
reflektif (das sein), yang bersumber pada 4 kaidah dasar moral (kaidah dasar
bioetika-KDB) beserta kaidah turunannya. Kaidah dasar moral bersama
dengan teori etika dan sistematika etika yang memuat nilai-nilai dasar etika
merupakan landasan etika profesi luhur kedokteran.
Dalam profesi kedokteran dikenal 4 prinsip moral utama, yaitu:
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien,
terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination),
2. Prinsip beneficience, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan
yang ditujukan ke kebaikan pasien;
3. Prinsip non maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non
nocere” atau “above all do no harm”,
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan
keadilan dalam mendistribusikan sumberdaya (distributive justice).

B. Hukum

Prinsip-prinsip hukum:
Hubungan dokter-pasien (HDP) merupakan pondasi dalam praktek kedokteran dan
juga etika kedokteran. Seperti disebutkan dalam Deklarasi Jenewa, dokter
menyatakan: ”Kesehatan pasien akan selalu menjadi pertimbangan pertama saya”
dan Kode Etik Kedokteran Internasional menyebutkan: ”Dokter harus memberikan
kepada pasiennya loyalitas penuh dan seluruh pengetahuan yang dimilikinya”.
Interpretasi hubungan dokter-pasien secara tradisional adalah seperti hubungan
paternal dimana dokter membuat keputusan dan pasien hanya bisa menerima saja.
Namun saat ini hal itu tidak lagi dapat diterima baik secara etik maupun hukum.
Karena banyak pasien tidak bisa atau tidak bersedia membuat keputusan
perawatan kesehatan untuk mereka sendiri maka otonomi pasien kadang sangat
problematik. Secara yuridis HDP dimasukkan kedalam golongan kontrak. Suatu
kontrak adalah pertemuan pikiran (meeting of minds) dari dua orang mengenai
satu hal (solis). Dokter mengikat dirinya untuk memberikan pelayanan kesehatan
sedang pasien menerima pelayanan tersebut. Dengan demikian terjadi suatu
perikatan yang disebut transaksi (kontrak) terapeutik yang mempunyai dua ciri
yaitu: Adanya suatu persetujuan (consensual, agreement) atas dasar saling
menyetujui dari pihak dokter dan pasien tentang pemberian pelayanan pengobatan.
Adanya suatu kepercayaan (fiduciary) karena hubungan kontrak tersebut
berdasarkan saling percaya mempercayai satu sama lain.
Karena bersifat hubungan kontrak antara dokter dan pasien, maka harus dipenuhi
persyaratan:
1. harus ada persetujuan (consent) dari pihak-pihak yang berkontrak. Persetujuan
ini berwujud dalam pertemuan dari penawaran dan penerimaan pemberi
pelayanan tersebut yang merupakan penyebab terjadinya suatu kontrak.
Persetujuannya adalah antara dokter dan pasien tentang sifat pemberi layanan
pengobatan yang ditawarkan oleh sang dokter dan yang telah diterima baik oleh
pasiennya. Dengan demikian maka persetujuan antara masing-masing pihak
haruslah sukarela.
2. harus ada suatu objek yang merupakan substansi dari kontrak (contract). Objek
atau substansi kontrak dari hubungan dokter pasien adalah pemberian
pelayanan pengobatan yang dikehendaki pasien dan diberikan kepadanya oleh
sang dokter. Objek dari kontrak harus dapat dipasikan, legal dan tidak diluar
profesinya.
3. harus ada suatu sebab (cause) atau pertimbangan (consideration). Sebab atau
pertimbangan ini adalah faktor yang menggerakkan sang dokter untuk
memberikan pelayanan pengobatan kepada pasiennya. Bisa dengan pemberian
imbalan atau bisa saja sekedar untuk menolong ata atas dasar kemurah-hatian si
dokter. Pembayaran untuk pemberian pelayanan pengobatan sudah dianggap
tersirat dan diketahui oleh pasien, kecuali diwajibkan oleh hukum atau
diannggap untuk amal dan menolong sesamanya. Apabila sang pasien ternyata
tak mampu untuk membayar, tidak akan mempengaruhi adanya kontrak atau
mengurangi tanggungjawab sang dokter terhadap tuntutan kelalaian.

Dalam hubungan terapetik, semua azas yang berlaku dalam berkontrak juga
berlaku di sini, antara lain:
1. Azas Konsensual: Berdasarkan azas ini maka para pihak, yaitu dokter/RS &
pasien, harus saling bersetuju untuk menjalin hubungan terapetik. Persetujuan
pasien tersebut ditandai dengan datangnya pasien ke tempat praktik dokter atau
RS sedangkan persetujuan dokter atau RS dapat dinyatakan secara eksplisit
ataupun implisit; baik oleh dokter itu sendiri atau lewat pegawainya.
Diterimanya pendaftaran pasien oleh pembantu dokter atau dilayaninya pasien
membeli karcis oleh petugas RS merupakan bukti bahwa dokter atau RS yang
bersangkutan telah bersetuju untuk menangani pasien. Maka sejak saat itulah
hubungan kontraktual mulai terjalin. Dalam pandangan hukum perdata, setiap
persetujuan dianggap sah jika diberikan tanpa keraguan (unequivocal), tanpa
ada paksaan (voluntary), sesuai kelaziman (naturally) & dalam keadaan sadar
(concious) oleh orang-
orang yang menurut hukum dapat melakukan perbuatan hukum. Maka dalam
hal pasien anak-anak atau tidak sehat akalnya, hubungan hukum yang terjadi
adalah antara health care provider dengan orang tua atau walinya.
2. Azas Iktikad Baik: Iktikad baik (utmost of good faith) merupakan azas yang
paling utama dalam hubungan kontraktual, termasuk hubungan terapetik. Oleh
sebab itu baik pasien, dokter atau RS harus sama-sama beriktikat baik sebab
tanpa dilandasi azas ini, hubungan terapetik tidak syah demi hukum. Dengan
iktikat baik tersebut maka masing-masing pihak tidak dibenarkan untuk
memperdayai ataupun memanfaatkan kelemahan (ketidaktahuan) pihak lainnya,
utamanya pihak dokter yang kedudukannya lebih superior dibandingkan pasien
disebabkan ilmu pengetahuan & ketrampilan yang dikuasainya.
3. Azas Bebas: Azas ini mengisyaratkan bahwa para pihak bebas menentukan apa
saja yang hendak diperjanjikan. Hanya saja masing-masing pihak perlu
menyadari bahwa upaya medik itu penuh dengan ketidakpastian (uncertainty) &
hasilnyapun tidak dapat diperhitungkan secara matematik. Oleh sebab itu
tidaklah realistis jika pasien menuntut jaminan kesembuhan & tidak pula lazim
jika dokter menjanjikan atau memberikan garansi keberhasilan.
4. Azas Tidak Melanggar Hukum: Meskipun para pihak bebas menentukan isi
kesepakatan, namun hukum perdata membatasi syahnya hubungan kontraktual
hanya pada hal-hal yang halal. Jika misalnya pasien meminta dokter melakukan
aborsi tanpa alasan medis (aborsi kriminalis) & dokter juga menyatakan
kesanggupannya maka hubungan seperti ini tidak boleh dianggap sebagai
hubungan kontraktual, melainkan merupakan persekongkolan untuk melakukan
tindak pidana pengguguran kandungan. Oleh karenanya jika seandainya dokter
melakukan kekeliruan dalam melakukan aborsi kriminalis sehingga wanita
yang diaborsi menderita kerugian maka ia tidak dapat digugat membayar ganti
rugi.
5. Azas Kepatutan & Kebiasaan: Dalam hukum perdata, para pihak yang
mengadakan perikatan tidak hanya tunduk pada hal-hal yang telah disepakati
saja tetapi juga pada hal-hal yang sudah menjadi kepatutan & kebiasaan. Azas
ini benar-benar membedakan hubungan terapetik dengan hubungan kontraktual
di bidang lainnya. Jika misalnya dalam hubungan kontraktual di bidang lain
tidak dibenarkan memutuskan hubungan secara sepihak (tanpa kesepakatan
kedua belah pihak) maka dalam hubungan terapetik pemutusan sepihak oleh
pasien dapat dibenarkan, sedangkan oleh dokter hanya dibenarkan berdasarkan
alasan yang sangat khusus (with notice). Alasan bahwa pasien boleh
memutuskan secara sepihak kapan saja didasarkan pada pertimbangan bahwa
hubungan terapetik merupakan hubungan yang dijalin atas dasar kepercayaan.
Bila pasien sudah tidak lagi percaya akan kemampuan dokter dalam mengatasi
gangguan kesehatannya maka sudah pasti pasien tidak lagi bersikap kooperatif.
Oleh sebab itu tidaklah bijaksana jika hokum tetap memaksa pasien untuk
menyelesaikan hubungan tersebut karena akan menjadi kontraproduktif

C. Disiplin
Norma disiplin adalah disiplin ilmu kedokteran itu sendiri. Kompetensi dokter
diperoleh melalui penguasaan ilmu dan teknologi kedokteran. Berdasarakan ilmu
kedokteran tersebut disusun standar profesi medik.

1. terdapat kesalahan norma etika, disiplin, dan hukum pada kasus tersebut
a. Norma Etika
- dokter
Norma etika kedokteran oleh dokter telah dilaksanakan yaitu prinsip justice yaitu
keadilan, menolong pasien yang lebih membutuhkan pertolongan lebih dahulu,
tetapi di sisi prinsip etika yang lain yaitu Non- maleficeance yang berarti prinsip
tidak merugikan pasien dokter tersebut melanggar karena dokter tersebut
memasang WSD pada posisi yang kurang tepat dan menggunakan alat tidak
sesuai standar.
dr. Lalai dan dr. Linglung karena pada saat Tn. Naas mengalami perburukan
kondisi, dr. Lalai dan dr. Linglung tidak ada di tempat dan tidak bisa dihubungi,
sehingga menelantarkan pasien yang seharusnya mendapatkan mendapatkan
penanganan yang tepat dan segera.
Dari segi etika, dr. Lalai dan dr. Linglung melanggar Sumpah Kedokteran
Indonesia no. 7 yang berbunyi “Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan
penderita”, yang dimana seharusnya kedua dokter tersebut harus siap siaga
merawat pasien yang mereka rawat. Kedua dokter tersebut juga melanggar Kode
Etik Kedokteran Indonesia pasal 1 yang berbunyi “Setiap dokter harus menjunjung
tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter” karena melanggar Sumpah
- Perawat
Melanggar prinsip Non Malficeance karena perawat memberikan pengobatan
tanpa ilmu pengetahuan yaitu hanya berdasarkan pengalaman.

b. Norma Disiplin
- dokter
dr. Lalai dan dr. Linglung melanggar prinsip disiplin karena ketika tidak ada saat
sedang bertugas jaga

c. Norma Hukum
Dari segi hukum, kedua dokter tersebut melanggar UU No. 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran Pasal 51 poin (a) tentang kewajian dokter yaitu “memberikan
pelayanan medis sesuai dengan standar prosedur operasional serta kebutuhan
medis pasien”, serta melanggar Pasal 52 poin (c) tentang hak pasien yaitu
“mendapatkan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan medis”.
2. Pada kasus tersebut ada yang berbuat baik, pada norma Etika yaitu prinsip
justice yang dilakukan oleh dokter Gagah yang mendahului pasien yang lebih
membutuhkan pertolongan, sesuai dengan UU No. 29/2004 tentang praktik
kedokteran, di mana seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas
perikemanusiaan.

3. Kesimpulan Visum et Repertum terlampir

4. Sedangkan kematian dibagi menjadi dua, yaitu :


a. Kematian Wajar
Suatu kematian disebut wajar jika orang tersebut berada dalam perawatan
seorang dokter, diagnosis penyakitnya telah diketahui dan kematiannya
diduga karenapenyakitnya tersebut. Pada kematian yang terjadi dalam
perawatan di Rumah Sakit atau dalam perawatan seorang dokter, umumnya
dokter dapat memastikan bahwa kematian tersebut kematian wajar. Pada
kasus ini, dokter yang memeriksa pasien terakhir kali atau dokter yang
merawat dapat langsung memberikan surat keterangan kematian dan
jenazahnya dapat langsung diserahkan pada keluarganya. Di Indonesia,
seorang dokter puskesmas yang mendapatkan laporan adanya suatu kematian
hendaknya dapat memeriksa sendiri jenazah tersebut. Setelah dokter selesai
melakukan pemeriksaan luar (yang dilakukan tanpa surat permintaan visum
dari polisi) terhadap jenazah tersebut dan dokter yang menentukan apakah
kematiannya merupakan kematian wajar atau tidak wajar. Jika ia yakin, bahwa
tidak ada tanda-tanda kekerasan atau keracunan serta kecurigaan lainnya,
maka ia dapat memutuskan bahwa kematian adalah wajar.
b. Kematian Tidak Wajar
Setiap kematian yang terjadi akibat kekerasan atau keracunan termasuk
kematian yang tidak wajar. Cara kematian pada kematian tidak wajar adalah
pembunuhan, bunuh diri dan kecelakaan. Pada kasus kematian tidak wajar,
hendaknya segera dilaporkan ke penyidik, sesuai dengan pasal 108 Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana atau yang sering disebut KUHAP.
Adapun yang termasuk dalam kategori kasus yang harus dilaporkan ke
penyidik adalah kematian yang terjadi didalam tahanan atau penjara, kematian
terjadi bukan karena penyakit, kematian bukan karena hukuman mati dan
penemuan mayat, yang penyebab dan informasi mengenai kematiannya tidak
ada atau tidak jelas.
Menurut Peraturan Bersama Mendagri dan Menkes nomor 15 tahun 2010
tentang pelaporan kematian dan penyebab kematian, untuk jenis kematian
tidak wajar, maka surat keterangan kematian di keluarkan oleh pihak
kepolisian dalam hal pencatatan register akta kematian dan penerbitan kutipan
akta kematian jenazah.
Pada kasus tersebut terjadi kematian yang tidak wajar karena :
1. Pemasangan alat WSD yang tidak sesuai standar pemasangan alat tersebut
sehingga tidak efektif, bisa dikategorikan iatrogenik dan malpraktik yaitu
malfeasense yaitu salah pilihan tindakan medis
2. terjadi karena kelalaian dokter jaga yang tidak berada di tempat sebagai
pelanggaran etika kedokteran
3. Dilakukan penyuntikan Valium oleh perawat yang tidak sesuai indikasinya