Anda di halaman 1dari 11

STUDI KELAYAKAN BISNIS UNTUK PENDIRIAN PRAKTIK

MANDIRI BIDAN (PMB)

Disusun oleh :

Masayu Danillah Hasada


1810104357

PROGRAM STUDI KEBIDANAN SARJANA TERAPAN KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
TAHUN 2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Defenisi Praktik Bidan Mandiri dan Persyaratan Mendirikan BPM..................3
B. Rencana Pembukaan Bidan Praktik Mandiri (BPM) ...................................3
C. Cara Analisa Kondisi Calon Lokasi dan Memilih Lokasi Usaha yang Tepat....4
D. Studi Kelayakan Membuat BPM Ditinjau dari Berbagai Aspek....................... 5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................7
B. Saran .......................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA

ii
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr. Wb

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Studi Kelayakan Bisnis Untuk Pendirian Praktik Mandiri Bidan
(PMB). Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
memenuhi penugasan mata kuliah Ekonomi Kesehatan.

Saya tentu menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.
Semoga makalah ini dapat berguna dan dimanfaatkan dengan semestinya. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan penulis khususnya.

Yogyakarta

Penyusun

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara
mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka
menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan. Menurut Kasmir dan
Jakfar (2012:7), studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari
secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam
rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan. Dengan adanya
studi kelayakan bisnis, pengusaha atau investor bisa memilah kebutuhan dan
kesanggupan pendanaan dengan perencanaan yang matang. Studi kelayakan
bisnis juga bermanfaat bagi kreditor, pihak manajemen perusahaan, pihak
pemerintah dan masyarakat, serta bagi tujuan pembangunan ekonomi dengan
berbagai manfaat.
Secara umum, tujuan studi kelayakan bisnis adalah untuk
menghindari kerugian. Namun jika dikembangkan, ada banyak manfaat studi
kelayakan bisnis, yaitu untuk memudahkan perencanaan, mempermudah
pelaksanaan pekerjaan, mempermudah pengawasan, serta mempermudah
pengendalian. Sehingga studi kelayakan bisnis harus dilakukan dalam setiap
sektor, termasuk kesehatan. Dalam pendirian rumah sakit, klinik, RSIA,
bahkan BPM (Bidan Praktik Mandiri) juga sangat direkomendasikan
melakukan studi kelayakan bisnis sebelum memulai bisnisnya.
Penanaman modal dalam suatu usaha atau proyek, baik untuk usaha
baru maupun perluasan usaha yang sudah ada, biasanya disesuaikan dengan
tujuan usaha. Salah satu tujuan dan pada umumnya merupakan tujuan dari

1
2

semua usaha ialah mencari keuntungan (profit). Dalam arti seluruh aktivitas
persahaan atau instansi terkait hanya ditujukan untuk mencari keuntungan
semata. Tujuan lainnya adalah bersifat sosial, artinya jenis usaha ini sengaja
didirikan untuk membantu masyarakat dalam penyediaan berbagai sarana dan
prasarana yang dibutuhkan, contohnya seperti instansi kesehatan. Bagi
perusahaan yang didirikan untuk tujuan total profit, yang paling utama adalah
perlu difikirkan seberapa lama pengembalian dana yang ditanam di proyek
tersebut agar segera kembali. Agar tujuan perusahaan tersebut dapat tercapai
sesuai dengan tujuan yang diinginkan, maka apapun tujuannya (baik profit,
social maupun gabungan dari keduanya), hendaknya apabila ingin melakukan
investasi sebaiknya didahului dengan suatu studi.
Suatu usaha itu didirikan tentu dengan maksud untuk mencapai tujuan
tertentu, yang pada umumnya adalah mencari keuntungan. Dan terkadang
dalam praktiknya yakni dalam menjalankan usaha, tentu akan menemui suatu
kendala, hambatan-hambatan dan resiko yang mungkin timbul setelah usaha
berjalan. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu keadaan ketidakpastian atas
masa depan, baik di bidang ekonomi, hokum, politik, budaya perilaku dan
perubahan lingkungan masyarakat. Dengan demikian, perlu untuk diketahui
syarat-syarat mendirikan BPM, rencana pendirian, dan cara anlisa kelayakan
bisnis sebelum mendirikan BPM.
B. Tujuan
Untuk mengetahuai dan menganalisis tentang studi kelayakan bisnis
pendirian praktik bidan mandiri
3

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

A. Defenisi Praktik Bidan Mandiri dan Persyaratan Mendirikan BPM


Bidan Praktik Mandiri (BPM) merupakan bentuk pelayanan kesehatan
di bidang kesehatan dasar. Praktik bidan adalah serangkaian pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga, dan
masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Bidan yang
menjalankan praktik harus memiliki Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) sehingga
dapat menjalankan praktik pada sarana kesehatan atau program (Farelya dan
Nurrobikha, 2015).
Untuk mendirikan suatu BPM, ada beberapa ersyaratan yang harus
dipenuhi, menurut Sursilah (2010), syarat-syarat utama yang harus dipenuhi
adalah: (1) Menjadi anggota IBI, (2) Permohonan Surat Ijin Praktik Bidan
Selaku Swasta; (3) Surat Keterangan Kepala Puskesmas Wilayah Setempat
Praktik; (4) Surat Pernyataan tidak sedang dalam sanksi profesi/ hukum; (5)
Surat Keterangan Ketua Ranting IBI Wilayah, (6) Persiapan peralatan medis
dan medis usaha praktik bidan secara perorangan dengan pelayanan
pemeriksaan pertolongan persalinan dan perawatan, (7) Membuat Surat
Perjanjian sanggup mematuhi perjanjanian yang tertulis.
Dengan demikian, syarat-syarat tersebut merupakan kunci awal tuntuk
membangun PMB. Jika dilihat dengan kenyataan yang ada pada saat ini,
sebagian besar bahkan hampir semua PMB memiliki syarat-syarat tersebut.
B. Rencana Pembukaan Bidan Praktik Mandiri (BPM)
Membangun sebuah PMB harus melewati beberaarencana. Rencana
terebut akan lebih mudah jika dilakukan penganalisisan terslebih dahulu, yaitu
dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT ialah metode
penganalisisan sesuaiperencanaan dan melingkupi beberapa aspek, yaitu:
1. Srtength (kekuatan yang berasal dari internal)
Yang harus dipikirkan dalam langkah ini ialah lingkungan sekitar termasuk
lingkungan yang bersih dan jarak dengan BPM laina lumayan jauh
jaraknya dari penduduk sekitar. Sehingga baiknya mencari lokasi yang
sekiranya mudah dijangkau oleh masyarakat.
4

2. Weakness (kelemahan yang berasal dari internal)


Pikirkan mengenai tanggapan masyarakat tentang biaya beribat di BPM
dan bagaimana akses transportasi.
3. Opportunity (kesempatan yang dari eksternal)
Dengan adanya kemauan dari diri sendiri untuk meningkatkan mutu
pelayanan kebidanan dan dukungan dari keluarga, dengan cara
menyediakan kotak saran di depan tempat praktik, selalu menjaga
kebersihan tempat praktik dan melayani dengan ramah
4. Threats (ancaman yang berasal dari eksternal)
Sudah banyakanya praktik bidan praktik mandiri yang sudah professional
dan berpengalaman. Sehingga perlu menjaga dan meningkatkan kualitas
pelayanan kebidanan.
C. Cara Analisa Kondisi Calon Lokasi dan Memilih Lokasi Usaha yang Tepat
Lokasi yang “strategis” dalam teori wirausaha ditafsir kan sebagai
lokasi di mana yang banyak ada calon pembeli yaitu lokasi ini mudah
dijangkau, mudah dilihat konsumen dan banyak dilalui atau dihuni target
konsumen yang berpotensi membeli produk atau jasa yang dijual. lokasi seperti
ini cocok untuk usaha perdagangan barang atau jasa yang harus berhubungan
langsung dengan pelanggan (Upiyoadi dan Hamdani, 2009). Itu sebabnya
pasar,pusat pertokoan, atau pusat perbelanjaan menjadi lokasi-lokasi usaha
perdagangan yang paling diincar orang. karena, di area seperti itu calon
konsumen tumpah tersedia. parapemilik usaha tinggal mencari strategi untuk
memasarkan usahanya. Gambaran secara ringkas mengenai prioritas aspek-
aspek studi kelayakan yang perlu dilakukan secara umum, dapat dilihat pada
gambar di bawah ini:
5

Gambar Aspek-aspek Penilaian Studi Kelayakan Sumber: Kasmir & Jakfar, 2003.

D. Studi Kelayakan Membuat BPM Ditinjau dari Aspek Pasar dan Pemasaran,
Aspek Teknis dan Operasional, Aspek Manajemen
Dengan analisis menggunakan teori dari Kasmir dan Jakfar (2013),
maka contoh perhitungan layak atau tidaknya sebuah BPM didirikan ialah
sebagai berikut:
1. Payback period
Nilai Investasi
Payback period =
x 12 bulan
Proses

Dengan kriteria penilaian :


a. Jika Payback period < waktu maksimum, diterima
b. Jika payback period > waktu maksimum, diterima
2. Net present value
NPV = PV. Proceed – PV. Outlays
Dengan kriteria penilaian pada metode net present value ini adalah:
a. Jika NPV > 0, maka investasi diterima
b. Jika NPV < 0, maka investasi ditolak
3. Internal rate of return
IRR = P1 – C1 x P2 – P1

C2 – C1
Dengan kriteria:
a. Jika IRR > suku bunga yang telah ditetapkan, maka investasi diterima
b. Jika IRR < suku bunga yang telah ditetapkan, maka investasi ditolak
6

4. Profitability index
PI = PV. Proceed
PV. Outlays
Dengan kriteria:
a. Jika PI > 1, investasi diterima
b. Jika PI < 1, investasi ditolak
Kelayakan Bidan Praktik Mandiri (BPM) bila ditinjau dari:
1. Pasar dan pemasaran
Berdasarkan harga, kualitas, tempat serta bisnis yang diinvestasikan, maka
layak untuk dijalankan.
2. Teknis dan operasi
Berdasarkan pemilihan lokasi usaha yang disesuaikan dengan
pertimbangan tata letak kestrategian, jam buka dan teknologi, maka layak
untuk dijalankan.
3. Manajemen organisasi
Karena setiap bagian sudah memiliki kewajiban dan tanggung jawab
masing-masing, maka layak untuk dijalankan.

BAB III
7

PENUTUP
.
A. Kesimpulan
Studi kelayakan bisnis merupakan suatu hal yang perlu
diterapkan mulai dari awal perencanaan hingga terciptanya suatu PMB. Ukan
hanya PMB, namun untuk semua perencanaan pembangunan yang berkaitan
dengan sosial dan kemasyarakatan.
B. Saran
Diharapkan semua tenaga medis maupun yang lainnya dapat
menerapkan studi ini demi mencapai semua aspek kehidupan yang berkaitan
dengan rencana pembangunan dan perencanaan yang berkelanjutan. Bukan
hanya untuk dimasa yang sekarang, karena studi ini dibutuhkan untuk
memperluas cakupan kelayakan sebuah PMB sebelum di dirilkan.

DAFTAR PUSTAKA
8

Farelya, Gita dan Nurrobikha. 2015. Etikolegal dalam Pelayanan Kebidanan.Edisi 1.


Cetakan 1. Yogyakarta : Depublish
Kasmir dan Jakfar. 2013. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2017 Tentang
Izin Dan Pnyelenggaraan Praktik Bidan.
Sursilah, Ilah. 2010. Standarisasi Lahan Praktik Bidan Swasta. Yogyakarta: Dee
Publish
Kencana
Upiyoadi, Rambat dan Hamdani, A. 2009. Manajemen Pemasaran Jasa, Edisi
kedua, Jakarta, Salemba Empat.