Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS EKSERGI PADA BOILER UNIT 2 UBJ

O&M PLTU REMBANG

Proposal Tugas Akhir


Diploma IV Program Studi Pembangkit Tenaga Listrik
Di Jurusan Teknik Mesin

Oleh :
Feriyanto Mandila Pallea NIM. 4215020019

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


2019
HALAMAN PENGESAHAN

ANALISIS EKSERGI PADA BOILER UNIT 2 UBJ


O&M PLTU REMBANG

Diajukan oleh

Feriyanto Mandila Pallea NIM. 4215020019

Disetujui oleh:
Team Tugas Akhir Program Studi Pembangkit Tenaga Listrik

(.................................................)

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


2019

i
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.........................................................................................i
DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii
BAB 1 ............................................................................................................................1
PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian...........................................................................................3
1.4 Batasan Masalah ............................................................................................3
1.5 Lokasi Objek Skiripsi ....................................................................................3
1.6 Metodologi Penelitian ....................................................................................3
1.7 Manfaat ..........................................................................................................4
1.8 Sistematika Penulisan ....................................................................................4
BAB 2 ............................................................................................................................6
DASAR TEORI .............................................................................................................6
2.1 Boiler ..............................................................................................................6
2.2 Klasifikasi Boiler ............................................................................................7
2.2.1. Berdasarkan posisi air dan gas panas ...................................................7
2.2.2. Berdasarkan sirkulasi ............................................................................8
2.2.3. Berdasarkan tekanan yang dibutuhkan ................................................8
2.2.4. Berdasarkan pengaturan ruangan air dan gas panas ...........................9
2.2.5. Berdasarkan tipe perpindahan panas ...................................................9
2.3. Konsep Dasar Eksergi [6] ............................................................................ 10
2.3.1. Dead State............................................................................................. 11
2.3.2. Kerja Balik & Irreversibilitas .............................................................. 11
2.3.3. Keseimbangan Eksergi Pada Sistem Tertutup .................................... 12
2.3.4. Keseimbangan Eksergi untuk Volume Kendali .................................. 14

ii
BAB 3 .......................................................................................................................... 16
METODE PENELITIAN............................................................................................ 16
3.1 Diagram Alir Penelitian ............................................................................... 16
3.2 Pengumpulan Data ...................................................................................... 16
3.3 Pengolahan Data dan Analisa ...................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 19

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Boiler merupakan peralatan utama yang penting dalam
pengoperasian suatu PLTU, salah satunya di UBJ O&M PLTU Rembang.
Hal ini dikarenakan boiler sebagai peralatan utama untuk menghasilkan uap
penggerak turbin uap. Untuk menghasilkan uap, boiler menggunakan
batubara sebagai bahan bakar utama. Batubara dipilih karena memiliki
energi yang disebut nilai kalori. Nilai kalori mempengaruhi kinerja boiler
dalam proses pembakaran. Kinerja proses pembakaran ini didasarkan pada
efisiensi boiler. Selain itu, dikarenakan telah beroperasi selama 9 tahun,
maka efisiensi boiler dapat dijadikan sebagai acuan ujuk kerja. Efisiensi
boiler didefinisikan sebagai perbandingan antara panas uap keluar (output)
dengan panas pada bahan bakar (input) [1]. Efisiensi boiler umumnya
diketahui dengan mengacu pada analisis energi yang didasarkan pada
Hukum I Termodinamika serta menggunakan ketentuan dari ASME PTC
4.1. Namun dirasa kurang menggambarkan aspek-aspek penting dalam
pemanfaatan energi. Sehingga perlu juga dilakukan pendekatan dengan
eksergi yang didasarkan pada Hukum II Termodinamika untuk mengetahui
ketepatan besarnya efisiensi boiler. Dengan menggunakan analisis eksergi
dapat diidentifikasi jenis, penyebab, dan lokasi terjadinya kerugian atau
kehilangan panas pada sistem dan sub-sistem termal, sehingga perbaikan-
perbaikan serta peningkatan kualitas dapat dilakukan [2].
Krishan et al. melakukan penelitian terhadap boiler menggunakan
batubara dengan nilai kalori batubara 3500, 4000, 5500, dan 6454 kcal/kg.
Hasilnya adalah efisiensi eksergi terbesar didapat ketika batubara berkalori
3500 kcal/kg yaitu 58,680% [3]. Selanjutnya, Ankit Patel melakukan
penelitian terhadap boiler dengan kapasitas 50 MW menggunakan batubara

1
Indian, imported, dan LSHS oil. Hasilnya menunjukkan bahwa batubara
Indian memberikan efisiensi eksergi sebesear 37% lebih kecil dibandingkan
menggunakan LSHS oil yaitu 40,1% [4]. Selanjutnya, M.K.Pal et al.
melakukan penelitian untuk mengetahui kerugian yang terjadi pada Rihand
Super Thermal Power Station berkapasitas 210 MW dengan menggunakan
GCV yaitu 3500 kcal/kg. Hasil yang didapatkan adalah boiler merupakan
komponen yang mempunyai efisiensi eksergi terkecil yaitu 39,12% dan
irreversibility sebesar 31,93 MW [5]
Oleh karena itu, untuk mendapatkan nilai efisiensi yang detil
terhadap nilai kalori bahan bakar yang digunakan maka dapat dilakukan
analisis secara energi maupun eksergi. Selain itu, dengan melakukan
analisis eksergi dapat mengetahui lokasi kehancuran eksergi
(irreversibility) pada komponen-komponen boiler terhadap penggunaan
nilai kalori batubara. Akhirnya, dengan menggunakan kedua analisa ini
maka dapat ditentukan mana nilai kalori batubara yang baik untuk
digunakan pada boiler dan efisiensi energi serta eksergi untuk boiler yang
beroperasi selama 9 tahun.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana efisiensi secara energi dan eksergetik saat commissioning dan
terkini?
2. Bagaimana kerugian yang terjadi secara analisis energi dan eksergi saat
comissioning dan terkini?
3. Bagaimana pengaruh nilai kalori batubara terhadap efisiensi energi dan
eksergi pada boiler saat comissioning dan terkini?
4. Bagaimana solusi untuk meningkatkan nilai efisiensi energi dan eksergi
pada boiler?

2
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui efisiensi secara energi dan eksergi saat comissioning dan
terkini.
2. Mengetahui pengaruh nilai kalori batubara terhadap efisiensi energi dan
eksergi pada boiler saat comissioning dan terkini.
3. Mengetahui kerugian yang terjadi pada boiler secara analisis energi dan
eksergi saat comissioning dan terkini.
4. Memberikan solusi dan saran untuk meningkatkan efisiensi energi dan
eksergi pada boiler.

1.4 Batasan Masalah


Ruang lingkup dan batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Penelitian ini hanya membahas analisis energi dan eksergi terhadap
boiler.
b. Data yang digunakan merupakan data operasional saat comissioning
tahun 2011 dan terkini tahun 2019.
c. Variabel yang dianalisis adalah efisiensi energetik dan eksergetik, nilai
kalori bahan bakar, dan kerugian saat comissioning dan terkini.

1.5 Lokasi Objek Skiripsi


1. PT UBJ O&M PLTU Rembang Jalan Raya Semarang-Surabaya KM.130
Sluke Rembang, Jawa Tengah.
2. Politeknik Negeri Jakarta, Jalan Prof. Dr. G. A Siwabessy, Kampus Baru
UI, Depok.

1.6 Metodologi Penelitian


Metode yang digunakan untuk meneyelesaikan penelitian ini adalah
melakukan pengumpulan data operasi boiler unit 2 UBJ O&M PLTU
Rembang dan ultimate analysis batubara saat kondisi comissioning dan
terkini. Selanjutnya data operasi dimasukkan ke dalam perangkat lunak
3
Engineering Equation Solver (EES) untuk mendapatkan thermodynamic
properties. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan ketentuan ASME
PTC 4.1 dan persamaan analisis eksergi untuk mencapai tujuan penelitian.

1.7 Manfaat
a. Mengetahui pengaruh nilai kalor bahan bakar terhadap efisiensi boiler
baik secara energi maupun eksergi.
b. Mengetahui kerugian eksergi dan energi yang terjadi pada boiler.
c. Menambah wawasan mengenai analisis eksergi terhadap perhitungan
efisiensi boiler.

1.8 Sistematika Penulisan


a. Bab I Pendahuluan
Menguraikan latar belakang pemilihan topik, rumusan masalah, tujuan
umum & khusus, ruang lingkup penelitian dan batasan masalah, lokasi
objek skripsi, metode penyelesaian masalah, manfaat yang didapat, dan
sistematika penulisan skripsi.

b. Bab II Studi Pustaka


Berisikan studi pustaka yang memaparkan teori mendalam terkait topik
skripsi yang dibahas.

c. Bab III Metodologi Penelitian


Menguraikan metode yang digunakan untuk menyelesaikan
masalah/penelitian meliputi prosedur, pengambilan sampel dan
pengumpulan data, serta teknik analisis data.

d. Bab IV Hasil Pembahasan


Berisikan hasil data, perhitungan-perhitungan analisis data, serta
pembahasan hasil perhitungan.

4
e. Bab V Kesimpulan dan Saran
Berisi kesimpulan dari seluruh analisis data dan pembahasan hasil
perhitungan/penelitian. Serta berisi saran-saran yang berkaitan dengan
skripsi.

5
BAB 2
DASAR TEORI

2.1 Boiler
Boiler merupakan suatu bejana tertutup yang digunakan untuk
mengubah fasa air dari cair menjadi uap dengan memanfaatkan panas hasil
pembakaran batubara. Uap yang dihasilkan digunaknan untuk
menggerakkan turbin uap. Proses perubahan fasa air menjadi uap dilakukan
pada tekanan boiler yang konstan. Tekanan ini tergantung kepada jenis
boiler (lihat gambar 2.1).

Gambar 2.1 Densitas Uap dan Air Terhadap Tekanan

6
2.2 Klasifikasi Boiler
2.2.1. Berdasarkan posisi air dan gas panas
a. Ketel pipa api (fired tube boiler)

Pada tipe boiler ini gas panas berada di dalam pipa-pipa dan
air berada di shell. Seperti namanya, konstruksi umumnya adalah
tanki air berlubang oleh pipa-pipa yang membawa gas buang panas
dari api. Umumnya tanki berbentuk silindris untuk melepaskan
kekuatan maksimal dari geometri struktural sederhana. Tanki dapat
dipasang secara horizontal maupun vertikal. Ketel pipa api dapat
menggunakan bahan bakar minyak, gas atau bahan bakar padat
dalam proses pembakarannya.

Gambar 2.2 Boiler Tipe Api

b. Ketel pipa air (water tube boiler)


Pada boiler pipa air, air bersikulasi di dalam pipa-pipa yang
dipanaskan oleh gas panas di sisi luar. Bahan bakar dibakar dalam
furnace, membuat gas panas yang memanaskan air di dalam pipa
penghasil uap. Boiler ini dipilih jika kebutuhan uap dan tekanan uap
sangat tinggi.

7
Gambar 2.3 Boiler Tipe Air

2.2.2. Berdasarkan sirkulasi


a. Natural Circulation Boiler
Boiler yang mana perpindaha fluida kerja dalam evaporator
disebabkan oleh efek thermosiphon pada pipa-pipa panas disebut
“natural circulation”. Sirkulasi air dalam boiler sirkulasi alami
bergantung terhadap perbedaan antara densitas air yang relatif
dingin dan bebas uap dan campuran air panas dan uap. Perbedaan
pada densitas terjadi karena air berekspansi selama dipanaskan,
sehingga menjadi kurang padat.
b. Forced / Assisted Circulation Boiler
Dalam sirkulasinya, boiler dibantu menggunakan pompa
untuk melakukan sirkulasi air. Umumnya, boiler tipe subcritical dan
supercritical menggunakan tipe sirkulasi paksa atau bantu.

2.2.3. Berdasarkan tekanan yang dibutuhkan


a. Subcritical Boiler
Subcritical boiler adalah boiler yang beroperasi dibawah
titik kritis yaitu 22,12 MPa dan 647,14 K. Titik kritis merupakan
titik dimana tekanan kritis dan temperatur kritis bertemu. Tekanan
8
kritis merupakan tekanan uap suatu fluida berada di atas temperatur
kritis yang perbedaan antara fasa cair dan gas tidak terlihat.
b. Supercritical Boiler
Supercritical boiler merupakan boiler yang beroperasi diatas
titik kritis.

2.2.4. Berdasarkan pengaturan ruangan air dan gas panas


a. Drum Type Boiler
Drum yang digunakan pada boiler tipe drum adalah sebagai
penampung fluida kerja. Drum dihubungkan dengan downcomer
dan hot riser tube secara sirkulasi. Sisi downcomer disebut water
space sedangkan sisi hot riser tube disebut steam space. Boiler tipe
drum pada dasarnya adalah subcritical boiler yang beroperasi
dibawah titik kritis.
b. Once-through Boiler
Tipe boiler ini tidak memiliki drum. Sederhananya, air
dipompakan menuju sebuah pipa panjang, dimana selama berada
dalam pipa tersebut air akan berubah panas karena menerima panas.
Pada praktiknya, single tube dibuat menjadi pipa-pipa kecil agar
perpindahan panasnya efektif. Umumnya boiler tipe ini dapat
beroperasi di tekanan subcritical atau supercritical.

2.2.5. Berdasarkan tipe perpindahan panas


a. Stoker-fired boiler
Pada stoker-fired boiler, batubara didorong, dijatuhkan, atau
dibuang menuju sebuah pangangan (grate) untuk membentuk suaut
fuel-bed. Stokers dibagi menjadi dua kelas: overfeed, yang mana
batubara diberikan dari atas, dan underfeed dimana batubara
diberikan lewat bawah. Dibawah fuel-bed yang ada terdapat suatu
lapisan debu bahan bakar, yang mana bersama dengan udara

9
mengalir melalui panggangan menjaga bagian metal tetap berada
pada suhu operasi yang diizinkan.
b. Fossil fuel (gas/oil/coal)-fired boiler
c. Fluidized-bed boiler

Pembakaran menggunakan fluidized-bed memastikan


pembakaran bahan bakar padat dengan suspensi, dalam sebuah pasir
material solid-bed inert panas, limestone, refractory, atau ash,
dengan perpindahan panas tinggi ke furnace dan tempereatur
pembakaran rendah (1075-1225 K). Bahan combustor-bed terdiri
hanya 3-5% batubara. Pada boiler tipe ini, polutan dalam produk
pembakaran berkurang.

d. Waste heat recovery boiler

WHRB atau HRSG merupakan suatu alat penukar panas


yang memanfaatkan kembali panas dari gas untuk digunakan
menghasilkan uap untuk memutar turbin.

2.3. Konsep Dasar Eksergi [6]


Eksergi merupakan energi yang dapat dimanfaatkan (available
energy) atau ukuran ketersediaan energi untuk melakukan kerja. Eksergi
suatu sumber daya memberikan indikasi seberapa besar kerja yang dapat
dilakukan oleh sumber daya tersebut pada suatu lingkungan tertentu.
Konsep eksergi secara eksplisit memperlihatkan kegunaan (kualitas) suatu
energi dan zat sebagai tambahan selain apa yang dikonsumsi dalam tahapan-
tahapan pengkonversian atau transfer energi. Salah satu kegunaan utama
dari konsep eksergi adalah keseimbangan eksergi dalam analisis sistem
termal. Keseimbangan eksergi (analisis eksergi) dapat dipandang sebagai
pernyataan hukum energi degradasi. Analisis eksergi adalah alat untuk
identifikasi jenis, lokasi dan besarnya kerugian termal. Identifikasi dan

10
kualifikasi kerugian ini memungkinkan untuk evaluasi dan perbaikan desain
sistem termal.
Metode analisis eksergi dapat menunjukkan kualitas dan kuantitas
kerugian panas dan lokasi degradasi energi (mengukur dan mengidentifikasi
penyebab degradasi energi). Sebagian besar kasus ketidaksempurnaan
termodinamika tidak dapat dideteksi dengan analisis energi. Persamaan
kerja aktual dan kerja reversibel sering diformulasikan dalam persamaan
fungsi eksergi untuk sebuah sistem terbuka dan sistem tertutup. Sampai saat
ini dianggap penting untuk menentukan kerja potensial dari sebuah sistem
pada keadaan tertentu menuju kesetimbangan dengan lingkungan
sementara sejumlah kalor yang dipindahkan merupakan satu-satunya
interaksi dengan lingkungan.

2.3.1. Dead State


Suatu sistem dikatakan dalam kondisi dead state ketika sistem
tersebut berada dalam kondisi kesetimbangan termodinamik dengan
lingkungannya. Saat kondisi dead state, sistem berada di tekanan
dan temperatur lingkungannya (saat kesetimbangan termal dan
mekanik), tidak mempunyai energi kinetik atau potensial yang
terhubung dengan lingkungan dan sistem tidak bereaksi dengan
lingkungan. Sifat suatu sistem dalam kondisi dead state dinyatakan
dalam P0, T0, h0, u0, s0. Tekanan dan temperatur dead-state adalah
T0 = 25oC (77oF) dan P0 = 1 atm (101,325 kPa atai 14,7 psia). Suatu
sistem tidak mempunyai eksergi saat kondisi dead state.

2.3.2. Kerja Balik & Irreversibilitas


Kerja balik (reversible work) adalah muatan maksimum keja
guna (useful work) yang dapat dihasilkan (atau kerja minimum yang
dibutuhkan) selama sistem berada pada suatu proses antara kondisi
awal khusus dan akhir. Hal ini merupakan kerja guna keluaran
(masukan) yang didapatkan (diberikan) ketika proses diantara
11
kondisi awal dan akhir yang dikerjakan dalam perilaku bolak-balik.
Ketika kondisi akhir berada di kondisi dead state, kerja bolak-balik
(reversible work) sebanding dengan eksergi.
Perbedaan antara kerja bolak balik dan kerja guna
disebabkan oleh irreversibilitas selama proses berlangsung.
I = Wrev,out – Wu,out atau I = Wu,in - Wrev,out (2-1)
Kerja guna merupakan kerja yang dihasilkan akibat perbedaan antara
kerja aktual W dan kerja yang diberikan ke lingkungan Wsurr.
Wu = W – Wsurr = W – P0 (V2 – V1) (2-2)
Ketika suatu sistem sedang berekspansi dan melakukan kerja,
sebagian kerja yang digunakan untuk mengatasi tekanan atmosferik,
dan karena itu Wsurr dinyatakan sebagai rugi-rugi. Ketika suatu
sistem dikompresi, sebaliknya tekanan atmosferik membantu proses
kompresi, dan karena itu Wsurr dinyatakan sebagai keuntungan.
Irreversibilitas memiliki pengertian yang sama dengan eksergi
hancur (exergy destroyed). Irreversibility bernilai positif untuk
semua proses aktual (irreversible) dikarenakan Wrev ≥ Wu (untuk
peralatan yang menghasilkan kerja) dan Wrev ≤ Wu (untuk peralatan
yang memerlukan kerja). Irreversibility dapat dikatakan sebagai
kerja potensial yang terbuang atau lost oppurtunity untuk melakukan
kerja. Semakin kecil ireversibilitas yang terdapat selama proses,
semakin besar kerja yang dapat dihasilkan (atau semakin kecil kerja
yang dapat digunakan). Kinerja suatu sistem dapat ditingkatkan
dengan mengurangi kerugian yang berhubungan dengan sistem
tersebut.

2.3.3. Keseimbangan Eksergi Pada Sistem Tertutup


Keseimbangan eksergi pada sistem tertutup merupakan
pengembangan gabungan keseimbangan energi dan entropi.
2
(U2 − U1 ) + (KE2 − KE1 ) + (PE2 − PE1 ) = ∫1 δQ − W (2-3)

12
2 𝛿𝑄
𝑆2 − 𝑆1 = ∫1 ( 𝑇 )𝑏 + 𝑆𝑔𝑒𝑛 (2-4)

Dimana W dan Q merupakan perpindahan energi oleh kerja dan


panas antara sistem dan lingkungannya, Tb merupakan temperatur
batasan dimana perindahan energi oleh panas terjadi,dan S gen
merupakan banyakan entropi yang dihasilkan yang merupakan
ireversibilitas internal. Selanjutnya, mengalikan persamaan entropi
dengan temperatur T0 dan menguranginya menghasilkan persamaan
energi sebagai berikut
(U2 − U1 ) + (KE2 − KE1 ) + (PE2 − PE1 ) − 𝑇0 (𝑆2 − 𝑆1 ) =
2 2 𝛿𝑄
∫1 𝛿𝑄 − 𝑇0 ∫1 ( 𝑇 )𝑏 − 𝑊−𝑇0 𝑆𝑔𝑒𝑛 (2-5)

Selanjutnya kumpulkan simbol SQ, pernyataan ini dapat ditulis


sebagai berikut
2 𝑇
(𝐸2 − 𝐸1 ) − 𝑝0 (𝑉2 − 𝑉1 ) = ∫1 (1 − 0 ) 𝑆𝑄 − 𝑊 −
𝑇 𝑏

𝑇0 𝑆𝑔𝑒𝑛 (2-6)
Sehingga, persamaan eksergi untuk sistem tertutup adalah sebagai
berikut
2 𝑇
(𝐸2 − 𝐸1 ) = ∫1 (1 − 0 ) 𝑆𝑄 − [𝑊 − 𝑝0 (𝑉2 − 𝑉1 )] −
𝑇 𝑏

𝑇0 𝑆𝑔𝑒𝑛 (2-7)
Untuk persamaan disebelah kanan merupakan perpindahan atau dan
dari sistem selama proses dan dapat diinterpretasikan sebagai
perpindahan eksergi yang berhubungan dengan perpindahan energi
panas:
2 𝑇
𝐸 = ∫1 (1 − 𝑇0 ) 𝑆𝑄 (2-8)
𝑏

Untuk istilah kedua di sisi sebelah kanan dihubungkan dengan kerja


guna netto dan dapat diinterpretasikan sebagai perpindahan eksergi
yang berhubungan dengan perpindahan energi oleh kerja:
Ew = 𝑝0 (𝑉2 − 𝑉1 ) (2-9)

13
Untuk istilah ketiga pada sisi sebelah kanan untuk kehancuran
eksergi yang disebabkan oleh ireversibilitas di dalam sistem. Eksergi
yang hancur ED berhubungan dengan entropi oleh
ED = 𝑇0 𝑆𝑔𝑒𝑛 (2-10)
Eksergi yang hancur (destruction exergy) dapat disebut juga sebagai
availability destruction, ireversibilitas, dan lost work.

2.3.4. Keseimbangan Eksergi untuk Volume Kendali


Persamaan umum untuk persamaan eksergi pada volume
kendali seperti di bawah ini.
𝑑𝐸𝑐𝑣 𝑇 𝑑𝑉𝑐𝑣
= ∑𝑗 (1 − 𝑇0 ) 𝑄𝑗 − (𝑊𝑐𝑣 − 𝑝0 ( ) + ∑𝑖 ṁ𝑖 𝑒𝑖 −
𝑑𝑡 𝑗 𝑑𝑡

∑𝑒 ṁ𝑒 𝑒𝑒 − 𝐸𝐷 (2-11)
Istilah dEcv/dt menyatakan laju waktu perubahan dalam eksergi pada
volume kendali. Selanjutnya, untuk Q merepresenstasikan laju
waktu perpindahan panas di lokasi atas batasan volume kendali
dimana temperatur seketika adalah Tj, dan perpindahan eksergi
adalah sebagi berikut
𝑇
Eq,j = (1 − 𝑇0 ) 𝑄𝑗 (2-12)
𝑗

Wcv merepresentasikan laju waktu perpindahan energi oleh kerja.


Persamaan perpindahan ekserginya adalah sebagai berikut
𝑑𝑉𝑐𝑣
Ew = (𝑊𝑐𝑣 − 𝑝0 ( ) (2-13)
𝑑𝑡

Dimana dVcv/dt adalah laju waktu perubahan volume. Istilah ṁiei


menjelaskan perpindahan pada masukan i dan ṁeee menjelaskan laju
waktu perpindahan eksergi pada sisi keluaran e. Akhirnya, ED
menjelaskan laju waktu eksergi yang hancur akibat ireversibilitas
pada control volume, ED = T0Sgen.
Perpindahan eksergi pada sisi masukan dan keluaran
merupakan kerja teoritis maksimal yang mampu didapatkan aliran

14
ke kondisi dead state, perpindahan panas yang terjadi hanya dengan
lingkungan. Kerja ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pada langkah pertama aliran dibawa ke kondisi dead state terbatas,
dan pada langkah kedua dari dead state terbatas ke kondisi dead
state. Kontribusi langkah kedua terhadap pengembangan kerja
ternyata eksergi kimia ech. Dalam aplikasinya sekarang, sifat-sifat
pada masukan peralatan yang perlu diperhatikan adalah h, s, V, dan
z sementara untuk sisi keluaran sifat-sifat yang berpengaruh adalah
h, s0, V0, dan z0, dimana h0 dan s0 merupakan spesifik entalpi dan
entropi pada kondisi dead state terbatas. Selain itu, selama
perpindahan panas terjadi dengan lingkungan saja, temperatur Tb
dimana perpindahan panas terjadi mempengaruhi ke T0. Sehingga,
untuk perpindahan eksergi pada aliran masuk dan keluar adalah
sebagai berikut.
1
𝑒 = (ℎ − ℎ0 ) − 𝑇0 (𝑠 − 𝑠0 ) + 2 𝑉 2 + 𝑔𝑧 + 𝑒 𝑐ℎ (2-14)

Untuk fluida yang mengalir dengan mengabaikan energi kinetik dan


potensial, energi kinetik dan potensial pada persamaan dihilangkan.
Sehingga, untuk perubahan eksergi pada aliran selama proses dari
sisi masukan dan keluaran menjadi
𝑉2 2 −𝑉1 2
𝛥𝑒 = 𝑒2 − 𝑒1 = (ℎ2 − ℎ1 ) − 𝑇0 (𝑠2 − 𝑠1 ) + + 𝑔𝑧 (2-15)
2

15
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

3.2 Pengumpulan Data


Data yang digunakan untuk penyusunan skripsi ini adalah data
operasi pada unit 2 UBJ O&M PLTU Rembang. Adapun data yang
digunakan adalah:
1. Data operasi boiler unit 2 UBJ O&M PLTU Rembang saat
comissioning dan terkini.
2. Kandungan batubara berupa ultimate analysis yang digunakan pada
unit 2 UBJ O&M PLTU Rembang saat comissioning dan terkini.
3. Suhu dan tekanan lingkungan pada unit 2 UBJ O&M PLTU
Rembang.

16
4. Thermodynamic properties aliran pada boiler unit 2 UBJ O&M
PLTU Rembang menggunakan perangkat lunak Engineering
Equation Solver (EES).

3.3 Pengolahan Data dan Analisa


1. ASME PTC 4.1
ASME PTC 4.1 merupakan standar internasional dari US untuk
menentukan efisiensi boiler. Dalam ASME PTC 4.1, terdapat dua metode
yaitu indirect dan direct. Dalam penelitian ini digunakan metode indirect.
Hal ini dikarenakan dapat mengetahui nilai efisiensi boiler secara mendetil
karena dihitung berdasarkan nilai kerugian yang terjadi pada boiler. Rugi-
rugi yang digunakan untuk menghitung efisiensi boiler dengan metode
indirect adalah sebagai berikut:
1. Kerugian karena dry flue gas (L1).
m × cp × (Tf − Ta )
L1 = × 100
GCVfuel
2. Kerugian karena hidrogen pada bahan bakar (L2).
9 × H2 × {584 + cp (Tf − Ta )}
L2 = × 100
GCVfuel
3. Kerugian karena moisture pada bahan bakar (L3).
M × {584 + cp (Tf − Ta )}
L3 = × 100
GCVfuel
4. Keruigan karena moisture pada udara (L4).
AAS × humidity factor × cp (Tf − Ta )
L4 = × 100
GCVfuel
5. Kerugian karena karbon monoksida (L5).
%CO × C 5654
L5 = × × 100
%CO × %CO2 GCVfuel
6. Kerugian karena radiasi permukaan, konveksi, dan yang lain (L6).

7. Kerugian karena unburn fly ash (L7).


Total fly ash collected per kg of fuel × GCVfly ash
L7 = × 100
GCVfuel

17
8. Kerugian karena unburnt bottom ash (L8).
Total bottom ash collected per kg of fuel × GCVbottom ash
L8 = × 100
GCVfuel

2. Persamaan Analisis Eksergi

Dalam melakukan analisis eksergi pada setiap komponen boiler


dilakukan dengan menggunakan perhitungan yang didapat dari rujukan [7].
Dalam analisis eksergi dibutuhkan juga diagram aliran pada boiler. Diagram
aliran boiler ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Gambar 3.2 Diagram Aliran Boiler

18
DAFTAR PUSTAKA

[1] N. M. Acharya Chirag, Jaspal Dabhi, "Research Paper on Analysis of


Boiler Losses to Improve Unit Heat Rate of Coal Fired Therma Power
Plant," International Journal of Advance Engineer ing and Research
Development (IJAERD), vol. 1, 5 May 2014 2014.
[2] G. T. Tsegaye Tadese, "Energy, Entropy and Exergy Concepts:
Thermodynamic Approach, A Critical Review," Abinav National Monthly
Refereed Journal of Research in vol. 3, 2014.
[3] D. P. Krishan Kumar, Vinod Sehravat, dan Tarun Gupta, "Performance
and Exergy Analysis of The Boiler," International Journal of Science and
Research, 2013.
[4] A. Patel, "Energy and Exergy Analysis of A Boiler With Different Fuels
Like Indian Coal, Imported Coal, and L.S.H.S Oil," International Journal
of Engineering Research & Technology (IJERT), vol. 1, 2012.
[5] A. K. d. H. C. M.K.Pal, "Energy and Exergy Analysis Of Boiler And
Turbine Of Coal Fired Thermal Power Plant," International Journal of
Engineering Research & Technology (IJERT), vol. 2, 2013.
[6] G. T. Adrian Bejan, & Michael Moran, Ed., Thermal Design &
Optimization. 1995, p.^pp. Pages.
[7] B. V. S. Dejan M.Mitrovic, Jelena N. Janevski, Marko G. Ignjatovic, dan
Goran D. Vuckovic, "Exergy and Exergoeconimc Analysis of A Steam
Boiler," Thermal Science, vol. 22, 2018.

19