Anda di halaman 1dari 13

TERM OF REFERENCE

LATIHAN KEPEMIMPINAN TINGKAT MENENGAH (LKTM) 2019


BADAN EKSEKUTIF KELUARGA MAHASISWA KEHUTANAN
SYLVA INDONESIA (PC.) UNIVERSITAS HASANUDDIN

LATAR BELAKANG DAN DASAR PEMIKIRAN KEGIATAN


Krisis lingkungan hidup-ekologi telah sampai pada problematika yang sangat
kompleks. Seiring dengan berakhirnya abad ke 20, masalah lingkungan menjadi hal
utama. Kita dihadapkan pada serangkaian masalah-masalah global yang
membahayakan biosfer dan kehidupan, dimana dalam waktu singkat akan menjadi
masalah yang tidak dapat dikembalikan lagi (irreversible).1
Problematika lingkungan hidup pada era milenium ini telah sampai pada
kondisi memprihatinkan. Telah banyak fenomena kerusakan-kerusakan ekologi
yang terjadi pada berbagai wilayah di belahan bumi ini. Degradasi luasan hutan; alih
fungsi lahan pertanian menjadi area industri pabrik; reklamasi daerah pesisir yang
berakibat pada hancurnya habitat biota laut; pertambangan minyak baik di laut
maupun di daratan yang merusak ekosistem sekitar; pencemaran limbah di lautan
yang mematikan biota dan mengganggu ekosistem bawah laut; pencemaran udara
dan air di daerah pemukiman; menipisnya lapisan ozon; instabilitas cuaca;
merupakan sebagian kecil dari fenomena kerusakan lingkungan telah terjadi sejauh
ini, dan masih sangat berpotensi untuk meningkat di kemudian hari.
Kita telah menimbun puluhan ribu senjata nuklir, yang cukup untuk
menghancurkan seluruh dunia beberapa kali. 2 Elemen-elemen radioaktif banyak
dilepaskan reaktor nuklir. Ribuan ton bahan beracun tersebut telah dilepaskan ke
atmosfir selama puluhan tahun lamanya. 3 Kemerosotan kualitas lingkungan
dibarengi dengan meningkatnya masalah kesehatan, yang utama penyakit menular
dan kekurangan gizi. Pada sisi psikologis, depresi yang hebat, schizofrenia, dan
penyakit-penyakit psikiatris lainnya tampak muncul dari kemerosotan lingkungan
sosial kita.4
Pada konteks tulisan ini, lingkungan hidup dipahami sebagai oikos dalam
bahasa Yunani, yang artinya habitat tempat tinggal atau rumah tempat tinggal.

1
Fritjof Capra. 2002. Jaring-Jaring Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan. Fajar Pustaka:
Yogyakarta. Halaman 11
2
Fritjof Capra. 2007. Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Jejak:
Yogyakarta. Halaman 3
3
Ibid, Halaman 5
4
Ibid, Halaman 7

Halaman 1 dari 13
Tetapi, oikos di sini bukan sekadar rumah tempat tinggal manusia. Oikos dipahami
sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang
terjalin di dalamnya—diantara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan
dengan keseluruhan ekosistem atau habitat. 5
Secara etimologis pula oikos dipahami dalam padanan yang lebih utuh dengan
logos menjadi oikos dan logos, ecology, ekologi. Logos berarti ilmu atau kajian.
Karena itu, lingkungan hidup dapat pula dipahami sebagai sebuah ilmu, yaitu ilmu
tentang ekosistem dengan segala hubungan saling pengaruh diantara ekosistem dan
isinya serta keseluruhan dinamika dan perkembangan yang berlangsung di
dalamnya. Oleh karena itu, lingkungan hidup dipahami sebagai sama artinya dengan
ekologi sebagai berkaitan dengan kehidupan organisme (termasuk manusia) dan
ekosistemnya serta interaksi di antaranya. 6 Ekosistem sendiri di sini dipahami
sebagai "sebuah komunitas organisme dan lingkungan fisiknya yang berinteraksi
sebagai sebuah unit ekologis".7
Abad pertengahan di Eropa boleh jadi merupakan cikal bakal dari seluruh
persoalan ekologi.8 Dimulai pada peristiwa Revolusi Ilmiah yang diprakarsai oleh
Copernicus, Galileo, Descartes, Bacon dan Newton. Dari beberapa tokoh tersebut,
Descartes dan Newton mengambil peran vital dalam mengubah paradigma kita
memandang alam semesta, dimana awalnya alam diartikan sebagai entitas yang
organis, hidup dan spiritualis, berubaha pada pengertian bahwa alam adalah sebuah
mesin dan bersifat mekanistis.
Melalui postulatnya yang masyur, “Cogito Ergo Sum”, Descartes telah
mendikotomikan antara manusia dan alam. “Aku berpikir maka aku ada”
mengindikasikan bahwa hanya yang berakal yang ada, dan yang berakal hanyalah
manusia, dan karena itu, hanya manusia yang ada. Cartesian memberikan
pandangan bahwa pikiran/kesadaran terpisah dengan tubuh, implikasinya adalah
memberikan konstruksi pemikiran bahwa manusia sebagai subjek dan alam sebagai
objek. Prinsip berpikir inilah yang menjadi penyebab adanya paradigma
antroposentrisme. Tidak hanya itu, paradigma antroposentrisme semakin langgeng
dan menyempurna dengan adanya Mekanika Newton. 9 Sejak saat itu pandangan
manusia terhadap alam berubah dari awalnya memandang alam sebagai sistem

5
Sonny Keraf. 2014. Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof
Capra. Edisi Elektronik, Kanisius: Yogyakarta. Halaman 42
6
Ibid, Halaman 44
7
Fritjof Capra. The Web of Life, op.cit., hlm. 33. Dikutip dalam Sonny Keraf. 2014. Filsafat Lingkungan
Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof Capra. Edisi Elektronik, Kanisius:
Yogyakarta. Halaman 45
8
Walaupun pada dasarnya jika ditelisik lebih jauh ke belakang, maka persoalan pemanfaatan sumber daya
alam yang nantinya berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran yang kita lihat pada
zaman ini dimulai pada fase peradaban manusia: dari pola hidup nomaden, ladang berpindahn sampai
pada era feodalisme klasik.
9
Fritjof Capra. 2002. Jaring-Jaring Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan. Fajar Pustaka:
Yogyakarta. Halaman 23

Halaman 2 dari 13
yang organis berubah menjadi pandangan bahwa alam semesta ini bersifat mekanis,
reduksionistis, dan atmomistis—layaknya sebuah mesin raksasa.10
Dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam, gaya atau pola hidup manusia
merupakan aspek yang sangat penting untuk dijadikan bahan analisis kritis. Gaya
atau pola hidup merupakan suatu budaya/kultur masyarakat dalam hal bertindak
atau berperilaku. David Chaney menyatakan bahwa gaya hidup merupakan gaya,
tata cara atau cara menggunakan barang, tempat dan waktu khas kelompok
masayarakat tertentu.11 Kemudian, menurut Yasraf dan Jejen, gaya hidup (life style)
merupakan produk habitus yang diproduksi secara sistematis melalui skema
habitus dan praktik. Gaya hidup dibangun dengan menggunakan, serta untuk
mencapai, modal: economic capital, cultural capital, symbolic capital.12
Gaya hidup erat hubungannya dengan pola konsumtif. Bahkan, gaya hidup
merupakan bagian dari budaya konsumen, dimana gaya hidup akan selalu
dikonstruksi secara sosial-ekonomi di dalam pasar.13 Menurut Carl Gardner,
konsumsi yang kemudian nantinya menjadi budaya dan disebut badaya konsumtif
merupakan proses menghabiskan bahan fungsional di alam untuk mengahancurkan
material atau untuk menggunakan fungsinya. 14 Namun definisi itu menurut Yasraf
dan Jejen tidak melingkupi keseluruhan karena pada kenyataannya manusia tidak
lagi mengonsumsi sesuatu yang material saja tetapi juga sesuatu yang nonmateri
seperti ide, gagasan atau tanda. 15 Lebih jauh, Jean Baudrillard mengatakan bahwa
konsumsi adalah totalitas dari semua objek atau pesan. Tindakan mengonsumsi
adalah tindakan memanipulasi tanda-tanda yang satu sama lain memiliki relasi. 16
Sebagai suatu unsur yang tidak terlepas pisah, terbentunya sebuah gaya atau
pola hidup tentu erat kaitannya dengan sistem sosial yang terbangun. Dalam hal ini
suatu sistem yang mengatur dan atau mengonstruk pola perilaku/etika dan
konsumtif manusia dalam ranah pemanfaatan sumber daya alam. Relasi pola
perilaku/etika dan konsumtif manusia dengan pemanfaatan sumber daya alam atau
diskursus lingkungan diistilahkan sebagai ekologi sosial—suatu diskursus ekologi
berbasis pemahaman ekonomi-politik kaitannya dengan perumusan kebijakan
lingkungan hidup.
Sejak dimulainya fase industri, ambang batas daya dukung lingkungan yang
dapat menunjang kehidupan mahluk hidup secara normal sudah mengalami
pelampauan yang sangat signifikan, kondisi ini menciptakan kerusakan alam dalam

10
Sonny Keraf. 2014. Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof
Capra. Edisi Elektronik, Kanisius: Yogyakarta. Halaman 57
11
David Chaney. 196. Lifestyles. London: Routledge. Dalam, Yasraf Amir Piliang dan Jejen Jaelani. 2018.
Teori Budaya …. Halaman 186
12
Yasraf Amir Piliang dan Jejen Jaelani. 2018. Teori Budaya ….. Halaman 187
13
Ibid. halaman 186
14
Carl Gardner. 1989. Consumming Passion, Unwin & Hyman. Dalam Yasraf Amir Piliang dan Jejen Jaelani.
2018. Teori Budaya …..Halaman 192
15
Ibid. Halaman 192
16
Ibid. Halaman 192

Halaman 3 dari 13
skala planet.17 Industri yang mendasari sistem perekonomiannya dengan nuansa
kapitalistik sudah berperan sangat signifikan dalam menggerus sumber daya alam
secara masif, kapitalisme yang menempatkan logika akumulasi sebagai dasar
sistemnya merupakan sebab.
Kapitalisme sampai kapanpun tidak akan pernah bisa menciptakan
kelestarian lingkungan, imperatif pertumbuhan yang meliputi akumulasi,
eksploitasi, dan ekspansi akan memaksa industri untuk terus memandang alam
sebagai sumber daya yang tidak terbatas, padahal sejatinya sumber daya alam tidak
terbarukan terus mengalami eksploitasi begitupun dengan sumber daya alam
terbarukan yang mulai tercemar dengan berbagai limbah kimia. Hal ini terbukti
melalui penurunan kerusakan lingkungan terjadi saat diberlakukan kebijakan
moratorium dan resesi besar yang menimpa sistem perekonomian. 18
Selain mengalienasi pekerja dari produk yang dihasilkannya, sistem kerja di
bawah kepemilikikan pribadi juga turut mengalienasi manusia dari alam melalui
pandangan yang memandang alam sebagai bahan baku komoditas semata untuk
dipertukarkan sebagai hak milik, serta memisahkan sentuhan manusia dengan alam
melalui proses kerja yang tersentralisasi di pabrik. 19 Selain itu, produk-produk yang
dihasilkan hingga kita konsumsi sehari-hari merupakan produk yang memiliki
resiko bagi tubuh manusia dan alam, namun kita juga ditempatkan dalam posisi
terpaksa mengonsumsi karena tidak punya pilihan lain di luar komoditas yang
dihasilkan industri kapitalisme—seolah-olah kita berkomitmen pada perusakan
alam melalui konsumsi.20
Hal itu jelas erat kaitannya dengan tarik ulur kepentingan yang ada. Kontestasi
politik pada ranah pemanfaatan sumber daya alam—ekologi merupakan unsur yang
sepaket dengan sistem kapitalisme ekologi. Pada konteks ini kita akan masuk dalam
pembahasan tentang etika dan keadilan politik—kaitannya dengan ekologi.
Utilitarianisme, libertarianisme, kontraktarianisme, dan komunitarianisme
merupakan diskursus etika dan keadilan politik yang dimaksud. Ekonomi-politik
ekologi ini merupakan rahim dari lahirnya suatu kebijakan. Maka dari itu, dengan
memahami diskursus tersebut, kita akan mampu mengetahui logika sistem
pengambilan suatu kebijakan, kaitannya dengan pemanfaatan sumber daya alam.
Suatu perubahan sosial dalam kaitannya dengan diskursus ekologi—
sebagaimana yang terjelaskan di atas, memerlukan sebuah gerakan. Gerakan sosial
kritis berbasis paradigma ekologi yang berkeadilan. Suatu gerakan dapat terjadi
tentu memerlukan penggerak—individu dan masyarakat. Sebagai individu dalam
komunal masyarakat, mahasiswa mempunyai identitas sebagai aktor intelektual,

17
Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar. Marjin
Kiri, Halaman 14-19
18
Ibid. Halaman 65-69
19
John Bellamy Foster, penerjemah Pius Ginting, Ekologi Marx Materialisme dan Alam. WALHI & Aliansi
Muda Progresif. Halaman 77-79
20
David Goldblatt, Analisa Ekologi Krisis. Resist Book. Halaman 333-335

Halaman 4 dari 13
dimana konsekuensi logis dari intelektualismenya mesti termanifestasi pada
sebuah gerakan. Gerakan mahasiswa seringkali menjadi pemantik terjadinya
perubahan sosial. Jauh daripada itu, mahasiswa dengan bekal intelektualitasnya,
bukan tidak mungkin akan menjadi aktor vital dalam menangkal ataupun
mengentaskan laju kerusakan ekologi. Sehingga krisis ekologi mampu diredam dan
dikembalikan pada kondisi yang ekuilibrium.
Berdasarkan keseluruhan diskursus itu, maka kegiatan ini berupaya
menjabarkan secara kritis bagaimana kausalitas hadirnya krisis ekologi dengan
merujuk pada empat diskursus utama, yaitu: (a) menelisik aspek paradigma filosofis
ekologi—menjabarkan epistemologi, ontologi, dan aksiologi lingkungan/ekologi;
(b) memahami genealogi dan teori kritis budaya/kultur/gaya atau pola hidup—
upaya perumusan suatu bentuk atau model gaya hidup hijau; (c) menganalisa
diskursus ekologi sosial—menjabarkan analisa ekologi kritis dalam kacamata
ekonomi-politik ekologi kaitannya dengan kebijakan tentang lingkungan hidup; (d)
memahami diskursus gerakan ekososialisme—upaya perumusan gerakan
mahasiswa berbasis paradigma ekologi yang berkeadilan.
Untuk sampai pada ekspektasi tersebut—respon kritis terhadap krisis ekologi,
Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Kehutanan Sylva Indonesia (PC.) Universitas
Hasanuddin (BE Kemahut SI-Unhas) memandang perlunya menciptakan sebuah
wadah bagi mahasiswa untuk memahami diskursus krisis ekologi sampai pada
perumusan suatu gerakan dalam mengentaskan krisis yang ada. Sebagai wadah
intelektual dan perjuangan, BE Kemahut SI-Unhas berupaya merespon
problematika krisis ekologi—sebagaimana yang terjelaskan di atas, dengan cara
membuat sebuah kegiatan pelatihan kepemimpinan.
Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah (LKTM) 2019 merupakan bentuk
pelatihan yang dimaksud. Dengan mengangkat tema “Manifesto Ecoliteracy;
Dekonsolidasi Gerakan Mahasiswa, Respon Krisis Ekologi”, kegiatan ini diharapkan
mampu menjadi wadah penggerak bagi mahasiswa dalam merespon problematikan
krisis ekologi. Sampai nantinya akan membuat sebuah gerakan perubahan berbasis
ekologi yang berkeadilan.

DESKRIPSI UMUM KEGIATAN

 NAMA

Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah (LKTM) 2019

 TEMA

“Manifesto Ecoliteracy; Dekonsolidasi Gerakan Mahasiswa, Respon Krisis Ekologi”

Halaman 5 dari 13
 TUJUAN

Tujuan Umum:

Terwujudnya regenerasi kader dan berkembangnya wacana ilmu


pengetahuan serta gerakan mahasiswa berbasis paradigma ekologis

Tujuan Khusus:

 Membangun paradigma ekologi/lingkungan hidup yang berkeadilan;


 Meningkatkan pemahaman terkait analisa ekologi sosial kritis—ekonomi-
politik dalam kaitannya dengan kebijakan lingkungan hidup
 Meningkatkan pemahaman terkait disukursus dan mampu mempraktikkan
pola hidup hijau;
 Meningkatkan kemampuan analisis dalam mendesain sebuah gerakan
berbasis ekologis

 OUTPUT YANG DIHARAPKAN


Kegiatan ini diharapkan mampu mewujudkan poin-poin berikut ini:
 Meningkatnya pemahaman dan kesadaran peserta terkait paradigma
ekologi yang berkeadilan
Indikator: (a) peserta memahami materi ruangan terkait paradigma
ekologi (dibuktikan dengan adanya review materi dalam bentuk tulisan
dan terlaksananya diskusi refleksi materi); (b) terciptanya suatu
pemahaman kolektif terkait paradigma ekologi yang berkeadilan
(dibuktikan dengan pembangunan pemahaman melalui argumentasi
yang didiskusikan bersama peserta)
 Meningkatnya kapasitas peserta dalam memahami dan menganalisis
diskursus isu dan wacana ekologi sosial
Indikator: peserta memahami materi ruangan terkait ekologi sosial—
ekonomi-politik-kebijakan lingkungan hidup (dibuktikan dengan adanya
review materi ruangan dalam bentuk tulisan dan pelaksanaan diskusi
refleksi materi paska kegiatan)
 Terciptanya kesadaran peserta terkait pentingnya membentuk
budaya/pola hidup hijau
Indikator: (a) peserta memahami materi ruangan terkait ekologi sosial—
ekonomi-politik-kebijakan lingkungan hidup (dibuktikan dengan adanya
review materi ruangan dalam bentuk tulisan dan pelaksanaan diskusi
refleksi materi paska kegiatan); (b) adanya suatu ramuan praktis yang
disusun bersama peserta terkait praktik budaya/pola hidup hijau—
suatu pola atau gaya hidup berbasis ekologi yang berkeadilan
(dibuktikan dengan adanya forum diskusi sebagai wadah pembentukan
kesepahaman bersama peserta)

Halaman 6 dari 13
 Meningkatnya kapabilitas peserta dalam membangun desain gerakan—
khususnya gerakan berbasis ekologi yang berkeadilan
Indikator: (a) peserta memahami materi ruangan terkait tools analisis
dalam bergerak (dibuktikan dengan adanya review materi ruangan
dalam bentuk tulisan dan pelaksanaan diskusi refleksi materi paska
kegiatan); (b) terbangunnya suatu model gerakan lingkungan
(dibuktikan dengan adanya gerakan yang dilakukan paska kegiatan)

 PESERTA
Peserta kegiatan ini merupakan mahasiswa se-Makassar. Jumlah peserta yang
diterima dalam tahap karantina sebanyak 35 orang.

TIMELINE AGENDA KEGIATAN

 PENDAFTARAN
Hari/Tanggal : Senin-Minggu, 11-18 April 2019
Tempat : Sekretariat BE Kemahut SI-Unhas (Kampung Rimba)

 SCREENING DIMENSI
Hari/Tanggal : Senin-Minggu, 15-21 April 2019
Tempat : Sekretariat BE Kemahut SI-Unhas (Kampung Rimba)

 TECHNICAL MEETING DAN PEMBUKAAN


Hari/Tanggal : Rabu, 24 April 2019
Tempat : Aula Fakultas Kehutanan Unhas

 KARANTINA
Hari/Tanggal : Kamis-Minggu, 25-28 April 2019
Tempat : Balai Pelatihan Kehutanan, Makassar

 FOLLOW UP/RENCANA TINDAK LANJUT (RTL)


Hari/Tanggal : Kondisional/Disesuaikan
Tempat : Kondisional/Disesuaikan

Halaman 7 dari 13
MUATAN KEGIATAN

 DIMENSI-DIMENSI SCREENING

1. Keilmuan
Peserta mampu memahami diskursus filsafat
Tujuan Instruksional Umum
ilmu
Tujuan Instruksional Khusus  Definisi ilmu dan pengetahuan
 Definisi dan objek kajian filsafat
(epistemologi, ontologi dan aksiologi)
 Sejarah perkembangan filsafat—ilmu
pengetahuan
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi Maksimal 5 jam

2. Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi

Peserta mampu memahami diskursus


Tujuan Instruksional Umum
kepemimpinan dan keorganisasian
Tujuan Instruksional Khusus  Definisi pemimpin
 Teori dan tipe/gaya kepemimpinan
 Definisi organisasi
 Hakikat dan urgensi organisasi
 Jenis-jenis organisasi
 Manajemen organisasi
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi Maksimal 4 jam

3. Gerakan Mahasiswa
Peserta mampu memahami hakikat dan
Tujuan Instruksional Umum
diskursus gerakan kemahasiswaan
Tujuan Instruksional Khusus  Definisi mahasiswa
 Peran dan fungsi mahasiswa
 Sejarah gerakan mahasiswa
 Gerakan mahasiswa kontemporer
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi Maksimal 4 jam

Halaman 8 dari 13
4. Paradigma/Etika Lingkungan21

Peserta mampu memahami hakikat dan


Tujuan Instruksional Umum
diskursus gerakan kemahasiswaan
Tujuan Instruksional Khusus  Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan,
kaitannya dengan lahirnya paradigma
lingkungan
 Diskursus paradigma antroposentrisme,
biosentrisme dan ekosentrisme
 Efek dari ketiga paradigma tersebut
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi Maksimal 4 jam

 MATERI-MATERI RUANGAN

1. Manusia Modern dan Lingkungan Hidup: Paradigma Ekologi Berbasis


Filsafat, Analisis Gender dan Teologi Pembebasan
Peserta mampu memahami filsafat lingkungan
Tujuan Instruksional Umum hidup/ekologi—relasi manusia dan alam
semesta
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami filsafat lingkungan hidup
 Memahami hakikat ekologi
 Memahami ontologi/paradigma lingkungan
hidup
 Memahami relasi diskursus gender dengan
problematika ekologi
 Memahami relasi teologis dalam kaitannya
dengan problematika ekologi
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±4 jam

2. Krisis Persepsi; Genealogi lahirnya Krisis Ekologi

Peserta mampu memahami genealogi krisis


Tujuan Instruksional Umum
ekologi
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami genealogi/sejarah terjadinya
krisis ekologi
 Memahami diskursus krisis persepsi Fritjof
Capra

21
Rekomendasi refrensi buku untuk dibaca:
1. Sonny Keraf. 2014. Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof
Capra. Edisi Elektronik, Kanisius: Yogyakarta
2. Sonny Keraf. 2002. Etika Lingkungan. Kompas: Jakarta.

Halaman 9 dari 13
 Mampu menaganalisa lahirnya paradigma
baru terkait relasi manusia dan alam semesta
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±3 jam

3. Ekologi Sosial; Analisa Ekologi Kritis


Peserta mampu memahami diskursus sosialisme
Tujuan Instruksional Umum
lingkungan
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami dialektika industrialisme dan
degradasi lingkungan
 Memahami konsekuensi sosioekonomi
degradasi lingkungan
 Memahami diskursus demokrasi ekologis dan
masyarakat resiko
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±4 jam

4. Analisis Kebijakan Publik

Peserta mampu memahami diskursus sistem


Tujuan Instruksional Umum
kebijakan publik
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami definisi, sejarah, dan teori
kebijakan publik
 Mampu menganalisis peran stakeholder
dalam sistem kebijakan publik
 Memahami proses perumusan dan perubahan
kebijakan publik
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±3 jam

5. Politik Ekologi
Peserta mampu memahami diskursus etika dan
Tujuan Instruksional Umum
keadilan politik hijau
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami keadilan politik utilitarianisme,
kontraktarianisme, dan komunitarianisme
terhadap lingkungan hidup
 Memahami prinsip dasar politik hijau
 Memahami implementasi etika politik hijau di
Indonesia
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±4 jam

Halaman 10 dari 13
6. Kapitalisme Ekologi; Dialektika Ekonomi kapital dan Daya Dukung
Lingkungan

Peserta mampu memahami relasi perekonomian


Tujuan Instruksional Umum
kapitalisme dengan krisis ekologi
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami imperatif pertumbuhan dalam
kapitalisme
 Memahami batas daya dukung lingkungan
 Memahami kontradiksi logika ekonomi
kapitalistik dan daya dukung lingkungan
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±4 jam

7. Budaya dan Pola Hidup Hijau: Dialektika Konsumerisme dan Ekologi


Peserta mampu memahami diskursus lahirnya
Tujuan Instruksional Umum budaya/pola hidup kaitannya dengan praktik
gaya hidup hijau
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami genealogi lahirnya budaya/pola
hidup
 Memahami diskursus teori pola/gaya hidup
 Memahami relasi pola hidup konsumtif
dengan krisis ekologi
Metode Diskusi dan brainstorming
Durasi ±3 jam

8. Gerakan Ekologi; Diskursus Prinsip dan Pola Gerakan Lingkungan

Peserta mampu memahami hakikat dan urgensi


Tujuan Instruksional Umum pembangunan gerakan sosial dalam merespon
krisis ekologi
Tujuan Instruksional Khusus  Memahami ideologi ekososialisme sebagai
basis gerakan lingkungan
 Memahami sejarah, prinsip, dan pola gerakan
lingkungan
 Mampu menganalisis dan merumuskan
gerakan lingkungan berbasis paradigma
ekologi yang berkeadilan
Metode Ceramah, diskusi, dan brainstorming
Durasi ±4 jam

9. Logical Framework Analyze (LFA)


Peserta mampu memahami alat bantu
Tujuan Instruksional Umum perencanaan dan perumusan program
menggunakan matriks LFA

Halaman 11 dari 13
Tujuan Instruksional Khusus  Mampu mengidentifikasi masalah dan
merumuskan tujuan gerakan
 Memahami diskursus program/project
 Mampu menganalisis dan memahami situasi
dan strategi
 Memahami penetuan target dan indikator
pencapaian
 Mampu mebuat rancangan kerangka kerja
logis
Ceramah, diskusi, brainstorming, demonstarsi,
Metode
dan atau simulasi
Durasi ±4 jam

*Catatan: Susunan materi ini masih berpotensi untuk berubah

 AKTIVITAS LAINNYA

1. Ice Breaking (Games)


Tujuan Instruksional Umum Menyegarkan psikologi forum
Tujuan Instruksional Khusus  menyegarkan akal pikiran
 menstimulus kefokusan
 menstabilkan mental
Metode Demonstrasi permainan
Durasi 45 menit – 60 menit

2. Focus Group Discussion (FGD)

Tujuan Instruksional Umum Peserta mampu membangun nalar kritis dan


berdialektika aktif dalam forum
Tujuan Instruksional Khusus  mengetahui permasalahan atau isu
kelompoknya
 mengetahui permasalahan atau isu kelompok
lain
 membangun semangat berdiskusi
 membangun nalar praktis dalam penyelesaian
masalah yang ada
 melatih kecakapan berargumentasi
Metode Diskusi, demonstrasi dan brainstorming
Durasi 30 menit-120 menit

Halaman 12 dari 13
PENUTUP

Demikian Term of Reference ini kami buat untuk mempermudah dalam visualisasi.
Semoga Term of Reference ini dapat bermanfaat dan mempermudah dalam
memahami konsep kegiatan.

Terima Kasih.

Salam Rimba!

Salam Perjuangan!

NARAHUBUNG:

Steering Commite : Faisal Al Amin (+62 85342704839)

Organizing Commite : Hasanuddin (+62 82188004400)

Email : lktmkehutanan2019@gmail.com

Halaman 13 dari 13