Anda di halaman 1dari 2

Menjelang akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, model perencanaan muncul di negara-negara

"kapitalis" dalam reaksi terhadap (neo)-analisis Marxis tentang hubungan struktural antara
perencanaan dan masyarakat kapitalis. Dua contoh dari pemikiran tersebut adalah Henri Lefebvre
Le Droitàlaville (1968, 1972) dan Manuel Castells 'The Urban Question (1977).
Menurut sudut pandang dari teori ini, perencanaan dan yang paling utama kegiatan politik yang
ada di dalam Negara kapitalis. Sejalan dengan itu, perencana tidak lagi dilihat sebagai seorang
ahli atau spesialis, melainkan sebagai pelayan/ pegawai dengan bermodalkan ide-ide naïf tentang
hubungan kekuasaan yang sebenarnya-hubungan kekuasaan di mana kekuasaan itu sendiri secara
mendalam dan tak terelakkan. Garis pemikiran (Neo) Marxis, dengan kritik yang berkelanjutan
yang disebut sebagai perencanaan borjuis sebagai fungsi dari Negara kapitalis, menjadi pusat
perhatian dibanyak departemen perencanaan di dunia selama beberapa tahun. Dalam studi kasus
yang sangat penting dalam pengembangan Kota Prancis, Manuel Castells menggambarkan ada
tiga fungsi dalam perencanaan (Castells 1978); menurut penelitian ini, perencanaan adalah suatu
instrumen:

a. Reasionalisasi dan legitimasi


b. negosiasidan mediasi antara tuntutan yang berbeda dari berbagai
kelompok kepentingan, dan
c. regulator atau peraturan untuk tekanan dan protes

Apapun objek dari teori analisis (neo) Marxis adalah (apakah produksi, atau konsumsi, atau
peran negara dalam kaitannya dengan akumulasi modal atau distribusi barang dll), kesimpulan
dari teori ini mengenai fungsi perencanaan selalu tetap sama: perencanaan muncul terutama
dalam pelayanan modal, dan harapan untuk mempengaruhi perubahan dalam situasi ini hanyalah
ilusi selama sistem tetap seperti itu.

Di satu sisi, munculnya pemikiran ini merupakan tantangan yang jelas untuk sekolah-sekolah
tradisional yang berpikir di bidang perencanaan. Disisi lain, teori ini hanya berfungsi untuk
meningkatkan jurang pemisah antara teori dan praktek. Seiring berjalanya waktu, menjadi
semakin jelas bahwa mode (neo) Marxis memiliki efek melumpuhkan pada perdebatan politik.
Olah sebab itu, nilai dari teori analisis (neo) Marxis bias di temukan pada level kritik teoritis dari
pada di perencanaan dasar. Secara khusus, pendekatan teori ini sekali lagi disebut sebagai konsep
“kepentingan umum” menjadi dipertanyakan dan membuat jelas bahwa kelas kepentingan
merupakan pendorong yang kuat.

Bagaimanapun juga, kelemahan dari pendekatan ini adalah teori ini tidak memberikan definisi
baru dari tugas perencana, dan tidak ada arahan tentang apa yang harus benar-benar perencana
lakukan–selain berusaha untuk memecahkan maslah itu sendiri. Jawaban umum seperti
“perencanan dapat menjadi pengungkap kontradiksi dan dengan demikian menjadi agen inovasi
sosial” (see Castells 1978, 88) terlalu lemah untuk menginspirasi generasi perencana.