Anda di halaman 1dari 8

Perbedaan PSAK 30 dengan PSAK 73

Dan pengaruh adanya perubahan terhadap laporan keuangan

Disusun oleh:

Nama :Apriliani panca putri

Nim :041711333024

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019
PSAK 30

Perubahan dalam PSAK 30 (2007) yang semula masih bersifat rule based dengan adanya

program konvergensi ini menjadi principle based, perubahan klasifikasi sewa yaitu

operating lease dan finance lease. Dampak perubahan ini menyebabkan perubahan

perlakuan akuntansi sewa pada entitas, dan apabila entitas tidak tanggap akan perubahan

ini maka akan berdampak pada hasil audit entitas, sehingga sangatlah penting untuk

setiap entitas mulai peduli dan cepat tanggap akan dampak konvergensi tersebut.

PSAK 30 (revisi 2011), sewa merupakan suatu perjanjian

dimana lessormemberikan lessee hak untuk menggunakan suatu aset selama periode

waktu yang disepakati dan sebagai imbalannya, lesseemelakukan pembayaran atau

serangkaian pembayaran kepada lessor. Setiap transaksi lising sekurang-kurangnya

melibatkan dua pihak yang berkepentingan, yaitu lessor sebagai entitas pembiaya atau

pihak yang memberikan jasa pembiayaan kepada pihak lessee dalam bentuk barang mdal,

dan lessee sebagai entitas atau pihak yang memperoleh sewa atau pembiayaan dalam

bentuk barang modal dari lessor.

PSAK 73

Penerapan PSAK 73 memberikan perlakuan akuntansi yang berbeda, terutama

bagi lessee yang melakukan pencatatan. Berbeda dengan PSAK 30 yang memberikan

kriteria yang sama yang digunakan untuk lessee dan lessor dalam menentukan apakah
sewa, PSAK 73 tidak memberikan pedoman yang mirroring. Lessee wajib melakukan

kapitalisasi atas sewa walaupun masa sewa hanya 2 tahun dengan melakukan pengakuan

atas Aset Hak-Guna.

Penerapan PSAK 73 harus memperhatikan hukum positif yang berlaku terkait sewa

sebagaimana diatur dalam KUH Perdata, dan peraturan perundang-undangan terkait

lainnya. Penerapan PSAK 73 juga harus memperhatikan UU No.5 Tahun 1960 tentang

Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UU PA) dan PP No.40 Tahun 1996 tentang Hak

Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah (PP 40/1996) telah

mengatur berbagai jenis hak atas tanah.

Pengaruh terhadap laporan keuangan

Dalam menyusun laporan keuangan, seorang akuntan harus berpedoman pada standar dan

peraturan yang berlaku pada negara masing-masing. Di Indonesia sendiri pedoman dalam

menyusun laporan keuangan dituangkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

atau PSAK. Dalam PSAK telah mencakup hampir segala hal yang berkaitan dengan

akuntansi, yang dalam penyusunannya melibatkan sekumpulan orang yang memiliki

kemampuan dan pengetahuan dalam bidang akuntansi, yang tergabung dalam suatu

lembaga yang dinamakan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).


Salah satu yang dibahas dalam PSAK adalah mengenai sewa, tepatnya pada PSAK 30.

Dalam PSAK 30 ini terakhir kali dilakukan revisi yaitu pada tahun 2011, yang

sebelumnya PSAK yang berlaku adalah PSAK 30 tahun 2007. Namun revisi yang terjadi

pada tahun 2011 ini tidak banyak mengubah isi dari PSAK 30, seperti yang dijelaskan

dalam naskah Exposure Draft (ED) revisi PSAK 30 (2011) ada dua revisi perihal sewa

tanah dan bangunan, serta perihal aset dalam sewa pembiayaan yang diklasifikasikan

sebagai dimiliki untuk di jual.

Dalam penelitian Iswati (2012) mengungkapkan bahwa Pada prinsipnya, PSAK 30 revisi

2007 lebih fokus pada substansi, perusahaan bisa menulis apapun, tetapi sebagai auditor

harus bisa melihat substansi, jadi apapun yang tercatat dilihat substansinya. Pada intinya

tidak ada perbedaan yang signifikan PSAK 30 sekarang dengan yang sebelumnya. Hanya

saja kalau dahulu lebih menitik beratkan pada rule, persyaratan legalformal, namun

sekarang lebih menitik-beratkan pada substansi, bentuknya bisa saja berbeda-beda, bisa

KSO dan sebagainya, tetapi dilihat apa substansinya, jadi secara prinsip kembali ke niat

perusahaan.

Dalam penelitian Harimurti (2013) menyebutkan menurut PSAK 30 (revisi 2011), sewa

merupakan suatu perjanjian dimana lessormemberikan lessee hak untuk menggunakan

suatu aset selama periode waktu yang disepakati dan sebagai

imbalannya, lesseemelakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.

Setiap transaksi lising sekurang-kurangnya melibatkan dua pihak yang berkepentingan,


yaitu lessor sebagai entitas pembiaya atau pihak yang memberikan jasa pembiayaan

kepada pihak lessee dalam bentuk barang mdal, dan lessee sebagai entitas atau pihak

yang memperoleh sewa atau pembiayaan dalam bentuk barang modal dari lessor.

Menurut PSAK 30 (revisi 2011) paragraf 10, sebagaimana dijelaskan dalam ISAK 24

(2011), klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan pada

substansi transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya.

Perubahan dalam PSAK 30 (2007) yang semula masih bersifat rule based dengan adanya

program konvergensi ini menjadi principle based, perubahan klasifikasi sewa yaitu

operating lease dan finance lease. Dampak perubahan ini menyebabkan perubahan

perlakuan akuntansi sewa pada entitas, dan apabila entitas tidak tanggap akan perubahan

ini maka akan berdampak pada hasil audit entitas, sehingga sangatlah penting untuk

setiap entitas mulai peduli dan cepat tanggap akan dampak konvergensi tersebut.

Sewa dalam laporan keuangan lessee dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

 Sewa pembiayaan (finance lease)

 Dalam sewa pembiayaan, lessee mengaku barang modal yang disewanya menjadi aset

dan pembayaran sewanya menjadi liabilitas dalam lapran posisi keuangan lessee. Nilai

yang diakui sebesar nilai wajar aset yang disewakan atau sebesar nilai kini (present

value) dari pembayaran sewa minimum yang telah disepakati mana yang lebih kecil.

Tingkat bunga yang digunakan dalam perhitungan nilai kini dari pembayaran sewa
minimum adalah tingkat suku bunga implisit dalam sewa, jika dapat ditentukan secara

praktis; jika tidak, digunakan suku bunga pinjaman inkremental lessee. Biaya yang

dikeluarkan lessee dalam memperoleh aset sewa dimasukan dalam nilai aset yang diakui

lessee dalam laporan posisi keuangan.

 Jika tidak ada kepastian yang memadai apakah ada perpindahan hak kepemilikan aset

kepada lessee, maka aset sewaan tersebut disusutkan secara penuh selama jangka waktu

yang lebih pendek antara periode masa sewa dan umur manfaatnya.

 Sewa operasi (operating lease)

 Perlakuan akuntansi pada laporan keuangan lessee untuk sewa operasi lebih sederhana

bila dibandingkan dengan sewa pembiayaan. Pembayaran sewa dalam sewa operasi

dilakukan lessee sebagai beban sewa yang dibebankan denagn dasar garis lurus selama

masa sewa kecuali terdapat dasar sitematis lain yang dapat lebih mencerminkan pla

waktu dari manfaat aset yang dinikmati oleh lessee.

Kendala yang Dihadapi pada Penerapan PSAK 30.

Dalam Iswati (2012) sebenarnya auditor tidak mempunyai kendala dengan PSAK 30

karena tidak terlalu debatable. PSAK 30 mencakup leasing, berarti semua perusahaan

yang bergerak dibidang ini (leasing), bisa berupa kendaraan, refinancing, sale and lease

back, dll. Perubaahan PSAK tidak terlalu signifikan. Untuk perusahaan leasing yang lain

misalnya sewa, bisa sewa gedung atau sewa tanah yang keduanya masuk operating lease.
Karena tanah dan gedung tersebut tidak lah tanah dan gedung yang betul-betul

dimodifikasi atau dicatat/dibikin untuk kepentingan klien perusahaan. Salah satu contoh

kasus misalnya KFC, itu termasuk sewa juga, karena dalam perjanjiannya mencakup

sewa gedung dan tanah, namun gedung dan tanahnya sudah dibentuk menurut

kepentingan KFC, kalau dulu hal itu termasuk operating lease, namun pada PSAK 30

sekarang tidak boleh lagi, karena sudah dibentuk untuk kepentingan KFC, setelah sesuai

dengan bentuk permintaan KFC baru di sewa, itu seharusnya tidak masuk sebagai

operating lease, tetapi finance lease karena sewa yang mengalihkan secara substansial

seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada

akhirnya dapat dialihkan, dapat juga tidak dialihkan.

Dampak perubahan perlakuan akuntansi sewa pada entitas ini bukan hanya menjadi

perhatian oleh manajemen saja, namun auditor sebagai pihak yang memeriksa wajar atau

tidaknya suatu laporan keuangan sesuai standar yang berlaku, juga harus memahami dan

mengetahui seluruh isi PSAK, dan setiap perubahan PSAK yang terjadi. Agar dalam

melakukan kegiatan audit, auditor tidak salah langkah atau salah memberikan opini.

Dalam kaitannya dengan PSAK 30 (revisi 2011),dengan melihat pada substansi

perjanjian sewa, maka auditor dapat melihat jika ada potensi kecurangan/salah saji, yang

mungkin disebabkan oleh kekurangpahaman manajemen perusahaan, atau sebab lainnya.

Selain itu, tahapan audit yang dapat dilakukan terhadap akuntansi sewa adalah:

 Pengumpulan dokumen pendukung.


 Mengevaluasi substansi perjanjian sewa sesuai dengan PSAK 30 (revisi 2011).

 Menyesuaikan pencatatan akuntansi atas sewa sesuai dengan perhitungan audit.

 Menguji saldo akhir atas akun-akun yang terkait dengan sewa.

 Memastikan jurnal terkait sewa tidak dicatat pada akun lain yang tidak berhubungan.

 Melakukan cek fisik atas aset sewa.

 Mengecek kejadian setelah tanggal laporan keuangan.

 Membuat analisis mengenai potensi fraud jika ditemukan kesengajaan dalam terjadinya

misstatement.