Anda di halaman 1dari 102

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

SISTEM PEMERIKSAAN KEANDALAN


BANGUNAN DALAM PENCEGAHAN
BAHAYA KEBAKARAN
(STUDI KASUS BANGUNAN PUSAT PERBELANJAAN SOLO SQUARE)

THE INSPECTION OF BUILDING RELIABILITY SYSTEM


IN PREVENTING FIRE HAZARD
( A CASE STUDY AT SOLO SQUARE SHOPPING CENTRE )

TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Gelar Magister Teknik

DISUSUN OLEH :

TRI GUNAWAN
S940809021

MAGISTER TEKNIK SIPIL


KONSENTRASI
TEKNIK REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN SIPIL
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

TRI GUNAWAN, NIM S940809021, 2011, Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan


dalam Pencegahan Bahaya Kebakaran. (Studi Kasus Bangunan Pusat Perbelanjaan
Solo Square), Tesis Program Pasca Sarjana Magister Teknis Sipil Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.
Pembimbing I : S.A. Kristiawan,ST.,M.Sc., Ph.D., Pembimbing II : Ir. B. Heru
Santosa,Mapp.Sc.
Perkembangan bangunan gedung terus meningkat seiring dengan perkembangan
kota. Setiap bangunan gedung mempunyai potensi dan resiko terhadap bahaya kebakaran.
Kebakaran dapat menimbulkan kehilangan jiwa, harta dan benda pada pengguna bangunan
dan lingkungannya. Keselamatan bangunan merupakan suatu keharusan pada sebuah
bangunan. Pembuatan desain sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran pada bangunan
gedung sangat diperlukan, untuk mengetahui tingkat keandalannya. Tujuan penelitian ini
adalah : mendesain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran
dan penerapan sistem tersebut pada bangunan gedung, dengan studi kasus bangunan pusat
perbelanjaan Solo Square.
Pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan
kebakaran menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dengan
membandingkan sistem kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, proteksi pasif, proteksi
aktif dan manejemen, kriteria yang digunakan : pencegahan, pembatasan dan pemadaman
terhadap kebakaran. Pada sistem manajemen pencegahan kebakaran menggunakan kriteria
: tindakan pencegahan dan pengawasan terhadap bahaya kebakaran. Penilaian desain
sistem dilakukan dengan kuisioner pada responden yang memahami/ahli masalah
kebakaran, dan penerapan desain sistem menggunakan survei langsung dan kuisioner
kepada pihak pengelola bangunan.
Hasil analisa berupa desain sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran pada
bangunan gedung dengan penilaian kelengkapan tapak 21%, sistem sarana keselamatan
20%, sistem proteksi pasif 19%, sistem proteksi aktif 24% dan sistem manajemen
pencegahan kebakaran 16%. Sedangkan pada manajemen adalah pemeriksaan dan
pemeliharaan 32 %, pembinaan dan pelatihan 24%, rencana keadaan darurat 21% dan
pekerjaan kerumahtanggaan 23%. Penilaian dilakukan pada level terkecil. Hasil
pemeriksaan pada bangunan pusat perbelanjaan Solo Square menunjukkan bahwa sistem
kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, proteksi pasif, proteksi aktif dan manajemen
adalah “andal” terhadap pencegahan bahaya kebakaran. Penerapan sistem ini mampu
memberikan penilaian yang lebih detail pada sistem pencegahan kebakaran.

Kata kunci : Pemeriksaan, Pencegahan kebakaran, Keandalan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRACT

TRI GUNAWAN,NIM S0809021,2011, The Inspection of Building Reliability System in


Preventing Fire Hazard (A Case Study at Solo Square Shopping Centre). Thesis : Civil
Engineering Department, Post Graduate Programme, Sebelas Maret University of
Surakarta.
The First Commision of Supervision : S.A. Kristiawan,ST.,M.Sc., Ph.D, The Second
Supervision : Ir. B. Heru Santosa,Mapp.Sc.
The Growth of the building still increasing along with growth of the town. Every
building have potential danger and fire risk. Fire can generate losing of soul, object and
estate at building user and their environment. Building safety represent a compulsion of a
building. The making of preventing inspection fire hazard design system is absolutly
needed which is showing the building reliability level it self. The aim of the research is :
how to design inspection building reliability in preventing fire hazard system and applied
at the building, a case study at Solo Square shopping centre.
The Making of building reliability inspection design system in preventing fire
hazard use Analytical Hierarchy Process method (AHP) by comparing site plan equipment,
safety system, passive protection system, active protection system and management. The
criterias used in this method are preventing, demarcation, extinction fire hazard, in
management use fire precaution, and observation of fire danger. Assessment in preventing
design system done with quisioner the people who comprehending in fire. the applied
design inspection use survey and quisioner to the building management.
The result of analysis preventing inspection fire hazard system are site plan
equipment 21%, safety system 20%, passive protection system 19%, active protection
system 24% and management preventing fire hazard system 16%. While at management is
inspection and conservancy 32 %, training and construction 24%, emergency plan 21% and
fire safe housekeeping 23%. Assesment done at smallest level. Result of the inspection in
Solo Square shopping centre indicate that the site plan equipment, safety system, passive
protection system, active protection system and management preventing fire hazard system
is good to prevent fire hazard. The application this parameters give more assessment for
preventing fire hazard system.
Keywords : Inspection, Preventing fire hazard, Reliability

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmad dan hidayahnya, penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Sistem
Pemeriksaan Keandalan Bangunan dalam Pencegahan Bahaya Kebakaran”. Tesis ini
sebagai salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan Program Pascasarjana pada
bidang keahlian Teknik dengan konsentrasi Rehabilitasi dan Pemeliharaan Bangunan Sipil
Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tesis ini mengangkat permasalahan tentang sistem pemeriksaan keandalan


bangunan dalam pencegahan bahaya kebakaran dan penerapan sistem tersebut pada
bangunan pusat perbelanjaan Solo Square untuk mengetahui tingkat keandalanya dalam
pencegahan kebakaran.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih jauh dari
kesempurnaan. Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang
dimiliki penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan untuk kesempurnaan tesis tersebut.

Semoga tesis ini dapat bermanfaat dalam memberikan sumbangan pengetahuan


bagi diri saya pribadi dan pada seluruh pembaca pada umumnya.

Surakarta, Maret 2011

Penulis

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

TRI GUNAWAN, NIM S940809021, 2011, Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan


dalam Pencegahan Bahaya Kebakaran. (Studi Kasus Bangunan Pusat Perbelanjaan
Solo Square), Tesis Program Pasca Sarjana Magister Teknis Sipil Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.
Pembimbing I : S.A. Kristiawan,ST.,M.Sc., Ph.D., Pembimbing II : Ir. B. Heru
Santosa,Mapp.Sc.
Perkembangan bangunan gedung terus meningkat seiring dengan perkembangan
kota. Setiap bangunan gedung mempunyai potensi dan resiko terhadap bahaya kebakaran.
Kebakaran dapat menimbulkan kehilangan jiwa, harta dan benda pada pengguna bangunan
dan lingkungannya. Keselamatan bangunan merupakan suatu keharusan pada sebuah
bangunan. Pembuatan desain sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran pada bangunan
gedung sangat diperlukan, untuk mengetahui tingkat keandalannya. Tujuan penelitian ini
adalah : mendesain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran
dan penerapan sistem tersebut pada bangunan gedung, dengan studi kasus bangunan pusat
perbelanjaan Solo Square.
Pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan
kebakaran menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dengan
membandingkan sistem kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, proteksi pasif, proteksi
aktif dan manejemen, kriteria yang digunakan : pencegahan, pembatasan dan pemadaman
terhadap kebakaran. Pada sistem manajemen pencegahan kebakaran menggunakan kriteria
: tindakan pencegahan dan pengawasan terhadap bahaya kebakaran. Penilaian desain
sistem dilakukan dengan kuisioner pada responden yang memahami/ahli masalah
kebakaran, dan penerapan desain sistem menggunakan survei langsung dan kuisioner
kepada pihak pengelola bangunan.
Hasil analisa berupa desain sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran pada
bangunan gedung dengan penilaian kelengkapan tapak 21%, sistem sarana keselamatan
20%, sistem proteksi pasif 19%, sistem proteksi aktif 24% dan sistem manajemen
pencegahan kebakaran 16%. Sedangkan pada manajemen adalah pemeriksaan dan
pemeliharaan 32 %, pembinaan dan pelatihan 24%, rencana keadaan darurat 21% dan
pekerjaan kerumahtanggaan 23%. Penilaian dilakukan pada level terkecil. Hasil
pemeriksaan pada bangunan pusat perbelanjaan Solo Square menunjukkan bahwa sistem
kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, proteksi pasif, proteksi aktif dan manajemen
adalah “andal” terhadap pencegahan bahaya kebakaran. Penerapan sistem ini mampu
memberikan penilaian yang lebih detail pada sistem pencegahan kebakaran.

Kata kunci : Pemeriksaan, Pencegahan kebakaran, Keandalan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRACT

TRI GUNAWAN,NIM S0809021,2011, The Inspection of Building Reliability System in


Preventing Fire Hazard (A Case Study at Solo Square Shopping Centre). Thesis : Civil
Engineering Department, Post Graduate Programme, Sebelas Maret University of
Surakarta.
The First Commision of Supervision : S.A. Kristiawan,ST.,M.Sc., Ph.D, The Second
Supervision : Ir. B. Heru Santosa,Mapp.Sc.
The Growth of the building still increasing along with growth of the town. Every
building have potential danger and fire risk. Fire can generate losing of soul, object and
estate at building user and their environment. Building safety represent a compulsion of a
building. The making of preventing inspection fire hazard design system is absolutly
needed which is showing the building reliability level it self. The aim of the research is :
how to design inspection building reliability in preventing fire hazard system and applied
at the building, a case study at Solo Square shopping centre.
The Making of building reliability inspection design system in preventing fire
hazard use Analytical Hierarchy Process method (AHP) by comparing site plan equipment,
safety system, passive protection system, active protection system and management. The
criterias used in this method are preventing, demarcation, extinction fire hazard, in
management use fire precaution, and observation of fire danger. Assessment in preventing
design system done with quisioner the people who comprehending in fire. the applied
design inspection use survey and quisioner to the building management.
The result of analysis preventing inspection fire hazard system are site plan
equipment 21%, safety system 20%, passive protection system 19%, active protection
system 24% and management preventing fire hazard system 16%. While at management is
inspection and conservancy 32 %, training and construction 24%, emergency plan 21% and
fire safe housekeeping 23%. Assesment done at smallest level. Result of the inspection in
Solo Square shopping centre indicate that the site plan equipment, safety system, passive
protection system, active protection system and management preventing fire hazard system
is good to prevent fire hazard. The application this parameters give more assessment for
preventing fire hazard system.
Keywords : Inspection, Preventing fire hazard, Reliability

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii
PERNYATAAN .................................................................................................. iv
PERSEMBAHAN ............................................................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................. vi
ABSTRAK ........................................................................................................... vii
ABSTRACT ........................................................................................................ viii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix
DAFTAR ISI ....................................................................................................... x
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiii
DAFTAR NOTASI ............................................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………. 3
1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………….. 4
1.4 Manfaat Penelitian …………………………………………………. 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka …………………………………………………… 5
2.2. Landasan Teori …………………………………………………….. 9
2.2.1 Bangunan Gedung …………………………………………… 9
2.2.2 Bahaya Kebakaran …………………………………………… 11
2.2.3 Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung …………… 13
2.2.4 Manajemen Pencegahan Kebakaran pada Bangunan ……….. 18
2.2.5 Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran pada Bangunan ……… 21
2.2.6 Penilaian Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan ….. 24

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

2.2.7 Pembobotan Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan .. 25


2.2.8 Metode Analytical Hierarchy Proccess (AHP) ……………… 25
2.2.9 Sistem Pengambilan Keputusan ……………………………... 30
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian …………………………………………………… 32
3.2 Langkah Penelitian …………………………………………………. 32
3.2.1 Penyusunan Kuisioner dan Penentuan Responden ………………. 32
3.2.2 Pengumpulan data …………………………………………… 33
3.2.3 Analisa ……………………………………………………….. 34
3.2.4 Langkah Penelitian …………………………………………… 36
BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembuatan Desain Sistem Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran ….. 38
4.1.1 Penilaian/Pembobotan Sistem Pencegahan Kebakaran ……… 39
4.1.2 Penilaian/Pembobotan Sub Sistem Pencegahan Kebakaran …. 51
4.1.3 Penilaian/Pembobotan Komponen Pencegahan Kebakaran …. 60
4.1.4 Batasan dan Tingkat Keandalan Pencegahan Kebakaran …… 62
4.1.5 Interpretasi dan Rekomendasi ……………………………….. 63
4.1.6 Cara Pengisian Sistem Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran .. 65
4.2 Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung, Studi
KasusBangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square …………………. 65
4.2.1 Kelengkapan Tapak …………………………………………. 67
4.2.2 Sarana Penyelamatan ………………………………………… 70
4.2.3 Proteksi Pasif ………………………………………………… 73
4.2.4 Proteksi Aktif ………………………………………………… 75
4.2.5 Manajemen Pencegahan Kebakaran …………………………. 82
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ………………………………………………………… 86
5.2 Saran ………………………………………………………………... 86
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Tipe Konstruksi yang dipersyaratkan ........................................................... 17


Tabel 2.2. Ketahanan Material terhadap Api ................................................................. 17
Tabel 2.3. Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung .............................. 21
Tabel 2.4. Hasil Pembobotan dalam Pencegahan Kebakaran ........................................ 22
Tabel 2.5. Rekapitulasi Pembobotan Sistem Pencegahan Kebakaran ........................... 23
Tabel 2.6. Perbedaan Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran Puslitbang PU dan Peneliti 24
Tabel 2.7. Nilai Perbandingan Tingkat Kepentingan Elemen ....................................... 27
Tabel 2.8. Nilai Random Indeks .................................................................................... 30
Tabel 4.1. Hasil Uji Konsistensi pada Responden ......................................................... 50
Tabel 4.2. Hasil Rata-rata Bobot Sistem Pencegahan Kebakaran .................................. 51
Tabel 4.3. Hasil Rata-rata Pembobotan Sub Sistem Manajemen Pencegahan kebakaran 58
Tabel 4.4. Rekapitulasi Pembobotan Sistem Pencegahan kebakaran Bangunan Gedung 59
Tabel 4.5. Uraian Komponen Pencegahan Kebakaran ................................................... 61
Tabel 4.6. Nilai dan Tingkat Keandalan Pencegahan Kebakaran .................................. 63
Tabel 4.7. Penilaian Tingkat Keandalan Pencegahan Kebakaran .................................. 64
Tabel 4.8. Uraian Rekomendasi Nilai dan Tingkat Keandalan Pencegahan Kebakaran 65
Tabel 4.9. Sumber Air pada Bangunan Solo Square ...................................................... 67
Tabel 4.10. Penilaian Komponen Pencegahan Kebakaran ............................................... 67
Tabel 4.11. Penilaian Hidran Halaman ............................................................................. 70
Tabel 4.12. Rekapitulasi Sub Sistem Pencegahan Kebakaran pada Kelengkapan Tapak 70
Tabel 4.13. Penilaian Jalan Keluar Bangunan .................................................................. 72
Tabel 4.14. Rekapitulasi Sub Sistem Sarana Penyelamatan ............................................. 73
Tabel 4.15. Rekapitulasi Sub Sistem Proteksi Pasif ......................................................... 75
Tabel 4.16. Penilaian Alat Pemadam Api Ringan.............................................................. 76
Tabel 4.17. Penilaian Hidran Gedung ............................................................................... 78
Tabel 4.18. Penilaian Cahaya.............................................................................................. 81
Tabel 4.19. Rekapitulasi Penilaian Sistem Proteksi Aktif ................................................ 82
Tabel 4.20. Penilaian Sub Sistem Manajemen .................................................................. 85

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Sistem yang bekerja pada Bangunan ....................................................... 10


Gambar 2.2. Segitiga Api/fire triangle .......................................................................... 11
Gambar 2.3. Sistem Pencegahan Kebakaran pada Kelengkapan Tapak......................... 14
Gambar 2.4. Sarana Penyelamatan pada Bangunan ....................................................... 15
Gambar 2.5. Beberapa Contoh Sistem Proteksi Aktif pada bangunan .......................... 18
Gambar 2.6. Bagan Perbandingan Kriteria pada Sistem Pencegahan Kebakaran ........ 25
Gambar 2.7. Struktur Hirarki dalam Metode AHP ........................................................ 27
Gambar 2.8. Matrik Perbandingan Preferensi ............................................................... 28
Gambar 3.1. Lokasi pusat perbelanjaan Solo Square di Surakarta ............................... 32
Gambar 3.2. Pembuatan Desain Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan dalam
Pencegahan Kebakaran ............................................................................ 36
Gambar 3.3. Alur Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran pada bangunan Gedung ........ 37
Gambar 4.1. Penentuan Level pada sistem pencegahan kebakaran bangunan .............. 38
Gambar 4.2. Sistem dan sub sistem dalam pencegahan kebakaran .............................. 40
Gambar 4.3. Skema AHP Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung .... 41
Gambar 4.4. Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square .............................................. 66

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR NOTASI

Simbol Keterangan

λmaks : Eigenvalue maksimum


aij : Nilai matriks perbandingan berpasangan
Anxn : Matriks resiprokal
AHP : Analytical Hierarchy Process
Bt : Bobot total
CI : Consistency Index
CR : Consistency Ratio
n : Jumlah komponen/elemen
RI : Random Index
wi : Vektor matriks
W : Bobot komponen/elemen bangunan
Wi : Perkalian elemen matriks dalam satu baris
Xi : Eigenvector (bobot elemen)

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Pembuatan Desain Sistem Pencegahan Kebakaran pada


Bangunan Objek Studi ............................................................................ I
Lampiran 2. Form Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan dalam Pencegahan
Kebakaran ................................................................................................. II
Lampiran 3. Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan dalam Pencegahan Kebakaran
pada Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square ..................................... III
Lampiran 4. Denah Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square .................................. IV
Lampiran 5. Penilaian Uji Konsistensi dengan Metoda AHP ...................................... V
Lampiran 6. Klasifikasi Bangunan Gedung berdasarkan SNI 03-1736-2000 .............. VI
Lampiran 7. Perhitungan Batasan Tingkat Keandalan ................................................. VII

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 1
digilib.uns.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kebutuhan ruang gerak baik yang bersifat terbuka atau tertutup sangat
diperlukan untuk melaksanakan segala aktifitas, seiring perkembangan kota yang
meningkat. Perkembangan tersebut menyebabkan bangunan gedung terus mengalami
pertumbuhan baik secara vertikal maupun horisontal. Pertumbuhan dan penataan
bangunan yang ada, terkadang tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur
bangunan maupun perkotaan. Sehingga bangunan fisik yang dihasilkan, seringkali
kurang memperhatikan bahaya kebakaran. Bahaya kebakaran dapat terjadi pada
bangunan atau site dimana bangunan itu berada. Kebakaran merupakan kejadian
yang tidak diinginkan, karena dapat mengakibatkan kerugian, baik berupa materiil
maupun moril. “Kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh adanya nyala api
yang tidak terkendali sehingga dapat mengancam keselamatan jiwa manusia
maupun harta benda” (Purbo 1995). Saat terjadi kebakaran, api timbul sebagai reaksi
proses rantai antara bahan mudah terbakar (fuel), oksigen dan panas (heat) yang
sering disebut segitiga api (fire triangle). Rangkaian proses oksidasi terus
berlangsung, sampai salah satu elemen pembentuk api berakhir, atau untuk
mencegah terjadinya api, maka salah satu komponen tersebut harus dihindari/diputus.
(Wahadamaputra 2008).

Bahaya utama kebakaran bagi manusia adalah keracunan akibat terhirupnya


asap, sekitar 75% kematian manusia pada bangunan yang terbakar diakibatkan oleh
asap, sekitar 25% kematian disebabkan oleh panas yang ditimbulkan oleh api.
(Juwana 2004). Tingginya suhu akibat kebakaran berpengaruh pada struktur
bangunan yang berakibat retaknya selimut beton bahkan dapat menimbulkan
keruntuhan bangunan. (Tundono 2008). Data dari Puslitbang PU, beberapa hal yang
merupakan penyebab sulitnya penanggulangan dan pengendalian kebakaran antara
lain : terlambat menghubungi Dinas Kebakaran 19,8%, bangunan tanpa peralatan
1
proteksi kebakaran 17,8%, gangguan asap 15,6%, faktor angin 14,7% dan bangunan
commit to user
ditutup rolling door 9,9%. Kurangnya pemahaman tentang bahaya api dan
perpustakaan.uns.ac.id 2
digilib.uns.ac.id

pencegahanya seringkali membuat sistem pencegahan kebakaran tidak menjadi


prioritas dalam desain atau pelaksanaan bangunan. “Resiko kebakaran pada sebuah
gedung menjadi isu penting yang perlu diperhatikan. Permasalahan kebakaran
terjadi apabila sikap bahan bangunan terhadap kebakaran, pencegahan terhadap
kebakaran dalam perencanaan dan perlengkapan pemadam kebakaran sering
ditiadakan…” (Frick 2008).

Untuk melaksanakan fungsi dan kegunaan, bangunan terdiri dari beberapa


sistem, sistem tersebut terdiri dari sub-sub sistem yang membentuk secara integral
dalam satu kesatuan. Pencegahan kebakaran merupakan salah satu sistem bangunan,
yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa, harta dan benda dari bahaya kebakaran.
Kesiapan dan penanganan sebelum terjadinya kebakaran menjadi faktor yang sangat
penting untuk mencegah kebakaran. Berdasarkan UU No 28 tahun 2002, salah satu
persyaratan keselamatan gedung adalah kemampuan bangunan gedung dalam
mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran. Pengamanan kebakaran, yang
menyangkut kegiatan pemeriksaan, perawatan, pemeliharaan, audit keselamatan
kebakaran, dan latihan penanggulangan kebakaran harus dilaksanakan secara
periodik, sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan sarana pencegahan kebakaran
pada bangunan. Masalah pemeliharaan peralatan proteksi kebakaran merupakan
salah satu segi manajemen gedung (Fire protection Management) karena manajemen
yang salah mengakibatkan pengelolaan dan pemeliharaan gedung menjadi buruk.
(Kristiawan, 1989)

Keandalan terhadap bahaya kebakaran merupakan kemampuan bangunan


melakukan perlawanan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kebakaran,
agar perlawanan dapat berjalan optimal (Asmaningprodjo, 2008). Pemeriksaan
terhadap perlengkapan pencegahan kebakaran dari berbagai aspek sangat diperlukan,
baik pada bangunan baru atau yang sudah digunakan, guna menjamin keselamatan
bangunan. Pemeriksaan dan pemeliharaan sarana dan peralatan proteksi kebakaran
baik aktif maupun pasif harus dilakukan secara sistematik dan berkala serta
mengikuti ketentuan dan standar yang berlaku. Hasil pemeriksaan berkala sarana dan
peralatan menentukan diperolehnya sertifikat layak pakai untuk jangka waktu
tertentu (Tundono, 2008). Untuk itu dibutuhkan suatu pedoman yang dapat
commit to user
digunakan pada pemeriksaan terhadap pencegahan kebakaran pada bangunan, guna
perpustakaan.uns.ac.id 3
digilib.uns.ac.id

menghadapi tuntutan perkembangan kota dan permukiman yang semakin kompleks


serta pengendalian dan pengawasan terhadap bahaya kebakaran.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Pencegahan kebakaran merupakan salah satu aspek keselamatan bangunan.
Untuk mengetahui dan menilai tingkat keandalan suatu bangunan terhadap bahaya
kebakaran, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana mendesain sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran yang dapat


diaplikasikan pada bangunan gedung.
2. Bagaimana penerapan/aplikasi sistem tersebut pada bangunan gedung, dengan
studi kasus bangunan pusat perbelanjaan Solo Square di Surakarta.

1.3. TUJUAN
Untuk mengetahui dan menilai tingkat keandalan suatu bangunan terhadap
bahaya kebakaran, maka tujuan dari penelitian tesis ini adalah :
1. Mendesain sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran pada bangunan gedung.
2. Mengetahui penerapan/aplikasi sistem tersebut pada bangunan gedung.

1.4. MANFAAT PENELITIAN


Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran ini dapat digunakan sebagai alat
bantu mengetahui dan menilai kondisi keandalan bangunan gedung terhadap
bahaya kebakaran.
2. Memberikan kemudahan dan prosedur pemeriksaan/penilaian kondisi bangunan
gedung secara menyeluruh yang meliputi kelengkapan tapak, sarana
penyelamatan, sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif dan manajemen
pencegahan kebakaran terhadap bahaya kebakaran.

1.5. BATASAN MASALAH

Untuk memberikan arah yang jelas dalam melaksanakan penelitian, maka


commit to user
rumusan batasan masalah adalah :
perpustakaan.uns.ac.id 4
digilib.uns.ac.id

1. Pembuatan desain dan penerapan pada bangunan gedung ditinjau dari aspek
pencegahan kebakaran, meliputi kelengkapan tapak, sarana penyelamatan,
sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif dan manajemen pencegahan
kebakaran/Fire mangement system.
2. Hasil rekomendasi dari pemeriksaan pencegahan kebakaran pada bangunan
gedung hanya diberikan secara global dan belum mendetail.
3. Komponen biaya tidak diperhitungkan.
4. Objek studi penelitian adalah bangunan pusat perbelanjaan Solo Square di
Surakarta.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

5
11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka


Bangunan gedung dalam melaksanakan fungsi dan kegunaanya mempunyai
kelengkapan yang saling menunjang baik secara langsung maupun tidak langsung, guna
kelancaran dan kenyamanan bangunan. Kebakaran merupakan bahaya yang tidak dapat
diprediksi (unpredictable), kehilangan jiwa, harta dan benda dapat sekejap terjadi akibat
kebakaran. Untuk mengetahui resiko kebakaran dan sumber kebakaran, bangunan
sebagai unit kegiatan harus dipetakan sebagai sarana informasi adanya ancaman dan
potensi bahaya kebakaran. “Prinsip dasar pencegahan penjalaran api dimaksudkan
untuk memastikan bahwa kerusakan yang terjadi akibat kebakaran hanya terbatas pada
bangunan yang terbakar, dan dapat dimengerti bahwa kemungkinan terburuk adalah
kerusakan total struktur bangunan dan isinya.”(Endangsih, 2007). Sistem pencegahan
kebakaran adalah sistem proteksi yang perlu disertakan pada bangunan. Pada
pelaksanaannya, penataan atau perencanaannya harus dilibatkan secara kontinyu pada
saat proses konstruksi secara keseluruhan. Proses konstruksi yang dimaksudkan di atas
adalah dari mulai tahap perencanaan, perancangan, pembangunan, pengoperasian serta
perbaikan dan perawatan. (Rahman, 2003).
Pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan adalah
segala upaya yang menyangkut ketentuan dan persyaratan teknis yang diperlukan dalam
mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung,
termasuk dalam rangka proses perizinan, pelaksanaan dan pemanfaatan/pemeliharaan
bangunan gedung, serta pemeriksaan kelayakan dan keandalan bangunan gedung
terhadap bahaya kebakaran. Pencegahan kebakaran adalah berbagai kegiatan proteksi
terhadap bahaya kebakaran yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran atau
meminimalkan potensi terjadinya kebakaran. Sistem penanggulangan kebakaran adalah
sistem proteksi yang perlu disertakan di dalam bangunan. Khususnya untuk bangunan
fasilitas umum dan/atau bangunan yang mewadahi orang banyak, hal ini menjadi suatu5

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

kewajiban untuk disediakan. Prinsip dasar pencegahan penjalaran api dimaksudkan


untuk memastikan bahwa kerusakan yang terjadi akibat kebakaran hanya terbatas pada
bangunan yang terbakar, dan dapat dimengerti bahwa kemungkinan yang terburuk
adalah kerusakan total struktur bangunan dan isinya. (Endangsih, 2007).
Pentingnya pencegahan kebakaran pada bangunan dengan konstruksi “Critical”
seperti pusat data perlu dikaji secara mendalam, karena hilangnya data akan sangat fatal
bagi pemiliknya. Menurut data NFPA di AS ada 125.000 kebakaran di gedung bukan
perumahan tahun 2001 dengan kerugian 3.231 milyar dolar. Bahkan 43% dari bisnis
tutup akibat kebakaran dan tidak mampu untuk buka kembali, dan 29% yang buka
kembali gagal dalam waktu 3 tahun, terutama akibat hilangnya data bisnis yang sangat
berharga akibat kebakaran. (Avelar, 2003)
Salah satu sistem keselamatan bangunan adalah sistem evakuasi dimana pada
bangunan fasilitas umum menggunakan sistem refuge area yaitu sistem penyelamatan
bahaya kebakaran dengan cara berlindung dalam bangunan 2 lantai di atas atau di bawah
lantai yang terbakar atau dalam suatu area bebas asap dan api pada lantai yang sama
dengan cara menyiapkan tempat pengungsian. Refuge area yang terletak sebelum tangga
kebakaran dapat dilengkapi dengan Pressure vent untuk menciptakan ruang bertekanan
sehingga asap tidak masuk kedalam area atau dengan Smoke vent untuk mengeluarkan
asap dari ruangan. (Petterson, 1993).
Untuk mengetahui pembobotan pada bangunan, salah satu metode yang banyak
digunakan adalah metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang dikembangkan oleh
Thomas L Saaty. AHP merupakan teori pengukuran melalui perbandingan berpasangan
dan bergantung pada penilaian para ahli untuk mendapatkan pembobotan. Pengambilan
keputusan dalam metode AHP yang perlu diketahui adalah permasalahan, kebutuhan dan
tujuan keputusan, kriteria keputusan, subkriteria, stakeholder, kelompok-kelompok yang
terkena dampak dan alternatif-alternatif yang diambil (Saaty, 2008).
Bangunan pusat perbelanjaan umumnya dibangun secara vertikal, menempatkan
fasilitas bioskop pada lantai atas bangunan yang memiliki resiko kebakaran yang tinggi
dengan penggunaan bahan akustik interior yang mudah terbakar, sehingga pada
peristiwa kebakaran akan menyebabkan api berkembang cepat dan mempunyai nilai

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

pelepasan panas yang tinggi, disamping itu penataan interior ruang/lay out tempat duduk
dan jalur keluar yang tidak memenuhi persyaratan jalur keluar akan mengganggu dalam
proses evakuasi. Untuk memberikan keamanan dan keselamatan jiwa dari bahaya
kebakaran pada fasilitas bioskop, maka perlu adanya pemenuhan standar desain sistem
evakuasi kebakaran berupa pintu kebakaran, tangga kebakaran, ruang penyelamatan
sementara dan jalur keluar. Disamping itu perlu adanya pemenuhan sistem proteksi
kebakaran yang terdiri dari sistem proteksi aktif, pasif dan fire safety management.
Penilaian keamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran berdasarkan standar SNI dan
Kepmen PU menggunakan metode AHP dengan membandingkan bagian-bagian dari
sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif, sarana evakuasi dan akses pemadam
kebakaran serta fire safety management. Masing-masing sistem dilakukan pembobotan,
Sedangkan penilaian tingkat resiko penghuni terhadap bahaya kebakaran dibagi dalam
tiga kelompok penilaian, yaitu: kelompok kematian dan terluka, kelompok kehilangan
isi bangunan, dan kelompok potensi kebakaran. (Ornam,2004).
Tri Endangsih (2008) meneliti tentang bangunan pusat perbelanjaan yang
merupakan fasilitas umum (komersial). Desain penataan fungsi kegiatan di dalam
bangunan pusat perbelanjaan seringkali terlalu menekankan tuntutan bisnis. Akibatnya
kepentingan keselamatan keamanan dan kenyamanan pengunjung terabaikan. Untuk
memberikan keamanan dan keselamatan jiwa dari bahaya kebakaran pada bangunan
pusat perbelanjaan, maka perlu adanya pemenuhan standar desain sistem evakuasi
kebakaran berupa pintu kebakaran, tangga kebakaran, ruang penyelamatan sementara
dan jalur keluar. Disamping itu perlu adanya pemenuhan sistem proteksi kebakaran yang
terdiri dari sistem proteksi aktif, pasif dan fire safety management. Tujuan penelitian
adalah mengukur tingkat keandalan dan keamanan bangunan serta tingkat risiko
penghuni terhadap bahaya kebakaran. Parameter keandalan bangunan digunakan standar
National Fire Protection Association (NFPA) 101 life safety code (evaluation for
business occupancy), penilaian keamanan bangunan menggunakan Standar National
Indonesia (SNI) dan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum (Kepmen PU) sedangkan
penilaian tingkat risiko penghuni bangunan digunakan rancangan model kebakaran dan
standar American Society for Testing and Materials (ASTM) Fire Test Standard E 931

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(Standard Practice for Assessment of Fire Risk by Occupancy Classification). Hasil


penelitian menunjukkan bahwa Senayan City sudah menerapkan Standar persyaratan
keamanan bangunan yang ditetapkan, sehingga termasuk dalam kategori aman terhadap
bahaya kebakaran.
N.Vinky Rahman, (2003) dalam penelitiannya bahwa bangunan terdiri dari
sistem yang membentuknya secara integral dalam satu kesatuan. Sistem ini haruslah
terintegrasi dengan baik dalam bangunan. Sistem penanggulangan kebakaran adalah
sistem proteksi yang perlu disertakan di dalam bangunan khususnya untuk bangunan
fasilitas umum dan/atau bangunan yang mewadahi orang banyak, hal ini menjadi suatu
kewajiban untuk disediakan. Pada pelaksanaannya, penataan atau perencanaannya harus
dilibatkan secara kontinyu pada saat proses konstruksi secara keseluruhan. Proses
konstruksi yang dimaksudkan di atas adalah dari mulai tahap perencanaan, perancangan,
pembangunan, pengoperasian serta perbaikan dan perawatan.
Levin, (2007) dalam penelitiannya yang menekankan pada optimalisasi
keseluruhan pada bangunan dan capaian lingkungan memerlukan pertimbangan dan
perhatian untuk menginformasikan keputusan dengan suatu pendekatan ke arah
“penilaian dan evaluasi sistematis bangunan dan lingkungan” yang berdasar atas ekologi
bangunan (SEABEP), SEABEP diperlukan untuk evaluasi kinerja dan assesmen dasar,
assesmen resiko. SEABEP mempunyai perananan penting dalam kontribusi ke
permasalahan lingkungan, SEABEP dapat digunakan untuk meningkatkan atau
membangun kualitas lingkungan.
William, (1995). Peraturan bangunan secara historis telah dikembangkan dan
disusun bergantung pada kelompok tertentu ahli dan persepsi mereka tentang apa yang
diterima berdasarkan tingkat risiko dan biaya apa yang dapat diberikan oleh masyarakat
untuk meningkatkan kesehatan, keselamatan atau kemudahan. Sistem evaluasi peraturan
menyediakan kerangka kerja berbasis komputer yang perubahan diajukan atas dasar
Building Code of Australia (BCA) dapat dinilai secara sistematis. Sistem ini
mengharuskan setiap usulan untuk mengubah BCA agar diidentifikasi secara jelas
secara bersama-sama dengan semua alternatif yang ditetapkan dalam mencapai tujuan
yang diinginkan. biaya langsung dan manfaat diidentifikasi dapat diukur, membuat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

penggunaan data internal dan eksternal. Sistem ini tidak hanya menjadi alat bantu
pengambil keputusan dengan menyediakan semua informasi yang tersedia, tapi juga
menyediakan transparansi kepada proses pengambilan keputusan dan peraturan
pembangunan.
Mekanisme sertifikasi dan labelisasi keandalan bangunan gedung terhadap
kebakaran. Mekanisme ini mengatur tentang penilaian bangunan yang ditinjau dari 4
aspek komponen pencegahan kebakaran yaitu sistem tapak bangunan, sistem sarana
penyelamatan, sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif, kemudian dari setiap
sistem tersebut dijabarkan dalam kriteria lagi, dan kemudian diberi penilaian, serta
petunjuk penilaian beserta tingkat keandalanya terhadap kebakaran, sehingga bangunan
dapat dilakukan penilaian beserta tingkat keandalan dan rekomendasi yang harus
dilakukan. Metode yang digunakan adalah AHP dalam pengambilan keputusannya.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Bangunan Gedung
Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu
dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam
tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatan, baik
untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial,
budaya, maupun kegiatan khusus.(UU No: 28 Tahun 2002). Untuk melaksanakan fungsi
dan kegunaanya bangunan mempunyai kelengkapan yang saling menunjang baik secara
langsung maupun tidak langsung, kelengkapan tersebut terbagi menjadi sistem-sistem
yang saling mendukung guna kelancaran dan kenyamanan pada bangunan. Bangunan
merupakan suatu sistem, “Sistem didefinisikan sebagai suatu susunan bagian-bagian
yang saling berhubungan atau saling tergantung satu sama lain yang membentuk
sebuah kesatuan kompleks dan berlaku untuk satu fungsi”. (Ching: 2002).

Sistem yang terbentuk dalam bangunan dapat dilihat pada Gambar 2.1.

sistem transportasi
dalam gedung

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

10

sistem tata suara


sistem arsitektur
sistem struktur bawah
sistem struktur atas
sistem air kotor/
sistem air bersih limbah

sistem telekomunikasi sistem tata udara

sistem office automatic sistem elektrikal

sistem pencegahan dan


pemadaman kebakaran site plan

Gambar 2.1
Sistem yang bekerja pada bangunan
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Bangunan dapat dikelompokan berdasarkan fungsi dan peruntukannya seperti


pertunjukan, bisnis/komersil, pendidikan, pabrik, institusi, permukiman, penyimpanan/
gudang dan fungsi lainya. Bangunan mempunyai resiko terhadap kebakaran yang
berbeda-beda, tergantung dari fungsi bangunan itu sendiri. ”Setiap bangunan gedung
harus mempunyai persyaratan administratif dan teknis sesuai dengan fungsinya, salah
satu persyaratan teknis adalah persyaratan keandalan, keandalan adalah tingkat
kesempurnaan kondisi perlengkapan proteksi yang menjamin keselamatan, fungsi dan
kenyamanan suatu bangunan gedung dan lingkungannya selama masa pakai dari
gedung tersebut. Persyaratan keandalan meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan,
kenyamanan, dan kemudahan yang ditetapkan berdasarkan fungsi bangunan gedung.
Sedangkan persyaratan keselamatan bangunan gedung meliputi persyaratan
kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan
bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya
petir” (UU No: 28 Tahun 2002). Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan SNI 03 –
1736 – 2000 dapat dilihat pada lampiran 5.

2.2.2. Bahaya Kebakaran

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

11

Api timbul ketika terjadi reaksi proses rantai antara bahan mudah terbakar (fuel),
oksigen dan panas (heat)) yang sering disebut segitiga api ((fire triangle).. Ketika proses
tersebut terjadi dalam suatu ruangan unit hunian, panas akan terus meningkat
meningkat, jika bahan
bakar cukup tersedia dan oksigen terus mengalir hingga suhu mencapai titik bakar
(flasover),
), yaitu ketika suhu lapisan gas panas dalam ruang melebihi 500°C dan flu
fluks
KW/m2. Selanjutnya proses kebakaran semakin menjadi
kalor ke lantai melebihi 20 K
dengan terbakarnya perabotan rumah tangga serta bahan unsur
unsur-unsurr bangunan pada
unit hunian baik secara konveksi, induksi maupun radiasi. (Asmaningprodjo, 2008).

Gambar 2.2 Segitiga Api/Fire T


Triangle
Sumber : Asmaningprodjo, 2008

Ada empat hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan bahaya api yaitu :
penghuni (manusia), isi bangunan (harta), struktur bangunan dan bangunan yang
letaknya berdekatan dengan bangunan yang terbakar. Sedangkan bahaya api meliputi
dua hal yaitu : thermal (suhu
suhu dan nyala api) dan non thermal (asap dan gas beracun).
Bahaya utama pada manusia adalah keracunan asap
asap, sekitar 75% kematian pada
kebakaran gedung (bangunan tinggi) dikarenakan hal tersebut, sedangkan 25% kematian
disebabkan oleh suhu tinggi dalam ggedung.(Tundono, 2008). Kepanikan
epanikan yang timbul
mengakibatkan penghuni seringkali kehilangan orientasi sehingga mengakibatkan
kecelakaan seperti terbentur/terjatuh ataupun terjebak dalam ruangan yang
mengakibatkan luka/cedera yang serius.
serius.(Wahadamaputera, 2008).
Penanda awal adanya api adalah asap, asap merupakan hasil pembakaran yang
dapat menghalangi penglihatan dan mengakibatkan berkurangnya kecepatan penghuni
bangunan dalam mencari jalan keluar, asap mempunyai kecepatan rambat sebesar 1

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

12

m/dt, sementara kecepatan orang normal adalah 1,2 m/dt sedangkan orang hamil adalah
0,8 m/dt, sifat asap sebagai hasil pembakaran yang berbahaya yaitu :
1. Kandungan gas bersifat narkotik yang mempengaruhi sistem kerja syaraf dan
jantung dapat mengakibatkan sesak nafas, kehilangan kesadaran dan kematian.
2. Kandungan gas bersifat iritasi yang merupakan gas beracun yang mampu
mempengaruhi sensor iritasi manusia.
3. Efek panas yang mengakibatkan heat stroke, terbakarnya kulit dan terbakarnya
alat pernafasan.
Asap sebagai hasil pembakaran mempunyai jalur perjalananya sendiri, dengan cara
mengisi ruang demi ruang yang tidak tersekat melalui void, atrium bahkan koridor,
ruang tangga dan ruang lift yang justru merupakan jalur sirkulasi evakuasi penghuni
bangunan. (Wahadamaputra, 2008)
Penyebab terjadinya kebakaran, menurut Kristiawan, (1989) secara umum terdiri dari
tiga faktor antara lain :
1. Faktor manusia, penyebab kebakaran karena faktor manusia secara garis besar
disebabkan oleh :
a. Keawaman seperti awam dalam pengetahuan sifat bahan bakar, barang-barang
berbahaya, suatu tempat yang diisi dengan banyak barang akan berpengaruh
terhadap peningkatan suhu udara sehingga rawan kebakaran.
b. Kelalaian dan kukurang-waspadaan seperti : puntung rokok yang masih berapi
yang dibuang disuatu tempat, lupa mematikan kompor dll.
2. Faktor alam dan lingkungan, faktor ini diakibatkan oleh :
a. Bencana yang timbul akibat faktor alam seperti petir, loncatan muatan listrik
bertegangan tinggi ke suatu benda yang berada di tanah.
b. Bencana yang timbul akibat faktor lingkungan antara lain: lingkungan tanpa
pepohonan/penghijauan, lingkungan tanpa sungai atau selokan, adanya instalasi
minyak dan gas alam, adanya tempat-tempat penyimpanan zat kimia atau
benda-benda mudah terbakar, bangunan yang terlalu berdekatan sering
membuat kendaraan pemadam kebakaran sukar memasuki lokasi kebakaran dll.
3. Faktor mesin, penyebab kebakaran karena faktor mesin antara lain :

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

13

a. Umur mesin yang telah melebihi masa pakainya (life time)


b. Kelelehan logam (fatigue), seperti mesin atau alat yang mendapat tekanan yang
berubah-ubah sehingga melampuai titik kritisnya.
c. Korosi/erosi seperti adanya reaksi dan gesekan pada zat atau cairan yang berada
dalam pipa-pipa minyak sehingga mengakibatkan menipisnya pipa.
d. Aus karena gesekan dengan bahan-bahan lain seperti as pompa, karena gesekan
akan menjadikan as pompa tersebut aus dan patah.
4. Selain faktor di atas, menurut Subyantoro (1989), penyebab terjadinya kebakaran
juga diakibatkan oleh listrik yaitu :
a. Pemakaian kualitas bahan dan peralatan instalasi listrik yang kurang baik.
b. Perencanaan/pemasangan instalasi yang kurang sempurna
c. Kesalahan pemasangan instalasi
d. Kecerobohan pemakai listrik (konsumen)
e. Kurangnya pemeliharaan instalasi.
Tingginya suhu akibat kebakaran berpengaruh juga pada struktur bangunan,
meskipun beton bertulang tahan terhadap kebakaran, namun dapat menyebabkan
menurunnya kekuatan tulangan baja, bila suhu lebih dari4000C pada struktur beton
bertulang, sehingga struktur bangunan akan menggeliat yang berakibat retaknya selimut
beton, bahkan dapat menimbulkan keruntuhan bangunan. (Tundono, 2008).

2.2.3. Pencegahan Kebakaran pada Bangunan

Persyaratan keselamatan bangunan gedung sebagai aspek utama dalam


perlindungan bangunan sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 28 Tahun
2002 tentang Bangunan Gedung yang mengatur tentang persyaratan administratif dan
teknis bangunan gedung di Indonesia. Dalam pasal 19 disebutkan bahwa “Seluruh
bangunan gedung selain rumah tinggal harus dilengkapi dengan sistem proteksi pasif
dan aktif.” Peraturan kebakaran juga terdapat pada Kepmen PU Nomor : 10/KPTS/2000
tentang Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan
Lingkungan serta Kepmen PU Nomor : 11/KPTS/2000 tentang Manajemen
Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan dan ditindaklanjuti dengan Keputusan Direktur

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

14

Jenderal Perumahan dan Permukiman Nomor : 58/KPTS/2002 tentang Petunjuk Teknis


Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung.
Pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan adalah
segala upaya yang menyangkut ketentuan dan persyaratan teknis yang diperlukan dalam
mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung,
termasuk dalam rangka proses perizinan, pelaksanaan dan pemanfaatan/pemeliharaan
bangunan gedung, serta pemeriksaan kelayakan dan keandalan bangunan gedung
terhadap bahaya kebakaran. Berdasarkan Kepmen PU Nomor : 10/KPTS/2000 standar
pencegahan kebakaran pada bangunan dan lingkungan terdiri dari :
1. Sistem Kelengkapan Tapak
Bangunan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sekitarnya, bangunan dibuat
untuk menampung dan mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan manusia,
untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam merespon kebutuhan sosial,
ekonomi dan budaya. Sistem kelengkapan tapak antara lain :
a. Kepadatan bangunan, jarak bangunan satu dengan bangunan yang lain, menjadi
salah satu tingkat kerawanan terhadap kebakaran. Tata letak bangunan seperti
penataan blok-blok bangunan
b. Jalan lingkungan yang digunakan untuk akses dari luar, seperti jalur pemadam
kebakaran, lebar jalan dan jenis perkerasan jalan.
c. Sistem penyediaan air hidran yang merupakan ketersediaan air dalam
memadamkan api.
d. Sumber air yang dapat dijadikan pemadaman seperti air kolam, water tank,
sungai maupun sumber yang lain.

Gambar 2.3. Sistem Pencegahan Kebakaran pada Kelengkapan Tapak


Sumber : Dokumentasi Pribadi

2. Sistem sarana Penyelamatan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

15

Sarana jalan keluar bangunan merupakan bagian dari bangunan yang digunakan
untuk penyelamatan manusia maupun kegiatan lain, agar terhindar dari ancaman
kebakaran. Fungsi sarana penyelamatan agar penghuni bangunan memiliki waktu
yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman, dalam keadaan darurat.
“Sarana penyelamatan adalah akses yang diberikan pada bangunan untuk
mempermudah penyelamatan manusia keluar dari bangunan apabila terjadi
kebakaran”, (Frick dkk. 2008. 163-164) Beberapa aspek yang harus diperhatikan
dalam sarana evakuasi ini adalah :
a. Jalan keluar berupa tangga kebakaran dan jenisnya yang berhubungan dengan
kemudahan pencapaian, tanda/penunjuk arah ke tangga darurat, lebar tangga
darurat dan pintu kebakaran.
b. Konstruksi jalur keluar harus tahan api dan memberi kemudahan dalam
evakuasi untuk memberikan rasa aman kepada penghuni
c. Landasan helikopter untuk penyelamatan, khusunya pada bangunan tinggi
diatas 60 m, karena jangkauan penyelamatan sangat tinggi.

Gambar 2.4. Sarana penyelamatan pada bangunan


Sumber : Dokumentasi Pribadi

3. Sistem Proteksi pasif


Sistem proteksi pasif kebakaran adalah sistem perlindungan bangunan terhadap
kebakaran melalui sifat termal bahan bangunan, penerapan sistem kompartemenisasi
dalam bangunan, serta persyaratan ketahanan api dalam struktur bangunan. Sistem
proteksi pasif dalam bangunan mempunyai tujuan untuk : melindungi bangunan dari
keruntuhan serentak, memberi waktu untuk menyelamatkan diri, menjamin
keberlangsungan fungsi gedung dan melindungi keselamatan petugas pemadam
kebakaran. Sistem proteksi pasif ditekankan pada aspek bahan bangunan, konstruksi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

16

bangunan dan bentuk penataan ruang serta bukaan. Ada tiga hal yang berkaitan
dengan ketahanan bahan bangunan terhadap api yang harus dipenuhi sebagai bahan
konstruksi yaitu :
· ketahanan memikul beban (kelayakan struktur) yaitu kemampuan untuk
memelihara stabilitas dan kelayakan kapasitas beban sesuai dengan standar
yang dibutuhkan.
· Ketahanan terhadap penjalaran api (integritas) yaitu kemampuan untuk
menahan penjalaran api dan udara panas sebagaimana ditentukan oleh standar.
· Ketahanan terhadap penjalaran panas yaitu kemampuan untuk memelihara
temperatur pada permukaan yang tidak terkena panas langsung dari tungku
kebakaran pada temperatur dibawah 1400 c sesuai dengan standar uji ketahanan
api.
Dikaitkan dengan ketahanan terhadap api, struktur bangunan mempunyai 3 (tiga)
tipe konstruksi, yaitu:
a. Tipe A: Konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan mampu
menahan secara struktural terhadap beban bangunan. Pada konstruksi ini terdapat
komponen pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran api ke
dan dari ruangan bersebelahan dan dinding yang mampu mencegah penjalaran
panas pada dinding bangunan yang bersebelahan.
b. Tipe B: Konstruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen penahan api
mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam
bangunan, dan dinding luar mampu mencegah penjalaran kebakaran dari luar
bangunan.
c. Tipe C: Konstruksi yang komponen struktur bangunannya adalah dari bahan
yang dapat terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu menahan secara
struktural terhadap kebakaran.
Jumlah lantai dan tipe konstruksi yang dipersyaratkan pada bangunan dapat dilihat pada
Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tipe Konstruksi yang dipersyaratkan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

17

Jumlah lantai Kelas bangunan/tipe konstruksi


bangunan 2,3,9 5,6,7,8
4 atau lebih A A
3 A B
2 B C
1 C C
Sumber : SNI 03 – 1736 – 2000
Sistem proteksi pasif ditekankan pada aspek bahan bangunan, sikap bagian
bangunan yang terbakar tidak bisa dipisahkan dari ketahanan bahan bangunan terhadap
api, perubahan bahan bangunan oleh kebakaran dapat dilihat dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Ketahanan Material Terhadap Api
BAHAN SIFAT KETAHANAN TERHADAP API
Baja Mengubah bentuknya oleh Krom (Cr) Molibdan (Mo), Nikel (Ni) atau Vanadium
pengaruh panas dapat (V) menghasilkan baja yang memiliki daya tahan
dipengaruhi oleh jenis campuran yang lebih tinggi terhadap panas.
pembentuknya
Beton Bahan bangunan yang tahan api Ketahanan api tergantung pada bahan tambahan yang
digunakan dan apakah ada tulangan baja atau tidak.
Kaca Bahan yang tidak menyala Bukan merupakan bahan yang tahan api karena kaca
memungkinkan radiasi kalor tembus, kaca sangat peka
terhadap perubahan tegangan kalor, akibat kebakaran
kaca cukup cepat pecah
Kayu Pembakaran kayu merupakan Bahan yang tahan api, bila tidak terkena api secara
oksidasi atas unsur asalnya yaitu langsung.
H2o dan CO2 degan O2
Bahan Merupakan bahan yang mudah Dalam keadaan menyala, bahan sintetis
sintetis terbakar dan menyala mengakibatkan tetes cairan yang sulit untuk
dipadamkan, menghasilkan asap tebal dan atau
melepaskan gas beracun.
Sumber : Koesmartadi, “Desain Bangunan yang mengantisipasi Bahaya Kebakaran”,
2008.
4. Sistem proteksi aktif
Sistem proteksi kebakaran aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang terdiri atas
sistem pendeteksian kebakaran baik manual ataupun otomatis, sistem pemadam
kebakaran berbasis air seperti springkler, pipa tegak dan slang kebakaran, serta
sistem pemadam kebakaran berbasis bahan kimia, seperti APAR, pemadam khusus,
peralatan pengendali asap, sistem daya listrik, lift, pencahayaan darurat dan ruang
pengendali operasi.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

18

Gambar 2.5. Beberapa contoh sistem proteksi aktif pada bangunan gedung
Sumber : Dokumentasi Pribadi

5. Pengawasan dan pengendalian


Mengatur tentang pengawasan dan pengendalian mulai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan, pemanfaatan/pemeliharaan.

2.2.4. Manajemen Pencegahan Kebakaran pada Bangunan

Kebakaran pada bangunan berpotensi menimbulkan kehilangan jiwa, harta dan


benda. Manajemen diperlukan dalam menjamin keselamatan bangunan maupun
penghuni bangunan. Manajemen pencegahan kebakaran adalah usaha untuk memelihara
peralatan/perlengkapan pencegahan kebakaran, sehingga dapat digunakan secara optimal
pada saat diperlukan. Manajemen pencegahan kebakaran merupakan bagian dari strategi
untuk memastikan keselamatan secara preventif, membatasi perkembangan api, dan
menjamin keselamatan penghuni, seperti yang tertuang pada bab VI butir 5.4 Kepmeneg
PU No : 10/KPT/2000 yaitu : “Unsur manajemen pengamanan kebakaran (fire safety
management) terutama yang menyangkut kegiatan pemeriksaan, perawatan dan
pemeliharaan, audit keselamatan kebakaran dan latihan penanggulangan kebakaran
harus dilaksanakan secara periodik sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan sarana
proteksi aktif yang terpasang pada bangunan”. Tujuan manajemen pencegahan
kebakaran adalah setiap bangunan gedung harus mampu mengatasi kemungkinan
terjadinya kebakaran melalui kesiapan dan keandalan sistem proteksi yang ada, serta
kemampuan petugas menangani pengendalian kebakaran, sebelum bantuan dari instansi
pemadam kebakaran datang. Menurut Kristiawan, (1989) masalah pemeliharaan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

19

peralatan proteksi kebakaran merupakan salah satu segi manajemen gedung (Fire
protection Management) karena manajemen yang salah mengakibatkan pengelolaan dan
pemeliharaan gedung menjadi buruk.

Bila dikaitkan dengan penerapan model menejemen yang dewasa ini


berkembang, baik manajemen mutu (mengacu pada ISO 9001), lingkungan (mengacu
ISO 14001), kesehatan dan keselamatan kerja (mengacu OHSAS 18001), dimana
masing-masing memiliki 3 macam unsur yaitu manual, prosedur dan instruksi kerja,
ketiga elemen tersebut harus terintegrasi untuk menghasilkan zero defect, zero delay,
zero emisi dan zero akseden, maka pelaksanaan manajemen pencegahan kebakaran
merupakan suatu keharusan.(Lasino, 2005)
Menurut laporan akhir Puslitbang PU, (2005), dalam Kriteria Kelayakan
Penerapan Manajeman Keselamatan Kebakaran (Fire Safety Management) pada
bangunan gedung. Disimpulkan bahwa sistem manajemen bangunan gedung terdiri dari :
1. Pemeriksaan dan pemeliharaan
pemeriksaan dan pemeliharaan sistem pencegahan kebakaran merupakan kegiatan
yang wajib dilakukan guna menjamin keberlangsungan sistem proteksi yang ada
agar berfungsi dengan baik/dalam kondisi andal, yang dilakukan secara berkala dan
harus didokumentasikan untuk kepentingan tindak lanjut, serta audit berkala sistem
pencegahan kebakaran yang ada.
2. Pembinaan dan Pelatihan
pegawai yang berkepentingan terhadap pencegahan kebakaran harus mendapatkan
pelatihan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam usaha
pencegahan, penanggulangan dan evakuasi penghuni/pemakai gedung. Pada saat
terjadi kebakaran, mereka harus mampu memberikan instruksi bagaimana
menghidupkan alarm tanda bahaya, bila menemukan kebakaran, serta memberi
peringatan kebakaran kepada penghuni. Begitu pula terhadap penggunaan peralatan
pemadam api, yang harus mampu dipraktekkan.
3. Rencana keadaan darurat/Fire emergency plan (FEP)
Merupakan rencana yang memuat prosedur yang mengatur “siapa harus berbuat
apa” pada saat terjadi keadaan darurat/emergency yaitu saat terjadinya kebakaran.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

20

Dengan adanya FEP upaya ataupun tindakan pencegahan kebakaran dapat


dilaksanakan secara terpadu, efektif dan efisien. Setiap personil penghuni gedung
baik staf dari manajemen gedung maupun penyewa terutama personil tim keadaan
darurat harus memahami FEP dan menerapkan saat menghadapi kebakaran sesuai
dengan kewenangan dan tanggung jawabnya.
4. Pekerjaan kerumahtanggaan (Fire safe housekeeping)
Setiap kegiatan/pekerjaan fisik yang berlangsung pada bangunan gedung harus
memenuhi ketentuan atau standar keamanan terhadap bahaya kebakaran, khusus
untuk pekerjaan yang bisa menimbulkan panas tinggi, loncatan api dan sebagainya
(hot works) seperti pekerjaan mengelas, mematri atau menggunakan karbit yang
dilakukan didalam bangunan atau sekitar bangunan harus memenuhi persyaratan
keamanan terhadap kebakaran. Penyusunan brosur, leaflet dan poster mengenai fire
safety diperlukan untuk meningkatkan safety awarness, pengetahuan dan
pemahaman prosedur dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.
Sedangkan fungsi manajemen pencegahan kebakaran menurut laporan akhir Puslitbang
PU, (2005), adalah :
a. Merencanakan dan mengorganisir kegiatan-kegiatan pengamanan terhadap
bahaya kebakaran dalam bangunan.
b. Melakukan review dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan pengamanan
terhadap kebakaran yang telah dilakukan.
c. Membina komunikasi dan hubungan baik dengan instansi terkait bahaya
kebakaran.
d. Meningkatkan kinerja sumber daya manusia, sarana dan proteksi kebakaran,
sistem dan metode yang diterapkan.
e. Membina kesadaran dan kesiagaan penghuni dan pemakai gedung secara terus
menerus terhadap bahaya kebakaran.
Berdasarkan Kepmen PU Nomor : 11/KPTS/2000 standar manajemen pencegahan
kebakaran pada bangunan dan lingkungan terdiri dari :
a. Penanggulangan kebakaran kota,
b. Penanggulangan kebakaran lingkungan,

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

21

c. Penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung termasuk ketentuan mengenai


satuan relawan kebakaran, serta pembinaan dan pengendaliannya
Pada tingkat yang paling bawah, penanggulangan kebakaran dimulai pada
bangunan gedung, sebagai unit terkecil dari lingkungan dan perkembangan kota. Jika
setiap unit bangunan mempunyai manajemen yang baik pada pencegahan kebakaran,
maka manajemen lingkungan juga dalam kondisi siap, begitu juga manajemen perkotaan
akan memberikan jaminan keselamatan yang lebih baik kepada warganya.

2.2.5. Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran pada Bangunan

Pemeriksaan dan pemeliharaan sarana dan peralatan proteksi kebakaran baik


aktif maupun pasif harus dilakukan secara sistematik dan berkala serta mengikuti
ketentuan dan standar yang berlaku. Hasil pemeriksaan berkala sarana dan peralatan
menentukan diperolehnya sertifikat layak pakai untuk jangka waktu tertentu. (Tundono,
2008). Sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran pernah
dilakukan oleh Puslitbang PU dalam Mekanisme Sertifikasi dan Labelisasi Keandalan
Bangunan Gedung Terhadap Bahaya Kebakaran. Tujuan dari penelitian tersebut adalah
menyediakan konsep mekanisme sertifikasi dan labelisasi dalam rangka evaluasi fungsi
sebagaimana diatur dalam UUBG. Tinjauan tersebut berdasarkan pada parameter pokok
sistem keselamatan bangunan (KSKB) yang dianalisa menurut SK Kepmeneg PU No :
10/KPTS/2000 dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung
No Sistem Pencegahan Kebakaran No Sistem Pencegahan Kebakaran
I Kelengkapan Tapak IV Sistem Proteksi Aktif
1 Sumber Air 1 Deteksi dan alarm
2 Jalan lingkungan 2 Siamens connection
3 Jarak antar bangunan 3 Pemadam api ringan
4 Hidran halaman 4 Hidran gedung
II Sarana Penyelamatan 5 Sprinkler
1 Jalan Keluar Bangunan 6 Sistem pemadam luapan
2 Konstruksi jalan keluar 7 Pengendalian asap
3 Landasan helikopter 8 Deteksi asap
III Sistem Proteksi Pasif 9 Pembuangan asap
1 Ketahanan api struktur bangunan 10 Lift kebakaran
2 Kompartemenisasi ruang 11 Cahaya darurat
3 perlindungan bukaan 12 Listrik darurat
13 Ruang pengendali operasi

Sumber : SK Kepmeneg PU No : 10/KPTS/2000


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

22

Hasil sistem pencegahan kebakaran pada kelengkapan tapak, sarana penyelamatan,


sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif, dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel. 2. 4 Hasil pembobotan dalam pencegahan kebakaran
Hasil Jajak Pendapat yang dilakukan Puskim Jumlah Bobot
No Parameter KSKB
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 Skore KSKB
I Kelengkapan Tapak
1 Sumber Air 5 5 4 4 5 5 5 6 6 4 3 6 4 5 5 3 5 5 5 4 6 4 6 5 4 4 6 6 5 5 145 27
2 Jalan lingkungan 4 5 6 4 4 4 3 4 5 5 4 5 4 5 5 5 4 5 5 3 4 6 4 3 6 5 5 4 4 4 134 25
3 Jarak antar bangunan 3 3 3 5 4 4 4 4 3 5 6 6 3 5 4 4 5 5 4 6 5 3 5 6 4 4 3 3 4 4 127 23
4 Hidran halaman 6 5 5 4 5 4 5 4 5 3 5 5 3 5 5 4 4 5 4 5 3 5 3 4 4 5 6 5 5 5 136 25
Total 542 100

Hasil Jajak Pendapat yang dilakukan Puskim Jumlah Bobot


No Parameter KSKB
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 Skore KSKB
II Sarana Penyelamatan
1 Jalan Keluar Bangunan 4 4 3 4 3 4 3 4 2 4 4 4 3 4 3 3 2 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 104 38
2 Konstruksi jalan keluar 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 2 4 3 3 3 3 3 96 35
3 Landasan helikopter 2 3 3 2 3 2 3 3 4 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 4 2 3 2 2 2 2 2 2 72 26
Total 272 100

Hasil Jajak Pendapat yang dilakukan Puskim Jumlah Bobot


No Parameter KSKB
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 Skore KSKB
III Sistem Proteksi Pasif
1 Ketah. api struktur bangunan 2 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 5 3 4 3 4 3 4 2 4 4 4 2 3 4 2 2 3 2 3 100 36
2 Kompartemenisasi ruang 4 2 2 3 2 2 3 3 4 2 3 6 3 3 2 2 3 3 4 3 3 3 4 2 3 4 3 2 2 3 88 32
3 perlindungan bukaan 3 2 3 3 3 4 2 2 4 2 3 4 3 3 4 3 4 2 2 2 2 2 3 4 2 3 4 4 2 3 87 32
Total 275 100

Hasil Jajak Pendapat yang dilakukan Puskim Jumlah Bobot


No Parameter KSKB
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 Skore KSKB
IV Sistem Proteksi Aktif
1 Deteksi dan alarm 19 15 16 21 18 15 15 21 18 18 21 15 20 15 16 16 23 24 24 20 20 24 19 18 22 24 15 19 15 15 561 8
2 Siamens connection 13 14 11 22 21 13 22 13 18 18 25 19 20 15 17 17 21 17 17 15 20 12 18 15 16 20 17 17 17 11 511 8
3 Pemadam api ringan 24 15 15 14 19 23 14 15 19 18 18 18 22 19 18 19 12 14 14 24 21 21 22 21 18 22 18 18 18 12 545 8
4 Hidran gedung 23 13 15 14 19 22 14 23 16 19 19 17 23 17 19 22 12 15 15 23 19 20 20 19 17 23 19 19 19 12 547 8
5 Sprinkler 17 24 12 13 19 12 22 24 15 18 18 16 20 15 16 23 14 23 23 24 20 22 23 17 21 21 23 20 23 12 570 8
6 Sistem pemadam luapan 12 14 12 23 17 22 15 12 19 19 19 15 19 14 15 12 15 18 18 13 24 16 16 17 15 19 15 16 15 12 488 7
7 Pengendalian asap 14 17 13 15 19 18 16 15 17 17 20 18 18 14 18 24 17 17 16 17 22 15 18 20 17 18 17 17 17 13 514 8
8 Deteksi asap 16 16 16 21 18 18 22 24 20 19 15 16 17 15 17 18 22 17 22 20 20 22 17 18 21 17 17 18 17 15 551 8
9 Pembuangan asap 16 19 13 17 19 18 21 16 17 17 23 18 16 15 17 18 20 12 12 18 20 14 17 18 16 16 16 17 16 12 504 7
10 Lift kebakaran 12 20 12 20 19 18 17 18 15 20 14 18 17 20 19 21 21 12 12 12 26 17 23 18 13 15 12 18 12 12 503 7
11 Cahaya darurat 12 21 15 19 17 16 19 23 17 15 15 19 15 19 14 20 23 12 12 12 22 19 14 18 18 14 19 17 19 12 507 7
12 Listrik darurat 12 22 15 20 16 15 18 23 15 22 22 17 14 19 12 18 23 15 15 12 19 16 15 19 21 13 15 16 15 12 506 7
13 Ruang pengendali operasi 24 23 14 17 13 16 18 23 17 16 20 19 12 14 16 20 22 12 12 12 23 14 12 18 18 12 12 16 12 12 489 7
Total 6796 100

Sistem Pencegahan Kebakaran


Hasil Jajak Pendapat yang dilakukan Puskim Jumlah Bobot
No Parameter KSKB
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 Skore KSKB
1 Kelengkapan Tapak 5 4 3 5 5 4 3 5 5 3 5 6 6 6 4 5 4 3 3 5 4 5 5 6 4 6 4 5 5 3 136 25
2 Sarana Penyelamatan 4 4 5 4 5 4 5 6 5 6 6 3 5 5 5 4 4 5 4 5 3 5 4 4 3 5 6 5 4 5 138 25
3 sistem Proteksi aktif 3 5 6 6 4 4 4 4 5 5 4 4 4 4 5 5 6 5 5 4 6 5 3 5 6 3 5 6 6 5 142 26
4 sistem Proteksi Pasif 5 6 3 3 4 6 6 5 3 4 6 5 3 3 4 4 5 3 4 4 5 5 6 3 4 4 3 3 3 5 127 23
Total 543 100

Sumber “Mekanisme Sertifikasi dan Labelisasi Keandalan Bangunan Gedung


terhadap Bahaya Kebakaran” 2004.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

23

Rekapitulasi pembobotan sistem pencegahan kebakaran dapat dilihat pada Tabel 2.5
Tabel 2.5 Rekapitulasi Pembobotan sistem pencegahan kebakaran
No Parameter KSKB BOBOT TOTAL
I Kelengkapan Tapak 25
1 Sumber Air 27
2 Jalan lingkungan 25
3 Jarak antar bangunan 23
4 Hidran halaman 25
II Sarana Penyelamatan 25
1 Jalan Keluar Bangunan 38
2 Konstruksi jalan keluar 35
3 Landasan helikopter 27
III Sistem Proteksi Pasif 26
1 Ketahanan api struktur bangunan 36
2 Kompartemenisasi ruang 32
3 perlindungan bukaan 32
IV Sistem Proteksi Aktif 24
1 Deteksi dan alarm 8
2 Siamens connection 8
3 Pemadam api ringan 8
4 Hidran gedung 8
5 Sprinkler 8
6 Sistem pemadam luapan 7
7 Pengendalian asap 8
8 Deteksi asap 8
9 Pembuangan asap 7
10 Lift kebakaran 7
11 Cahaya darurat 8
12 Listrik darurat 8
13 Ruang pengendali operasi 7
Sumber “Mekanisme Sertifikasi dan Labelisasi Keandalan Bangunan
Gedung terhadap Bahaya Kebakaran” 2004.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

24

Perbedaan dan persamaan sistem pemeriksaan antara Puslitbang PU dengan


peneliti dapat dilihat pada Tabel 2.6
Tabel 2.6 Perbedaan Pemeriksaan pencegahan kebakaran Puslitbang PU dan peneliti
No Uraian Puslibang PU Peneliti
1 § Dasar pencegahan § Kepmen PU No:10/KPTS/2002 § Kepmen PU No:10/KPTS/2002
kebakaran § Kepmen PU No:11/KPTS/2002 § Kepmen PU No:11/KPTS/2002

2 § Sistem Proteksi § Kelengkapan Tapak, Sarana § Kelengkapan Tapak, Sarana


Kebakaran Penyelamatan, Sistem Proteksi Penyelamatan, Sistem Proteksi Pasi
Pasif dan Aktif level pertama fdan Aktif serta manajemen level
pertama
3 § Pembobotan Sub § Pada keempat sistem. Level § Hanya pada sistem manajemen
sistem pertama pencegahan kebakaran

4 § Penilaian § Pada Level kedua § Pada Level ketiga

5 § Batasan Penilaian § Belum ada batasan yang pasti § Pada Level terbawah harus
dalam menentukan tingkat memberikan penilaian untuk
keandalan memberikan penilaian yang pasti.

2.2.6. Penilaian Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan


Keselamatan bangunan merupakan kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah
bangunan karena selain berpengaruh terhadap keamanan bangunan itu sendiri juga
menyangkut jiwa pengguna bangunan dan lingkungannya. Keandalan bangunan dalam
pencegahan kebakaran tersebut memiliki hirarki berdasarkan tingkat pengaruhnya
terhadap kelangsungan dan kualitas bangunan beserta kemampuannya dalam memberi
pencegahan kebakaran bagi penggunanya.
Untuk melakukan penentuan skala prioritas pada sistem pencegahan kebakaran
maka dibuat skoring berdasarkan tujuan dari tindakan terhadap keamanan dan
keselamatan (Frick dkk,2008,161) dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Pencegahan kebakaran dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran
2. Pembatasan kebakaran dengan mengurangi luas kebakaran
3. Pemadam kebakaran dengan mengamankan manusia, binatang maupun
gedung/barang dari bahaya kebakaran.
Berdasarkan tujuan pencegahan kebakaran, maka disusun sistem pencegahan
kebakaran pada bangunan. Pembuatan urutan prioritas pencegahan kebakaran didasarkan
pada kelima sistem yaitu kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sistem proteksi pasif,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

25

sistem proteksi aktif dan manajemen pencegahan kebakaran didasarkan pada ketiga
aspek tersebut diatas.
2.2.7. Perhitungan Pembobotan Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan

Perhitungan pembobotan didapat dengan melakukan penilaian sistem


pencegahan kebakaran terhadap yang telah ditentukan. Bobot total didapat dengan
menjumlahkan hasil penilaian terhadap semua kriteria yang ada. seperti terlihat pada
Gambar 2.6

Bobot Sistem
Pencegahan Kebakaran
pada Bangunan

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria ke-n


(Bobot = n1) (Bobot = n2) (Bobot = n3)

Gambar 2.6 Bagan Perbandingan Kriteria pada sistem pencegahan kebakaran

Persamaan yang digunakan untuk menghitung bobot masing-masing sistem


pencegahan kebakaran mengacu kepada metode yang dikembangkan oleh Sibali (2009),
yaitu :

BT = nK1 + nK2 + nK3 +………………………+ nn*Kn (2.1)


Atau dapat dituliskan : BT = ∑Ίw (஦2.) (2.2)

dengan : BT = Bobot Total Sistem Pencegahan kebakaran pada bangunan


nKn = Bobot Kriteria ke n,
n = Banyaknya Kriteria.

2.2.8. Metode Analytical Hierarchy Proccess (AHP)


Untuk membantu pengambilan keputusan dalam pembobotan sistem pencegahan
kebakaran dan pada sub sistem manajemen pencegahan kebakaran, menggunakan
metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang merupakan salah satu metode untuk
menginterpretasikan data-data kualitatif ke data kuantitatif, tidak bias, dan lebih objektif.
AHP dianggap sebagai metode yang tepat untuk menentukan suatu pilihan dari berbagai

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

26

kriteria. Metoda ini digunakan untuk mendapatkan skala perbandingan atau pembobotan
dengan perbandingan pasangan yang diskret maupun kontinyu. AHP memiliki perhatian
khusus tentang penyimpangan dari konsistensi, pengukuran dan ketergantungan di
dalam dan di antara kelompok elemen struktur (Saaty, 1991).
Model pengambilan keputusan dengan metoda AHP pada prinsipnya menutupi
semua kekurangan dari model-model sebelumnya. Kelebihan AHP dibandingkan dengan
yang lainnya :
1. Memiliki hirarki struktur, dar hirarki yang dipilih, sampai pada subkriteria yang
paling bawah.
2. Validitas dihitung sampai dengan toleransi inkonsistensi.
3. Memperhitungkan ketahanan analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
AHP mempunyai kemampuan untuk memecah masalah yang multiobjektif dan
multikreteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam
hirarki. Langkah dalam AHP sebagai berikut :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi.
2. Membuat struktur hirarki, dilanjutkan dengan sub kriteria dan kemungkinan
alternatif-alternatif.
3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan konstribusi
relative atau pengaruh setiap elemen terhadap tiap-tiap tujuan berdasarkan “
judgement “ dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu
elemen dibandingkan dengan elemen yang lainnya.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgement seluruhnya
sebanyak : n x ((n-1)/2) buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang
diperbandingkan.
5. Menghitung nilai eigen untuk menguji konsistensinya , jika tidak konsisten maka
pengambilan data diulangi.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

27

level 1 Tujuan
Tujuan

level 2
Kriteria

Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria


1 2 3 4
level 3
Alternatif`

Alternatif Alternatif Alternatif Alternatif


1 2 3 4
Gambar 2.7 Struktur Hirarki dalam Metode AHP

Saaty, (1980) telah menetapkan suatu skala untuk penilaian, penilaian dengan
angka dari 1 sampai dengan 9 untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu
elemen terhadap elemen lain, sebagaimana dalam Tabel 2.7 :
Tabel 2.7 Nilai Perbandingan Tingkat Kepentingan Elemen
Intensitas Keterangan Penjumlahan
Kepentingan
Kedua elemen sama penting Dua elemen mempunyai pengaruh yang
1
sama besar terhadap tujuan
Elemen yang satu sedikit lebih Pengalaman dan penilaian sedikit
3 penting daripada elemen yang menyokong satu elemen dibandingkan
lainnya elemen yang lainnya
Elemen yang satu lebih penting Pengalaman dan penilaian sedikit
5 daripada elemen yang lainnya menyokong satu elemen dibandingkan
elemen yang lainnya.
Satu elemen lebih mutlak Satu elemen yang kuat disokong dan
7 penting daripada elemen yang dominan terlihat dalam praktek
lainnya
Satu elemen mutlak penting Bukti yang mendukung elemen yang satu
daripada elemen yang lainnya terhadap elemen yang lain memiliki
9
tingkat penegasan tertinggi yang mungkin
menguatkan
Nilai-nilai antara dua nilai Nilai ini diberikan bila ada kompromi
2,4,6,8
pertimbangan yang berdekatan diantara dua nilai pilihan
Kebalikan Jika untuk satu aktivitas I mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas j,
maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i
Sumber : (Saaty, 1980)

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

28

2.2.8.1 Perhitungan Bobot Elemen

Perhitungan bobot elemen pada metode AHP menggunakan matriks


perbandingan berpasangan, Perbandingan berpasangan dilakukan dari hirarki yang
paling tinggi, dimana kriteria digunakan sebagai dasar pembuatan perbandingan.
Misalkan, dalam suatu tujuan utama terdapat kriteria A1, A2,………….,An, maka hasil
perbandingan secara berpasangan akan membentuk matriks seperti dibawah ini:

A1 A2 A …. An

A1 a11 a12 ……. a1n

A2 a21 a22 ……. a2n

……. ……. ……. ……. …….

An an1 an2 ……. ann

Gambar 2.8 Matriks perbandingan Preferensi

Matriks An x n merupakan matriks respirokal, dan diasumsikan terdapat n elemen,


yaitu w1,w2, ………, wn yang akan dinilai secara perbandingan. Nilai
perbandingan secara berpasangan antara (w1,w2) dapat dipresentasikan seperti
matriks tersebut.

(Ůw)
= a ( i,j ) ; i.j = 1,2,……..n. (2.3)
(Ů )

Unsur-unsur matriks tersebut diperoleh dengan membandingkan satu elemen


operasi terhadap elemen operasi lainnya untuk satu tingkat hirarki yang sama.
Sehingga bisa didapat a11 adalah perbandingan kepentingan elemen operasi A1
dengan A1 sendiri, sedangkan a12 adalah perbandingan kepentingan elemen
operasi A1 dengan A2 dan besarnya a21 adalah 1/ a12 , yang menyatakan tingkat
intensitas kepentingan elemen operasi A2 terhadap elemen operasi A1.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

29

2.2.8.2 Pembobotan Kriteria

Untuk mendapatkan bobot dari masing-masing kriteria yaitu dengan


menentukan nilai eigen (eigenvector). Langkah untuk mendapatkan bobot kriteria
sebagai berikut :
1. Melakukan perkalian elemen-elemen dalam satu baris dan diakar pangkat n
seperti dalam persamaan dibawah ini :
Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n (2.4)
2. Menghitung vektor prioritas atau vektor eigen (eigenvector)
Ůw
ż. = ∑ Ůw
(2.5)

Hasil yang didapat berupa vector eigen sebagai bobot elemen


3. Menghitung nilai eigen maksimum ( λmaks ), dengan cara mengkalikan matriks
resiprokal dengan bobot yang didapat, hasil dari penjumlahan operasi matriks
adalah nilai eigen maksimum ( λmaks ).
λmaks = ∑ aij * Xi (2.6)
dengan : λmaks = eigenvalue maksimum
aij = nilai matriks perbandingan berpasangan
Xi = vector eigen ( bobot )
4. Perhitungan Indeks Konsitensi
Perhitungan ini dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi jawaban yang akan
berpengaruh kepada kesahihan hasil. Matriks bobot yang diperoleh dari hasil
perbandingan secara berpasangan harus mempunyai hubungan cardinal dan
ordinal, sebagai berikut :
Hubungan Kardinal : aij * ajk = aik
Hubungan Ordinal : Ai>Aj dan Aj>Ak, maka Ai>Ak
Rumusan untuk menghitung Indeks Konsistensi (Consistention Index) adalah
sebagai berikut :
λ̵aks –
A= ( )
(2.7)

dengan : λmaks = eigenvalue maksimum


n = ukuran matriks

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

30

Untuk mengetahui apakah CI dengan besaran tertentu cukup baik atau tidak,
perlu diketahui rasio yang cukup baik, yaitu apabila CR < 0,1

Berdasarkan perhitungan Saaty dengan menggunakan 500 sampel, jika penilaian


numerik dilakukan secara acak dari skala 1/9,1/8,….1,2….9 akan diperoleh rata-rata
konsistensi untuk matriks dengan ukuran berbeda, sebagai mana pada Tabel 2.8 :

Tabel 2.8 Nilai Random Indeks (Saaty, 1980)


Ukuran Matriks 1 2 3 4 5 6 7 9 10 11 12 13 14 15

RI 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56 1.57 1.59

Perbandingan antara CI dan RI untuk suatu matriks didefinisikan sebagai rasio


konsistensi ( Consistention Ratio/CR ).

= (2.8)

Dalam perhitungan model AHP, matriks perbandingan dapat diterima jika Nilai
Rasio Konsistensi ≤ 0,1. Apabila nilai Nilai Rasio Konsistensi ≥ 0,1 maka penilaian
perbandingan harus dilakukan kembali. Dalam penilaian sistem pencegahan kebakaran
metode yang digunakan adalah metode AHP.

2.2.9. Sistem Pengambilan Keputusan


Sistem Pakar merupakan langkah untuk mengambil keputusan seperti keputusan
yang diambil oleh seorang pakar, dimana Sistem Pakar menggunakan pengetahuan
(knowledge), fakta dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah, yang biasanya
hanya dapat diselesaikan oleh seorang pakar dalam satu bidang keahlian tertentu. Sistem
pakar juga memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan, diantaranya sebagai berikut
(Arhami, M., 2005) :
1. Keunggulan Sistem Pakar, diantaranya dapat:
· Menghimpun data dalam jumlah yang sangat besar.
· Menyimpan data tersebut untuk jangka waktu yang panjang dalam suatu bentuk
tertentu.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

31

· Mengerjakan perhitungan secara cepat dan tepat tanpa jemu mencari kembali
data yang tersimpan dengan kecepatan tinggi.
2. Kelemahan Sistem Pakar, diantaranya adalah:
· Masalah dalam mendapatkan pengetahuan, dimana pengetahuan tidak selalu bisa
didapatkan dengan mudah, karena terkadang pakar dari masalah yang kita buat
tidak ada, kalaupun ada pendekatan yang dimiliki pakar berbeda-beda.
· Untuk membuat suatu sistem pakar yang benar-benar berkualitas yang tinggi
sangatlah sulit dan memerlukan biaya yang sangat besar untuk pengembangan
dan pemeliharaannya.
· Boleh jadi sistem tak dapat membuat keputusan.
· Sistem pakar tidaklah 100% menguntungkan, walaupun seorang tetap tidak
sempurna atau tidak selalu benar. Oleh karena itu perlu diuji ulang secara teliti
sebelum digunakan. Dalam hal ini peran manusia tetap merupakan faktor
dominan.
Dalam proses pegambilan keputusan diperlukan beberapa langkah dari sebuah informasi
yang ada diantaranya yakni :
1. Langkah Pertama, mendefinisikan masalah, Expert Systems (ES) dapat membantu
dalam mendesain alur informasi pada eksekutif (misalnya, bagaimana utuk
memonitor, kapan waktu untuk memonitor) dan dalam penginterpreasian
informasi.
2. Langkah Kedua, menganalisis masalah. Analisis bisa bersifat kualitatif, kuantitatif
ataupun kombinasinya.
3. Langkah Ketiga, memilih solusi, keputusan dibuat dengan memperhatikan
masalahnya berdasarkan hasil dari analisis.
4. Langkah Kempat, pelaksanaan solusi, keputusan untuk mengimplementasikan
solusi tertentu dilakukan.
Sistem pakar digunakan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan desain sistem
pencegahan kebakaran dalam pembobotan pencegahan kebakaran.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
32

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian tesis adalah bangunan pusat perbelanjaan Solo Square yang
berlokasi di Jl. Brigjen Slamet Riyadi Surakarta, bangunan tersebut mempunyai
jumlah lantai 6 terdiri dari 5 lantai dan 1 basement. lokasi Solo Square dapat dengan
mudah dijangkau karena letaknya di jalan utama, lokasi Solo Square dapat dilihat
pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Lokasi pusat perbelanjaan Solo Square di Surakarta

3.2. Langkah Penelitian


3.2.1. Penyusunan Kuisioner dan Penentuan Responden
3.2.1.1. Kuisioner
Kuisioner disusun mengacu pada aspek-aspek yang telah ditentukan. Kuisioner
dibagi menjadi dua yaitu :
1. Kuisioner untuk pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan
dalam pencegahan kebakaran. Kepada para Responden/pakar yang mengetahui
tentang masalah kebakaran/pencegahan kebakaran. Indikator terukur
menggunakan persamaan 2.1. Format Kuisioner dapat dilihat pada lampiran 1.
2. Kuisioner untuk pemeriksaan keandalan dalam pencegahan kebakaran pada
objek studi. Format kusioner dapat dilihat pada lampiran 1
3.2.1.2. Responden
commit to user 32
Responden pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
33

1. Pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan


kebakaran adalah pihak-pihak terkait/membidangi/pakar masalah kebakaran
pada bangunan yaitu :
a. Pihak Puslitbang Permukiman PU, bidang Kebakaran.
b. Pihak yang pernah melakukan penelitian bidang kebakaran atau anggota
peneliti.
Dari 2 (dua) kategori responden tersebut, kuisioner meliputi para ahli atau yang
diberi kuasa untuk mewakili, bidang terkait.
2. Pemeriksaan keandalan dalam pencegahan kebakaran pada objek studi yaitu :
Pihak pengelola/manajemen gedung.

3.2.2. Pengumpulan Data

3.2.2.1.Data Primer
Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :
1. Data primer untuk pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan
dalam pencegahan kebakaran. Menggunakan sistem kuisioner kepada responden
yang memahami masalah kebakaran. Kuesioner yang digunakan bersifat terbuka
dan terbatas, untuk memperoleh data yang menggambarkan kecenderungan
persepsi dari pengisi kuesioner. Data digunakan untuk menentukan pembobotan
pada sistem pencegahan kebakaran yaitu : kelengkapan tapak, sarana
penyelamatan, sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif dan manajemen
pencegahan kebakaran. Sistem manajemen pencegahan kebakaran menggunakan
responden yang sama dalam penentuan pembobotannya.
4. Data primer untuk pemeriksaan keandalan dalam pencegahan kebakaran pada
objek studi dilakukan dengan kuisioner kepada pihak manajemen
pemilik/pengelola bangunan dan pengamatan langsung.
3.2.2.2.Data Sekunder

Untuk menambah sumber informasi tentang pencegahan kebakaran, maka


data sekunder dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Data sekunder untuk pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan


dalam pencegahan kebakaran yaitu studi literatur dan peraturan perundangan
atau sumber lainnya. commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
34

2. Data sekunder untuk pemeriksaan keandalan dalam pencegahan kebakaran pada


objek studi yang didapatkan dari pengelola bangunan selaku penanggung jawab
pelaksana, meliputi gambar Construction Drawing, As Built Drawing dan
sumber informasi lain yang diperlukan didalam pemeriksaan pencegahan
kebakaran.
3.2.3. Analisa

3.2.3.1.Pengujian Validitas dan Reliabilitas


Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen menggunakan metode AHP.
3.2.3.2.Analisa Data
Data-data dari hasil kuisioner/observasi dan data-data sekunder yang sudah
terkumpul kemudian dikompilasi dan diidentifikasi sesuai dengan rencana
penggunaan data tersebut untuk pengkajian suatu aspek. Kemudian dilakukan proses
analisa, analisa data dilakukan dalam dua tahap yang meliputi :
1. Analisa pembuatan desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam
pencegahan kebakaran. Dilakukan dengan pengisian kuisioner menggunakan
persamaan 2.1 untuk mengetahui pembobotan pada kelima aspek sistem
pencegahan kebakaran, yaitu : kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sistem
proteksi pasif, sistem proteksi aktif dan manajemen pencegahan kebakaran.
Selanjutnya data yang terkumpul dilakukan penilaian dan pembobotan dengan
metode AHP. Penilaian didasarkan pada aspek pencegahan kebakaran,
pembatasan kebakaran dan pemadaman kebakaran.
2. Analisa pemeriksaan pencegahan kebakaran pada objek studi. Dilakukan pada
kelima aspek pencegahan kebakaran, dengan menggunakan desain yang
direncakanan yaitu :
a. Kelengkapan tapak
b. Sarana penyelamatan
c. Sistem proteksi pasif
d. Sistem proteksi aktif
e. Manajemen pencegahan kebakaran/Fire mangemen system;
3.2.3.3 Variabel sistem pencegahan kebakaran

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
35

Variabel penelitian hanya digunakan untuk pembuatan desain sistem


pemeriksaan keandalan dalam pencegahan kebakaran. Variabel sistem pencegahan
kebakaran meliputi :
1. Kelengkapan tapak
2. Sarana penyelamatan
3. Sistem proteksi pasif
4. Sistem proteksi aktif
5. Manajemen pencegahan kebakaran/Fire mangemen system;
Pada pemeriksaan pencegahan terhadap kebakaran, bangunan terdiri dari
beberapa bagian yang saling bekerja untuk melaksanakan fungsi dan kegunaanya,
pada sistem tersebut dibuat sub sistem untuk mengetahui adanya bagian yang
memberikan pengaruh pada sistem yang ada, kemudian sub sistem ini dijabarkan lagi
menjadi komponen-komponen satu sama lain yang saling berhubungan dan
merupakan satu kesatuan sehingga ditingkat yang lebih kecil, komponen ini dapat
menggambarkan bagian dari sub sistem yang bekerja
3.2.3.4. Variabel Manajemen Pencegahan Kebakaran

Pencegahan kebakaran tidak dapat mengandalkan hanya pada bangunan


maupun sistem keselamatanya saja, akan tetapi juga pada penghuni/pengguna
bangunan selaku objek yang dilindungi, manajemen pencegahan kebakaran sangat
berperan dalam pencegahan kebakaran untuk menjaga tetap berfungsinya seluruh
sistem pencegahan kebakaran serta kesiapan penghuni menghadapi kebakaran.
Dengan adanya manajemen ini maka pencegahan kebakaran dapat diupayakan secara
optimal. Variabel yang digunakan didasarkan pada faktor manusia, sistem
pemeliharaan, dan komunikasi, variabel pada sistem manajemen adalah :
1. Pemeriksaan dan pemeliharaan
2. Pembinaan dan pelatihan
3. Rencana keadaan darurat (Fire Emergency Plan)
4. Pekerjaan kerumahtanggaan (Fire Safe Housekeeping)
Setelah penilaian kondisi bangunan dilakukan, selanjutnya dapat memberikan
rekomendasi untuk melakukan sistem perbaikan/rehab guna mendapatkan keandalan
bangunan yang baik.
3.2.4.Langkah Penelitian commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
36

3.2.4.1.Pembuatan desain Sistem Pemeriksaan Keandalan bangunan dalam


Pencegahan Kebakaran
Untuk pembuatan desain sistem pencegahan kebakaran, diperlukan suatu
daftar/instrumen yang dapat digunakan untuk menentukan keandalan bangunan,
langkah pembuatan desain seperti terlihat pada Gambar 3.2.

MULAI

PEMERIKSAAN KEANDALAN
BANGUNAN DALAM
PENCEGAHAN KEBAKARAN

PENGUMPULAN DATA
QUESIONER
STUDI PUSTAKA
PERATURAN
PERUNDANGAN

PENYUSUNAN FORMAT
PEMERIKSAAN

ANALISA PEMBOBOTAN DAN


PRIORITAS PEMERIKSAAN

SISTEM PEMERIKSAAN
DALAM PENCEGAHAN
KEBAKARAN

NILAI KONDISI
KEANDALAN BANGUNAN
TIDAK REKOMENDASI
DALAM PENCEGAHAN
KEBAKARAN

AMAN PERBAIKAN

SELESAI

Gambar 3.2.
Pembuatan Desain Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan
dalam Pencegahan Kebakaran

3.2.4.2. Pemeriksaan Keandalan dalam Pencegahan Kebakaran pada bangunan


commit to user
Studi Kasus Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square Surakarta
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
37

Sistem yang telah dibuat kemudian digunakan untuk melakukan


pemeriksaan/penilaian keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran pada
bangunan. Dengan objek studi bangunan pusat perbelanjaan Solo Square yang
berlokasi di kota Surakarta, seperti terlihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3
Alur Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung
Studi Kasus Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

38
11

BAB IV
HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Pembuatan Desain Sistem Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran


Pembuatan desain sistem pencegahan kebakaran pada sebuah bangunan, dengan
melakukan proses urutan parameter penilaian dari yang terbesar, kemudian
dibuat/dikembangkan menjadi sub bagian yang lebih kecil lagi. Penentuan penilaian
sistem pemeriksaan keandalan bangunan terhadap pencegahan kebakaran dilakukan
dalam 3 tahapan, seperti pada Gambar 4.1 yang meliputi :
· Pembobotan pada level 1 yaitu sistem pencegahan kebakaran
· Pembobotan pada level 2 yaitu sub sistem pencegahan ke

bakaran.
· Pembobotan pada level 3 yaitu penilaian komponen yang merupakan penjabaran
dari sub sistem pencegahan kebakaran
Gambar 4.1 Penentuan Level pada sistem pencegahan kebakaran bangunan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

39

Pengambilan data dilakukan dengan melalui quesioner yang diedarkan terhadap


responden, penelitian ini bersifat gabungan antara kualitatif dengan kuantitatif, yaitu
dengan pendekatan kualitatif untuk menginterpretasikan data-data kedalam data
kuantitatif. Jumlah responden tidak mengikat, didalam menentukan pembobotan dalam
sistem pencegahan kebakaran.

4.1.1. Penilaian/pembobotan pada Sistem Pencegahan Kebakaran

Bangunan gedung tersusun dari sistem-sistem yang bekerja dan berfungsi pada
suatu bangunan. Setiap sistem diuraikan menjadi sub sistem, misalnya pada manajemen
pencegahan kebakaran yang dikembangkan menjadi 4 sub sistem. Untuk perhitungan
pembobotan pada masing-masing sistem pencegahan kebakaran, terlebih dahulu harus
diketahui kondisi dan bobot masing-masing sistem pada sebuah bangunan. Perhitungan
bobot pada penelitian ini menggunakan metode AHP, dengan langkah perhitungan bobot
sebagai berikut :

1. Menyusun hirarki pencegahan kebakaran pada bangunan gedung.


2. Kriteria yang digunakan adalah kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sistem
proteksi pasif, sistem proteksi aktif dan manajemen pencegahan kebakaran.
3. Memberikan penilaian kepentingan antar sistem pencegahan kebakaran berdasarkan
masing-masing kriteria.
4. Melakukan perhitungan bobot sistem pencegahan kebakaran pada bangunan
gedung dan mengecek konsistensi penilaian dengan metode AHP.

Penentuan kriteria yang digunakan dalam penilaian bobot berdasarkan tujuan


dari tindakan terhadap keamanan dan keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Skema
hirarki pencegahan kebakaran bangunan gedung dalam penelitian ini diuraikan dalam
Gambar 4.2

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

40

Gambar 4.2 Sistem dan sub sistem dalam pencegahan kebakaran

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

41

Perhitungan dilakukan dengan membandingkan nilai pada masing-masing sub


komponen terhadap masing-masing kriteria yang digunakan. Susunan hirarki
pencegahan kebakaran dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Pencegahan Kebakaran
pada Bangunan Gedung

Kelengkapan Sarana Proteksi Proteksi Manajemen


Tapak Penyelamatan Pasif Aktif

Pencegahan Pembatasan Pemadaman


Kebakaran Kebakaran Kebakaran
Gambar 4.3
Skema AHP Sistem Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung

Langkah berikutnya, setiap sistem pencegahan kebakaran dilakukan penilaian


perbandingan untuk masing-masing kriteria, dengan perhitungan sebagai berikut :
1) Perhitungan bobot pencegahan kebakaran pada bangunan berdasarkan kriteria :
a. Perbandingan acuan pencegahan kebakaran dalam menunjang keselamatan
bangunan, dilakukan penilaian dengan urutan sebagai berikut :
· Kelengkapan Tapak : Sarana Penyelamatan = 5 : 1 artinya kelengkapan
tapak lebih penting dalam menunjang pencegahan kebakaran daripada
sarana penyelamatan.
· Kelengkapan Tapak : Proteksi Pasif = 3 : 1 artinya kelengkapan tapak
sedikit lebih penting dalam menunjang pencegahan kebakaran daripada
proteksi pasif.
· Kelengkapan Tapak : Proteksi Aktif = 5 : 1 artinya kelengkapan tapak
lebih penting dalam menunjang pencegahan kebakaran daripada proteksi
aktif.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

42

· Kelengkapan Tapak : Manajemen = 3 : 1 artinya kelengkapan tapak


sedikit lebih penting dalam menunjang pencegahan kebakaran daripada
manajemen.
· Sarana Penyelamatan : Proteksi Pasif = 1 : 1 artinya sarana penyelamatan
sama penting dengan proteksi pasif dalam menunjang pencegahan
kebakaran.
· Sarana Penyelamatan : Proteksi Aktif = 3 : 1 artinya sarana penyelamatan
sedikit lebih penting dalam menunjang pencegahan kebakaran daripada
proteksi aktif.
· Sarana Penyelamatan : Manajemen = 1 : 1 artinya sarana penyelamatan
sama penting dengan manajemen dalam menunjang pencegahan kebakaran.
· Proteksi Pasif : Proteksi Aktif = 3 : 1 artinya proteksi pasif sedikit lebih
penting dalam menunjang pencegahan kebakaran daripada proteksi aktif.
· Proteksi Pasif : Manajemen = 1 : 1 artinya proteksi pasif sama penting
dengan manajemen dalam menunjang pencegahan kebakaran.
· Proteksi Aktif : manajemen = 1 : 1 artinya sistem proteksi aktif sama
penting dengan manajemen dalam menunjang pencegahan kebakaran.
Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam
bentuk matriks 5 x 5, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tapak Penyl Pasif Aktif Manajemen

Tapak 1.000 5.000 3.000 5.000 3.000


Penyelamatan 1/5 1.000 1.000 3.000 1.000
Pasif 1/3 1/1 1.000 3.000 1.000
Aktif 1/5 1/3 1/3 1.000 1.000
Manajemen 1/3 1/1 1/1 1/1 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

43

Baris I : Wi = ( 1,00 x 5,00 x 3,00 x 5,00 x 3,00)1/5 = 2,954


Baris II : Wi = ( 0,20 x 1,00 x 1,00 x 3,00 x 1,00)1/5 = 0,903
Baris III : Wi = ( 0,33 x 1,00 x 1,00 x 3,00 x 1,00)1/5 = 1,000
Baris IV : Wi = ( 0,20 x 0,33 x 0,33 x 1,00 x 1,00)1/5 = 0,467
Baris V : Wi = ( 0,33 x 1,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00)1/5 = 0,803
Wi = 6,127
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot sistem kelengkapan tapak X1 = 2,954/6,127 = 0,482
Bobot sistem sarana penyelamatan X2 = 0,903/6,127 = 0,147
Bobot sistem proteksi pasif X3 = 1,000/6,127 = 0,163
Bobot sistem proteksi aktif X4 = 0,467/6,127 = 0,076
Bobot sistem manajemen X5 = 0,803/6,127 = 0,131

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6


1.000 5.000 3.000 5.000 3.000 0.482 2.483
1/5 1.000 1.000 3.000 1.000 0.147 0.767
1/3 1/1 1.000 3.000 1.000 0.163 0.831
1/5 1/3 1/3 1.000 1.000 0.076 0.407
1/3 1/1 1/1 1/1 1.000 x 0.131 = 0.679

λmaks = ∑ aij * Xi 5,166

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ,࿀
ż6 Ͳ = = 0,042
࿀ ࿀

Dengan ukuran matriks n = 5 dari tabel RI didapat nilai RI = 1,12, sehingga


nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8
, ෪
żƅ Ͳ = = 0,037
࿀,࿀
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,037 < 0,1 ( Ok ).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

44

b. Perbandingan acuan pembatasan kebakaran dalam menunjang keselamatan


bangunan, dilakukan penilaian dengan urutan sebagai berikut :
· Kelengkapan Tapak : Sarana Penyelamatan = 1 : 3 artinya sarana
penyelamatan sedikit lebih penting dalam menunjang pembatasan
kebakaran daripada kelengkapan tapak.
· Kelengkapan Tapak : Proteksi Pasif = 1 : 1 artinya kelengkapan tapak
sama penting dengan proteksi pasif dalam menunjang pembatasan
kebakaran.
· Kelengkapan Tapak : Proteksi Aktif = 1 : 7 artinya proteksi aktif lebih
mutlak penting dalam menunjang pembatasan kebakaran daripada
kelengkapan tapak.
· Kelengkapan Tapak : Manajemen = 1 : 1 artinya kelengkapan tapak
sama penting dengan manajemen dalam menunjang pembatasan kebakaran.
· Sarana Penyelamatan : Proteksi Pasif = 1 : 3 artinya proteksi pasif sedikit
lebih penting dalam menunjang pembatasan kebakaran daripada sarana
penyelamatan.
· Sarana Penyelamatan : Proteksi Aktif = 1 : 3 artinya proteksi aktif sedikit
lebih penting dalam menunjang pembatasan kebakaran daripada sarana
penyelamatan.
· Sarana Penyelamatan : Manajemen = 1 : 1 artinya sarana penyelamatan
sama penting dengan manajemen dalam menunjang pembatasan kebakaran.
· Proteksi Pasif : Proteksi Aktif = 1 : 5 artinya proteksi aktif lebih penting
dalam menunjang pembatasan kebakaran daripada proteksi pasif.
· Proteksi Pasif : Manajemen = 1 : 3 artinya manajemen sedikit lebih penting
dalam menunjang pembatasan kebakaran daripada proteksi pasif.
· Proteksi Aktif : manajemen = 3 : 1 artinya sistem proteksi aktif sedikit
lebih penting dalam menunjang pembatasan kebakaran daripada
manajemen.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

45

Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam


bentuk matriks 5 x 5, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tapak Penyl Pasif Aktif Manajemen

Tapak 1.000 0.333 1.000 0.143 1.000


Penyelamatan 3.000 1.000 0.333 0.333 1.000
Pasif 1.000 3.000 1.000 0.200 0.333
Aktif 7.000 3.000 5.000 1.000 3.000
Manajemen 1.000 1.000 3.000 0.333 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat
Baris I : Wi = ( 1,00 x 0,33 x 1,00 x 0,143 x 1,00)1/5 = 0,544
Baris II : Wi = ( 3,00 x 1,00 x 0,33 x 0,33 x 1,00)1/5 = 0,803
Baris III : Wi = ( 1,00 x 3,00 x 1,00 x 0,20 x 0,33)1/5 = 0,725
Baris IV : Wi = ( 7,00 x 3,00 x 5,00 x 1,00 x 3,00)1/5 = 3,160
Baris V : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 3,00 x 0,33 x 1,00)1/5 = 1,000
Wi = 6,231
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot sistem kelengkapan tapak X1 = 0,544/6,231 = 0,087
Bobot sistem sarana penyelamatan X2 = 0,803/6,231 = 0,129
Bobot sistem proteksi pasif X3 = 0,725/6,231 = 0,116
Bobot sistem proteksi aktif X4 = 3,160/6,231 = 0,507
Bobot sistem manajemen X5 = 1,000 /6,231 = 0,160

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6


1.000 0.333 1.000 0.143 1.000 0.087 0.479
3.000 1.000 0.333 0.333 1.000 0.129 0.759
1.000 3.000 1.000 0.200 0.333 0.116 0.745
7.000 3.000 5.000 1.000 3.000 0.507 2.568
1.000 1.000 3.000 0.333 1.000 x 0.160 = 0.895

λmaks = ∑ aij * Xi 5,446


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

46

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ,෪෪
ż6 = = = 0,111
( ࿀) ( ࿀)

Dengan ukuran matriks n = 5 dari tabel RI didapat nilai RI = 1,12, sehingga


nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8
,࿀࿀࿀
żƅ = = = 0,099
࿀,࿀
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,099 < 0,1 ( Ok ).

c. Perbandingan acuan pemadaman kebakaran dalam menunjang keselamatan


bangunan, dilakukan penilaian dengan urutan sebagai berikut :
· Kelengkapan Tapak : Sarana Penyelamatan = 1 : 1 artinya kelengkapan
tapak sama penting dengan sarana penyelamatan dalam menunjang
pemadaman kebakaran.
· Kelengkapan Tapak : Proteksi Pasif = 1 : 1 artinya kelengkapan tapak
sama penting dengan proteksi pasif dalam menunjang pemadaman
kebakaran.
· Kelengkapan Tapak : Proteksi Aktif = 1 : 1 artinya kelengkapan tapak
sama penting dengan proteksi aktif dalam menunjang pemadaman
kebakaran.
· Kelengkapan Tapak : Manajemen = 3 : 1 artinya kelengkapan tapak
sedikit lebih penting dalam menunjang pemadaman kebakaran daripada
manajemen.
· Sarana Penyelamatan : Proteksi Pasif = 1 : 1 artinya sarana penyelamatan
sama penting dengan proteksi pasif dalam menunjang pemadaman
kebakaran.
· Sarana Penyelamatan : Proteksi Aktif = 1 : 1 artinya sarana penyelamatan
sama penting dengan proteksi aktif dalam menunjang pemadaman
kebakaran.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

47

· Sarana Penyelamatan : Manajemen = 3 : 1 artinya sarana penyelamatan


sedikit lebih penting dalam menunjang pemadaman kebakaran daripada
manajemen.
· Proteksi Pasif : Proteksi Aktif = 1 : 1 artinya proteksi pasif sama penting
dengan proteksi aktif dalam menunjang pemadaman kebakaran.
· Proteksi Pasif : Manajemen = 1 : 1 artinya proteksi pasif sama penting
dengan manajemen dalam menunjang pemadaman kebakaran.
· Proteksi Aktif : manajemen = 1 : 1 artinya manajemen sama penting
dengan sistem proteksi aktif dalam menunjang pemadaman kebakaran.
Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam
bentuk matriks 5 x 5, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tapak Penyl Pasif Aktif Manajemen

Tapak 1.000 1.000 1.000 0.333 3.000


Penyelamatan 1.000 1.000 1.000 1.000 3.000
Pasif 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000
Aktif 3.000 1.000 1.000 1.000 1.000
Manajemen 0.333 0.333 1.000 1.000 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat
Baris I : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 x 0,33 x 3,00)1/5 = 1,000
Baris II : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00 x 3,00)1/5 = 1,246
Baris III : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00 )1/5 = 1.000
Baris IV : Wi = ( 3,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00)1/5 = 1,246
Baris V : Wi = ( 0,33 x 0,33 x 1,00 x 1,00 x 1,00)1/5 = 0,644
Wi = 5,136
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot sistem kelengkapan tapak X1 = 1,000/5,136 = 0,195
Bobot sistem sarana penyelamatan X2 = 1,246/5,136 = 0,243

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

48

Bobot sistem proteksi pasif X3 = 1,000/5,136 = 0,195


Bobot sistem proteksi aktif X4 = 1,246/5,136 = 0,243
Bobot sistem manajemen X5 = 0,644 /5,136 = 0,125

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6


1.000 1.000 1.000 0.333 3.000 0.243 1.089
1.000 1.000 1.000 1.000 3.000 0.195 1.251
1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 0.243 1.000
3.000 1.000 1.000 1.000 1.000 0.125 1.389
0.333 0.333 1.000 1.000 1.000 x 1.000 = 0.708
λmaks = ∑ aij * Xi 5,438

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ,෪
ż6 Ͳ = = 0,110
࿀ ࿀

Dengan ukuran matriks n = 5 dari tabel RI didapat nilai RI = 1,12, sehingga


nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8
,࿀࿀
żƅ Ͳ = = 0,098
࿀,࿀
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,098 < 0,1 ( Ok ).

2) Perhitungan bobot kriteria pencegahan kebakaran pada bangunan


Perbandingan acuan kriteria pemadaman kebakaran dalam menunjang
keselamatan bangunan, dilakukan penilaian dengan urutan sebagai berikut :
· Pencegahan kebakaran : Pembatasan kebakaran = 1 : 1 artinya
pencegahan kebakaran sama penting dengan pembatasan kebakaran.
· Pencegahan kebakaran : Pemadaman kebakaran = 1 : 1 artinya
pencegahan kebakaran sama penting dengan pemadaman kebakaran.
· Pembatasan kebakaran : Pemadaman kebakaran = 1 : 1 artinya
pembatasan kebakaran sama penting dengan pemadaman kebakaran.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

49

Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam


bentuk matriks 3 x 3, diperoleh hasil sebagai berikut :
Pencegahan Pembatasan Pemadaman

Pencegahan 1.000 1.000 1.000


Pembatasan 1.000 1.000 1.000
Pemadaman 1.000 1.000 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat
Baris I : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 )1/3 = 1,000
Baris II : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 )1/3 = 1,000
Baris III : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 )1/3 = 1.000
Wi = 3,000
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot pencegahan kebakaran X1 = 1,000/3,000 = 0,333
Bobot pembatasan kebakaran X2 = 1,000/3,000 = 0,333
Bobot pemadaman kebakaran X3 = 1,000/3,000 = 0,333

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6


1.000 1.000 1.000 0.333 1.000
1.000 1.000 1.000 0.333 1.000
1.000 1.000 1.000 x 0.333 = 1.000
λmaks = ∑ aij * Xi 3,000

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ,
ż6 Ͳ = = 0,000
࿀ ࿀

Dengan ukuran matriks n = 3 dari tabel RI didapat nilai RI = 0,58, sehingga


nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

50

,
żƅ = = = 0,000
,
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,000 < 0,1 ( Ok ).
3) Perhitungan bobot total adalah dengan memasukan nilai xi kedalam matrik
dikalikan dengan nilai bobot kriteria
Pencegahan Pembatasan Pemadaman Bb Krt Bb. Total

Tapak 0.482 0.087 0.195 0.333 0.255


Penyelamatan 0.147 0.129 0.243 0.333 0.173
Pasif 0.163 0.116 0.195 0.333 0.158
Aktif 0.076 0.507 0.243 0.275
Manajemen 0.131 0.160 0.125 x = 0.139

Dari bobot total maka akan diketemukan tingkat konsistensi tiap-tiap responden
dapat diketahui bobot sistem pencegahan kebakaran.
4) Uji konsistensi pada responden dengan melakukan penilaian pada jawaban yang
masuk. Perhitungan uji konsistensi dapat dilihat pada lampiran 6. Hasil uji
konsistensi dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Hasil Uji Konsistensi pada Responden
UJI KONSISTENSI
No RESPONDEN JUMLAH
KONSISTEN TIDAK

1 Responden 1 Konsisten
2 Responden 2 Konsisten
3 Responden 3 Konsisten
4 Responden 4 Konsisten
5 Responden 5 TIdak
6 Responden 6 Konsisten
7 Responden 7 Konsisten
8 Responden 8 TIdak
9 Responden 9 Konsisten
10 Responden 10 Konsisten
11 Responden 11 TIdak
12 Responden 12 TIdak
13 Responden 13 Konsisten
JUMLAH 9.00 4.00 13.00

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

51

Setelah melakukan uji konsistensi pada tiap-tiap responden maka data responden
yang memenuhi uji konsistensi, digunakan sebagai pembobotan pada sistem
pencegahan kebakaran seperti pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Hasil Rata-rata Bobot Sistem Pencegahan Kebakaran
RESPONDEN RATA-
RATA-
No Sistem Pencegahan Kebakaran JML RATA X PEMBULATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 RATA
100
1 Kelengkapan Tapak 0.25 0.22 0.25 0.18 0.16 0.20 0.21 0.19 0.26 1.92 0.21 21.31 21

2 Sarana Penyelamatan 0.17 0.24 0.15 0.18 0.22 0.28 0.17 0.20 0.18 1.80 0.20 19.95 20

3 Proteksi Pasif 0.16 0.17 0.19 0.22 0.19 0.18 0.19 0.24 0.16 1.71 0.19 19.05 19

4 Proteksi Aktif 0.28 0.23 0.29 0.28 0.24 0.19 0.20 0.18 0.27 2.16 0.24 23.99 24

5 Manajemen 0.14 0.15 0.11 0.13 0.20 0.15 0.22 0.19 0.13 1.41 0.16 15.70 16

JUMLAH 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 100.00 100

Untuk bobot sistem pencegahan kebakaran adalah sebagai berikut :


· Kelengkapan Tapak : 21 %
· Sarana Penyelamatan : 20 %
· Sistem Proteksi Pasif : 19 %
· Sisterm Proteksi Aktif : 24 %
· Sistem Manajemen Pencegahan Kebakaran : 16 %

4.1.2. Penilaian/pembobotan pada Sub Sistem Pencegahan Kebakaran


Untuk memudahkan penilaian, sistem pencegahan kebakaran dijabarkan dalam
sub sistem, yang bertujuan untuk memudahkan penentuan variabel sistem pencegahan
kebakaran yang meliputi :
4.1.2.1.Sub Sistem Kelengkapan Tapak
Pembobotan sub sistem kelengkapan tapak pada bangunan gedung dalam
pencegahan kebakaran didasarkan pada Tabel 2.5.
4.1.2.2.Sub Sistem Sarana Penyelamatan
Pembobotan sub sistem sarana penyelamatan pada bangunan gedung dalam
pencegahan kebakaran didasarkan pada hasil pada Tabel 2.5.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

52

4.1.2.3.Sub Sistem Proteksi Pasif


Pembobotan sub sistem proteksi pasif pada bangunan gedung dalam pencegahan
kebakaran didasarkan pada hasil pada Tabel 2.5.
4.1.2.4.Sub Sistem Proteksi Aktif
Pembobotan sub sistem proteksi aktif pada bangunan gedung dalam pencegahan
kebakaran didasarkan pada hasil pada Tabel 2.5.
4.1.2.5.Sistem manajenem pencegahan kebakaran
Sistem manajemen kebakaran perlu dibuat suatu pendekatan untuk dapat
memberikan pertimbangan pada pencegahan kebakaran, sehingga menjadi penentuan
sistem pemeriksaan keandalan bangunan terhadap kebakaran.
Langkah berikutnya, setiap sistem pencegahan kebakaran dilakukan penilaian
perbandingan untuk masing-masing kriteria, dengan perhitungan sebagai berikut :
1) Perhitungan bobot manajemen pencegahan kebakaran pada bangunan
berdasarkan kriteria :
a. Perbandingan acuan tindakan pencegahan kebakaran, dilakukan penilaian dengan
urutan sebagai berikut :
· Pemeriksaan dan Pemeliharaan : Pembinaan dan pelatihan = 3 : 1 artinya
pemeriksaan dan pemeliharaan sedikit lebih penting dalam menunjang
manajemen daripada pembinaan dan pelatihan.
· Pemeriksaan dan Pemeliharaan : Rencana Keadaan Darurat = 3 : 1
artinya pemeriksaan dan pemeliharaan sedikit lebih penting dalam
menunjang manajemen daripada rencana keadaan darurat.
· Pemeriksaan dan Pemeliharaan : Pekerjaan Kerumahtanggaan = 7:1
artinya pemeriksaan dan pemeliharaan lebih mutlak penting dalam
menunjang manajemen daripada pekerjaan kerumahtanggaan.
· Pembinaan dan pelatihan : Rencana Keadaan Darurat = 1 : 1 artinya
pembinaan dan pelatihan sama penting dengan rencana keadaan darurat
dalam menunjang manajemen.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

53

· Pembinaan dan pelatihan : Pekerjaan Kerumahtanggaan = 5 : 1 artinya


pembinaan dan pelatihan lebih penting dalam menunjang manajemen
daripada pekerjaan kerumahtanggaan.
· Rencana Keadaan Darurat : Pekerjaan Kerumahtanggaan = 3 : 1 artinya
rencana keadaan darurat sedikit lebih penting dalam menunjang
pencegahan kebakaran daripada pekerjaan kerumahtanggaan.
Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam bentuk
matriks 4 x 4, diperoleh hasil sebagai berikut :
PM & PH PB & PT RKD PKT

PM & PH 1.000 3.000 3.000 7.000


PB & PT 0.333 1.000 1.000 5.000
RKD 0.333 1.000 1.000 3.000
PKT 0.143 0.200 0.333 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat

Baris I : Wi = ( 1,00 x 3,00 x 3,00 x 7,00 )1/4 = 2,817


1/4
Baris II : Wi = ( 0,33 x 1,00 x 1,00 x 5,00 ) = 1,136
1/4
Baris III : Wi = ( 0,33 x 1,00 x 1,00 x 3,00 ) = 1,000
1/4
Baris IV : Wi = ( 0,14 x 0,20 x 0,33 x 1,00 ) = 0,312
Wi = 5,266
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot pemeriksaan dan pemeliharaan X1 = 2,817/5,266 = 0,535
Bobot pembinaan dan pelatihan X2 = 1,136/5,266 = 0,216
Bobot rencana keadaan darurat X3 = 1,000/5,266 = 0,190
Bobot pekerjaan kerumahtanggaan X4 = 0,312/5,266 = 0,059

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

54

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6


1.000 3.000 3.000 7.000 0.535 2.167
1/3 1.000 1.000 5.000 0.216 0.881
1/3 1.000 1.000 3.000 0.190 0.762
1/7 1/5 1/3 1.000 x 0.059 = 0.242

λmaks = ∑ aij * Xi 4,052

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ෪, ෪
ż6 Ͳ = = 0,017
࿀ ෪ ࿀
Dengan ukuran matriks n = 4 dari tabel RI didapat nilai RI = 0,90, sehingga
nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8
, ࿀
żƅ Ͳ = = 0,019
,
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,019 < 0,1 ( Ok ).
b. Perbandingan acuan pengawasan bahaya kebakaran, dilakukan penilaian dengan
urutan sebagai berikut :
· Pemeriksaan dan Pemeliharaan : Pembinaan dan pelatihan = 1 : 1 artinya
pemeriksaan dan pemeliharaan sama penting dengan pembinaan dan
pelatihan dalam menunjang manajemen.
· Pemeriksaan dan Pemeliharaan : Rencana Keadaan Darurat = 1 : 3
artinya rencana keadaan darurat sedikit lebih penting dalam menunjang
manajemen daripada pemeriksaan dan pemeliharaan.
· Pemeriksaan dan Pemeliharaan : Pekerjaan Kerumahtanggaan = 1:3
artinya pekerjaan kerumahtanggaan sedikit lebih penting dalam menunjang
manajemen daripada pemeriksaan dan pemeliharaan.
· Pembinaan dan pelatihan : Rencana Keadaan Darurat = 1 : 1 artinya
pembinaan dan pelatihan sama penting dengan rencana keadaan darurat
dalam menunjang manajemen.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

55

· Pembinaan dan pelatihan : Pekerjaan Kerumahtanggaan = 3 : 1 artinya


pembinaan dan pelatihan sedikit lebih penting dalam menunjang
manajemen daripada pekerjaan kerumahtanggaan.
· Rencana Keadaan Darurat : Pekerjaan Kerumahtanggaan = 1 : 1 artinya
rencana keadaan darurat sama penting dengan pekerjaan kerumahtanggaan
dalam menunjang pencegahan kebakaran.
Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam
bentuk matriks 4 x 4, diperoleh hasil sebagai berikut :
PM & PH PB & PT RKD PKT

PM & PH 1.000 1.000 0.333 0.333


PB & PT 1.000 1.000 1.000 0.333
RKD 3.000 1.000 1.000 1.000
PKT 3.000 3.000 1.000 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat

Baris I : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 0,33 x 0,33 )1/4 = 0,577


Baris II : Wi = ( 1,00 x 1,00 x 1,00 x 0,33 )1/4 = 0,760
Baris III : Wi = ( 3,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00 )1/4 = 1,316
Baris IV : Wi = (3,00 x 3,00 x 1,00 x 1,00 )1/4 = 1,732
Wi = 4,385
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot pemeriksaan dan pemeliharaan X1 = 0,577/4,385 = 0,132
Bobot pembinaan dan pelatihan X2 = 0,760/4,385 = 0,173
Bobot rencana keadaan darurat X3 = 1,316/4,385 = 0,300
Bobot pekerjaan kerumahtanggaan X4 = 1,732/4,385 = 0,395

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

56

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6


1.000 1.000 0.333 0.333 0.132 0.537
1.000 1.000 1.000 0.333 0.173 0.737
3.000 1.000 1.000 1.000 0.300 1.263
3.000 3.000 1.000 1.000 x 0.395 = 1.610

λmaks = ∑ aij * Xi 4,146

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ෪,࿀෪ ෪
ż6 Ͳ = = 0,049
࿀ ෪ ࿀

Dengan ukuran matriks n = 4 dari tabel RI didapat nilai RI = 0,90, sehingga


nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8
, ෪
żƅ Ͳ = = 0,054
,
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,054 < 0,1 ( Ok ).
c. Perhitungan bobot antar kriteria manajemen
Perbandingan acuan antar kriteria, dilakukan penilaian dengan urutan sebagai
berikut :
· Tindakan Pencegahan kebakaran : Pengawasan bahaya kebakaran = 1 : 1
artinya tindakan pencegahan kebakaran sama penting dengan pengawasan
bahaya kebakaran.
Setelah dibuat penilaian perbandingan kemudian nilai-nilai tersebut ditulis dalam
bentuk matriks 2 x 2, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tindakan Pengawasan

Tindakan 1.000 1.000


Pengawasan 1.000 1.000

Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan 2.4


Φ
Wi = √a11 x a12 x … … a1n , sehingga didapat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

57

Baris I : Wi = ( 1,00 x 1,00 )1/2 = 1,000


Baris II : Wi = ( 1,00 x 1,00 )1/2 = 1.000
Wi = 2,000
Hitung bobot masing-masing komponen dengan Persamaan 2.5
Ǵ
ŮǴ Ͳ
∑ Ǵ
Bobot Tindakan pencegahan kebakaran X1 = 1,000/2,000 = 0,500
Bobot Pengawasan bahaya kebakaran X2 = 1,000/2,000 = 0,500

Menghitung nilai λmaks dengan Persamaan 2.6

1.000 1.000 0.500 1.000


1.000 1.000 x 0.500 = 1.000

λmaks = ∑ aij * Xi 3,000

Pengujian konsistensi dengan menghitung nilai CI menggunakan Persamaan 2.7


̨ren – ,
ż6 Ͳ = = 0,000
࿀ ࿀
Dengan ukuran matriks n = 2 dari tabel RI didapat nilai RI = 0,00, sehingga
nilai CR dapat dihitung dengan Persamaan 2.8
,
żƅ Ͳ = = 0,000
,
Ketentuan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR < 0,1 , jadi
hasil penilaian diatas dapat diterima CR = 0,000 < 0,1 ( Ok ).
d. Perhitungan bobot total adalah dengan memasukan nilai xi kedalam matrik
dikalikan dengan nilai bobot kriteria
Tindakan Pengawasan Bb Krt Bb. Total

PM & PH 0.535 0.132 0.500 0.333


PB & PT 0.216 0.173 0.500 0.195
RKD 0.190 0.300 0.245
PKT 0.059 0.395 x = 0.227

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

58

Dari bobot total maka akan diketemukan tingkat konsistensi tiap-tiap responden
dapat diketahui bobot sistem pencegahan kebakaran.
e. Perhitungan rata-rata dari tiap-tiap responden
Tabel 4.3. Hasil Rata-rata Pembobotan Sub Sistem Manajemen Pencegahan Kebakaran
RESPONDEN RATA-
Manajemen Pencegahan RATA-
No JML RATA X PEMBULATAN
Kebakaran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 RATA
100
1 Pemeriksaan dan pemeliharaan 0.33 0.32 0.30 0.33 0.35 0.35 0.29 0.28 0.36 2.91 0.32 32.33 32

2 Pembinaan dan pelatihan 0.19 0.16 0.23 0.22 0.27 0.23 0.23 0.32 0.27 2.13 0.24 23.69 24

3 Rencana keadaan darurat 0.25 0.29 0.12 0.26 0.17 0.24 0.17 0.21 0.18 1.89 0.21 20.96 21

4 Pekerjaan kerumahtanggaan 0.23 0.24 0.35 0.19 0.21 0.17 0.31 0.19 0.19 2.07 0.23 23.02 23

JUMLAH 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 100.00 100

Berdasarkan data diatas maka didapat nilai prosentase dari sistem manajemen
pencegahan kebakaran adalah :
· Pemeriksaan dan pemeliharaan : 32 %
· Pembinaan dan pelatihan : 24 %
· Rencana keadaan darurat : 21 %
· Pekerjaan kerumahtanggaan : 23 %

4.1.2.6.Rekapitulasi Pembobotan Sub Sistem pencegahan kebakaran


Dari penilai pada aspek sub sistem pencegahan kebakaran pada bangunan maka
hasil keseluruhan pembobotan dapat dilihat pada Tabel 4.4.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

59

Tabel 4.4 Rekapitulasi Pembobotan Sistem Pencegahan Kebakaran pada


Bangunan Gedung.

No Parameter KSKB BOBOT TOTAL


I Kelengkapan Tapak 100
1 Sumber Air 27
2 Jalan lingkungan 25
3 Jarak antar bangunan 23
4 Hidran halaman 25
II Sarana Penyelamatan 100
1 Jalan Keluar Bangunan 38
2 Konstruksi jalan keluar 35
3 Landasan helikopter 27
III Sistem Proteksi Pasif 100
1 Ketahanan api struktur bangunan 36
2 Kompartemenisasi ruang 32
3 perlindungan bukaan 32
IV Sistem Proteksi Aktif 100
1 Deteksi dan alarm 8
2 Siamens connection 8
3 Pemadam api ringan 8
4 Hidran gedung 8
5 Sprinkler 8
6 Sistem pemadam luapan 7
7 Pengendalian asap 8
8 Deteksi asap 8
9 Pembuangan asap 7
10 Lift kebakaran 7
11 Cahaya darurat 8
12 Listrik darurat 8
13 Ruang pengendali operasi 7
V Sistem Manajeman 100
1 Pemeriksaan dan pemeliharaan 32
2 Pembinaan dan pelatihan 24
3 Rencana keadaan darurat/Fire emergency plan (FEP) 21
4 Pekerjaan kerumahtanggaan (Fire safe housekeeping) 23

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

60

4.1.3. Penilaian/pembobotan pada Komponen Pencegahan Kebakaran


Komponen pencegahan kebakaran merupakan bagian dari sub sistem yang
dijabarkan untuk memudahkan penentuan penilaian, sehingga pada sub sistem terdiri
dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain membentuk
fungsi yang akan bekerja dalam satu sub sistem. Penilaian pada komponen pencegahan
kebakaran pada level ketiga/level terbawah, dan pada sub sistem dan sistem pencegahan
kebakaran tidak dilakukan penilaian, karena kedua komponen tersebut merupakan
rekapitulasi dan total dari setiap komponen pencegahan kebakaran.
Untuk lebih mendalami sistem pencegahan kebakaran dan penilaian dapat
dilakukan dengan pendekatan yang bersifat kuantitatif, maka dibuat kriteria dan ukuran
yang dapat memberikan penilaian yang tepat dan terukur, penilaian menggunakan 3
kriteria yang dijadikan alat untuk menilai komponen yang ada, antara lain :
· Nilai 100 untuk komponen pencegahan kebakaran yang memenuhi persyaratan,
dalam kondisi yang baik, tidak mengalami kerusakan dan alat/sistem berfungsi
dengan baik.
· Nilai 80 untuk komponen pencegahan kebakaran yang kurang memenuhi
persyaratan, dalam kondisi yang kurang baik, terdapat kerusakan dan
alat/sistem ada yang tidak berfungsi.
· Nilai 60 untuk komponen pencegahan kebakaran yang tidak memenuhi
persyaratan, dalam kondisi yang rusak, dan alat/sistem tidak berfungsi.

Penilaian pada komponen pencegahan kebakaran dijabarkan berdasarkan sub


sistem dan sistem yang bekerja. uraian komponen dapat dilihat pada Tabel 4.5.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

61

Tabel 4.5. Uraian Komponen Pencegahan Kebakaran


Sistem, Sub Sistem dan Komponen Pencegahan Sistem, Sub Sistem dan Komponen Pencegahan
No No
Kebakaran Kebakaran
I Kelengkapan Tapak III Sistem Proteksi Pasif
1 Sumber Air 1 Ketahanan api struktur bangunan
a Ketersediaan sumber air a Ketahanan api struktur
b Jarak Sumber air 2 Kompartemenisasi ruang
2 Jalan lingkungan a Ukuran
a Akses mobil pemadam kebakaran b Pemisah vertikal/horisontal
b Penanda jalur kebakaran c Saf/bukaan
c Perputaraan kendaraan pemadam kebakaran 3 perlindungan bukaan
d Lebar Jalan a Perlindungan saf bangunan
e Tinggi bebas jalan b Bukaan pada sarana proteksi (pintu atau jendela)
f Konstruksi perkerasan jalan
3 Jarak antar bangunan IV Sistem Proteksi Aktif
a Jarak antar bangunan 1 Deteksi dan alarm
4 Hidran halaman a Kondisi sistem
a Akses hidran b Detektor panas
b Kondisi hidran c Catu daya
c Pompa air d Fungsi alarm
d Pipa instalasi e Instalasi kabel
e Tangki penekan air 2 Siamens connection
f Selang dan perlengkapan a Akses
II Sarana Penyelamatan b Katub sambungan
1 Jalan Keluar Bangunan 3 Pemadam api ringan
a Konstruksi pintu eksit a Akses
b Jumlah b Kondisi tabung
c Standar Pintu kebakaran c Kondisi isi tabung
d Ketinggian jalan keluar 4 Hidran gedung
e Ketinggian anak tangga a Akses hidran
f Lebar tangga b Kondisi hidran
e Jarak eksit c Pompa air
f Penanda jalan keluar d Pipa instalasi
2 Konstruksi jalan keluar e Tangki penekan air
a Struktur tahan api f Selang dan perlengkapan
b Akses jalan pemadam kebakaran 5 Sprinkler
3 Landasan helikopter a Kondisi sprinkler
Pada bangunan dengan ketinggian >= 60 m b Jarak
a Konstruksi c Pipa instalasi
b Penanda pendaratan d Kompresor sprinkler
c Alat pemadam api 6 Sistem pemadam luapan
Pada bangunan dengan ketinggian < 60 m a untuk fungsi khusus
a ketentuan tidak berlaku

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

62

Tabel 4.5. Uraian Komponen Pencegahan Kebakaran (lanjutan)

Sistem, Sub Sistem dan Komponen Pencegahan Sistem, Sub Sistem dan Komponen Pencegahan
No No
Kebakaran Kebakaran
7 Pengendalian asap V Sistem Manajeman
a Fungsi 1 Pemeriksaan dan pemeliharaan
b detektor asap a Peralatan
c Kondisi pengendali asap b perlindungna pasif
8 Deteksi asap c waktu
a Fungsi d Pengujian
b sistem e Dokumentasi
9 Pembuangan asap 2 Pembinaan dan pelatihan
a Fungsi a Personil
b Arah b Struktur organisasi
10 Lift kebakaran b Pelatihan
a Jumlah 3 Rencana keadaan darurat/Fire emergency plan (FEP)
b Pengoprasian a Standar
c Peringatan b Sosialisasi
d Penempatan c Tanda Peringatan
e Sumber daya 4 Pekerjaan kerumahtanggaan (Fire safe housekeeping)
11 Cahaya darurat a Peralatan
a Lokasi pemasangan b Sarana
b Sistem cahaya darurat c Penataan
c Pemasangan tanda ekxit d Tanda bahaya
12 Listrik darurat e Sampah
a Sumber daya f Pekerjaan
b kabel listrik
13 Ruang pengendali operasi
a Ketersediaan
b Peralatan
c Konstruksi

Hasil uraian dari komponen yang digunakan untuk penilaian pencegahan


kebakaran dapat dilihat pada Lampiran 2, bagian penilaian.
4.1.4. Batasan dan Tingkat Keandalan Pencegahan Kebakaran
Untuk menentukan suatu bangunan dalam kondisi yang andal, kurang andal atau
tidak andal maka diperlukan batasan nilai dalam menginterpretasikan kondisi aktual dari
bangunan. Hasil penilaian/pemeriksaan dapat digunakan untuk memberikan
rekomendasi guna mengembalikan kondisi yang andal, agar bangunan dapat
memberikan keamanan dan kenyamanan kepada pengguna bangunan. Kondisi penilaian
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

63

dari tingkat keandalan bangunan berdasarkan hasil perhitungan simulasi nilai dapat
dilihat pada lampiran 7.

Kesimpulan hasil perhitungan dari tingkat keandalan adalah :


· Andal apabila memenuhi semua persyaratan, dan apabila terdapat kekuarangan
maka hanya sebagian kecil saja. Hasil penilaian menunjukkan dominan pada
angka 100 dan ada sebagian kecil dengan nilai 80.
· Kurang Andal apabila hanya sebagian saja yang memenuhi persyaratan dan
terdapat kondisi yang tidak berfungsi. Penilaian menunjukkan sebagian pada
angka 100, tetapi sebagian lagi pada angka 80, serta ada sebagian kecil dengan
angka 60.
· Tidak Andal apabila semua sistem tidak memenuhi persyaratan atau dalam
kondisi yang tidak berfungsi. Penilaian sebagian besar menunjukkan angka 60,
dan angka 80. Serta 100 dalam jumlah yang relatif kecil.

Batasan tingkat keandalan dapat dilihat pada Tabel 4.6.


Tabel 4.6 Nilai dan tingkat keandalan pencegahan kebakaran

No Nilai Tingkat Keandalan Keterangan

1 95 % - 100 % Andal Sesuai dengan Persyaratan

2 75 % - < 95 % Kurang Andal ada sebagian kecil yang tidak sesuai persyaratan

3 < 75 % Tidak Andal Tidak Sesuai dengan persyaratan

4.1.5. Interpretasi dan Rekomendasi


Interpretasi merupakan bentuk dari hasil penilaian pada sebuah bangunan, pada
kondisi tertentu setelah dilakukan pemeriksaan. Hasil interpretasi dari kondisi keandalan
bangunan, digunakan untuk memberikan rekomendasi. Rekomendasi merupakan
tindakan yang akan dilakukan untuk mengembalikan kondisi prima bangunan dalam
pencegahan kebakaran.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

64

4.1.5.1. Interpretasi
Untuk menentukan interpretasi suatu bangunan, maka semua nilai pada komponen
dimasukan, hasil penilaian dapat dilihat pada bagian rekapitulasi dan total dari sistem
pencegahan kebakaran. Penilaian tingkat keandalan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Penilaian tingkat keandalan pencegahan kebakaran
Kategori Penilaian Bobot Nilai Keandalan
No Parameter KSKB Andal % Nilai Kurang % Nilai Tidak Andal % Nilai Penilaian Total
Keandalan Andal Keandalan Keandalan (%) (%)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

I Kelengkapan Tapak 95 % - 100 % 75 % - < 95 % < 75 % 100

II Sarana Penyelamatan 95 % - 100 % 75 % - < 95 % < 75 % 100

III Sistem Proteksi Pasif 95 % - 100 % 75 % - < 95 % < 75 % 100

IV Sistem Proteksi Aktif 95 % - 100 % 75 % - < 95 % < 75 % 100

V Sistem Manajeman 95 % - 100 % 75 % - < 95 % < 75 % 100

Jumlah 500

Nilai Keandalan Pencegahan Kebakaran pada Bangunan/Gedung adalah :

" ANDAL"

Interpretasi :
Tingkat Keandalan terhadap Pencegahan kebakaran dianggap :
a. Andal, bila NKA tidak kurang dari 95% atau (95%<=NKA<=100%)
b. Kurang andal, bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=95%
c. Tidak andal, bila NKA bernilai dibawah 75 %

4.1.5.2. Rekomendasi
Rekomendasi bertujuan untuk mengembalikan keandalan bangunan pada setiap
sistem pencegahan kebakaran, agar dapat bekerja dan berfungsi secara optimal dalam
melaksanakan pencegahan kebakaran. Hasil rekomendasi meliputi :
· Pemeriksaan secara berkala,
· Perawatan/pemeliharaan berkala,
· Perawatan dan perbaikan berkala,
· Penyetelan/perbaikan /penggantian baru,
· Melengkapi komponen yang kurang.
Pokok-pokok dalam rekomendasi diatas dapat dijabarkan dalam tabel 4.8 :

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

65

Tabel 4.8. Uraian Rekomendasi dari nilai dan tingkat keandalan pencegahan kebakaran
Tingkat
No Nilai Keterangan Rekomendasi
Keandalan
Semua sistem proteksi kebakaran (sistem Kelengkapan Tapak,
1 95 % - 100 % Andal sarana penyelamatan, sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif (1), (2), (3)
dan manajemen pencegahan kebakaran) dalam kondisi baik,
berfungsi sempurna secara optimum, dimana kondisi gedung
dalam keadaan terlindungi dari kebakaran secara sempurna

Semua komponen sistem proteksi kebakaran (sistem


2 75 % - < 95 % Kurang Andal Kelengkapan Tapak, sarana penyelamatan, sistem proteksi (3), (4)
pasif, sistem proteksi aktif dan manajemen pencegahan
kebakaran) masih berfungsi baik, tetapi ada sub sistem yang
berfungsi kurang sempurna, yang dapt menimbulkan gangguan
atau kapasitasnya kurang dari yang ditetapkan dalam standar,
sehingga sistem keselamatan dalam pencegahan kebakaran
menjadi berkurang dan bangunan belum terlindungi secara
sempurna.
Semua komponen sistem proteksi kebakaran (sistem proteksi
3 < 75 % Tidak Andal aktif, sistem proteksi pasif, saran penyelamatan, kelengkapan (4), (5)
tapak) ada yang rusak/tidak berfungsi, kapasitasnya jauh
dibawah dari nilai yang ditetapkan dalam standar, sehingga
kenyamanan dan fungsi ruang dan/atau gedung menjadi sangat
terganggu atau tidak dapat digunakan secara optimal.

4.1.6. Cara Pengisian Sistem Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran.


Tata cara Pemeriksaan Sistem Keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran
dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 1.

4.2. Pemeriksaan Pencegahan Kebakaran Pada Bangunan Gedung,


Studi Kasus Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square.
Solo Square merupakan bangunan pusat perbelanjaan yang berlokasi di jl. Brigjen
Slamet Riyadi Surakarta. Lokasi Solo Square dapat dengan mudah dijangkau karena
letaknya di jalan utama, Bangunan Solo Square terdiri dari saru massa bangunan yang
dikelilingi oleh jalan untuk akses ke bangunan, dan dilengkapi dengan akses utama dan
akses dari samping untuk pencapaian bangunan. Bangunan Solo Square dapat dilihat
pada Gambar 4.4

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

66

Gambar 4.4.
Bangunan pusat perbelanjaan Solo Square

Sebelum pemeriksaan dilaksanakan, terlebih dahulu mengisi data bangunan


(Lampiran III). Ketentuan pemeriksaan pencegahan kebakaran pada bangunan adalah :
1. Penilaian tidak dilakukan pada form “Penilaian sistem pencegahan kebakaran pada
bangunan/gedung”.
2. Penilaian juga tidak dilakukan pada form “Penilaian sub sistem pencegahan
kebakaran pada bangunan/gedung”.
3. Penilaian hanya dilakukan pada form “ Penilaian sistem pencegahan kebakaran pada
bangunan/gedung”
4. Cukup memberi jawaban “a”, “b” atau “c” bila terdapat tiga pilihan jawaban dan
jawaban “a” atau “b” bila terdapat dua pilihan jawaban.
5. Apabila terdapat komponen pencegahan kebakaran dengan jumlah yang banyak
seperti :
a. hidran halaman,
b. alan keluar,
c. alat pemadam api ringan (APAR),
d. hidran gedung dan
e. cahaya darurat,
Maka penilaian dilakukan pada tabel yang disediakan pada masing-masing
komponen, pada tabel ini angka penilaian diberi angka 100 untuk yang memenuhi
persyaratan, berfungsi dan tidak dalam kondisi rusak, angka 80 untuk ada sebagian

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

67

yang tidak sesuai persyaratan dan 60 untuk tidak sesuai persyaratan/kondisi


rusak/tidak berfungsi.
6. Dokumentasi disediakan pada bagian foto dokumentasi, sesuaikan sistem
pencegahan kebakaran yang diperiksa dengan bagian sistem pencegahan kebakaran.
Pemeriksaan pencegahan kebakaran pada bangunan pusat perbelanjaan Solo Square
adalah seagai berikut :
4.2.1. Kelengkapan Tapak
4.2.1.1. Sumber Air
Langkah pemeriksaan
1. Identifikasi ketersediaan sumber air seperti :hidran/reservoir/kolam/sumber lain dan
kebutuhan air pada bangunan dengan kebutuhan standar.
Tabel 4.9 Sumber Air pada bangunan Solo Square.
Kebutuhan standar Kebutuhan tersedia Kesesuaian
2.280 l/menit atau setara Terletak di ground water Kapasitas tersedia
dengan 68.4 m3 kapasitas 4x6x3 m jumlah 2 dalam jumlah yang
buah, volume= 144 m3 cukup
Kapasitas air tersedia dan memenuhi standar
2. Identifikasi jarak sumber air yaitu jarak air mudah dijangkau, karena letaknya di
dalam lingkungan bangunan, terdapat akses pintu untuk menuju sumber air yaitu
pada ground water tank, dan masih dalam radius 50 m.
Tabel 4.10 Penilaian Komponen Pencegahan Kebakaran
% Hasil Penilaian % Bobot
No Parameter KSKB Bobot Penilaian
Nilai % Nilai
Nilai Sub sistem
1 2 3 4 5 6
I Kelengkapan Tapak
1 Sumber Air 100.00
1 Apakah tersedia sumber air (hidran/reservoir/kolam) untuk pemadam kebakaran dalam
jumlah yang cukup ?
a tersedia dengan jumlah pasokan air sekurang-kurangnya 2.280 l/menit selama 30
100
menit (68.4 m3)
b tersedia tetapi jumlah pasokan air kurang dari 2.280 l/menit selama 30 menit (68.4
80
m3)
c tidak tersedia sumber air 60
Jawaban a 100.00
2 Apakah jarak sumber air mudah dijangkau ?
a mudah dijangkau dengan jarak maksimal dalam radius 50 m 100
b mudah dijangkau dengan jarak lebih dari radius 50 m 80
c tidak ada sumber air yang dapat dijangkau 60
Jawaban a 100.00
Nilai Rata-rata Sumber Air 100.00

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

68

4.2.1.2. Jalan Lingkungan


Identifikasi jalan lingkungan yang ada, kemudian sesuaikan ketentuan pada jalan
lingkungan dengan form penilaian yang meliputi :
1. Akses jalan tidak ada hambatan/mudah dicapai oleh mobil pemadam kebakaran.
2. Terdapat penanda jalur kebakaran dan terbaca dengan mudah untuk orientasi
kendaraan pemadam kebakaran baik pada pintu masuk maupun pada perputaran
kendaraan.
3. Perputaran kendaraan untuk pemadam kendaraan tersedia pada area lokasi yaitu
pada sekeliling bangunan dan tidak mengalami hambatan.
4. Lebar jalan memenuhi standar yaitu lebih dari 4 m pada sekeliling bangunan.
5. Tinggi bebas jalan jalan lebih dari 4,5 m pada sekeliling bangunan dan tidak
terdapat hambatan yang dapat mengganggu mobil pemadam kebakaran.
6. Konstruksi Jalan adalah paving block pada sekeliling bangunan, dalam kondisi
baik/tidak terdapat kerusakan dan mampu dilewati mobil pemadam kebakaran.
Setelah mengetahui data jalan lingkungan dapat memberikan penilaian pada pencegahan
kebakaran.
4.2.1.3. Jarak Antar Bangunan
Bangunan Solo Square terdiri dari satu massa bangunan yang dikelilingi oleh
jalan lingkungan untuk sirkulasi ke bangunan maupun perputaran kendaraan, bangunan
pusat perbelanjaan ini terpisah dari lingkungan pemukiman, ketinggian bangunan adalah
± 22.5 m, persyaratan jarak antar bangunan dengan ketinggian tersebut adalah 6 s/d 8 m.
1. Jarak bangunan dengan bangunan disekelilingnya yaitu :
a. Pada sisi utara (main entrance) jarak relatif bebas karena berhadapan langsung
dengan jalan utama dan juga terdapat area parkir (tidak ada pemukiman) jarak
antar bangunan lebih dari 10 m.
b. Pada sisi timur (side entrance) dibatasi dengan pagar kemudian terdapat jalan
lingkungan yang membatasi dengan bangunan sekitar, jarak antar bangunan
lebih dari 8 m.
c. Pada sisi selatan (belakang) terdapat jalan sirkulasi bangunan serta terdapat
pagar pembatas dan jalan lingkungan, jarak antar bangunan lebih dari 10 m.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

69

d. Pada sisi barat (samping) terdapat jalan sirkulasi dan pagar dibuat sekeliling
untuk memisahkan dengan pemukiman penduduk, jarak antar bangunan lebih
dari 8 m.
4.2.1.4. Hidran Luar Bangunan
Terdapat 6 (enam) titik hidran luar bangunan yang tersebar pada sisi depan,
samping kanan (timur dari bangunan), samping kiri (barat dari bangunan) dan sisi
belakang (selatan bangunan). Identifikasi masing-masing kondisi hidran luar pada
bangunan kemudian hasil dimasukan pada tabel 4.13 yaitu :
1. Hidran halaman dan kotak hidran mudah dijangkau karena terletak di sepanjang
jalan keliling bangunan.
2. Kondisi hidran halaman dan kotak hidran relatif terawat dengan baik dan dilapisi
dengan cat anti karat untuk melindungi hidran dari korosi.
3. Pompa air sebagai penggerak selalu dalam keadaan siap dioperasikan bila sewaktu-
waktu digunakan ditunjukan dengan parameter pada pompa pembagi di ruang
utilitas bangunan yang terletak di basement.
4. Pipa instalasi dalam kondisi baik dan tidak ada kebocoran/korosi karena dilapisi
dengan cat anti karat.
5. Tangki penekan atas menyatu dalam satu ruang dengan pompa air pada ruang
utilitas dan berfungsi dengan baik yang ditunjukan dengan sistem distribusi air yang
terbagi dalam beberapa zone sistem tekanan air.
6. Tersedia sambungan slang dengan diameter 35 mm dengan panjang minimal 15 m,
yang tersimpan rapi pada kotak hidran disamping hidran halaman.
Penilaian hidran halaman merupakan rata-rata dari penilaian masing-masing kondisi
hidran.
Tabel 4.11 Penilaian Hidran Halaman

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

70

Jumlah Hidran Halaman : 6 buah

Pernyataan
Tangki
No HIDRAN HALAMAN Mudah
Hidran dan
Pipa Sambungan Jumlah
Penekan
Kotak Pompa Air
dijangkau Instalasi Atas/Alat slang
hidran
Kontrol
1 Hidran halaman 1 100 100 100 100 100 100 100.00
2 Hidran halaman 2 100 100 100 100 100 100 100.00
3 Hidran halaman 3 100 100 100 100 100 100 100.00
4 Hidran halaman 4 100 100 100 100 100 100 100.00
5 Hidran halaman 5 100 100 100 100 100 100 100.00
6 Hidran halaman 6 100 100 100 100 100 100 100.00

Setelah penilaian parameter kelengkapan tapak pada komponen selesai, kemudian nilai
dimasukan pada rekapitulasi sub sistem pemeriksaan pencegahan kebakaran pada
bangunan/gedung, nilai seperti pada Tabel 4.12.
Tabel 4. 12 Rekapitulasi Sub Sistem Pencegahan kebakaran pada Kelengkapan Tapak
REKAPITULASI SUB SISTEM SISTEM PEMERIKSAAN PENCEGAHAN KEBAKARAN
PADA BANGUNAN/GEDUNG

Nama Bangunan : Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square


Lokasi/Alamat : Jl. Slamet Riyadi Surakarta
Fungsi : Bangunan Perdagangan

Bobot Kategori Penilaian Bobot Nilai


No Parameter Pencegahan Kebakaran Sub Andal Kurang Andal Tidak Andal Penilaian Keandalan
Total
Sistem 95% - 100% 75 % - < 95 % < 75 % (%) Total (%)
1 2 4 5 6 7 8 9 10

I Kelengkapan Tapak 100 100.00


1 Sumber Air 27 100.00 - - 27.00
2 Jalan lingkungan 25 100.00 - - 25.00
3 Jarak antar bangunan 23 100.00 - - 23.00
4 Hidran halaman 25 100.00 - - 25.00

4.2.2. Sarana Penyelamatan


4.2.2.1.Jalan Keluar Bangunan
Tangga darurat berjumlah 6 buah yang tersebar disemua bagian bangunan, yang
memiliki 6 eksit, hal ini sesuai bila beban hunian lebih dari 1000 maka harus disediakan
minimal 4 eksit. Kondisi sarana jalan keluar yaitu :

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

71

1. Eksit memiliki kondisi terpisah dan terlindungi, ditandai dengan konstruksi beton
dan pasangan bata yang tertutup dari lantai teratas sampai dengan pintu keluar
bangunan dan dilengkapi dengan pintu tahan api.
2. Jumlah sarana jalan keluar pada bangunan dihitung dengan beban penghuni
(pengelola, pengunjung, pekerja dan semua yang terlibat) pada bangunan, jumlah
hunian rata-rata adalah diatas 1000 tiap harinya, jadi pintu yang di sediakan minimal
4, jalan keluar yang tersedian yaitu 6 jalan keluar yaitu berupa tangga darurat yang
tersebar pada bangunan.
3. Pintu standar kebakaran dipasang pada semua bagian jalan keluar pada setiap lantai
dan diberi tanda warna merah untuk memudahkan penandaan sesuai dengan standar
untuk jalur evakuasi.
4. Ketinggian jalan keluar/pintu darurat adalah 2.1 m dan dipasang pada setiap jalan
keluar di tiap-tiap lantai.
5. Ketinggian anak tangga pada sarana jalan keluar adalah kurang dari 30 cm, yang
berarti dalam kondisi yang standar.
6. Lebar tangga mempunyai lebar yang standar yaitu 110 cm yang terpasang pada
setiap tangga darurat diberi pengaman yaitu pagar railing dan terdapat bordes
sebagai tempat istirahat sementara.
7. Jarak pintu darurat/eksit satu dengan yang lain adalah kurang dari 45 m, setelah
dihitung rata-rata jarak yang ada adalah 35 m.(dibaca dari gambar denah)
8. Penanda jalan keluar terpasang diatas pintu darurat dan terlihat jelas, akan tetapi
pada beberapa tangga darurat tidak ada penunjuk arah dan tidak terlihat jelas.
Setelah dilakukan pemeriksaan pada tiap-tiap sarana penyelamatan kemudian masukan
nilai seperti pada Tabel 4.13
Tabel 4.13 Penilaian Jalan Keluar pada Bangunan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

72

JALAN KELUAR

Jumlah Jalan Keluar : 6 buah

Pernyataan
pintu penandaan
konstruksi Jumlah ketinggian
standar ketinggian lebar jalan
No JALAN KELUAR dan TKA jalan
kebakaran
sarana
anak bersih
jarak eksit
keluar Jumlah
minimal 1 keluar jalan tidak lebih
dalam tangga <= tangga 110 jelas dan
jam dan sesuai keluar >= dari 45 m
kondisi 30 cm cm mudah
terpisah standar 2m
baik dibaca
1 Jalan Keluar 1 100 100 100 100 100 100 100 100 100.00
2 Jalan Keluar 2 100 100 100 100 100 100 100 100 100.00
3 Jalan Keluar 3 100 100 100 100 100 100 100 100 100.00
4 Jalan Keluar 4 100 100 100 100 100 100 100 80 97.50
5 Jalan Keluar 5 100 100 100 100 100 100 100 100 100.00
6 Jalan Keluar 6 100 100 100 100 100 100 100 80 97.50

4.2.2.2. Konstruksi Jalan Keluar Bangunan


Kondisi konstruksi jalan keluar bangunan Solo Square yaitu :
1. Mempunyai konstruksi jalan keluar khusunya tangga darurat terbuat dari beton yang
mempunyai ketahanan api cukup tinggi penutup ruangan menggunakan pasangan
bata.
2. Akses untuk pemadam kebakaran diberikan pada semua tangga darurat, untuk
memudahkan identifikasi kebakaran dan melakukan evakuasi, serta tersedia ramp
untuk kendaraan dalam keadaan darurat yaitu pada area parkir yang mampu
memberikan rasa aman pada penghuni pada saat evakuasi.
4.2.2.3. Landasan Helikopter
Landasan helikopter mempunyai ketentuan :
a. Untuk bangunan yang mempunyai ketinggian diatas 60 m. maka penilaian ini
diperlukan dan merupakan persyaratan.
b. Untuk bangunan dengan ketinggian dibawah 60 m, maka penilaian ini tidak termasuk
dan penilaian untuk landasan helikopter dianggap andal atau diberi nilai 100.
Bangunan Solo Square mempunyai ketinggian ± 22.5 m, maka persyaratan landasan
helikopter tidak diperlukan, dan nilai ini dianggap andal. Nilai rekapitulasi sarana
penyelamatan seperti pada Tabel 4.14

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

73

Tabel 4.14 Rekapitulasi Sub Sistem Sarana Penyelamatan


Bobot Kategori Penilaian Bobot Nilai
No Parameter Pencegahan Kebakaran Sub Andal Kurang Andal Tidak Andal Penilaian Keandalan
Total
Sistem 95% - 100% 75 % - < 95 % < 75 % (%) Total (%)
1 2 4 5 6 7 8 9 10

II Sarana Penyelamatan 100 99,68


1 Jalan Keluar Bangunan 38 99,17 - - 37,68
2 Konstruksi jalan keluar 35 100,00 - - 35,00
3 Landasan helikopter 27 100,00 - - 27,00

4.2.3. Sistem Proteksi Pasif


4.2.3.1. Ketahanan api struktur.
Disesuaikan dengan jumlah lantai bangunan dan tipe bangunan yang
ada/tersedia. Jumlah lantai pada bangunan Solo Square adalah 6 lantai dan kelas
bangunan adalah kelas 6 yaitu bangunan perdagangan, struktur yang ada adalah Tipe A.
Konstruksi bangunan meliputi :
a. Konstruksi kolom
· Terbuat dari beton dengan mutu K-250.
· Kolom persegi mempunyai dimensi adalah 60x60 cm.
· Kolom lingkaran mempunyai diameter 60 cm.
· Kolom pada bagian tertentu dalam kondisi yang terekspose (tanpa perlindungan).
b. Konstruksi balok
· Beton dengan mutu K-250
· Ukuran dimensi adalah 60x120 cm
· Balok pada bagian tertentu dalam kondisi yang terekspose (tanpa perlindungan)
seperti pada ruang parkir.
· Balok bangunan perbelanjaan tertutup oleh bahan gipsum.
c. Plat lantai
· Terbuat dari beton dengan mutu K-250.
· Ukuran tebal plat lantai ±12 cm.
· Finishing lantai menggunakan marmer, pada ruang parkir menggunakan beton
ekspose dan sebagian lantainya tanpa ada penambahan bahan finishing.
· Plat bangunan perbelanjaan tertutup oleh bahan gipsum.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

74

Struktur yang digunakan pada kolom, balok dan plat lantai memberikan gambaran
mengenai struktur kategori A, yaitu konstruksi beton tahan api. Untuk bahan finishing
plafond pada ruang usaha menggunakan gipsum yang dapat memberikan barier pada plat
lantai bila terjadi kebakaran sehingga tidak terekspose secara langsung.
4.2.3.2. Kompartemenisasi
Hasil pengamatan kompartemen adalah :
1. Luas lantai adalah 61.885 m2, ukuran volume bangunan adalah 195.300 m3. (dengan
pendekatan luas lantai dasar x tinggi bangunan), luas kompartemen adalah
mencukupi dari standar yang ditetapkan untuk luas lantai diatas 5.000 m2 untuk
30.000 m3.
2. Kompartemenisasi pada bangunan terdiri dari 2 bagian yaitu vertikal dan horisontal,
secara vertikal terdapat pada plat lantai dan secara horisontal terdapat di lantai 2
yaitu antara ruang parkir dengan ruang perbelanjaan menggunakan kompartemen
berupa dinding pasangan bata, pada tangga darurat dan pada saluran utilitas untuk
menjaga ketahanan dari penyebaran kebakaran. Luas kompartemen secara
horisontal sama dengan jumlah luas dasar sampai lantai 4 yaitu 50.725 m2, tanpa
luas basement. Dengan kondisi tersebut maka kompartemen memenuhi persyaratan.
3. Saft lif dan peralatan bangunan (sistem pasokan listrik, generator darurat dan
pengendalian asap) dalam bangunan terpisah dengan TKA sesuai yaitu konstruksi
beton dan pasangan bata sebagai pembatas, pada pintu menggunakan pintu tahan
api.
4.2.3.3. Perlindungan Bukaan
Kondisi perlindungan bukaan adalah :
1. Bukaan vertikal pada bangunan yang digunakan untuk saft pipa, ventilasi dan listrik
dalam keadaan tertutup dengan konstruksi beton dan pasangan bata dari bawah
sampai atas, dan pada setiap lantai dalam kondisi tertutup dan dilengkapi pintu
tahan api untuk akses masuknya.
2. Sarana proteksi pada bukaan yang ada (pintu kebakaran, jendela kebakaran, pintu
penahan asap dan penutup api) sesuai dengan persyaratan dan dalam kondisi yang
baik.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

75

Rekapitulasi Sistem proteksi pasif dapat dilihap pada Tabel 4.15


Tabel 4.15 Rekapitulasi Penilaian Sub Sistem Proteksi Pasif
Bobot Kategori Penilaian Bobot Nilai
No Parameter Pencegahan Kebakaran Sub Andal Kurang Andal Tidak Andal Penilaian Keandalan
Total
Sistem 95% - 100% 75 % - < 95 % < 75 % (%) Total (%)
1 2 4 5 6 7 8 9 10

III Sistem Proteksi Pasif 100 100,00


1 Ketahanan api struktur bangunan 36 100,00 - - 36,00
2 Kompartemenisasi ruang 32 100,00 - - 32,00
3 Perlindungan bukaan 32 100,00 - - 32,00

4.2.4. Sistem Proteksi Aktif


4.2.4.1 Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran
Sistem deteksi dan alarm terdapat pada ruang operasi, yang merupakan pusat
kendali untuk mengetahui dan mendetaksi secara dini terjadinya kebakaran, sistem
pompa kebakaran akan menyala dengan otomatis seiring dengan adanya kebakaran pada
satu titik di lantai tertentu yang dapat memberikan informasi kepada petugas tentang
adanya api, sistem deteksi juga dipasang pada plafon yang tersebar pada setiap lantai
bangunan dengan kondisi :
1. Sistem deteksi dan alarm dan dalam kondisi baik dan tidak rusak serta masih
berfungsi yang terdapat pada ruang utilitas sebagai ruang kontrol utama dan pada
tiap-tiap lantai bangunan.
2. Detektor panas dan alat manual pemicu alarm pada kondisi yang baik, tidak
mengalami kerusakan dan berfungsi.
3. Catu daya dan panel kontrol berfungsi dengan baik sebagai tenaga penggerak.
4. Alarm kebakaran yang terpasang berfungsi dengan baik dan tidak dalam kondisi
rusak.
5. Kabel instalasi terpasang dengan baik dan tidak dalam keadaan rusak, hal ini
ditunjukan pada lampu indikator panel kebakaran.
4.2.4.2 Siamese Connection
Terdapat 2 (dua) titik Siamese connection yang terletak di pintu utama bagian
utara bangunan, serta terletak di pintu samping sebelah timur bangunan dengan kondisi :
1. Siamese connection mudah dijangkau dan terlihat dengan jelas karena terletak di
sisi jalan lingkungan bangunan dan dalam kondisi baik serta berfungsi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

76

2. Katub sambungan pada masing-masing alat berfungsi dengan baik dan tidak
terdapat kerusakan/korosi/kebocoran.
4.2.4.3 Pemadam Api Ringan/Portabel (APAR)
Jenis pemadam api ringan yang digunakan adalah :
Pemadam api portabel : Powder 450
Pemadam api portabel : FR 250 khusus pada ruang utilitas
Jumlah pemadam api portabel jenis powder 450 ada 48 buah yang tersebar di setiap
lantai dan seluruh bangunan. Penilaian alat pemadam api ringan yaitu : hitung jumlah
alat yang ada pada setiap lantainya kemudian diidentifikasi, penilaian dilakukan tiap titik
APAR diteruskan pada tiap lantainya. Jumlah APAR yang teridentifikasi adalah :
· Lower Ground Floor : 10 titik
· Ground Floor : 10 titik
· 1st Floor : 10 titik
· 2nd Floor : 10 titik
· 2nd Mezanine Floor : 4 titik
· 3nd Floor : 4 titik
Tabel 4. 16 Penilaian Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Jumlah Pemadam api ringan : 48 buah

Jumlah Lantai Gedung : 6 Lantai

Pernyataan

No ALAT PEMADAM API RINGAN Slang, kopling Tekanan, berat, Jumlah


Mudah dijangkau
selang, tabung level pada tabung

LANTAI 1
1 Pemadam api ringan 1 100 100 100 100
2 Pemadam api ringan 2 100 100 100 100
3 Pemadam api ringan 3 100 100 100 100
4 Pemadam api ringan 4 100 100 100 100
5 Pemadam api ringan 5 100 100 100 100
6 Pemadam api ringan 6 100 100 100 100
7 Pemadam api ringan 7 100 100 100 100
8 Pemadam api ringan 8 100 100 100 100
9 Pemadam api ringan 9 100 100 100 100
10 Pemadam api ringan 10 100 100 100 100

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

77

Kondisi pemadam api ringan adalah :


1. Alat pemadam api ringan mudah dijangkau dan terlihat dengan jelas pada masing-
masing lokasi di tiap-tiap lantai.
2. Kondisi slang, kopling dan tabung dalam kondisi baik dan tidak rusak pada tiap
lokasi.
3. Tekanan, berat dan level isi tabung masih dalam batas aman digunakan yang
ditunjukkan dengan angka pada tekanan tabung tidak menunjukkan warna merah/
masih dalam batas hijau.
4.2.4.4 Hidran Gedung
Periksa seluruh hidran gedung tiap lantai kemudian identifikasi satu persatu.
Jumlah hidran gedung adalah :
· Lower Ground Floor : 12 titik
· Ground Floor : 12 titik
· 1st Floor : 12 titik
· 2nd Floor : 12 titik
· 2nd Mezanine Floor : 6 titik
· nd
3 Floor : 6 titik
Kondisi hidran gedung adalah :
1. Hidran gedung dan kotak hidran mudah dijangkau karena terletak pada sudut di
setiap lantai bangunan dengan jarak dari lantai ± 80-100 cm.
2. Kondisi hidran gedung dan kotak hidran relatif terawat dengan baik dan dicat warna
merah.
3. Pompa air sebagai penggerak selalu dalam keadaan siap dioperasikan bila sewaktu-
waktu digunakan, ditunjukan dengan parameter pada pompa pembagi di ruang
utilitas bangunan yang terletak di basement.
4. Pipa instalasi dalam kondisi baik dan tidak ada kebocoran/korosi karena dilapisi
dengan cat anti karat.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

78

5. Tangki penekan atas menyatu dalam satu ruang dengan pompa air pada ruang
utilitas dan berfungsi dengan baik yang ditunjukan dengan sistem distribusi air yang
terbagi dalam beberapa zone sistem tekanan air.
6. Tersedia sambungan slang dengan diameter 35 mm dengan panjang minimal 15 m,
yang tersimpan rapi pada kotak hidran.
Hasil rata-rata dari keseluruhan hidran gedung merupakan nilai kondisi hidran dapat
dilihat pada Tabel 4.17.
Tabel 4. 17 Penilaian Hidran Gedung
HIDRAN GEDUNG

Jumlah Hidran Gedung : 60 buah

Jumlah Lantai Gedung : 6 Lantai

Pernyataan
Tangki
No HIDRAN GEDUNG Mudah
Hidran dan
Pipa Sambungan Jumlah
Penekan
Kotak Pompa Air
dijangkau Instalasi Atas/Alat slang
hidran
Kontrol
LANTAI 1
1 Hidran gedung 1 100 100 100 100 100 100 100.00
2 Hidran gedung 2 100 100 100 100 100 100 100.00
3 Hidran gedung 3 100 100 100 100 100 100 100.00
4 Hidran gedung 4 100 100 100 100 100 100 100.00
5 Hidran gedung 5 100 100 100 100 100 100 100.00
6 Hidran gedung 6 100 100 100 100 100 100 100.00
7 Hidran gedung 7 100 100 100 100 100 100 100.00
8 Hidran gedung 8 100 100 100 100 100 100 100.00
9 Hidran gedung 9 100 100 100 100 100 100 100.00
10 Hidran gedung 10 100 100 100 100 100 100 100.00
11 Hidran gedung 11 100 100 100 100 100 100 100.00
12 Hidran gedung 12 100 100 100 100 100 100 100.00

4.2.4.5 Sprinkler
Alat ini dipasang pada bagian atap/plafond gedung pada setiap lantai bangunan
pada seluruh bangunan, kecuali lantai yang paling atas, kondisi sprinkler pada bangunan
Solo Square adalah:
1. Kondisi sprinkler baik dan tidak terhalang pada tiap-tiap lantai dan jelas terlihat.
2. Jarak pemasangan sprinkler 3 m satu sama yang lain dan dalam batas radius aman,
dengan jarak sesuai dengan standar yaitu jarak maksimal 4.6 m. Pipa induk yang
digunakan adalah pipa dengan diameter ± 4 inch, kemudian didistribusikan
menggunakan pipa yang lebih kecil yaitu ± 1 inch.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

79

3. Pipa sprinkler dalam kondisi baik dan tidak mengalami kerusakan/ korosi, hal ini
ditunjukan dengan tidak adanya kebocoran pada pipa karena menggunakan sistem
pipa basah.
· Sprinkler yang terpasang pada pusat perbelanjaan dipasang dengan posisi kepala
berada dibawah pipa.
· Sprinkler yang terpasang pada area parkir dipasang dengan posisi kepala berada
diatas, ketinggian lantai sampai dengan kepala sprinkler/pipa kebakaran tidak
menggangu arus lalu-lintas dibawahnya.
4. Kondisi kompressor dan pengukur tekanan berfungsi dengan baik, terdapat panel
yang digunakan untuk tanda/petunjuk arah distribusi air, sehingga bila terjadi
kebakaran sistem induk ini akan menunjukkan lokasi kebakaran.
4.2.4.6 Sistem Pemadam Luapan
Sistem ini digunakan pada ruangan khusus yaitu pada daerah utilitas, karena
bahan bakar dari genset adalah bahan yang mudah terbakar, sehingga perlu diberi
pencegahan yang ekstra.
4.2.4.7 Pengendali asap
Pengendali asap dipasang pada plafond, daerah dapur, tangga darurat, untuk
mengatisipasi kebakaran, kondisi pengendalai asap adalah :
1. Berfungsi dengan baik dan tidak rusak, terpasang pada plafond pada tiap lantai,
tangga darurat, ruang atrium dan daerah dapur.
2. Pengendali/detektor asap dalam keadaan bersih dan tidak terhalang oleh benda lain
disekitarnya yang dapat mengganggu kinerja sistem.
3. Pengendali asap dipasang pada daerah yang rawan kebakaran seperi pada
dapur/ruang masak lainya.
4.2.4.8 Sistem pendeteksi asap (Smoke detektor)
Pendeteksi asap dipasang pada plafond yang tersebar di setiap lantai, dalam
kondisi :
1. Deteksi asap berfungsi dengan baik dan tidak dalam keadaan rusak.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

80

2. Detektor asap yang terpasang dapat mengaktifkan system pengolahan udara secara
otomatis, system pembuangan asap, ventilasi asap dan panas yang langsung dapat
dideteksi melalui ruang pengendali.
4.2.4.9 Sistem Pembuangan Asap
Pembuangan asap dilakukan dengan sistem fan yang terpasang pada tiap-tiap
tangga darurat, dapur serta pada bangunan di tiap-tiap lantai yang terhubung dengan
cerobong yang berada di atap, untuk menghisap asap bila terjadi kebakaran pada titik
tertentu di bangunan. Kondisi pembuangan asap adalah :
1. Berfungsi dengan baik dan tidak rusak.
2. Arah pembuangan asap langsung disalurkan melalui pipa menuju ke atap bangunan,
dan tidak menimbulkan gangguan pada ruang lain.
4.2.4.10 Lift kebakaran
Kondisi Lift kebakaran adalah :
1. Lift untuk penanggulangan saat terjadi kebakaran tidak dikondisikan secara khusus,
terdapat 2 buah lift, tetapi yang digunakan untuk kebakaran maupun barang dan
manusia hanya 1 unit, sedangkan lainya digunakan secara khusus pada tenant yang
besar dan tidak digunakan untuk fasilitas umum.
2. Lift kebakaran dalam saft yang tahan api, struktur beton dan pasangan bata.
· Dilengkapi dengan sarana komunikasi yang terhubung dengan pengatur
pusat/ruang pengendali yang terletak pada ruang utilitas.
· Bila terjadi kerusakan pada lift maka ruang pengendali dapat mendeteksi
dengan cepat kemudian dilakukan tindakan untuk perbaikanya.
3. Peringatan terhadap pengguna lift pada saat kebakaran, dipasang di tempat yang
mudah terlihat dan terbaca dengan tulisan tinggi huruf 30 mm yaitu pada tempat
masuk pada lobby penunggu ruang lift.
4. Penempatan lift kebakaran pada lokasi yang mudah dijangkau oleh penghuni karena
terletak pada salah satu pintu keluar yaitu pada bagian barat dari bangunan.
5. Sumber tenaga menggunakan 2 sistem yatiu dari PLN sebagai sumber utama dam
genset sebagai sumber cadangan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

81

4.2.4.11 Cahaya Darurat


Periksa satu persatu kondisi cahaya darurat yang ada pada setiap lokasi evakuasi,
kemudian periksa kelengkapan dan ketentuan mengenai cahaya darurat. Kondisi cahaya
darurat adalah :
1. Dipasang disetiap tangga yang dilindungi terhadap kebakaran disetiap lantai dalam
kondisi baik, tidak rusak dan berfungsi.
2. Beroperasi secara otomatis dan memberikan pencahayaan yang cukup dengan daya
penerangan 20 watt, dilengkapi dengan baterai otomatis yang dapat menyala bila
listrik dalam keadaan mati, baterai dalam kondisi baik, tidak rusak dan berfungsi.
3. Tanda exit jelas terlihat dan dipasang berdekatan dengan pintu darurat, tanda panah
penunjuk arah terlihat dengan jelas.
Penilaian cahaya darurat pada setiap titik kemudian masukan penilaian pada Tabel 4.18
Tabel 4. 18 Penilaian Komponen Cahaya Darurat
CAHAYA DARURAT

Jumlah Cahaya Darurat 33 buah

Jumlah Lantai Gedung 6 Lantai

Pernyataan
sistem pencahayaan
cahayaan darurat darurat beroperasi
No CAHAYA DARURAT dipasang disetiap Jumlah
otomatis dan tanda exit jelas terlihat
tangga yang dilindungi memberikan
terhadap kebakaran pencahayaan yang
cukup
LANTAI 1
1 Cahaya darurat 1 100 100 100 100.00
2 Cahaya darurat 2 100 100 100 100.00
3 Cahaya darurat 3 100 100 80 93.33
4 Cahaya darurat 4 100 100 100 100.00
5 Cahaya darurat 5 100 100 80 93.33

4.2.4.12 Listrik Darurat


Listrik darurat dalam kondisi :
1. Sumber utama listrik dari PLN selain itu digunakan sumber listrik cadangan yaitu
generator yang sistem utamanya terletak pada ruang mekanikal elektrikal di
basement, pada ruang-ruang tertentu dilengkapi dengan batere untuk kondisi listrik

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

82

darurat dan dilengkapi panel penunjuk pada ruang pengendali sehingga setiap
penggunaan listrik ataupun kerusaka lainya dapat diketahui dan terdeteksi.
2. Instalasi kabel yang melayani sumber daya listrik dari PLN dan listrik darurat
memenuhi kabel tahan api, dalam tahap perbaikan/renovasi terdapat beberapa kabel
yang belum terbungkus secara aman.
4.2.4.13 Ruang Pengendali
Kondisi ruang pengendali adalah :
1. Diletakkan bersebelahan dengan ruang mesin/genset, ruangan ini desebut degan
ruang mekanikal elektrikal (ME) yang terletak pada basement.
2. Dilengkapi dengan alat komunikasi dan panel yang dapat menginformasikan tentang
sistem yang bekerja pada bangunan.
3. Konstruksi dinding terbuat dari pasangan bata dan konstruksi beton bertulang, yang
mampu menahan api bila terjadi kebakaran.
Tabel 4.19 Rekapitulasi Penilaian Sistem Proteksi Aktif
Bobot Kategori Penilaian Bobot Nilai
No Parameter Pencegahan Kebakaran Sub Andal Kurang Andal Tidak Andal Penilaian Keandalan
Total
Sistem 95% - 100% 75 % - < 95 % < 75 % (%) Total (%)
1 2 4 5 6 7 8 9 10

IV Sistem Proteksi Aktif 100 99,54


1 Deteksi dan alarm 8 100,00 - - 8,00
2 Siamens connection 8 100,00 - - 8,00
3 Pemadam api ringan 8 100,00 - - 8,00
4 Hidran gedung 8 99,33 - - 7,95
5 Sprinkler 8 100,00 - - 8,00
6 Sistem pemadam luapan 7 100,00 - - 7,00
7 Pengendalian asap 8 100,00 - - 8,00
8 Deteksi asap 8 100,00 - - 8,00
9 Pembuangan asap 7 100,00 - - 7,00
10 Lift kebakaran 7 100,00 - - 7,00
11 Cahaya darurat 8 - 94,95 - 7,60
12 Listrik darurat 8 100,00 - - 8,00
13 Ruang pengendali operasi 7 100,00 - - 7,00

4.2.5 Manajemen Pencegahan Kebakaran


4.2.5.1 Pemeriksaan dan Pemeliharaan
Kegiatan pemeriksaan dan pemeliharaan dapat diamati dari kesiapan dokumen,
kegiatan pemeriksaan dan pemeliharaan meliputi kelengkapan tapak, sarana
penyelamatan, sistem proteksi pasif dan aktif. Setelah dilakukan pemeriksaan maka
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

83

dokumen pemeriksaan dapat dijadikan acuan pada pemeriksaan berikutnya, untuk


menentukan pemeriksaan secara berkala dan kondisinya, pemeriksaan dan pemeliharaan
yang dilakukan adalah :
1. Pemeriksaan dan pemeliharaan berkala sumber air/ketersediaan air.
2. Pemeriksaan dan pemeliharaan berkala terhadap prasarana jalan lingkungan,
kondisi jalan tidak terdapat kerusakan dan jalan bebas hambatan.
3. Pemeriksaan dan pemeliharaan berkala terhadap hidran halaman dengan melakukan
pengecatan pada perpipaan dan hidran serta kotak hidran.
4. Pemeriksaan dan pemeliharaan berkala terhadap sarana penyelamatan, hal ini
terlihat dengan sarana jalan keluar yang bebas hambatan, walau pada titik tertentu
terdapat sedikit hambatan, seperti perletakan barang yang tidak pada tempatnya.
5. Pemeriksaan dan pemeliharaan berkala terhadap sistem struktur bangunan dengan
perbaikan baik dalam skala kecil maupun skala sedang atau berat.
6. Pemeriksaan dan pemeliharaan berkala terhadap sistem pencegahan aktif kebakaran
yang ditandai dengan sertifikat dari dinas terkait yaitu dinas pemadam kebakaran
kota Surakarta.
7. Pengujian pemeliharaan yang sifatnya rutin seperti pemeriksaan setengah tahunan
atau tahunan yang dilaksanakan oleh dinas teknis, serta pemeliharaan harian yang
dilaksanakan oleh teknisi pengelola bangunan.
8. Hasil catatan didokumentasi secara rapi oleh pihak pengelola bangunan.
4.2.5.2 Pembinaan dan Pelatihan
Kegiatan pembinaan dan pelatihan ini dilaksanakan kepada tenaga pengamanan
yang berjaga selama 24 jam, terbagi dalam 3 shift, untuk memonitoring dan memantau
kondisi bangunan, organisasi penangan bencana kebakaran secara tidak langsung berada
dibawah manajemen pengelola.
1. Pembinaan dan pelatihan terhadap personil penanganan dan pencegahan kebakaran
dilakukan terhadap security dibawah pengelola bangunan, dalam keadaan darurat
security berfungsi sebagai tim penyelamat dan penunjuk jalan dalam evakuasi.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

84

2. Struktur organisasi penanggung jawab kebakaran/keadaan darurat tidak terdapat


dalam bagian khusus, akan tetapi berada dibawah manajemen selaku pengelola
bangunan.
3. Simulasi kebakaran yang melibatkan penanggung jawab pengelola bangunan belum
pernah dilakukan oleh pihak pengelola bangunan karena terkait dengan biaya dan
kesiapan sumber daya manusia.
4. Dilakuakan pelatihan terhadap kesiapan SDM dalam menghadapi kebakaran yaitu
pada setiap tahunya.
5. Petugas keamanan memahami tentang evakuasi dan tindakan penyelamatan bila
terjadi kebakaran.
6. Petugas yang ditempatkan sangat memahami dan mengetahui penggunaan alat
pemadam kebakaran dan lokasi evakuasi serta penempatan peralatan pemadam
kebakaran.
4.2.5.3 Rencana Keadaan Darurat (Fire Emergency Plan)
Rencana keadaan darurat dengan kondisi :
1. Mempunyai standar operating procedures (SOP) untuk pengendalian keadaan
darurat bila terjadi kebakaran atau kejadian lainya.
2. Sosialisasi SOP dilakukan kepada pengelola bangunan yang yang secara struktur
dibawah manajemen bangunan.
3. Tanda peringatan keadaan darurat dipasang di lokasi yang strategis dan mudah
dilihat serta tidak terhalang untuk memberikan peringatan dan evakuasi kepada
penghuni bangunan dalam keadaan darurat.
4.2.5.4 Pekerjaan Kerumahtanggaan (Fire safe housekeeping)
Penataan kerumahtanggaan selalu diawasi selama 24 jam, karena menyangkut
keamanan bangunan, dengan melaksanakan pengawasan menyeluruh dan pengaturan
interior. Kondisi pekerjaan kerumahtanggaan adalah :
1. Peralatan kebakaran yang bersifat aktif dalam lokasi yang tepat dan tidak
mengalami kerusakan serta peralatan berfungsi dengan baik, yang ditandai dengan
catatan pemeriksaan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

85

2. Sarana keselamatan terutama pada jalur evakuasi yang ada bebas dari hambatan dan
tidak ada penghalang yang dapat mengganggu proses evakuasi.
3. Penataan bahan bakar sudah sesui dengan standar keselamatan yaitu diletakan
dengan aman dalam tempat yang sesuai serta terdapat petugas pengaman dan
pemantau kondisi bahan bakar. Pada salah satu tangga darurat ditemukan
penempatan bahan bakar cair (LPG) yang diletakkan pada bordes tangga yang dapat
membahayakan evakuasi.
4. Daerah merokok ditandai dengan jelas dan diberi zona tersendiri, dilengkapi dengan
asbak,tempat sampah dari logam.
5. Sampah dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering, dan selalu rutin
dibuang dalam tampungan sementara yang terletak secara terpisah di bagian
belakang bangunan.
6. Setiap ada pekerjaan renovasi/pemeliharaan bangunan selalu diawasi dan dikerjakan
oleh tenaga ahli baik dari pihak manajemen maupun dari pihak ketiga.
Tabel 4.20 Penilaian Sub Sistem Manajemen
Bobot Kategori Penilaian Bobot Nilai
No Parameter Pencegahan Kebakaran Sub Andal Kurang Andal Tidak Andal Penilaian Keandalan
Total
Sistem 95% - 100% 75 % - < 95 % < 75 % (%) Total (%)
1 2 4 5 6 7 8 9 10

V Sistem Manajeman 100 96,03


1 Pemeriksaan dan pemeliharaan 32 100,00 - - 32,00
2 Pembinaan dan pelatihan 24 - 86,67 - 20,80
3 Renc keadaan darurat/Fire emergency plan (FEP) 21 100,00 - - 21,00
4 Pek. kerumahtanggaan (Fire safe housekeeping) 23 96,67 - - 22,23

Hasil penilaian Bangunan Solo Square dapat dilihat pada Lampiran 3

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

86
86

32
11

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil mengenai desain sistem pemeriksaan
pencegahan kebakaran dan penerapannya adalah sebagai berikut :
1. Desain sistem pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan
kebakaran merupakan salah satu alat bantu dalam menilai dan memeriksa
bangunan untuk tindakan pencegahan terhadap kebakaran pada bangunan
gedung.
2. Pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran harus
dilakukan pada level terkecil atau pada komponen bangunan, untuk dapat
memberikan penilaian/pemeriksaan yang lebih detail pada sistem pencegahan
kebakaran.

5.2. SARAN
1. Desain pemeriksaan keandalan bangunan dalam pencegahan kebakaran
masih sangat terbuka untuk dikembangkan, untuk mendapatkan hasil yang
optimal pada sistem pemeriksaan terhadap bahaya kebakaran.
2. Pembobotan sistem pencegahan kebakaran pada bangunan gedung dapat
dilakukan pembobotan ulang demi kesempurnaan sistem ini.
3. Untuk menggunakan sistem pemeriksaan keandalan dalam pencegahan
kebakaran maka diperlukan tenaga ahli yang mengetahui bidang kebakaran
atau pencegahan kebakaran pada bangunan.

86
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

87

4. Penilaian dan pembobotan sistem pencegahan kebakaran pada setiap fungsi


bangunan dapat berbeda-beda dan memerlukan kajian akademik tersendiri,
seperti standar pencegahan kebakaran pada bangunan pusat perbelanjaan
akan berbeda dengan standar untuk bangunan pendidikan/sekolah atau
bangunan perkantoran.
5. Sistem pencegahan kebakaran ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam
perencanaan dan desain bangunan gedung, untuk sistem proteksi aktif yang
digunakan disesuaikan dengan fungsi dan peruntukan bangunan.

commit to user