Anda di halaman 1dari 146

MANAJEMEN KASUS SISTEM KARDIOVASKULER

“HIPERTENSI’’DI RUANG LANTAI 3 GEDUNG 1 RS BUNDA


THAMRIN
MEDAN TAHUN 2018

PBLK

Oleh:

GUSRI INDRA, S.Kep.

1714901024

PROGRAM STUDI NERS TAHAP PROFESI NERS


STIKES FLORA
MEDAN
2018

1
LAPORAN PBLK

MANAJEMEN KASUS SISTEM KARDIOVASKULER


“HIPERTENSI’’DI RUANG LANTAI 3 GEDUNG 1 RS BUNDA
THAMRINMEDAN TAHUN 2018

Disusun dalam rangka menyelesaikan


Praktek belajar lapangan komprehensif
( PBLK)

Oleh:

GUSRI INDRA, S.Kep.

1714901024

PROGRAM STUDI NERS TAHAP PROFESI NERS


STIKES FLORA
MEDAN
2018

2
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan hasil Praktik Belajar Lapangan Komprehensif (PBLK)

Telah mendapat persetujuan

Medan , 7 Agustus 2018

Pembimbing

(Suherni, S.Kep.,Ns, M.Kep)

NIP :790612020102

Koordinator Program Studi Pendidikan Ners Tahap Profesi

(Suherni, S.Kep.,Ns.,M.Kep)

NIP :790612020102

3
PERNYATAAN

MANAJEMEN KASUS SISTEM KARDIOVASKULER


“HIPERTENSI’’
DI RUANG LANTAI 3 GEDUNG 1 RS BUNDA THAMRIN
MEDAN TAHUN 2018

PBLK

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam laporan PBLK ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar Ners di suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah di tulis atau diterbitkan oleh orang lain, keculai yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Agustus 2018

Gusri Indra, S.Kep

4
ABSTRAK

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah


sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada
dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan
abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih
dari suatu periode. Hal ini terjadi bila arteriole-arteriole kontriksi. Kontriksi
arteriole membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan
dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila
berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah.

Dalam membuat perencanaan dilakukan langkah-langkah sesuai dengan


Asuhan Keperawatan sesuai dengan teori Hipertensi, yaitu memprioritaskan
masalah yang muncul pada klien, kemudian langkah selanjutnya adalah
menetapkan waktu yang lebih spesifik untuk masing-masing diagnosa,
menyesuaikan yang mungkin bisa dicapai oleh klien dalam waktu yang lebih
spesifik.
Pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral, selama 3 x 24 jam, hasil yang dicapai yakni : Klien mengatakan
masih pusing dan merasa nyeri pada tangan dan kaki sebelah kiri, skala nyeri 3,
keadaan umum compos mentis, klien terlihat lemah, terbaring di tempat tidur, TD :
180/90 mmHg, HR : 80x/menit, RR : 20x/menit. Masalah nyeri teratasi sebagian,
dan intervensi dilanjutkan, yakni kaji tingkat nyeri dan vital sign, jelaskan pada
klien tentang penyebab nyeri, pertahankan tirah baring bila diindikasikan, ajarkan
teknik relaksasi tarik nafas dalam dan membantu klien melakukan posisi yang
nyaman, beri obat analgetik sesuai advis dokter.
Hasil pengkajian yang didapat pada Ny.A Adalah klien mengeluh nyeri
kepala, dengan TTV : TD : 180/100 mmHg, RR : 22x/i HR : 84 x/i. Dengan
diagnosa Hipertensi. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah (>140/90
mmHg) yang angkaprovalensinya tinggi dan akibat yang ditimbulkan mempunyai
konsekwen tertentu. Sebaiknya mahasiswa keperawatan terus melatih diri untuk
mengelola manajemen keperawatan agar menjadi perawat professional yang dapat
memberikan asuhan keperawatan komprehensif.

Kata kunci : Hipertensi, Kardiovaskuler, Vasculer serebral, Manajemen

5
ABSTRACT

Hypertension or high blood pressure is an increase in systolic blood


pressure of more than 140 mmHg and diastolic blood pressure of more than 90
mmHg at two measurements with an interval of five minutes in a state of sufficient
rest / calm. Hypertension or high blood pressure is an abnormal increase in blood
pressure in the arteries continuously over a period. This occurs when arteriole-
arteriole is a contraction. Kontrassi arteriole makes blood difficult to flow and
increases pressure against the arterial wall. Hypertension adds to the workload of
the heart and arteries which if it continues can cause damage to the heart and blood
vessels.

In making planning, the steps are carried out in accordance with Nursing
Care in accordance with Hypertension theory, namely prioritizing problems that
arise on the client, then the next step is to set a more specific time for each
diagnosis, adjusting what may be achieved by the client in more time. Specific.

In the diagnosis of acute pain associated with an increase in cerebral


vascular pressure, for 3 x 24 hours, the results achieved were: The client said he
was still dizzy and felt pain in his left hand and foot, pain scale 3, general condition
compos mentis, the client looked weak, lying on bed, TD: 180/90 mmHg, HR: 80x /
minute, RR: 20x / minute. The pain problem is partially resolved, and the
intervention is continued, which is assessing the level of pain and vital sign, explain
to the client about the cause of pain, maintain bed rest if indicated, teach relaxation
techniques inhale deeply and help the client in a comfortable position, give
analgesic medication according to doctor's advice .

The results of the study obtained at Ny. Is the client complaining of


headache, with TTV: TD: 180/100 mmHg, RR: 22x / i HR: 84 x / i. With a diagnosis
of hypertension. Hypertension is an increase in blood pressure (> 140/90 mmHg)
which has a high prevalence and the consequences have certain consequences.
Nursing students should continue to train themselves to manage nursing
management to become professional nurses who can provide comprehensive nursing
care.

Keywords: Hypertension, Cardiovascular, Cerebral Vascular, Management

6
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan

hidayah Nya sehingga dengan izinNya penulis dapat menyelesaikan Laporan

Praktek Belajar Komprehensif ini yang berjudul “Manajemen Kasus Sistem

Kardiovaskuler : Hipertensin Di Lantai 3 Gedung 1 Rumah Sakit Bunda

Thamrin Medan Tahun 2018”.

Laporan ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan

Pendidikan Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Flora Medan.

Dalam menyusun laporan ini penulis mendapat bantuan, dorongan dan

bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. dr. Fithria Aldy, M.Ked (Oph), SpM, selaku Ketua STIKes Flora Medan.

2. Suherni, S.Kep.,Ns., M.Kep selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ners

STIKes Flora Medan.

3. dr. Taren, M.Kes, selaku Direktur RSU Bunda Thmarin Medan.

4. Jupentius Situmorang, S.Kep, Ns selaku Kabid. RSU Bunda Thamrin

Medan.

5. Budiana Yazid, S.Kep, Ns.,M.Kep.,selaku pembimbing PBLK yang telah

meluangkan waktu untuk memberikan masukan, arahan, bimbingan, serta

ilmu yang bermanfaat untuk penyusunan PBLK ini.

6. Seluruh Dosen Pengajar STIKES FLORA Medan yang telah banyak

mendidik penulis selama proses, perkuliahan dan staf non akanemik yang

telah membantu menfalitasi secara admisnistratif.

7
7. Keluarga, sahabat dan teman-teman penulis yang memberikan semangat dan

dukungan sehingga PBLK ini bisa diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari keterbatasan penyusunan PBLK ini, untuk itu penulis

sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan

tulisan ini. Semoga penulisan PBLK ini bermanfaat, terima kasih.

Medan Agustus 2018

Gusri Indra, S.Kep

8
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iv

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................................... 1

1.1.Latar Belakang .............................................................................


1.2.Perumusan Masalah ..................................................................... 4
1.3.Tujuan Penelitian ......................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum......................................................................... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ..................................................................... 6
1.4.Manfaat Penelitian ................................................................. 6

BAB II

TINJAUAN TEORITIS .................................................................................... 7

2.1.1 Definisi ..................................................................................... 7

2.1.2 Etiologi .................................................................................. 8


2.1.3. Klasifikasi ............................................................................... 11
2.1.4. Manifestasi Klinis ................................................................ 12
2.1.5. Patofisiologi ...... ................................................................. 13
2.1.6. Tanda dan gejala..................................................................... 14
2.1.7. Komplikasi ............................................................................. 14
2.1.8. Penatalaksanaan Medis .......................................................... 14
2.1.9. Mid mapping ......................................................................... 17
2.1.10. Pemeriksaan penunjang .......................................................... 18
2.2. Teoritis keperawatan .......................................................................... 22
2.2.1. Pengkajian ................................................................................. 22

9
2.2.2.Penerapan EBN .......................................................................... 22
2.2.3. Diagnosa Keperawatan .............................................................. 24
2.2.4. Intervensi NIC NOC ................................................................... 25

BAB III

TINJAUAN KASUS............................................................................................ 44

3.1. Pengkajian................................................................................... 47
3.2. Analisa data ............................................................................. .. 51
3.3. Diagnosa keperawatan ............................................................. .. 52
3.4. Asuhan keperawatan ............................................................... ... 53
3.5. Catatan perkembangan ............................................................... 59

BAB IV

PEMBAHASAN .................................................................................................. 66

4.1. Pengkajian Keperawatan ........................................................ ..... 66

4.2. Diagnosa Keperawatan ........................................................... .... 67

4.3. Perencanaan Keperawatan .................................................... ...... 68

4.4. Pelaksanaan Keperawatan ..................................................... ...... 69

4.5. Evaluasi .................................................................................. ..... 70

4.6. Konsep EBN ........................................................................... .... 71

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 73

5.1. Kesimpulan .................................................................................. 73


5.2. Saran .......................................................................................... .. 74

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

10
DAFTAR LAMPIRAN

No Judul

Hal

1. Resume Kasus

2. Penyuluhan

3. Jurnal EBNP

4. Dokumentasi Pelayanan Askep

5. Daftar Riwayat Hidup

6. Lembar Bimbingan

11
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hipertensi merupakan penyakit asimptomatik yaitu seringnya tidak

menunjukkan tanda gejala sebelum menyerang organ lain seperti serangan jantung

atau stroke. Hal ini juga yang menyebabkan banyak pendapat bahwa hipertensi

adalah the silent killer (Rohatami 2015).

Hipertensi merupakan penyakit yang serius dan harus dapat di kontrol.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol

merupakan faktor resiko 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena

congestive heart failure dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung (Rahajeng

dan Tuminah, 2009).

Menurut Muhamaddun (2010) berdasarkan data Lancet (2008) jumlah

penderita hipertensi seluruh dunia turus meningkat . Di India, misalnya, jumlah

penderita hipertensi mencapai 60,4 juta orang pada tahun 2002 dan diperkirakan

107,3 juta orang pada tahun 2025 . Di bagian lain di Asia , tercatat 38,4 juta

penderita hipertensi pada tahun 2000 dan diprediksi akan menjadi 67,4 juta orang

pada tahun 2025. Di Indonesia, mencapai 17-21 % dari popinsi penduduk dan

kebanyakan tidak terdeteksi. Sementara itu, Guru besar teknologi pangan IPB, I

Made Astaman (2002) menjelaskan bahwa hasil survai kesehatan rumah tangga

tahun 1995 menunjukan rata-rata penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di

Indonesia cukup tinggi. yaitu 83 per 1.000 anggota rumah tangga . Pada umumnya,

12
perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingan dengan pria. Hal tersebut

terikat erat dengan pola makan, terutama komsumsi garam, yang umumnya lebih

tinggi (Muhamaddun 2010).

Data WHO menyebutkan, jumlah penderita hipertensi di India tahun 2000

sebanyak 69,3 juta jiwa dan diperkirakan sebanyak 107,3 juta jiwa pada tahun 2025.

Di Cina pada tahun 2000 sebanyak 98,5 juta jiwa menderita hipertensi dan

diperkirakan tahun 2025 meningkat menjadi 151 juta jiwa. Sedangkan di bagian

Asia tercatat tahun 2000 penderita hipertensi sebanyak 38,4 juta jiwa dan

diperkirakan tahun 2025 meningkat menjadi 67,3 juta. Data ini menunjukkan bahwa

hipertensi masih menjadi ancaman bagi masyarakat dunia (Kamaludin, 2010).

Di dunia diperkirakan 7,5 juta kematian disebabkan oleh darah tinggi. Pada

tahun 1980, jumlah orang dengan hipertensi ditemukan sebanyak 600 juta dan

mengalami peningkatan menjadi hampir 1 milyar pada tahun 2008 (WHO, 2013).

Hasil riset WHO pada tahun 2007, menetapkan hipertensi pada peringkat tiga

sebagai faktor resiko penyebab kematian dunia. Hipertensi telah menyebabkan 62%

kasusu stroke, 49% serangan jantung setiap tahunnya (Corwin, 2007).

Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil riset kesehatan tahun 2007 diketahui

bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia sangat tinggi, yaitu rata-rata 31,7% dari

total penduduk dewasa. Hal ini berarti dari 3 orang dewasa terdapat 1 orang yang

menderita hipertensi (Rikesdas, 2008). Hasil penelitian yang dilakukan oleh

Rikesdas menemukan prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2013 sebesar

25,8%. Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan

(39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%) (Kemenkes RI, 2014).

13
Menurut Kemenkes RI (2014), sampai saat ini, hipertensi masih merupakan

tantangan besar di Indonesia. Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan

pada pelayanan kesehatan primer kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan

dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riskesdas

2013. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum kuat meskipun obat obatan

yang efektif banyak tersedia.

Di Sumatra Utara rangking proporsi kejadian 10 besar penyakit tidak

menular tahun 2016 yaitu Hipertensi 53,4%, DM 20,4% Asma Bronkiale

Gestasional 7,3%, Osteoporosis 6,4%, Penyakit Jantung Koroner 3,6%, Obesitas

2,6%, Ppdk 2,3%, Stroke 2,0%, Ginjal Kronis 1,4% dan Neoplasma 0,5%. Hery

(2017).

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan Di Rumah Sakit TK.II Putri Hijau

Medan dalam 5 bulan terakhir, ditemukan 10 penyakit fenomena kasus terbanyak

adalah Thypoid Fiver, Dyspepsia, Gastritis, Nyeri punggung bawah, DM, Gagal

Jantung, Hipertensi, Stroke, Cidera YDL, dan Apendik. penyakit hipertensi berada

pada urutan ketujuh dalam sepuluh penyakit terbesar dari penderita yang dirawat

inap Di Rumah Sakit TK.II Putri Hijau Medan Tahun 2018.

Latar belakang diatas penyakit hipertensi haruslah segera diobati agar tidak

menimbulkan gangguan masalah kesehatan lainnya, untuk itu diperlukan

penanggulangan yang serius dalam memberikan Asuhan Keperawatan. Perawat

memegang peranan penting terutama dalam pencegahan, perforasi, dan komplikasi.

Pasien sebagai fokus keperawatan mempunyai kebutuhan bio, psiko, sosial dan

spiritual sehingga dibutuhkan pendekatan yang komprehensif. Keperawatan sebagai

praktek profesional diharapkan mampu mengimbangi pengetahuan tim kesehatan

14
lainnya dalam memberikan Asuhan Keperawatan sehingga dapat mencapai tujuan

bersama yaitu memenuhi kebutuhan pasien melalui keperawatan.

Data tersebut menggambarkan bahwa masalah hipertensi perlu mendapatkan

perhatian dan penanganan yang baik. Mengingat prevalensi yang tinggi dan

komplikasi yang ditimbulkan cukup berat.

Oleh karena itu, penulis berminat memperdalam ilmu pengetahuan mengenai

kardiovaskuler (hipertensi) di Rumah Sakit Tk.II Putri Hijau Medan. Agar lebih

memahami dan mengetahui tindakan keperawatan yang akan diberikan pada pasien

tersebut.

Disini perawat dan tim kesehatan lain dapat memberikan pelayanan yang

efektif dan efisien baik scara bio, psiko, social dan spiritual. Demikian juga kita

sebagai perawat profesional mampu meningkatkan kualitas kesehatan baik dalam

pelayanan dan pencegahan agar jumlah penderita kardiovaskuler ( hipertensi ) dapat

berkurang.

Dengan melakukan Asuhan Keperawatan yang seoptimal mungkin,

berdasarkan penyakit diatas, maka penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut

mengenai manajemen kasus kardiovaskular Hipertensi di ruang XI Rumah Sakit

Tk.II Putri Hijau Medan Tahun 2018.

1.2. Perumusan Masalah

Mahasiswa dapat menemukan permasalahan selama praktek belajar sistem

kardiovaskular terutama dengan masalah hipertensi dengan bentuk penerapan yang

dilakukan adalah Manajemen kasus dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular

Hipertensi di Ruang XI Rumah Sakit Tk.II Putri Hijau Tahun 2018.

15
1.3. Tujuan Praktek Belajar Lapangan Komprehensif

1.3.1. Tujuan Umum

Praktik Belajar Lapangan Komprehensif (PBLK) ini bertujuan untuk

meningkatkan kemampuan mahasiswa/i dan mendapatkan pendidikan yang jelas dan

mampu dalam mengelolah kasus secara mandiri maupun professional tentang

asuhan keperawatan dengan gangguan sistem kardiovaskular Hipertensi di ruang

Lantai 3 Gedung 1 Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien dengan penyakit Hipertensi di

Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan penyakit

Hipertensi di Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

3. Mampu membuat rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan

penyakit Hipertensi di Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan penyakit

Hipertensi di Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

5. Mampu membuat evaluasi pada pasien dengan penyakit Hipertensi di Rumah

Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

6. Mampu menerapkan Evidence Based Nurshing pada pasien dengan penyakit

Hipertensi di Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

7. Mampu melakukan discharge planning pada pasien Hipertensi di Rumah

Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

1.4. Manfaat Praktek Belajar Lapangan Komprehensif

16
1.4.1. Bagi Mahasiswa Keperawatan

Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan

gambaran menjadi perawat professional yang dapat memberikan asuhan

keperawatan komprehensif pada pasien Hipertensi. Selain itu juga melatih

mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efesien.

1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan

Manfaat PBLK bagi institusi pendidikan adalah untuk meningkatkan

kompetensi lulusan institusi dan menghasilkan tugas akhir dalam bentuk karya tulis

ilmiah.

1.4.3. Bagi Lahan Praktek

Selama kegiatan Praktek Belajar Lapangan Komprehensif (PBLK) maka

lahan praktek dapat menggunakan tenaga mahasiswa sebagai sumber pengembangan

ilmiah agar dapat meningkatkan mutu pelayanan latihan praktek dengan penerapan

intervensi kasus kelolaan mahasiswa sehingga dapat menambah intervensi bagi

perawat ruangan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien secara

komprehensif khususnya dengan masalah asuhan keperawatan pada pasien

Hipertensi.

17
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teoritis Hipertensi

2.1.1. Defenisi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah

sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada

dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup

istirahat/tenang (Kemenkes RI, 2014).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal

tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu

periode. Hal ini terjadi bila arteriole-arteriole kontriksi. Kontriksi arteriole membuat

darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi

menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan

kerusakan jantung dan pembuluh darah (Udjianti, 2013).

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal Yang diukur

paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum seseorang dianggap

mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 mmHg

(Elizabeth dalam Ardiansyah M, 2012).

Hipertensi juga sering diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah

sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg (Arif

Muttaqin dalam Ardiansyah M, 2012).

18
2.1.2. Etiologi

Berdasarkan faktor penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

a. Hipertensi Essensial atau Hipertensi Primer

Penyebab dari hipertensi ini belum diketahui, namun faktor resiko yang diduga

kuat adalah karena beberapa faktor berikut ini (Riyadi S, 2011) :

1) Keluarga dengan riwayat hipertensi

2) Pemasukkan sodium berlebih

3) Konsumsi kalori berlebih

4) Kurangnya aktivitas fisik

5) Pemasukkan alkohol berlebih

6) Rendahnya pemasukkan potasium

7) Lingkungan

Selain faktor-faktor diatas adapula faktor yang diduga berkaitan dengan

berkembangnya hipertensi esensial diantaranya ( Ardiansyah, M. 2012) :

1) Genetik

2) Kelamin

3) Diet tinggi garam atau kandungan lemak

4) Berat badan atau obesitas

5) Gaya hidup mengkonsumsi alkohol dan merokok

b. Hipertensi Renal atau Hipertensi Sekunder

Penyebab dari hipertensi jenis ini secara spesifik seperti : penggunaan

ekstrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, hipertensi yang

berhubungan dengan kehamilan (Riyadi, S, 2011).

19
Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.

Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat

tertentu (misalnya pil KB) (Kemenkes RI, 2014).

Penyebab hipertensi esensial belum diketahui secara pasti. Banyak

sekali faktor yang dapat menyebabkan hipertensi sehingga dapat dikatakan

penyebab hipertensi adalah “multiple factors”. Adanya interaksi kompleks

antara faktor genetik dan faktor lingkungan dapat memicu terjadinya hipertensi

(Muchtadi, 2013). Faktor genetik yaitu ketidakmampuan ginjal untuk mensekresi

kelebihan garam sedangkan faktor lingkungan meliputi asupan garam yang

berlebihan dan peningkatan kadar angiotensinogen plasma. Tingkat stress diketahui

memperberat hipertensi tetapi masih belum dapat dipastikan bahwa stress

memunculkan gejala hipertensi (Purnomo, 2007).

Beberapa faktor penyebab hipertensi yang telah diketahui adalah

sebagai berikut :

a. Pola Konsumsi

Konsumsi tinggi natrium (Na) terutama yang berasal dari garam (NaCl)

diketahui menjadi salah satu penyebab hipertensi. Selain itu, natrium juga

terdapat dalam penyedap makanan (MSG, monosodium glutamate) dan soda

kue (NaHCO3, natrium bikarbonat) (Muchtadi, 2013). Konsumsi garam

berhubungan erat dengan terjadinya tekanan darah tinggi. Hipertensi tidak

terjadi jika asupan garam dibatasi hingga <50-100 mmol/hari.

b. Kelainan Ginjal

Adanya kelainan atau kerusakan pada ginjal dapat menyebabkan gangguan

pengaturan tekanan darah melalui produksi renin oleh sel juxtaglomerular ginjal.

20
Renin merupkan enzim yang berperan dalam lintasan metabolisme sistem RAA

(Renin Angiotensin Aldosteron). Renin penting untuk mengendalikan

tekanan darah, mengatur volume ektraseluler plasma darah dan

vasokonstriksi arteri (Muchtadi, 2013).

c. Penuaan

Insiden hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Hampir

setiap orang mengalami peningkatan tekanan darah pada usia lanjut. Hal ini

terkait dengan salah satu perubahan yang terjadi karena proses penuaan yaitu

berkurangnya kecepatan aliran darah dalam tubuh. Dengan bertambahnya

usia, dinding pembuluh darah arteri menjadi kaku dan menurun

elastisitasnya (arteriosklerosis) sehingga terjadi peningkatan resistensi

pembuluh darah yang menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk

memompa darah, akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah sistolik

(Muchtadi, 2013).

d. Obesitas

Pada sebagian besar penderita, peningkatan berat badan yang berlebihan dan

gaya hidup memiliki peran utama dalam menyebabkan hipertensi. Tiap kenaikan

berat badan ½ kg dari berat badan normal yang direkomendasikan dapat

mengakibatkan kenaikan tekanan darah sistolik 4,5 mmHg (Muchtadi, 2013).

Hipertensi primer dengan kenaikan berat badan berlebih dan obesitas bisa terjadi

karena peningkatan curah jantung akibat aliran darah tambahan yang

diperlukan untuk jaringan adiposa ekstra dan meningkatnya laju metabolik

seiring dengan peningkatan berat badan (Guyton & Hall, 2014).

21
e. Stress

Hipertensi dapat juga disebabkan oleh karena stress (fisik atau mental),

dimana pada kondisi ini kelenjar adrenal akan merilis hormon epinefrin

atau adrenalin. Pelepasan hormon epinefrin atau adrenalin mengaktivasi

reseptor β-adrenergik yang menyebabkan peningkatan influks kalsium kedalam

sel jantung sehingga mengakibatkan denyut jantung meningkat dan

berhubungan dengan adanya peningkatan tekanan sistolik.

2.1.3. Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya, hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi hipertensi

primer (hipertensi essensial) dan hipertensi sekunder. Hampir lebih dari 90-95%

kasus hipertensi merupakan hipertensi primer. Hipertensi primer adalah hipertensi

dengan penyebab yang tidak diketahui (Guyton & Hall, 2014). Belum ada teori yang

jelas menyatakan patogenesis hipertensi primer tersebut. Namun, faktor genetik

memegang peranan penting pada patogenesis hipertensi primer.

Selanjutnya, dikatakan hipertensi sekunder jika terjadinya hipertensi

disebabkan oleh penyakit lain. Hanya sekitar 5-10% kasus hipertensi merupakan

sekunder dari penyakit komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan

tekanan darah. Banyak penyebab hipertensi sekunder baik endogen maupun

eksogen. Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau

penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat

tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau

memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Apabila penyebab

sekunder dapat diidentifikasi, maka dengan menghentikan obat yang bersangkutan

22
atau mengobati/mengoreksi kondisi komorbid yang menyertainya sudah merupakan

tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder.

Disamping itu, terdapat klasifikasi hipertensi menurut JNC VIII (The Eighth

Joint National Committe) yang didasarkan pada rata-rata pengukuran dua tekanan

darah atau lebih pada dua atau lebih kunjungan klinis untuk pasien dewasa (umur ≥

18 tahun). Klasifikasi tekanan darah tersebut mencakup empat kategori dengan nilai

normal pada tekanan darah sistolik (TDS) <120 mmHg dan tekanan darah diastolik

(TDD) < 80 mmHg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi

mengidentifikasi pasien yang tekanan darahnya cenderung meningkat ke klasifikasi

hipertensi dimasa yang akan datang.

Tabel 1 Klasifikasi hipertensi menurut JNC VIII

Klasifikasi Tekanan Sistolik (mm/hg) Tekanan Diastolik (mm/Hg)


Normal < 120 < 80
Pre hipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stage I 140-159 90-99
Hipertensi stage II > sama dengan 160 > sama dengan 100

2.1.4. Manifestasi Klinis

Hipertensi tidak memberikan gejala khas, baru setelah beberapa tahun ada

kalanya pasien merasakan nyeri kepala pagi hari sebelum bangun tidur, nyeri ini

biasanya hilang setelah bangun. Gangguan hanya dapat dikenali dengan pengukuran

tensi atau melalui pemeriksaaan tambahan terhadap ginjal dan pembuluh (Kirana,

Rahardja dan Tan Hoan Tjay, 2010).

Hipertensi dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur.

Penderita hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik akan mempunyai risiko

23
besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskuler seperti stroke, serangan

jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal.

Pada kasus hipertensi berat, gejala yang dialami klien antara lain sakit kepala

(rasa berat di tengkuk), nausea, vomiting, ansietas, keringat berlebihan, tremor otot,

nyeri dada, epistaksis, pandangan kabur atau ganda, tinnitus (telinga berdenging),

serta kesulitan tidur (Udjianti, 2013).

2.1.5 Patofisiologi

(Artjatmo Tjokronegoro. 2010)

24
2.1.6 Tanda dan Gejala

Biasanya tanda gejala atau tanda-tanda peringatan untuk hipertensi dan sering

disebut “ silent killer. “ Pada kasus hipertensi berat, gejala yang dialami klien

antara lain : sakit kepala (rasa berat di tekuk), palpitasi, kelelahan, nausea, vomiting,

ansietas, keringat berlebihan, tremor otot, nyeri dada, epistaksis, pandangan kabur

atau ganda, tinnitus (telinga berdenging), serta kesulitan tidur. (Wajan Juni Udjianti,

2012)

2.1.7 Komplikasi

Komplikasi hipertensi terhadap organ-organ :

a) Mata : Perdarahan retina, gangguan penglihatan, kebutaan.

b) Jantung : Gagal jantung, penyakit jantung koroner, miokard.

c) Otak : Perdarahan otak, tromboemboli dan serangan iskemia otak

sementara

d) Ginjal : Gagal ginjal, sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang

lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.

2.1.8 Penatalaksanaan Medis

a. Farmakologi

Terapi obat pada penderita hipertensi dapat dimulai dengan salah satu obat

berikut (Ardiansyah. M, 2012) :

1) Hidroklorotiazid (HCT) 12,5-25 mg/hari dengan dosis tunggal pada pagi

hari (pada hipertensi dalam keadaan kehamilan, hanya digunakan bila

disertai hemokonsentrasi atau udem paru).

25
2) Reserpin 0,1-0.25 mg/hari sebagai dosis tunggal.

3) Propanolol mulai dari 10 mg 2xsehari yang dapat dinaikkan 20 mg 2xsehari

(kontraindikasi untuk penderita asma).

4) Kaptropil 12,5-25 mg sebanyak 2-3xsehari (kontra indikasi pada kehamilan

selama janin hidup dan penderita asma).

5) Nifedepin mulai dari 5mg 2xsehari, bisa dinaikkan 10mg 2xsehari.

b. Non Farmakologi

Langkah awal biasanya adalah dengan mengubah pola hidup penderita, yakni

dengan cara (Ardiansyah. M, 2012) :

1) Menurunkan berat badan sampai batas ideal.

2) Mengubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan, atau kadar

kolesterol darah tinggi.

3) Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gr natrium atau 6 gr

natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium

dan kalium yang cukup).

4) Mengurangi konsumsi alkohol.

5) Berhenti merokok.

6) Olahraga aerobik yang tidak terlalu berat (penderita hipertensi esensial tidak

perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali).

26
2.1.9. Mind Maping Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan
selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Kemenkes RI, 2014). Etiologi :
1. Hipertensi Essensial : tidak
Obesitas Stress Genetik Usia diketahui penyebabnya
Manifestasi Klinis :
2. Hipertensi Primer : disebabkan
 Sakit kepala/pusing
oleh pemyakit lainnya
 Lemas/kelelahan
 Sesak nafas Hipertensi Perubahan status kesehatan
 Gelisah
 Mual, muntah Kerusakan vaskuler pembuluh darah
*Noc : Cemas *Nic :
 Epistaksis Perubahan Struktur Kontrol kecemasan 1. Gunakan pendekatan yg menenangkan
 Kesadaran menurun Setelah dilakukan tindakan 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pasien
Penyumbatan pembuluh darah keperawatan selama 3x24 jam 3. Jelaskan semua prosedur
kecemasan teratasi dengan 4. Temani pasien untuk memberikan keamanan
Vasokonstriksi kriteria hasil : dan mengurangi takut
1. Klien mampu 5. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,
Gangguan sirkulasi mengidentifikasi dan tindakan prognosis
mengungkapkan gejala cemas 6. Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
2. Vital sign dalam batas normal 7. Instruksikan pada pasien untuk menggunakan
Otak Pembuluh darah 3. Postur tubuh,ekspresi wajah, teknik relaksasi
bahasa tubuh dan tingkat 8. Dengarkan dengan penuh perhatian
Resistensi pembuluh darah otak meningkat Sistemik aktivitas menunjukkan 9. Identifikasi tingkat kecemasan
berkurangnya cemas 10. Kelola pemeberian obat anti cemas
Vasokonstriksi
Nyeri Kepala
Afterload Meningkat Fatique Intoleransi aktivitas Paparan informasi kurang
*Noc : *Nic :
Kontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri
Setelah dilakukan tindakan 2. Observasi reaksi non verbal Resiko tinggi penurunan curah jantung *Noc : *Nic : Kurang pengetahuan
keperawatan pasien tidak 3. Bantu klien menemukan Setelah dilakukan 1. Observasi adanya
*Noc : *Nic : asuhan keperawatan pembatasan klien dalam *Noc : *Nic :
mengalami nyeri dengan dukungan Setelah dilakukan 1. Evaluasi adanya nyeri dada Setealah dilakukan 1. Kaji tingkat pengetahuan klien
kriteria hasil : 4. Kontrol lingkungan yg klien bertoleransi melakukan aktivitas
asuhan keperawatan 2. Catat adanya disritmia terhadap aktivitas 2. Kaji adanya faktor yang asuhan keperawatan 2. Jelaskan patosfisiologi penyakit
1. Mampu mengontrol dapat mempengaruhi nyeri penurunan kardiak jantung klien menunjukkan 3. Gambarkan tanda dan gejala yg
nyeri 5. Kurangi faktor prespitasi dengan kriteria hasil menyebabkan kelelahan
output kilen teratasi 3. Catat adanya gejala : 3. Monitor nutrisi dan sumber pengetahuan tentang biasa muncul
2. Melaporkan bahwa nyeri nyeri dengan kriteria hasil : penurunan cardiac output proses penyakit dengan 4. Gambarkan proses penyakit
berkurang 6. Kaji tipe dan sumber nyeri 1. Berpartisipasi dalam energi yg adekuat
1. Tanda vital dalam 4. Monitor status kardiovaskuler aktivitas fisik 4. Monitor pasien akan kriteria hasil : 5. Identifikasi kemungkinan
3. Mampu mengenali nyeri 7. Ajarkan teknik rentang normal 5. Monitor balance cairan 1. Klien dan keluarga penyebab dgn cara tepat
4. Menyatakan rasa nyaman nonfarmakologi disertai peningkatan adanya kelelahan fisik dan
2. Dapat mentoleransi 6. Monitor respon pasien tekanan darah, nadi emosi secara berlebihan menyatakan pemahaman 6. Sediakan informasi pada klien
5. Ttv dalam rentang 8. Berikan analgetik aktivitas, tidak ada terhadap pengobatan tentang penyakit tentang kondisi dgn cara tepat
normal 9. Tingkatkan istirahat dan RR 5. Monitor respon
kelelahan 7. Monitor adanya dispneu, 2. Mampu melakukan kardiovaskuler terhadap 2. Klien dan keluarga 7. Hindari harapan kosong
6. Tidak mengalami 10. Berikan informasi ttg nyeri 3. Tidak ada edema paru fatique, takipneu mampu melaksanakan 8. Sediakan bagi keluarga
11. Monitor tanda-tanda vital aktivitas sehari-hari aktivitas
gangguan tidur 4. Tidak ada penurunan 8. Monitor tanda-tanda vital prosedur yg dijelaskan informasi ttg kemajuan klien
(ADLs) secara 6. Monitor pola tidur
kesadaran 9. Minimalkan stres lingkungan mandiri secara benar 9. Diskusikan terapi/penanganan

27
2.1.10. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Pemeriksaan yang segera seperti :

a) Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin) : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap

volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti:

hipokoagulabilitas, anemia.

b) Blood Unit Nitrogen/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.

c) Glukosa : Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan

oleh pengeluaran Kadar ketokolamin (meningkatkan hipertensi).

d) Kalium serum : Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab)

atau menjadi efek samping terapi diuretik.

e) Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.

f) Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/

adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ).

g) Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.

h) Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab).

i) Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.

j) Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.

k) Steroid urin : Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.

l) EKG 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel kiri ataupun

gangguan koroner dengan menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang

P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

m) Foto dada : apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan terlaksana) untuk

menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran jantung.


2. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang pertama) :

a) IVP : Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim ginjal, batu

ginjal / ureter.

b) CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.

2.2 Pengkajian Keperawatan

2.2.1. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan melalui kegiatan pengumpulan

data atau perolehan data yang akurat dapat pasien guna mengetahui berbagai permasalahan yang ada

(Aziz Alimul, 2009).

Pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes (2001) adalah:

1. Aktivitas/Istirahat

Gejala : Kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.

2. Sirkulasi

Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit

serebrovaskular, episode palpitasi, perspirasi.

Tanda : Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk

menegakan diagnostik)

3. Integritas Ego

Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, defresi, euphoria, atau marah kronik

(dapat mengindikasikan kerusakan serebral).


Tanda : Letupan suasan hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang

meledak, otot muka tegang (khusus sekitar mata), gerakan fisik cepat, pernapasan menghela,

peningkatan pola bicara.

4. Eliminasi

Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti infeksi/obstruksi atau riwayat

penyakit ginjal masa yang lalu).

5. Makanan/Cairan

Gejala : Makanan yang disukai, yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak,

tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng, keju, telur) , gula-gula yang berwarna hitam

kandungan tinggi kalori. Mual, muntah. Perubahan berat badan akhir-akhir ini

(meningkat/turun). Riwayat penggunaan diuretic.

Tanda : Berat badan normal atau obesitas. Adanya edema (mungkin umum atau tertentu),

kongesti vena, DVJ, glikosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah diabetik).

6. Neurosensori

Gejala : Keluhan pening/pusing. Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun

dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam). Episode kebas atau kelemahan pada satu

sisi tubuh. Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur). Episode epistaksisi.

Tanda : Status mental perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, proses pikir atau

memori (ingatan). Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan atau refleks tendon

dalam. Perubahan-perubahan retina optik dari sklerosisi/penyempitan arteri ringan sampai berat

dan perubahan sklerotik dengan edema atau papiledema, eksudat, dan hemoragi tergantung pada

berat/lamanya hipertensi.

7. Nyeri/Ketidaknyamanan
Gejala : Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung), nyeri hilang timbul pada

tungkai/klaudikasi (indikasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah). Sakit kepala

oksipital berat seperti yang terjadi sebelumnya. Nyeri abdomen/massa (feokromositoma).

8. Pernapasan

Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja. Takipnea, ortopnea, dispnea

nocturnal paroksisimal. Batuk dengan/tanpa pembentukkan sputum. Riwayat merokok.

Tanda : Distres respirasi/penggunaan otot aksesoris pernapasan. Bunyi nafas tambahan

sianosis.

9. Keamanan

Gejala : Gangguan koordinasi/cara berjalan, episode parastesis unilateral transien. Hipotensi

postural.

10. Pembelajaran/Penyuluhan

Gejala : Faktor-faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes

melitus, penyakit serebrovaskular/ginjal. Faktor-faktor resiko etnik seperti : orang Afrika-

Amerika, Asia Tenggara. Penggunaan pil KB atau hormone lain : penggunaan obat/alkohol.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral

2. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan oksigen

3. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d peningkatan afterload, vasokonstriksi,

hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard

4. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi tentang proses penyakit.

5. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan


6. Potensial perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung.

7. Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita oleh

klien.

8. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri.

9. Penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan irama jantung, stroke volume.

10. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kecemasan, kelemahan dan kelelahan.

11. Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan sekitar.

12. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan gangguan sirkulasi.

13. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidak seimbangan perfusi ventilasi.

14. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.

2.2.3. Intervensi NOC dan NIC

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

1. Nyeri akut NOC : NIC :

Definisi : Sensori yang tidak  tingkat nyeri


Pain Management
menyenangkan dan pengalaman  Konrol rasa
emosional yang muncul secara
nyeri  Lakukan
aktual atau potensial kerusakan
jaringan atau menggambarkan  Tingkat pengkajian nyeri
adanya kerusakan (Asosiasi kenyamanan secara
Studi Nyeri Internasional):
Kriteria Hasil : komprehensif
serangan mendadak atau pelan
intensitasnya dari ringan sampai termasuk lokasi,
 Mampu
berat yang dapat diantisipasi karakteristik,
mengontrol nyeri
dengan akhir yang dapat durasi, frekuensi,
diprediksi dan dengan durasi (tahu penyebab
kurang dari 6 bulan. kualitas dan faktor
nyeri, mampu
presipitasi
Batasan karakteristik : menggunakan
- Laporan secara verbal atau tehnik  Observasi reaksi
non verbal nonfarmakologi nonverbal dari
- Fakta dari observasi untuk mengurangi ketidaknyamanan

- Posisi antalgic untuk nyeri, mencari  Gunakan teknik


menghindari nyeri bantuan) komunikasi

- Gerakan melindungi  Melaporkan bahwa terapeutik untuk


nyeri berkurang mengetahui
- Tingkah laku berhati-hati
dengan pengalaman nyeri
- Muka topeng menggunakan pasien
- Gangguan tidur (mata manajemen nyeri  Kaji kultur yang
sayu, tampak capek, sulit atau  Mampu mengenali mempengaruhi
gerakan kacau, menyeringai)
nyeri (skala, respon nyeri
- Terfokus pada diri sendiri intensitas,  Evaluasi
- Fokus menyempit (penurunan frekuensi dan tanda pengalaman nyeri
persepsi waktu, kerusakan nyeri) masa lampau
proses berpikir, penurunan
interaksi dengan orang dan  Menyatakan rasa  Evaluasi bersama
lingkungan) nyaman setelah pasien dan tim
nyeri berkurang kesehatan lain
- Tingkah laku distraksi, contoh
: jalan-jalan, menemui orang lain  Tanda vital dalam tentang
dan/atau aktivitas, aktivitas rentang normal ketidakefektifan
berulang-ulang)
kontrol nyeri masa
- Respon autonom (seperti lampau
diaphoresis, perubahan tekanan
darah, perubahan nafas, nadi dan  Bantu pasien dan
dilatasi pupil) keluarga untuk

- Perubahan autonomic dalam mencari dan


tonus otot (mungkin dalam menemukan
rentang dari lemah ke kaku) dukungan
- Tingkah laku ekspresif (contoh  Kontrol lingkungan
: gelisah, merintih, menangis, yang dapat
waspada, iritabel, nafas
mempengaruhi
panjang/berkeluh kesah)
nyeri seperti suhu
- Perubahan dalam nafsu makan
ruangan,
dan minum pencahayaan dan

Faktor yang berhubungan : Agen kebisingan


injuri (biologi, kimia, fisik,  Kurangi faktor
psikologis) presipitasi nyeri
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
inter personal)
 Kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
 Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
 Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
 Evaluasi
keefektifan kontrol
nyeri
 Tingkatkan
istirahat
 Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil.
 Monitor
penerimaan pasien
tentang
manajemen nyeri)

Intoleransi1.aktivitas
2 b/d NOC : NIC :
kelemahan, ketidakseimbangan
2
suplai dan kebutuhan oksigen.  Koservasi Activity Therapy
2
Energi
Definisi : Ketidakcukupan
2  Kolaborasikan
energu secara fisiologis maupun  Toleransi
2 dengan Tenaga
psikologis untuk meneruskan aktifitas
atau menyelesaikan aktifitas Rehabilitasi Medik
 Prawatan diri
yang diminta atau aktifitas sehari dalammerencanaka
hari. Kriteria Hasil :
n progran terapi
Batasan karakteristik :  Berpartisipasi
yang tepat.
dalam aktivitas
· melaporkan secara verbal  Bantu klien untuk
adanya kelelahan atau fisik tanpa disertai
mengidentifikasi
kelemahan. peningkatan
aktivitas yang
· Respon abnormal dari tekanan tekanan darah, nadi
mampu dilakukan
darah atau nadi terhadap aktifitas dan RR
 Bantu untuk
· Perubahan EKG yang  Mampu melakukan
memilih aktivitas
menunjukkan aritmia atau aktivitas sehari hari
konsisten
iskemia (ADLs) secara
yangsesuai dengan
· Adanya dyspneu atau mandiri
kemampuan fisik,
ketidaknyamanan saat
beraktivitas. psikologi dan
social
Faktor factor yang berhubungan
:Tirah Baring atau imobilisasi  Bantu untuk
mengidentifikasi
· Kelemahan menyeluruh
dan mendapatkan
· Ketidakseimbangan antara
sumber yang
suplei oksigen dengan
kebutuhan diperlukan untuk
aktivitas yang
· Gaya hidup yang
dipertahankan. diinginkan
 Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda,
krek
 Bantu untu
mengidentifikasi
aktivitas yang
disukai
 Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu
luang
 Bantu
pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan
penguatan positif
bagi yang aktif
beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
 Monitor respon
fisik, emoi, social
dan spiritual
Resiko3 tinggi terhadap NOC : NIC :
penurunan curah jantung b/d
peningkatan afterload,  Aktivita  Cardiac Care
vasokonstriksi, s pompa  Evaluasi adanya
hipertrofi/rigiditas ventrikuler, jantung nyeri dada (
iskemia miokard
 Status intensitas,lokasi,
relaksi durasi)
 Status  Catat adanya
tanda disritmia jantung
tanda  Catat adanya tanda
vital dan gejala
sign penurunan cardiac
putput
 Monitor status
kardiovaskuler
 Monitor status
pernafasan yang
menandakan gagal
jantung
 Monitor abdomen
sebagai indicator
penurunan perfusi
 Monitor
balance cairan
 Monitor adanya
perubahan tekanan
darah
 Monitor respon
pasien terhadap
efek pengobatan
antiaritmia
 Atur periode
latihan dan
istirahat untuk
menghindari
kelelahan
 Monitor toleransi
aktivitas pasien
 Monitor adanya
dyspneu, fatigue,
tekipneu dan
ortopneu
 Anjurkan utk
menurunkan stress
4 Kurang pengetahuan NOC : NIC :
berhubungan dengan kurangnya  Pengetahuan : proses  Teaching : disease
informasi tentang proses
penyakit Process
penyakit
 Pengetahuan :  Berikan penilaian
prilaku kesehatan tentang tingkat
Kriteria Hasil : pengetahuan
pasien tentang
 Pasien dan keluarga
proses penyakit
menyatakan
yang spesifik
pemahaman tentang
penyakit, kondisi,  Jelaskan

prognosis dan patofisiologi dari

program pengobatan penyakit dan


bagaimana hal ini
 Pasien dan keluarga
berhubungan
mampu
dengan anatomi
melaksanakan
dan fisiologi,
prosedur yang
dengan cara yang
dijelaskan secara
tepat.
benar
 Pasien dan keluarga  Gambarkan tanda
dan gejala yang
mampu menjelaskan
biasa muncul pada
kembali apa yang
penyakit, dengan
dijelaskan
cara yang tepat
perawat/tim
kesehatan lainnya.  Gambarkan proses
penyakit, dengan
cara yang tepat
 Identifikasi
kemungkinan
penyebab, dengna
cara yang tepat
 Sediakan informasi
pada pasien
tentang kondisi,
dengan cara yang
tepat
 Hindari harapan
yang kosong
 Sediakan bagi
keluarga atau SO
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang
tepat
 Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan
penyakit
 Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
 Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau mendapatkan
second opinion
dengan cara yang
tepat atau
diindikasikan
 Eksplorasi
kemungkinan
sumber atau
dukungan, dengan
cara yang tepat
 Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang
tepat
 Instruksikan pasien
mengenai tanda
dan gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan
cara yang tepat

5 Ketidak seimbangan nutrisi NOC : NIC :

 Status nutrisi : Weight Management


makanan dana  Diskusikan bersama
asupan cairan pasien mengenai
 Status nutrisi : hubungan antara
asupan nutrisi intake makanan,
 Pengendalian latihan,
berat peningkatan BB
Kriteria Hasil : dan penurunan BB
 Mengerti factor  Diskusikan bersama
yang meningkatkan pasien mengani
berat badan kondisi medis yang
 Mengidentfifikasi dapat
tingkah laku mempengaruhi BB
dibawah kontrol  Diskusikan
klien bersama pasien
 Memodifikasi diet mengenai
dalam waktu yang kebiasaan, gaya
lama untuk hidup dan factor
mengontrol berat herediter yang dapat
badan mempengaruhi BB
 Penurunan berat  Diskusikan
badan 1-2 bersama pasien
pounds/mgg mengenai risiko
 Menggunakan yang berhubungan
energy untuk dengan BB berlebih
aktivitas sehari hari dan penurunan BB
 Dorong pasien
untuk merubah
kebiasaan makan
 Perkirakan BB
badan ideal pasien
Nutrition
Management

 Kaji adanya
alergi
makanan
 Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
 Anjurkan pasien
untuk
meningkatkan
intake Fe
 Anjurkan pasien
untuk
meningkatkan
protein dan
vitamin C
 Berikan
substansi gula
 Yakinkan diet yang
dimakan
mengandung
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
 Berikan makanan
yang terpilih
(sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
 Ajarkan pasien
bagaimana
membuat catatan
makanan harian.
 Monitor jumlah
nutrisi dan
kandungan kalori
 Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
 Kaji kemampuan
pasien untuk
mendapatkan
nutrisi
yang dibutuhkan

6 Potensial perubahan perfusi NOC NIC


jaringan  Situasi sikulasi
Weigh Management
 Situasi perfusi
 Pertahankan
jaringan
tirah baring.
Kriteria Hasil :
 Kaji tekanan
 Mengerti
darah saat
penyebab
masuk.
terjadinya
 Pertankan
kerusakan
cairan dan
perfusi jaringan
obat sesuai
 Aktivitas
pesanan.
pompa jantung
 Amati adanya
 Observasi ttv
hipotensi
mendadak
 Ukur masukan
dan
pengeluaran
 Pantau
elektrolit
 Ambulasi
sesuai
kemampuan :
hindari
kelelahan

7 cemas berhubugan dengan NOC NIC


psikososial, stres, perubahan  Kontrol
Anxiety Reduction
status kesehatan. kecemasan
 Gunakan
 Koping
pendekatan
Kriteria Hasil :
yang
 Klien mampu
menenangkan
mengidentifika
 Nyatakan
dan
dengan jelas
mengungkapka
harapan
n gejala cemas
terhadap klien
 Mengidentifika
 Jelaskan
si dan tehnik
semua
untuk
prosedur dan
mengontrol
apa yang
cemas.
dirasakan
 Vital sign
selama
dalam batas
prosedur
normal.
 Temani klien
 Postur tubuh
memberikan
ekspresi wajah
keamanan dan
batas dan
mengurangi
tingkat
takut.
aktivitas
 Libatkan
menunjukkan
keluarga untuk
berkurangnya
mendapingi
kecemasan.
klien.
 Dengarkan
dengan penuh
perhatian
 Identifikasi
tingkat
kecemasan
 Dorong klien
untuk
mengungkapk
an perasaan
ketakutan,
persepsi
 Kelola
pemberian
obat anti
cemas.

8 Pola nafas tidak efektif NOC NIC


 Respiratory
 Posisikan
status :
klien untuk
ventilation
 Air way memaksimalka
 Vital sign n ventilasi
status
 Pasang mayo
Kreteria Hasil :
bila perlu
 Mendemonstras
ikan nafas agar  Lakukan

tidak sesak, fisioterpi dada


mampu
 Keluarkan
bernafas
dengan mudah sekret dengan
tidak ada sesak. batuk
 Menunjukkan  Berikan
jalan nafas
pelembab
yang paten.
udara kassa
 Tanda tanda
vital dalam basah
rentang yang
 Auskultasi
normal.
suara nafas,

catat adanya

suara

tambahan

 Monitor pada

nafas.

9 Penurunan curah jantung NIC NOC


berhubungan dengan gangguan  Cardiac pump
 Evaluasi
irama jantung, stroke dan efectiveness
adanya nyeri
volume, kontraksi jantung  Sirculation
dada.
status
 Catat adanya
 Vital sign
disritmia
status
jantung
 Tissue
 Catat adanya
perfusion ;
tanda dan
perifer
gejala
Kreteria Hasil ;
penurunan
 Tanda vital cardiac putput
dalam rentang  Monitor status
normal pernafasan
 Dapat yang
menoleransi
aktivitas, tidak menandakan
ada kelelahan. gagal jantung
 Tidak ada  Monitor
edema paru, balence cairan
perifer. Dan  Monitor
tidak ada asites. respon klien
 Tidak ada  Atur periode
penurunan latihan dan
kesadaran istirahat untuk
 Agd dalam menghindari
batas normal kelelahan
 Tidak ada  Monitor
distensi leher toleransi
aktivitas klien.
 Anjurkan
untuk
menurunkan
stress.
10 Defisit perawatan diri NOC NIC
 Self Care ; Self Care Assistane :
berhubungan dengan penurunan  Monitor klien
activity of daily
atau kurangnya motivasi, living (adls) untuk
melakukan
hambatan lingkungan, Kriteria Hasil :
perawatan diri
kerusakan.  Klien terbebas
yang mandiri
dari bau badan
 Monitor
 Menyatakan
kenutuhan
kenyamanan
klien untukn
terhadap
alat-alat bantu
kemampuan
untuk
untuk
kebersihan
melakukan
diri,
Adls
 Dapat berpakain,
melakukan berhias, dan
Adls dengan makan
bantuan  Sediakan
bantuan
sampai klien
mampu
secarah utuh
untuk
melqakukan
self care
 Dorong klien
untuk
melakukan
aktivitas
sehari-hari
yang normal
sesuaikemamp
uan yang
dimiliki
 Berikan
aktivitas rutin
sehari-hari
sesuai
kemampuan
 Pertimbangkan
usia klien jika
mendorong
pelaksanaan
aktivitas
sehari-hari.
11 Gangguan pola tidur NOC NIC

berhubungan dengan  Anxity Control Sleep Enhancement


 Confort level  Determinasi
psikologis  Pain level
efek-efek
medikasi
Kriteria Hasil :
terhadap pola

 Jumlah jam tidur

tidur dalam  Jelaskan


batas normal pentingnya

 Pola tidur, tidur yang

kualitas dalam adekuat

batas normal  Fasilitas untuk

 Perasaan fresh mempertahank

sesudah an aktivitas

tidur/istirahat sebelum tidur

 Mampu  Ciptakan

mengidentifika limgkungan

si hal-hal yang yang nyaman

dapat  Kolaborasi
meningkatkan pemberian
tidur obat tidur.

12 Kerusakan integritas jaringan NOC NIC


 Tissue integrity
berhubungan dengan gangguan  Anjurkan klien
: skind and
sirkulasi, iritasi kimia, cairan. mucous untuk

membranes menggunakan
pakaian yang
 Wound healing
longgar
: primary and
 Jaga kulit agar
secondary
tetap kering
intention
Kriteria Hasil : dan bersih
 Mobilisasi
 Perfusi jaringan
klien
normal
 Monitor kulit
 Tidak ada
akan adanya
tanda-tanda
kemerahan
infeksi
 Oleskan lution
 Ketebalan dan
atau oiln pada
tekstur jaringan
daerah yang
normal
tertekan.
 Menunjukkan
 Monitor
pemahaman
aktivitas dan
dalam proses
mobilisasi
perbaikan kulit
klien
dan mencegah
 Monitor status
terjadinya
nutri klien
cidera berulang
 Memandikan
klien dengan
sabun dan air
hangat
 Cegah
kontaminasi
feses dan urine
 Lakukan
teknik
perawatan
luka dengan
steril

13 Gangguan pertukaran gas NOC NIC
 Respiratory
 Berikan
satus : gas
exchange pelembab
 Keseimbangan udara
asam basah,  Atur intake
elektrolit untuk cairan
Kriteria Hasil : mengoptimalk
an
 Mendemonstras
keseimbangan
ikan
peningkatan  Monitor

ventilasi dan respirasi dan

okdigenasi status O2

yang adekuat  Catat

 Memelihara pergerakan

kebersihan dada, amati

pari-paru dan kesimetrian,

beban dari penggunaan

tanda distres otot

pernafasan tambahan,retra
ksi otot
 Agd dalam
batas normal  Monitor pola
nafas
 Status
neorologis  Auskultasi

dalam batas suara nafas.

normal.  Observasi
sianosis
khususnya
membran
mukosa.
 Auskultasi
bunyi jantung,
irama dan
denyut
jantung.
14 Ansietas berhubungan dengan NOC NIC

krisis situasional  Ansietas Pengkajian :


berkurang  Kaji dan
 Menunjukan dokumentasika
pengendalian n tingkat
diri terhadap kecemasan
ansietas ; yang klien,
dibuktikan oleh termasuk
indikator. reaksi fisik.
 Kaji untuk
faktor budaya
yang menjadi
penyebab
ansietas.
 Gali bersama
klien tentang
tehnik yang
berhasil dan
tidak berhasil
menurunkan
ansietas
dimasa lalu.
 Sediakan
informasi
factual.

(Sumber : Buku Diagnosa Keperawatan Noc dan Nic Tahun 2013)


2.2.4. Penerapan EBN ( Evidence Based Nurshing)

Dalam jurnal keperawatan “ Efektifitas kompres hangat dileher dalam mengurangi nyeri

kepala pada pasien hipertensi, disimpulkan bahwa tindakan kompres air hangat merupakan tindakan

yang cukup efektif dalam mengurangi nyeri pada penderita hipertensi. Oleh karena itu, sebaiknya

penggunaan antipiretik tidak diberikan secara otomatis pada setiap keadaan nyeri kepala. Salah satu

tanda dan gejala dari penderita hipertensi adalah pasien mengalami keluhan nyeri (Hidayat, 2009).

Nyeri merupakan suatu sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus spesifik bersifat subyektif

dan berbeda antara masing-masing individu karena dipengaruh oleh faktor psikososial seseoarang,

sehingga orang tersebut lebih merasakan nyeri (Potter dan Perry, 2005). Menurut Andarmoyo

(2013), mendefenisikan nyeri sebagai suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang tidak

menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual, potensial atau yang dirasakan dalam

kejadian-kejadian saat terjadi kerusakan. Nyeri kepala terjadi karena adanya ateroseklorosis yang

menyebabkan spasme pada pembuluh darah (arteri) dan penurunan O2 (oksigen) di otak. Nyeri

tersebut dapat ditangani dengan penatalaksanaan nonfarmakologis, salah satunya yaitu dengan

menggunakan kompres hangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian

kompres hangat pada leher terhadap penurunan intensitas nyeri kepala pada pesian hipertensi di

Rumah Sakit Tk.II Putri Hijau. Seperti penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Tugurejo

Semarang, jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah quasi experiment design

dengan rancangan non equivalent control group design, menggunakan tehnik sampling purposive

sampling, dengan jumlah sampel adalah 36 responden, 18 responden perlakuan dan 18 responden

kontrol. Pengambilan data dengan menggunakan lembar observasi dan melakukan intervensi

kompres hangat pada leher. Hasil penelitian dengan menggunakan uji wilcoxon sign test didapat

nilai p value 0,000(p<0,05) dan uji mann whitney dengan p value 0,000 (p<0,05), sehingga dapat

disimpulkan ada pengaruh pemberian kompres hangat pada leher terhadap penurunan intensitas
nyeri kepala pada pasien hipertensi, dimana kelompok yang diberikan kompres hangat pada leher

lebih efektif dibandungkan dengan kelompok yang btidak diberikan kompres hangat pada leher.

Diharapkan perawat dapat meminimalkan pemakaian analgesik untuk mengurangi nyeri kepala dan

menggunakan kompres hangat untuk penatalaksanaan nonfarmakologis.

Tindakan farmakologis untuk penderita hipertensi diantaranya adalah dengan menggunakan

obat-obatan seperti obat amplodipin yang berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan non

farmakologis untuk mengurangi nyeri dikepala adalah kompres dileher, baik kompres air hangat

maupun kompres air dingin dapat meringankan rasa nyeri dan radang ketika terjadi nyeri. Efek

pemberian terapi kompres hangat terhadap tubuh antara lain dapat meningkatkan aliran darah

kebagian tubuh yang mengalami cidera, meningkatkan pengiriman leukosit dan antibiotik kedaerah

luka. Meningkatkan relaksasin otot dan mengurangi nyeri akibat spasme atau kekakuan dan

meningkatkan aliran darah (Potter dan perry, 2005).

Menurut penelitian yang dilakukan Wurangin, dkk (2013), dari 40 responden yang dibagi

dalam dua kelompok intervesi, kelompokn yang pertama dilakukan pemberian intervensi kompres

hangat sedangkan kelompok kedua dilakukan intervensi kompres dingin menghasilkan kesimpulan

bahwa rata-rata penurunan skala nyeri pada kompres hangat adalah 1,60 dan rata-rata penurunan

skala nyeri pada kompres dingin adalah 1,05. Hal ini berarti kompres hangat lebih efektif untuk

menurunkan nyeri pada pebderita hipertensi.

Pemberian kompres air hangat akan mengakibatkan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah

sehingga akan meningkatkan relaksasi otot dan mengurangi nyeri akibat spasme atau kekakuan, dan

juga memberikan rasa nyaman. Hal ini berarti kompres air hangat lebih efektif untuk menurunkan

nyeri (Potter dan Perry, 2014).


2.2.5. Discharge Planning

Discharge Planing (perencanaan pulang) adalah serangkaian keputusan dan aktivitas-

aktivitasnya yang terlibat dalam pemberian asuhan keperawatan yang kontiniu dan terkoordinasi

ketika pasien dipulangkan dari lembaga pelayanan kesehatan. (Potter dan Perry, 2014). Discharge

planning bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik untuk mempertahankan atau

mencapai fungsi maksimal setelah pulang.

Untuk melakukan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Ny. A diruang lantai 3 gedung

1 Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan. Penulis menerapkan discharge planning kesiapan pasien

sebelum pemulangan tentang pengetahuan anjuran pengobatan, keinginan untuk mengikuti aturan

pengobatan sesuai dengan anjuran, pengetahuan tentang hipertensi, penyebab hipertensi, tanda dan

gejala hipertensi. Selain itu penulis juga menerapkan kesiapan akhir pasien menghadapi

pemulangan setelah dilakukan discharge planing dan diharapkan klien mampu mengetahui

pengobatan, penyakit hipertensi, penyebab, tanda dan gejala hipertensi.


BAB III

TINJAUAN KASUS

Pada Bab ini penulis menguraikan kasus yang dimulai dari pengkajian pada tanggal 21 Juni sampai

dengan 23 Juni 2018, dengan kasus Hipertensi di Ruang diruang lantai 3 gedung 1 Rumah Sakit

Bunda Thamrin Medan Tahun 2018.

3.1. Pengkajian

A. Identitas Pasien

Klien bernama Ny.A, berumur 66 tahun, jenis kelamin perempuan, status kawin, agama

Kristen, suku Batak Toba. Pendidikan terakhir klien SMA, bahasa yang digunakan klien setiap hari

bahasa Indonesia dan Batak. Pekerjaan IRT. Alamat Kampung Durian.

Klien masuk IGD RS.Bunda Thamrin Medan tanggal 19 Juni 2018, pukul 10.46 WIB. Pada

tanggal 19 juni 2018, pukul 12.30 WIB klien pindah diruang lantai 3 gedung 1 Rumah Sakit Bunda

Thamrin Medan, No. Register 01 62 50 dengan diagnosa medis Hipertensi.

3.2. Keluhan Utama

Klien mengatakan kepalanya pusing, lemas, tersa oyong jika berjalan, kaki gemetaran, mata

berkunang-kunang, tersa mual dan sulit tidur.

3.3. Riwayat Keperawatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 21 juni 2018 pukul 14.30 WIB, klien mengeluh

sakit kepala. Upaya untuk mengatasinya dibawa ke RS. Putri Hijau Medan.

b. Riwayat Penyakit Dahulu

Klien mempunyai penyakit Hipertensi sejak 2 tahun yang lalu, minum obat secara teratur dan 7
bulan belakangan ini pasien mempunyai sakit asam urat dan minum obat.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Menurut keluarga pasien, dalam keluarga pasien yaitu Ayah pasien mempunyai penyakit yang
sama hipertensi.
d. Genogram

Keterangan :

: Perempuan : Perempuan Meninggal

: Laki-laki : Laki-laki Meninggal

: Pasien Perempuan : Tinggal Serumah

3.4. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Klien tampak lemah

Tingkat kesadaran : Compos Mentis

Tanda-tanda Vital : TD : 180/100 mmHg, HR : 84x/menit, RR : 22x/menit, S : 36,50 C,

skala nyeri 4.

GCS : E =4 M = 6 V = 5

BB/TB : 65 Kg/150 cm

11. Kepala
Bentuk kepala bulat, tidak ada lesi, tidak terdapat oedema, rambut beruban, lurus, distribusi

merata.

12. Mata

Kedua mata klien simetris, konjungtiva tidak anemis, pupil ishokor, reaksi cahaya +/+.

13. Telinga

Kedua telinga simetris lengkap dan terdapat kedua lubang telinga, tidak ada lesi, terdapat

serumen, tidak terdapat pengeluaran darah atau cairan.

14. Hidung

Posisi septum nasal simetris, tidak terdapat pernafasan cuping hidung, tidak terdapat

pengeluaran lendir atau darah

15. Mulut dan Tenggorokan

Mukosa bibir lembab, gigi klien tidak lengkap, mulut agak kotor.

16. Leher

Leher simetris, tidak terdapat jejas di leher, tidak terdapat pembengkakan, tidak terdapat

pembesaran kelenjar limfe dan tiroid.

17. Thorak

Inspeksi : Thorak simetris, klien tidak menggunakan otot bantu nafas dan tidak terdapat retraksi

dinding dada, RR 22x/menit.

Palpasi : Gerakan dada saat inspirasi dan ekspirasi sama, tidak terdapat massa, tidak terdapat

fraktur pada daerah thorak.

Auskultasi : tidak terdapat suara nafas tambahan, bunyi nafas vesikuler.

Perkusi : resonan

18. Jantung

Inspeksi : Tidak terdapat palpitasi, ictus cordis tidak terlihat.


Palpasi : HR 84x/menit.

Auskultasi : TD 180/100 mmHg, bunyi jantung S1 dan S2 dengan irama reguler, tidak terdapat

bunyi jantung tambahan, murmur (-), gallop (-).

Perkusi : Terdengar pekak

19. Abdomen

Tidak terdapat lesi atau massa, tidak tampak bekas operasi, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat

asites, bising usus 10x/menit.

20. Genetalia dan perineal

Terpasang selang kateter dengan urin kurang jernih.

21. Ekstremitas

Ektremitas atas kiri : dapat digerakkan sesuai keinginan, terpasang IFVD RL 10 gtt/menit.

Ektremitas atas kanan : dapat digerakkan sesuai keinginan.

Ekstremitas bawah : keduanya normal, dapat digerakkan sesuai keinginan.

3.5. Pengkajian Pola Sistem

1. Pola persepsi dan manajemen terhadap kesehatan

Klien mengatakan merasa cemas dengan keadaan penyakitnya saat ini.

2. Pola nutrisi dan metabolik (diit dan pemasukan makanan)

Keluarga klien mengatakan saat dirumah klien biasa makan 3x/hari dengan nasi, lauk pauk dan

sayuran. Pada pagi hari klien makan roti atau kue dengan minum kopi. Klien minum 5-6

gelas/hari. Saat di rumah sakit, klien diberi diet M2 rendah garam.

3. Pola eliminasi
Sebelum sakit, klien mengatakan biasa BAB 1x/hari dan BAK 4-5x/hari. Saat dikaji, klien

belum BAB sama sekali dan klien memakai kateter.

4. Pola aktivitas

Keluarga klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien beraktivitas normal, setelah sakit

klien tidak dapat beraktivitas seperti biasa karena sakit kepala.

5. Pola istirahat : Tidur

Sebelum sakit keluarga klien mengatakan bahwa klien biasa tidur pukul 21.30 - 05.00. Klien

biasa tidur siang.

6. Pola peran hubungan

Keluarga klien mengatakan klien mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga .

7. Pola seksual dan reproduksi

Keluarga klien mengatakan bahwa klien tidak memiliki masalah pada organ reproduksinya.

Pasien memiliki suami dan 3 orang anak.

8. Pola koping dan toleransi terhadap stress

Klien mengatakan klien merasa cemas dengan keadaan penyakitnya saat ini, namun klien masih

dapat mengontrol emosinya.

9. Pola nilai kepercayaan

Klien mengatakan segala sesuatunya klien serahkan kepada Tuhan Yesus, dan klien pasrah

kepada Tuhan.
3.6. Data Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 19 juni 2018

Pemeriksaa Hasil Satuan Nilai


n Normal
Glucose Ad 111 mg/dL ≤ 200
Random
SGOT 32 U/L L : < 31
P : < 35
SGPT 36 U/L L : < 35
P : < 45
Cholesterol 166 mg/dL ≤ 200
HDL 56 mg/dL ≥ 35
Cholesterol
LDL 94 mg/dL ≤ 130
Cholesterol
Triglyseride 77 mg/dL ≤ 200
Leukosit 9.000 /mm3 4.000 -
10.000
Eritrosit 4,84 juta/mm 3,8 -5,8
3

Hemoglobin 11,8 gr/dL 12,0 -


16,0
Hematokrit 34,6 % 35,0 -
50,0
Trombosit 155,00 ribu/mm 150 –
3
0 450
Bilirubin 0,49 mg/dL <1
Total
Bilirubin 0,22 mg/dL <0.3
Direc
Ureum 34 mg/dL <50mg/d
L
Kreatinin 1,0 mg/dL P ; 0.6-
1.2
Asam urat 6,7 P;<5,7
mg/dL

2. Pemeriksaan EKG tanggal 19 juni 2018 : Dalam batas normal.


3.7. Penatalaksanaan Medis

Terapi Obat

Nama Obat Indikasi Dosis

IVFD RL Mengembalikan 10

keseimbangan elektrolit gtt/menit

pada dehidrasi

Inj Ranitidin Mengurangi sekresi 1

asam lambung amp/12

jam

Furosemid Terapi hipertensi 1x40 mg

Tab

Captopril Menangani hipertensi 2x25 mg

Tab dan gagal jantung

Ulsafat Syr Gastritis, gastric ulcer 3xC1

dan duodenum ulcer

Paracetamol Mengurangi rasa nyeri 3x1

Tab ringan sampai sedang,

efek anti radang

Domperidone Mengobati mual dan 3x1

Tab muntah

Amlodipin Terapi hipertensi 1x10 mg

Tab
3.8. Analisa Data

N Analisa Etiologi Masalah

o Data

1 DS : Sarah
Klien
simpatis Nyeri
mengata
kan nyeri
akut
kepala
DO : Ach
- K/u lemah
- Klien tampak
Saraf pusat
menahan nyeri ganglion
- Skala nyeri 6.
Kontriksi
- TTV
TD : 180/100
mmHg Peningkatan
tekanan
HR : 84x/menit
vaskuler
RR : 22x/menit serebral
S : 36,50C
Nyeri

2 DS : Keseimbanga Intolerans
Os n antara
i aktivitas
mengata
suplay dan
kan
badanny kebutuhan
a lemah
oksigen
dan tidak
mampu ↓
melakuk
Kelemahan
an
aktivitas fisik

DO : Sulit
- Klien tampak melakukan
gelisah,bedrst. aktivitas
- Ekspresi wajah ↓
tampak tegang Intoleransi
- TTV aktivitas
TD : 180/100
mmHg
HR : 84x/menit
RR : 22x/menit
S : 36,50C
3 DS :
- Klien mengatakan Kurang Kurang
imformasi
kurang paham pengetah
mengenaikon
tentang diit disi uan
hipertensi
Kurang
tepapae
DO : informasi
- Klien bertanya
Kurang
tentang diit
pengetahuan
hipertensi
- Klien bertanya
tentang cara
menurunkan
hipertensi
- TTV
TD : 180/100
mmHg
HR : 84x/menit
RR : 22x/menit
S : 36,50C
3.9. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit.

3.10. Asuhan Keperawatan

Nursing Care Plan


N Diagnosa Nursing Nursing
o Keperawat Outcomes Intervention
an Classificati s
on (NOC) Classificatio
n (NIC)
1 Nyeri akut. Setelah Pain
dilakukan Manageme
tindakan nt
keperawatan a. Lakukan pengkajian
selama nyeri secara
3x24jam komprehensif
klien akan : termasuk lokasi,
a. Pain Level, karakteristik, durasi,
b. Pain control, frekuensi, kualitas
c. Comfort level dan faktor presipitasi
Kriteria b. Observasi reaksi
Hasil : nonverbal dari
a. Mampu mengontrol ketidaknyamanan
nyeri (tahu penyebab c. Gunakan teknik
nyeri, mampu komunikasi
menggunakan tehnik terapeutik untuk
nonfarmakologi untuk mengetahui
mengurangi nyeri, pengalaman nyeri
mencari bantuan) pasien
b. Melaporkan bahwa d. Kaji kultur yang
nyeri berkurang mempengaruhi
dengan menggunakan respon nyeri
manajemen nyeri e. Evaluasi pengalaman
c. Mampu mengenali nyeri masa lampau
nyeri (skala, f. Evaluasi bersama
intensitas, frekuensi pasien dan tim
dan tanda nyeri) kesehatan lain
d. Menyatakan rasa tentang
nyaman setelah nyeri ketidakefektifan
berkurang kontrol nyeri masa
e. Tanda vital dalam lampau
rentang normal g. Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan
dukungan
h. Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
i. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
k. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan
intervensi
l. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
m. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
n. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
o. Tingkatkan istirahat
p. Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
q. Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic
Administration
a. Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan derajat
nyeri sebelum
pemberian obat
b. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
c. Cek riwayat alergi
d. Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
e. Tentukan pilihan
analgesik tergantung
tipe dan beratnya
nyeri
f. Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
g. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
h. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
i. Berikan analgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
j. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)
2 Intoleransi Setelah Anxiety
aktivitas dilakukan Reduction
tindakan a. aktivitas Observasi
keperawatan adanya pembatasan
selama 1 x klien dalam
24 jam, melakukan
klien akan :
b. Bantu klien untuk
NOC :
mengidentifikasi
 Koservasi Energi
 Toleransi aktivitas yang mampu
aktifitas dilakukan
 Prawatan diri
Kriteria c. Bantu untuk memilih
Hasil : aktivitas konsisten
a. Berpartisipasi dalam yangsesuai dengan
aktivitas fisik tanpa kemampuan fisik,
disertai peningkatan psikologi dan social
tekanan darah, nadi d. Bantu untuk
dan RR mengidentifikasi dan
b. Mampu melakukan mendapatkan sumber
aktivitas sehari hari yang diperlukan untuk
(ADLs) secara aktivitas yang
mandiri diinginkan
e. Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek
f. Bantu untu
mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
g. Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu luang
h. Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
i. kekurangan
j. dalam beraktivitas
k. Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
l. Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
m. Monitor respon fisik,
emoi, social dan
spiritual

3 Kurang Setelah dilakukan Energy


pengetahuan tindakan keperawatan Manageme
. selama 3x24 jam klien nt
akan : NIC :
a. Teaching : disease
NOC :
Process
 Pengetahuan : proses b. Berikan penilaian
penyakit tentang tingkat
 Pengetahuan : prilaku pengetahuan pasien
kesehatan tentang proses penyakit
Kriteria yang spesifik
Hasil : c. Jelaskan patofisiologi
a. Pasien dan keluarga dari penyakit dan
menyatakan bagaimana hal ini
pemahaman tentang berhubungan dengan
penyakit, kondisi, anatomi dan fisiologi,
prognosis dan dengan cara yang tepat.
program pengobatan d. Gambarkan tanda dan
b. Pasien dan keluarga gejala yang biasa
mampu melaksanakan muncul pada penyakit,
prosedur yang
dijelaskan secara dengan cara yang tepat
benar e. Gambarkan proses
c. Pasien dan keluarga penyakit, dengan cara
mampu menjelaskan yang tepat
kembali apa yang f. Identifikasi
dijelaskan kemungkinan
perawat/tim penyebab, dengna cara
kesehatan lainnya. yang tepat
g. § Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan cara
yang tepat
h. Hindari harapan yang
kosong
i. Sediakan bagi keluarga
atau SO informasi
tentang kemajuan
pasien dengan cara
yang tepat
j. Diskusikan perubahan
gaya hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang dan
atau proses
pengontrolan penyakit
k. Diskusikan pilihan
terapi atau penanganan
l. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
m. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat
n. Rujuk pasien pada grup
atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
o. Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat

3.11. Catatan Perkembangan


Nama klien : Ny.A No. Regestrasi : 016250
Ruang : Lantai 3 gedung 1 Dx.Medis : Hipertensi
NO DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI PARAF
1 Nyeri Tanggal : 21/06/18 S: Pasien
berhubungan Waktu : 09 : 00WIB mengatakan
Peningkatan  Melakukan kepalanya
vascular serebral Kolaborasikan pusing, terasa
ditandai dengan dengan Tenaga oyong jika
pasien Rehabilitasi berjalan, mata
mengatakan Medik berkunang-
kepalanya dalammerencana kunang, terasa
pusing, terasa kan progran mual,sulit tidur.
oyong jika terapi yang tepat. O: Pasien terlihat
berjalan, mata Tanggal : 21/06/18 mengerutkan
berkunang- Waktu : 10:00WIB keningnya, dan
kunang, terasa  Melakukan memegang
mual,sulit tidur. Observasi reaksi kepalanya, skala
pasien terlihat nonverbal dari nyeri : 6
mengerutkan ketidaknyamanan (sedang)
keningnya, dan T anggal : 21/06/18 Vital Sign:
memegang Waktu : 11:00WIB TD :180/90
kepalanya, skala mmHg,
nyeri : 6 (  Melakukan RR : 24 x/i,
sedang), Gunakan teknik HR : 92 x/i,
Vital Sign: komunikasi T : 370C
TD :180/90 terapeutik untuk A: Masalah belum
mmHg, mengetahui teratasi :
RR : 24 x/i, pengalaman nyeri -Gangguan
HR : 92 x/i, pasien perfusi jaringan
0
T : 37 C serebral
-Gangguan
mobilisasi
-Nyeri kepala
P:Intervensi
dilanjutkan :
-Head up 30-450.
-Observasi TTV.
-Berikan
pelatihan ROM.
-Bantu ADl
klien.
-Mobilisasi
berkala tiap 2
jam.
2 Intoleransi Tanggal : 21/06/18 S: pasien
aktivitas Waktu : 13:00WIB mengatakan
berhubungan  Melakukan badanya lemah
dengan kelemahan pengkajian nyeri dan tidak
fisik ditandai secara mampu
dengan pasien komprehensif melakukan
mengatakan termasuk lokasi, aktivitas
badanya lemah karakteristik, O: pasien terlihat
dan tidak mampu durasi, frekuensi, bedrest,pucat,
melakukan kualitas dan lemah, pasien
aktivitas pasien faktor presipitasi tidak dapat
terlihat Tanggal : 21/06/18 melakukan
bedrest,pucat, Waktu : 14:00WIB aktivitas secara
lemah,pasien tidak  Melakukan Bantu mandiri,
dapat melakukan klien untuk aktivitas dibantu
aktivitas secara mengidentifikasi perawat dan
mandiri, aktivitas aktivitas yang keluarga.
dibantu perawat mampu dilakukan Terpasang
dan Tanggal : 21/06/18 infuse di lengan
keluarga,terpasan Waktu : 15:00WIB sebelah kanan
g Infuse di lengan  Melakukan Bantu Vital Sign
sebelah kanan untuk memilih TD:180/90mm
Vital Sign :TD : aktivitas HgRR : 24 x/i
180/90mmHg konsisten HR : 92 x/i
RR : 24 x/i yangsesuai T: 370C
HR : 92 x/i, dengan A: Masalah belum
T: 370C kemampuan fisik, teratasi :
psikologi dan -Gangguan
social keseimbangan
suplay O2
ketubuh.
-Kelemahan fisik.
P: Intervensi
dilanjutkan :
-Bantu Klien
dalam melakukan
aktifitas.
-Berikan
lingkungan
tenang.
-Anjurkan Klien
untuk melakukan
aktifitas sesuai
kemampuan.
3.12. CATATAN PERKEMBANGAN
Nama klien : Ny.A No. Register : 016250
Ruang : Lantai 3 gedung 1 Dx Medis : Hipertensi

N DIA IMPLEM EVAL P

O GNO ENTASI UASI A

SA R

1 Nyeri Tanggal : 22/06/18 S: Pasien mengatakan


berhu Waktu : kepalanya pusing,
bung 09:00WI terasa oyong jika
an B berjalan, mata
Penin  Melakukan Kaji berkunang- kunang,
gkata kultur yang terasa mual,sulit
n mempengaruhi tidur.
vascu respon nyeri O: Pasien terlihat
lar Tanggal : 22/06/18 mengerutkan
sereb Waktu : 10:00WIB keningnya, dan
ral  Melakukan Evaluasi memegang
ditan pengalaman nyeri kepalanya, skala
dai masa lampau nyeri : 6 ( sedang)
deng Tanggal : 22/06/18 Vital
an Waktu : Sign:
11:00WI
pasie TD:160
B
n /90
 Melakukan Evaluasi
meng mmHg,
pengalaman nyeri
ataka RR : 24
masa lampau
n x/i,
kepal HR : 92
anya x/i,
pusin T :
g, 370C
terasa A: Masalah belum
oyon teratasi :
g -Gangguan nyeri
jika kepala.
berjal -Gangguan
an, mobilisasi.
mata P:Interv
berku ensi
nang- dilanjut
kuna kan :
ng, -Kaji
terasa skala
mual, nyeri.
sulit -
tidur. Observa
pasie si TTV.
n -
terlih Pastika
at n klien
meng mendap
erutk atkan
an perawat
kenin an
gnya, analgesi
dan k.
mem -
egan Berikan
g pengob
kepal atan
anya, nonfar
skala makolo
nyeri gi.
: 6 (
sedan
g),
Vital
Sign:
TD
:160/
90
mmH
g,
RR :
24
x/i,
HR :
92
x/i,
T :

370C

2 Intoleransi aktivitas Tanggal : 22/06/18 S: pasien mengatakan


berhubungan Waktu : badanya lemah dan
dengan kelemahan 13:00WI tidak mampu
fisik ditandai B melakukan aktivitas
dengan pasien  Melakukan Bantu O: pasien terlihat
mengatakan untuk bedrest,pucat,
badanya lemah dan mengidentifikasi lemah, pasien tidak
tidak mampu dan mendapatkan dapat melakukan
melakukan aktivitas sumber yang aktivitas secara
pasien terlihat diperlukan untuk mandiri, aktivitas
bedrest,pucat, aktivitas yang dibantu perawat dan
lemah,pasien tidak diinginkan keluarga. Terpasang
dapat melakukan Tanggal : 22/06/18 infuse di lengan
aktivitas secara Waktu : 14:00WIB sebelah kanan Vital
mandiri, aktivitas  Melakukan Bantu Sign
dibantu perawat dan untuk mendpatkan TD:160/90mmHgR
keluarga,terpasang alat bantuan R : 24 x/i
Infuse di lengan aktivitas seperti HR : 92 x/i
sebelah kanan Vital kursi roda, krek T: 370C
Sign :TD : Tanggal : 22/06/18 A: Masalah belum
160/90mmHg Waktu : 15:00WIB teratasi :
RR :  Melakukan Bantu -Aktifitas masih
24 x/i untu terbatas.
HR : mengidentifikasi -Gangguan mobilisasi
92 aktivitas yang fisik.
x/i, disukai -Tidak mampu
T: melakukan aktifitas
sendiri
370C
P:
Interven
si
dilanjut
kan :
-
Berikan
latihan
ROM.
-
Berikan
lingkun
gan
tenang.
-
Mobilis
asi
berkala
tiap 2
jam.
-
Libatka
n
keluarg
a dalam
melaku
kan
aktifitas
.
BAB IV

PEMBAHASAN

Bab ini penulis akan membahas mengenai permasalahan atau kesenjangan yang terjadi selama

melakukan asuhan keperawatan langsung terhadap Ny.A dengan kasus Hipertensi di Ruang Lantai 3

Gedung 1 Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan. Dalam bab ini penulis membandingkan antara teori

yang ada pada literatur dengan kasus yang ditemukan oleh penulis. Selain itu penulis juga

membahas mengenai faktor pendukung dan faktor penghambat yang penulis temukan pada saat

melakukan asuhan keperawatan pada Ny. A, serta alternatif pemecahan masalah yang penulis

berikan selama melakukan asuhan keperawatan pada tiap tahap keperawatan.

4.1. Pengkajian Keperawatan

Pada tahap pengkajian, penulis menggunakan format pengkajian yang diawali pengumpulan

informasi dan data dasar berupa data subyektif dan data obyektif yang sesuai dengan pengkajian.

Sedangkan data obyektif dan data penunjang diperoleh melalui interaksi dengan klien.

Hipertensi atau sering disebut dengan tekanan darah tinggi termasuk salah satu penyakit

pembuluh darah (vascular disease). Definisi hipertensi menurut Kemenkes RI (2014), Udjianti
(2013), Elizabeth dalam Ardiansyah. M (2012) dan Arif Mutaqin dalam Ardiansyah. M (2012)

adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah didalam arteri diatas 140/90

mmHg pada orang dewasa dengan sedikitnya tiga kali pengukuran secara berurutan. Berdasarkan

etiologinya, hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi hipertensi primer (hipertensi esensial) dan

hipertensi sekunder. Hampir lebih dari 90-95% kasus hipertensi merupakan hipertensi primer.

Sebagian besar hipertensi terjadi tanpa disertai tanda dan gejala yang pasti. Kadang-kadang nyeri

kepala, pusing, rasa lelah dianggap sebagai gejala non spesifik dari hipertensi. Namun

demikian, gejala-gejala tersebut tidak jarang juga terjadi pada orang dengan tekanan darah normal

(normotensi).

Dalam kasus Ny. A, diperoleh data subyektif, klien mengatakan nyeri kepala, cemas dengan

keadaan penyakitnya, dan tidak bisa memenuhi kebutuhan ADLs secara mandiri, sedangkan data

obyektif yang ditemukan adalah keadaan umum klien lemah, klien tampak meringis menahan nyeri,

skala nyeri 4, klien tampak cemas, gelisah, TTV : TD : 180/100 mmHg, HR : 84x/menit, RR :

22x/menit, S : 36,50 C.

Faktor pendukung hampir semua informasi dapat dikumpulkan karena adanya kerjasama

yang baik diantara klien dan keluarga didalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Penulis

tidak menemukan faktor penghambat karena klien dan keluarga sangat kooperatif saat melakukan

pengkajian dan terbina hubungan saling percaya antara perawat ruangan dan tenaga kesehatan

lainnya sehingga penulis dapat memperoleh data-data yang dibutuhkan.

4.2. Diagnosa Keperawatan

Pada literatur/teori ditemukan 5 diagnosa keperawatan pada pasien hipertensi, yaitu : Resiko

tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi,

hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard; Intoleransi aktivitas berhubungan dengan


kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen; Nyeri akut berhubungan dengan

peningkatan tekanan vaskuler serebral ; Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder

adanya hipertensi yang diderita klien ; Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya

informasi tentang proses penyakit.

Dalam kasus Ny. A, diagnosa yang muncul yaitu : Nyeri akut berhubungan dengan

peningkatan tekanan vaskuler serebral; Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan,

ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen; Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung

berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia

miokard; Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit.

Dalam menegakkan diagnosa keperawatan, penulis tidak mendapatkan hambatan karena

diagnosa yang ditegakkan sesuai dengan teori Hipertensi, serta dengan adanya faktor pendukung,

yaitu adanya kerjasama yang baik antara keluarga klien dan perawat sehingga penulis dapat

merumuskan diagnosa keperawatan.

4.3. Perencanaan Keperawatan

Dalam membuat perencanaan dilakukan langkah-langkah sesuai dengan Asuhan

Keperawatan sesuai dengan teori Hipertensi, yaitu memprioritaskan masalah yang muncul pada

klien, kemudian langkah selanjutnya adalah menetapkan waktu yang lebih spesifik untuk masing-

masing diagnosa, menyesuaikan yang mungkin bisa dicapai oleh klien dalam waktu yang lebih

spesifik.

Pada tahap perencanaan, untuk diagnosa keperawatan pertama yaitu nyeri akut berhubungan

dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral, yang direncanakan adalah kaji tingkat nyeri dan vital

sign, jelaskan pada klien tentang penyebab nyeri, kompres leher dengan air hangat ,pertahankan
tirah baring bila diindikasikan, ajarkan teknik relaksasi tarik nafas dalam dan bantu klien melakukan

posisi yang nyaman, beri obat analgetik sesuai advis dokter.

Untuk diagnosa keperawatan kedua, yaitu cemas berhubungan dengan krisis situasional

sekunder adanya hipertensi yang diderita klien, intervensi yang dibuat yaitu bina hubungan saling

percaya, berikan informasi tentang penyakitnya dan tehnik pengobatannya, anjurkan keluarga untuk

memberikan dukungan kepada klien, dorong klien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,

persepsi, instruksikan klien menggunakan tehnik relaksasi tarik nafas dalam.

Diagnosa ketiga yaitu intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan,

ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen, intervensi yang dibuat adalah kaji kemampuan

aktivitas klien, anjurkan klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan,

libatkan keluarga dalam membantu klien beraktivitas, motivasi klien untuk melakukan aktivitas.

4.4. Pelaksanaan Keperawatan

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan yang dimulai setelah

perawat menyusun rencana keperawatan. Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan

yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi

kepada status kesehatan yng baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.

Pada tahap pelaksanaan diagnosa keperawatan, dilakukan dalam waktu 3 x 24 jam, dalam

melakukan tindakan penulis berfokus pada perencanaan yang dibuat sesuai kondisi dan kebutuhan

klien, karena tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus. Penulis bekerjasama dengan perawat

ruangan dalam melakukan Asuhan Keperawatan dan pendokumentasian semua tindakan

keperawatan yang telah dilakukan.


Untuk secara keseluruhan semua diagnosa sudah dilaksanakan sesuai perencanaan yang

dibuat sesuai kondisi dan kebutuhan klien saat ini, karena keluarga dan perawat ruangan sangat

membantu penulis dalam melakukan proses keperawatan.

4.5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tahap akhir dalam melakukan proses keperawatan yang bertujuan untuk

menilai seluruh hasil implementasi yang telah dilaksanakan.

Pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral,

selama 3 x 24 jam, hasil yang dicapai yakni : Klien mengatakan masih pusing dan merasa nyeri pada

tangan dan kaki sebelah kiri, skala nyeri 3, keadaan umum compos mentis, klien terlihat lemah,

terbaring di tempat tidur, TD : 180/90 mmHg, HR : 80x/menit, RR : 20x/menit. Masalah nyeri

teratasi sebagian, dan intervensi dilanjutkan, yakni kaji tingkat nyeri dan vital sign, jelaskan pada

klien tentang penyebab nyeri, pertahankan tirah baring bila diindikasikan, ajarkan teknik relaksasi

tarik nafas dalam dan membantu klien melakukan posisi yang nyaman, beri obat analgetik sesuai

advis dokter.

Pada diagnosa kedua, selama 1x 24 jam, klien mengatakan sudah tenang karena mendapat

dukungan sepenuhnya dari keluarga, klien juga mengatakan selalu berdoa agar cepat sembuh dan

kembali kerumah, klien tampak tenang, masalah cemas teratasi sepenuhnya dan intervensi

dihentikan.

Pada diagnosa ketiga, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan,

ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen, selama 3 x 24 jam, hasil yang diperoleh yaitu

klien mengatakan masih lemah, tangan dan kaki sebelah kiri terasa lemas, klien tampak lemah dan

sering mengantuk, masalah intoleransi aktivitas teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan yakni,

kaji kemampuan aktivitas klien. anjurkan klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap sesuai
kemampuan, libatkan keluarga dalam membantu klien beraktivitas, motivasi klien untuk melakukan

aktivitas

4.6. Konsep EBN dalam Keperawatan Pasien Hipertensi

Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Ny. A, di ruang Lantai 3 Gedung 1

Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan, penulis mengadopsi kompres leher air hangat mengatasi nyeri

pada klien hipertensi, berdasarkan penelitian dengan judul Pengaruh Pemberian Kompres Air

Hangat Pada Leher Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi Di RSUD.

Tugurejo Semarang.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan tentang pengaruh komopres air hangat intensitas

nyeri pada klien hipertensi di RSUD. Tugurejo Semarang, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Terdapat pengaruh yang bermakna dari kompres air hangat terhadap perubahan intensitas nyeri pada

Pasien Di RSUD. Tugurejo Semarang.

4.7. Discharge Planning

Discharge planning bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik untuk mempertahankan

atau mencapai fungsi maksimal setelah pulang.

Untuk melakukan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Ny. A diruang Lantai 3 Gedung 1

Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan. Penulis menerapkan discharge planning kesiapan pasien

sebelum pemulangan tentang pengetahuan anjuran pengobatan, keinginan untuk mengikuti aturan

pengobatan sesuai dengan anjuran, pengetahuan tentang hipertensi, penyebab hipertensi, tanda dan

gejala hipertensi. Selain itu penulis juga menerapkan kesiapan akhir pasien menghadapi
pemulangan setelah dilakukan discharge planing dan diharapkan klien mampu mengetahui

pengobatan, penyakit hipertensi, penyebab, tanda dan gejala hipertensi.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah melakukan Asuhan keperawatan pada Ny.A, dengan gangguan system kardiovaskuler

“Hipertensi” di Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan Tahun 2018. Penulis dapat mengambil

kesimpulan sebagai berikut :

5.1. Kesimpulan

1. Hasil pengkajian yang didapat pada Ny.A Adalah klien mengeluh nyeri kepala, dengan TTV :

TD : 180/100 mmHg, RR : 22x/i HR : 84 x/i. Dengan diagnosa Hipertensi. Hipertensi adalah

peningkatan tekanan darah (>140/90 mmHg) yang angkaprovalensinya tinggi dan akibat yang

ditimbulkan mempunyai konsekwen tertentu.

2. Hasil perumasan diagnosa keperawatan yang didapat pada Ny. A dengan hipertensi adalah

nyeri kepala, intoleransi aktifitas dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

3. Intervensi Nurshing Intervenous Classification (NIC) yang telah dirancang sesuai untuk

masing-masing diagnosa keperawatan, permasalahan utama pasien hipertensi adalah nyeri

kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan darah serebral. Intervensi dan rasional sesuai

dengan teori NANDA (2013).

4. Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah diagonsa keperawatan yang muncul

salah satunya adalah nyeri kepala, yaitu mengukur skala nyeri dan mengurai rasa nyeri seperti

pemberian obat farmakologi atau nonfarmakologi yaitu kompres dengan air hagat dileher

untuk mengurasi rasa nyeri pada kepala,


5. Hasil evaluasi keperawatan pada Ny.A dengan Hipertensi adalah menunjukkan berkurangnya

rasa nyeri kepala yang signifikan dan peningkatan kesehatan pasien. Hasil assesment pada

evaluasi keperawatan didapat masalah teratasi sebagian.

6. Hasil penerapan EBN yang dilakukan pada Ny. A dengan hipertensi adalah sesuai dengan

intervensi keperawatan dan jurnal keperawatan, tindakan keperawatan dilakukan modifikasi

nonfarmakologi dengan kompres air hangat dileher sesuai dengan kondisi pasien tanpa

meninggalkan prinsip.

7. Rencana tindakan keperawatan discharge palnning sebelum atau sesudah pemulangan pasien

untuk mengatasi masalah hipertensi adalah pengetahuan tentang pemakaian obat (dosis,

sebelum/sesudah makan, jadwal pemakaian obat).

5.2. Saran

5.2.1. Bagi Mahasiswa Keperawatan

Sebaiknya mahasiswa keperawatan terus melatih diri untuk mengelola manajemen

keperawatan agar menjadi perawat professional yang dapat memberikan asuhan

keperawatan komprehensif.

5.2.2. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan pihak rumah sakit mampu melaksanakan asuhan keperawatan termasuk

discardge planning dan pendidikan kesehatan pada pasien.

5.2.3. Bagi Institusi Pendidikan

Dengan telah di susunnya manajemen asuhan keperawatan ini di harapkan dapat

meningkatkan keefektifan dalam belajar, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan

mahasiswa dalam menerapkan atau mengaplikasi study yang telah di dapatkan, serta untuk
melengkapi sumber-sumber buku perpustakaan sebagai bahan informasi dan refrensi yang

penting dalam pembuatan manajemen kasus keperawatan bagi mahasiswa tingkat akhir.

5.2.4. Bagi Lahan Praktek

Sebaiknya lahan praktek melakukan discharge planning secara terencana kepada setiap

pasien untuk meningkatkan kemampuan pasien meningkatkan dan mempertahankan kualitas

hidupnya setelah pemulangan.


DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, M. (2012). Medikal Bedah untuk Mahasiswa. Jogjakarta : Diva Press.

Aziz Alimul. (2009), Konsep Dasar Manusia. Jakarta : Penerbit Salemba Medika

Depkes RI, Pusat Data dan Informasi Kementeian Kesehatan. (2014). Hipertensi. Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia.

Doengoes, M.E, et al. (2001). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting
patients care. Alih bahasa : Kariasa, I.M. Jakarta : EGC.

Guyton, A. C, Hall, J. E. (2010). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology 12th Edition. Phi
: Elsevier Health Sciences.

Harianto, E, Pratomo, H. (2013). Pajangan Kebisingan dan Hipertensi di Kalangan Pekerja


Pelabuhan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.

JNC. (2003). The Seventh Report of the Joint National Committeeon Prevention, Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Washington Department of Health and
Human Service.

Kirana, Rahardja dan Tan Hoay Tjay. (2010). Obat-obat Renting : Khasiat, Penggunaan dan Efek
Sampingnya. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Muchtadi, D. (2013). Pangan dan Kesehatan Jantung. Bandung : Alfabeta.

Purnomo, S. (2007). Dasar Molekul Penyakit Aterosklerosis : Kapita Selekta Ilmu Kedokteran
Molekuler. Jakarta : Sagung Seto, Cetakan II.

Rahajeng, Tuminah. (2009). Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Majalah


Kedokteran.

Riyadi, Sujono. (2011). Keperawatan Medikal Bedah. Jogjakarta : Pustaka Pelajar.

Udjianti, Wajan Juni. (2013). Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.
Lampiran 1
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM KARDIOVASKULAR

“ ANGINA PECTORIS ’’

3.1 Pengkajian
a. Identitas Klien
Nama : Ny.A

Umur : 61 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status perkawinan : Kawin

Agama : Kristen

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Petani

Alamat : Tanjung Morawa

Ruangan / RS : Mitra Medika

Tanggal masuk : 22 juni 2018

Tanggal pengkajian : 23 juni 2018

Diognosa Medis : Angina Piktoris

b. Penanggung Jawab
Nama : Ny. N

Pekerjaan : IRT

Alamat : Tanjung Morawa


3.1.1 Alasan ke Rumah Sakit/Keluhan Utama
Klien dibawa ke Rumah Sakit Mitra Medika dengan keluhan nyeri di dada disertai sesak
nafas.

3.1.2 Riwayat Kesehatan


a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien dibawa ke RS. Mitra Medika pada tanggal 23 juni 2018 dengan keluhan nyeri seperti
di tusuk-tusuk dibagian dada menjalar kelengan kiri,rahang serta menjalar ke bagian
punggung .Klien tampak gelisah dan meringis kesakitan karena nyeri di daerah dada, Klien
tampak sesak.Dan klien selalu minum obat anti nyeri bila timbul rasa nyeri di dadanya.

b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


Klien pernah mengalami penyakit Darah tinggi dan pernah dirawat di Rumah Sakit Grand
Medistra.

3.1.3 Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga klien tidak pernah mengalami penyakit seperti yang dialami oleh klien sekarang
ini.

3.1.4 Kebiasaan Sehari-hari


A. Biologis
1. Nutrisi
Sebelum masuk ke rumah sakit pola kebiasaan makan klien 3x /hari dengan komposisi nasi
tambah lauk pauk yang sesuai MB.Makanan yang disukai adalah soto dan memiliki makanan
pantangan ikan asin. Sesudah masuk rumah sakit pola makan klien 3x /hari dengan diet MB.

2. Minum
Sebelum masuk kerumah sakit pola minum klien dapat menghabiskan 1400-1600 cc air
perhari, dengan jenis minuman air putih dan minuman kesukaan kopi.
Setelah masuk kerumah sakit pola minum klien tetap sama yaitu 1400-1600 cc air perhari
dengan jenis minuman air putih.

3. Istirahat Tidur
Sebelum masuk kerumah sakit pola istirahat tidur tidak terganggu dan tidak mengalami
kesulitan waktu tidur. Waktu tidur siang ± 5-6 jam / hari sesudah masuk rumah sakit klien
mengalami kesulitan waktu tidur, khususnya pada malam hari karena merasa sesak dan cara
mengatasinya klien tampak dipasang oksigen. Sedangkan tidur siang klien hanya ± 1 jam
perhari, tidur malam ± 3-4 jam / hari.

4. Eliminasi
Sebelum masuk kerumah sakit klien BAK ± 4-5 x / hari, banyaknya 1200–1500 cc dengan
warna urin kekuning-kuningan dengan bau khas. Pasien BAB ± 1 x / hari dengan konsistensi
padat, warna kuning dengan bau khas. Sesudah masuk ke rumah sakit klien BAK 6-7 x/ hari,
banyaknya 1200 – 1500 cc /hari berwarna kuning dan memiiki bau khas – BAB pasien 1 x
sehari, berwarna kuning dengan konsistensi lembek dan bau yang khas.

5. Aktivitas
Klien melakukan aktivitas sendirian sepenuhnya,terkadang ada juga sebagian aktivitas
dibantu oleh keluarga dan perawat seperti makan, minum, dan BAB. Sebelum masuk
kerumah sakit klien mandi 3x /hari, gosok gigi 3 x / hari, cuci rambut 3x/ minggu dan potong
kuku 1x / minggu.sesudah masuk rumah sakit klien mandi 1x / hari, gosok gigi 1 x / hari.

6. Rekreasi
Sebelum masuk kerumah sakit klien menonton TV2x / hari, mendengarkan musik tiap hari,
olahraga 1x / minggu.setelah masuk kerumah sakit klien hanya berbaring saja, jarang
melakukan aktivitas seperti nonton TV maupun mendengarkan musik.

B. Psikologis
Persepsi klien terhadap penyakitnya,klien berharap agar penyakitnya cepat sembuh, konsep
diri klien stabil,walaupun pasien sering cemas dan sering bertanya tentang
penyakitnya.Emosi baik, bisa beradaptasi dengan yang lain, mekanisme pertahanan diri klien
baik,klien banyak berdoa dengan menyerahkan diri kepada Allah tentang penyakitnya.
C. Sosial
Hubungan klien dengan keluarga dan orang lain cukup baik perhatian dengan lawan bicara
dapat merespon dengan baik. Kegemaran / hobby klien adalah bola Volly, bahasa yang
digunakan adalah bahasa indonesia.

D. Spritual
Klien beragama islam, selama dirawat di rumah sakit klien tampak beribadah dengan berdoa
dan klien yakin akan kesembuhan penyakitnya.

3.1.5 Pemeriksaan Fisik


A. Tanda-Tanda Vital
Keadaan umum pasien : Klien tampak lemah

Kesadaran : Compos mentis

Suhu : 37,5 0C

Tekanan darah : 140/ 80 mmHg

Nadi : 90 x/i

Pernafasan : 30 x/i

Tinggi badan / berat badan : 162 cm / 60 kg

Penampilan : Rapi

Ciri-ciri tubuh : Gemuk, kulit kuning langsat.

B. Pemeriksaan Head to Too


1. Kepala
Bentuk kepala oval, ukuran normal kulit kepala bersih, wajah normal (tidak ada
benjolan, bentuk simetris)

2. Rambut
Bentuk rambut lurus, warna beruban, rambut bersih

3. Mata / penglihatan
Visus / ketajaman mata baik, pupil normal/isocor, posisi mata simetris tidak ada
pemakaian alat bantu

4. Hidung / penciuman
Bentuk simetris, posisi normal, tidak terdapat kelainan/peradangan,penciuman baik,dapat
membedakan bau jeruk dengan bau minyak kayu putih.

5. Telinga / pendengaran
Posisi simetris, klien dapat mendengar dengan jelas.Tidak didapati kelainan atau
peradangan .Dan tidak memakai alat bantu.

6. Mulut
Rongga mulut bersih, tidak terdapat sputum dan juga tidak terlihat sisa makanan.

7. Leher
Tidak didapati kelainan bentuk dan pembesaran kelenjar tiroid maupun pembesaran
vena jugularis.

8. Thorax dan Fungsi Pernafasan


Bentuk simetris, frekuensi 30 x/i bunyi, irama iregular

9. Jantung
Terdapat nyeri dada, skala nyeri 6 (sedang) frekuensi 90 x/i, bunyi jantung lup duk, tidak
ada bunyi tambahan.

10. Abdomen
Bentuk abdomen simetris, suara abdomen timpani, tidak ada benjolan tidak ada
pembesaran hepar

11. Reproduksi dan alat Kelamin


Tidak didapati kelainan bentuk dan ukuran, terpasang kateter

12. Extermitas
Tidak dijumpai odema atau pembengkakan.
3.1.6 Data Penunjang
A. Diagnosa Medis : Angina Pectoris
B. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Satuan Normal Hasil
Haemoglobin (HGB ) g% 13,2 – 17,3 15.40
Erytrosyt 10 6 / mm 3
4,20 – 4,87 4,86
Leucosyt 10 3 / mm 3
4,5 – 11,0 12,13
Hematokrit % 43-49 43.40
Trombosyt 10 3 / mm 3
150 – 50 0 103
MCV Fl 85 – 95 89.30
MCH Pg 28 – 32 31.70
MCHC g% 33-35 35.50
RDW % 11,6-14,8 13.40
MPV Fl 7,0-10,2 11.00
PCT % 0.11
PDW Fl 13.1
Glukose darah puasa mg / dl 70 - 120 50 1
Total kolesterol mg / dl <200 183
HDL – Kolesterol mg / dl >65 28
LDL – Kolesterol mg / dl <150 123
TRIGLISERIDA mg / dl 40 – 200 239

3.1.7 Terapi/Tindakan Medis


- Infus NaCl 0,9 % 10 tetes/i
- Dobutamin, 15 mg/24jam
- Aspilet, 1x80 mg/24 jam
- Inj.Ceftriaxon 1 gr/12 jam
- Oksigen (O2) 2-4 liter/i
- Inj. Lavenok, 0,6 cc /12 jam
3.2 Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 DS : Klien mengatakan Angina Pectoris Nyeri
nyeri pada daerah
dada terutama Inotropic (iskemia miocard )
setelah melakukan
aktifitas. Curah jantung menurun
DO : Klien tampak gelisah
dan meringis Nyeri
kesakitan setelah
melakukan aktifitas,
memegangi dada
sebelah kiri, skala
nyeri 6 (sedang)
2 DS : Klien mengatakan Penyempitan pada arteri Penurunan
detak jantung sering koroner curah jantung
terasa berdebar-debar
dan tidak teratur Sumbatan arteri koronaria
DO : Klien tampak
gelisah, lemah, kulit Gangguan frekuensi dan
dingin irama jantung
Pols : 90 x/i
RR : 30 x/i Curah jantung menurun
TD : 140/80 mmHg
Temp : 37,5 0C
3.3 Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas b/d curah jantung yang rendah, ketidakmampuan memenuhi metabolisme
otot rangka, kongesti pulmonal yang menimbulkan hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi yang
buruk selama sakit kritis.
2. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan pengetahuan penyakitnya, tindakan yang dilakukan, obat
obatan yang diberikan, komplikasi yang mungkin muncul dan perubahan gaya hidup.

3.4. Intervensi Keperawatan

NO Diangosa NOC NIC


Keperawatan
1 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
b/d curah jantung 1. Energy conservation Energy Management
yang rendah, 2. Self Care : ADLs 1. Observasi adanya
ketidakmampuan 3. Kriteria Hasil : pembatasan klien dalam
memenuhi 4. Berpartisipasi dalam melakukan aktivitas
metabolisme otot aktivitas fisik tanpa 2. Dorong anal untuk
rangka, kongesti disertai peningkatan mengungkapkan perasaan
pulmonal yang tekanan darah, nadi dan terhadap keterbatasan
menimbulkan RR 3. Kaji adanya factor yang
hipoksinia, dyspneu 5. Mampu melakukan menyebabkan kelelahan
dan status nutrisi yang aktivitas sehari hari 4. Monitor nutrisi dan
buruk selama sakit (ADLs) secara mandiri sumber energi
Intoleransi aktivitas tangadekuat
b/d fatigue 5. Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan
emosi secara berlebihan
6. Monitor respon
kardivaskuler terhadap
aktivitas
7. Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
pasien
Activity Therapy
1. Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan progran
terapi yang tepat.
2. Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
3. Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten
2 yangsesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan social
4. Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas
yang diinginkan
5. Bantu untuk mendpatkan
alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek
6. Bantu untu
mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
7. Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
diwaktu luang
8. Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
9. Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
Kurang pengetahuan beraktivitas
b/d keterbatasan NOC : 10. Bantu pasien untuk
pengetahuan 1. Kowlwdge : disease mengembangkan motivasi
penyakitnya, tindakan process diri dan penguatanMonitor
yang dilakukan, obat 2. Kowledge : health respon fisik, emoi, social
obatan yang Behavior dan spiritual
diberikan, komplikasi Kriteria Hasil :
yang mungkin muncul 3. Pasien dan keluarga
dan perubahan gaya menyatakan pemahaman
hidup tentang penyakit, NIC :
kondisi, prognosis dan Teaching : disease Process
program pengobatan 1. Berikan penilaian tentang
4. Pasien dan keluarga tingkat pengetahuan pasien
mampu melaksanakan tentang proses penyakit yang
prosedur yang dijelaskan spesifik
secara benar 2. Jelaskan patofisiologi dari
5. Pasien dan keluarga penyakit dan bagaimana hal ini
mampu menjelaskan berhubungan dengan anatomi
kembali apa yang dan fisiologi, dengan cara yang
dijelaskan perawat/tim tepat.
kesehatan lain 3. Gambarkan tanda dan gejala
yang biasa muncul pada
penyakit, dengan cara yang
tepat
4 Gambarkan proses penyakit,
dengan cara yang tepat
5. Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengna cara yang
tepat
6. Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi, dengan
cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga atau
SO informasi tentang
kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
9. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan
datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
10.Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
12.Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan, dengan
cara yang tepat
13Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
14.Instruksikan pasien
mengenai tanda dan gejala
untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan,
dengan cara yang tepat
Implementasi dan Evaluasi

Tanggal/ No.
Implementasi Evaluasi
Waktu Diagnosa
Jumaat 1 1. Mengobservasi adanya pembatasan S : Klien
24/06/18 klien dalam melakukan aktivitas mengatakan
09.00.WIB 2. Mendorong anal untuk nyeri pada dada
mengungkapkan perasaan terhadap sebelah kiri
keterbatasan O : Klien gelisah
3. Mengkaji adanya factor yang dan meringis
menyebabkan kelelahan kesakitan
4. Memonitor nutrisi dan sumber A : Masalah belum
energi tanga dekuat teratasi
5. Memonitor pasien akan adanya P : Rencana
kelelahan fisik dan emosi secara tindakan
berlebihan dilanjutkan
6. Memonitor respon kardivaskuler
terhadap aktivitas
7. Memonitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien

Sabtu 2 1. Memberikan penilaian tentang S : Klien


24/06/18 tingkat pengetahuan pasien tentang mengatakan rasa
10.00.WIB proses penyakit yang spesifik berdebar-debar
2. Menjelaskan patofisiologi dari di daerah dada
penyakit dan bagaimana hal ini sebelah kiri
berhubungan dengan anatomi dan O : Penurunan
fisiologi, dengan cara yang tepat. toleransi
3. Menggambarkan tanda dan gejala aktivitas.
yang biasa muncul pada penyakit, A : Masalah belum
dengan cara yang tepat teratasi.
4 Menggambarkan proses penyakit, P : Rencana
dengan cara yang tepat tidakan
5. Mengidentifikasi kemungkinan dilanjutkan
penyebab, dengna cara yang tepat - Auskultasi bunyi
6. Menyediakan informasi pada pasien jantung dengarkan
tentang kondisi, dengan cara yang murmur.
tepat - Berikan oksigen
sesuai indikasi.
Lampiran 2

SATUAN ACARA PENYULUHAN HIPERTENSI ( 1 )

Pokok Bahasa : Hipertensi

Sub Poko Bahasa : Pengertian, penyebab dan tanda Hipertensi

Sasaran Penyuluhan : Ny.A

Hari / Tanggal : 23 Juni 2018

Waktu Pembelajaran : 25 Menit

Tempat penyuluhan : RS. Putri Hijau

1. Tujuan Intruksional Umum ( TIU )


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 25 menit kepada Ny.A pasien
Mampu memahami tentang Hipertensi

II. Tujuan Intrusional Khusu ( TIK )


Setelah di lakukan pendidikan kesehatan slama 25 menit. Ny.A dan kluarganya pasien mampu :
1. Menjelaskan pengertian Hipertensi
2. Menjelaskan penyebab manigna Hipertensi
3. Menjelaskan tanda dan gejala Hipertensi
III. Strategi Pelaksanaan

1. Metode : Cerama dan diskusi


2. Media : Leaflet
3. Garis besar materi :
a. Penertian Hipertensi
b. Penyebab Hipertensi
c. Tanda dan gejala Hipertensi
IV. Pelaksanaan Kegiatan

No Kegiatan Penyuluhan Peserta Waktu Media

1 Pembukaan 1.1. Memberikan salam 1.1. Menjawab salam 5 Menit


dan berkenalan 1.2. Mendengarkan
1.2. Menjelaskan topik Dan memperhatikan
dan tujuan penyuluhan

2 Kegiatan inti 2.1. Menjelaskan 2.1. Mendengar dan 10 Lembar


Menit Balik
Pengertian pneumonia memperhatikan
dan
2.2. Menjelaskan 2.2. Mendengar dan Leaflet
Penyebab pneumonia memperhatikan
2.3 . Menjelaskan tanda 2.3. Mendengar dan
dan gejala pneumonia memperhatikan

3 Penutup 3.1. Melakukan 3.1. Bertanya atau 10 Lembar


Menit Balik
diskusi dan tanya jawab menjawab
dan
3.2. Menyimpulkan 1.2. Mendengarkan Leaflet
materi dan membagi Dan memperhatikan
leaflet 3.3. Menerima leaflet
3.3. Mengucapkan salam 3.4. Menjawab salam
IV. Evaluasi

a. Evaluasi Struktur
1. Kesiapan mahasiswa memeberikan penyuluhan
2. Kesiapan pasien mengikuti.
3. Waktu dan tempat sesuai dengan rencana kegiatan
b. Evaluasi peroses
1. Sasaran memperhatikan dan mendengar selama penyuluhan kesehatan
2. Sasaran aktif betahnya bila ada hal yang belum di mengerti
3. Sasaran memperjawaban atas pertanyaan pemberi materi
4. Tanya jawab bejalan dengan baik
c. Evaluasi Hasil
1. 80% pertanyaan dapat di jawab
2. Ny. A memahami tentang penyakitnya
SATUAN ACARA PENYULUHAN ANGINA PEKTORIS ( 2 )

Pokok Bahasa : Angina Pektoris

Sub Poko Bahasa : Pengertian, penyebab dan tanda Angina Piktoris

Sasaran Penyuluhan : Tn. A

Hari / Tanggal : 24 Juni 2018

Waktu Pembelajaran : 25 Menit

Tempat penyuluhan : RS. Mitra medika

2. Tujuan Intruksional Umum ( TIU )


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 25 menit kepada Tn. A pasien
Mampu memahami tentang Angina Pektoris

II. Tujuan Intrusional Khusu ( TIK )


Setelah di lakukan pendidikan kesehatan slama 25 menit. Tn. A dan kluarganya pasien mampu :
4. Menjelaskan pengertian Angina piktoris
5. Menjelaskan penyebab manigna Angina piktoris
6. Menjelaskan tanda dan gejala Angina piktoris

III. Strategi Pelaksanaan


4. Metode : Cerama dan diskusi
5. Media : Leaflet
6. Garis besar materi :
d. Penertian Angina piktoris
e. Penyebab Angina piktoris
f. Tanda dan gejala Angina piktoris
IV. Pelaksanaan Kegiatan

No Kegiatan Penyuluhan Peserta Waktu Media

1 Pembukaan 1.3. Memberikan salam 1.2. Menjawab salam 5 Menit


dan berkenalan 1.2. Mendengarkan
1.4. Menjelaskan topik Dan memperhatikan
dan tujuan penyuluhan

2 Kegiatan inti 2.1. Menjelaskan 2.1. Mendengar dan 10 Lembar


Menit Balik
Pengertian pneumonia memperhatikan
dan
2.2. Menjelaskan 2.2. Mendengar dan Leaflet
Penyebab pneumonia memperhatikan
2.3 . Menjelaskan tanda 2.3. Mendengar dan
dan gejala pneumonia memperhatikan

3 Penutup 3.1. Melakukan 3.1. Bertanya atau 10 Lembar


Menit Balik
diskusi dan tanya jawab menjawab
dan
3.2. Menyimpulkan 1.3. Mendengarkan Leaflet
materi dan membagi Dan memperhatikan
leaflet 3.3. Menerima leaflet
3.3. Mengucapkan salam 3.4. Menjawab salam
IV. Evaluasi

d. Evaluasi Struktur
4. Kesiapan mahasiswa memeberikan penyuluhan
5. Kesiapan pasien mengikuti.
6. Waktu dan tempat sesuai dengan rencana kegiatan
e. Evaluasi peroses
5. Sasaran memperhatikan dan mendengar selama penyuluhan kesehatan
6. Sasaran aktif betahnya bila ada hal yang belum di mengerti
7. Sasaran memperjawaban atas pertanyaan pemberi materi
8. Tanya jawab bejalan dengan baik
f. Evaluasi Hasil
3. 80% pertanyaan dapat di jawab
4. Tn. A memahami tentang penyakitnya
SATUAN ACARA PENYULUHAN MIOKARDITIS ( 3 )

Pokok Bahasa : Miokarditis

Sub Poko Bahasa : Pengertian, penyebab miokarditis

Sasaran Penyuluhan : Tn. S

Hari / Tanggal : 25 juni 2018

Waktu Pembelajaran : 25 Menit

Tempat penyuluhan : RSUD. Estomihi

3. Tujuan Intruksional Umum ( TIU )


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 25 menit kepada Tn. S pasien
Mampu memahami tentang Miokarditis

II. Tujuan Intrusional Khusu ( TIK )


Setelah di lakukan pendidikan kesehatan slama 25 menit. Tn. S dan keluarganya pasien mampu
:
7. Menjelaskan pengertian Miokarditis
8. Menjelaskan penyebab manigna Miokarditis
9. Menjelaskan tanda dan gejala Miokarditis
III. Strategi Pelaksanaan

7. Metode : Cerama dan diskusi


8. Media : Leaflet
9. Garis besar materi :
g. Penertian Miokarditis
h. Penyebab Miokarditis
i. Tanda dan gejala Miokarditis
IV. Pelaksanaan Kegiatan

No Kegiatan Penyuluhan Peserta Waktu Media

1 Pembukaan 1.5.Memberikan salam 1.3. Menjawabsalam 5 Menit


dan berkenalan 1.2. Mendengarkan
1.6.Menjelaskan topik Danmemperhatikan
dan tujuanpenyuluhan

2 Kegiatan inti 2.1. Menjelaskan 2.1. Mendengar dan 10 Lembar


Menit Balik
Pengertianpneumonia memperhatikan
dan
2.2. Menjelaskan 2.2. Mendengar dan Leaflet
Penyebabpneumonia memperhatikan
2.3 . Menjelaskan tanda 2.3. Mendengar dan
dan gejalapneumonia memperhatikan

3 Penutup 3.1. Melakukan 3.1. Bertanya atau 10 Lembar


Menit Balik
diskusi dan tanyajawab menjawab
dan
3.2. Menyimpulkan 1.4. Mendengarkan Leaflet
materi danmembagi Danmemperhatikan
leaflet 3.3. Menerimaleaflet
3.3. Mengucapkansalam 3.4. Menjawabsalam
IV. Evaluasi

g. Evaluasi Struktur
7. Kesiapan mahasiswa memeberikan penyuluhan
8. Kesiapan pasien mengikuti.
9. Waktu dan tempat sesuai dengan rencana kegiatan
h. Evaluasi peroses
9. Sasaran memperhatikan dan mendengar selama penyuluhan kesehatan
10. Sasaran aktif betahnya bila ada hal yang belum di mengerti
11. Sasaran memperjawaban atas pertanyaan pemberi materi
12. Tanya jawab bejalan dengan baik
i. Evaluasi Hasil
5. 80% pertanyaan dapat di jawab
6. Tn. S memahami tentang penyakitnya
SATUAN ACARA PENYULUHAN CHF ( 4 )

Pokok Bahasa : chf

Sub Poko Bahasa : Pengertian, penyebab dan tanda chf

Sasaran Penyuluhan : Tn. L

Hari / Tanggal : 27 juni 2018

Waktu Pembelajaran : 25 Menit

Tempat penyuluhan : RS. Estomihi

4. Tujuan Intruksional Umum ( TIU )


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 25 menit kepada Tn. L pasien
Mampu memahami tentang Gagal Jantung Kronik

II. Tujuan Intrusional Khusu ( TIK )


Setelah di lakukan pendidikan kesehatan slama 25 menit. Tn. L dan kluarganya pasien mampu :
10. Menjelaskan pengertian Gagal Jantung Kronik
11. Menjelaskan penyebab manigna Gagal Jantung Kronik
12. Menjelaskan tanda dan gejala Gagal Jantung Kronik
III. Strategi Pelaksanaan

10. Metode : Cerama dan diskusi


11. Media : Leaflet
12. Garis besar materi :
j. Penertian CHF
k. Penyebab CHF
l. Tanda dan gejala CHF
IV. Pelaksanaan Kegiatan

No Kegiatan Penyuluhan Peserta Waktu Media

1 Pembukaan 1.7. Memberikan salam 1.4. Menjawab salam 5 Menit


dan berkenalan 1.2. Mendengarkan
1.8. Menjelaskan topik Dan memperhatikan
dan tujuan penyuluhan

2 Kegiatan inti 2.1. Menjelaskan 2.1. Mendengar dan 10 Lembar


Menit Balik
Pengertian pneumonia memperhatikan
dan
2.2. Menjelaskan 2.2. Mendengar dan Leaflet
Penyebab pneumonia memperhatikan
2.3 . Menjelaskan tanda 2.3. Mendengar dan
dan gejala pneumonia memperhatikan

3 Penutup 3.1. Melakukan 3.1. Bertanya atau 10 Lembar


Menit Balik
diskusi dan tanya jawab menjawab
dan
3.2. Menyimpulkan 1.5. Mendengarkan Leaflet
materi dan membagi Dan memperhatikan
leaflet 3.3. Menerima leaflet
3.3. Mengucapkan salam 3.4. Menjawab salam
IV. Evaluasi

j. Evaluasi Struktur
10. Kesiapan mahasiswa memeberikan penyuluhan
11. Kesiapan pasien mengikuti.
12. Waktu dan tempat sesuai dengan rencana kegiatan
k. Evaluasi peroses
13. Sasaran memperhatikan dan mendengar selama penyuluhan kesehatan
14. Sasaran aktif betahnya bila ada hal yang belum di mengerti
15. Sasaran memperjawaban atas pertanyaan pemberi materi
16. Tanya jawab bejalan dengan baik
l. Evaluasi Hasil
7. 80% pertanyaan dapat di jawab
8. Tn. L memahami tentang penyakitnya
Lampiran 2 Materi Penyuluhan
PROTOKOL PENYULUHAN PADA PASIEN HIPERTENSI
A. Pengertian :
Hipertensi adalah Suatu peningkatan tekanan darah didalam arteri yang mengakibatkan
suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkan. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tkanan
yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke,gagal
jantung,serangan jantung,dan kerusakan ginjal yang merupakan penyebab utama gagal jantung
kronis.

B. Tujuan:
1. Mengidentifikasi kebutuhan spesifik untuk mempertahankan atau mencapai fungsi maksimal
setelah pulang
2. Mempersiapkan pasien dan keluarga secara fisik dan psikologis untuk ditransfer ke rumah atau
kesuatu lingkungan yang dapat disetujui.
3. Menjamin keberlanjutan asuhan berkualitas antara rumah sakit dan kominitas.
C. Manfaat:
1. Pasien mampu melakukan tindakan perawatan lanjutan yang aman dan realita
setelahmeninggalkan rumah sakit
2. Pasien siap untuk menghadapi pemulangan
3. Meminimalkan kemungkinan terjadinya rehospitalisasi
a. Prosedur discharge planning dilakukan secara konsisten dengan kualitas tinggi pada semua
pasien
b. Pasien harus dipulangkan ke suatu lingkungan yang aman dan nyaman
C. Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Tindakan yang dilakukan dasesuaikan dengan kemampuan pasien dan jangan
sampaimelelahkan
2. Lakukan evaluasi setiap kali selesai mengadakan sesi pertemuan dengan pasien
untukmengetahui sejauh mana pasien mengikuti pertemuan
E. Alat:
- Leaflet untuk pendidikan kesehatan tentang kolelitiasis
- Lembar balik
- Kertas dan pulpen

F. Prosedur Tindakan:
1.Pengkajian
a. Kaji pengetahuan pasien dan keluarga anak dalam tindakan pengobatan yang dijalaninya,
mencakup nama obat, dosis obat, jadwal pemakaian obat, dan aturan pemakaian obat
(sebelum dan sesudah makan) serta efek samping dan tanda-tanda yang tidak diinginkan
b. Kaji pengetahuan pasien dan keluarga anak tentang tanda-tanda bahaya yang perlu
dilaporkan kepada dokter/ tenaga medis, mencakup tanda-tanda dan komplikasi pada asma
bronchialis.
2. Perencanaan
Bersama-sama dengan keluarga dan pasien menetapkan hasil yang akan dicapai, antara lain:
a. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan tentang tindakan pengobatan yang akan dijalani
b. setelah pulang dari rumah sakit.
c. Pasien dan keluarga mampu mengenali tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan kepada
d. dokter/ tenaga medis tentang kolelitiasis.
e. Pasien dan kelauarga mampu menerima dan menjalankan terapi untuk penyembuhan.
3. Penatalaksanaan
Bersama-sama dengan pasien dan keluarga menetapkan hasil yang akan dicapai, antara lain:
a. Melakukan pendidikan kesehatan tentang hipertensi
1. Definisi
Hipertensi adalah terjadinya kenaikan tekanan darah sistolik (atas) 140 mmHg atau lebih dan
tekanan diastolik (bawah) 90 mmHg atau lebih.
2. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu, hipertensi primer
(esensial) dan hipertensi sekunder.

1) Hipertensi esensial atau primer


Merupakan 90% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi esensial yang didefinisikan
sebagai peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Beberapa
factor diduga berkaitan dengan berkembangya hipertensi esensial seperti berikut ini :
a. Genetik
Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi, berisiko tinggi untuk
mendapatkan penyakit ini.
b. Jenis kelamin dan usia
Laki-laki berusia 30-50 tahun dan wanita pasca menopause berisiko tinggi untuk mengalami
hipertensi.
c. Diet
Konsumsi diet tingi garam atau lemak secara langsung berhubungan dengan berkembangnya
hipertensi.
d. Berat badan
Obesitas (> 25% diatas BB ideal) dikaitkan dengan berkembangya hipertensi.
e. Gaya hidup
merokok dan konsumsi alcohol dapat meningkatkan tekanan darah, bila gaya hidup menetap.
2) Hipertensi sekunder
Merupakan 10% dari seluruh kasusu hipertensi adalah hipertensi sekunder, yang
didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada
sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Menurut Wajan Juni udjianti, 2010,
faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain :
- Penggunaan kontrasepsi oral
- Coarctation aorta
- Neurogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris)
- Kehamilan
- Peningkatan volume intravaskuler
- Luka bakar
- Stress.
3. Tanda dan Gejala
Biasanya tanda gejala atau tanda-tanda peringatan untuk hipertensi dan sering disebut “ silent
killer. “ Pada kasus hipertensi berat, gejala yang dialami klien antara lain : sakit kepala (rasa
berat di tekuk), palpitasi, kelelahan, nausea, vomiting, ansietas, keringat berlebihan, tremor otot,
nyeri dada, epistaksis, pandangan kabur atau ganda, tinnitus (telinga berdenging), serta kesulitan
tidur. (Wajan Juni Udjianti, 2012)

4. Evaluasi
a. Evaluasi jangka pendek : Melakukan evaluasi diakhir penyuluhan
b. Evaluasi jangka panjang : Melakukan evaluasi kesiapan pasien untuk
b. menghadapi pemulangan
c. Pada hari pemulangan memotivasi pasien untuk melakukan dan menerapkan setiap
d. pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki.
LEAFLET

APA SAJA MAKANAN YANG TAMBAHAN LAINNYA??


HARUS DIHINDARI?
- Konsumsi Suplemen
Antioksidan dan Vitamin
(untuk yang ini perlu
1. Makanan yang di awetkan seperti
pengawasan dokter)
makanan kaleng, mie instant,
minuman kaleng - Kacang Kedelai dan
2. Daging merah segar seperti hati Isoflavon
ayam, sosis sapi, daging kambing
3. Makanan berlemak dan bersantan - Dianjurkan penggunaan
tinggi serta makanan yang terlalu garam yang beryodium
asin dan penggunaan tidak
4. Bumbu-bumbu seperti kecap, melebihi 1 sendok teh
terasi, saus tomat, saus sambal,
perharinya.
tauco, serta penyedap lainnya
yang umumnya mengandung
garam natrium
5. Alkohol dan makanan yang
mengandung alkohol seperti tape
dan durian.
chf

Pengertian gagal jantung


Gagal jantung adalah keadaan dimana
jantung tidak mampu lagi memompakan
darah secukupnya dalam memenuhi
kebutuhan sirkulasi badan untuk keperluan
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN metabolisme jaringan tubuh pada keadaan
STIKES FLORA
MEDAN tertentu sedangkan tekanan pengisian
2018
kedalam jantung masih cukup tinggi.

Gejala gagal jantung


Berdasarkan rentang waktu
berkembangnya gejala, gagal jantung
terbagi menjadi dua, yaitu kronis dan akut.
Pada gagal jantung kronis, gejala
berkembang secara bertahap dan lama.
Sedangkan pada gagal jantung akut, gejala
berkembang secara cepat. Gejala utama
gagal jantung adalah:
PENYEBAB
 Sesak napas, baik ketika Setiap penyakit yang mempengaruhi jantung
beraktivitas maupun beristirahat. dan sirkulasi darah dapat menyebabkan gagal
 Tubuh terasa lelah sepanjang jantung. Beberapa penyakit dapat mengenai
waktu. otot jantung dan mempengaruhi
 Pembengkakan kaki dan kemampuannya untuk berkontraksi dan
memompa darah. Penyebab paling sering
pergelangan kaki.
adalah penyakit arteri koroner, yang
menyebabkan berkurangnya aliran darah ke
otot jantung dan bisa menyebabkan suatu
serangan jantung.
Pencegahan gagal jantung Kerusakan otot jantung bisa disebabkan oleh:
Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan - Miokarditis (infeksi otot jantung karena
untuk mencegah gagal jantung, di antaranya: bakteri, virus, atau mikroorganisme lainnya)
- Diabetes
 Mengonsumsi makanan sehat dan membatasi - Kelenjar Tiroid yang terlalu aktif
asupan garam, lemak, dan gula. Contoh-contoh - Kegemukan (obesitas).
makanan sehat adalah buah dan sayur, makanan
berprotein tinggi (misalnya ikan, daging, atau
kacang), makanan yang mengandung zat tepung
(misalnya beras, kentang, atau roti), dan makanan
yang terbuat dari bahan susu atau bahan olahan
susu.
 Menjaga berat badan dengan berolahraga secara
rutin.
 Berhenti merokok dan membatasi konsumsi
minuman keras.
 Menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah pada
batas sehat.
PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES HANGAT PADA LEHER
TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI KEPALA PADA
PASIAN HIPERTENSI DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

N *), Dody Setyawan**), Muslim Argo Bayu


Kusuma***)

*) Alumni Program Studi S1 Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo


Semarang,

**) Dosen PSIK FK Universitas Diponegoro


Semarang,

***) Dokter Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama


Semarang

ABSTRAK

Salah satu tanda gejala dari hipertensi adalah nyeri kepala. Nyeri kepala terjadi karena adanya
aterosklerosis yang menyebabkan spasme pada pembuluh darah (arteri) dan penurunan O 2
(oksigen) di otak. Nyeri tersebut dapat ditangani dengan penatalaksanaan nonfarmakologis, salah
satunya yaitu dengan menggunakan kompres hangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian kompres hangat pada leher terhadap penurunan intensitas nyeri kepala pada
pasien hipertensi di Rumah Sakit Tugurejo Semarang. Jenis penelitian yang dipakai dalam
penelitian ini adalah quasi experiment design dengan rancangan non equivalent control group
design, menggunakan teknik sampling purposive sampling, dengan jumlah sampel adalah 36
responden, 18 responden perlakuan dan 18 responden kontrol. Pengambilan data dengan
menggunakan lembar observasi dan melakukan intervensi kompres hangat pada leher. Hasil
penelitan dengan menggunakan uji Wilcoxon sign test didapatkan nilai p value 0,000 (p<0,05)
dan uji mann Whitney dengan p value 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh
pemberian kompres hangat pada leher terhadap penurunan intensitas nyeri kepala pada pasien
hipertensi, dimana kelompok yang diberikan kompres hangat pada leher lebih efektif
dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberikan kompres hangat pada leher. Diharapkan
perawat dapat meminimalkan pemakaian analgesik untuk mengurangi nyeri kepala dan
menggunakan kompres hangat untuk penatalaksanaan nonfarmakologis.

Kata Kunci : kompres hangat pada leher, nyeri kepala, dan hipertensi
ABSTRACT

One of the symptoms of hypertension is headache. Headache occurs due to the atherosclerosis
that causes spasms on the blood vessels (artery) and a decrease of oxygen in the brain. This
headache can be handled by doing non pharmacology one of them is by doing warm compress.
This research aims to determine the effect of warm compresses on the neck to decrease the
intensity of headache in hypertensive patients at Tugurejo hospital Semarang. Types of research
used in this study was quasi experiment design with method of non-equivalent control group
design, used purposive sampling technique sampling, the number of sample was 36 respondent,
18 respondents treatments and 18 respondents control. Retrieval of data used observation sheet
and intervening warm compresses to the neck. Result of research was using Wilcoxon sign test
obtained p value of 0,000 (p<0,05) and Mann Whitney test obtained p value 0,000 (p<0,05), so it
can be conclude that there was the effect of a warm compress on the neck t o decrease the
intensity of headache in patients with hypertension, it means that the group given a warm
compress on the neck more effectively than the group that was not given a warm compress on the
neck. The nurses are expected to minimize the use of analgesics to alleviate headache and use
warm compresses as non-pharmacology management.

Keywords : warm compresses to the neck, headache, and hypertension

apabila tekanan sistoliknya 140-159


mmHg dan tekanan diastoliknya 90-
PENDAHULUA 99 mmHg. Hipertensi tingkat 2
N (sedang) apabila tekanan sistoliknya
160-179 mmHg dan tekanan
diastoliknya 100-109 mmHg.
Hipertensi tingkat 3 (berat) apabila
Hipertensi didefinisikan sebagai keadaan tekanan sistoliknya lebih dari 180
dimana tekanan darah sistolik lebih dari mmHg dan tekanan diastoliknya lebih
120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg.
dari 80 mmHg (Muttaqin, 2009,
hlm.112), sedangkan menurut
Endrawatingsih (2012, Menurut WHO dan the International
Society of Hypertension (ISH), saat
¶1) menyatakan bahwa hipertensi ini terdapaat
secara
umum adalah kondisi medis terjadinya
peningkatan tekanan darah dimana
tekanan sistolik di atas 140mmHg dan
tekanan diastolik diatas 90mmHg.

Menurut JNC (The Joint National


Committee on Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure)
(dalam Price & Wilson, 2006, hlm. 583)
mengklasifikasikan tekanan darah orang
dewasa dengan usia 18 tahun keatas,
dengan hipertensi tingkat 1(ringan)
2 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…
600 juta penderita hipertensi di seluruh
dunia dan 3 juta di antaranya meninggal
setiap tahunnya (Rahajeng & Tuminah,

2009, ¶2). Di Indonesia masalah hipertensi


cenderung meningkat, hasil Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun

2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk


Indonesia menderita hipertensi dan
meningkat pada tahun 2004 mencapai 27,5%
(Rahajeng & Tuminah, 2009, ¶3). Menurut
Profil Kesehatan Indonesia (2011, hlm.77)
menyatakan bahwa pada tahun 2010
hipertensi adalah penyakit yang masuk
sepuluh besar penyakit rawat inap dan rawat
jalan. Kasus untuk rawat inap di rumah sakit
terdapat sebanyak 8.423 pasien laki-laki dan

11.451 pasien perempuan. Pasien dengan


rawat jalan mencapai angka 35.462 untuk
pasien laki-laki, 45.153 untuk pasien
perempuan, dan 80.615 dengan kasus baru
hipertensi.

Jumlah penderita hipertensi di Jawa Tengah


pada tahun 2010-2011 mengalami
peningkatan dari 562.117 menjadi 634.860,
sedangkan tahun 2012 jumlahnya mencapai

544.771 (Profil Kesehatan Profinsi Jawa


Tengah, 2012, hlm.38). Peringkat yang
menduduki angka tertinggi selama tahun

2008-2012 salah satunya terdapat pada kasus


hipertensi. Presentasi penderita hipertensi di

Semarang pada tahun 2011-2012 cenderung

2 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


meningkat dari 42,4% menjadi 49,1% Menurut Price dan Wilson (2006,
(Profil Kesehatan Kota Semarang, 2012, hlm.583) nyeri kepala disebabkan
hlm.75). Dari data yang didapatkan karena kerusakan vaskuler akibat dari
di RSUD Tugurejo semarang penderita hipertensi tampak jelas pada seluruh
hipertensi mencapai 1708 pasien pada pembuluh perifer. Perubahan struktur
tahun 2012, sedangkan selama tahun dalam arteri-arteri kecil dan arteriola
2013 mengalami kenaikan, yaitu jumlah menyebabkan penyumbatan
pasien hipertensi sebanyak 1767 pasien. pembuluh darah. Bila pembuluh
darah menyempit maka aliran arteri
akan terganggu. Pada jaringan yang
Komplikasi dari hipertensi bisa terganggu akan terjadi penurunan
mengakibatkan stroke, infark O2 (oksigen) dan peningkatan
miokardium, dan gagal ginjal. Oleh
karena itu peran perawat sangat penting
untuk menurunkan angka kematian
akibat komplikasi dari hipertensi
(Endrawatingsih, 2012, ¶1). Hal tersebut
didukung dengan pendapat Price dan
Wilson (2006, hlm583) yang
menyatakan bahwa hipertensi kronis
merupakan penyebab kedua terjadinya
gagal ginjal staium akhir dan 21% kasus
membutuhkan terapi penggantian ginjal.
Sekitar separuh kematian akibat
hipertensi disebabkan oleh infark
miokardium atau gagal jantung.
Obstruksi atau ruptur pembuluh darah
otak merupakan penyebab sekitar
sepertiga kematian akibat hipertensi.

Gejala klasik yang diderita pasien


hipertensi antara lain nyeri kepala,
epitaksis, pusing dan tinnitus yang
berhubungan dengan naiknya tekanan
darah (Tambayong, 2000, hlm.96).
Gejala yang sering muncul pada
hipertensi salah satunya adalah nyeri
kepala.

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Pada Leher…(N, 2014) 3


CO2 (karbondioksida) kemudian terjadi Kompres hangat merupakan salah satu
metabolisme anaerob dalam tubuh yang penatalaksanaan nyeri dengan
meningkatkan asam laktat dan menstimulasi memberikan energi panas melalui
peka nyeri kapiler pada otak. konduksi, dimana panas tersebut dapat
menyebabkan vasodilatasi (pelebaran
pembuluh darah),
Menurut Kowalak, Welsh, dan Mayer
(2012, hlm.180) tekanan darah arteri
merupakan produk total atau hasil dari
resistensi perifer dan curah jantung. Curah
jantung meningkat karena keadaan yang
meningkatkan frekuensi jantung, volume
sekuncup atau keduanya. Resistensi perifer
meningkat karena faktor-faktor yang
meningkatkan viskositas darah atau yang
menurunkan ukuran lumen pembuluh darah,
khususnya pembuluh arteriol yang
mengakibatkan restriksi aliran darah ke
organ organ penting dan dapat terjadi
kerusakan. Hal tersebut mengakibatkan
spasme pada pembuluh darah (arteri) dan
penurunan O2 (oksigen) yang akan
berujung pada nyeri kepala atau distensi
dari struktur di kepala atau leher.

Pada umumnya penatalaksanaan nyeri


terbagi menjadi dua, yaitu dengan
pendekatan farmakologis dan
nonfarmakologis. Pendekatan secara
farmakologis dapat dilakukan dengan
memberikan analgesik. Walaupun analgesik
sangat efektif untuk mengatsi nyeri, namun
hal tersebut akan berdampak kecanduan obat
dan akan memberikan efek samping obat
yang berbahaya bagi pasien. Secara
nonfarmakologis penatalaksanaanya antara
lain dengan menggunakan kompres hangat,
teknik relaksasi dan distraksi (Potter &
Perry, 2010, hlm.245).

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Pada Leher…(N, 2014) 3


meningkatkan relaksasi otot sehingga dan menurunkan kontraksi otot polos
meningkatkan sirkulasi dan menambah pada pembuluh darah.
pemasukan, oksigen, serta nutrisi ke
jaringan (Potter & Perry, 2010, hlm.632).
Secara anatomis, banyak pembuluh darah Berdasarkan penelitian yang
arteri dan arteriol di leher yang menuju dilakukan oleh Jayanti Aprilia Eka
ke otak (Snell, Suci yang berjudul “Perbedaan
Kompres Hangat dan Kompres
2012, hlm.171). Pada nyeri kepala yang
Alkohol Terhadap Penurunan
diderita oleh pasien hipertensi disebabkan
Nyeri
karena suplai darah ke otak mengalami
penurunan dan peningkatan spasme
pembuluh darah. Kompres hangat
dilakukan untuk merelaksasikan otot pada
pembuluh darah dan melebarkan
pembuluh darah sehingga hal tersebut
dapat meningkatkan pemasukan oksigen
dan nutrisi ke jaringan otak.

Pada leher tedapat arteri dan arteriol


yang memperdarahi kepala dan otak.
Arteriol merupakan pembuluh resistensi
utama pada pohon vaskuler. Dinding
arteriol hanya sedikit mengandung
jaringan ikat elastik, namun pembuluh
ini mempunyai lapisan otot polos yang
tebal dan dipersarafi oleh serat saraf
simpatis. Otot polosnya juga peka
terhadap perubahan kimiawi lokal dan
terhadap beberapa hormon dalam
sirkulasi. Lapisan otot polos berjalan
sirkurel mengelilingi arteriol, sehingga
apabila berkontraksi, lingkaran pembuluh
akan mengecil. Dengan demikian
resistensi meningkat dan aliran melalui
pembuluh berkurang (Sherwood, 2001,
hlm.306). Vasodilatasi yang terjadi akibat
kompres hangat dapat melebarkan
pembuluh darah arteriol, sehingga
mengakibatkan penurunan resistensi,
peningkatan pemasukan O2 (oksigen),

4 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


Phlebitis Pada Pemasangan Infus di RSUD
Tugurejo Semarang”, menyatakan bahwa
terdapat perbedaan antara kompres hangat
dan kompres alkohol terhadap penurunan
nyeri phlebitis pada pemasangan infuse.
Kompres air hangat lebih efekstif
dibandingkan dengan kompres alcohol
dengan p value 0,025.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian menggunakan quasi


experiment design dengan rancangan non
equivalent control group design. Dimana
kelompok yang pertama diberikan kompres
hangat pada leher (perlakuan), kelompok
yang kedua tidak diberikan kompres hangat
pada leher (kontrol).

Penentuan sampel dalam penelitian ini


menggunakan non probability dengan teknik
purposive sampling. Teknik tersebut
merupakan teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu sesuai yang
dikehendaki peneliti, atau dengan
menentukan kriteria inklusi dan eksklusi
(Setiadi, 2013, hlm.112). Berdasarkan
perhitungan rumus, didapatkan jumlah
sampel sebanyak 18 responden. Dalam
penelitian ini menggunakan kelompok
kontrol, sehingga dikalikan 2 menjadi 36 (18
responden untuk kelompok perlakuan dan 18
responden untuk kelompok kontrol).

4 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


HASIL DAN
PEMBAHASAN

1. Usia
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia pada Pasien
Hipertensi di Ruang Mawar dan Anggrek RSUD Tugurejo
Semarang

Bulan Maret-April
2014 (n=36)

Variabel Kelompok kontrol Total


Kelompok
perlakuan
Usia n % N % n %
respond
en

Dewasa 12 66,7 9 50,0 21


58,3

Lansia 6 33,3 9 50,0 15 41,7

Total 18 100 18 100 36


100
Tabel 5.1 menyatakan bahwa sebagian besar angka statistik angka ini terus meningkat,
responden pada kelompok perlakuan sekitar 40% dari semua kematian di bawah
berada pada kategori usia dewasa yaitu 12 usia 65 tahun adalah akibat tekanan darah
responden (58%), sedangkan pada kelompok tinggi (Wolf, 2006,
kontrol berada pada kategori usia dewasa dan
hlm.11).
lansia yang berjumlah sama besar yaitu 9
responden (50%).

Sustrani (2006, hlm.25) menyatakan bahwa


sejalan dengan bertambahnya usia,
tekanan darah seseorang juga akan
meningkat. Sekitar

20% dari semua orang dewasa


mengalami tekanan darah tinggi dan menurut

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 5


Pada laki-laki yang berusia 35 sampai 50 Anggara dan Prayitno, 2012, hlm.3)
memiliki faktor pemicu terjadinya hipertensi sebagian besar hipertensi primer terjadi pada
seperti stress, makan yang tidak terkontrol, usia 25-45 tahun. Hal ini disebabkan karena
dan kebiasaan merokok (Dalimartha, orang pada usia produktif jarang
2008, memperhatikan kesehatan, seperti pola
makan dan pola hidup yang kurang sehat
22). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat seperti merokok.
Dhianningtyas dan Hendrati, 2006 (dalam

2. Jenis
Kelamin
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada Pasien
Hipertensi di

Ruang Mawar dan Anggrek RSUD Tugurejo


Semarang

Bulan Maret-April
2014

(n=36)
Variable Kelompok perlakuan Kelompok kontrol Total

Jenis n % n % n %
kelamin
responden
Laki-laki 7 38, 10 55, 17 47.2
Perempuan 11 9
61,1 8 6
44,4 19 52.8
Total 18 100 18 100 36 100
Tabel 5.2 menyatakan bahwa sebagian pada kelompok kontrol berjenis kelamin laki-
besar laki
responden pada kelompok perlakuan berjenis yaitu sebesar 10 responden (55,6%).
kelamin perempuan yaitu sebesar 11
responden (61,1%), sedangkan sebagian Stanley dan Beare (2007, hlm.184)
besar responden menyatakan bahwa penyakit hipertensi lebih
banyak diderita

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 5


oleh perempuan dari pada laki-laki. estrogen dalam tubuh berkurang atau sudah
Hipertensi diderita oleh perempuan diatas tidak diproduksi lagi maka kadar LDL akan
usia 45 tahun karena pada usia tersebut meningkat sehingga dapat menyebabkan
perempuan sudah mengalami siklus peningkatan kadar kolestrol plasma, karena
menopause. Pada saat menopause estrogen LDL mengandung 70% kolestrol total
tidak diproduksi lagi atau kadar estrogen plasma. LDL dapat dikonversi menjadi
sudah mengalami penurunan, sedangkan bentuk teroksidasi yang bersifat merusak
salah satu fungsi estrogen dalam tubuh dinding vaskuler dan hal tersebut berperan
yaitu dapat meningkatkan HDL (Hight penting dalam pembentukan aterosklerosis
Devisity Lipoprotein) dan menurunkan yang berujung pada hipertensi
LDL
(Aaronson & Ward, 2010,
(Low Devisity Lipoprotein). Sebaliknya hlm.74).
jika

3. Nyeri Kepala Sebelum dan Sesudah Kompres Hangat pada Kelompok Perlakuan

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Nyeri Kepala pada pasien Hipertensi


Sebelum dan
Sesudah Kompres Hangat di Ruang Mawar dan Anggrek RSUD Tugurejo
Semarang

Bulan Maret-April
2014

(n=18)

Sebelum n % Sesudah n
%

Tidak nyeri 0 0 Tidak nyei 0 0


Nyeri ringan 0 0 nyeri ringan 8 44.
Nyeri sedang 11 61. Nyeri sedang 10 4
55.
Nyeri berat terkontrol 7 1
38. Nyeri berat 0 60
Nyeri berat tak terkontrol 09 0 terkontrol
Nyeri berat tak terkontrol 0
0
Total 18 100.0 Total 18
100.0
Tabel 5.3 menunjukan bahwa terjadi hangat sebagian besar responden mengalami
penurunan skala nyeri yang dialami nyeri kepala sedang sebesar 11 responden
responden dimana sebelum diberikan kompres (61,1%) dan sesudah diberikan kompres

6 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


hangat jumlah responden yang mengalami metabolisme anaerob dalam tubuh yang
nyeri kepala sedang turun menjadi 10 meningkatkan asam laktat dan menstimulasi
responden (55,6%). Selain itu responden yang peka nyeri kapiler pada otak (Price & Wilson,
semula mengalami nyeri kepala berat 2006h, hlm.583).
terkontrol sebesar 7 responden (38,9%),
sesudah diberikan kompres hangat hasilnya
tidak ada responden yang mengalami nyeri Menurut Kowalak, Welsh, dan Mayer
kepala berat terkontrol. (2012, hlm.180) nyeri kepala dikarenakan
kerak pada pembuluh darah atau
aterosklerosis sehingga elastisitas kelenturan
Nyeri kepala pada pasien hipertensi pada pembuluh darah menurun.
disebabkan karena kerusakan vaskuler pada Aterosklerosis tersebut mengakibatkan
seluruh pembuluh perifer. Perubahan spasme pada pembuluh darah (arteri),
struktur dalam arteri-arteri kecil dan arteriola sumbatan dan penurunan O2 (oksigen) yang
menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. akan berujung pada nyeri kepala atau distensi
Bila pembuluh darah menyempit maka aliran dari struktur di kepala atau leher.
arteri akan terganggu. Pada jaringan yang
terganggu akan terjadi penurunan O2
(oksigen) dan peningkatan CO2 Penurunan intensitas nyeri kepala yang
(karbondioksida) kemudian terjadi tejadi pada responden perlakuan
dikarenakan pemberian kompres hangat pada
leher dapat memberikan efek menurunkan
spasme otot pada pembuluh darah,
melancarkan sirkulasi darah dan
menstimulasi pembuluh darah, mengurangi
rasa sakit atau nyeri dan
peradangan

6 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


memberikan rasa nyaman dan hangat (Potter & Perry, 2010, hlm.631).

4. Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi untuk Kelompok Kontrol

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi
untuk

Kelompok Kontrol di Ruang Mawar dan Anggrek RSUD Tugurejo Semarang pada

Bulan Maret-April
2014

(n=18)
Skala nyeri awal n % Skala nyeri akhir n
%

Tidak nyeri 0 0 Tidak nyei 0 0


Nyeri ringan 2 11, nyeri ringan 0 0
Nyerii sedang 14 1
77, Nyeri sedang 16 88,
Nyeri berat 2 8
11, Nyeri berat 2 9
11,
terkontrol
Nyeri berat tak terkontrol 01 0terkontrol
Nyeri berat tak terkontrol 1 0
0
Total 18 100.0 Total 18
100.0
Tabel 5.4 menunjukan bahwa terjadi peningkatan ataupun penurunan yaitu sebesar
peningkatan skala nyeri yang dialami 2 responden (11,1%).
responden dimana pada pengukuran awal
sebagian besar responden mengalami nyeri
kepala sedang sebesar 14 responden (77,8%) Pada kelompok kontrol tidak terjadi
dan pengukuran akhir setelah penurunan intensitas nyeri kepala. Peneliti
berasumsi bahwa hal tersebut dikarenakan
30 menit jumlah responden yang mengalami
pada kelompok kontrol hanya mendapatkan
nyeri kepala sedang meningkat menjadi 16
perawatan standart rumah sakit atau haya
responden (88,9%). Selain itu responden yang
menggunakan obat anti hipertensi yang
semula mengalami nyeri kepala ringan
cenderung belum bereaksi pada pasien dan
sebesar 2 responden (11,1%), pada
pada kelompok kontrol juga tidak diberikan
pengukuran akhir setelah 30 menit tidak ada
kompres hangat pada leher yang dapat
responden yang mengalami nyeri kepala
mempercepat pelebaran pembuluh darah
ringan, sedangkan pada
dan
nyeri kepala berat terkontrol tidak
mengalami
Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 7
melancarkan sirkuasi ke otak.

5. Uji
Normalitas
Tabel 5.5

Uji Normalitas Kelompok


Perlakuan

Shapiro-
wilk

Statistic Df
Sign prehangat 0.918 18
0.117 posthangat 0.925 18
0.155

Hasil uji normalitas data pada kelompok disimpulkan data tersebut berdistribusi
perlakuan dengan menggunakan uji Shapiro normal. Akan tetapi karena jumlah sampel
wilk didapatkan nilai p>0,05 untuk data kurang dari
pre dan
30 responden, maka ujinya tetap
posttest skala nyeri kepala, jadi menggunakan
dapat
uji wilcoxon sign test.
Tabel 5.6

Uji Normalitas Kelompok Kontrol


Shapiro-wilk

Statistic Df Sign

Prekontrol 0.937 18 0.256

postkontrol 0.859 18 0.012

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 7


Hasil uji normalitas data pada kelompok disimpulkan data tersebut berdistribusi tidak
kontrol dengan menggunakan uji Shapiro normal, sehingga untuk uji analisis
wilk didapatkan nilai p value 0,012 menggunakan uji wilcoxon sign test.
(p<0,05) untuk

data posttes skala nyeri kepala, jadi


dapat

6. Pengaruh Kompres Hangat pada Leher terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Kepala pada
Pasien

Hipertensi
Tabel 5.7

Pengaruh Kompres Hangat Pada Leher Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri


Kepala Pada

Pasien Hipertensi di RSUD Tugurejo


Semarang

Bulan Maret-April
2014 (n=36)

Kelompok Kompres hangat n Mean P value


Sebelum perlakuan 6,1
Perlakuan 7 0.000
18

Setelah perlakuan
3,7
2
Pengukuran awal
Kontrol
18 5,0
0.083
5,17
Pengukuran akhir

Total 36
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa hasil 0,000 (p < 0,05) yang berarti Ha diterima
analisis untuk kelompok perlakuan dan ada pengaruh kompres hangat pada
didapatkan p value leher terhadap penurunan intensitas nyeri
kepala pada pasien hipertensi.

8 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


Otot polosnya juga peka terhadap perubahan
kimiawi lokal dan terhadap beberapa hormon
Kozier dan Erb (2009, hlm.402) menyatakan
dalam sirkulasi. Lapisan otot polos berjalan
bahwa kompres hangat merupakan suatu
sirkurel mengelilingi arteriol, sehingga
tindakan untuk mengatasi nyeri dengan
apabila berdilatasi lingkaran pembuluh akan
menggunakan teknik konduksi sehingga
melebar, karena itulah kompres hangat dapat
dapat menyebabkan vasodilatasi pada
melebarkan pembuluh yang ada, dan
pembuluh darah, meningkatkan permeabilitas
mengakibatkan menurunnya resistensi
kapiler, meningkatkan metabolism selular,
sehingga aliran yang melalui pembuluh
merelaksasikan otot, dan meningkatkan
darah akan bertambah (Sherwood, 2001,
aliran darah ke suatu area nyeri.
hlm.306). Oleh karena itu nyeri kepala pada
pasien hipertensi dapat berkurang karena
kompres hangat pada leher dapat
Pada leher tedapat arteri dan arteriol yang merelaksasi otot polos pada pembuluh
memperdarahi kepala dan otak. Arteriol darah dan melebarkan pembuluh darah
merupakan pembuluh resistensi utama pada sehingga meningkatkan sirkulasi dan
pohon vaskuler. Dinding arteriol hanya menambah pemasukan oksigen, dan nutrisi
sedikit mengandung jaringan ikat elastik, ke otak.
namun pembuluh arteriol mempunyai lapisan
otot polos yang tebal dan disarafi oleh serat
saraf simpatis.
Hal tersebut didukung dengan penelitian
Jayanti (2013) yang menyatakan bahwa
terdapat perbedaan antara kompres hangat
dan kompres alkohol terhadap penurunan
nyeri phlebitis pada pemasangan infuse.
Kompres air hangat lebih efekstif

8 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


dibandingkan dengan kompres alkohol dengan p value 0,025.

7. Perbedaan Skala Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi Kelompok Perlakuan dengan
Kelompok

Kontrol di RSUD Tugurejo Semarang


Table 5.8

Perbedaan Intensitas Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi


Kelompok
perlakuan dengan Kelompok Kontrol di RSUD Tugurejo
Semarang

Bulan Maret-April
2014 (n=36)
Variabel n Mean rank Sum of rank
P value

Kelompok

perlakuan 18 27,50 171,00


0,000
Kelompok

kontrol 18 9,50
495,00

Total 36 27,50
.
Tabel 5.8 menunjukan bahwa hasi analisis
uji

Mann-Whitney didapatkan p value 0,000


(p Kompres hangat merupakan salah satu
penatalaksanaan nyeri dengan memberikan
<0,05), yang berarti ada perbedaan skala energi panas melalui konduksi, dimana panas
nyeri kepala pada pasien hipertensi tersebut dapat menyebabkan vasodilatasi
kelompok perlakuan dengan kelompok (pelebaran pembuluh darah), meningkatkan
kontrol di RSUD Tugurejo Semarang. relaksasi otot sehingga meningkatkan
Berdasarkan hasil mean rank menunjukan sirkulasi dan menambah pemasukan,
bahwa penurunan skala nyeri kepala pada oksigen, serta nutrisi ke jaringan (Potter &
kelompok perlakuan lebih besar daripada Perry, 2010, hlm.632). Kompres hangat juga
kelompok kontrol dengan mean rank dapat meningkatkan curah jantung,
Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 9
peningkatan tersebut dikarenakan sebagai
hasil vasodilatasi perifer yang berlebih, yang
mengalihkan sejumlah besar suplai darah
Teori dan hasil penelitian menunjukan
dari organ dalam dan menghasilkan
bahwa terdapat pengaruh kompres hangat
penurunan tekanan darah (Koizer & Erb,
pada leher terhadap penurunan intensitas
2009, hlm.402), jika tekanan darah menurun
nyeri kepala pada pasien hipertensi dimana
secara berangsur perfusi O2 (oksigen) di
kelompok yang diberikan kompres hangat
otak akan adekuat atau bertambah, sehingga pada leher lebih efektif untuk menurunkan
nyeri kepala akan menurun. nyeri kepala daripada keloompok yang
tidak diberikan kompres hangat. Hal ini
dibuktikan dengan mean rank penurunan
intensitas nyeri kepala pada kelompok yang
diberikan kompres hangat lebih baik
dibandingkan dengan kelompok yang tidak
diberikan kompres hangat.

SIMPULA
N

1. Rata-rata rentang nyeri kepala responden


sebelum diberikan kompres hangat pada
leher sebesar 6,17 dan sesudah diberikan
kompres hangat pada leher turun menjadi
3,72.

2. Rata-rata rentang nyeri kepala


pada
responden tanpa diberikan kompres
hangat saat pengukuran awal sebesar 5,0
dan pada pengukuran akhir setelah 30
menit meningkat menjadi 5,17.

3. Ada pengaruh kompres hangat pada


leher
terhadap penurunan intensitas nyeri kepala
pada pasien hipertensi di RSUD Tugurejo
Semarang, dengan p value 0,000 (p
value

<0,05)
.

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 9


4. Ada perbedaan skala nyeri kepala pada
pasien hipertensi kelompok yang
diberikan kompres

Pengaruh Pemberian Kompres Hangat pada Leher …..(N, 2014) 9


5. hangat pada leher dengan kelompok untuk menurunkan intensitas nyeri
yang tidak diberikan kompres hangat pada kepala, tidak hanya nyeri kepala pada
leher di RSUD Tugurejo Semarang, pasien hipertensi tetapi pada nyeri
dengan p value yang diindikasikan karena penurunan
perfusi oksigen dan peningkatan
0,000 (p <0,05), dimana kelompok
yang spasme.

diberikan kompres hangat lebih efektif b. Bagi peneliti selanjutnya


dapat
menurunkan nyeri kepala daripada
kelompok yang tidak diberikan kompres memodifikasi atau membandingkan
hangat. dengan menggunakan intervensi yang
lain ataubuli-buli hangat agar lebih
efisien dalam mengkompres dan air
SARAN hangat yang berada di dalamnya lebih
lama mengalami penurunan suhu.
1. Bagi Rumah Sakit dan Masyarakat

Bagi tenaga kesehatan di RSUD Tugurejo


diharapkan mampu menangani keluhan
pasien seperti nyeri kepala serta
memberikan penatalaksanaan nyeri yang
sesuai, khusunya nyeri kepala pada pasien
hiepertensi dengan menggunakan kompres
hangat pada leher, sedangkan bagi
masyarakat kompres hangat pada leher
dapat diaplikasikan di rumah secara
mandiri untuk mengattasi nyeri kepala
pada penderita hipertensi.

2. Bagi pendidikan keperawatan

Sebagai bahan masukan dalam proses


pembelajaran khususnya pengendalian
dan penanganan nonfarmakologi terutama
dengan menggunakan kompres hangat
pada leher bahwa lebih efektif untuk
mengurangi nyeri kepala pada pasien
hipretnsi.

3. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

a. Penelitian ini diharapkan bisa


menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya
dalam mengembangkan penelitian

10 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


DAFTAR umj.ac.id/library/in
PUSTAKA dex.php?p=show_detail&id=1271
diperoleh tanggal 25 November
Aaronso, P.I., & Ward, J.P.T. (2010). Sistem 2013
kardovaskuler. Edisi ketiga. Jakarta
: Erlangga

Jayanti, A.E.S. (2013). Perbedaan kompres


hangat dan kompres alcohol
Anggara, F.H.D., & Prayitno, N. (2012). terhadap penurunan nyeri plebitis
Faktor- Faktor Yang Berhubungan pada pemasangan infuse di RSUD
Dengan Tekanan Darah Di
Tugurejo semarang : STIKES
Puskesmas Telaga Murni, Cikarang
Telogorejo
Barat Tahun 2012.
http://lp3m.thamrin.ac.id/upload/arti
kel
Kemenkes Republik Indonesia. (2012).
%204.%20vol%205%20no%201_fe Profil data kesehatan Indonesia
by. pdf/ diperoleh pada tanggal 30 tahun 2011.
mey http://www.depkes.go.id/downloads/
P
2014. ROFIL_DATA_KESEHATAN_IN
DO NESIA_TAHUN_2011.pdf/
diperoleh pada tanggal 20 desember
2013
Dinkes Kota Semarang. (2013). Profil
kesehatan kota semarang 2012.
https://docs.google.com/file/d/0B-
Kowalak, J.P., Welsh, W., & Mayer, B.
yoD-
(2012).
_DDYqgVjZsZjVfc0dpTnc/edit?pli=
Buku ajar patofisiologi. Jakarta :
1/
EGC
diperoleh pada tanggal 21
desember

2013

Endrawatingsih, S.E. (2012). Factor-faktor


yang berhubungan dengan
kejadian hipertensi di Puskesmas
Grogol Limo Depok Jawa
Barat. http://psik-

10 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


Muttaqqin, A. (2009). Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem kardiovaskuler.
Jakatra : Salemba medika

Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Fundamental keperawatan. Edisi 4. Volume 2.
Jakarta : EGC

.(2010). Fundamental keperawatan. Edisi 7. Buku 2. Jakarta : Salemba medika

Price, S.A., & Wilson, L.M. (2006).

Patofisiologi : konsep klinis proses- proses penyakit. Edisi 6. volume 1. Jakarta :


EGC

Rahajeng, E., & Tuminah, S. (2009). Prevalensi hipertensi dan determinannya di


Indonesia. http://indonesia.digitaljournals.org/inde
x.php/idnmed/article/download/700/69

9 diperoleh tanggal 4 Desember 2013

10 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


Setiadi. (2013). Konsep dan praktik penulisan riset keperawatan. Edisi 2. Yogyakarta

: Graha Ilmu

Sherwood, L. (2001). Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC

Snell, R.S. (2012). Anatomi klinis berdasarkan sistem. Jakarta : EGC

Stanley, M., & Beare, P.G. (2007). Buku ajar keperawatan gerntik. Edisi 2. Jakarta :
EGC

Sustrani, L. (2006). Hipertensi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Tambayong, J. (2000). Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta : EGC

Udjianti , W.J. (2013). Keperawatan kardiovaskuler. Jakarta : Salemba Medika

Wolff, H.P. (2007). Hipertensi : Cara mendeteksi dan mencegah tekanan darah tinggi
sejak dini. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer

10 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…


LAMPIRAN 5

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Photo

3x4

Nama : GUSRI INDRA

Tempat/Tanggal Lahir : LAWE SIGALA – GALA 09 MARET 1993

Agama : ISLAM

Status Perkawinan : BELUM KAWIN

Alamat Rumah : JLN. JATI 3 GG SENGGOL NO 119D MEDAN

Riwayat Pendidikan :

1. 1999 – 2005 : SDN 5 TAKENGON

2. 2005 – 2008 : SMPN 1 TAKENGON

3. 2008 – 2011 : SMAN3 TAKENGON

4. 2012 – 2015 : D-III KEPERAWATAN INDAH MEDAN

5. 2015 – 2017 : SI- KEPERAWATAN STIKESSU

10 Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol…, No…