Anda di halaman 1dari 29

REFLEKSI KASUS JANUARI 2019

HEMOTHORAX SINISTRA ET CAUSA TRAUMA


TUMPUL THORAX

DISUSUN OLEH :
NAMA : Haifa Az-Zahra
STAMBUK : N 111 17 010
PEMBIMBING : dr. Roberthy D.M, Sp.B

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

Trauma thorax atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat
menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang
disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan
gawat thorax akut. Trauma thorax atau cedera dada dapat menyebabkan kerusakan
dinding dada, paru, jantung, pembuluh darah besar serta organ disekitarnya
termasuk viscera (berbagai organ dalam besar di dalam rongga dada).1
Secara keseluruhan angka mortalitas trauma thorax adalah 10%, dimana
trauma thorax menyebabkan satu dari empat kematian karena trauma yang terjadi
di Amerika Utara. Banyak penderita meninggal setelah sampai di rumah sakit dan
banyak kematian ini seharusnya dapat dicegah dengan meningkatkan kemampuan
diagnostik dan terapi. Kurang dari 10% dari trauma tumpul thorax dan hanya ±
15-30 % dari trauma tembus thorax yang membutuhkan tindakan torakotomi.1
Trauma thorax terjadi hampir 50% dari seluruh kasus kecelakaan. Trauma
yang terkait dengan trauma thorax mencapai 30-40% dari yang diterima rumah
sakit dan 20-25% dari trauma dikaitkan dengan kematian. Trauma tembus thorax
mencapai 1-13% dari jumlah total trauma ini. Pada laporan studi yang
dipublikasikan, 85% dari trauma ini dapat dikelola, baik dengan observasi atau
drainase pleura, sementara hanya 15-30% kasus yang memerlukan intervensi
bedah untuk trauma pada organ yang mungkin berakibat fatal.2
Trauma di Amerika Serikat mendekati 300.000 kasus per tahun. Sekitar
2.086 anak-anak muda Amerika Serikat, berumur 15 tahun dirawat dengan trauma
tumpul atau penetrasi, 104 (4,4%) memiliki trauma thorax. Dari pasien dengan
trauma thorax, 15 memiliki hemopneumothorax (26,7% kematian), dan 14
memiliki hemothorax (57,1% kematian). Terjadinya hemothorax biasanya
merupakan konsekuensi dari trauma tumpul, tajam dan kemungkinan komplikasi
dari beberapa penyakit. Trauma dada tumpul dapat mengakibatkan hemothorax
oleh karena terjadinya laserasi pembuluh darah internal. Hemothorax juga dapat
terjadi, ketika adanya trauma pada dinding dada yang awalnya berakibat

1
terjadinya hematom pada dinding dada kemudian terjadi ruptur masuk kedalam
cavitas pleura, atau ketika terjadinya laserasi pembuluh darah akibat fraktur
costae, yang diakibatkan karena adanya pergerakan atau pada saat pasien batuk.3
Hemothorax adalah adanya darah dalam rongga pleura dan dapat
disebabkan karena trauma tumpul atau tajam, juga mungkin merupakan
komplikasi dari beberapa penyakit. Hemothorax dapat bersifat simptomatik
namun dapat juga asimptomatik. Sejauh ini penyebab paling umum dari
hemothorax adalah trauma, baik trauma yang tidak disengaja, disengaja, atau
iatrogenik. Sekitar 150.000 kematian terjadi dari trauma setiap tahun. Cedera dada
terjadi pada sekitar 60% kasus multiple-trauma.3

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI


a) Anatomi Thorax
Rongga thorax dibatasi oleh iga-iga, yang bersatu di bagian belakang
pada vertebra thoracalis dan di depan pada sternum. Kerangka rongga thorax,
meruncing pada bagian atas dan berbentuk kerucut terdiri dari sternum, 12
vertebra thoracalis, 10 pasang iga yang berakhir di anterior dalam segmen
tulang rawan dan 2 pasang yang melayang. Kartilago dari 6 iga memisahkan
articulatio dari sternum, kartilago ketujuh sampai sepuluh berfungsi
membentuk tepi kostal sebelum menyambung pada tepi bawah sternum.
Perluasan rongga pleura di atas clavicula dan di atas organ dalam abdomen
penting untuk dievaluasi pada luka tusuk. 5

Gambar 2.1 (a) Anterior view dinding thorax. (b). Posterior view dari dinding
thoraks
Musculus pectoralis mayor dan minor merupakan muskulus utama
dinding anterior thorax. Musculus latissimus dorsi, trapezius, rhomboideus, dan
musculus gelang bahu lainnya membentuk lapisan musculus posterior dinding
posterior thorax. Tepi bawah musculus pectoralis mayor membentuk
lipatan/plika axillaris posterior. Dada berisi organ vital yaitu paru dan jantung.
Pernafasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada. Inspirasi terjadi

3
karena kontraksi otot pernafasan yaitu musculus interkostalis dan diafragma,
yang menyebabkan rongga dada membesar sehingga udara akan terhisap
melalui trakea dan bronkus.5
Pleura adalah membran aktif yang disertai dengan pembuluh darah dan
limfatik. Disana terdapat pergerakan cairan, fagositosis debris, menambal
kebocoran udara dan kapiler. Pleura visceralis menutupi paru dan sifatnya
sensitif, pleura ini berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama ± sama
dengan pleura parietalis, yang melapisi dinding dalam thorax dan diafragma.
Pleura sedikit melebihi tepi paru pada setiap arah dan sepenuhnya terisi dengan
ekspansi paru ± paru normal, hanya ruang potensial yang ada. 5
Diafragma bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga
keenam kartilago kosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung lumbokostal,
bagian muskuler melengkung membentuk tendo sentral. Nervus frenikus
mempersarafi motorik dari interkostal bawah mempersarafi sensorik.
Diafragma yang naik setinggi putting susu, turut berperan dalam ventilasi paru
paru selama respirasi biasa / tenang sekitar 75%.5

b) Fisiologi Pernapasan
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan
yang terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot.
Seperti yang telah diketahui, dinding thorax berfungsi sebagai penembus.
Selama inspirasi, volume thorax bertambah besar karena diafragma turun dan
iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot yaitu sternokleidomastoideus
mengangkat sternum ke atas dan otot seratus, skalenus dan interkostalis
eksternus mengangkat iga-iga. 6
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat
elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis eksternus
relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke atas ke dalam
rongga thorax, menyebabkan volume thorax berkurang. Pengurangan volume
thorax ini meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal.
Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik, sehingga

4
udara mengalir keluar dari paru-paru sampai udara dan tekanan atmosfir
menjadi sama kembali pada akhir ekspirasi. 6
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas
melintasi membrane alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 μm).
Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial
antara darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir pada
permukaan laut besarnya sekitar 149 mmHg. Pada waktu oksigen diinspirasi
dan sampai di alveolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan
sampai sekiktar 103 mmHg. Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan
fakta bahwa udara inspirasi tercampur dengan udara dalam ruangan sepi
anatomik saluran udara dan dengan uap air. Perbedaan tekanan karbondioksida
antara darah dan alveolus yang jauh lebih rendah menyebabkan karbondioksida
berdifusi kedalam alveolus. Karbondioksida ini kemudian dikeluarkan ke
atmosfir. 6
Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan oksigen di
kapiler darah paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total
waktu kontak selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru-paru
normal memiliki cukup cadangan waktu difusi. Pada beberapa penyakit misal;
fibosis paru, udara dapat menebal dan difusi melambat sehingga ekuilibrium
mungkin tidak lengkap, terutama sewaktu berolahraga dimana waktu kontak
total berkurang. Jadi, blok difusi dapat mendukung terjadinya hipoksemia,
tetapi tidak diakui sebagai faktor utama. 6
Adapun fungsi dari pernapasan adalah :
 Ventilasi: memasukkan/mengeluarkan udara melalui jalan napas ke
dalam/dari paru dengan cara inspirasi dan ekspirasi.
 Distribusi: menyebarkan/mengalirkan udara tersebut merata ke seluruh
sistem jalan napas sampai alveoli .
 Difusi: oksigen dan CO2 bertukar melalui membran semipermeabel pada
dinding alveoli (pertukaran gas) .

5
 Perfusi: Darah arterial di kapiler-kapiler meratakan pembagian muatan
oksigennya dan darah venous cukup tersedia untuk digantikan isinya dengan
muatan oksigen yang cukup untuk menghidupi jaringan tubuh. 6

C. Hemothorax
Hemothorax adalah adanya darah dalam rongga pleura. Sumber berasal
dari darah yang berada pada dinding dada, parenkim paru-paru, jantung atau
pembuluh darah besar. Terjadinya hematothorax biasanya merupakan
konsekuensi dari trauma tumpul, tajam dan kemungkinan komplikasi dari
beberapa penyakit. Jumlah perdarahan pada hematothorax dapat mencapai
1500 ml, apabila jumlah perdarahan lebih dari 1500 ml disebut hematothorax
massif. Trauma dada tumpul dapat mengakibatkan hematothorax oleh karena
terjadinya laserasi pembuluh darah internal. Hematothorax juga dapat terjadi,
ketika adanya trauma pada dinding dada yang awalnya berakibat terjadinya
hematom pada dinding dada kemudian terjadi ruptur masuk kedalam cavitas
pleura, atau ketika terjadinya laserasi pembuluh darah akibat fraktur costae,
yang diakibatkan karena adanya pergerakan atau pada saat pasien batuk.
Tujuan utama tatalaksana dari hematothorax adalah untuk menstabilkan
hemodinamik pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta
udara dari rongga pleura. 3, 4
Mengukur frekuensi hemothorax pada populasi umum sulit dilakukan.
Hemothorax yang sangat sedikit dapat dikaitkan dengan fraktur iga dan dapat
tidak terdeteksi atau tidak membutuhkan pengobatan. Karena kebanyakan
hemothorax berkaitan dengan trauma, perkiraan kasar kejadiannya dapat
diukur dari statistic trauma. Sekitar 150.000 kematian terjadi karena trauma
tiap tahunnya. Sekitar 450.000 individu menjadi cacat permanen karena
trauma, dan sebagian besar dari grup ini adalah korban dari politrauma. Chest
injury terjadi sekitar 60% dari politrauma, karena itu perkiraan kasar dari
kejadian hemothorax di Amerika Serikat mendekati 300.000 kasus tiap
tahunnya. 3

6
Hemothorax dibagi berdasarkan klasifikasi sebagai berikut :
 Hemothorax kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 %
pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX. Jumlah darah sampai 300
ml, penanganannya meliputi gerakan aktif (fisioterapi). 7
 Hemothorax sedang : 15 – 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen,
perkusi pekak sampai iga VI. Jumlah darah sampai 800 ml,
penanganannya meliputi aspirasi dan transfusi.7
 Hemothorax Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai
cranial, iga IV. Jumlah darah sampai lebih dari 800 ml, penanganannya
7
meliputi drain sekat air diruang antar iga, transfusi.

Gambar 2.2 Klasifikasi hemothorax


Berdasarkan penyebab hemothorax dapat dibagi menjadi :
 Hemothorax spontan, Oleh karena : primer (ruptur blep , sekunder (infeksi
keganasan), neonatal.
 Hemathorax yang didapat, Oleh karena: iatrogenik, barotrauma, trauma.
Penyebab paling umum dari hemothorax adalah trauma dada.Trauma
misalnya :
 Luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah besar, atau
dinding dada
 Trauma tumpul dada kadang-kadang dapat mengakibatkan lecet
hemothorax oleh pembuluh internal.

7
 Diathesis perdarahan seperti penyakit hemoragik bayi baru lahir
atau purpura Henoch-Schönlein dapat menyebabkan spontan
hemothorax.
 Adenomatoid malformasi kongenital kistik : malformasi ini
kadang-kadang mengalami komplikasi, seperti hemothorax. 4
Penyebab dari hemothorax adalah laserasi paru atau laserasi dari
pembuluh darah intercostal atau arteri mammaria internal yang disebabkan
oleh cedera tajam atau cedera tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebrata torakal
juga dapat menyebabkan hemothorax. Biasanya perdarahan berhenti spontan
dan tidak memerlukan intervensi operasi. Hemothorax dapat juga terjadi pada
pasien yang memiliki:
- Sebuah cacat pembekuan darah
- Trauma tumpul dada
- Kematian jaringan paru-paru (paru-paru infark)
- Kanker paru-paru atau pleura
- Menusuk dada ( ketika senjata seperti pisau atau memotong peluru paru-
paru )
- Penempatan dari kateter vena sentral
- Operasi jantung
- Tuberkulosis
Selain itu terdapat pula hemathorax masif adalah terkumpulnya darah
dengan cepat lebih dari 1500 cc dalam rongga pleura.
Hemothorax adalah adanya darah yang masuk ke areal pleura (antara
pleura viseralisdan pleura parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul
atau trauma tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa
pada dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan ini
akan mengaikibatkan darah mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan
menyebabkan penekanan pada paru.7
Sumber perdarahan umumnya berasal dari A. interkostalis atau A.
mamaria interna. Rongga hemithorax dapat menampung 3 liter cairan,
sehingga pasien hematothorax dapat syok berat (kegagalan sirkulasi) tanpa

8
terlihat adanya perdarahan yang nyata, oleh karena perdarahan masif yang
terjadi terkumpul di dalam rongga thorax.7
Pendarahan di dalam rongga pleura dapat terjadi dengan hampir semua
gangguan dari jaringan dada di dinding dan pleura atau struktur intrathoracic.
Respon fisiologis terhadap perkembangan hemothorax diwujudkan dalam 2
area utama: hemodinamik dan pernafasan. Tingkat respon hemodinamik
ditentukan oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah.7

Gambar 2.3 Skema Patofisiologi Trauma Thorax


Perubahan hemodinamik bervariasi tergantung pada jumlah perdarahan
dan kecepatan kehilangan darah. Kehilangan darah hingga 750 mL pada
seorang pria 70-kg seharusnya tidak menyebabkan perubahan hemodinamik
yang signifikan. Hilangnya 750-1500 mL pada individu yang sama akan
menyebabkan gejala awal syok (yaitu, takikardia, takipnea, dan penurunan
tekanandarah).3
Tanda-tanda signifikan dari shock dengan tanda-tanda perfusi yang
buruk terjadi dengan hilangnya volume darah 30% atau lebih (1500-2000

9
mL). Karena rongga pleura seorang pria 70-kg dapat menampung 4 atau lebih
liter darah, perdarahan exsanguinating dapat terjadi tanpa bukti eksternal dari
kehilangan darah.3,4
Efek pendesakan dari akumulasi besar darah dalam rongga pleura dapat
menghambat gerakan pernapasan normal. Dalam kasus trauma, kelainan
ventilasi dan oksigenasi bisa terjadi, terutama jika berhubungan dengan luka
pada dinding dada. Sebuah kumpulan yang cukup besar darah menyebabkan
pasien mengalami dyspnea dan dapat menghasilkan temuan klinis takipnea.
Volume darah yang diperlukan untuk memproduksi gejala pada individu
tertentu bervariasi tergantung pada sejumlah faktor, termasuk organ cedera,
tingkat keparahan cedera, dan cadangan paru dan jantung yang mendasari.3
Dispnea adalah gejala yang umum dalam kasus-kasus di mana
hemothorax berkembang dengan cara yang membahayakan, seperti yang
sekunder untuk penyakit metastasis. Kehilangan darah dalam kasus tersebut
tidak akut untuk menghasilkan respon hemodinamik terlihat, dan dispnea
sering menjadi keluhan utama.3
Darah yang masuk ke rongga pleura terkena gerakan diafragma, paru-
paru, dan struktur intrathoracic lainnya. Hal ini menyebabkan beberapa derajat
defibrination darah sehingga pembekuan tidak lengkap terjadi. Dalam
beberapa jam penghentian perdarahan, lisis bekuan yang sudah ada dengan
enzim pleura dimulai.3
Lisis sel darah merah menghasilkan peningkatan konsentrasi protein
cairan pleura dan peningkatan tekanan osmotik dalam rongga pleura. Tekanan
osmotik tinggi intrapleural menghasilkan gradien osmotik antara ruang pleura
dan jaringan sekitarnya yang menyebabkan transudasi cairan ke dalam rongga
pleura. Dengan cara ini, sebuah hemothorax kecil dan tanpa gejala dapat
berkembang menjadi besar dan gejala efusi pleura berdarah.3
Dua keadaan patologis yang berhubungan dengan tahap selanjutnya dari
hemothorax: empiema dan fibrothorax. Empiema hasil dari kontaminasi
bakteri pada hemothorax. Jika tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan
benar, hal ini dapat mengakibatkan syok bakteremia dan sepsis.3

10
Fibrothorax terjadi ketika deposisi fibrin berkembang dalam hemothorax
yang terorganisir dan melingkupi baik parietal dan permukaan pleura viseral.
Proses adhesive ini menyebkan paru-paru tetap pada posisinya dan mencegah
dari berkembang sepenuhnya.3
Adapun tanda dan gejala adanya hemothorax dapat bersifat simptomatik
namun dapat juga asimptomatik. Asimptomatik didapatkan pada pasien
dengan hemothorax yang sangat minimal sedangkan kebanyakan pasien akan
menunjukan symptom, diantaranya:
 Nyeri dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada
 Tanda-tanda shok seperti hipotensi, dan nadi cepat, pucat, akral dingin
 Tachycardia
 Dyspnea
 Hypoxemia
 Anxiety (gelisah)
 Cyanosis
 Anemia
 Deviasi trakea ke sisi yang tidak terkena
 Gerak dan pengembangan rongga dada tidak sama (paradoxical)
 Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena
 Dullness pada perkusi
 Adanya krepitasi saat palpasi.
Penegakkan diagnosis hemothorax berdasarkan pada data yang diperoleh
dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa
didapatkan penderita hemothorax mengeluh nyeri dada dan sesak napas. Pada
pemeriksaan fisik dari inspeksi biasanya tidak tampak kelainan, mungkin
didapatkan gerakan napas tertinggal atau adanya pucat karena perdarahan
kecuali hemothorax akibat trauma. Pada perkusi didapatkan pekak dengan
batas tidak jelas, sedangkan pada auskultasi didapatkan bunyi napas menurun
atau bahkan menghilang.4
Pemeriksaan penunjang untuk diagnostik, diantaranya:

11
 Chest x-ray : adanya gambaran hipodense pada rongga pleura di sisi
yang terkena dan adanya mediastinum shift. Chest x-ray sebagi
penegak diagnostik yang paling utama dan lebih sensitif dibandingkan
lainnya.

Gambar 2.4 Chest xray Hemothorax Kanan


 CT Scan : diindikasikan untuk pasien dengan hemothorax yang untuk
evaluasi lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menentukan
kuantitas atau jumlah bekuan darah di rongga pleura.

Gambar 2.5 CT-scan Hemothorax


 USG : USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan
untuk pasien yang tidak stabil dengan hemothorax minimal.

Gambar 2.6 USG thorax pada pasien Hemothorax

12
 Nilai BGA : Hipoksemia mungkin disertai hiperkarbia yang
menyebabkan asidosis respiratori. Saturasi O2 arterial mungkin
menurun pada awalnya tetapi biasanya kembali ke normal dalam
waktu 24 jam.
 Cek darah lengkap : menurunnya Hb menunjukan jumlah darah yang
hilang pada hemothorax.
Tujuan utama terapi dari hemothorax adalah untuk menstabilkan
hemodinamik pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta
udara dari rongga pleura. Langkah pertama untuk menstabilkan hemodinamik
adalah dengan resusitasi seperti diberikan oksigenasi, cairan infus, transfusi
darah, dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik.3,4,7
Langkah selanjutnya untuk penatalaksanaan pasien dengan hemothorax
adalah mengeluarkan darah dari rongga pleura yang dapat dilakukan dengan
cara:
 Chest tube (Tube thoracostomy drainage) : tube thoracostomy drainage
merupakan terapi utama untuk pasien dengan hemothorax. Insersi
chest tube melalui dinding dada untuk drainase darah dan udara.
Pemasangannya selama beberapa hari untuk mengembangkan paru ke
ukuran normal.
 Indikasi untuk pemasangan thorax tube antara lain:
 Adanya udara pada rongga dada (pneumothorax)

 Perdarahan di rongga dada (hemothorax)


 Post operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorax
or hemothorax)
 abses paru atau pus di rongga dada (empyema).
 Adapun langkah-langkah dalam pemasangan chest tube
thoracostomy adalah sebagai berikut:
 Memposisikan pasien pada posisi trandelenberg
 Disinfeksi daerah yang akan dipasang chest tube dengan
menggunakan alkohol atau povidin iodine pada ICS VI atau
ICS VII posterior Axillary Line

13
 Kemudian dilakukan anastesi local dengan menggunakn
lidokain
 Selanjutnya insisi sekitar 3-4cm pada Mid Axillary Line
 Pasang curved hemostat diikuti pemasangan tube dan
selanjutnya dihubungkan dengan WSD (Water Sealed
Drainage)
 Lakukan jahitan pada tempat pemasangan tube

Gambar pemasangan chest tube


 Thoracotomy : merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi
rongga dada ketika hemothorax massif atau terjadi perdarahan persisten.
Thoracotomy juga dilakukan ketika hemothorax parah dan chest tube
sendiri tidak dapat mengontrol perdarahan sehingga operasi (thoracotomy)
diperlukan untuk menghentikan perdarahan. Perdarahan persisten atau
berkelanjutan yang segera memerlukan tindakan operasi untuk
menghentikan sumber perdarahan di antaranya seperti ruptur aorta pada
trauma berat. Operasi (Thoracotomy) diindikasikan apabila:
 1 liter atau lebih dievakuasi segera dengan chest tube
 Perdarahan persisten, sebanyak 150-200cc/jam selama 2-4 jam
 Diperlukan transfusi berulang untuk mempertahankan stabilitas
hemodinamik
 Adanya sisa clot sebanyak 500cc atau lebih

14
Gambar prodsedur torakotomi
 Trombolitik agen :trombolitik agen digunakan untuk memecahkan bekuan
darah pada chest tube atau ketika bekuan telah membentuk massa di
rongga pleura, tetapi hal ini sangat berisiko karena dapat memicu
terjadinya perdarahan dan perlu tindakan operasi segera.
Kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
 Paru-paru kolaps sehingga terjadi gagal napas dan meninggal
 Fibrosis atau skar pada membrane pleura
 Ateletaksis
 Shok
 Pneumothorax
 Pneumonia
 Septisemia
Prognosis berdasarkan pada penyebab dari hemothorax dan seberapa cepat
penanganan diberikan. Apabila penanganan tidak dilakukan segera maka kondisi
pasien dapat bertambah buruk karena akan terjadi akumulasi darah di rongga
thorax yang menyebabkan paru-paru kolaps dan mendorong mediastinum serta
trakea ke sisi yang sehat. 4

15
BAB III
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 53 tahun
Alamat : Jl. Ahmad Yani
Pekerjaan : Swasta
Agama : Kristen
MRS : 24 Desember 2018
N
Keluhan Utama : Nyeri dada sebelah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri yang
dialami sejak ± 7 jam SMRS. Nyeri dada dirasakan setelah pasien mengalami
kecelakaan lalu lintas yang dialami saat sore hari. Saat itu pasien mengendarai
motor dan mengalami tabrakan dengan motor dengan arah yang berlawanan.
Pasien mengatakan dada terbentur ke arah stang motor dan tertindih oleh motor
yang ia kendarai. Selain nyeri dada sebelah kiri pasien juga mengeluh adanya luka
lecet di punggung kiri atas, setelah kecelakaan terjadi pasien merasakan sesak
napas (+), mual (+), pusing (+), sakit kepala (-), BAK (+) lancar, BAB (+) biasa.
Riwayat Penyakit Dahulu : Gangguan cemas menyeluruh.
Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada.

Pemeriksaan Fisik :
 Primary Survey

 Airway : Paten.

 Breathing :

16
o Look : Pergerakan dada asimetris (kiri tertinggal), jejas (+) di regio
mid axilla sinsitra, RR: 28x/menit.
o Listen : Vesikuler melemah hemithorax sinistra, ronkhi (-/-),
wheezing (-/-).
o Feel : Vocal fremitus melemah hemithorax sinistra, redup di ICS 6
hemithorax sinistra

 Sirkulasi : Nadi 98 x/menit, kuat regular, akral hangat ( Tax: 36,8o C),
kering, CRT< 2 detik, TD : 100/70 mmHg.

 Disability : Composmentis, GCS E4V5M6, pupil bulat isokor 3mm,


refleks cahaya +/+.

 Event : Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas yaitu tabrakan motor


dengan motor. Os mengatakan dada terbentur ke arah stang motor dan
tertindih oleh motor yang ia kendarai.

 Secondary survey :
Kepala : Conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor uk.
3mm/3mm, refleks cahaya +/+
Mulut : Nyeri tekan mandibula (-), Krepitasi (-), maloklusi (-)
Telinga : Sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), jejas (-/-),
Hidung : Bentuk simetris, napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), darah (-/-)
Mulut : Gusi berdarah(-), lidah kotor(-), jejas(-), gigi tanggal(-)
Leher :

 Inspeksi : Deformitas (-), kontusio (-), distensi vena jugularis (-).

 Palpasi : Nyeri (-), trakea di tengah.


Leher : Pembesaran KGB (-)
Thorax : (Inspeksi) Pergerakan napas tertinggal hemithorax sinistra,
jejas di regio mid axilla sinsitra
(Palpasi) Vocal fremitus melemah hemithorax sinistra
(Perkusi) Redup di ICS 6 hemithorax sinistra
(Auskultasi) Vesikuler menurun hemithorax sinistra
Abdomen : (Inspeksi) Tampak cembung
(Auskultasi) Peristaltik (+) normal

17
(Palpasi) Nyeri tekan (-)
(Perkusi) Tympani
Status Lokalis :
Thorax : (Inspeksi) Pergerakan napas tertinggal hemithorax sinistra,
jejas di regio mid axilla sinsitra
(Palpasi) Vocal fremitus melemah hemithorax sinistra
(Perkusi) Redup di ICS 6 hemithorax sinistra
(Auskultasi) Vesikuler menurun hemithorax sinistra
Pemeriksaan Penunjang
Darah rutin
24 Desember 2018 Hasil Nilai Rujukan
Leukosit 10.9000/mm3 4.000 – 10.000/mm3
Eritrosit 5,36x 106/mm3 4.25 – 5.40/mm3
Hemoglobin 15.7 g/dL 12.0 – 16.0
Hematokrit 47.6% 37.0 – 47.0
Trombosit 191 x 103/mm3 150.000-450.000/mm3
Kimia Darah
HBsAg : Reaktif
GDS : 121.5 mg/dl

18
FOTO X-RAY THORAX AP/LAT

Kesan : Hydrothorax sinistra

Resume
Tn. S berusia 53 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dada
sebelah kiri yang dialami sejak ± 7 jam SMRS. Nyeri dada dirasakan setelah
pasien mengalami kecelakaan lalu lintas yang dialami saat sore hari. Saat itu
pasien mengendarai motor dan mengalami tabrakan dengan motor dengan arah
yang berlawanan. Pasien mengatakan dada terbentur ke arah stang motor dan
tertindih oleh motor yang ia kendarai. Selain nyeri dada sebelah kiri pasien juga
mengeluh adanya luka lecet di punggung kiri atas, setelah kecelakaan terjadi
pasien merasakan sesak napas (+), mual (+), pusing (+), sakit kepala (-), BAK (+)
lancar, BAB (+) biasa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan TD: 100/70
mmHg, Nadi: 98x/menit, Respirasi: 28x/menit, Suhu: 36.8oC. Pada pemeriksaan
regio thorax didapatkan inspeksi pergerakan napas tertinggal hemithorax sinistra
serta jejas di regio mid axilla sinsitra, palpasi vocal fremitus melemah hemithorax

19
sinistra, perkusi redup di ICS 6 hemithorax sinistra, pada auskultasi vesikuler
menurun hemithorax sinistra.
Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang foto x-ray thorax AP/Lat kesan
hydrothorax sinistra. Hasil laboratorium darah rutin bermakna : leukosit
10.9000/mm3.

Diagnosis Kerja : Hemothorax Sinistra et causa Trauma Tumpul Thorax

Terapi : - Pasang WSD


- O2 6-8 lpm via NRBM
- IVFD RL20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Inj. Ranitidin 50 mg/12jam/IV
- Inj. Ketorolac 30mg/8jam/IV
- Inj. Methylprednisolon mg/12 jam /IV
Prognosis : Dubia

20
Follow Up
25/12/2018
S : Sesak (+) berkurang, nyeri luka post operasi (+), nyeri ulu hati (+)
O : TD : 130/70 mmHg
N : 96x/menit
RR : 26x/menit
S : 37,5oC
Drain : ± 200 cc
A: Hemothorax Sinistra et causa Trauma Tumpul Thorax
Post op WSD hari ke I

P: - O2 6-8 lpm via NRBM


- IVFD RL20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Inj. Ranitidin 50 mg/12jam/IV
- Inj. Ketorolac 30mg/8jam/IV
- Inj. Methylprednisolon mg/12 jam /IV

26/12/2018
S : Sesak (+) berkurang, nyeri luka post operasi (+), nyeri ulu hati (+) berkurang
O : TD : 110/70 mmHg
N : 88x/menit
RR : 24x/menit
S : 36,5oC
Drain : ± 200 cc
Foto X-Ray Thorax Ap/Lat

Kesan : Hydrothorax sinistra


Dibandingkan foto sebelumnya, hydrothorax sinistra sudah berkurang.

A: Hemothorax Sinistra et causa Trauma Tumpul Thorax


Post op WSD hari ke II

P: - O2 6-8 lpm via NRBM


- IVFD RL20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Inj. Ranitidin 50 mg/12jam/IV

22
- Inj. Ketorolac 30mg/8jam/IV
- Inj. Methylprednisolon mg/12 jam /IV
- Foto kontrol thorax

27/12/2018
S : Sesak (-) Nyeri luka post Operasi (+) berkurang
O : TD : 110/80 mmHg
N : 92x/menit
RR : 20x/menit
S : 36.8oC
Drain : ± 200 cc
A: Hemothorax Sinistra et causa Trauma Tumpul Thorax
Post op WSD hari ke III

P:
- IVFD RL20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Inj. Ranitidin 50 mg/12jam/IV
- Inj. Ketorolac 30mg/8jam/IV
- Inj. Methylprednisolon mg/12 jam /IV

28/12/2018
S : Sesak (-), nyeri luka post operasi (-)
O : TD : 120/70 mmHg
N : 80x/menit
RR : 20x/menit
S : 36,5oC
A: Hemothorax Sinistra et causa Trauma Tumpul Thorax
Post op WSD hari ke IV

P: Aff WSD

23
- Cefadroxyl 500 mg 2x1 tab
- Asam mefenamat 500 mg 3x1 tab
- Ranitidine 150 mg 2x1 tab
- Rawat jalan

24
BAB IV
PEMBAHASAN

Penegakan diagnosa pada pasien ini meliputi anamnesis, pemeriksaan


fisik, gambaran secara klinis serta pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan.
Berdasarkan patofisiologi terjadinya hemothorax, dapat terjadi karena trauma
tumpul dan trauma tajam pada dada. Pada pasien ini terjadi trauma tumpul dada
yang diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas. Tn. S berusia 53 tahun masuk
rumah sakit dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri yang dialami sejak ± 7 jam
SMRS. Nyeri dada dirasakan setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas
yang dialami saat sore hari. Saat itu pasien mengendarai motor dan mengalami
tabrakan dengan motor dengan arah yang berlawanan. Pasien mengatakan dada
terbentur ke arah stang motor dan tertindih oleh motor yang ia kendarai. Selain
nyeri dada sebelah kiri pasien juga mengeluh adanya luka lecet di punggung kiri
atas, setelah kecelakaan terjadi pasien merasakan sesak napas (+), mual (+),
pusing (+), sakit kepala (-), BAK (+) lancar, BAB (+) biasa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan TD: 100/70
mmHg, Nadi: 98x/menit, Respirasi: 28x/menit, Suhu: 36.8oC. Pada pemeriksaan
regio thorax didapatkan inspeksi pergerakan napas tertinggal hemithorax sinistra
jejas di regio mid axilla sinsitra, palpasi vocal fremitus melemah hemithorax
sinistra, perkusi redup di ICS 6 hemithorax sinistra, pada auskultasi vesikuler
menurun hemithorax sinistra.
Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang foto x-ray thorax AP/Lat kesan
hydrothorax sinistra. Hasil laboratorium darah rutin bermakna : leukosit
10.9000/mm3.
Gejala subyektif pada kasus hemothorax meliputi nyeri dada yang
berkaitan dengan trauma dinding dada, pada pasien ini kemungkinan di akibatkan
oleh laserasi pembuluh darah yang ada di sekitar dada yang terkena benturan.
Gejala obyektif yang meliputi gerakan serta pengembangan rongga dada
yang tidak sama, penurunan suara nafas atau menghilang pada sisi yang trauma,
dullness saat perkusi, krepitasi saat dilakukan palpasi, cyanosis, anemia,

25
hypoxemia, anxiety, tanda-tanda syok seperti hipotensi, nadi cepat dan akral
dingin. Pada pasien ini gejala yang timbul berupa nyeri dada sebelah kiri terutama
saat menarik nafas yang disertai dengan sesak, sedangkan dari pemeriksaan fisik
inspeksi pergerakan napas tertinggal hemithorax sinistra jejas di regio mid axilla
sinsitra, palpasi vocal fremitus melemah hemithorax sinistra, perkusi redup di ICS
6 hemithorax sinistra, pada auskultasi vesikuler menurun hemithorax sinistra. Hal
ini dapat diakibatkan adanya suatu cairan pada rongga pleura sehingga
menimbulkan gejala seperti yang telah disebutkan diatas.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis hemothorax antara lain chest xray, pada chest xray didapatkan gambatan
hydrothorax. Menurut klasifikasi hemothorax berdasarkan bayangan foto roentgen
pada pasien ini tampak bayangan yang menutup 15-35% pada foto roentgen.
Pemeriksaan darah lengkap pada pasien hemothorax menunjukkan kadar Hb 15.7
[g/dL], kadar hb pada pasien ini normal, artinya perdarahan yang di timbulkan
karena hemothorax tidak menyebabkan Hb turun.
Prinsip penatalaksanaan hemothorax adalah stabilisasi hemodinamik
pasien, menghentikan sumber perdarahan dan mengeluarkan darah serta udara
dari rongga pleura. Langkah pertama stabilisasi hemodinamik adalah dengan
melakukan resusitasi yaitu dengan pemberian oksigenasi, rehidrasi cairan,
transfuse darah jika hb menurun, serta dapat dilanjutkan dengan pemberian
analgesik serta antibiotik. Setelah hemodinamik pasien stabil dapat direncanakan
untuk pengeluaran cairan (darah) dari rongga pleura dengan pemasangan chest
tube Pada pasien ini dilakukan pemasangan chestube yang dihubungakan dengan
water shield drainage dan didapatkan cairan (darah) dengan jumlah ± 200 cc.

26
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
1. Kemungkinan faktor resiko dari penyebab terjadinya hemothorax pada
pasien ini adalah trauma tumpul dada yang terjadi terbenturnya dada ke
arah stang motor yang menyebabkan ruptur pembuluh darah disekitarnya.
2. Diagnosis hemothorax ditegakkan berdasarkan pada anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan
nyeri dada yang memberat dengan menarik nafas disertai dengan sesak.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Pada pemeriksaan regio thorax
didapatkan inspeksi pergerakan napas tertinggal hemithorax sinistra serta
jejas di regio mid axilla sinsitra, palpasi vocal fremitus melemah
hemithorax sinistra, perkusi redup di ICS 6 hemithorax sinistra, pada
auskultasi vesikuler menurun hemithorax sinistra. Berdasarkan hasil
pemeriksaan penunjang foto x-ray thorax AP/Lat kesan hydrothorax
sinistra. Hasil laboratorium darah rutin bermakna : leukosit 10.9000/mm3.
3. Prinsip penatalaksanaan hemothorax adalah stabilisasi hemodinamik
pasien, menghentikan sumber perdarahan dan mengeluarkan darah serta
udara dari rongga pleura.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Pitojo, K. dkk. 2016. Pola trauma tumpul thorax non penetrans,


penanganan, dan hasil akhir di Instalasi Rawat Darurat Bedah RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014 – Juni 2016. Jurnal e-
Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016

2. Kissra, C. dkk. 2016. Pola trauma tembus thorax di Instalasi Rawat


Darurat Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2013 –
Juni 2015. Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016

3. Mayasari, D. Pratiwi, AI. 2017. Penatalaksanaan Hematothorax Sedang Et


Causa Trauma Tumpul. Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung J
AgromedUnila | Volume 4| Nomor 1 | Juni 2017

4. Mahoozi, HR. Hecker E. 2016. Modern Management of Traumatic


Hemothorax. Journal of Trauma & Treatment. Volume 5. Issue 3

5. Snell R. S. (2006) Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6.


Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
6. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC :
Jakarta.

7. Sjamsuhidajat, Jong W D. (2017). Buku Ajar ilmu bedah, Edisi 2, penerbit


buku kedokteran EGC. Jakarta.

28