Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tanaman jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L. adalah
salah satu jenis tanaman biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika.
Orang-orang Eropa yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke
negaranya. Melalui Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika.
Baru sekitar abad ke-16 tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke
Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia
(Wirawan dan Wahab, 2007)
Di Indonesia daerah-daerah penghasil tanaman jagung adalah Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa
Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus daerah
Jawa Timur dan Madura, tanaman jagung dibudidayakan cukup intensif karena
selain tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman jagung
(Warisno, 2007).
Jagung merupakan salah satu pangan dunia yang terpenting selain gandum
dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan,
jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk
beberapa daerah di Indonesia juga menggunakan jagung sebagai bahan pangan
yang penting. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam (Suprapto,
1999).
Jagung merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia
dan hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup
memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Selain sebagai sumber
karbohidrat, jagung juga merupakan bahan baku makanan ternak (hijauan maupun
tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal
dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung
bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai
sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika
juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

1
Prospek usaha tani tanaman jagung cukup cerah bila dikelola secara
intensif dan komersial berpola agribisnis. Permintaan pasar dalam negeri dan
peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik
untuk memenuhi kebutuhan pangan. Hasil penelitian agroekonomi tahun 1981-
1986 menunjukkan bahwa permintaan terhadap jagung terus meningkat
(Rukmana, 1997).

1.2 Tujuan
Untuk melatih mahasiswa cara membudidayakan tanaman jagung manis.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani Tanaman Jagung Manis
Taksonomi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) dalam
taksonomi tumbuh-tumbuhan dimasukkan dalam klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae ( tumbuh-tumbuhan )
Division : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
Sub Divisio : Angiospermae ( berbiji tertutup )
Classis : Monocotyledone ( berkeping satu )
Ordo : Graminae ( rumput-rumputan )
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays saccharata Sturt.
Jagung manis adalah Kingdom Plantae, Divisio Spermatophyta, Sub
divisio Angiospermae, Kelas Monocotyledonae, Ordo Graminales, Famili
Graminaceae, Genus Zea, dan Species Zea mays saccharata Sturt. Secara
morfologi jagung terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan biji. Pada waktu
tanaman berbunga jantan, maka radius akar seminal lebih kurang 100 cm dengan
kedalaman dapat mencapai lebih kurang 75 cm. Akar seminal ini dapat berjumlah
20–30 akar. Dari akar seminal akan tumbuh akar-akar lateral, kemudian diujung
akar seminal dan lateral terdapat bulu-bulu akar, biasanya umurnya sangat pendek
(Ginting, 1995).
Jagung manis (Zea mays saccharata) atau Sweet corn pada mulanya
berkembang dari jagung gigi kuda atau dent corn (Zea mays indentata) dan jagung
mutiara atau flint corn (Zea mays indurata) yang kemudian melalui pemuliaan
tanaman diperoleh jenis yang manis. Jagung muda apabila telah direbus
mempunyai rasa enak dan manis. Rasa manis ini disebabkan kandungan zat
gulanya tinggi oleh karena terdapatnya gen resesif yang dapat mencegah
perubahan dari gula menjadi pati. Jagung manis mempunyai ciri-ciri, biji yang
masih muda bercahaya dan berwarna jernih seperti kaca sedangkan biji yang telah
masak dan kering akan menjadi keriput/berkerut. Jagung jenis ini dapat
mengalami perubahan rasa menjadi kurang manis apabila diareal pertanaman

3
terdapat jagung biasa oleh karena terjadinya penyerbukan silang atau cross
pollination. Untuk membedakan jagung manis dan jagung biasa, pada umumnya
jagung manis berambut putih sedangkan jagung biasa berambut merah. Umur
jagung manis antara 60 sampai 70 hari, namun pada dataran tinggi yaitu 400
meter diatas permukaan laut atau lebih, biasanya mencapai 80 hari (Borneo,
2011).
Tanaman jagung sudah sejak lama diketahui orang, bukan hanya di
Indonesia tapi juga di negara-negara lainnya, belum dapat dipastikan kapan dan di
mana pertama kali ditemukannya. Menurut beberapa sumber, ada yang
menyebutkan bahwa dalam tahun 1779, orang Indian Amerika menemukan
tanaman yang kemudian dikenal dengan varietas jagung manis atau jagung gula
(Zea mays saccharata). Jenis ini memiliki ciri-ciri di antaranya biji yang mengkilat
dan kalau masih muda kelihatan jernih bercahaya, tetapi kalau sudah tua atau
masak mengerut dan keriput (Situshijau, 2003).
Jagung merupakan tanaman berakar serabut yang terdiri dari tiga tipe akar,
yaitu akar lateral, akar adventif, dan akar udara. Akar lateral tumbuh dari radikula
dan embrio. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Akar ini tumbuh dari buku
paling bawah, yaitu sekitar 4 cm di bawah permukaan. Sementara akar udara
adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah permukaan tanah.
Perkembangan akar jagung tergantung dari varietas, kesuburan tanah, dan keadaan
air tanah. Batang tanaman jagung tidak bercabang, berbentuk silinder. Pada buku
ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi tanaman
jagung tergantung varietas, umumnya berkisar 100 cm sampai 300 cm. Daun
jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8
helai sampai 48 helai tergantung varietasnya. Antara kelopak dan helaian terdapat
lidah daun yang disebut ligula, fungsi ligula adalah mencegah air masuk ke dalam
kelopak daun dan batang (Purwono dan Hartono dalam Agitarani, 2005).
Batang tanaman jagung manis beruas-ruas dengan jumlah ruas bervariasi
antara 10-40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang, kecuali pada
jagung manis sering tumbuh beberapa cabang (anakan) yang muncul pada pangkal
batang. Panjang batang jagung berkisar antara 60–300 cm atau lebih, tergantung
tipe dan jenis jagung. Ruas bagian batang atas berbentuk silindris dan ruas-ruas

4
batang bagian bawah berbentuk bulat agak pipih. Tunas batang yang telah
berkembang menghasilkan tajuk bunga betina (Hasibuan, 2006).
Kedudukan daun tanaman ini distik (dua baris daun tunggal yang keluar
dalam kedudukan berselang). Daun terdiri atas pelepah daun dan helaian daun.
Helaian daun memanjang dengan ujung meruncing dengan pelepah-pelepah daun
yang berselang-seling yang berasal dari setiap buku. Daun-daunya lebar serta
relatif panjang. Antara pelepah daun dibatasi oelh spicula yang berguna untuk
menghalangi masuknya air hujan atau embun ke dalam pelepah. Daunya berkisar
10 – 20 helai tiap tanaman. Epidermis daun bagian atas biasanya berambut halus.
Kemiringan daun sangat berfariasi antar genotif dan kedudukan daun yang
berkisar dari hampir datar sampai tegak (Rukmana, 2007).
Tanaman jagung manis termasuk monoceous, tetapi bunga jantan dan
betina letaknya terpisah. Bunga jantan dalam bentuk malai terletak dipucuk
tanaman, sedangkan bunga betina pada tongkol yang terletak kira-kira pada
pertengahan tinggi batang. Tepung sari dihasilkan malai 1–3 hari sebelum rambut
tongkol keluar, rambut tongkol ini berfungsi sebagai kepala putik dan tangkai
putik. Tepung sari mudah diterbangkan angin.
Dari satu malai dapat menghasilkan 250 juta tepung sari. Tepung sari ini
akan menyerbuki rambut tongkol. Apabila dalam satu tongkol terdapat 500
rambut tongkol, maka inilah yang akan diserbuki, sehingga memperoleh 500 biji
dalam satu tongkol dari hasil penyerbukan. Karena letak bunga terpisah dan
tepung sari mudah diterbangkan angin, maka pembuahan berasal dari tanaman
tetangga. Hal ini dekenal dengan penyerbukan silang. Pada tanaman jagung,
penyerbukan silang sebesar 95% (Purwono dan Hartono, 2007)
Biji jagung manis berkeping tunggal, berderet rapi pada tongkolnya. Pada
setiap tanaman jagung ada satu tongkol, kadang-kadang ada yang dua. Setiap
tongkol terdapat 10–14 deret biji jagung yang terdiri dari 200–400 butir biji
jagung (Suprapto dan Marzuki, 2005). Buah biji jagung manis terdiri atas tongkol,
biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna dan kandungan
endosperm yang berfariasi, tergantung pada jenisnya. Pada umumnya biji jagung
manis tersusun dalam barisan yang melekat secara lurus atau berkelok-kelok dan

5
berjumlah antara 8-20 baris biji. Biji jagung manis terdiri atas tiga bagian utama,
yaitu kulit biji (seed coat), endosperm dan embrio (Rukmana, 2007).
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung
umumnya berketinggian antara 1-3 m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6
m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum
bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti
padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini (Astuti, 2008).

2.2 Syarat Tumbuh


Jagung manis sebagai tanaman daerah tropis dapat tumbuh subur dan
memberikan hasil yang tinggi apabila tanaman dan pemeliharaanya dilakukan
dengan baik. Agar tumbuh dengan baik, tanaman jagung memerlukan temperatur
rata-rata antara 14-30ºC. Pada daerah yang ketinggianya sekitar 2200 m di atas
permukaan laut, dengan curah hujan sekitar 100–600 mm per tahun yang
terdistribusi rata selama musim tanam (Kartasapoetra, 1999).
Perkembangan dan pembungaan tanaman jagung manis dipengaruhi oleh
panjang hari dan suhu, pada hari pendek tanaman lebih cepat berbunga. Banyak
kultivar tropika jagung tidak akan berbunga diwilayah iklim sedang sampai
panjang hari berkurang hingga kurang dari 13 atau 12 jam. Pada hari panjang, tipe
tropika ini tetap vegetatif dan kadang-kadang dapat mencapai ketinggian tumbuh
1 -3 m sebelum tumbuh bunga jantan. Namun pada hari yang sangat pendek (8
jam) dan suhu kurang dari 20º C juga menunda pembungaan. Ketika di tanam
pada kondisi hari pendek pada daerha iklim sedang kultivar tropika cendrung
berbunga lebih awal (Sutedjo, 2002).
Jagung manis tumbuh baik pada tanah dengan pH antara 6,5-7,0, tetapi
masih cukup toleran pada tanah dengan tingkat kemasaman yang relatif tinggi,
dan dapat beradaptasi pada keracunan Al (Hasibuan, 2006).
Tanah yang sesuai adalah tanah dengan struktur remah, karena tanah
tersebut bersifat porous sehingga memudahkan perakaran pada tanaman jagung.
Jagung dapat tumbuh pada berbagai jenis macam tanah. Tanah lempung berdebu
adalah tanah yang paling baik bagi pertumbuhanya. Tipe tanah liat masih dapat
ditanami jagung manis, tetapi dengan pengerjaan tanah lebih sering selama

6
pertumbuhanya, sehingga aerase dalam tanah berlangsung dengan baik. Air tanah
yang berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yang dibuat diantara barisan
tanaman jagung (Sutanto, 2002)
Jagung manis umumnya ditanam di dataran rendah, di lahan sawah tadah
hujan maupun sawah irigasi. Tetapi terdapat juga di daerah tinggi pada ketinggian
1000–1800 m di atas permukaan laut. Tanah dengan kemiringan sampai 8% masih
dapat ditanami jagung manis dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya
tanah, dengan maksud untuk mencegah erosi yang terjadi pada waktu turun hujan
besar (Rukmana, 2007)

2.3 Kultur Teknik


Teknis budidaya tanaman jagung manis (Ktnakampar, 2011):
1. Pengolahan Tanah
Tanah diolah digemburkan dan diratakan dengan menggunakan cangkul
atau bajak dan digaru sedalam 20 – 30 cm.
2. Penanaman
Dilakukan dengan cara ditugal atau membuat lubang tanam sedalam 5 cm.
Adapun jarak tanam yang dianjurkan adalah : 70 x 40 cm (2 biji perlubang) atau
70x20 cm (1 biji perlubang). Kebutuhan Benih 11 kg untuk 1 Ha. Jumlah benih
setiap 250 gram atau 1.800 biji. Untuk mencegah dari serangan hama lalat bibit,
dianjurkan diberi insektisida granul (misal WinGran 0,5G) kedalam lubang tanam
dengan dosis 6–8 kg/Ha.
3. Pengairan
Berikan pengairan secukupnya selama masa pertumbuhan, terutama pada
saat musim kemarau. Pengairan berikutnya diberikan 2 minggu sekali atau pada
saat dibutuhkan sampai tongkol terisi penuh.
4. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan saat tanaman berumur 2–3 minggu dan diulang
pada saat bersamaan pembumbunan dan pemupukan terakhir. Pupuk yang
digunakan adalah Urea 300 kg, SP 36 150 kg dan KCL 50 kg setiap Ha. Adapun
cara pemberiannya : - Saat tanam Urea 1,6 gram/tanaman, SP 36 1,6
gram/tanaman dan KCL 0,8 gram/tanaman (Urea 100 kg, SP 36 150 kg dan KCL

7
50 kg), cara pemberian dengan tugal pada jarak 5 cm dari lubang tanam dan
ditutup lagi - Susulan I pada saat umur 21 hari setelah tanam dengan pupuk Urea
1,6 gram/tanaman (urea 100 kg), ditugal dengan jarak 10 cm dari lubang tanam
dan ditutup lagi - Susulan II pada umur 35 hari setelah tanam pemberian Urea
sebanyak 1,6 gram/tanaman (Urea 100 kg), ditugal dengan jarak 15 cm dari
tanaman jagung.
5. Hama dan Penyakit
a. Hama Lalat bibit
Pengendalian adalah dengan penanaman serentak dan menerapkan
pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidupnya, terutama selesai panen
jagung. Mencabut dan memusnakan tanaman yang terserang, menjaga kebersihan
lahan dari gulma, serta mengendalikan dengan semprot pestisida menggunakan
Dursban 20 EC, Hostation 40 EC, Marshal 25 ST dengan dosis sesuai anjuran.
b. Ulat Pemotong dan Penggerek Buah
Pengendalian hama ini adalah dengan tanam secara serempak pada areal
yang luas, mencari dan membunuh secara manual serta melakukan penyemprot
insektisida dengan dosis sesuai anjuran.
c. Penyakit Bulai
Disebabkan cendawan Peronosporta maydis yang berkembang pesat pada
suhu udara 27oC keatas, serta keadaan udara yang lembab. Gejala serangan adalah
pada tanaman umur 2 – 3 minggu, daun runcing dan kaku, pertumbuhan terhabat,
warna daun kuning dan terdapat spora berwarna putih pada sisi bawah daun.
Pengendalian adalah dengan menggunakan benih unggul, pergiliran tanaman, seed
treatment benih dengan Ridomil.
6. Panen
Panen jagung manis dilakukan sekitar 65 hari setelah tanam, dimana pada
saat tersebut buah sudah dikatakan masak secara fisiologis dengan ciri-ciri daun
dan kelobot sudah mengering (menguning). Bila kelobot dibuka biji sudah
tampak.

8
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

9
Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian
Universitas Jambi Desa Mendalo Darat, Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian ini
dilaksakan selama kurang lebih 2 bulan sampai masa panen, mulai bulan
September-November 2017.

3.2 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah :
− Cangkul
− Parang
− Tali rapia
− Gembor
− Meteran
− Ajir (dari kayu)
− Paranet(untuk pagar)
Sedangkan bahan yang digunakan adalah :
− Bibit jagung
− Pupuk kandang
− Pupuk Urea
− Pupuk SP36
− Pupuk KCl
− Pupuk NPK
− Air.

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Pembukaan lahan
Lahan yang masih ditumbuhi tanaman liar dibersihkan dengan
menggunakan parang. Kemudian dibajak tanah dengan menggunakan cangkul,
lalu dibuat petakan-petakan yang berukuran 2 x 1,5m dengan ketinggian ±30 cm,
diukur menggunakan meteran.
3.3.2 Pemupukan Dasar

10
Tanah yang digemburkan kemudian diberi pupuk dasar, yaitu berupa
pupuk kandang yang berasal dari sapi dengan dosis 12,5 gr/petakan, kemudian
dicampur dengan tanah hingga merata.
3.3.3 Penanaman
Dibuat jarak tanam untuk tanaman jagung yaitu 40 x 30cm, dengan lobang
tanam yang kedalamannya ± 5cm. Penanaman jagung manis dilakukan dengan
cara tugal.
3.3.4 Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan berbagai cara yaitu, pemasangan
jaring yang bertujuan untuk melindungi tanaman dari hama, penyiraman yang
dilakukan pada pagi dan sore hari, kemudian dilakukan penyiangan yang
bertujuan untuk menghilangkan gulma, yang dilakukan dengan cara pencabutan.
Selain itu, untuk memperkokoh tanaman, maka tanaman dibumbun dan
dipasang ajir.
Pemupukan sangat diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan unsur
hara tanah, sehingga pada minggu ke-2 setelah masa tanam dilakukan pemupukan.
Pupuk yang digunakan yaitu, pupuk Urea dengan dosis 4,7 gr/lobang tanam,
pupuk SP36 4,7 gr/lobang tanam, dan pupuk KCl 4,1 gr/lobang tanam. Pupuk-
pupuk ini digunakan untuk merangsang pertumbuhan vegetatif.
Untuk merangsang pertumbuhan generatif, maka pada minggu ke-4 setelah
tanam, tanaman jagung diberi pupuk NPK dengan dosis 5,6 gr/lobang tanam.
3.3.5 Panen
Panen dilakukan pada minggu ke-8 setelah tanam, dengan ciri-ciri, rambut
jagung sudah coklat dan mongering.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

11
4.2 Pembahasan

BAB V
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
Jagung adalah tanaman rerumputan tropis yang sangat adaptif terhadap
perubahan iklim dan memiliki masa hidup 70-210 hari. Jagung dapat tumbuh
hingga ketinggian 3 meter. Jagung memiliki nama latin Zea mays. Jagung tidak
memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya
humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Jagung manis sebagai
tanaman daerah tropis dapat tumbuh subur dan memberikan hasil yang tinggi
apabila tanaman dan pemeliharaanya dilakukan dengan baik. Agar tumbuh dengan
baik, tanaman jagung memerlukan temperatur rata-rata antara 14-30ºC. Pada
daerah yang ketinggianya sekitar 2200 m di atas permukaan laut, dengan curah
hujan sekitar 100–600 mm per tahun yang terdistribusi rata selama musim tanam
(Kartasapoetra, 1999).. Pemberian pupuk untuk menunjang pertumbuhan dan
permbangan tanaman jagung dilakukan tiga kali. Yang pertama dilakukan adalah
dengan memberi pupuk kompos sebelum ditanam benih, yang kedua adalah
pemberian pupuk anorganik seperti KCl, SP36 dan urea. Yang terakhir adalah
pemberian pupuk NPK. Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pada pagi dan sore
hari. Pembersihkan bedengan dari gulma dilakukan seminggu sekali selama
praktikum berlangsung. Setelah siap panen, tongkol jagung dipetik dari batangnya
dan seluruh bekas tanaman dan tajir dibersihkan dari bedengan.

5.2. SARAN

12
Lebih banyak memberikan informasi tentang tanaman yang akan ditanam

DAFTAR PUSTAKA

https://faedahjaya.com/distributor-pupuk/tentang-pupuk-sp-36, diakses pada 10


Desember 2017
https://id.wikipedia.org/wiki/Urea, diakses pada 10 Desember 2017
https://idruskrenz.wordpress.com/2013/12/01/laporan-budidaya-tanaman-jagung-
manis-zea-mays-saccharat-idrus/, diakses pada 10 Desember 2017
http://agussalim11.blogspot.co.id/2015/10/laporan-praktikum-jagung-manis.html,
diakses pada 10 Desember 2017
abdus-simahfudjr.blogspot.com/2013/12/teknik-budidaya-jagung.html, diakses
pada 10 Desember 2017
agribisnisundip.blogspot.com/2015/04/laporan-praktikum-pertanian-organik.html,
diakses pada 10 Desember 2017
agroteknologi.web.id/jenis-jenis-pupuk-npk-dan-fungsinya/, diakses pada 10
Desember 2017
pupuklopedia.blogspot.com › Pupuk KCl, diakses pada 10 Desember 2017

13
LAMPIRAN
DENAH SAMPEL PER PETAK

30 cm

40 cm

14
PERHITUNGAN PUPUK
Perhitungan jumlah pupuk pada luas lahan 2m x 1,5m = 3m = 16 lubang
tanam sebagai berikut:
o Pupuk Kandang
Penggunaan pupuk kandang adalah 12,5kg/bedeng
o Pupuk Urea
3𝑚2
= 10.000𝑚2 × 250kg
75𝑔𝑟
= 0,075 kg = =4,86 gr/Lubang tanam
16

o Pupuk KCl
3𝑚2
= 10.000𝑚2 × 200kg
60𝑔𝑟
= 0,06 kg = =3,75 gr/Lubang tanam
16

o Pupuk SP36
3𝑚2
= 10.000𝑚2 × 250kg
75𝑔𝑟
= 0,075 kg = =4,86 gr/Lubang tanam
16

15
DENAH PETAKAN PRAKTIKUM TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG
MANIS

5 4 3 2 1
-Lidia -Yosa -Tria -Novena -Yesi
-Rian -Bagas -Rizky E -Yuda -Jema

6 7 8 9 10
-Besti -Devina -Rizky A -Widya -Syafaa
U -Dori -Fritz -Andri -Simon -Karlos

15 14 13 12 11
-Juni -Midawati -Agustina -Eka -Sylvia
-Joel -Indra -Oktav -Fauzan -Bramesa

16 17 18 19 20
-Meldayani
-Saftia -Rafika -Ajeng -Rafita
-Johanes
-Parlin -Nota -Danu -Alan

1 petakan : 2 m x 1,5 m
Jarak petakan : 40 cm x 30 cm
Jarak perkelompok : 0,5 m
Komoditi yang ditanam : Jagung Manis

16
Pembukaan dan pembersihan lahan yang menjadi media tanam,serta
pembuatan batas tiap bedengan:

Pemberian pupuk kandang pertama tiap bedengan:

Pemasangan paranet untuk mengurangi datangnya hama:

17
Penyiraman yang dilakukan setiap sore

Tanaman jagung sudah tumbuh tinggi

18