Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

MALARIA

I. KONSEP DASAR MEDIS


A. PENGERTIAN
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium
yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam
darah. (Ilmu Penyakit Dalam, 2009)
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata
lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa
dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang. (panas dingin
menggigil) serta demam berkepanjangan.
Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus
Plasmodium yang termasuk golongan protozoa melalui perantaraan tusukan (gigitan)
nyamuk Anopheles spp. (www.depkes.go.id)

B. ETIOLOGI
Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi manusia
juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptil, dan mamalia. Termasuk
jenis plasmodium dari family plasmodidae. Plasmodium ini pada manusia
menginfeksi erotrosit (sel darah merah) dan mengalami pembiakan aseksual di
jaringan hati dan di eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk anopheles
betina. Secara keseluruhan ada lebih dari 100 plasmodium yang menginfeksi binatang
(82 pada jenis burung dan reptil dan 22 pada primata.
Parasit Malaria yang Terdapat di Indonesia Plasmodium malaria yang sering
dijumpai ialah :
1. Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana (Benign malaria)
2. Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika (Malignan Malaria).
3. Plasmodium malariae pernah juga dijumpai tetapi sangat jarang.
4. Plasmodium ovale pernah dilaporkan dijumpai di Irian Jaya, pulau Timor, pulau
Owi (utara Irian Jaya). (Ilmu Penyakit Dalam, 2009
C. PATOFISIOLOGIS
Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual eksogen (sporogoni) dalam
badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebra
termasuk manusia.
1. Fase aseksual
Fase aseksual terbagi atas fase jaringan dan fase eritrosit. Pada fase jaringan,
sporozoit masuk dalam aliran darah ke sel hati dan berkembang biak membentuk
skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Proses ini disebut skizogoni
praeritrosit. Lama fase ini berbeda untuk tiap fase. Pada akhir fase ini, skizon
pecah dan merozoit keluar dan masuk aliran darah, disebut sporulasi. Pada
Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, sebagian sporozoit membentuk
hipnozoit dalam hati sehingga dapat mengakibatkan relaps jangka panjang dan
rekurens.
Fase eritrosit dimulai dan merozoit dalam darah menyerang eritrosit
membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoit-skizon-merozoit. Setelah
2-3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk
seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah
tepi adalah masa prapaten, sedangkan masa tunas/inkubasi intrinsik dimulai dari
masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam.

2. Fase seksual
Parasit seksual masuk dalam lambung betina nyamuk. Bentuk ini mengalami
pematangan menjadi mikro dan makrogametosit dan terjadilah pembuahan yang
disebut zigot (ookinet). Ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk
dan menjadi ookista. Bila ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan
mencapai kelenjar liur nyamuk.
D. PATHWAY

E. GAMBARAN KLINIS
1. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang
(sporulasi). Pada malaria tertiana (Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale),
pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3,
sedangkan malaria kuartana (Plasmodium malariae) pematangannya tiap 72 jam
dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan ditandai dengan beberapa
serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu
menggigil (15 menit-1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan berkeringat (2-4 jam).
Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh dapat beradaptasi terhadap
parasit dalam tubuh dan ada respons imun.
2. Splenomegali
Slenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami
kongesti, menghitam, dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit
dan jaringan ikat yang bertambah.
3. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah
anemia karena Plasmodium falciparum. Anemia disebabkan oleh:
a. Penghancuran eritrosit yang berlebihan.
b. Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time).
c. Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sum-sum
tulang (diseritropoesis).
4. Ikterus
Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar. Malaria laten adalah
masa pasien di luar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila parasit tidak
dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahan
dalam jaringan hati.
Relaps adalah timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat
bersifat:
a. Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan
pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak
b. Relaps jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih setelah
serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan
berkembang biak.

F. KOMPLIKASI
1. Malaria serebral
Biasanya dimulai dengan adanya kejang pada anak, kesadaran anak menjadi apatis
sampai koma. Delirium, halusinasi atau mengamuk sangat jarang dijumpai pada
anak. Cairan serebrospinal biasanya dalam batas normal. Gejala malaria serebral
pada anak-anak paling dini biasanya adalah demam dengan suhu 37,5-41˚C, tidak
bisa makan dan minum, mual, batuk jarang diare.
2. Anemia, (Hb < 5 gr%)
Seorang anak yang mendadak menderita anemia berat seringkali berhubungan
dengan hiperparasitemia. Dapat pula terjadi sebagai akibat penghancuran eritrosit
yang mengandung parasit. Anak dengan anemia berat dapat menderita takikardia
dan dispnea.
3. Dehidrasi
Gangguan asam-basa, dan elektrolit, ditandai dengan penurunan perfusi perifer,
rasa haus, berat badan turun 3-4%, nafas cepat dan dalam, penurunan turgor kulit,
peningkatan kadar ureum darah 6,5 mmol/l atau 40 mg/dl.
4. Hipoglikemia berat
Terutama terjadi pada anak di bawah 3 tahun dengan gejala kejang,
hiperparasitemia, penurunanan kesadaran. Hipoglikemia berhubungan dengan
hiperinsulinemia yang diinduksi oleh malaria dan kina.
5. Gagal ginjal
Jarang terdapat pada anak dengan malaria terutama pada anak kecil. Gagal ginjal
ini seringkali disebabkan oleh dehidrasi yang tidak diobati adekuat.
6. Edema paru akut
Diduga karena peningkatan permeabilitas membran kapiler, terjadinya emboli
mikrovaskuler, koagulasi intravaskuler atau disfungsi mikrosirkulasi pulmonal.
7. Malaria algid
Malaria falciparum yang disertai syok karena adanya septikemia kuman gram
negatif.
8. Kecendrungan terjadi perdarahan
Misalnya perdarahan gusi, epistaksis, petekia, dan perdarahan subkonjungtiva. Hal
ini sering terjadi pada penderita yang non-imun terhadap malaria.
9. Hiperpireksia, seringkali berhubungan dengan kejang, delirium, dan koma.
10. Hemoglobinuria
Berkaitan dengan defisiensi G6PD, hemolisis akan berhenti setelah pecahnya
eritrosit tua.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Fisis: konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali.
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Tetesan preparat darah tebal, dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100
lapang pandang dengan perbesaran kuat). Preparat dinyatakan negatif bila
setelah diperiksa 200 lapang pandang dengan perbesaran kuat 700-1000 kali
tidak ditemukan parasit.
b. Tetesan preparat darah tipis, digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium,
bila dengan preparat tebal sulit ditentukan.
c. Tes antigen (P-F test), untuk mendeteksi antigen plasmodium falciparum
(Histidine Rich protein II).
d. Tes serologi, berguna untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap
malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal.
e. Pemeriksaan PCR, pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan teknologi
amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup cepat dan sensitifitas tinggi.
Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan
hasil positif.
f. Pemeriksaan lainnya: tes fungsi ginjal, tes fungsi hati, gula darah, elektrolit,
hemostasis, rontgent thorax, EKG.

H. PENATALAKSANAAN
1. Klorokuin basa diberikan total 25 mg/ kgBB selama 3 hari.
2. Bila dengan klorokuin pada hari ke-4 masih demam atau hari ke-8 masih di
jumpai dalam darah maka diberikan: kina sulfat 30 mg/ kgBB dibagi dalam 3
dosis selama 7 hari atau fansidar atau suldox dengan dasar dosis primetamin 1 –
1,5 mg/ kgBB atau sulfadoksin 20 -30 mg/ kgBB single dose (usia di atas 6
bulan).
Bila dengan pengobatan di atas anak masih demam pada hari ke empat atau hari
ke delapan masih dijumpai parasit maka diberikan: tetrasiklin HCL 50 mg/ kgBB/
kali, sehari 4 kali selama 7 hari + fansidar/ suldox bila belum mendapat
pengobatan dengan kina sulfat atau bisa juga dengan kombinasi antara tetrasiklin
+ kina sulfat bila sebelumnya mendapat pengobatan dengan fansidar/ suldox (
tetrasiklin hanya diberikan pada anak umur 8 tahun ke atas).
3. Bila tersedia, dapat diberi obat-obat sebagai berikut: meflokuin 15 mg/ kgBB
dibagi dalam 2 dosis dengan jarak waktu pemberian 12 jam secara terpisah atau
halofantrin 8 mg basa/ kgBB setiap 6 jam untuk 3 dosis.
4. Untuk pencegahan relaps pada plasmodium vivax dan ovale, bisa diberikan
primakuin basa 0,3 mg/ kgBB/ hari selama 14 hari, maksimal 26,3 mg/ hari (untuk
umur > 5 tahun).
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Biodata
2. Keluhan Utama; adanya riwayat klien habis bepergian dari daerah yang
endemis dengan penyakit malaria.
3. Aktivitas/Istirahat
Adanya kelemahan, malaise.
4. Sirkulasi
5. Tekanan darah normal / dibawah normal (jika terjaadi penurunan curah
jantung) denyut perifer cepat dan lemah,
6. Kulit ikterik, hangat, ekstremitas / akral pucat, kapiler refil < 3 detik
(penurunan perfusi jaringan perifer (anemia), pucat, kering.
7. Eliminasi
Ditemukan adanya perubahan warna urine seperti kemerahan hematuria, pada
stadium lanjut : hemoglobinuria dan demem kencing hitam (Balck Water
Fever), gagal ginjal acut.
8. Status Nutrisi
Didapatkan anoreksia, mual muntah, penurunan berat badan , penurunan
lemak bawah kulit / malnutrisi.
9. Neurosensori
Adanya sakit kepala, pusing, pada stadium lanjut timbul delirium, disorientasi,
koma, kejang dan tanda neurologis fokal.
10. Keamanan / kenyamanan
Lokalisasi rasa sakit pada daerah hepar (hipokondria kanan) dan hipokondia
kiri (limpa), hepatosplenomegali, nyeri tekan.
11. Pernapasan
Takipnea pada malaria falciparum, adanya edema paru (komplikasi) suhu
umumnye meningkat ( diatas 37°C), demam, menggigil, berkeringat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi infeksi berhubungaan dengan penurunan system imun.
2. Hipertermia berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur.
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
metabolisme tubuh.
4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dan nutrisi dari kebutuhan.
5. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.

C. RENCANA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi infeksi berhubungaan dengan penurunan system imun.
Tujuan: menunjukkan penyembuhan seiring perjalanan waktu, bebas dari
tanda-tanda infeksi.
Intervensi:
a. Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi.
R: mengurangi resiko kemungkinan infeksi.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun
menggunakan sarung tangan steril.
R: mengurangi kontaminasi silang.
c. Pantau kecenderungan suhu.
R: demam disebabkan oleh efek-efek dari endoktoksin pada hipotalamus
dan endorphin yang melepaskan pirogen. Hipertermia adalah tanda-tanda
genting yang mereflesikan perkembangan status syok atau penurunan
perfusi jaringan.
d. Amati adanya menggigil dan diaphoresis.
R: menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu pada infeksi.
e. Pantau tanda-tanda penyimpangan kondisi atau kegagalan untuk menbaik
selama masa terapi.
R: dapat menunjukkan ketidaktepatan terapi antibiotic atau pertumbuhan
berlebihan dari organism resisten atau oportunistik.
f. Kolaborasi pemberian obat anti infeksi sesuai indikasi.
R: dapat membasmi atau memberikan imunitas sementara untuk infeksi.

2. Hipertermia berhungan dengan perubahan pada regulasi temperature


Tujuan: Menunjukan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan.
Intervensi:
a. Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan adanya
menggigil/diaphoresis
R: suhu 38,9 C-41,1 C menunjukan proses penyakit infeksius akut. Pola
demam dapat membantu dalam diagnosis. Menggigil sering mendahului
punjak suhu.
b. Pantau suhu lingkungan tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi
R: suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu
mendekati normal.
c. Berikan kompres hangat hindari penggunaan alcohol
R: membantu mengurangi demam.alkohol mungkin menyebabkan
kedinginan dan dapat mengeringkan kulit.
d. Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai indikasi
R: mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
metabolisme tubuh
Tujuan: mempertahankan volume sirkulasi adekuat dengan tanda-tanda vital
dalam batas normal pasien,dan haluaran urin adekuat.
Intervensi :
a. Ukur/catat haluran urin dan berat jenis.catat ketidakseimbangan masukan
dan haluran komulatif (termasuk semua kehilangan /tak kasat mata).
R: penurunan haluran urin dan berat jenis akan menyebabkan hipovolemia.
b. Dorong masukan cairan sesuai toleransi.
R:memenuhi kebutuhan cairan,mencegah dehidrasi.
c. Kaji membrane mukosa kering,turgor kulit yang kurang baik,dan rasa
haus.
R: hipovelemia akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi
d. Berikan cairan IV sesuai indikasi
R: menggantikan kehilangan dengan meningkatkan permeabilitas kapiler
dan meninngkatkan sumber-sumber tak kasat mata,mis:demam/diaphoresis

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketiakseimbangan antara suplai


oksigen dan nutrisi dari kebutuhan
Tujuan: melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termaksud aktivitas se
hari-hari)
Intervensi:
a. Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal,catat laporan
kelelahan ,keletihan,dan kesulitan menyelesaikan tugas.
R: mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.
b. Awasi TD, nadi, pernapasan, selama dan sesudah aktivitas. Catat respons
terhadap aktivitas (mis: peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing,
dispnea, takipnea, dan sebagainya).
R: Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk
membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
c. Berikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan.
Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan
yang tak direncanakan.
R: Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh
dan menurunkan regangan jantung dan paru.
d. Gunakan teknik penghematan energi, mis: mandi dengan duduk, duduk
untuk melakukan tugas-tugas.
R:Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan
energi dan mencegah kelemahan.
e. Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada,
napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi.
R:Regangan/stres kardiopulmonal berlebihan/stress dapat menimbulkan
dekompensasi/kegagalan.
5. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan : Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
Intervensi :
a. Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri.
R: Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi
tentang kemajuan/perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi, dan
keefektifan intervensi.
b. Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman.
R: Tirah baring pada posisi Fowler rendah menurunkan tekanan intra
abdomen, namun pasien akan melakukan posisi yang menghilangkan nyeri
secara alamiah.
c. Kontrol suhu lingkungan.
R: Dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan
ketidaknyamanan kulit.
d. Dorong menggunakan teknik relaksasi. Berikan aktivitas senggang.
R; Meningkatkan istirahat dan dapat meningkatkan koping.
e. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
R: Menghilangkan/membantu dalam manajemen nyeri.

D. IMPLEMENTASI
Implementasi atau pelaksanaan adalah rencana inisiatif dari rencana tindakan
untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana
tindakan dan ditujukan untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang
dibuat sebelumnya dan mengupayakan rasa aman, nyaman dan
mempertimbangkan keselamatan klien.

E. EVALUASI
1. Menunjukkan penyembuhan seiring perjalanan waktu, bebas dari tanda-tanda
infeksi.
2. Menunjukkan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan.
3. Mempertahankan volume sirkulasi adekuat dengan tanda-tanda vital dalam
batas normal pasien, nadi perifer teraba, dan haluaran urine adekuat.
4. Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas harian).
5. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. KH DENGAN MALARIA TERTIANA
DIRUANG CENDERAWASIH RS. MARTHEN INDEY

I. PENGKAJIAN
Tanggal masuk : 15-07-2017
Tanggal pengkajian : 17-07-2017
No. Reg : 05 69 35
Ruang/Bangsal : Cenderawasih
Diagnosa Medis : Malaria Tertiana
A. Biodata
1. Identitas Klien
Nama : Ny. KH
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 44 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : IRT
Suku/Bangsa : Bugis
Alamat : APO Gudang

2. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn. AK
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 44 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Pegawai PLN
Suku/Bangsa : Bugis
Alamat : APO Gudang
Hubungan dgn Klien : Suami
B. Status Kesehatan
1. Keluhan Utama
a. Keluhan Utama MRS : Demam ± 2 hari.
b. Keluhan utama saat dikaji : Klien mengatakan masih demam, mual muntah, nafsu
makan berkurang, susah BAB.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
klien masuk RS dengan keluhan deman ± 2 hari, mual muntah, sakit perut, susah
BAB.
3. Riwayat Kesehatan Lalu
Klien mengatakan pernah dirawat dengan penyakit demam.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama dengam pasien.

C. Pola Fungsional Gordon


1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Klien mengetahui tentang penyakitnya dan klien rutin minum obat sesuai anjuran
dokter.
2. Pola Nutrisi Metabolik
Makan Sebelum Sakit Saat Sakit
Frekuensi 3-4 Kali Sehari 2-3 Kali Sehari
Nafsu Maksn Baik Menurun
Porsi Makan 1 Porsi 1/3 Porsi
Jenis Makanan Nasi, Sayur, Daging Bubur Saja
Minum Sebelum Sakit Saat Sakit
Jumlah 8-10 Gelas Perhari 4-6 Gelas Perhari

3. Pola Eliminsi
BAK Sebelum Sakit Saat Sakit
Frekuensi 6-7 Kali Sehari 4-5 Kali Sehari
Jumlah 950 ml 800 ml
Warna Kuning Jernih Kuning Pekat
Bau Amoniak Amoniak
BAB Sebelum sakit Saat Sakit
Frekuensi 2-3 Kali Sehari 1-2 Kali Sehari
Konsistensi Lunak Agak Keras
Warna Kuning Kuning Kecoklatan
4. Pola Aktivitas dan Latihan
Sebelum Sakit Saat Sakit
Tidak melakukan aktivitas, mengurus
Klien mengurus rumah tangga dan
rumah tangga dan keluarga karena sakit
keluarga.
dan dirawat di Rs

5. Pola Istirahat dan Tidur


Istirahat/Tidur Sebelum Sakit Saat sakit
Tidur siang 1-2 jam 1 jam
Tidur Malam 7-8 jam 6-7 jam

6. Pola Persepsi dan Kognitif


Respon pasien untuk berkomunikasi sangat baik dan tidak ada gangguan.

7. Pola Persepsi dan Konsep Diri


Pemahaman identitas diri klien baik, pemahaman tentang pekerjaan dan harga diri
juga baik.

8. Pola Peran dan Hubungan


Klien adalah seorang istri dan ibu rumah tangga yang memiliki suami dan dua orang
anak. Hubungan klien dengan keluarganya sangat baik.

9. Pola Seksualitas dan Reproduksi


Klien sadar bahwa ia adalah seorang perempuan dan merupakan ibu dari dua orang
anak dan memiliki seorang suami. Kebutuhan seksualitas klien tidak ada masalah.

10. Pola Keyakinan dan Nilai


Klien beragama islam. Klien rajin beribadah, namun saat sakit klien hanya bias
berdoa diatas tempat tidur.

D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum : Sakit ringan
2. Kesadaran : Composmentis GCS: E: 4, V:5, M:6
3. Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu Badan : 38,6 °C
4. Berat Badan
Sebelum sakit : 47 kg
Saat sakit : 45 kg
5. Tinggi Badan : 155 cm
6. Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala simetris, kepala bersih
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
7. Wajah
Inspeksi : Bentuk muka simetris, tidak ada kemerahan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
8. Mata
Inspeksi : Konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, pupil normal miosis
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan tidak peningkatan TIO
9. Hidung
Inspeksi : Bentuk hidung simetris, tidak ada serumen, tidak perdarahan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada tanda-tanda sinusitis
10. Telinga
Inspeksi : Bentuk telinga simetriss, tidak ada serumen, tidak ada perdarahan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan benjolan
11. Mulut
Inspeksi : Bibir tampak kering, pucat, gigi tidak karies
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
12. Leher
Inspeksi : Bentuk leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
13. Jantung
Inspeksi : Bentuk dada normal
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada dada
Perkusi : Bunyi redup pada ics 5
Auskultasi : Terdengar bunyi lup pada BJ I dan bunyi dup pada BJ II
14. Paru-paru
Inspeksi : Pergerakan dada simetris, pernapasan normal (20 x/menit)
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Bunyi perkusi sonor
Auskultasi : vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.
15. Ektremitas Atas
Kekuatan otot : 5/5
Koordinasi gerak : Baik
Refleks trisep dan bisep : Normal

16. Ektremitas Bawa


Kekuatan otot : 5/5
Koordinasi gerak : Baik
Refles patella : Normal
Akral panas

E. Pemeriksaan Penunjang
Yang Diperiksa Hasil Nilai Normal
Leukosit 4400 /mm3 5000 - 10.000 /mm3
Hemoglobin 10 gr/dL 11,4 – 16,4 gr/dL
Trombosit 289.000 150.000 – 400.000/mm3
Malaria Positif -

F. Terapi
IVFD RL 20 tpm
Inj. IV Antagesik 2 x 1 amp
Inj. IV Ranitidine 2 x 1 amp
Inj. IV Ondansentron 3 x 1 amp
Dulcolax sup
Dulcolax Tablet
Primaquin 1 x 1 tab (14 hari)
OAM 1x 3 tab (3 hari)
Paracetamol 500 mg
G. Klasifikasi Data
Data Subjektif Data Objektif
Klien mengatakan : KU : Sakit ringan
Demam Kes : Composmentis E: 4, V: 5, M: 6
Mual TTV
Muntah TD : 120/70 mmHg
Lemas N : 80 x/m
Nafdu makan berkurang RR : 20 x/m
Susah BAB SB : 38,6 °C
Pusing Porsi makan 1/3
BB saat sakit : 45 kg
TB : 155 cm
Bibir tampak kering, pucat
IMT 18,75
Konjungtiva anemis
Akral panas
Klien tampak lemah

H. Analisa Data

No. Data Masalah Etiologi


1. DS : Hipertermi Histamine
Klien mengatakan :
Demam Merangsang prostaglandin
DO : E2 hipotalamus
TTV
TD : 120/70 mmHg Meningkatkan pelepasan
N : 80 X/M prostaglandin E2
RR : 20 x/m
SB : 38,6 °C Termoregulasi tidak stabil
Bibir kering, pucat
Akral panas Peningkatan suhu tubuh
No. Data Masalah Etiologi
2 DS : Ketidakseimbangan Peradangan
Klien mengatakan : nutrisi
Mual Peningkatan metabolisme
Muntah (mual, muntah)
Nafsu makan berkurang
Lemas Anoreksia
DO :
Klien tampak lemah Perubahan nutrisi kurang
Bibir kering, pucat dari kebutuhan nutrisi
Porsi makan 1/3
BB saat sakit : 45 kg
TB : 155 cm
IMT : 18,75
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. KH DENGAN MALARIA
TERTIANA DI RUANG CENDERAWASIH RS. MARTHEN INDEY

NAMA : NY. KH TANGGAL MASUK : 15-07-2017

UMUR : 44 TAHUN TANGGAL PENGKAJIAN : 17-07-2017

RUANG : CENDERAWASIH NO. REG : 05 69 35


RENCANA KEPERAWATAN
NO DX KEP TUJUAN & KH INTERVENSI RASIONAL DDT IMPLEMENTASI EVALUASI

1. Hpertermi Setelah dilakukan 1. Kaji TTV 1. TTV merupakan acuan 1. Mengkaji TTV klien : S : Klien
berhubungan asuhan keperawatan untuk mengetahui keadaan R : TD : 120/70 mmHg mengatakan sudah
dengan perubahan selama 1 X 2 jam umum pasien N : 80 x/m tidak demam
regulasi pada diharapkan demam SB : 38,6 ° C
temperatur ditandai berkurang – hilang RR : 20x/m O:
dengan dengan KH : - Mukosa bibir
DS : klien - Suhu tubuh dalam 2. Anjurkan pasien 2. Peningkatan suhu tubuh 2. Menganjurkan pasien lembab
mengatakan : rentang normal banyak minum mengakibatkan penguapan banyak minum - Tubuh teraba
- Demam 36,5-37,5°C sehingga tubuh R: - Pasien minum air hangat
- Mual - Mukosa bibir memerlukan asupan cairan sebanyak 300 ml - TD: 120/80
- Muntah lembab - Mukosa bibir lembab mmHg
- Lemas - Akral hangat N : 87 x/m
- Pusing 3. Beri kompres hangat 3. Dengan kompres hangat 3. Memberikan kompres hangat RR : 21 x/m
akan terjadi perpindahan R: Suhu tubuh 38, 2 °C SB : 37,5°C
DO : secara konduksi
- TTV A : Masalah
- TD : 4. Anjurkan pasien 4. Penurunan dapat 4. Menganjurkan pasien teratasi
120/70mmHg memakai pakaian dilakukan dengan teknik memakai pakaian tipis dan
- N : 80x/m tipis dan menyerap evaporasi menyerap keringat P : Hentikan
- RR : 20x/m keringat R: Pasien memahami dan intervensi. Bila
- SB : 38,6 °c memakai pakaian tipis dan demam terulang
- Bibir tampak menyerap keringat lakukan kembali
kering, pucat intervensi 1-5.
- Akral panas 5. Kolaborasi dengan tim 5. Antipiretik mengandung 5. Melanjutkan kolaborasi
dokter dalam regimen yang bekerja dengan tim dokter dalam
pemberian terapi pada pusat pengatur suhu pemberian antipiretik
antipiretik di hipotalamus R: - Paracetamol 500 mg
- SB : 37,7°C
2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 1. Kaji satus gizi 1. Pengkajian penting 1. Mengkaji status gizi pasien S : Klien
nutrisi asuhan keperawatan pasien dilakukan untuk R: IMT : 45/(15,5)2 = 18,75 mengatakan :
berhubungan selama 3 X 24 jam mengetahui status gizi - Mual
dengan intake yang diharapkan kebutuhan pasien sehingga dapat - Muntah
tidak adekuat nutrisi klien terpenuhi merencanakan intervensi
ditandai dengan : dengan kriteria hasil: yang diberikan O:
DS :klien - Nafsu makan - Pasien tampak
mengatakan : meningkat 2. Jaga kebersihan 2. Mulut yang bersih dapat 2. Menjaga kebersihan mulut menghabiskan
- Mual - BB meningkat mulut pasien dengan meningkatkan nafsu pasien dengan melakukan 1/3 porsi
- Muntah - Porsi makan melakukan oral makan oral hygiene makanannya
- Nafsu makan dihabiskan hygiene R: Keadaan mulut bersih - Keadaan mulut
berkurang - Tidak ada mual, pasien tampak
- Lemas muntah 3. Anjurkan klien 3. Untuk memenuhi 3. Menganjurkan klien bersih
melaksanakan diet kebutuhan nutrisi pasien melaksanakan diet sesuai - BB : 45 kg
DO : sesuai program program
- Klien tampak R: Porsi makan klien 1/3 A : Masalah belum
lemah porsi teratasi
- Bibir kering,
pucat 4. Awasi pola makan 4. Untuk mengetahui 4. Mengawasi pola makan P : Lanjutkan
- Porsi makan 1/3 pasien perkembangan asupan pasien intervensi 1-6
- BB saat sakit : 45 nutrisi klien R: Klien menghabiskan 1/3
kg porsi makanannya
- TB : 155 cm
- IMT : 18,75 5. Kolaborasi 5. Memberikan asupan diet 5. Melanjutkan kolaborasi
pemberian diet yang tepat pemberian diet sesuai
sesuai kebutuhan kebutuhan dengan ahli gizi
dengan ahli gizi R: Diet sesuai program

6. Kolaborasi dengan 6. Anti emetik digunakan 6. Melanjutkan kolaborasi


tim dokter dalam dalam manajemen mual dengan tim dokter dalam
pemberian terapi anti dengan menghambat pemberian terapi anti emetik
emetic sekresi asam lambang R: Ondansentron 3x1 amp
(IV)