Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

“PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA(PUEBI)”

Diajukan Sebagai
Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Oleh :
Ilhamsyah 1810070530014
Dwi Sari Novelita 1810070530032
Sari Novatiani 1810070530044
Rezi Sri Gumalasari 1810070530008
Rosanti 1810070530048
Indah Sri Wahyuni 1810070530003
Nila Sari 1810070530007

Dosen Pengampu : WISMAN,S.Pd.,M.Pd

FAKULTAS EKONOMIJURUSAN MANAJEMEN


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang
telahmemberikan karunia, rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat beserta salam tidak
lupa penulis sanjungkan kepada junjungan umat, Rasulullah SAW. Penulis merasa
bersyukur karena telah menyelesaikan makalah mengenai “Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI)” sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Di dalam
makalah ini, penulis menjelaskan mengenai pengertian, ruang lingkup,
penulisanhuruf, dan mengenai beberapa penulisan kata (dasar, berimbuhan, dan
bentukulang) sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Tidak lupa pula penulis berterima kasih kepadasemua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan.Penulis berharap makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya dalam pembelajaran berbahasa Indonesia
secara baik dan benar. Penulis menyadari bahwamakalah ini masih jauh dari sempurna,
maka penulis mengharapkan kritik dan saransebanyak-banyaknya dari pembaca.

Padang, 11 Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

JUDUL ........................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang ................................................................................... ....... .
1.2Rumusan Masalah ......................................................................................
1.3Tujuan ........................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Penulisan Huruf ........................................................................................ 2
B. Penggunaan Huruf Kapital,Tebal,Dan Miring .......................................... 2
C. Singkatan Dan Akronim............................................................................. 4
D. Penulisan Kata............................................................................................ 4
E. Penulisan Angka Dan Lambang................................................................. 5
F. Pemakaian Tanda Baca.............................................................................. 5

BAB III PENUTUP


Kesimpulan................................................................................................ 7
Saran.......................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bahasa Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan sebagai bahasa nasionaldan
bahasa resmi negara Indonesia. Dalam berbahasa Indonesia, tentu tidak lepasdari kaidah
dan aturan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Kriteria yangdiperlukan dalam
kaidah kebahasaan tersebut antara lain tata bunyi, tata bahasa,kosakata, ejaan, makna,
dan kelogisan. Bahasa Indonesia yang baik dan benarmengacu pada ragam bahasa yang
memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran,dan bahasa yang baik dan benar adalah
bahasa yang sesuai kaidah baku, baik tertulismaupun lisan (Murtiani et al, 2016).Sebelum
tahun 1900, Indonesia yang sebagian besar penduduknya berbahasa Melayu, masih
belum memiliki sistem ejaan yang dapat digunakan.

Laluseorang ahli bahasa dari Belanda, Prof. Charles van Ophuijsen bersama dua
orangpakar bahasa, Engkoe Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Sutan
Ibrahim membuat ejaan bahasa Melayu dengan menggabungkan dasar-dasar ejaanLatin
dan ejaan Belanda. Ejaan van Ophuijsen dianggap kurang berhasildikarenakan kesulitan
dalam memelayukan tulisan beberapa kata dari bahasa Arabyang memiliki warna bunyi
bahasa khas. Namun, oleh van Ophuijsen, kesulitantersebut terus diperbaiki dan
disempurnakan, sehingga pada tahun 1926, sistemejaan menjadi bentuk yang tetap.
Semenjak itu sistem ejaan terus berkembang dandisempurnakan, muncul Ejaan Republik
atau Ejaan Soewandi, kemudian EjaanPembaharuan, Ejaan Melindo, lalu Ejaan Baru,
Ejaan Rumi Bersama, dan Ejaanyang Disempurnakan (EYD).Pada 26 November 2015,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RepublikIndonesia mengubah Pedoman Umum
Ejaan yang Disempurnakan (PUEYD)menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
(PUEBI) sebagai pedoman penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

1.2. Rumusan Masalah


1.Apakah pengertian dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia(PUEBI)?
2.Apa saja ruang lingkup dari PUEBI?
3.Bagaimanakah aturan penulisan huruf berdasarkan PUEBI?
4.Bagaimanakah aturan penulisan kata berdasarkan PUEBI?

1.3. Tujuan
1.Mendeskripsikan pengertian dari PUEBI.
2.Mendeskripsikan aturan penulisan huruf berdasarkan PUEBI.
3.Mendeskripsikan aturan penulisan kata berdasarkan PUEBI.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Ejaan Bahasa


Indonesia (EBI) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesiayang mengatur penggunaan
bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaianhuruf, penulisan kata, penulisan
unsur serapan, serta penggunaan tanda baca (Murtiani et al, 2016).
Dalam menulis berbagai karya ilmiah, diperlukan aturan
tata bahasa yang menyempurnakannya sebab karya tersebut memerlukan tingkatkesem
purnaan yang mendetail. Karya ilmiah tersebut dapat berupa artikel,
resensi, profil, karya sastra, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, dan sebagainya. Sehingga
PUEBIdapat diartikan sebagai suatu ketentuan dasar secara menyeluruh yang berisi
acuan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

A. PENULISAN HURUF
1. Huruf Abjad
Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang melambangkan
bunyi bahasa, sementara abjad merupakan kumpulan atau sistem aksara itu sendir
berdasarkan urutan yang umum dan baku dalam bahasa tertentu. Ejaan Bahasa
Indonesia terdiri dari 26 huruf abjad.
2. Huruf Vokal
Huruf vokal merupakan huruf yang pelafalan bunyinya dihasilkan oleh arusudara
yang tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:tinggi
rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir
pada pembentukan vokal itu. Huruf-huruf vokal pada bahasa Indonesia terdiri dari
limahuruf, yaitu a, e, i, o, dan u.
3. Huruf Konsonan
Huruf konsonan adalah huruf yang pelafalan bunyinya dihasilkan denganmenghambat
aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis. Pada pelafalan konsonan,
ada tiga faktor yang terlibat: keadaan pita suara, penyentuhanatau pendekatan berbagai alat
ucap, dan cara alat ucap itu bersentuhan atau berdekatan (Alwi et al, 2008).
Huruf-huruf konsonan pada bahasa Indonesiadilambangkan oleh 21 huruf yaitu b, c, d, f, g,
h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x y,dan z.

B. PENGGUNAAN HURUF KAPITAL, TEBAL, DAN MIRING


1. Huruf Kapital
 Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata (termasuk
semuaunsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga,
badan, organisasi,atau dokumen, kecuali kata tugas.Misalnya:Undang-
UndangDasarNegaraRepublikIndonesiaTahun 1945

2
 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur
kataulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, makalah,
namamajalah, dan surat kabar, kecuali kata tugas, yang tidak terletak
pada posisiawal.Misalnya:MajalahBobomemberikan informasi yang
bermanfaat bagi anak-anak.

 Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama


gelar, pangkat, atau sapaan.Misalnya:
S.T artinya Sarjana Teknik
Nn artinya Nona

 Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk


hubungankekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, dan paman, serta kata
atau ungkapanlain yang dipakai dalam penyapaan atau
pengacuan.Misalnya:“WajahKakak terlihat pucat, apaKakak sakit?” tanya
Raisa.
Catatan:a.

2. Huruf Miring
Huruf miring merupakan huruf yang letaknya miring, tetapi tidak samadengan
tulisan tangan pada kursif. Berikut adalah ketentuan-ketentuan
penggunaanhuruf miring.
 Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, nama majalah,
ataunama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam
daftar pustaka.Misalnya:Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
terdiri atas novelLaskar Pelangi, Sang Pemimpi

 Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,


bagiankata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.Misalnya:Penulisan
kata yang benar adalahJelaskan maksud dari peribahasaesa hilang dua
terbilang

 Huruf miring digunakan untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam


bahasadaerah atau bahasa asing.Misalnya:Go Gek Cap Lak (upacara bakar
tongkang) adalah ritual tahunanmasyarakat di Bagansiapiapi yang sudah
terkenal hingga di mancanegara.

3. Huruf Tebal
Huruf tebal adalah huruf yang dicetak tebal atau vet. Berikut adalahketentuan-
ketentuan penggunaan huruf tebal.
 Huruf tebal digunakan untuk menegaskan bagian tulisan yang telah
ditulisdengan huruf miring.Misalnya:Kata sativapada nama ilmiah padi
yaituOryzasativa menunjukkanspecies.
3
 Huruf tebal dapat digunakan untuk menegaskan bagian-bagian
karangan,seperti judul buku, bab, atau
subbab.Misalnya:BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN

C. Singkatan dan Akronim


1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
 Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti
dengan tanda titik.Misalnya:A.S Kramawijaya, Muh. Yamin
 Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan
atau organisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf
awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda
titik.Misalnya:DPR Dewan Perwakilan Rakyat
 Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda
titik.Misalnya:dll. dan lain-lain, dsb. dan sebagainya, dst. dan seterusnya
 Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata
uang tidak diikuti tanda titik.Misalnya:Cu cuprum, TNT trinitrotulen
2. Akronim kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang
tidak diikuti tanda titik.
 Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata
ditulis selurhnya dengan huruf capital.Misalnya:ABRI Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia dan LAN Lembaga Administrasi Negara
 Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf
dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
kaptal.Misalnya:Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
 Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata,
ataupun gabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis
dengan huruf kecil.Misalnya: Pemilu pemilihan umum

D. PENULISAN KATA
1. Kata Dasar
Katadasar dapat diartikan sebagai suatu kata yang menjadi dasar bentukan
kata yanglebih besar dan bahkan menjadikan kata tersebut memiliki makna
yang berbeda.Misalnya :Kakek itu sangat kurus.

2. Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan atau kata turunan adalah kata-kata yang sudah
berubah bentuk dan makna disebabkan pemberian imbuhan berupa
awalan (afiks), akhiran(sufiks), sisipan (infiks), atau awalan-akhiran
(konfiks). Misalnya : per sembahan

3. Bentuk Ulang
Bentuk ulang adalah kata dasar yang mengalami pengulangan
(reduplikasi),hingga membentuk makna yang berbeda (Murtiani et al, 2016).
Bentuk ulang ditulisdengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-
unsurnya.
Berdasarkan pendapat Badudu (1983), kata ulang menurut bentuknya ada be
berapa macam,yaitu:
 Kata ulang dengan mengulang seluruh morfem: kuda-kuda, sakit-sakit,
berapa- berapa, perubahan-perubahan.
 Kata ulang berimbuhan: berjalan-jalan, gigi-geligi, anak-anakan.
 Kata ulang yang mengalami perubahan bunyi: bolak-balik, serta-
merta, serba-serbi.
 Kata ulang dwipurwa: lelaki, tetamu, leluhur, tetanaman.

E. Penulisan Angka dan Lambang Bilangan


1. Angka
Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam
tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M
(1000), V (5.000), M (1.000.000)

2. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.


a. Bilangan utuh
Misalnya:Dua belas 12, Dua puluh dua 22, dan Dua ratus dua puluh dua
222
b. Bilangan pecahan
Misalnya:Setengah ½ , Tiga perempat ¾

F. PEMAKAIAN TANDA BACA


1. Tanda Titik (.)
 Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau
seruan.Misalnya:Ayahku tinggal di Solo.
 Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
ikhtisar, atau daftar.Misalnya:A. Direktorat Jenderal Pembangunan
Masyarakat Desa
 Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu.Misalnya:Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20
detik)
 Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul
tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan
tempat terbit.
 Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya.Misalnya:Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

2. Tanda Koma (,)


 Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
pembilangan.Misalnya:Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

5
 Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau
melainkan.Misalnya:Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
 Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya
oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.Misalnya:….
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
3. Tanda Titik Dua (:)
 Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika
diikuti rangkaian atau pemerian.Misalnya:Kita sekarang memerlukan
perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
 Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
pemerian.Misalnya:Ketua : Ahmad Wijaya , Sekretaris : S. Handayani
 Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)

4. Tanda Hubung (-)


 Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh
pergantian baris.Misalnya:Di samping cara-cara lama itu juga cara yang
baru
 Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di
belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada
pergantian baris.Misalnya:Kini ada acara baru untuk meng-
ukur panas.
 Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang.Misalnya:
Anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan

5. Tanda Seru (!)


Tanda seru dipakai sesuda ungkapan atau pernyataan yang berupa
seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.Misalnya:Bersihkan
kamar itu sekarang juga!

6
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) adalah tata bahasa dalam BahasaIndonesia yang
mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan,mulai dari pemakaian huruf,
penulisan kata, penulisan unsur serapan,serta penggunaan tanda baca.
Pemakaian huruf yang diatur dalam PUEBI antara lain: huruf abjad, huruf vokal,
huruf konsonan, huruf diftong, gabungan hurufkonsonan, huruf kapital, huruf miring,
dan huruf tebal.
Kata adalah satuan unit terkecil dari bahasa yang dapat berdiri sendiridan
tersusun dari morfem tunggal. Pedoman penulisan kata yang diatur olehPUEBI adalah
kata dasar, kata berimbuhan, bentuk ulang, dan lain-lain.

Saran
Setelah membaca makalah ini, penulis menyarankan agar pembaca:
1. Memahami PUEBI dan menerapkannya dalam berbahasa Indonesia yang baik
dan benar.
2. Menjadikan PUEBI sebagai patokan dalam menulis berbagai karyailmiah.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/373732616/Makalah-Pedoman-Umum-Ejaan-
Bahasa-Indonesia-PUEBI