Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPOSPADIA

A. PENGERTIAN
Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang terletak disebelah ventral
penis dan proksimal ujung penis. Letak meatus uretra bisa terletak pada grandular hingga perineal
(Nurarif, 2015)
Hipospadia adalah kelainan kongenital pada anak laki-laki jarang dijumpai dan secara anatomi
didapatkan muara uretra dibagian ventral penis. (Pujo sakti, dkk, 2018)
Hipospadia adalah kelainan kongenital yang paling sering ditemukan pada laki-laki . kata hypo
yang berarti dibawah dan spadon yang berarti lubang. Hipospadia dapat didefinisikan sebagai
adanya muara uretra yang terletak di ventral atau proximal dari lokasi yang seharusnya. Kelainan
ini terbentuk pada masa embrional karena adanya defek pada masa perkembangan alat kelamin dan
sering dikaitkan dengan gangguan pembentukan seks primer ataupun gangguan aktivitas seksual
saat dewasa. (Krisna & Maulana, 2017)

B. ETIOLOGI
Penyebab kelainan ini kemungkinan bermula dari proses kehamilan juga karena maskulinisasi
inkomplit dari genetalia karena involusi yang prematur dari sel interstitial testis. Didalam
kehamilan terjadi penyatuan di garis tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra
terbuka pada sisi ventral penis. Perkembangan uretra in utero normalnya dimulai sekitar usia 8
minggu dan selesai dalam 15 minggu.
Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde, brown membagi hipospadia
dalam 3 bagian :
1. Hipospadia Anterior : Tipe granular, subkoronal, dan penis distal.
2. Hipospadia Medius : Midshaft, dan penis proksimal.
3. Hipospadia Posterior : Penoskrotal, scrotal, dan perineal.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang
menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke
glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
D. WOC

E. OC
Proses Pembentukan uretra Penyatuan glandula
perkembangan terganggu uretra di garis tengah
janin usia 8 – 15 lipatan uretra tidak
minggu lengkap

Pembentukan saluran Meatus uretra (lubang


Hipospadia kencing) terbuka pada
kencing tidak sempurna
sisi ventral penis

Tidak dilakukan - Stenosis meatus Pembedahan (operasi)


operasi (aliran urin sulit
diatur)
- Kriptokirdisme
(testis turun ke
Pada jenis dalam skrotum
penoskrotal / Eksisi chordee,
perinial uretroplasty

MK: Defisiensi
Cemas
pengetahuan
infertilitas Post pembedahan

MK: Ansietas

Hubungan seksual
Pemasangan kateter Gangguan rasa
terganggu
inhwelling nyaman

MK: Disfungsi
M MK: Nyeri
seksual Post de entry kuman
Akut

MK: Risiko infeksi


F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir atau bayi. Karena kelainan
lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan
kromosom.
1. Rontgen
2. USG sistem kemih kelamin
3. BNO – IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan kongenital ginjal
4. Kultur urine (Anak Hipospadia)

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur pembedahan pada
hipospadia adalah :
1. Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee
2. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara paa ujung penis (Uretroplasti)
3. Untuk mengembalikan aspek normal dari genetalia eksterna (kosmetik)
Pembedahan dilakukan berdasarkan keadaan malformasinya. Pada hipospadia glanular uretra
distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk seperti ini dapat direkonstruksi
dengan flap lokal (misalnya, prosedur santanelli, flip flap, MAGPI [meatal advance and
glanuloplasty], termasuk preputium plasty.
H. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pemeriksaaan Fisik
a. Pemeriksaan genetalia
b. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal.
c. Kaji fungsi perkemihan
d. Adanya lekukan pada ujung penis
e. Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
f. Terbukanya uretra pada ventral
g. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, dysuria,
h. drinage.
2. Mental
a. Sikap pasien sewaktu diperiksa
b. Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan
c. Tingkat kecemasan
d. Tingkat pengetahuan keluarga dan pasien

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan
2. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi penyebab penyakit
3. Nyeri akut berhubungan dengan pembedahan
4. Disfungsi seksual b.d hubungan seksual terganggu
5. Resiko Infeksi berhubungan dengan post pembedahan
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan
Definisi: perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons otonom
(sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang
disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang
memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak
menghadapi ancaman.
Batasan karakteristik:
Perilaku
- Penurunan produktivitas
- Gerakan ekstra
- Melihat sepintas
- Tampak waspada
- Agitasi
- Insomnia
- Kontak mata yang buruk
- Gelisah
- Perilaku mengintai
- Khawatir tentang perubahan dalam peristiwa hidup
Afektif
- Kesedihan yang mendalam
- Gelisah
- Ketakutan
- Perasaan tidak adekuat
- Putus asa
- Sangat khawatir
- Peka
- Gugup
- Senang berlebihan
- Menggeruntukkan gigi
- Menyesal
- Berfokus pada diri sendiri
- Ragu
Fisiologis
- Wajah tegang
- Tremor tangan
- Peningkatan keringat
- Peningkatan ketegangan
- Gemetar
- Tremor
- Suara bergetar
Simpatis
- Gangguan pola pernapasan
- Anoreksia
- Peningkatan refleks
- Eksitasi kardiovaskuler
- Diare
- Mulut kering
- Wajah memerah
- Palpitasi jantung
- Peningkatan tekanan darah
- Peningkatan denyut nadi
- Peningkatan frekuensi pernapasan
- Dilatasi pupil
- Vasokontriksi superfisial
- Kedutan otot
- Lemah
Parasimpatis
- Nyeri abdomen
- Perubahan pola tidur
- Penurunan tekanan darah
- Penurunan denyut nadi
- Diare
- Pusing
- Keletihan
- Mual
- Kesemutan ekterimitas
- Sering berkemih
- Anyang-anyangan
- Dorongan segera berkemih
Kognitif
- Gangguan perhatian
- Gangguan konsentrasi
- Menyadari gejala fisiologis
- Bloking pikiran
- Konfusi
- Penurunan lapang persepsi
- Penurunan kemampuan untuk belajar
- Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah
- Lupa
- Melamun
- Cenderung menyalahkan orang lain
Faktor yang berhubungan:
- Konflik tentang tujuan hidup
- Hubungan interpersonal
- Penularan interpersonal
- Stresor
- Penyalahgunaan zat
- Ancaman kematian
- Ancaman pada status terkini
- Kebutuhan yang tidak dipenuhi
- Konflik nilai
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam kecemasan klien teratasi.
KriteriaHasil :
1. Perasaan gelisah (5)
2. Wajah tegang (5)
3. Otot tegang (5)
4. Rasa takut yang disampaikan secara lisan (5)
5. Rasa cemas yang disampaikan secara lisan (5)
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI RASIONAL
1. Gunakan pendekatan yang 1. Tekhnik untuk menenangkan pasien
menenangkan
2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang 2. Klien mengetahui Prosedur operasi
dirasakan selama prosedur
3. Temani pasien untuk memberikan 3. Memotivasi klien dalam mengurangi rasa
keamanan dan mengurangi rasa takut takut terkait pembedahan
4. Libatkan keluarga untuk mendampingi 4. Keluarga membantu memotivasi klien untuk
klien mengurangi kecemasan
5. Instruksikan pada pasien untuk 5. Tekhnik untuk melancarkan sirkulasi darah
menggunakan teknik relaksasi dan menghilangkan ketegangan otot
6. Dengarkan dengan penuh perhatian 6. Memotivasi klien
7. Identifikasi tingkat kecemasan 7. Mengontrol cemas
8. Bantu pasien mengenal situasi yang 8. Memberi rasa aman
menimbulkan kecemasan
9. Mengetahui tingkat kecemasan klien
9. Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan. Ketakutan

2. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi penyebab penyakit


Definisi: ketiadaan atau defisien informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu, atau
kemahiran
Batasan karakteristik:
- Ketidakakuratan mengikuti perintah
- Ketidakakuratan melakukan tes
- Perilaku tidak tepat
- Kurang pengetahuan
Faktor yang berhubungan:
- Kurang informasi
- Kurang minat untuk belajar
- Kurang sumber pengetahuan
- Keterangan yang salah dari orang lain
Kondisi terkait:
- Gangguan fungsi kognitif
- Gangguan memori
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam klien mengetahui penyebab penyakit
Kriteria Hasil:
1. Perjalanan penyakit biasanya (5)
2. Tanda dan gejala penyakit (5)
3. Sumber informasi terpercaya terkait penyakit (5)
4. Regimen pengobatan (5)

Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya 1. Mengukur pengetahuan klien
2. Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan 2. Klien mengetahui proses penyakit (tanda
gejala), identifikasi kemungkinan penyebab. dan gejala penyakit)
3. Jelaskan tentang program pengobatan dan 3. Klien mengetahui terkait pengobatan
alternatif pengobantan yang harus dilakukan
4. Diskusikan perubahan gaya hidup yang 4. Klien mengetahui Kebiasaan pola hidup
mungkin digunakan untuk mencegah sehat untuk mencegah komplikasi
komplikasi
5. Instruksikan kapan harus ke pelayanan
6. Tanyakan kembali pengetahuan klien 5. Untuk Pengobatan yang sesuai
tentang penyakit, prosedur perawatan dan 6. Mengetahui sejauh mana klien
pengobatan memahami prosedur perawatan dan
pengobatan.

3. Nyeri akut berhubungan dengan pembedahan


Definisi: pengalaman sensori dan emosional tidak meyenangkan yang muncul akibat kerusakan
jaringan aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan; awitan yang tiba-tiba
atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi.
Batasan karakteristik:
- Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien yang tidak dapat
mengungkapkannya.
- Diaforesis
- Dilatasi pupil
- Ekspresi wajah nyeri
- Fokus menyempit
- Fokus pada diri sendiri
- Keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri
- Keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standar instrumen nyeri
- Laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas
- Perilaku distraksi
- Perubahan pada parameter fisiologis
- Perubahan selera makan
- Putus asa
- Sikap melindungi area nyeri
Faktor yang berhubungan:
- Agens cedera biologiss
- Agens cedera fisik
- Agens cedera kimia

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah ansietas klien teratasi

Kriteria hasil:

1. Nyeri yang dilaporkan (5)


2. Ekspresi nyeri wajah (5)
3. Mengerang dan menangis (5)
4. Mengerinyit (5)
5. Mengenali kapan nyeri terjadi (5)
6. Menggambarkan faktor penyebab (5)
RENCANA INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan informasi tentang nyeri termasuk 1. Pemberian “health education” dapat
penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan mengurangi tingkat kecemasan dan
hilang, antisipasi terhadap membantu klien dalam memebentuk
ketidaknyamanan dari prosedur mekanisme koping terhadap nyeri
2. Kaji secara komprehensif terhadap nyeri 2. Mengetahui tingkat nyeri pasien
termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan
faktor presipitasi
3. Ajarkan cara penggunaan terapi non- 3. Mengurangi nyeri yang dirasakan klien
farmakologi (distraksi, relaksasi)
4. Observasi reaksi ketidaknyamanan secara 4. Mengetahui ketidaknyamanan yang
non-verbal dirasakan oleh pasien
5. Kolaborasi pemberian analgesic 5. Pemberian analgesic dapat mengurangi
rasa nyeri pasien
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria & Friends. 2016. Terjemahan Nursing Intervention Classification Edisi 6. Elsevier:
Singapura

Bulechek, Gloria & Friends. 2016. Terjemahan Nursing Outcomes Classification Edisi 6. Elsevier:
Singapura

Herdman, T.Heather.dkk. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.Jakarta:


EGC

Nurarif, Amin huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa
Medis dan Nanda Nic Noc. Jogjakarta: Mediaction Jogja

Pujo Sakti, dkk. 2018. The association between hypospadias occurrence with exposure of pesticides in
agroindustry enviroment

Krisna & Maulana. 2018. Hipospadia: Bagaimana Karakteristiknya Di Indonesia. Universitas


Mataram

Anda mungkin juga menyukai