Anda di halaman 1dari 26

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN FIVE STAGE CONCEPTUAL

UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA


MATERI FLUIDA STATIS
(Penelitian pre-experiment Kelas XI IPA SMAN TANJUNGKERTA)

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Seminar Proposal


pada Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati

Oleh:

Agus Firman Muhidin


NIM.1142070004

BANDUNG
2018 M/1439H
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu elemen penting dalam peradaban.
Seperti pepatah lama, Eipsa Scientia Potestas est yang berarti pengetahuan
adalah kekuatan. Siapa yang mengembangkan ilmu pengetahuan dengan jalan
pendidikan, maka ialah yang akan berkuasa. Melalui pendidikan, diharapkan
muncul sosok-sosok manusia yang berkualitas serta dapat berperan dalam
pembangunan bangsa dan negara. Pendidikan yang baik adalah pendidikan
yang mampu mengintegrasi antara teori dan prakteknya. Teori atau
pengetahuan yang didapat di kelas haruslah mampu diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Salah satu bidang keilmuan yang erat kaitannya dengan
kehidupan sehari-hari adalah fisika.
Sears dan Zemansky dalam Agustin (2017: 196) mengungkapkan bahwa
fisika merupakan ilmu yang bersifat empiris, artinya setiap hal yang dipelajari
dalam fisika didasarkan pada hasil pengamatan terhadap gejala-gejala alam.
Dengan demikian dalam pembelajaran fisika, peserta didik bukan hanya
menerima serangkaian pengetahuan berupa fakta, konsep atau prinsip untuk
dihafal saja, melainkan juga dibimbing untuk dapat menemukan pengetahuan
baru dalam prosesnya sehingga kemudian dapat menerapkan pengetahuan
tersebut dalam kehidupan nyata. (Juhji, 2016: 58)
Dalam pembelajaran fisika, peserta didik harus terlibat secara aktif untuk
menyampaikan gagasannya. Berdasarkan aturan Permendikbud No. 65 tahun
2013 tentang standar proses, menjelaskan bahwa proses pemberlajaran pada
satuan pendidikan dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.
Namun kerapkali di lapangan ditemui guru yang hanya menggunakan
model pembelajaran konvensional, seperti yang diungkapkan oleh Wahyu
(2016: 2) dalam penelitiannya. Model pembelajaran seperti ini menyebabkan
kurangnya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Apalagi
untuk peserta didik yang tidak memiliki kemampuan tinggi, hal ini membuat
mereka hanya menonton saja (pasif) dan tidak dapat mengikuti proses
seutuhnya. Hal ini berdampak negatif pada hasil belajar peserta didik, salah
satunya pada materi fluida statis dimana hanya 48,38% saja yang tuntas.
Selain itu hal ini juga membuat keterampilan psikomotor dari peserta didik
menjadi kurang terasah.
Fluida statis merupakan salah satu materi yang erat kaitannya dalam
kehidupan sehari-hari. Banyak sekali penerapan atau aplikasi dari konsep-
konsep fluida statis seperti dongkrak, dan lain-lain. Secara eksplisit
seharusnya peserta didik akan memperoleh hasil belajar yang baik apabila
belajar mengenai konsep ini. Namun dalam beberapa penelitian ditemukan
bahwa hasil belajar khususnya ranah kognitif peserta didik pada materi fluida
statis masih rendah. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Nurmisanti,dkk
(2017: 18), peserta didik memperoleh persentase rendah yaitu sebesar 47%
pada aspek menerapkan dalam ranah kognitif. Hal ini disebabkan karena
adanya kesalahan peserta didik dalam mengubah dan menggunakan
persamaan serta menghitung angka pada persamaan.
Berdasarkan pemaparan di atas, ada dua kunci yang menjadi pokok
permasalahan disini yaitu kurang terlibatnya peserta didik dalam pembelajaran
serta rendahnya persentase kemampuan peserta didik untuk dapat menerapkan
konsep yang diperolehnya. Salah satu opsi yang dapat dijadikan solusi untuk
mengatasi kedua permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan model
pembelajaran Five Stage Conceptual. Model pembelajaran Five Stage
Conceptual merupakan model pembelajaran yang terdiri atas lima tahap yaitu
orientasi, elisitasi, restrukturisasi, aplikasi, dan review. Pada model
pembelajaran ini, peserta didik diminta untuk mengemukakan pengetahuan
awal yang dimilikinya, kemudian diberikan sebuah permasalahan sehingga
peserta didik harus melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan apakah
konsep yang mereka anut sesuai dengan kebenaran ilmiah, kemudian
berdasarkan pengetahuan baru yang diperoleh peserta didik mengatur kembali
pengetahuan awal mereka dan tahap terakhirnya adalah peserta didik harus
mampu menerapkan konsep yang diperolehnya di situasi yang baru.
(Krishnayanti dan Feranie, 2015 : 26)
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Krishnayanti dan Feranie
(2015), didapatkan bahwa penerapan model pembelajaran Five Stage
Conceptual dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik sebesar 51,63 dan
memiliki nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0,69.
Berdasarkan uraian di atas, maka dari itu saya tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul : Penerapan Model Pembelajaran Five Stage
Conceptual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi
Fluida Statis.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan
masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Five Stage Conceptual pada materi fluida statis di Kelas XI
IPA SMAN Tanjungkerta?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar peserta didik di Kelas XI IPA SMAN
Tanjungkerta setelah diterapkan model pembelajaran Five Stage
Conceptual pada materi fluida statis?

C. Batasan Masalah
Agar tujuan penelitian ini dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan
pembatasan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Penerapan model pembelajaran ini hanya dibatasi untuk mata pelajaran
Fisika Kelas XI semester genap dengan kurikulum yang diterapkan di
SMAN Tanjungkerta adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP)
2. Hasil belajar peserta didik yang akan diteliti mencakup tiga ranah yaitu
ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Untuk ranah kognitif
dibatasi hanya untuk indikator C1 (mengingat), C2 (memahami), C3
(mengaplikasikan) dan C4 (menganalisis). Sedangkan indikator penilaian
afektif adalah penerimaan (receiving), peresponan (responding), penilaian
(valuing), pengorganisasian (organization) dan pengkarakterisasian
(characterization). Indikator ranah psikomotor meliputi keterampilan
menyiapkan eksperimen, melakukan eksperimen, mendeskripsikan hasil
pengamatan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil eksperimen.
3. Materi pembelajaran fisika yang digunakan dalam peneltian ini hanya
terbatas pada materi fluida statis dengan sub pokok pembahasan yaitu
viskositas, tekanan hidrostatika, hukum archimedes, dan hukum pascal.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Five
Stage Conceptual pada materi fluida statis di Kelas XI IPA SMAN
Tanjungkerta.
2. Peningkatan hasil belajar peserta didik di Kelas XI IPA SMAN
Tanjungkerta setelah diterapkan model pembelajaran Five Stage
Conceptual pada materi fluida statis.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat
diantaranya :
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini memberikan informasi mengenai penerapan model
pembelajaran Five Stage Conceptual sebagai salah satu model
pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta
didik.
2. Manfaat praktis
a. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk
penelitian lebih lanjut.
b. Bagi peserta didik, penelitian ini diharapkan dapat menjadi
pengalaman baru yang menyenangkan dan meningkatkan aktifitas
belajar peserta didik sehingga hasil belajar yang diperolehnya pun
dapat meningkat.
c. Bagi guru, penelitian ini diharapkan menjadi salah satu opsi alternatif
model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas untuk membuat
suasana yang lebih variatif.

F. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya kesalahan pemaknaan dari setiap istilah yang
digunakan dalam penelitian ini, maka secara operasional istilah-istilah yang
digunakan tersebut akan diuraikan di bawah ini
1. Model Pembelajaran Five Stage Conceptual
Model pembelajaran Five Stage Conceptual merupakan model
pembelajaran yang dikembangkan oleh Driver dan Oldham. Model
pembelajaran ini menekankan pada peserta didik untuk membangun
pengetahuan yang dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya, sehingga
dirinya menyadari perbedaan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
pengetahuan ilmiah. Model ini meliputi 5 tahapan yaitu orientasi, elisitasi,
restrukturisasi, aplikasi dan review. Pada tahap pertama peserta didik akan
dibimbing untuk memahami tujuan pembelajaran; kemudian pada tahap
kedua peserta didik diberikan stimulus supaya dapat mengemukakan
idenya terhadap suatu konsep berdasarkan pengetahuan awal yang mereka
miliki; Ketiga peserta didik melakukan kegiatan untuk membuktikan
pengetahuan awal mereka, merevisinya, dan membangun konsep yang
baru sesuai dengan konsep ilmiah; Keempat, peserta didik diarahkan untuk
mengaplikasikan dan mengembangkan konsep baru yang dimilikinya pada
kasus yang berbeda untuk memahami dan mempercayai konsep yang baru;
Terakhir peserta didik dibiarkan untuk memahami perbedaan antara
konsep yang baru dikembangkan dan konsep sebelumnya melalui laporan
tertulis dan memeriksa proses transformasi konsep itu sendiri.
2. Hasil Belajar Peserta Didik
Hasil belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam
pembelajaran. Hasil belajar merupakan tujuan akhir atau tujuan yang ingin
dicapai dalam suatu proses pembelajaran. Hasil belajar adalah seperangkat
kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima proses
pembelajaran.
Hasil belajar terdiri dari tiga macam yaitu: 1) Keterampilan dan
kebiasaan, 2) Pengetahuan dan pengarahan, 3) Sikap dan cita-cita.
Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh peserta didik setelah
ia menerima proses pembelajaran.
3. Materi Fluida Statis
Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah materi fluida statis
yang terdapat di kelas XI IPA semester genap dan tercantum dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikin (KTSP) pada KD 2.2 yaitu
menganalisis hukum-hukum yang berhubungan dengan fluida statis dan
dinamis serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

G. Kerangka Pemikiran
Fisika adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan erat dengan kehidupan
sehari-hari. Fisika adalah ilmu empiris, yang bersumber dari pengamatan
terhadap gejala atau fenomena alam. Dengan begitu dalam proses
pembelajarannya, peserta didik haruslah terlibat aktif sehingga dirinya dapat
mengkonstruksi pemahamannya sendiri berdasarkan apa yang ia dapat melalui
kegiatan ilmiah. Namun dalam hal ini di lapangan masih banyak ditemukan
proses pembelajaran fisika yang masih menggunakan metode konvensional.
Hal ini berdampak buruk pada hasil belajar peserta didik, dimana dirinya
kurang mampu untuk menerapkan konsep-konsep yang dipelajarinya di
sebuah situasi yang baru. Salah satu contohnya pada materi fluida statis,
padahal dalam kehidupan sehari-hari konsep ini banyak diterapkan seperti
pada dongkrak mobil dan lain-lain.
Maka dari itu diperlukan sebuah model pembelajaran yang mampu untuk
melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran dan dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik baik dalam aspek kognitif, afektif,
maupun psikomotor. Model Pembelajaran yang dapat menawarkan solusi
untuk kedua permasalahan tersebut adalah model pembelajaran Five Stage
Conceptual. Model ini merupakan model yang dikembangkan oleh Driver dan
Oldham dengan harapan peserta didik mampu untuk merekonstruksi konsep
yang dimilikinya sehingga dapat menjadi konsep yang bermakna. Model ini
terdiri atas lima fase yaitu :
1. Orientasi : Pada tahap ini guru membantu peserta didik untuk memahami
tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi belajar.
2. Elisitasi : Melalu serangkaian konflik yang diberikan, peserta didik
diberikan stimulus agar dapat mengungkapkan gagasan atau ide yang
dimilikinya.
3. Restrukturisasi : Tahap ini merupakan tahap konflik dimana peserta didik
yang mempunyai pengetahuan awal diminta untuk melakukan kegiatan
ilmiah untuk mengkonfirmasi kebenaran pengetahuan yang dimilikinya.
4. Aplikasi : Pada tingkat ini, peserta didik yang sudah menerima konsep
hasil kegiatan ilmiah mengembangkan konsep yang dimilikinya dengan
menerapkan pada kasus yang berbeda supaya dapat lebih percaya
terhadap konsep baru.
5. Review : Di tahap terakhir ini peserta didik menuliskan laporan
mengenai perbedaan antara konsep awal yang dimilikinya dengan konsep
yang baru.
Indikator hasil belajar yang diteliti besar peningkatannya melalui model ini
mencakup semua ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Data
yang diperoleh nantinya berupa hasil pretest dan postest serta LKPD untuk
hasil belajar kognitif, lembar penilaian diri untuk hasil belajar afektif dan
lembar keterampilan proses untuk aspek psikomotor. Data keterlaksanaan
pembelajaran diperoleh dari lembar observasi yang diisi oleh observer.
Adapun skema kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan
di bawah ini:
Identifikasi Permasalahan

Peserta didik tidak terlibat secara


Hasil belajar peserta didik rendah
aktif dalam pembelajaran

Model Pembelajaran Five Stage Conceptual

Indikator hasil belajar


1. Ranah Kognitif
Meliputi C1 – C4
Sintaks Model Pembelajaran 2. Ranah Afektif
Five Stage Conceptual Meliputi penerimaan
1. Orientasi ,peresponan, penilaian
2. Elisitasi ,pengorganisasian dan
3. Restrukturisasi pengkarakterisasian
4. Aplikasi 3. Ranah Psikomotor
5. Review Meliputi keterampilan
menyiapkan, melakukan
eksperimen, mendeskripsikan
hasil pengamatan,
menafsirkan data dan
mengkomunikasikan

Keterlaksanaan Peningkatan

Analisis Data

Kesimpulan

Bagan 1.1. Kerangka Pemikiran Penerapan Model Pembelajaran Five Stage


Conceptual
H. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
 Ho : Tidak terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik di kelas XI IPA
SMAN Tanjungkerta setelah diterapkan model pembelajaran Five Stage
Conceptual pada materi fluida statis.
 Ha : Terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik di kelas XI IPA
SMAN Tanjungkerta setelah diterapkan model pembelajaran Five Stage
Conceptual pada materi fluida statis.

I. Metodologi Penelitian
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Menentukan Jenis Data
Data yang akan diambil dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu
data kualitatif dan data kuantitatif.
a. Data kualitatif terdiri dari deskripsi mengenai keterlaksanaan setiap
langkah dalam pembelajaran dan komentar observer pada lembar
observasi keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model
Five Stage Conceptual.
b. Data kuantitatif terdiri dari data hasil pretest dan postest peserta didik,
hasil penilaian LKPD dan presentase keterlaksanaan model
pembelajaran Five Stage Conceptual dengan skala 0-100.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMAN Tanjungkerta yang beralamat di Jln.
Sukamantri, Desa Sukamantri, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten
Sumedang.
3. Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI IPA
SMAN Tanjungkerta tahun ajaran 2017/2018 dengan sampelnya adalah
peserta didik kelas XI IPA 1 yang dipilih melalui teknik simple random
sampling.
4. Metode dan Desain Penelitian
a. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experimental
design. Metode ini dipilih karena adanya variabel luar yang ikut
berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen/variabel terikat
hasil penelitian (Sugiyono, 2013: 109).
b. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah one group pretest-
postest design. Pada penggunaan desain ini, eksperimen dilaksanakan
pada satu kelompok saja sebagai kelompok eksperimen tanpa
kelompok pembanding. Artinya dalam desain ini dibandingkan
keadaan kelompok eksperimen sebelum dan setelah diberikan
perlakuan seperti diperlihatkan pada tabel berikut:
Tabel 1.1. Desain Penelitian

Pretest Perlakuan (treatment) Posttest


O1 X O2

(Sugiyono, 2013: 111)

Keterangan :
O1 : Pretest sebelum menerapkan model Blendeed-Problem Solving
X : Perlakuan dengan menerapkan model Blendeed-Problem Solving
O2 : Posttest setelah menerapkan model Blendeed-Problem Solving

5. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap
pelaksanaan, dan tahap akhir penelitian dengan rincian sebagai berikut :
a. Tahap Persiapan
1) Studi pendahuluan ke lokasi yang akan dijadikan tempat penelitian
yaitu SMAN Tanjungkerta untuk memperoleh informasi mengenai
aktifitas pembelajaran yang dilakukan di kelas.
2) Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di lapangan dalam
proses pembelajaran fisika.
3) Studi literatur terhadap jurnal, buku, artikel dan laporan penelitian
mengenai model pembelajaran Five Stage Conceptual.
4) Pengajuan dan perbaikan proposal penelitian pada seminar
proposal penelitian.
5) Perancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
instrumen tes untuk materi fluida statis.
6) Pertimbangan (Judgment) dosen pembimbing dan dosen ahli
terhadap instrumen tes yang dibuat berdasarkan kisi-kisi kriteria
dan indikator yang terpilih.
7) Uji coba instrumen tes yang dilakukan pada subyek yang pernah
mempelajari materi fluida statis. Hasil uji coba tes dianalisis untuk
melihat kualitas instrumen tes yang meliputi reliabilitas tes,
validitas, tingkat kemudahan daya pembeda butir soal dalam tes.
8) Penentuan instrumen dan perbaikan instrumen yang akan
digunakan sebagai instrument tes penelitian berdasarkan hasil uji
coba.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Penjaringan data pretest pada awal penelitian.
2) Pemberian perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran Five
Stage Conceptual.
3) Pengisian lembar observasi saat saat diberikan perlakuan.
4) Setelah dilakukan pemberian perlakuan selanjutnya dilakukan
penjaringan data posttest.
c. Tahap Akhir
1) Mengolah data hasi pretest dan postest serta lembar kegiatan
peserta didik (LKPD).
2) Menganalisis data hasil penilitian dan menginterpretasikannya.
3) Membuat kesimpulan.
4) Membuat laporan berdasarkan hasil, analisis, pembahasan, dan
kesimpulan.
Supaya lebih jelas, prosedur penelitian di atas dapat diungkapkan
dalam skema sebagai berikut :

Studi Pendahuluan
Studi Literatur

Penentuan materi, populasi dan sampel

Pembuatan instrumen
Telaah instrumen
Uji coba instrumen

Analisis uji coba instrumen

Penerapan Model Pembelajaran


Pretest Pretest
Five Stage Conceptual

Pengolahan dan analisis data

Kesimpulan

Bagan 1.2. Prosedur Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Five Stage


Conceptual untuk meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik

6. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data penelitian yang diharapkan, maka
digunakanlah instrumen penelitian yang terdiri dari :
a. Lembar Observasi (LO)
Lembar observasi digunakan sebagai instrumen untuk merekam
aktifitas guru dan peserta didik selama pembelajaran berlangsung.
Lembar observasi ini diisi oleh observer dengan memberi tanda √
(Checklist) pada kolom terlaksana atau tidak terlaksana sesuai dengan
apa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Selain itu diberikan
kolom bagi observer untuk memberikan komentar terhadap
keterlaksanaan model pembelajaran Five Stage Conceptual. Lembar
observasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran seutuhnya
mengenai proses pembelajaran yang berlangsung.
b. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) merupakan serangkaian
tugas yang harus dikerjakan dan diisi oleh peserta didik. Dalam Model
Pembelajaran Five Stage Conceptual, LKPD ini digunakan sebagai alat
bantu untuk merestrukturisasi konsep atau pengetahuan awal peserta
didik melalui sebuah kegiatan eksperimen.
c. Tes Hasil Belajar
Untuk memperoleh data peningkatan hasil belajar peserta didik,
digunakan instrumen tes untuk masing-masing ranah yaitu :
1) Tes Hasil Belajar Ranah Kognitif
Untuk mengukur hasil belajar ranah kognitif peserta didik,
digunakan tes berupa soal-soal pilihan ganda yang meliputi pretest
(tes awal) dan postest (tes akhir). Soal yang diberikan mencakup
indikator mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasi (C3), dan
menganalisis (C4).
2) Tes Hasil Belajar Ranah Afektif
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan model Five
Stage Conceptual terhadap sikap peserta didik, maka digunakanlah
instrumen tes berupa lembar penilaian diri. Respon atau sikap
peserta didik terhadap pembelajaran dinyatakan dalam skala
penilaian sikap yang terdiri dari empat pilihan yaitu Sangat Setuju
(SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT), Tidak Setuju (TS), dan Sangat
Tidak Setuju (STS). Indikator yang digunakan dalam ranah ini
adalah receiving, responding, valuing, organization, dan internalisasi.
3) Tes Hasil Belajar Ranah Psikomotor
Selama proses pembelajaran, peserta didik akan dinilai
kemampuan psikomotor atau keterampilannya melalui skala
penilaian berdasarkan aspek-aspek dalam keterampilan proses.
Pengisian lembar penilaian ini dilakukan oleh observer selama
pembelajaran berlangsung.
7. Analisis Instrumen
a. Analisis Lembar Observasi (LO)
Instrumen lembar observasi yang akan digunakan terlebih dahulu
diuji kelayakannya yang meliputi aspek materi, konstruksi dan bahasa
serta kesesuaiannya dengan sintaks dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) melalui judgement oleh dosen pembimbing atau
kepada ahlinya.
b. Analisis Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Instrumen LKPD yang akan dipakai dalam proses pembelajaran
ditelaah terlebih dahulu oleh dosen ahli mengenai kelayakannya dari
segi kesesuaian materi dengan proses pembelajaran serta tujuan yang
ingin dipakai.
c. Analisis Tes Hasil Belajar
1) Analisis Tes Hasil Belajar Ranah Kognitif
Secara kualitatif, analisis butir soal dilaksanakan berdasarkan
kaidah penulisan soal dan ditelaah untuk diketahui kelayakannya
dari segi materi, konstruksi, bahasa dan kunci jawaban/pedoman
penskorannya.
Secara kuantitatif, untuk mengetahui kelayakan suatu
instrumen tes soal maka soal tersebut diujicobakan terlebih dahulu
kepada kelas lain atau kepada peserta didik yang sudah menerima
pembelajaran mengenai materi-materi soal tersebut. Uji coba soal
ini dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas soal
tersebut. Hasil uji coba kemudian dianalisis dengan langkah-
langkah sebagai berikut :
a) Uji Validitas
Suatu instrumen yang valid adalah instrumen yang
memiliki tingkat validitas yang tinggi. Validitas soal ditentukan
dengan menggunakan rumus korelasi product moment yaitu
sebagai berikut:
∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
𝑟𝑥𝑦 =
√(𝑁 ∑ 𝑋 2 − (∑ 𝑋)2 )(𝑁 ∑ 𝑌 2 − (∑ 𝑌)2 )
Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi antara variabel x dan y
x = Skor tiap soal
y = Skor total
N = Banyaknya siswa
(Arikunto, 2012: 87)
Nilai rxy yang diperoleh dapat diinterpretasikan untuk
menentukan validitas butir soal dengan menggunakan kriteria
pada tabel 1.2 berikut.

Tabel 1.2 Makna Koefisien Korelasi Product Moment


Nilai rxy Interpretasi
Antara 0,800 – 1,00 Sangat tinggi
Antara 0,600 – 0,800 Tinggi
Antara 0,400 – 0,600 Cukup
Antara 0,200 – 0,400 Rendah
Antara 0,00 – 0,200 Sangat rendah
(Arikunto, 2012: 89)
b) Uji Reliabilitas
Reabilitas adalah tingkat keajegan tes, yang artinya bahwa
setiap hasil pengukuran dengan menggunakan soal tes itu harus
tetap sama (relatif sama) jika pengukurannya diberikan kepada
subjek yang sama meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda,
waktu dan tempat yang berbeda. Reliabilitas instrumen uji coba
soal ditentukan dengan menggunakan rumus:
𝑛 ∑ 𝜎𝑖 2
𝑟11 = ( ) {1 − 2 }
(𝑛 − 1) 𝜎𝑖
Keterangan:
𝑟11 = Reliabilitas yang dicari
∑ 𝜎𝑖 2 = Jumlah varians skor setiap-setiap item
𝜎𝑖 2 = Varians total
(Arikunto, 2012: 122)
Nilai 𝑟11 yang diperoleh kemudian diinterpretasikan pada tabel
1.3 berikut.

Tabel 1.3. Interpretasi Nilai r11


𝒓𝟏𝟏 Interpretasi
0,00 ≤ 𝑟11 ≤ 0,20 Sangat rendah
0,20 ≤ 𝑟11 ≤ 0,40 Rendah
0,40 ≤ 𝑟11 ≤ 0,60 Cukup
0,60 ≤ 𝑟11 ≤ 0,80 Tinggi
0,80 ≤ 𝑟11 ≤ 1,00 Sangat tinggi
(Surapranata, 2005: 59)
c) Daya Pembeda
Daya pembeda soal (D) atau indeks diskriminasi adalah
kemampuan suatu soal untuk membedakan antara peserta didik
yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang
berkemampuan rendah. Untuk menganalisis daya pembeda (D)
suatu butir soal digunakan persamaan sebagai berikut:
𝐵𝐴 𝐵𝐴
𝐷= −
𝐽𝐴 𝐽𝐵
Keterangan:
BA = Banyaknya peserta didik kelompok atas yang menjawab
soal dengan benar.
BB = Banyaknya peserta didik kelompok bawah yang menjawab
.soal dengan benar.
JA = Jumlah seluruh peserta didik kelompok atas.
JB = Jumlah seluruh peserta didik kelompok bawah.

Nilai D yang diperoleh kemudian diinterpretasikan pada tabel


1.4.
Tabel 1.4. Interpretasi Nilai Daya Pembeda
Nilai Daya Pembeda Interpretasi
0,00 – 0,19 Buruk
0,20 – 0,29 Sedang
0,30 – 0,39 Cukup
0,40 – 0,69 Baik
0,70 – 1,00 Baik Sekali
(Farida & Nuryantini, 2014: 87-88)
d) Uji Tingkat Kesukaran
Uji tingkat kesukaran ini dilakukan untuk mengetahui
apakah butir soal tergolong sukar, sedang, atau rendah.
Besarnya indeks kesukaran antara 0,00-1,00 dengan
menggunakan rumus:
𝐵
𝑃=
𝐽𝑆
Setelah indeks kesukaran diketahui maka indeks tersebut
diinterpretasikan mengunakan tabel berikut:
Tabel 1.5. Interpretasi Tingkat Kesukaran

Indeks Tingkat Kesukaran Interpretasi


0,10 < P ≤ 0,30 Sukar
0,30 < P ≤ 0,70 Sedang
0,70 < P ≤ 1,00 Mudah
(Farida & Nuryantini, 2014: 88)
2) Analisis Tes Hasil Belajar Ranah Afektif
Secara kualitatif, setiap pernyataan ditelaah dari segi kesesuaian
dengan indikator, konstruksi, dan bahasa yang kemudian di
judgement oleh dosen pembimbing.
Secara kuantitatif, tes hasil belajar ranah afektif ini dihitung
dengan menggunakan persamaan :
Skor yang diperoleh
Presentase nilai didapat = x100%
Skor maksimum
Hasil persentase tersebut kemudian disesuaikan dengan kriteria
pada tabel berikut.
Tabel 1.6. Pedoman Penskoran Ranah Afektif

Penilaian Keterangan Skor


Sangat Tidak Setuju Satu
Tidak Setuju Dua
Tidak Tahu Tiga
Setuju Empat
Setuju Sekali Lima
(Arifin, 2009: 233)
3) Analisis Tes Hasil Belajar Ranah Psikomotor
Analisis tes hasil belajar ranah psikomotorik dihitung dengan
persentase yang disesuaikan kriteria yang tertera dalam tabel 1.7.
Perhitungan presentase nya menggunakan persamaan :
Skor yang diperoleh
Presentase nilai didapat = x100%
Skor maksimum

Tabel 1.7. Pedoman Penskoran Ranah Psikomotor


Penilaian Keterangan Skor
Sangat Kurang Satu
Kurang Dua
Cukup Tiga
Baik Empat
Baik Sekali Lima
(Sugiyono, 2013: 136)
8. Analisis Data Hasil Penelitian
Data yang diperoleh dari instrumen penelitian diolah untuk
selanjutnya dapat diinterpretasi guna menjawab rumusan masalah yang
telah dikemukakan sebelumnya. Langkah-langkah pengolahan dan analisis
data tersebut yaitu :
a. Analisis data keterlaksanaan pembelajaran
Pengamatan terhadap keterlaksanaan proses pembelajaran
menggunakan model pembelajaran Five Stage Conceptual diperoleh
dari data lembar observasi dengan format crosscheck. Pengisian lembar
observasi yaitu dengan menceklis (√) kolom “Terlaksana” pada poin
“1” yang artinya sangat kurang, poin “2” yang artinya kurang baik, poin
“3” artinya cukup baik, poin “4” yang artinya baik, poin “5” artinya
sangat baik dan jika tidak dilaksanakan maka menceklis (√) kolom
“Tidak terlaksana” dengan poin 0. Adapun langkah-langkah selanjutnya
adalah sebagai berikut.
1) Menghitung jumlah skor aktifitas proses pembelajaran yang
dilakukan.
2) Data yang diperoleh dengan melihat tanda checklist kemudian
diubah dalam bentuk presentase yang dihitung dengan
menggunakan rumus :
𝑅
𝑁𝑃 = 𝑥100%
𝑆𝑀
Keterangan:
NP : Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R : Skor mentah yang diperoleh peserta didik
SM : Skor maksimum dari tes yang bersangkutan
100 : Bilangan tetap
(Purwanto, 2009: 102)
Nilai presentase yang diperoleh kemudian diinterpretasikan pada tabel

Tabel 1.8. Interpretasi Keterlaksanaan Model


Rentang Nilai Kategori
0%  54% Kurang sekali
55% – 59% Kurang
60% – 75% Cukup
76% – 85% Baik
86% - 100% Sangat baik
(Purwanto, 2009: 103)
b. Analisis data hasil LKPD
Lembar kegiatan peserta didik (LKPD) yang telah diisi oleh
peserta didik kemudian diolah dan dianalisis dengan langkah sebagai
berikut :
1) Menghitung perolehan skor hasil pengerjaan peserta didik dengan
mencocokkannya pada kunci jawaban yang telah dibuat.
2) Menghitung nilai yang diperoleh peserta didik dengan
menggunakan persamaan :
Skor yang diperoleh
Nilai yang didapat = x100
Skor maksimum
3) Menginterpretasikan nilai yang diperoleh ke dalam kategori berikut.

Tabel 1.9. Interpretasi Nilai

Nilai Interpretasi
80-100 Baik sekali
66-79 Baik
56-65 Cukup
40-55 Kurang
<40 Gagal
(Arikunto, 2012: 281)
c. Analisis data tes hasil belajar
1) Analisis data tes hasil belajar ranah kognitif
Peningkatan perolehan hasil belajar ranah kognitif pada materi
fluida statis setelah diterapkan model pembelajaran five stage
conceptual dapat diketahui dengan :
a) Penilaian.
Setiap tes hasil belajar kognitif baik itu pretest maupun
postest dinilai dengan menggunakan persamaan :
Skor yang diperoleh
Nilai yang didapat = x100
Skor maksimum
Berdasarkan data nilai tersebut, maka predikat pencapaian nilai
tesnya disesuaikan dengan tabel 1.10 berikut.
Tabel 1.10. Predikat Pencapaian Nilai Tes

Nilai Interpretasi
80-100 Baik sekali
66-79 Baik
56-65 Cukup
40-55 Kurang
<40 Gagal
(Arikunto, 2012: 281)
b) Menghitung normal gain.
Nilai normal gain atau yang kita kenal dengan n-gain
digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar kognitif
peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran Five Stage
Conceptual. Nilai N-Gain dapat dihitung dengan mengunakan
rumus:
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑒𝑠 − 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠
𝑔=
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 − 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠
Kriteria atau interpretasi nilainya seperti pada tabel berikut:

Tabel 1.11. Interpretasi Nilai N-Gain


N gain Klarifikasi
g < 0,3 Rendah
0,3 ≤ 𝑔 ≤ 0,7 Sedang
g > 0,7 Tinggi

c) Uji normalitas data.


Data nilai N-Gain yang telah diperoleh, selanjutnya
dilakukan pengujian normalisasi data. Pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui apakah distribusi data terdistribusi normal
atau tidak.
Pengujian normalitas ini menggunakan rumus Chi Kuadrat.
Adapun tahap tahap dalam melakukan pengujian normalitas data
adalah sebagai berikut:
(1) Menentukan jumlah kelas interval. Untuk pengujian
normalitas dengan rumus Chi Kuadrat ini, jumlah kelas
ditetapkan = 6. Hal ini sesuai dengan 6 bidang yang ada
pada Kurva Normal Baku.
(2) Menentukan panjang kelas interval. Panjang kelas
menggunakan rumus:
𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 − 𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 =
6 (𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙)
(3) Menyusun data n-gain ke dalam tabel distribusi frekuensi,
sekalligus tabel penolong untuk menghitung harga Chi
Kuadrat hitung.
(4) Menghitung 𝑓ℎ (frekuensi yang diharapkan) dengan
menggunakan rumus
𝑓ℎ = presentase luas tiap bidang x n (jumlah data)
(5) Memasukan harga harga 𝑓ℎ ke dalam tabel kolom 𝑓ℎ ,
(𝑓0 −𝑓ℎ )2
sekaligus menghitung harga harga (𝑓0 − 𝑓ℎ )2 dan .
𝑓ℎ

(𝑓0 −𝑓ℎ )2
Harga merupakan harga Chi Kuadrat (𝑥 2 ).
𝑓ℎ

(6) Membandingkan harga Chi Kuadrat hitung dengan Chi


Kuadrat tabel. Bila harga Chi Kuadrat hitung lebih kecil
dari pada harga Chi Kuadrat tabel, maka distribusi data
dinyatakan normal, dan bila lebih besar dinyatakan tidak
normal.
(Sugiyono, 2016: 228-230)
d) Uji Hipotesis
Uji hipotesis, dimaksudkan untuk menguji diterima atau
ditolaknya hipotesis yang diajukan. Apabila data berdistribusi
normal maka digunakan statistik parametris yaitu dengan
menggunakan test “t”. Untuk menghitung thitung digunakan
persamaan sebagai berikut :
𝑀𝑑
𝑡=
2
2 (∑ 𝑑)
√∑ 𝑑 − 𝑛
𝑛(𝑛 − 1)

Keterangan :
Md = rata-rata dari gain antara tes akhir dan tes awal
d = gain (selisih) skor tes akhir terhadap tes awal setiap
subjek
n = jumlah subjek
(Subana, 2000: 132)
Setelah didapat nilai thitung, kemudian nilai tersebut
dibandingkan dengan nilai ttabel
Kriteria pengujiannya adalah:
 Jika thitung>ttabel maka Ha diterima dan Ho ditolak, artinya
terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik di kelas XI
IPA SMAN Tanjungkerta setelah diterapkan model
pembelajaran Five Stage Conceptual pada materi fluida
statis.
 Jika thitung<ttabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya
tidak terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik di
kelas XI IPA SMAN Tanjungkerta setelah diterapkan model
pembelajaran Five Stage Conceptual pada materi fluida
statis.
2) Analisis data tes hasil belajar ranah afektif
Penilaian ranah afektif ini dihitung dengan menggunakan
persamaan :
Skor yang diperoleh
Presentase nilai didapat = x100%
Skor maksimum
Interpretasi ketercapaian ranah afektif peserta didik dengan
menggunakan model pembelajaran Five Stage Conceptual adalah
sebagai berikut.
Tabel 1.12. Interpretasi Nilai Psikomotor Peserta Didik
Presentase (%) Kategori
30-39 Gagal
40-55 Kurang
56-65 Cukup
66-79 Baik
80-100 Baik Sekali
(Arikunto, 2009: 245)
3) Analisis data tes hasil belajar ranah psikomotor
Analisis tes hasil belajar ranah psikomotorik dihitung dengan
menggunakan persamaan :
Skor yang diperoleh
Presentase nilai didapat = x100%
Skor maksimum

Interpretasi ketercapaian ranah psikomotor peserta didik dengan


menggunakan model pembelajaran Five Stage Conceptual adalah
sebagai berikut.
Tabel 1.13. Interpretasi Nilai Psikomotor Peserta Didik

Presentase (%) Kategori


30-39 Gagal
40-55 Kurang
56-65 Cukup
66-79 Baik
80-100 Baik Sekali
(Arikunto, 2009 : 245)

9. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep
1 Proposal √ √
2 Instrumen √ √
3 Judgement √
tes dan uji
coba
instrumen
4 Pengambilan √ √
data dan
implementasi
pembelajaran
5 Penyusunan √ √ √
6 Pelaporan √
DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Puri N dkk. 2017. Pembelajaran Fisika di SMA dengan Menggunakan


Model Kooperatif Tipe STAD. Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(2): 196-202.

Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 2009. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Jakarta: Bumi


Aksara.

________ . 2012. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Jakarta: Bumi


Aksara.

Farida, I., & Nuryantini, A. Y. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung:


Patragading

Juhji. 2016. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Pendekatan


Inkuiri Terbimbing. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA, 2(1): 58–70.

Krishnayantia, Resta & Feranie, Sally. 2015. Penerapan Five Stage Conceptual
Teaching Model untuk Meningkatkan Prestasi Belajar dan Konsistensi
Ilmiah pada Siswa SMA . Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
Fisika, 2(1): 25-30.

Nurmisanti, dkk. 2017. Identifikasi Hasil Belajar Ranah Kognitif Siswa pada
Materi Fluida Statis. Jurnal Ilmu Pendidikan Fisika, 2(1): 17-18.

Purwanto, N. 2009. Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja


Rosda Karya.

Subana. 2000. Statistik Pendidikan. Bandung : Penerbit Pustaka Setia.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung : Alfabeta.


________.2016. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Surapranata, Sumarrna. 2005. Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi


Hasil Tes: Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya

Wahyu, Sugeng. 2016. Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan


Hasil Belajar Materi Fluida Statis di SMA. Pontianak : Program Studi
Pendidikan Fisika Universitas Tanjungpura.