Anda di halaman 1dari 5

Pro Kontra Menyambut KKN Bela

Negara
Written by Tania/Ratih/Kholis
Sunday, 10 January 2016 16:59

Kelompok Kerja Nyata (KKN) Bela Negara yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 Januari
2016 mendatang menimbulkan pro dan kontra. Pertemuan antara perwakilan mahasiswa peserta
KKN dan tim pelaksana dalam “Koordinasi Persiapan Pemberangkatan KKN Bela Negara dan
Pengarahan dari Tim Kesehatan UPN “Veteran” Jawa Timur” bertempat di Gedung Techno
Park (7/1), banyak menuai protes mahasiswa. Pasalnya, tim pelaksana hanya menginformasikan
proses kegiatan KKN tanpa disertai rincian dana. Hal ini tidak sesuai dengan janji dari tim
pelaksana pada pertemuan sebelumnya untuk menyertakan rincian dana. ”Nanti kita akan
buatkan rincian yang akan kita tempel atau kita sampaikan. Kalau kami menyampaikan disini
semuanya, kami kira waktunya tidak akan cukup” Ujar tim pelaksana.

Mahasiswa juga semakin ragu karena dana KKN sebesar satu juta rupiah belum cair hingga hari
Kamis (7/1/16). Tim pelaksana menjanjikan pencairan dana paling lambat akan dilaksanakan
pada hari Sabtu, 9 Januari 2016. Sedangkan dalam kegiatan ini, peserta diwajibkan membayar
uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Tim pelaksana meyakinkan bahwa uang yang
dibayarkan untuk kegiatan KKN sepenuhnya digunakan untuk kegiatan dan tidak akan
diselewengkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. “Kita doakan sama-sama yang sampai
menggunakan dana itu dengan tidak semestinya, tidak akan selamat!” Kata Ketua LPPM
(Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat),Akhmad Fauzi.

Pada pertemuan ini, para peserta juga diberi informasi seputar kesehatan sebagai langkah
preventif agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat kegiatan KKN berlangsung.
Di lokasi KKN akan ada tim kesehatan yang akan memberikan pelayanan 24 jam. Peserta juga
dihimbau untuk selalu menjaga kesehatannya karena kesehatan adalah hal yang penting.

Dari hasil pertemuan ini timbul beberapa pro dan kontra. Namun para mahasiswa KKN
menerima seutuhnya hasil keputusan yang dilakukan. “Kalau aku sih diterima aja sih ya,
diterima aja. Sebenernya kalau dari temen-temen minta transparansinya. Cuma ‘kannggak
begitu mudah soal transparansinya, pasti responnya gitu-gitu aja.” Kata Azmi, peserta KKN
(Ikom/13). [JDA]

Last Updated on Monday, 11 January 2016 01:49

Dana tak Kunjung Cair, Mahasiswa KKN Antisipasi


Sejak Dini
Written by Hani / Rizky / Anisa
Tuesday, 05 January 2016 04:29

Para peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UPN “Veteran”Jawa Timur 2015 nampaknya mulai
geram dengan pihak lembaga. Pasalnya, dana yang dibutuhkan peserta guna keperluan sehari-
hari selama kegiatan KKN belum juga cair. Untuk mendapatkan kepastian terkait masalah dana
pada hari Selasa(29/12/2015) para ketua kelompok peserta KKN ramai-ramai mendatangi
kantor Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sebagi pihak yang
bertanggung jawb terhadap kegiatan ini. “Dana untuk makan sehari-hari peserta masing-masing
Rp.7.500.00,- aja gak turun sama sekali sampai sekarang.” Tegas Bagus Maulana
(T.Industri/13).

Penundaan keputusan mengenai dana tersebut cukup meresahkan bagi para peserta
KKN,pasalnya kondisi ekonomi para peserta KKN tidak semuanya dalam kategori mampu.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, KKN UPN “Veteran” Jawa Timur diadakan di dua tempat
yakni KKN in-campus dan out-campus. KKN in campus diselenggarakan selama 2 minggu
mulai tanggal 20 -27 Desember 2015,Sementara KKN out campusbaru akan dilaksanakan mulai
tanggal 11-23 Januari 2015 di kabupaten Jombang.

Menanggapi keluhan dari mahasiswa , ketua LPPM, Akhmad Fauzi, mengatakan bahwa dana
yang akan dialokasikan kepada setiap mahasiswa sebesar Rp. 500.000,- yang akan diberika saat
di lapangan (saat KKN out campus) dengan pengajuan proposal yang dikelola oleh pihak LPPM
kepada pihak pemerintah. Sebelumnya, para peserta KKN diwajibkan untuk membayar biaya
KKN sebesar Rp.250.000,- (out campus Rp 150.000,- dan in campus Rp.100.000,-).
Namun,sampai saat ini belum ada persetujuan dari pihak pemerintah yang menangani masalah
biaya tersebut. “Kami sangatlah terbuka jika ada mahasiswa yang bertanya masalah rincian dana
yang diberikan dari pihak Pemerintah ke pihak kampus. Setiap kampus memiliki kebijakan yang
berbeda-beda. Kami pun berharap sebenarnya, biaya KKN itu dihapuskan, karena dirasa
memberatkan mahasiswa itu sendiri” tambah Fauzi.

Koordinasi yang kurang baik antara pihak LPPM dengan peserta KKN mengenai pemberitahuan
kejelasan dana yang digunakan dalam pelaksanaan KKN membuat sebagian besar peserta KKN
merasa kurang adanya transparansi dana. Ditambah lagi, dana subsidi yang diberikan dari pihak
LPPM dikabarkan akan cair setalah pelaksanaan KKN berakhir. Hal tersebut membuat peserta
harus memikirkan langkah antisipasi yang harus diambil untuk memebuhi kebutuhan financial
selama KKN berlangsung diluar lingkungan universitas. “Mari kita adakan musyawarah
bersama dari setiap perwakilan kelompok atau masing-masing ketua kelompok untuk
membicarakan masalah transparansi dana dan meminta kejelasan dari pihak LPPM agar setiap
informasi yang disebarluaskan bersifat akurat,” jelas Muhammad Andi, salah satu Ketua
Kelompok KKN (Fakultas Hukum/2013)

Pihak LPPM sendiri belum memberikan rincian dana pada tiap-tiap mahasiswa. Pihak LPPM
hanya memberi rincian mengenai out campus Rp 150.000.00,- dan in campus Rp 100.000.00,-
untuk lebih detailnya dari masing-masing rincian outcampus dan incampus belum ada. Namun,
Herlinda sebagai salah satu peserta KKN mengatakan bahwa dana dari pihak LPPM dengan
nominal Rp 500.000.00,- belum cair karena pencairan dana itu berjalan secara tidak langsung
melainkan bertahap sekitar seminggu sekali atau berapa hari sekali. “Antisipasi kami perlukan
sejak awal kepengurusan per devisi setiap kelompok karena kita tidak mau mengandalkan
dana dari Pihak Kampus yang belum jelas cairnya,” jelas Herlinda (Akuntansi/2013).
(RAB/RSQ/ADI)
Last Updated on Tuesday, 05 January 2016 07:16
1390 Mahasiswa Siap Mengabdi di
Jombang
Written by Shelvia / Dewi / Amina
Tuesday, 12 January 2016 20:39

Pada hari Senin(11/01/2015) sebanyak 1390 mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur mengikuti apel pagi
dalam rangka pemberangkatan Kelompok Kerja Nyata(KKN) Bela Negara. Apel pagi dibuka sekitar
pukul 07.00 wib oleh rektor UPN “Veteran” Jawa Timur, Teguh Sudarto. Para peserta KKN
kemudian diberangkatkan dengan menggunakan bus pada pukul 07.45 wib menuju lokasi KKN yakni
kabupaten Jombang dan Sidoarjo.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi mahasiswa untuk mengikuti program wajib ini, salah satunya
adalah telah menempuh minimal 100 Satuan Kredit Semester (SKS) dengan IPK minimal 2.75. Untuk
kelas malam,dimana mahasiswanya mayoritas adalah seorang pekerja, KKN hanya diadakan pada hari
Sabtu dan Minggu agar tidak mengganggu jadwal kerja. Kuliah Kerja Nyata (KKN) UPN “Veteran” Jawa
Timur tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. KKN tahun ini diadakan di dua tempat yakni
KKN In-Campus dan Out-Campus. KKN out-campus dilaksanakan mulai tanggal 11 Januari 2016 hingga
25 Januari 2016. “KKN tahun ini dikatakan berbeda karena sangat dititik beratkan pada nilai-nilai bela
negara, salah satunya adalah cinta terhadap tanah air, memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam
(SDA) di lokasi, kemudian tentunya rela berkorban dan harus secara total melaksanakan kegiatan di
desa selama KKN berlangsung” jelas Mu’tasim Billah selaku wakil rektor 3.

Desa-desa yang ditempati merupakan hasil ketentuan pihak kampus bekerja sama dengan pemerintah
kota. Desa-desa pilihan tersebut dirasa telah memenuhi standar kelayakan dan kenyamanan oleh pihak
lembaga. Setelah lokasi dibagikan, peserta melakukan survei untuk mengetahui kondisi lokasi sebelum
berlangsungnya KKN. “awalnya susah untuk menemukan letak desanya tetapi setelah berkali-kali
mencoba (mencari), akhirnya(lokasi) ketemu” ujar Tio (FP/13).
Dalam kegiatan ini, para mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan dibagi menjadi beberapa
kelompok beranggotakan kurang lebih 24 mahasiswa. Disetiap kelompok kemudian terbagi menjadi
beberapa divisi yaitu Administrasi, Teknologi Tepat Guna (TTG), Produksi, Pendidikan, dan Kesehatan.
Para peserta KKN dituntut untuk bisa mengabdi sepenuhnya kepada masyarakat sekitar, baik itu
berhubungan dengan ilmu perkuliahannya maupun tidak, dan bekerja sama dengan baik secara
kelompok.“Saya pilih divisi admin karena ingin mengimplementasika ilmu yang saya dapat di
jurusandan untuk KKN ini saya mempunyai 2 proker yaitu, membantu administrasi desa dan
pengarsipannya” tutur Ajeng (Adne/ 13).

Sebelum keberangkatannya pada Senin kemarin, persiapan KKN Bela Negara menuai pro dan kontra
dari beberapa mahasiswa, terutama masalah tranparasi dana. Setelah memberikan pengarahan kepada
para peserta KKN, Pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sendiri
enggan memberikan penjelasan lebih lanjut terkait masalah KKN tersebut. Pihaknya menjanjikan pers
release yang akan diterbitkan secepatnya.

Semua pihak baik lembaga maupun mahasiswa berharap kegiatan yang berlangsung selama 2 pekan
tersebut dapat berjalan dengan sukses dan lancar tanpa ada kendala yang berarti.[mfm]

Last Updated on Tuesday, 12 January 2016 21:10