Anda di halaman 1dari 9

Osteosarkoma Pada Anak

102015175 Rendy Damar Nugraha, 102017046 Effendy Gunawan Santoso

102017181 Kadek Yoga Trisnayasa, 102014081 Asriana Timang

102017033 Sheila Natalia, 102017061 Devina Chryssanti

102017116 Aurelia Wirasdita Woen, 102017145 Vioini Gracia

102017183 Elizabeth Vania Eillen

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

Jl.Terusan Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Email: aurelia.2017fk116@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak

Osteosarkoma merupakan salah satu jenis tumor ganas mesenkimal yang memproduksi tulang.
Penyebab osteosarkoma tidak diketahui, namun berbagai agen dan status penyakit dihubungkan
dengan perkembangan penyakit ini. Gejala awal tidak spesifik yaitu nyeri dengan atau tanpa
teraba massa. Sekitar 5-10% kasus mengalami fraktur patologik. Umumnya tumor tumbuh pada
distal femur di bagian metafisis. Penyebaran hematogen sering terjadi pada awal penyakit,
biasanya ke paru-paru dan tulang. Pemeriksaan radiologik berperan penting dalam evaluasi awal
osteosarkoma. Gambaran makroskopik yaitu tumor besar, berpasir, berwarna abu-abu keputihan,
dan sering terdapat area perdarahan dan kiste sedangkan gambaran mikroskopik bervariasi.
Prognosis penyakit ini dipengaruhi oleh ukuran tumor, derajat nekrosis, penyebaran ke korteks
dan jaringan lunak, serta adanya metastasis. Pada kasus usia belasan dengan massa yang nyeri di
sekitar lutut perlu dilakukan pemeriksaan lanjut untuk deteksi dini osteosarkoma.

Kata kunci: osteosarkoma, prognosis, tumor.


Abstract

Osteosarcoma is one type of mesenchymal malignant tumor that produces bone. The cause of
osteosarcoma is unknown, but various agents and disease status are associated with the
development of this disease. The initial symptoms are not specific, namely pain with or without
palpable mass. About 5-10% of cases experience pathologic fractures. Generally tumors grow in
the distal femur in the metaphysical section. Hematogenous spread often occurs early in the
disease, usually to the lungs and bones. Radiologic examination plays an important role in the
initial evaluation of osteosarcoma. Macroscopic features are large, sandy, whitish-gray tumors,
and often have bleeding and cystic areas while microscopic images vary. The prognosis of this
disease is influenced by tumor size, degree of necrosis, spread to the cortex and soft tissue, and
the presence of metastasis. In the case of teenagers with a painful mass around the knee, further
examination is needed for early detection of osteosarcoma.

Keywords: osteosarcoma, prognosis, tumor.

Pendahuluan

Osteosarkoma merupakan salah satu jenis tumor pada tulang yang sifatnya ganas.
Umumnya tumor ini terdapat pada tulang panjang, yang paling sering dijumpai pada distal femur
diikuti ke tulang tibia bagian proksimal. Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah
suatu neoplasma ganas yang berasal dari sel primitif (poorly differentiated cells) di daerah
metafise tulang panjang pada anak-anak. Penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan
sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka
tumor dapat menyebar ke organ lain.

Anamnesis

Melakukan anamnesis diusahakan agar pasien atau orang tua dapat menyampaikan
keluhan dengan spontan, wajar, namun tidak berkepanjangan. Pada saat yang tepat pemeriksa
perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih rinci & spesifik, sehingga dapat diperoleh
gambaran keadaan pasien yang lebih jelas dan akurat. Pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa
sebaiknya tidak sugestif, sedapat mungkin dihindari pertanyaan yang jawabannya hanya ‘ya’
atau ‘tidak’, berikan kesempatan untuk menentukan riwayat penyakit pasien sesuai dengan
persepsinya. Anamnesis merupakan komunikasi dua arah antara dokter dengan pasien/ keluarga
pasien untuk membantu penegakan diagnosis suatu penyakit yang dikeluhkan.

Dari hasil anamnesis didapatkan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, dengan keluhan
utama nyeri pada tungkai atas dextra, nyeri sudah dirasakan semenjak 2 minggu yang lalu. Sifat
nyeri terus menerus, tidak berkurang ketika istirahat dan bertambah sakit jika digunakan. Pasien
mengeluh adanya benjolan pada bagian yang nyeri dan dirasakan semakin lama tungkai menjadi
lemah. Kulit kemerahan, benjolan diameter 5 cm, suhu normal.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum pasien tampak sakit ringan, compos mentis. Tekanan darah 110/80
mmHg, nadi 88x/menit, suhu tubuh 36,2 C, napas 20x/menit. Berdasarkan hasil TTV pasien
dalam kondisi yang cukup baik. Pada pemeriksaan fisik juga didapat data status lokalis dimana
pada organ yang terkena dilakukan inspeksi (look), palpasi (feel), dan digerakkan (move). Pada
inspeksi didapat warna kulit kemerahan pada regio distal femur. Pada palpasi didapat benjolan 5
cm dan positif nyeri tekan. Pada saat digerakkan, pasien mengalami nyeri pada organ yang
terkena.

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan radiologic : Pada pemeriksaan rontgen biasa ditemukan satu gambaran


khusus yaitu codman triangle dan sun burst appearance. Pada pemeriksaan penunjang
didapatkan rontgen tibia distal massa sklerotik dengan reaksi periosteal tipe Sun-brust di
epifisis-metafisis distal femur.1
Gambar 1: Hasil X-ray

2. Histo-patologi : pemeriksaan histopatologi atau patologi anatomi digunakan untuk


melihat menggunakan mikroskop massa yang ada pada pasien. Pada pemeriksaan ini ada
bentuk khusus dari osteosarcoma, yaitu matriks osteovit yang berbentuk seperti “lace
like”.2

Gambar 2: Histo patologi

3. Tes darah : mendeteksi kanker tulang dari perubahan kandungan darah


4. MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena
kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. MRI
merupakan tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari
osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat.
Working Diagnosis

Osteosarkoma merupakan salah satu jenis tumor ganas mesenkimal yang memproduksi
tulang. Umumnya tumor ini ditemukan di metafisis pada tulang panjang, yang paling sering
dijumpai pada distal femur diikuti ke tulang tibia bagian proksimal. Pada anamnesis, pasien
bisanya mengeluhkan nyeri dengan batas yang tegas dan bersifat terus menerus. Tumor ini juga
dapat bermetastase ke organ lain, paling sering bermetastase ke paru-paru melalui aliran darah.
Pada pemeriksaan radiologi muncul gambaran sunburst appearance dan codman’s triangle.2

Gambar 3: letak osteosarcoma

Differensial Diagnosis

Osteokondroma merupakan tumor tulang jinak yang paling sering ditemukan. Biasanya
menyerang usia 10 – 20 tahun. Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang
keras. Penderita dapat memiliki satu atau beberapa benjolan. Pada pemeriksaan penunjang di
radiologi X-Ray ditemukan gambaran caulli flower. Sedangkan pada gambaran patologi anatomi
didapatkan kartilago cap menebal lebih dari 3 cm.3

Etiologi

Penyebab osteosarkoma masih belum diketahui dengan jelas. Terdapat beberapa factor yang
diduga dapat memicu timbulnya tumor ganas pada tulang ini. Factor yang diduga dapat memicu
itu adalah paparan radiasi, genetik, serta penggunaan bahan kimia tertentu . Pada genetik,
penderita retinoblastoma diduga memiliki resiko untuk terkena penyakit ini. Faktor lainnya ialah
paparan sinar radiasi yang berlebihan. Radiasi yang diberikan pada pasien yang memiliki
penyakit tulang seperti fibrous dysplasia setelah 3-40 tahun diketahui dapat mengakibatkan
osteosarkoma. Pada penggunaan bahan kimia thorium untuk penderita tuberkulosis
mengakibatkan 14 dari 53 pasien menjadi osteosarkoma.3

Epidemiologi

Di Amerika Serikat insiden pada usia kurang dari 20 tahun adalah 4.8 kasus per satu juta
populasi. Insiden dari osteosarkoma konvensional paling tinggi pada usia 10-20 tahun.
Di Indonesia insiden osteosarkoma tersering pada anak- anak dan dewasa muda serta usia tua di
atas 65 tahun serta lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita dengan perbandingan 1,6:1.
Dalam seluruh dunia, setiap tahun sekitar 2890 orang didiagnosa mengidap osteosarkoma,
sekitar 1410 orang meninggal karena osteosarkoma.

Berkat perkembangan modalitas terapi adjuvant (kemoterapi dan radioterapi), angka


kesembuhan tanpa metastasis kini dapat mencapai 70%. Osteosarkoma merupakan 21% dari
seluruh tumor ganas tulang, lebih banyak diderita laki-laki, terutama usia 20-an. Pada usai 60-an,
insiden osteosarkoma kembali meningkat akibat timbulnya osteosarkoma sekunder yang berasal
dari penyakit Paget. Osteosarkoma sering timbul di daerah metafisis, terutama daerah yang
pertumbuhannya cepat, yaitu femur distal (32%), tibia proximal (16%), dan humerus proximal.4

Patofisiologis

Penyebab utama osteosarkoma belum diketahui. Adanya tumor di tulang menyebabkan


reaksi tulang normal dengan respons osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik
(pembentukan tulang). Sementara tumor ini memecah melalui dinding periosteum dan menyebar
ke jaringan lunak sekitarnya. Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi
oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi
atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi
destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi
penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan
tulang yang abortif.5
Tatalaksana

 Bedah

Bedah merupakan penanganan utama pada hampir semua tumor tulang dengan tujuan
mengangkat semua tumor untuk menghindari relaps. Untuk itu bedah dilakukan dengan
mengambil tumor dan jaringan normal di sekitarnya, disebut wide-excision. Pada lengan dan
paha umumnya semua otot perlu diangkat guna melakukan bedah dengan baik, proses ini disebut
amputasi.

 Teknik limb-salvage atau limb-sparing surgery.

Bedah ini bertujuan mengangkat sel tumor tanpa menganggu tendon, saraf, dan pembuluh
darah disekitarnya. Untuk tulang yang diangkat dengan teknik ini, dilakukan bone-graft atau
endoprosthesis untuk menggantikan tulang yang hilang. Endoprosthesis dibuat berbahan metal.
Pada anak-anak dibuat lebih panjang, seiring anak bertumbuh. Teknik limb-salvage ini mungkin
akan membutuhkan operasi lainnya 5 tahun kemudian, bahkan sampai amputasi.

 Kemoterapi

merupakan pengobatan yang sangat vital pada osteosarkoma, terbukti dalam 30 tahun
belakangan ini dengan kemoterapi dapat mempermudah melakukan prosedur operasi
penyelamatan ekstremitas (limb salvage procedure) dan meningkatkan survival rate pada
penderita. Kemoterapi juga mengurangi metastase keparu-paru dan sekalipun ada,
mempermudah melakukan eksisi pada metastase tersebut.

Obat-obat kemoterapi yang mempunyai hasil cukup efektif untuk osteosarkoma adalah:
doxorubicin (Adriamycin®), cisplatin (Platinol®), ifosfamide (Ifex®), mesna (Mesnex®), dan
methotrexate dosis tinggi (Rheumatrex®). Protokol standar yang digunakan adalah doxorubicin
dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis tinggi, baik sebagai terapi induksi
(neoadjuvant) atau terapi adjuvant. Kadang-kadang dapat ditambah dengan ifosfamide. Dengan
menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang intensif, terbukti memberikan
perbaikan terhadap survival rate sampai 60-80%.5
Komplikasi

Pada kasus osteosarkoma, komplikasi yang paling sering sekaligus berbahaya adalah
metastase ke organ paru-paru. . Pada yang resectable (tumor yang dapat di angkat dengan
operasi) dengan metastasis viceral, paru, atau tulang, maka terapi tumor primernya sama dengan
penatalaksanaan osteosarkoma, didukung kemoterapi serta metastasektomi. Pada yang
unresectable penatalaksanaan yang dilakukan adalah kemoterapi, radioterapi dan melakukan
evaluasi ulang tumor primer untuk mengontrol tumor pada bagian lokal.

Prognosis

Prognosis penyakit ini dipengaruhi oleh ukuran tumor, derajat nekrosis, penyebaran ke
korteks dan penetrasi jaringan lunak serta penurunan berat badan > 10 pon. Dengan pemakaian
kemoterapi baru dan operasi, 5 dan 10 year survival year meningkat. Penurunan
osteoklastogenesis dan aktivasi presentasi antigen lebih banyak ditemuka pada kasus
kemoresisten. Penelitian Shipley JA dkk dari 30 kasus osteosarkoma yang diterapi, setelah 30
bulan 1/3 penderita bebas penyakit, 6 penderita dengan metastasis rata-rata hidup 16 bulan dan ½
penderita meninggal. Adanya metastasis pada waktu diagnosis dan ukuran tumor > 10 cm
dikaitkan dengan prognosis jelek. Perlu diingatkan bila penderita usia belasan dengan massa
nyeri disekitar lutut perlu pemeriksaan lanjut.6

Kesimpulan

Osteosarcoma merupakan salah satu tumor ganas yang paling sering menyerang tulang manusia,
terutama pada umur 10-25 tahun dan >60 tahun. Penanganan dan diagnosis yang tepat sangat
menentukan prognosis pasien. Pasien pada skenario menderita penyakit osteosarcoma dengan
gejala klinis adanya benjolan dan nyeri ketika digerakkan.

Daftar Pustaka

1. Marcdante, dkk., Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Keenam. Jakarta: Elsevier
- Local; 2013.

2. Abbas, A.K., Aster, J.C., dan Kumar, V. 2015. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi 9.
Singapura: Elsevier Saunders.
3. Lily Loho. Osteosarkoma. Jurnal: Bagian patologi Anatomi FK Universitas Sam
Ratulangi Manado.Jurnal Biomedik; 2014. Vol.6 (3).

4. USU. Pengertian, etiologi, tanda dan gejala osteosarkoma. Di akses dari:


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33727/3/Chapter%20II.pdf 25 Maret
2019.
5. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Staff Pengajar Bagian Ilmu bedah Fakultas Kedokteran
Indonesia.
6. Nasar IM, Himawan S, Marwoto W. Buku ajar patologi II (khusus). Edisi ke-1. Jakarta: Staf

Departemen Patologi Anatomi FKUI; 2010. H. 512-3.