Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Uma Sekaran dalam Sugiyono (2011 : 60) mengemukakan bahwa


“Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan
dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai hal yang penting jadi dengan
demikian maka kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-
pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi
bagi setiap pemikiran atau suatu bentuk proses dari keseluruhan dari penelitian yang akan
dilakukan.”

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar
variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel
independen dan dependen, bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening,
maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu diikutkan. Pertautan antar variabel
tersebut tersebut selanjutnya dirumuskan kedalam bentuk paradigma penelitian yang
didasarkan pada kerangka berpikir.

Kerangka berpikir pada umumnya hanya diperuntukkan pada jenis Penelitian


Kuantatif. Untuk Penelitian Kualitatif kerangka berpikirnya terletak pada kasus yang
selama ini dilihat atau diamati secara langsung oleh penulis. Sedangkan untuk Penelitian
Tindakan Kelas kerangka berpikirnya terletak pada refleksi, baik pada peneliti maupun
pada partisipan. Hanya dengan kerangka berpikir yang tajam yang dapat digunakan untuk
menurunkan hipotesis.

Kerangka berpikir menerangkan :

1. Mengapa penelitian dilakukan?


Penelitian dilakukan untuk mencari suatu kebenaran dari data atau masalah yang
ditemukan. seperti, membandingkan hasil penelitian yang telah ada dengan penelitian
yang sedang atau yang akan dilakukan, membantah atau membenarkan hasil
penelitian sebelumnya, atau menemukan suatu kajian baru (ilmu baru) yang akan
digunakan dalam menjawab masalah-masalah yang ada.

1
2. Bagaimana proses penelitian dilakukan ?
Proses penelitian dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kebutuhan yang akan
diperlukan, ada yang melakukan penelitian dengan metode sampling, olah literarute
(studi pustaka), studi kasus dan lain sebagainya.
3. Apa yang akan diperoleh dari penelitian tersebut?
Apa yang akan di peroleh dari sebuah penelitian tergantung dari pemikiran yang
sebelumnya tercantum dalam kerangka pemikiran, walaupun secara umum tidak
semuanya apa yang di inginkan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan sebelumnya.
4. Untuk apa hasil penelitian diperoleh ?
Untuk menjawab pertanyaan di atas kita bisa kembali ke point satu “mengapa
penelitian itu dilakukan”? yakni untuk mencari kebenaran akan sesuatu masalah yang
kontroversi di kalangan masyarakat atau untuk membantah opini atau mitos yang
tersebar sejak turun-temurun. Pada intinya hasil penelitian yang diperoleh seharusnya
bermanfaat bagi banyak kalangan masyarakat, sehingga penelitian itu tidak di anggap
sia-sia.
5. Bagaimanakah Menyusun Kerangka Berpikir Penelitian?

Kerangka pemikiran adalah narasi (uraian) atau pernyataan (proposisi) tentang


kerangka konsep pemecahan masalah yang telah diidentifikasi atau dirumuskan.
Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat
menentukan kejelasan dan validitas proses penelitian secara keseluruhan. Melalui
uraian dalam kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara komprehensif
variabel-variabel apa saja yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu
diturunkan, serta mengapa variabel-variabel itu saja yang diteliti.

Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu menjelaskan dan menegaskan


secara komprehensif asal-usul variabel yang diteliti, sehingga variabel-variabel yang
tercatum di dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah semakin jelas asal-
usulnya. Pada dasarnya esensi kerangka pemikiran berisi: (1) Alur jalan pikiran secara
logis dalam menjawab masalah yang didasarkan pada landasan teoretik dan atau hasil
penelitian yang relevan. (2) Kerangka logika (logical construct) yang mampu
menunjukan dan menjelaskan masalah yang telah dirumuskan dalam kerangka teori.
(3) Model penelitian yang dapat disajikan secara skematis dalam bentuk gambar atau
model matematis yang menyatakan hubungan-hubungan variabel penelitian atau
merupakan rangkuman dari kerangka pemikiran yang digambarkan dalam suatu model.
2
Sehingga pada akhir kerangka pemikiran ini terbentuklah hipotesis. Dengan demikian,
uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir adalah perpaduan
antara asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam menjelaskan atau
memunculkan variabel-variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di antara variabel-
variabel tersebut, ketika dihadapkan pada kepentingan untuk mengungkapkan
fenomena atau masalah yang diteliti.

Di dalam menulis kerangka berpikir, ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan,
yakni: kerangka teoritis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional. Kerangka
teoritis atau paradigma adalah uraian yang menegaskan tentang teori apa yang dijadikan
landasan (grand theory) yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang
diteliti. Kerangka konseptual merupakan uraian yang menjelaskan konsep-konsep apa
saja yang terkandung di dalam asumsi teoretis yang akan digunakan untuk
mengabstraksikan (mengistilahkan) unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena
yang akan diteliti dan bagaimana hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka
operasional adalah penjelasan tentang variabel-variabel apa saja yang diturunkan dari
konsep-konsep terpilih tadi dan bagaimana hubungan di antara variabel-variabel
tersebut, serta hal-hal apa saja yang dijadikan indikator untuk mengukur variabel-
variabel yang bersangkutan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka dalam


menyusun kerangka berpikir kita harus memulainya dengan menegaskan teori apa yang
dijadikan landasan dan akan diuji atau digambarkan dalam penelitian kita. Lalu
dilanjutkan dengan penegasan tentang asumsi teoretis apa yang akan diambil dari teori
tersebut sehingga konsep-konsep dan variabel-variabel yang diteliti menjadi jelas.
Selanjutnya, kita menjelaskan bagaimana cara mengoperasionalisasikan konsep atau
variabel-variabel tersebut sehingga siap untuk diukur. Walaupun dalam kerangka
berpikir itu harus terkandung kerangka teoretis, kerangka konseptual, dan kerangka
operasional, tetapi cara penguraian atau cara pemaparannya tidak perlu kaku dibuat per
sub bab masing-masing. Hal yang penting adalah bahwa isi pemaparan kerangka
berpikir merupakan alur logika berpikir kita mulai dari penegasan teori serta asumsinya
hingga munculnya konsep dan variabel-variabel yang diteliti.

Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara ilmiah


(memadukan antara asumsi teoretis dan asumsi logika dalam memunculkan variabel)

3
dengan benar, maka peneliti harus intens dan eksten menelurusi literatur-literarur yang
relevan serta melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang
relevan, sehingga uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada
pertimbangan logika. Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti
mesti merujuk pada literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu.
Selanjutnya secara sederhana penyusunan kerangka berpikir dapat dilakukan dengan
mengikuti langkah-langkah berikut:

1. Menentukan paradigma atau kerangka teoretis yang akan digunakan,


kerangka konseptual dan kerangka operasional variabel yang akan diteliti.
2. Memberikan penjelasan secara deduktif mengenai hubungan antarvariabel
penelitian. Tahapan berpikir deduktif meliputi tiga hal yaitu: (a) Tahap
penelaahan konsep (conceptioning), yaitu tahapan menyusun konsepsi-
konsepsi (mencari konsep-konsep atau variabel dari proposisi yang telah ada,
yang telah dinyatakan benar). (b) Tahap pertimbangan atau putusan
(judgement), yaitu tahapan penyusunan ketentuan-ketentuan (mendukung atau
menentukan masalah akibat pada konsep atau variabel dependen). (c) Tahapan
penyimpulan (reasoning), yaitu pemikiran yang menyatakan hal-hal yang
berlaku pada teori, berlaku pula bagi hal-hal yang khusus.
3. Memberikan argumen teoritis mengenai hubungan antar variabel yang diteliti.
Argumen teoritis dalam kerangka pemikiran merupakan sebuah upaya untuk
memperoleh jawaban atas rumusan masalah. Dalam prakteknya, membuat
argumen teoritis memerlukan kajian teoretis atau hasil-hasil penelitian yang
relavan. Hal ini dilakukan sebagai petunjuk atau arah bagi pelaksanaan
penelitian. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, oleh karena argumen
teoritis sebagai upaya untuk memperoleh jawaban atas rumusan masalah,
maka hasil dari argumen teoritis ini adalah sebuah jawaban sementara atas
rumusan masalah penelitian. Sehingga pada akhirnya produk dari kerangka
pemikiran adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah
(hipotesis).
4. Merumuskan model penelitian. Model adalah konstruksi kerangka pemikiran
atau konstruksi kerangka teoretis yang diragakan dalam bentuk diagram dan
atau persamaan-persamaan matematik tertentu. Esensinya menyatakan
hipotesis penelitian. Sebagai suatu kontruksi kerangka pemikiran, suatu model

4
akan menampilkan: (a) jumlah variabel yang diteliti, (b) prediksi tentang pola
hubungan antar variabel, (c) dekomposisi hubungan antar variabel, dan (d)
jumlah parameter yang diestimasi.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Penyusunan Kerangka Berpikir

Kerangka berfikir adalah model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan


dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.1
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar
variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel
independen dan dependen. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke
dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu, pada pada setiap penyusunan
paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.
Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam
penelitian tersebut berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila dalam penelitian
hanya membahas sebuah variable atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti
disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga
argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti. Penelitian yang berkenaan
dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi,
maka perlu dikemukakan kerangka berfikir. Langkah-langkah dalam menyusun kerangka
pemikiran yang selanjutnya membuahkan hipotesis.
Berikut ini adalah proses penyusunan kerangka berfikir untuk merumuskan
hipotesis2 :

Variabel X Variabel Y

Membaca buku Membaca buku Membaca buku Membaca buku


dan hasil dan hasil dan hasil dan hasil
penelitian (HP) penelitian (HP) penelitian (HP) penelitian (HP)

Deskripsi teori Deskripsi teori Deskripsi teori Deskripsi teori


dan HP dan HP dan HP dan HP

1
Sugiyono, Metode Penelitian Kuntitatif Kualitatif dan R & D, Bandung : Alfabeta, 2013, hlm. 60.
2
Ibid, hlm .61
6
Analisis kritis Analisis kritis Analisis kritis Analisis kritis
terhadap teori terhadap teori terhadap teori terhadap teori
dan HP dan HP dan HP dan HP

Analisis Analisis Analisis Analisis


komparatif komparatif komparatif komparatif
terhadap teori- terhadap teori- terhadap teori- terhadap teori-
teori dan HP teori dan HP teori dan HP teori dan HP
yang diambil yang diambil yang diambil yang diambil

Sintesa atau kesimpulan Sintesa atau kesimpulan


teori dan HP teori dan HP

Kerangka Berfikir

Perumusan Hipotesis

Penjelasan Gambar :
1. Menetapkan variabel yang diteliti.
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun
kerangka berfikir untuk mengajukan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih
duluvariabel penelitiannya. Beberapa jumlah variabel yang diteliti, dan apakah nama
setiap variabel, merupakan titik tolak ukur untuk menentukan teori yang akan
dikemukakan.
2. Membaca buku dan hasil penelitian (HP)
Setelah variabel ditentukan, maka langkah berikutnya adalah membaca buku-buku
dan hasil penelitian yang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks,
ensliklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah laporan penelitian,
jurnal ilmiyah, skripsi, tesis, dan disertasi.
7
3. Deskripsi teori dan hasil penelitian (HP)
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang
berkenaan dengan variabel yang diteliti. Seperti telah dikemukakan , deskrifsi teori berisi
tentang, definisi terhadap masing-masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang
lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam
konteks penelitian itu.
4. Analisi kritis terhadap teori dan hasil penelitian.
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil
penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah
teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan obyek
penelitian atau tidak, karena sering terjadi teori-teori yang berasal dari luar tidak sesuai
untuk penelitian didalam negeri.
5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian.
Analisi komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan
teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis
komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau
mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6. Sintesa kesimpulan.
Melalui analisis kritis dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang
relevan dengan semua variabel yang diteliti, selajutnya peneliti dapat melakukan sintesa
atau kesimpulan sementara. Panduan sintesa antara variabel satu dengan variabel yang lain
akan menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk
merumuskan hipotesis.
7. Kerangka berpikir.
Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya
disusun kerangka berfikir. Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka
berfikir yang asosiatif atau hubungan maupun komparatif atau perbandingan. Kerangka
berfikir asosiatif dapat menggunakan kalimat: jika begini maka akan begitu ; “ jika guru
kompeten, maka hasil belajar akan tinggi. Jika kepemimpinan kepala sekolah baik, maka
iklim sekolah akan baik. Jika kebijakan pendidikan dilaksanakan secara baik dan
konsisten, maka kualitas SDM di Indonesia akan meningkat pada gradasi yang tinggi”.
8. Hipotesis.
8
Hipotesis adalah gabungan dari “hipo” artinya “dibawah” dan “tesis” artinya “kebenaran”.
Secara keseluruhan “hipotesis” berarti “dibawah kebenaran”, kebenaran yang masih
berada dibawah (belum tentu benar) dan baru dapat diangkat menjadi suatu kebenaran jika
memang telah disertai dengan bukti-bukti.3

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka


berpikir berbunyi “jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi”, maka hipotesisnya
berbunyi “ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil
belajar” Bila kerangka berfikir berbunyi “karena lembaga pendidikan A menggunakan
teknologi pembelajaran yang tinggi, maka kualitas hasil belajar akan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan lembaga pendidikan B yang teknologi pembelajarannya rendah,”
maka hipotesisnya berbunyi “terdapat perbedaan kualitas hasil belajar yang signifikan
antara lembaga pendidikan A dan B, atau hasil belajar lembaga pendidikan A lebih tinggi
bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan B”.

Kerangka berbikir yang baik memuat hal-hal sebagai berikut4 :


1. Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
2. Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukan dan menjelasan pertautan /
hubungan antara variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
3. Diskusi juga harus dapat menunjukan dan menjelaskan apakah hubungan antara
variabel itu positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif (timbal
balik).
4. Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram
(paradigm penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berfikir yang
dikemukakan dalam penelitian.

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi
dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini
merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek objek
permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuan,
adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang
membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa

3
Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 45.
4
Ibid, hlm.63.
9
tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.
Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis
dan sistematis, sehingga menghasilakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti.
sintesa tentang hubungan tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
Setiap penelitian kuantitatif dimulai dengan menjelaskan konsep penelitian yang
digunakan, karena konsep penelitian ini merupakan kerangka acuan peneliti di dalam
mendesain instrument penelitian. Konsep juga dibangun dengan maksud agar masyarakat
akademik atau masyarakat ilmiah maupun konsumen penelitian atau pembaca laporan
penelitian memahami apa yang dimaksud dengan pengertian variable, indikator, parameter,
maupun skala pengukuran yang dimaksud penelitiannya kali ini.5
Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara ilmiah dengan
benar, maka peneliti harus intens dan ekstens menelurusi literatur-literarur yang relevan serta
melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, sehingga uraian
yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada pertimbangan logika. Untuk itu, dalam
menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti merujuk pada literatur atau referensi serta
laporan-laporan penelitian terdahulu.

Selanjutnya secara sederhana penyusunan kerangka berpikir dapat dilakukan


dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

a. Menentukan paradigma atau kerangka teoritis yang akan digunakan, kerangka


konseptual dan kerangka operasional variabel yang akan diteliti.
b. Memberikan penjelasan secara deduktif mengenai hubungan antar variabel penelitian.
Tahapan berpikir deduktif meliputi tiga hal yaitu:
1) Tahap penelaahan konsep (conceptioning), yaitu tahapan menyusun konsepsi-
konsepsi (mencari konsep-konsep atau variabel dari proposisi yang telah ada, yang
telah dinyatakan benar).
2) Tahap pertimbangan atau putusan (judgement), yaitu tahapan penyusunan
ketentuan-ketentuan (mendukung atau menentukan masalah akibat pada konsep
atau variabel dependen).
3) Tahapan penyimpulan (reasoning), yaitu pemikiran yang menyatakan hal-hal yang
berlaku pada teori, berlaku pula bagi hal-hal yang khusus.
c. Memberikan argumen teoritis mengenai hubungan antar variabel yang diteliti

5
M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta : Kencana, 2008, hlm. 57
10
Argumen teoritis dalam kerangka pemikiran merupakan sebuah upaya untuk
memperoleh jawaban atas rumusan masalah. Dalam prakteknya, membuat argumen
teoritis memerlukan kajian teoritis atau hasil-hasil penelitian yang relavan. Hal ini
dilakukan sebagai petunjuk atau arah bagi pelaksanaan penelitian. Hal lain yang perlu
diperhatikan adalah, oleh karena argumen teoritis sebagai upaya untuk memperoleh
jawaban atas rumusan masalah, maka hasil dari argumen teoritis ini adalah sebuah
jawaban sementara atas rumusan masalah penelitian. Sehingga pada akhirnya produk
dari kerangka pemikiran adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah
(hipotesis).

d. Merumuskan model penelitian


Model adalah konstruksi kerangka pemikiran atau konstruksi kerangka teoritis
yang diragakan dalam bentuk diagram atau persamaan-persamaan matematik tertentu.

Sebagai suatu kontruksi kerangka pemikiran, suatu model akan menampilkan:

1) Jumlah variabel yang diteliti


2) Prediksi tentang pola hubungan antar variabel
3) Dekomposisi hubungan antar variabel
4) Jumlah parameter yang diestimasi.

Pola Pikir Metode Ilmiah

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan


yang disebut ilmu. Seperti dikatakan oleh Senn bahwa metode merupakan suatu
prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah
sistematis. Sedangkan berfikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan
pengetahuan. Karena itu metode ilmiah merupakan ekspresi tentang cara bekerja
fikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan
diharapkan dapat memiliki karakteristik khusus sebagai ilmu yang sifatnya
rasional, teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang tersusun
merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini maka metode
ilmiah mencoba menggabungkan cara berfikir deduktif dan cara berpikir
induktif dalam membangun tubuh pengetahuan.

11
Sambas Ali Muhidin, 2011 menyatakan bahwa terdapat 3 kerangka dalam
penyusunan kerangka dasar pemikiran:

a) Kerangka teoritis (Gambaran atau batasan-batasan teori yang digunakan


dalam penelitian)
b) kerangka konseptual (Menjelaskan konsep-konsep yang terkandung di
dalam asumsi teoritis agar menjadi jelas)
c) kerangka operasional (Menjelaskan cara-cara yang digunakan agar
konsep atau variabel siap untuk diteliti)

Alur pikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan ke dalam
beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap kegiatan penelitian ilmiah.
Alur pikir metode ilmiah dapat digambarkan sebagai berikut :

Berdasarkan diagram di atas dapat kita lihat hubungan antara langkah


berfikir ilmiah dengan langkah penelitian. Langkah berpikir ilmiah selalu
dimulai dengan pengajuan masalah, yakni mengkonseptualisasikan persoalan,
baik yang bersumber dari teori maupun dari pengalaman empirik untuk
dicarikan jawabannya melalui penelitian.

12
Setelah masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan
penelitian, selanjutnya mengkaji secara teoritik hakekat masalah tersebut untuk
menyusun jawaban sementara dari pertanyaan penelitian (hipotesis).

Tahap berikutnya mengumpulkan data di lapangan (verifikasi data) untuk


memperoleh bahan/informasi pemecahan masalah. Data/informasi yang telah
terkumpul lalu diolah, dianalisis untuk menguji hipotesis. Hasil pengujian
hipotesis ditarik kesimpulan, yakni menerima atau menolak hipotesis.

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian
tersebut berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila dalam penelitian hanya membahas
sebuah variable atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping
mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap
variasi besaran variabel yang diteliti.
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan
hipotesis yang berbentuk komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir. Untuk
mengetahui langkah-langkah dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan
hipotesis dapat dilakukan dengan cara berikut ini :
1. Menetapkan variabel yang diteliti
2. Membaca buku dan hasil penelitian (HP)
3. Deskripsi teori dan hasil penelitian (HP)
4. Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
6. Sintesa kesimpulan
7. Kerangka berfikir
8. Hipotesis

B. Saran

14
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Prof. Dr. Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Kasiram, Prof. Drs. H. Moh. 2002. Strategi Penelitian Tesis Program Magister By Research.
Malang: Program Pascasarjana.

Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.


M. Burhan Bungin. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Kencana.
Sugiyono, Prof. Dr. 2012. Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan
R&d. Bandung: Alfabeta.

Sambas Ali Muhidin. 2011. Panduan Praktis Memahami Penelitian. Bandung:


Pustaka Setia.

15