Anda di halaman 1dari 173
w w w . o p t I m a p r e p .
w w w . o p t I m a p r e p .

w w w . o p t I m a p r e p . c o m

w w w . o p t I m a p r e p . c
w w w . o p t I m a p r e p . c
d r. R e s t h i e R a c h m a
d r.
R e s t h i e
R a c h m a n t a
P u t r i
d r.
M a r c e l a
Yo l i n a
Jakarta Medan

Medan

P u t r i d r. M a r c e l a Yo l

Jl. Setiabudi Kompleks Setiabudi Square No. 15

Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang 20132 WA/Line 082122727364

Hierarkis

Cara yang sistematik untuk memastikan suatu

diagnosis gangguan jiwa

Urutan Hierarki:

F0 : Gangguan Mental Organik / Simptomatik

F1 : Gangguan Mental & Perilaku akibat penggunaan

Zat Psikoaktif

F2 F5: Gangguan Mental Lainnya (Gangguan

Psikotik, Gangguan Mood, Gangguan Neurotik)

F6 : Gangguan Kepribadian & Perilaku masa Dewasa

F7 - F9 : Retardasi Mental / Gangguan Perkembangan

Mental Lainnya dengan Onset Masa Kanak & Remaja

TILIKAN

TILIKAN

Tilikan adalah kemampuan seseorang untuk memahami sebab

sesungguhnya dan arti dari suatu situasi (termasuk di

dalamnya gejala yang dialaminya sendiri).

Derajat

Deskripsi

1

penyangkalan total terhadap penyakitnya

2

ambivalensi terhadap penyakitnya

3

menyalahkan faktor lain sebagai penyebab penyakitnya

4

menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan tetapi tidak memahami penyebab

sakitnya

5

menyadari penyakitnya dari faktor-faktor yang berhubungan dengan

penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perilaku praktisnya

6

menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motivasi untuk mencapai perbaikan

GANGGUAN PROSES PIKIR

Gangguan bentuk pikir

Gangguan Gangguan proses pikir isi pikir
Gangguan
Gangguan
proses pikir
isi pikir
GANGGUAN PROSES PIKIR Gangguan bentuk pikir Gangguan Gangguan proses pikir isi pikir Gangguan arus pikir

Gangguan arus pikir

Gangguan Bentuk Pikir

Jenis

Karakteristik

Derealistik

Tidak sesuai dengan kenyataan tetapi masih mungkin terjadi,

misalnya: “saya adalah seorang presiden

Dereistik

Tidak sesuai dengan kenyataan, lebih didasarkan pada khayalan,

misal: “saya adalah seorang malaikat”

Autistik

Pikiran yang timbul dari fantasi, berokupasi pada sebuah ide. Secara emosional terlepas dari orang lain.

Tidak logis/ magical thought

Berorientasi pada hal-hal yang bersifat magis

Pikiran konkrit

Pikiran terbatas pada satu dimensi arti, pasien mengartikan kata/kalimat apa adanya, tidak mampu berpikir secara metafora. Contoh: meja hijau = meja yang berwarna hijau.

Gangguan Isi Pikir

Jenis

Karakteristik

Waham

Keyakinan yang salah, tidak dapat dikoreksi, dihayati oleh penderita sebagai hal yang nyata, tidak sesuai dengan sosiokultural di mana

penderita tinggal.

Obsesi

Gagasan (ide), bayangan, atau impuls yang berulang dan persisten.

Kompulsi

Perilaku/perbuatan berulang yang bersifat stereotipik, biasanya

menyertai obsesi.

Fobia

Ketakutan irasional yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu objek, aktifitas, atau situasi spesifik yang menimbulkan keinginan yang mendesak untuk menghindarinya.

Anosognosis

Pasien menolak kenyataan bahwa ia mengalami gangguan fisik, hal ini

terjadi pada pasien yang mengalami luka/trauma dan kerusakan otak yang luas. Contoh: penderita buta mengatakan bahwa ia dapat

melihat.

Gangguan Arus Pikir

Jenis

Karakteristik

Neologisme

Pembentukan kata-kata baru yang memiliki arti khusus bagi

penderita, sering terdapat pada pasien skizofrenia. Neologisme

dapat pula akibat halusinasi akustik sehingga sering merupakan kata yang diulang

Sirkumstansial

Gangguan asosiasi karena terlalu banyak ide yang disampaikan.

Pada umumnya pasien dapat mencapai tujuannya, tetapi harus secara bertahap.

Tangensial

Pembicaraan pasien terlepas sama sekali dari pokok pembicaraan dan tidak kembali ke pokok pembicaraan tersebut, sehingga tujuan tidak pernah tercapai

Asosiasi longgar

Pasien berbicara dengan kalimat-kalimat yang tidak berhubungan,

namun masih dapat dimengerti.

Flight of ideas

Melompat-lompat dari satu topik ke topik lain tanpa terputus, dimana masih terdapat benang merah.

Inkoherensi/

asosiasi longgar yang berat, kata yang satu tidak berhubungan

word salad

dengan kata yang lain.

GANGGUAN PERSEPSI

Gangguan Persepsi

Definisi

Depersonalisasi

satu kondisi patologis yang muncul sebagai akibat dari perasaan subyektif dengan gambaran seseorang mengalami atau merasakan diri sendiri (atau tubuhnya) sebagai tidak nyata atau khayali (asing, tidak dikenali).

Derealisasi

perasaan subyektif bahwa lingkungannya menjadi asing, tidak nyata.

Ilusi

persepsi yang keliru atau menyimpang dari stimulus eksternal

yang nyata.

Halusinasi

Persepsi atau tanggapan palsu, tidak berhubungan dengan

stimulus eksternal yang nyata; menghayati gejala-gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang nyata.

Halusinasi vs Ilusi vs Delusi

Halusinasi vs Ilusi vs Delusi Pada halusinasi, terdapat persepsi sensoris (pendengaran/penglihatan/penciuman TANPA ada

Pada halusinasi, terdapat persepsi sensoris

(pendengaran/penglihatan/penciuman TANPA ada stimulus eksternal

Pada ilusi, terdapat MISINTERPRETASI

persepsi sensoris dari suatu stimulus eksternal.

Delusi merupakan keyakinan seseorang

yang tidak sesuai dengan fakta atau nilai- nilai yang dianut di tempat ia tinggal,

keyakinan tersebut tidak dapat digoyahkan

orang lain(false fixed belief).

Jenis Halusinasi

Halusinasi hipnapompi: persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika

seseorang mulai terbangun, secara umum bukan tergolong

fenomena patologis.

Halusinasi auditorik : persepsi suara yang keliru, biasanya berupa suara orang meski dapat saja berupa suara lain seperti musik.

Halusinasi visual: persepsi penglihatan keliru yang dapat berupa

bentuk jelas (orang) atau pun bentuk tidak jelas (kilatan cahaya),

seringkali terjadi pada gangguan medis umum.

Halusinasi penciuman: persepsi penghidu keliru yang seringkali

terjadi pada gangguan medis umum.

Halusinasi pengecapan: persepsi pengecapan keliru seperti

rasa tidak enak sebagai gejala awal kejang, seringkali terjadi pada gangguan medis umum.

Halusinasi taktil: persepsi perabaan keliru seperti

phantom libs (sensasi anggota tubuh teramputasi), atau

formikasi (sensasi merayap di bawah kulit).

Halusinasi somatik: Sensasi keliru yang terjadi pada atau di dalam tubuhnya, lebih sering menyangkut organ dalam

(juga dikenal sebagai cenesthesic hallucination).

Halusinasi liliput: persepsi keliru yang mengakibatkan obyek

terlihat lebih kecil (micropsia).

GANGGUAN PSIKOMOTOR

Stupor: keadaan di mana pasien tidak berkomunikasi,

yaitu tidak berbicara (mutisme) atau tidak bergerak

(akinesia), meskipun ia waspada.

Mutisme: bisu tanpa abnormalitas struktural.

Katalepsia: postur tidak nyaman dan aneh

dipertahankan melawan gravitasi atau gaya lainnya.

Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak

bergerak yang dipertahankan secara konstan.

Gangguan Psikomotor

Fleksibilitas cerea (fleksibilitas lilin): keadaan seseorang yang

dapat dibentuk menjadi posisi tertentu kemudian dipertahankan; ketika pemeriksa menggerakkan anggota

gerak orang tersebut, anggota gerak itu terasa seperti terbuat

dari lilin.

Rigiditas katatonik: keadaan mempertahankan suatu postur

rigid secara volunter, meski telah dilakukan semua usaha

untuk menggerakkannya.

Postur katatonik: mempertahankan suatu postur aneh dan

tidak pada tempatnya secara volunter, biasanya

dipertahankan dalam jangka waktu lama.

 

KETERANGAN

Alexia

Kehilangan kemampuan membaca yang sebelumnya dimiliki.

Agnosia

Kegagalan mengenali suatu objek walaupun inderanya berfungsi

dengan baik. Agnosia dapat melibatkan seluruh sensasi.

Aphasia

Gangguan dalam memproduksi atau mengerti bahasa.

Apraxia

Gangguan pada otak yang menyebabkan seseorang tidak bisa lagi

melakukan gerakan bertujuan.

Agraphia

Tidak dapat berkomunikasi melalui tulisan.

Abulia

Berkurangnya impuls untuk berpikir dan bertindak. Contoh:

pasien stroke malas beraktivitas karena stroke pada lobus frontal.

SKIZOFRENIA

WAHAM

Waham merupakan suatu perasaan keyakinan

atau kepercayaan yang keliru, berdasarkan simpulan yang keliru tentang kenyataan

eksternal, tidak konsisten dengan intelegensia

dan latar belakang budaya pasien, dan tidak

bisa diubah lewat penalaran atau dengan jalan

penyajian fakta.

Jenis Waham

Waham

Karakteristik

Bizzare

keyakinan yang keliru, mustahil dan aneh

Sistematik

keyakinan yang keliru atau keyakinan yang tergabung dengan satu tema/kejadian.

Nihilistik

perasaan yang keliru bahwa diri dan lingkungannya atau dunia tidak ada

atau menuju kiamat.

Somatik

perasaan yang keliru yang melibatkan fungsi tubuh.

Paranoid

termasuk didalamnya waham kebesaran, waham kejaran/presekutorik,

waham rujukan (reference), dan waham dikendalikan.

Kebesaran/

keyakinan atau kepercayaan, biasanya psikotik sifatnya, bahwa dirinya adalah orang yang sangat kuat, sangat berkuasa atau sangat besar.

grandiosity

Kejar/

mengira bahwa dirinya adalah korban dari usaha untuk melukainya, atau

persekutorik

yang mendorong agar dia gagal dalam tindakannya.

Rujukan/ delusion of

selalu berprasangka bahwa orang lain sedang membicarakan dirinya dan kejadian-kejadian yang alamiah pun memberi arti khusus/berhubungan

reference

dengan dirinya

Jenis Waham

Waham

Karakteristik

Kendali

keyakinan yang keliru bahwa keinginan, pikiran, atau perasaannya dikendalikan oleh kekuatan dari luar. Termasuk di dalamnya:

thought of withdrawal, thought of broadcasting, thought of

insertion.

Thought of withdrawal

waham bahwa pikirannya ditarik oleh orang lain atau

kekurangannya.

Thought of insertion/ sisip pikir

waham bahwa pikirannya disisipi oleh orang lain atau kekuatan lain.

Thought of broadcasting/ siar pikir

waham bahwa pikirannya dapat diketahui oleh orang lain, tersiar di udara.

Cemburu

keyakinan yang keliru yang berasal dari cemburu patologis tentang pasangan yang tidak setia.

Erotomania

keyakinan yang keliru, biasanya pada wanita, merasa yakin bahwa

seseorang sangat mencintainya.

NEUROTRANSMITER DALAM GANGGUAN PSIKOTIK

NEUROTRANSMITER DALAM GANGGUAN PSIKOTIK Dari semua neurotransmitter yang terlibat, dopamin memiliki peranan paling penting

Dari semua neurotransmitter yang terlibat, dopamin memiliki

peranan paling penting dalam menyebabkan gejala psikotik.

Pedoman Diagnostik Skizofrenia

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat

jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-

gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

Thought echo, atau thought insertion or withdrawal, atau thought broadcasting

Delusion of control/ passivity/ influence/ perception

Halusinasi auditorik

Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut

budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)

Referensi: PPDGJ-III

Pedoman Diagnostik Skizofrenia

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang

harus selalu ada secara jelas:

Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja

Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami

sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atay

fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.

Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul tidak wajar

Telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau

lebih

Referensi: PPDGJ-III

PPDGJ

SKIZOFRENIA

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal 1

bulan

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan, senyum sendiri

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik, pikiran

obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Residual

Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang

memenuhi skizofrenia

Simpleks

Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala

psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna

(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

Skizofrenia Paranoid

Halusinasi dan/ waham arus yang menonjol:

Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau

memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),

mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).

Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi

waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of

passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka

ragam, adalah yang paling khas;

SKIZOFRENIA HEBEFRENIK (DISORGANIZED TYPE SCHIZOPHRENIA)

SKIZOFRENIA HEBEFRENIK ( DISORGANIZED TYPE SCHIZOPHRENIA)

GANGGUAN SKIZOAFEKTIF

Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif

adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama

menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan

bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.

Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan

gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.

Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca- skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33)

PPDGJ-III

Skizofrenia vs Skizoafektif vs Gangguan Mood dengan Gejala Psikotik

 

Skizofrenia

Skizoafektif

Gangguan mood disertai

gejala psikotik

Gejala

Kronik, sejak awal onset sakit

Kronik, sejak awal onset sakit

Hanyaada setelah episode gangguan mood terjadi

psikotik

Gangguan

Tidak ada, atau ada

Ada terus menerus

Ada, memenuhi kriteria

mood

tetapi tidak

selama sakit

diagnosis gangguan mood

menonjol

berlangsung. Gejala mayor gangguan mood

(manik/ depresi)

belum tentu ada

Lama

Kronik

Kronik

Episodik

penyakit

Gangguan Waham Menetap (DSM-IV)

Gangguan Waham Menetap (DSM-IV)

Jenis Gangguan Waham Menetap (DSM-IV)

Jenis Gangguan Waham Menetap (DSM-IV)

PRINSIP TERAPI ANTIPSIKOTIK

Key points for using antipsychotic therapy:

1.

An oral atypical antipsychotic drug should be considered as

first-line treatment.

2.

Choice of medication should be made on the basis of prior individual drug response, patient acceptance, individual side- effect profile and cost-effectiveness, other medications being prescribed and patient co-morbidities.

3.

The lowest-effective dose should always be prescribed

initially, with subsequent titration.

4.

The dosage of a typical or an atypical antipsychotic medication

should be within the manufacturer’s recommended range.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006

Psikofarmaka

Key points for using antipsychotic therapy:

5.

Treatment trial should be at least 4-8 weeks before changing antipsychotic medication.

6.

Antipsychotic medications, atypical or conventional, should

not be prescribed concurrently, except for short periods to cover changeover.

7.

Treatment should be continued for at least 12 months, then if

the disease has remitted fully, may be ceased gradually over at least 1-2 months.

8.

Prophylactic use of anticholinergic agents should be

determined on an individual basis and re-assessment made at

3-monthly intervals.

9.

A trial of clozapine should be offered to patients with

schizophrenia who are unresponsive to at least two adequate

trials of antipsychotic medications.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006

Obat Antipsikotik Tipikal dan Atipikal

Obat Antipsikotik Tipikal dan Atipikal

ES ANTIPSIKOTIK: GEJALA

EKSTRAPIRAMIDAL

ES ANTIPSIKOTIK: GEJALA EKSTRAPIRAMIDAL

Gejala Ekstrapiramidal

 

Karakteristik

Akathisia

Gelisah dan merasa perlu bergerak terus. Menggerakkan kaki mengetuk lantai (foot

tapping atau toe tapping). Gejala ini berkurang saat tidur atau pada posisi berbaring.

Pasien merasa tertekan bila tidak dapat bergerak.

Dystonia

Kelainan neurologis dimana terdapat kontraksi otot yang terus-menurus sehingga

mengakibatkan gerakan repetitif dan twisting atau postur yang abnormal. Dapat melibatkan punggung, leher, ekstremitas atas dan bawah, rahang, dan laring. Bisa terjadi kesulitan menelan, bernapas, bicara, dan menggerakkan leher. Oculogyric crisisDeviasi keatas bola mata yang ekstrim disertai dengan konvergen, menyebabkan diplopia. Berkaitan dengan fleksi posterolateral dari leher dan dengan mulut terbuka atau rahang terkunci.

Parkinsonism

Tremor, rigiditas, dan kelambatan bergerak, yang melibatkan batang tubuh dan ekstremitas. Kesulitan berdiri dari posisi duduk, postur tidak seimbang, muka

topeng.

Tardive dyskinesia

Gerakan koreatetoid abnormal yang melibatkan regio orofasial dan lidah. Lebih jarang mengenai ekstremitas dan batang tubuh. Ada gerakan mulut mencucu, gerakan mengunyah, dan lidah menjulur. Gejala tidak menimbulkan nyeri, namun menyebabkan penderitanya malu di depan umum.

http://www.uspharmacist.com/content/c/10205/?t=women%27s_health,neurology

Prinsip Terapi Gejala Ekstrapiramidal

Yang terpenting adalah Pencegahan

Setiap pasien yang menerima antipsikotik harus dievaluasi dan dimonitor terhadap munculnya gejala ekstrapiramidal.

Obat yang mencetuskan gejala ekstrapiramidal

harus dikurangi dosisnya atau distop, dan

diganti dengan obat antipsikotik lain yang

risiko gejala ekstrapiramidalnya lebih rendah.

Prinsip Terapi Gejala Ekstrapiramidal

AKATHISIA • Obat yang menyebabkannya dihentikan atau dikurangi dosisnya. • Ganti obat menjadi antipsikotik
AKATHISIA
• Obat yang menyebabkannya
dihentikan atau dikurangi
dosisnya.
• Ganti obat menjadi antipsikotik
atipikal
• Diberikan antimuskarinik atau
beta bloker
• Obat lain: amantadine,
amiitriptilin, benzodiazepin,
klonidin, kodein,
siproheptadine, mirtazaine.

TARDIVE DYSKINESIA

Obat yang menyebabkan gejala

dikurangi dosisnya atau dihentikan.

Bila sedang mendapat

antimuskarinik, harus dihentikan juga.

Ganti antipsikotik menjadi

atipsikotik atipikal

Tatalaksana ansietas

Pada diskinesia fokal, dapat diberi

toksin Botulinum

Obat lain: amantadine,

benzodiazepine, levetiracetam,

pregabalin, vitamin E, dopamin- depleting-agent

Deep brain stimulation

Prinsip Terapi Gejala Ekstrapiramidal

DYSTONIA • Hentikan atau turunkan dosis obat yang menyebabkan distonia. • Ganti obat menjadi golongan
DYSTONIA
• Hentikan atau turunkan dosis
obat yang menyebabkan
distonia.
• Ganti obat menjadi golongan
antipsikotik atipikal
• Berikan obat-obatan
antimuskarinik
• Tatalaksana ansietas
• Pada distonia fokal , dapat diberi
toksin Botulinum
• Pemberian relaksan otot,
dopamin-depleting agent
• Deep brain stimulation
• PARKINSONISME • Hentikan atau turunkan dosis obat yang menyebabkan gejala. • Ganti obat menjadi
• PARKINSONISME
• Hentikan atau turunkan dosis
obat yang menyebabkan gejala.
• Ganti obat menjadi golongan
antipsikotik atipikal
• Obat lain: Amantadine, golongan
antimuskarinik, agonis dopamin,
levodopa

Contoh obat antimuskarinik:

Triheksifenidil, Benzodiazepin, Levetiracetam, Pregabalin

SINDROM NEUROLEPTIK MALIGNA

Rare, but life-threatening, idiosyncratic

reaction to neuroleptic medications

Characterized by fever, muscular rigidity,

altered mental status, and autonomic

dysfunction.

Often occurs shortly after the initiation of

neuroleptic treatment, or after dose increases.

Tanda Kardinal Sindrom Neuroleptik Maligna

Rigiditas otot berat

Hipertermia (suhu>38°C)

Instabilitas otonom

Penurunan kesadaran

http://emedicine.medscape.com/article/816018-overview

Tatalaksana

Tatalaksana utama bersifat suportif

Pasien perlu dirawat di ICU

Yang paling penting: semua obat neuroleptik

(antipsikotik) harus dihentikan. Umumnya

gejala akan hilang dalam 1-2 minggu setelah

penghentian obat neuroleptik

http://emedicine.medscape.com/article/816018-overview

DEPRESI

DEPRESI

Gejala utama:

1. afek depresif,

2. hilang minat &

kegembiraan,

3. mudah lelah &

menurunnya

aktivitas.

Gejala lainnya:

1.

konsentrasi menurun,

2.

harga diri & kepercayaan diri

berkurang,

3.

rasa bersalah & tidak berguna yang tidak beralasan,

4.

merasa masa depan suram &

pesimistis,

5.

gagasan atau perbuatan

membahayakan diri atau bunuh

diri,

6.

tidur terganggu,

7.

perubahan nafsu makan (naik

atau turun).

Terjadi selama minimal 2 minggu.

PPDGJ

Depresi

Episode depresif ringan: 2 gejala utama + 2 gejala lain > 2

minggu

Episode depresif sedang: 2 gejala utama + 3 gejala lain, >2

minggu.

Episode depresif berat: 3 gejala utama + 4 gejala lain > 2 minggu. Jika gejala amat berat & awitannya cepat,

diagnosis boleh ditegakkan meski kurang dari 2 minggu.

Episode depresif berat dengan gejala psikotik: episode

depresif berat + waham, halusinasi, atau stupor depresif.

PPDGJ

DSM-IV Criteria

DSM-IV Criteria

Terapi Depresi

Sasarannya adalah perubahan biologis/efek

berupa mood pasien.

Karena mood pasien dipengaruhi kadar

serotonin dan nor-epinefrin di otak, maka

tujuan pengobatan depresi adalah modulasi

serotonin dan norepinefrin otak dengan agen- agen yang sesuai.

Dapat berupa terapi farmakologis dan non

farmakologis.

Terapi Non Farmakologis

PSIKOTERAPI

interpersonal therapy: berfokus pada konteks sosial depresi dan hub pasien dengan orang lain

cognitive - behavioral therapy „: berfokus pada mengoreksi pikiran negatif, perasaan bersalah yang tidak rasional dan

rasa pesimis pasien

ELECTROCONVULSIVE THERAPY (ECT): aman dan

efektif, namun masih kontroversial „

diindikasikan pada : ™depresi yang berat ™diperlukan respons

yang cepat, ™™respon terhadap obat jelek

Terapi Farmakologis

Terapi Farmakologis

Dosis Obat Antidepresan

Dosis Obat Antidepresan

BABY BLUES

GANGGUAN PSIKIATRI POST PARTUM

Post partum blues

Sering dikenal sebagai baby blues

Mempengaruhi 50-75% ibu setelah proses melahirkan

Sering menangis secara terus-menerus tanpa sebab yang pasti dan mengalami kecemasan

Berlangsung pada minggu pertama setelah melahirkanbiasanya kembali normal setalah 2 minggu tanpa penanganan khusus

Tindakan yang diperlukanmenentramkan dan membantu ibu

Post partum Depression

Kondisi yang lebih serius dari baby blues

Mempengaruhi 1 dari 10 ibu baru

Mengalami perasaan sedih, emosi yang

meningkat, tertekan, lebih sensitif, lelah, merasa

bersalah, cemas dan tidak mampu merawat diri

dan bayi

Timbul beberapa hari setelah melahirkan sampai

setahun sejak melahirkan

Tatalaksanapsikoterapi dan antidepresan

Postpartum Psychosis

Kondisi ini jarang terjadi

1 dari 1000 ibu yang melahirkan

Gejala timbul beberapa hari dan berlangsung

beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah

melahirkan

Agitasi, kebingungan, hiperaktif, perasaan hilang

harapan dan malu, insomnia, paranoia, delusi, halusinasi, bicara cepat, mania Tatalaksanaharus segera dilakukan, dapat membahayakan diri dan bayi

Baby Blues vs Postpartum Depression

CHARACTERISTIC

BABY BLUES

POSTPARTUM MAJOR

DEPRESSION

Duration

Less than 10 days

More than two weeks

Onset

Within two to three days

Often within first month;

postpartum

may be up to one year

Prevalence

80 percent

5 to 7 percent

Severity

Mild dysfunction

Moderate to severe dysfunction

Suicidal ideation

Not present

May be present

Tatalaksana Postpartum Depression

Tatalaksana utama: PSIKOTERAPI

Tatalaksana farmakologis terutama digunakan untuk

depresi sedang dan berat.

Drug of choice: antidepresan golongan SSRI

Pada ibu menyusui, secara umum antidepresan dapat

ditemukan dalam ASI. Namun pada penggunaan Sertraline, Paroxetine, dan Nortryptiline, kadar obat tidak terdeteksi dalam serum bayi. Sedangkan penggunaan Fluoxetine dan Citalopram terdeteksi dalam serum bayi namun dalam kadar

yang sangat rendah dan secara umum tidak menimbulkan

bahaya bagi bayi.

Postpartum Depression, Am Fam Physician. 2010 Oct 15;82(8):926-933

Dosis Obat Golongan SSRI pada Postpartum Depression

 

USUAL

 

STARTING

TREATMENT

MAXIMAL

ADVERSE

DRUG

DOSAGE

DOSAGE

DOSAGE

EFFECTS

Selective serotonin reuptake inhibitors

 

Citalopram

10

mg

20 to 40 mg

60 mg

Headache,

(Celexa)

nausea,

Escitalopram

(Lexapro)

5 mg

10 to 20 mg

20 mg

diarrhea,

sedation,

insomnia,

 

Fluoxetine

10

mg

20 to 40 mg

80 mg

tremor,

(Prozac)

nervousness,

Paroxetine

10

mg

20 to 40 mg

50 mg

loss of libido,

(Paxil)

delayed

Sertraline

25 mg

50 to 100 mg

20

orgasm

(Zoloft)

BIPOLAR

GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Gangguan mood
Gangguan
mood
1 atau lebih episode mania atau hipomania
1 atau lebih
episode
mania atau
hipomania
1 atau lebih episode Gangguan afektif depresi bipolar
1 atau lebih
episode
Gangguan
afektif
depresi
bipolar

Dengan/ tanpa

psikosis?

Episode kini

manik/ depresi?

1 atau lebih episode Gangguan afektif depresi bipolar Dengan/ tanpa psikosis? Episode kini manik/ depresi?

Pedoman Diagnosis Gangguan Bipolar

(PPDGJ-III)

Ditandai setidaknya 2 episode yang menunjukkan

pada 1 waktu tertentu terjadi peninggian mood

dan energi (mania/hipomania), dan pada 1 waktu

lain berupa penurunan mood dan energi

(depresi).

Ada periode penyembuhan sempurna antar

episode.

Manik terjadi tiba-tiba, lamanya antara 2 minggu-

5 bulan.

Depresi biasanya terjadi selama 6 bulan-1 tahun.

Episode Manik (DSM-IV)

Episode Manik (DSM-IV)

Bipolar Tipe I dan II

Gangguan bipolar Bipolar tipe I Bipolar tipe II 1 atau lebih episode manik, dapat disertai
Gangguan bipolar
Bipolar tipe I
Bipolar tipe II
1 atau lebih
episode manik,
dapat disertai
Pada pria dan
wanita
Episode depresi
berulang dan
episode
Lebih sering pada
wanita
gejala psikotik
hipomanik

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17696573

Bipolar tipe I dan II

Bipolar tipe I dan II Keterangan: Pada bipolar tipe II, episode peningkatan mood lebih ke arah

Keterangan:

Pada bipolar tipe II, episode peningkatan

mood lebih ke arah

hipomanik.

Pada bipolar tipe I,

episode peningkatan mood lebih berlebihan

(full-blown manik, bisa

disertai dengan gejala psikotik)

http://www.medscape.com/viewarticle/754573

Tatalaksana: Mood Stabilizer

Tatalaksana: Mood Stabilizer

Tatalaksana Gangguan Bipolar

FASE AKUT (DOC: Lithium)

Manik

Lithium, atau

Asam valproat

Depresi

Lithium, atau

Lamotrigine

Monoterapi dengan

antidepresan tidak

direkomendasikan

Gejala psikotik

Antipsikotik, diutamakan golongan atipikal

MAINTENANCE

Lithium atau Asam valproat, setidaknya selama 6 bulan.

Antipsikotik perlu diteruskan

bila pasien cenderung memiliki risiko mengalami gejala psikotik

berulang

Psikoterapi

Electroconvulsive therapy (ECT)

American Psychiatric Association, 2010

OBAT ANTI-MANIA

Sinonim: mood modulator,

mood stabilizer, antimanic

Obat acuan: Lithium

Carbonate

Sindrom mania:

tingginya kadar serotonin

pada sistem limbik

supersensitivitas reseptor dopamin.

Mekanisme Lithium

Carbonate:

meningkatkan aktivitas

kolinergik-muskarinik dan

menghambat cAMP mengurangi supersensitivitas reseptor dopamin.

Efek samping dini (Lithium

serum 0,8-1,2 mEq/L):

mulut kering, haus, GI

distress, kelemahan otot,

poliuri, tremor halus

lainnya: hipotiroid,

peningkatan berat badan,

edema tungkai, ‘metalic taste’, leukositosis,

gangguan daya ingat dan

konsentrasi

PENGATURAN DOSIS

Onset efek primer: 7-10

hari

Lithium Carbonate

dosis awal: 250-500 mg/h (1-

2x/hari)

dosis optimal 1000-1500 mg/h (dipertahankan 2-3 bulan)

Sindrom mania akut:

diteruskan sampai lebih dari 6 bulan, lalu tapering off

Gangguan afektif unipolar

atau bipolar:

diteruskan sampai beberapa

tahun , penggunaan jangka panjang dengan dosis

minimum

ANXIETAS

Afek Depresi vs Ansietas

Anxiety

Depression

Characterized by a sense of doubt and vulnerability about future

Feeling sad, and/or hopeless

Lack of interest and enjoyment in

events.

activities that used to be fun and

Fear that those future prospects will be bad.

interesting

Physical aches and pains without

Anxious thoughts

physical cause; lack of energy

Unexplained physical sensations (sweating, trembling, palpitation, dyspnea, etc)

Difficulty concentrating, remembering, and/or making decisions

Avoidant or self protective behaviors

Changes in appetite and weight

Unwelcome changes in usual sleep

pattern

Thoughts of death and suicide

GEJALA

ANSIETAS

GEJALA ANSIETAS

Diagnosis

Gangguan panik

Gangguan fobik

Gangguan

penyesuaian

Gangguan cemas menyeluruh

Ansietas

Characteristic

Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.

Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa adanya

provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan yang relatif bebas dari gejala di antara serangan panik.

Tanda fisis:Takikardia, palpitasi, dispnea, dan berkeringat.

Serangan umumnya berlangsung 20-30 menit, jarang melebihi 1 jam. Tatalaksana: terapi kognitif perilaku + antidepresan.

Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau situasi,

antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit, cedera, dan kematian.

Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.

Ansietas berlebih terus menerus berlangsung setiap hari sampai bbrp minggu disertai Kecemasan (khawatir akan nasib buruk), ketegangan motorik (gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).

Gangguan panik

Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan

perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.

Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa

adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan

yang relatif bebas dari gejala di antara serangan panik

Tanda fisis:

Takikardia, palpitasi, dispnea, dan berkeringat.

Serangan umumnya berlangsung 20-30 menit, jarang

melebihi 1 jam.

Tatalaksana: terapi kognitif perilaku + antidepresan.

PPDGJ

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Tatalaksana Gangguan Panik

Cognitive-Behavioral Therapy

This is a combination of cognitive therapy

Cognitive therapymodify or eliminate

thought patterns contributing to the

patient’s symptoms

Behavioral therapyaims to help the patient to change his or her behavior.

Cognitive-behavioral therapy generally

requires at least eight to 12 weeks

Some people may need a longer time in treatment to learn and implement the skills

Treatment i n Emergency Departement

Oral benzodiazepine

Iv medication, e.x. Lorazepam

Sometimes beta blockers are used to reduce anxiety

http://www.aafp.org/afp/2005/0215/p733.html

Medication

SSRIs

the first line of medication treatment for panic

 

disorder

Tricyclic antidepressants

High-potency benzodiazepines

Ex: Clonazepam

may cause depression and are associated with

 

adverse effects during use and after discontinuation of therapy

 

Poorer outcome and global functioning than antidepresant

monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)

Combination Therapy

Psychodynamic therapy

help to relieve the stress that contributes to panic attacks, they do not seem to stop the attacks directly

Ven XR :Venlafaxine extended release • SNRI : Serotonin norephinephrine reuptake inhibitor

Ven XR :Venlafaxine extended release

SNRI : Serotonin norephinephrine

reuptake inhibitor

http://www.currentpsychiatry.com/home/article/panic-

disorder-break-the-fear-

circuit/990b7a325883ba278cdf8e46222a61f9.html

Pedoman Diagnosis Fobia Spesifik

Pedoman Diagnosis Fobia Spesifik DSM-IV-TR

DSM-IV-TR

Beberapa Jenis Fobia Spesifik yang Sering Ditemui

FOBIA

FOBIA TERHADAP:

Arachnofobia

Laba-laba

Aviatofobia

Terbang

Klaustrofobia

Ruang tertutup

Akrofobia

Ketinggian

Astrafobia/ brontofobia

Badai-Petir

Nekrofobia

Kematian

Aichmofobia

Jarum suntik atau benda tajam lainnya

Androfobia

Laki-laki

Tatalaksana Fobia Spesifik

Medikamentosa

Tidak terlalu berperan

Obat yang digunakan: short actiing benzodiazepine pada

kondisi yang sudah dapat diduga akan terjadi fobia.

Contoh: pada pasien fobia ketinggian, dapat diberikan diazepam sesaat sebelum akan naik pesawat.

Cognitive Behavior Therapy

Terapi kognitif: pasien fobia dibantu mengendalikan pikiran negatifnya mengenai hal yang menjadi fobianya dan dibantu melihat situasi sesuai dengan realita.

Terapi perilaku: dengan terapi desensitisasi

Terapi desensitisasi merupakan terapi paling spesifik dan

efektif untuk fobia spesifik.

Terapi Desensitisasi

Desentisasi yaitu suatu cara untuk mengurangi

rasa takut atau cemas pasien dengan jalan

memberikan rangsangan yang membuatnya takut

atau cemas sedikit demi sedikit rangsangan tersebut diberikan terus, sampai pasien tidak

takut atau cemas lagi.

Menggunakan prinsip counterconditioning, yaitu

respons yang tidak diinginkan digantikan dengan

tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil latihan

yang berulang-ulang.

PEDOMAN DIAGNOSIS

GANGGUAN CEMAS MENYELURUH (PPDGJ-III)

Penderita harus menunjukan anxietas sebagai gejala primer yg

harus berlangsung setiap hari untuk beberapa minggu sampai

beberapa bulan.

Gejala tersebut mencakup unsur-unsur:

Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seprti diujung tanduk dan nasib buruk)

Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak santai)

Overaktivitas otonomik (kepala terasa sakit, keringatan, jantung berdebar-debar, sesak napas, kelujhan lambung, pusing kepala)

Pada anak-anak sering terlihat kebutuhan berlebihan untuk

ditenangkan & keluhan somatik berulang yg menonjol.

Adanya gejala lain yg sifatnya sementara, khususnya untuk depresi,

tidak membatalkan diagnosis utama gangguan cemas menyeluruh

selama tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif.

Tatalaksana

Gangguan

Cemas

Menyeluruh

Tatalaksana Gangguan Cemas Menyeluruh

OBSESSIVE COMPULSIVE

GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF

(F42)

PEDOMAN DIAGNOSIS PPDGJ-III:

Untuk menegakkan diagnosis pasti gejala

obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-

duanya harus ada hampir setiap hari selama

sedikitnya 2 minggu berturut-turut.

Hal tersebut merupakan sumber penderitaan

(distress) atau menganggu aktivitas penderita.

Gejala obsesif mencakup:

Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri;

Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak

berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi

dilawan oleh penderita.

Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan untuk merupakan hal yang memberi kepuasan

atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari

ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai

kesenangan seperti dimaksud diatas);

Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus

merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan

(unpleasantly repetitive).

Tipe Gangguan Obsesif Kompulsif (1)

OCD tipe Checking ketakutan irasional yang membuat pasien terobsesi untuk memeriksa

sesuatu berulang-ulang.

OCD tipe Contamination ketakutan terkena

penyakit dan mati pada diri sendiri dan orang

yang dicintai. Contoh:kebiasaan cuci tangan berkali-kali karena takut kuman.

OCD tipe Hoarding penderita mengumpulkan

barang yang tidak berharga karena takut akan

terjadi hal-hal buruk jika barang tersebut

dibuang.

Tipe Gangguan Obsesif Kompulsif (2)

OCD tipe Rumination pasien memikirkan

pikiran-pikiran yang tidak produktif tetapi

berulang-ulang. Contohnya preokupasi

tentang kehidupan setelah kematian.

OCD tipe symmetry dan orderliness pasien

terfokus untuk mengatur semua obyek sejajar,

urut, dan simetris.

Tatalaksana Gangguan Obsesif Kompulsif

Tatalaksana Gangguan Obsesif Kompulsif Koran LM, Hanna GL, Hollander E, Nestadt G, Simpson HB, for the

Koran LM, Hanna GL, Hollander E, Nestadt G, Simpson HB, for the American Psychiatric Association. Practice guideline for the treatment of patients with obsessive-compulsive disorder. Am J Psychiatry. 2007;164(7 suppl):553.

Tatalaksana Medikamentosa Gangguan Obsesif Kompulsif

SRI

STARTING DOSAGE (MG PER DAY)

TARGET DOSAGE (MG PER DAY)

MAXIMAL DOSAGE (MG PER DAY)

Citalopram

20

40 to 60

80

(Celexa)

Escitalopram

10

20

40

(Lexapro)

Fluoxetine

20

40 to 60

80

(Prozac)*

Fluvoxamine*

50

200

300

Paroxetine

20

40 to 60

60

(Paxil)*

Sertraline (Zoloft)*

50

200

200

GANGGUAN MAKAN

GANGGUAN MAKAN

ANOREKSIA NERVOSA (PPDGJ III)

Menolak mempertahankan berat badan pada atau diatas berat badan normal minimal menurut usia dan tinggi badan (misalnya, menurunkan berat badan untuk mempertahankan

berat badan kurang dari 85% yang diharapkan; atau kegagalan untuk menaikan berat badan

yang diharapkan selama periode pertumbuhan, menyebabkan berat badan kurang dari 85%

dari yang diharapkan).

Ketakutan yang kuat mengalami kenaikan berat badan atau menjadi gemuk, walaupun

sesungguhnya memiliki berat badan kurang.

Gangguan dalam cara memandang berat atau bentuk badannya sendiri; berat badan atau bentuk badan yang tidak pantas atas dasar pemeriksaan sendiri, atau menyangkal keseriusan berat badannya yang rendah.

Pada wanita pascamenarki, amenore yaitu tidak ada sekurangnya tiga siklus menstruasi berturut-turut (seorang wanita dianggap mengalami amenore jika periodenya timbul hanya setelah pemberian hormon, misalnya, estrogen)

BULIMIA NERVOSA (PPDGJ III)

1.

Terdapat perokupasi yang menetap untuk makan dan ketagihan (craving)

terhadap makanan yang tidak bisa dilawan, penderita tidak berdaya terhadap

datangnya episode makan berlebihan, dimana makanan dalam jumlah yang besar dimakan dalam waktu singkat.

2.

Pasien berusaha melawan efek kegemukan dengan salahs atu cara atau lebih seperti merangsang muntah sendiri, menggunakan pencahar secara

berlebihan, puasa berkala, memakai obat-obatan penekan nafsu makan,

sediaan tiroid atau diuretik. Jika terjadi pada penderita diabetes, mereka

akan mengabaikan pengobatan insulinnya.

3.

Gejala psikopatologi terdiri atas ketakutan yang luar biasa akan kegemukan

dan penderita mengatur sendiri batasan yang ketat dari ambang berat badannya sangat di bawah berat badan sebelum sakit yang dianggap berat

badan sehat atau optimal. Seringkali, tetapi tidak selalu, ada riwayat episode

anoreksia nervosa sebelumnya, interval antara kedua gangguan tersebut

berkisar antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Episode sebelumnya ini dapat terungkap atau dalam bentuk ringan yang tersembunyi dengan kehilangan berat badan yang sedang dan/ atau suatu fase sementara dari

amenore.

Anorexia

vs

Bulimia

Anorexia vs Bulimia

GANGGUAN MENTAL SESUDAH

TRAUMA

GANGGUAN MENTAL SESUDAH TRAUMA/

STRESS BERAT (F43)

GANGGUAN MENTAL SESUDAH TRAUMA/ STRESS BERAT (F43)

GANGGUAN MENTAL SESUDAH TRAUMA

Gangguan

Karaktristik

Reaksi stres akut

Kesulitan berkonsentrasi, merasa terlepas dari tubuh,

mengingat detail spesifik dari peristiwa traumatik (prinsipnya gejala serupa dengan PTSD), terjadinya beberapa jam setelah

kejadian traumatis, dan paling lama gejala tersebut bertahan

selama 1 bulan.

Reaksi stres pasca trauma

Adanya bayang-bayang kejadian yang persisten, mengalami

(Post traumatic stress disorder/ PTSD)

gejala penderitaan bila terpajan pada ingatan akan trauma aslinya, menimbulkan hendaya pada kehidupan sehari-hari.

Gejala terjadi selama 1-6 bulan.

Diagnosis Post Traumatic Stress Disorder

(PTSD)

Diagnosis Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) • Diagnosis baru bisa ditegakkan apabila gangguan stres pasca trauma

Diagnosis baru bisa ditegakkan apabila gangguan stres

pasca trauma ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat.

Gejala yang harus muncul sebagai bukti tambahan selain trauma bahwa seseorang telah mengali gangguan ini adalah:

1. Individu tersebut mengalami mimpi-mimpi atau bayang-

bayang dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-

ulang kemabali (flashback)

2. Muncul gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan

tingkah laku, gejala ini mungkin saja mewarnai hasil

diagnosis akan tetapi sifatnya tidak khas.

PPDGJ-III

Reaksi Stres Akut vs PTSD vs Gangguan Penyesuaian

 

Reaksi Stres Akut

Ggn. Penyesuaian

PTSD

Tipe stresor

Berat (kejadian traumatis,

Ringan-sedang

Berat (kejadian traumatis,

kehilangan orang

kehilangan orang

terdekat)

terdekat)

Waktu antara

Beberapa hari

Maksimal 3 bulan

Bisa bertahun-

stresor dan timbulnya gejala

hingga maksimal 4 minggu

tahun

Durasi gejala

Maksimal 1 bulan

Maksimal 6 bulan setelah stresor

>1 bulan

berakhir

GANGGUAN PENYESUAIAN (F43) (DSM-IV)

GANGGUAN PENYESUAIAN (F43) (DSM-IV)

Klasifikasi (DSM-IV)

Adjustment disorder with depressed mood

Adjustment disorder with anxiety

Adjustment disorder with mixed anxiety and

depressed mood

Adjustment disorder with disturbance of conduct

Adjustment disorder with mixed disturbance of

emotions and conduct

Adjustment disorder, Unspecified

Tatalaksana Gangguan Penyesuaian

Tatalaksana utama: PSIKOTERAPI

Terapi keluarga

Terapi relaksasi

Cognitive behavior therapy

Terapi medikamentosa dengan antidepresan.

DOC: Antidepresan SSRI (Fluoxetine)

GANGGUAN SOMATOFORM

GANGGUAN SOMATOFORM (F45)

Diagnosis

Karakteristik

Gangguan somatisasi

Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1

seksual, 1 pseudoneurologis).

Hipokondriasis

Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik somatoform

Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat, tremor, flushing.

Nyeri somatoform

Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik

Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya

Tubuh

Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,

perhatian pasien pada kelainan tersebut akan dilebih-lebihkan

PPDGJ

Kriteria Diagnosis Somatisasi

A.

Keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun, terjadi selama periode beberapa tahun

B.

Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan:

4 gejala (G) nyeri: sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)

2 G gastrointestinal: sekurangnya dua gejala selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama

kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)

1 G seksual: sekurangnya satu gejala selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).

1 G pseudoneurologis: sekurangnya satu gejala atau deficit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak

terbatas pada nyeri (gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis, sulit menelan, retensi urin, halusinasi,

hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).

C.

Salah satu (1)atau (2):

Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)

Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.

D.

Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).

Referensi: PPDGJ-III

Gangguan Dismorfik Tubuh (DSM-5)

Gangguan Dismorfik Tubuh (DSM-5)

Bedanya dengan Psikosomatis, Gangguan Konversi, Malingering, Factitious disorder

Kelainan

Karakteristik

Psikosomatis

Pada gangguan psikosomatis, ada keluhan dan ditemukan

keabnormalan pada pemeriksaan. Namun penyebabnya adalah

masalah psikis.

Gangguan Konversi

Adanya satu atau beberapa gejala neurologis (misalnya buta, lumpuh

anestesi, amnesia, dll) yang tidak dapat dijelaskan dengan penjelasan

medis maupun neurologis yang ada.

Malingering

Berpura-pura sakit atau melebih-lebihkan kondisi fisik yang sudah ada sebelumnya dengan tujuan untuk mendapatkan kompensasi tertentu (misalnya untuk mendapatkan cuti kerja).

Factitious disorder/ Munchhausen syndrome

Berpura-pura sakit atau membuat dirinya sakit. Namun hal ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan perhatian/ simpati dari orang lain saja.

NYERI PSIKOGENIK/ NYERI SOMATOFORM (DSM-IV)

Pain in one or more anatomical sites is the predominant

focus of the clinical presentation and is of sufficient severity to warrant clinical attention.

The pain causes clinically significant distress or impairment

in social, occupational, or other important areas of functioning.

Psychological factors are judged to have an important role in the onset, severity, exacerbation, or maintenance of the

pain.

The symptom or deficit is not intentionally produced or feigned

The pain is not better accounted for by a Mood, Anxiety, or

Psychotic Disorder and does not meet criteria for Dyspareunia.

Gangguan Hipokondriasis

Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:

Keyakinan yang menetap adanya sekurang-

kurangnya 1 penyakit fisik yang serius,

meskipun pemeriksaan yang berulang tidak

menunjang

Tidak mau menerima nasehat atau dukungan

penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit/abnormalitas fisik

PPDGJ-III

KONVERSI vs SOMATISASI vs HIPOKONDRIASIS vs NYERI SOMATOFORM

Conversion Disorder - Neurological symptoms without a neurological

explanation. This diagnosis is restricted to motor and sensory symptoms.

Include Numbness, paralysis, seizure, blindness, etc. May be preceded by an acute stressor.

Somatization disorder - A patient who consistently complains of a variety of physical symptoms without a physiological explanation. The DSM

requires that the onset must be before age 30, that there is pain in at least

4 different parts of the body, 2 GI problems (not including pain), one sexual symptom, and one neurological symptom.

Hypochondriasis - Excessive preoccupation or worry about illness that persists even after evaluation by a physician is negative. Fears that minor symptoms are indicative of a serious condition.

Pain Disorder - chronic pain in one or more area that cannot be otherwise explained.

PERVASIVE DEVELOPMENTAL

DISORDER

PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (PDD)

mild severe
mild
severe

Asperger’s

PDD Not

Autistic

Rett’s disorder

Childhood

disorder

Otherwise

disorder

disintegrative

Classified

disorder

(PDD-NOS)

Otherwise disorder disintegrative Classified disorder (PDD-NOS) Autism spectrum disorder (ASD)

Autism spectrum disorder (ASD)

Autism Spectrum Disorder (ASD)

Autism Spectrum Disorder (ASD)

Asperger, PDD-NOS, Autism

PDD-NOS

Autism

Asperger

Impaired social interaction

Impaired social interaction

Impaired social interaction

OR

AND

AND

Impaired communication

Impaired communication

Normal communication/ language development

OR

AND

AND

Restricted repetitive and stereotyped patterns or behaviors

Restricted repetitive and stereotyped patterns or behaviors

Restricted repetitive and stereotyped patterns or behaviors

Rett Syndrome (DSM-IV)

Rett Syndrome (DSM-IV)

Childhood Disintegrative Disorder (DSM-IV)

Childhood Disintegrative Disorder (DSM-IV)

ADHD

Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)

a pattern of diminished sustained attention and

higher levels of impulsivity in a child or adolescent

The diagnosis of ADHD is based on the consensus

of experts that three observable subtypes:

inattentive,

hyperactive/impulsive, or

combined are all manifestations of the same disorder.

Jenis-jenis ADHD

Jenis-jenis ADHD

RETARDASI MENTAL

Retardasi mental merupakan suatu penurunan

fungsi intelektual secara menyeluruh yang

terjadi pada masa perkembangan dan

dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial

(AAMD).

3 komponen utama yang terganggu:

penurunan fungsi intelektual, adaptasi sosial,

dan masa perkembangan.

Ringan

Masih dapat dididik (educable)

Komunikasi sehari-hari masih baik

Masih dapat merawat diri secara independen (makan, mandi, mencuci)

Kesulitan utamanya pada pekerjaan akademik di sekolah

(terutama membaca dan menulis)

Retardasi mental yang dapat dilatih (trainable)

Keterlambatan pemahaman dan penggunaan bahasa

Kemampuan motorik dan kemampuan merawat diri

terbatas, butuh pengawasan

Kemampuan sekolah terbatas

Sedang

Berat

Kemampuan serupa dengan RM sedang

Pada kelompok ini, kemampuan motorik sangat terbatas

Umumnya disertai defisit neurologis

Sangat terbatas untuk mengerti instruksi

Sangat terbatas dalam mobilitas

Hanya mampu komunikasi non verbal yang sederhana

Sangat

Berat

Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000

Mental Retardation

Mental Retardation Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Klasifikasi Retardasi Mental Berdasarkan IQ

Klasifikasi Retardasi Mental Berdasarkan IQ http://pedsinreview.aappublications.org/content/27/6/204.full American

http://pedsinreview.aappublications.org/content/27/6/204.full

American Association on

Mental

Retardation

(AAMR)

PPDGJ-III

Ketentuan subtipe retardasi mental meliputi:

F70: Ringan (IQ 50-69)

F71: Sedang (IQ 35-49)

F72: Berat (IQ 20-34)

F73: Sangat Berat (<20)

PARAFILIA & SEXUAL DYSFUNCTION

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

SEXUAL DISORDER (PARAFILIA)

Diagnosis

Karakteristik

Fetishism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the

use of nonliving objects (e.g., female undergarments).

Frotteurism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving touching and rubbing against a nonconsenting person.

Masochism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the act (real, not simulated) of being humiliated, beaten, bound, or

otherwise made to suffer.

Sadism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving acts

(real, not simulated) in which the psychological or physical suffering (including humiliation) of the victim is sexually exciting to the person.

Voyeurism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving the act of observing an unsuspecting person who is naked, in the process

of disrobing, or engaging in sexual activity.

Necrophilia

Necrophilia is an obsession with obtaining sexual gratification from

cadavers.

Diagnosis

Karakteristik

Pedophilia

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving sexual attraction to prepubescent children (generally 13 years or

younger) and the pedophilia must at least 16 years or older and at

least 5 years older than the child

Eksibisionis

Seseorang yang selalu ingin memperlihatkan kemaluannya/genital

kepada orang lain (biasanya orang asing) untuk mendapatkan

kepuasan seksual

Sexual Dysfunction

Sexual desire disorders

Hypoactive Sexual Desire Disorder (HSDD);

Persistently or recurrently deficient (or absent) sexual

fantasies and desire for sexual activity

Sexual Aversion Disorder (SAD)

Persistent or recurrent extreme aversion to, and avoidance of,

all (or almost all) genital sexual contact with a sexual partner.

Sexual arousal disorders

Female Sexual Arousal Disorder (FSAD)

Persistent or recurrent inability to attain, or to maintain until completion of the sexual activity, an adequate lubrication- swelling response of sexual excitement.

Male Erectile Disorder

Persistent or recurrent inability to attain, or to maintain until completion of the sexual activity, an adequate erection.

Sexual Dysfunction

Orgasmic disorders

Female Orgasmic Disorder (Inhibited Female Orgasm)

Male Orgasmic Disorder (Inhibited Male Orgasm): sometimes called

inhibited orgasm or retarded ejaculation, a man achieves ejaculation

during coitus with great difficulty

Premature Ejaculation

Sexual pain disorders

Dyspareunia: recurrent or persistent genital pain associated with sexual intercourse.

Vaginismus: involuntary muscle constriction of the outer third of the

vagina that interferes with penile insertion and intercourse.

Sexual dysfunction due to general medical condition

Substance-Induced Sexual Dysfunction

With impaired desire/With impaired arousal/With impaired orgasm/With

sexual pain/With onset during intoxication

Disfungsi Seksual

Disfungsi Seksual

DEMENSIA & DELIRIUM

DEMENSIA

Pedoman diagnostik demensia (PPDGJ III):

Adanya penurunan kemampuan daya ingat dan

daya pikir, yang sampai mengganggu kegiatan

harian seseorang (personal activities of daily

living) seperti : mandi, berpakaian, makan,

kebersihan diri, buang air besar dan kecil.

Tidak ada gangguan kesadaran (clear

consciousness)

Gejala dan disabilitas sudah nyata untuk paling

sedikit 6 bulan

Klasifikasi Demensia Berdasarkan Etiologinya

Demensia pada penyakit Alzheimer

• Demensia vaskular

• Demensia pada penyakit Pick

• Demensia pada penyakit Creutfeld-Jacob

• Demensia pada penyakit Huntington

• Demensia pada Penyakit Parkinson

• Demensia pada Penyakit HIV/AIDS

Demensia tipe Alzheimer prevalensinya paling besar (50-

60%), disusul demensia vaskular (20-30%).

Tanda dan Gejala Awal Demensia Alzheimer

Tanda dan Gejala Awal Demensia Alzheimer American Academy of Neurology, 2012

American Academy of Neurology, 2012

Deteksi Dini Demensia

Dengan menggunakan mini mental state

examination (MMSE)/ Folstein test.

Interpretasi skor MMSE:

(MMSE)/ Folstein test. • Interpretasi skor MMSE: – 24-30: kognitif normal – 19-23: mild cognitive

24-30: kognitif normal

19-23: mild cognitive impairment

10-18: moderate cognitive impairment

<=9: severe cognitive impairment

Demensia

Practical Guidelines for the Recognition and Diagnosis of Dementia, J Am Board Fam Med May-June 2012 vol. 25 no. 3 367-382

Demensia Alzheimer vs Demensia Vaskuler

Pasien demensia

vaskuler relatif memiliki

memori verbal jangka

panjang yang lebih baik

tetapi fungsi eksekutif

lobus frontal lebih

buruk dibandingkan

pasien dengan

demensia Alzheimer.

Skor demensia oleh Loeb dan Gondolfo

Mulanya mendadak

2

Mulanya riwayat stroke

1

Gejala fokal neurologi

2

Keluhan fokal

2

CT scan: daerah hipodens tunggal

2

CT scan: daerah hipodens multipel 3

Interpretasi:

Skor 0-2 demensia Alzheimer Skor 5-10 demensia vaskuler

Demensia vs Pseudodemensia

Pseudodemensia merupakan penurunan fungsi kognitif yang

terjadi sementara akibat adanya gangguan psikiatri yang mendasari (biasanya depresi)

terjadi sementara akibat adanya gangguan psikiatri yang mendasari (biasanya depresi) http://www.encephalos.gr/48-3-07e.htm

http://www.encephalos.gr/48-3-07e.htm

DELIRIUM

Delirium: kesadaran fluktuatif, ditandai dengan kesulitan memfokuskan,

mempertahankan, dan mengalihkan perhatian .

Pedoman diagnostik:

Gangguan kesadaran & perhatian

Gangguan kognitif (distorsi persepsi, halusinasi, hendaya daya pikir, daya ingat, disorientasi)

Gangguan psikomotor: hipo/hiperaktivitas

Gangguan siklus tidur-bangun

Gangguan emosional: depresi, ansietas, lekas marah

Onset cepat, hilang timbul, kurang dari 6 bulan

Penyebab:

SSP: kejang (postictal)

Metabolik: gangguan elektrolit, hipo/hiperglikemia

Penyakit sistemik: infeksi, trauma, dehidrasi/ovehidrasi

Obat-obatan

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.

Diagnosis Delirium (DSM-IV)

Diagnosis Delirium (DSM-IV)

Delirium Subtype

Hyperactive subtype

May be agitated, disoriented, and delusional, and may experience hallucinations. This presentation can be confused with that of

schizophrenia, agitated dementia, or a psychotic disorder.

Hypoactive subtype

Subdued, quietly confused, disoriented, & apathetic. Delirium in

these patients may go unrecognized or be confused with depression or dementia.

Mixed subtype Fluctuating between the hyperactive &hypoactive

Delirium. Ondria C, Gleason MD., University of Oklahoma College of Medicine, Tulsa, Oklahoma. Am Fam Physician. 2003

Mar 1;67(5):1027-1034.

Diagnosis Banding Delirium

Diagnosis

Karakteristik

Delirium

cognitive changes develop acutely and fluctuate. Speech can be confused or disorganized. Alertness and attention wax and wane

Dementia

insidious onset, chronic memory and executive function disturbance, tends not

to fluctuate. Intact alertness and attention but impoverished speech and thinking

Schizofrenia

Onset is rarely after 50. Auditory hallucinations are much more common than

visual hallucinations. Memory is grossly intact and disorientation is rare.

Speech is not dysarthric. No wide fluctuations over the course of a day

Mood

Manifest persistent rather than labile mood with more gradual onset. In mania

disorder

the patient can be very agitated however cognitive performance is not usually

as impaired. Flight of ideas usually have some thread of coherence unlike simple distractibility. Disorientation is unusual in mania

AGITASI

AGITASI

Definisi: Aktivitas motorik atau verbal yang

berlebih.

Dapat berupa:

Hiperaktivitas

Menyerang

Verbal abuse, memaki-maki

Gerakan tubuh dan kata-kata mengancam

Merusak barang

Berteriak-teriak

Gelisah, bicara berlebih

Kondisi Berat Agitasi

Tindakan kekerasan atau merusak

Distres berat

Mencelakai diri sendiri, keluarga, atau orang

lain

Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS-EC)

consists of 5 items: excitement, tension,

hostility, uncooperativeness, and poor impulse control.

rated from 1 (not present) to 7 (extremely

severe);

scores range from 5 to 35; mean scores ≥ 20

clinically correspond to severe agitation.

http://www.medscape.com/viewarticle/744430_2

Prinsip Tatalaksana Agitasi

Perlu diterapi segera.

Sedapat mungkin terkendali dalam waktu

3x24 jam.

Sedapat mungkin antipsikotik tunggal, kecuali

agitasi berat.

Tatalaksana Agitasi

Bila skor PANSS-EC berkisar pada skor 2-3, maka

dilakukan persuasi dan medikasi oral.

Haloperidol 2x5 mg untuk pasien dewasa

Haloperidol 0,5 mg atau Lorazepam 0,5 mg untuk anak dan

remaja

Bila skor PANSS-EC menjadi 4-5, maka dilanjutkan

dengan pemberian:

Injeksi Haloperidol 5 mg IM untuk dewasa

2,5-5 mg untuk anak usia 12 tahun ke atas

Injeksi bisa diulang setiap 30 menit. Dosis max 30 mg/hari

untuk dewasa, dan 10 mg/hari untuk anak dan remaja

Tatalaksana Agitasi

Pilihan lain: injeksi Olanzapine 10 mg IM, dapat

diulang dalam selang 2 jam sampai dosis

maksimal 30 mg/hari.

Dapat menggunakan injeksi Aripriprazole 9,75 mg

IM.

Bila hanya tersedia Diazepam injeksi, maka dapat

diberikan 10 mg iv atau IM perlahan dalam 2

menit. Dapat diulang tiap 30 menit dengan dosis max 20 mg/hari.

Sediaan Haloperidol

Sediaan Haloperidol

STAGE OF GRIEVING

Stages of Grieving

Dr.Elisabeth Kublerr-Ross

telah mengidentifikasi lima

tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien menjelang ajal Stage 5: Acceptance Stage 4: Depression
tahap berduka yang dapat
terjadi pada pasien
menjelang ajal
Stage 5:
Acceptance
Stage 4:
Depression
Stage 3:
Bargaining
Stage 2:
Anger
Stage

1:

Shock

and

Denial

1) Denial ( pengingkaran )

Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia

akan meninggal dan dia tidak dapat menerima

informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan

mungkin mengingkarinya 2) Anger ( Marah )

Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi

mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal

3) Bergaining ( tawar-menawar )

Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk hidup

4) Depetion ( depresi )

Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati. Ia sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman.

5) Acceptance ( penerimaan)

Merupakan tahap selama pasien memahami

dan menerima kenyataan bahwa ia akan

meninggal. Ia akan berusaha keras untuk

menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum

terselesaikan

GANGGUAN KEPRIBADIAN

GANGGUAN KEPRIBADIAN

GANGGUAN KEPRIBADIAN

Ciri Khas Masing-masing Gangguan Kepribadian

Gangguan Kepribadian Cluster A (ditandai dengan perilaku/ tindakan yang

eksentrik):

Paranoid: mudah curiga, sering berpikiran buruk

Skizotipal: penampilan dan kepercayaan aneh/ magis

Skizoid: introvert, suka menyendiri, afek terbatas

Gangguan Kepribadian Cluster B (orang yang cenderung emosional):

Antisosial: suka melanggar peraturan, mudah marah

Borderline/ ambang: moodnya tidak stabil, perilaku impulsive

Histrionik: ‘drama-queen’

Narsistik: hanya peduli diri sendiri, kurang empati

Gangguan Kepribadian Cluster C (orang yang cenderung mudah cemas):

Avoidant/ cemas menghindar: hipersensitif terhadap pandangan negatif orang lain

Dependen: tidak bisa mengambil keputusan sendiri, harus dirawat orang lain

Anankastik: kaku, perfeksionis, sangat taat aturan

DRUG ABUSE

OBAT PSIKOAKTIF

Secara umum, sering dibagi menjadi 3

golongan utama berdasarkan gejalanya, yaitu:

Golongan depresan

Golongan stimulan

Golongan halusinogen

Depressant

Zat yang mensupresi, menghambat dan menurunkan aktivitas CNS.

Yang termasuk dalam golongan ini adalah sedatives/hypnotics,

opioids, and neuroleptics.

Medical uses sedation, sleep induction, hypnosis, and general anaesthesia.

Contoh:

Alcohol dalam dosis rendah, anaesthetics, sleeping pills, and opioid drugs such as heroin, morphine, and methadone.

Hipnotik (obat tidur), sedatif (penenang) benzodiazepin

Effects:

Relief of tension, mental stress and anxiety

Warmth, contentment, relaxed detachment from emotional as well

as physical distress

Positive feelings of calmness, relaxation and well being in anxious

individual

Relief from pain

Stimulants

Zat yang mengaktivkan dan meningkatkan aktivitas CNS

psychostimulants

Memiliki berbagai efek fisiologis

Perubahan denyut jantung, dilatasi pupil, peningkatan TD, banyak

 

berkeringat, mual dan muntah.

 

Menginduksi kewaspadaan, agitasi, dan mempengaruhi penilaian

Penyalahgunaan kronik akan menyebabkan perubahan kepribadian

dan perilaku seperti lebih impulsif, agresif, iritabilitas, dan mudah

curiga

Contoh:

 

Amphetamines, cocaine, caffeine, nicotine, and synthetic appetite suppressants.

Effects:

feelings of physical and mental well being, exhilaration, euphoria, elevation of mood

increased alertness, energy and motor activity

postponement of hunger and fatigue

Hallucinogens (psyche delics)

Zat yang merubah dan mempengaruhi persepsi, pikiran, perasaan, dan

orientasi waktu dan tempat.

Menginduksi delusi, halusinasi, dan paranoia.

Adverse effects sering terjadi

Halusinasi yang menakutkan dan tidak menyenangkan (“bad trips”)

Post-hallucinogen perception disorder or flashbacks

Delusional disorderpersepsi bahwa halusinasi yang dialami nyata, setelah

gejala mereda

mood disorder (anxiety, depression, or mania).

Effects:

Perubahan mood, perasaan, dan pikiranmind expansion

Meningkatkan kepekaan sensorismore vivid sense of sight, smell, taste and hearing

dissociation of body and mind

Contoh:

Mescaline (the hallucinogenic substance of the peyote cactus)

Ketamine

LSD

psilocybin (the hallucinogenic substance of the psilocybe mushroom)

phencyclidine (PCP)

marijuana and hashish

Drug Abuse

Drug Abuse

GANGGUAN TIDUR

GANGGUAN TIDUR

Gangguan tidur non organik mencakup :

Disomnia: kondisi psikogenik primer dengan ciri gangguan pada jumlah, kualitas atau waktu tidur

insomnia, hipersomnia, gangguan jadwal

tidur

Parasomnia: peristiwa episodik abnormal selama tidur. Pada masa kanak ada hubungan dengan perkembagan anak, pada orang dewasa berupa

somnabulisme,