Anda di halaman 1dari 23

Teknologi dan Formulasi Sediaan Semi Solid

(Krim Asam Askorbat)

1. DASAR TEORI

1.1 Definisi Krim

· Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan
dasar yang sesuai.
· Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi
kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk
pemakaian luar.
· Secara Tradisional istilah krim digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair di formulasi sebagai emulsi air dalam minyak
(a/m) atau minyak dalam air (m/a).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk sediaan
setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar. Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah
bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut
atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Formularium Nasional, krim
adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang
dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Secara Tradisional istilah krim
digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair
di formulasi sebagai emulsi air dalam minyak (a/m) atau minyak dalam air (m/a)
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke bagian
kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut,
kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang termasuk
obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat tetes telinga,
obat wasir, injeksi, dan lainnya (Rowe, 2009).

Kualitas dasar krim, yaitu stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka
krim harus bebas dari inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan kelembaban

1
yang ada dalam kamar. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh
produk menjadi lunak dan homogen. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi
adalah yang paling mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit.Terdistribusi merata,
obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau cair pada penggunaan
(Anief, 1994).

Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi.


Biasanya komponen yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin
dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75 0C, sementara itu semua
larutan berair yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada
suhu yang sama dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara
perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk
secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah
kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan
dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental. Bila larutan
berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan
menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair
(Rowe, 2009).

1.2 Penggolongan Krim

Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-
asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air
dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Ada dua tipe krim,
yaitu (Anief, 1994):

· Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak

Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan
rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna putih dan
bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar.

· Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air

2
Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream sebagai
pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit.

1.3 Kelebihan & kekurangan sediaan krim


a. Kelebihan sediaan krim, yaitu : (Sumardjo, Damin, 2006)
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik
8. Bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup
beracun.
b. Kekurangan sediaan krim, yaitu : (Sumardjo, Damin, 2006)
1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan
panas
2. Mudah pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu
system campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan
perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara
berlebihan.

2. TINJAUAN BAHAN AKTIF


2.1 Asam Askorbat
a. Karakteristik fisika kimia
Ascorbic acid (asam askorbat) adalah salah satu senyawa kimia yang
membentuk vitamin C. Ia berbentuk bubuk kristal kuning keputihan yang larut
dalam air dan memiliki sifat-sifat antioksidan. Nama askorbat berasal dari akar
kata a- (tanpa) dan scorbutus (skurvi), penyakit yang disebabkan oleh defisiensi

3
vitamin C. Pada tahun 1937, hadiah Nobel dalam bidang kimia diberikan
kepada Walter Haworth atas hasil kerjanya dalam menentukan struktur kimia
asam askorbat. Pada saat penemuannya pada tahun 1920-an, ia disebut
sebagai asam heksuronat oleh beberapa peneliti. (Kim DO, Lee KW, Lee HJ, Lee
CY. 2002).

Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki
peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga dikenal
dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. (Davies MB,
Austin J, Partridge DA. 1991). Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan
yang mampu menangkal berbagai radikal bebas. Beberapa karakteristiknya antara
lain sangat mudah teroksidasioleh panas, cahaya, dan logam. Buah-buahan,
seperti jeruk, merupakan sumber utama vitamin ini. Berikut pemerian Asam
Askorbat: (Dirjen POM, 1979).

Sinonim : vitamin C
Berat molekul : 176,13
Rumus molekul : C6H8O6
Kelarutan : Mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95%);
praktis tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam
benzen
Pemerian : serbuk atau hablur; putih atau agak kuning; tidak berbau
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Kegunaan : Sebagai antioksidan

b. Bentuk Kimia

(http://nurnovsvt.blogspot.co.id/2016/07/)

4
c. Efek Farmakologi

Vitamin C diabsorpsi dengan mudah melalui saluran gastrointestinal dan


didistribusikan ke seluruh cairan tubuh. Ginjal akan mengekskresi vitamin C
seluruhnya, hamper tanpa perubahan. Vitamin C diperlukan untuk metabolism
karbohidrat dan protein dan sintesis lemak. Sintesis kolagen juga membutuhkan
vitamin C untuk endotel kapiler, jaringan iket, dan perbaikan jaringan, serta
jaringan osteid dari tulang. Vitamin C dalam dosis besar dapat menurunkan efek
antikoagulan oral. Kontrasepsi oral dapat menurunkan konsentrasi vitamin C
dalam tubuh. Merokok menurunkan kadar vitamin C serum. Pemakaian terapi
megavitamin, yaitu vitamin dalam dosis yang sangat besar, masih dipertanyakan.
Vitamin megadosis dapat menimbulkan toksisitas dan mungkin menimbulkan efek
yang diinginkan yang minimal. Kebanyakan pihak percaya bahwa vitamin C tidak
menyembuhkan atau mencegah flu biasa, tetapi mereka percaya bahwa vitamin C
mempunyai efek placebo.

d. Data Klinis

 Indikasi dan kontraindikasi

Krim vitamin C dapat menjaga kesehatan kulit dan menangkap radikal


bebas. Sedangkan kontraindikasi dari vitamin C yaitu untuk pasien yang
mempunyai alergi pada komponen obat tersebut.

 Efek Samping
1. Iritasi ringan
2. Gatal-gatal
3. Hipersensitivitas
 Kegunaan Vitamin C
1. Memberikan asupan vitamin C bagi tubuh
2. Mengobati dan mencegah sariawan
3. Membuat pH urin menjadi asam

5
 Peringatan

1. Bagi wanita yang berencana untuk hamil, sedang hamil, atau menyusui,
sesuaikan dosis dengan anjuran dokter.

2. Apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah penggunaan krim


vitamin C, segera temui dokter.

 Dosis Vitamin C

Dosis vitamin C yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan kondisi.


Untuk mengatasi defisiensi vitamin C, dosis biasanya berkisar antara 25-
300 mg per hari. Sedangkan untuk mencegah defisiensi vitamin C, dosis
biasanya berkisar antara 25-75 mg per hari.

e. Toksisitas

Tubuh manusia tidak pernah menyimpan vitamin C dan sehingga sangat


jarang untuk memiliki jumlah berlebihan vitamin ini dalam tubuh. Kelebihan
vitamin C diekskresikan oleh tubuh melalui urin Anda secara teratur. Gejala
overdosis vitamin C terlihat saat orang mengambil suplemen vitamin C dengan
dosis berlebihan untuk menikmati manfaat kesehatan dari sifat antioksidan
yang membawa vitamin. Anda mungkin tahu bahwa radikal bebas (molekul
yang memiliki elektron tidak berpasangan tunggal dalam kulit terluar mereka)
bertanggung jawab untuk penyakit seperti katarak, kanker, jantung dan
penyakit paru-paru. Anti oksidan mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas.
Asupan vitamin C dapat ditingkatkan kadang-kadang, dengan maksud ini.

f. Kadar dalam darah

Cara untuk mengetahui kadar vitamin C dalam tubuh ialah dengan


melakukan pemeriksaan di laboratorium di klinik atau rumah sakit. Jika serum
Anda kurang dari 0,3 mg per deciliter, maka menandakan bahwa tubuh Anda
kekurangan vitamin C. Begitu juga bila dalam bulir darah putih kadar vitamin
C-nya kurang dari 2 mg per deciliter maka akan timbul penyakit sariawan dan

6
luka pada gusi. Selain terjadinya sariawan, kekurangan vitamin C juga bisa
menyebabkan luka di tubuh yang tidak mudah disembuhkan, cepat lelah, otot
menjadi lemah, perdarahan di gusi bahkan mudah depresi.

Tubuh akan mengalami kekurangan vitamin C jika selama beberapa bulan


(antara 3-5 bulan) tidak mengonsumsi makanan yang banyak mengandung
vitamin C seperti buah-buahan atau sayuran. Seiring dengan perkembangan
zaman, untuk mencukupi kebutuhan vitamin C Anda sudah tak perlu susah
payah lagi karena banyak suplemen yang mengandung vitamin C sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh tubuh karena dibuat berdasarkan hasil ekstraksi
buah-buahan dan sayuran segar.

2.2 Span 80
- Nama Resmi : Sorbitan monooleat
- Nama Lain : Sorbitan atau span 80
- Sinonim : Sorbitan Laurate; Sorbitan Oleate; Sorbitan
Palmitate;
- Sorbitan Stearate : Sorbitan Trioleate; Sorbitan Sesquioleate.
- Rumus Molekul : C3O6H27Cl17
- Bobot Jenis : 1,01
- Pemerian : Larutan berminyak, tidak berwarna, bau
Karakteristik dari asam lemak.
- Kelaruta : Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air
dan dapat bercampur dengan alkohol sedikit
larut dalam minyak biji kapas.
- Kegunaan : Sebagai emulgator dalam fase minyak.
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
- HLB Butuh : 4,3

2.3 Cera Alba

7
- Pemerian : Padatan putih kekuningan, sedikit tembus
cahaya dalam keadaan lapis tipis, bau khas
lemah dan bebas bau tengik.
- Kelarutan : Tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam
etanol dingin. Larut sempurna dalam
kloroform dan eter juga minyak lemak.
- Konsentrasi : 1-20%
- Kegunaan : Stabilisator emulsi.
- OTT : Inkompatibel dengan zat pengoksidasi.
- Stabilitas : Stabil jika disimpan pada wadah tertutup dan
terlindung dari cahaya.
2.4 Methyl paraben
- PH : 4-8
- Stabilitas larutan PH 3-6 hingga 4 tahun dalam suhu ruang ( kuran dari 10 %
terdekomposisi )
- Pemerian : Kristal, tidak berwarna, / serbuk kristal putih,
tidak berbau, hampir tidak berbau
- Kelarutan : 1:10 dalam eter, 1:400 dalam air, 1:2 etanol,
1:60 gliserin,praktis tidak larut dalam mineral
oil
- Densitas : 1,362
- TL : 125 -128
- Kadar lazim : 0,02-0,3 ( HPE p 442 ) kadar terpilih : 0,1 %
- Fungsi : Pengawet
- OTT : Aktivitas anti mikroba nipagin dapat
berkurang dengan adanya surfaktan non ionik,
propilen glikol 10 % digunakan untuk
mempotensiasi aktivitas antimikroba,
mencegah interaksiantara nipagin dengan
surfaktan non-ionic ( hpe 6 p 443 )
2.5 Propyl paraben
- PH : 4-8
- Stabilitas larutan PH 3-6 hingga 4 tahun dalam suhu ruang ( kurang dari 10
% terdekomposisi )
- Pemerian : Kristal, tidak berwarna, / serbuk kristal
putih, tidak berbau, hampir tidak berbau

8
- Kelarutan : Sangat mudah larut dalam aseton,dan eter
1:1 dalam etanol 95 %, 1 : 3,9 dalam
propilen glikol, 1 : 2500 dalam air.
- Kadar lazim : 0,01-0,6 kadar terpilih ( HPE p 596 )
kadar terpilih 0,1 %
- Fungsi : Pengawet
- OTT : Aktivitas anti mikroba nipagin dapat
berkurang dengan adanya surfaktan non
ionik, propilen glikol 10 % digunakan
untuk mempotensiasi aktivitas
antimikroba, mencegah interaksiantara
nipagin dengan surfaktan non-ionic ( hpe
6 p. 597 )
2.6 Menthol
- Nama resmi : Mentholum
- Nama lain : Menthol
- Pemerian : Hablur berbentuk jarumatau prisma ,tidak
berwarna ;bau tajam seperti minyak
permen,rasa panas dan aromatik diikuti
rasa dingin. .
- Kelarutan : Sukar larut dalam air ,sangat mudah larut
dalam etanol ( 95%) dala kloroform P dan
dalam eter P ,mudah larut dalam parafin
cair P dan minyak atsiri.
- Khasiat : Korigen, anti iritan.
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik,ditempat sejuk.

3. BENTUK SEDIAAN TERPILIH

Alasan Pembuatan Krim Vit C Sebagian wanita sangat peduli dengan


kesehatan pada kulitnya, karena kulit merupakan organ terbesar dari tubuh.
Salah satu cara untuk merawat kulit adalah dengan mengonsumsi vitamin C.
Beberapa manfaat vitamin C untuk kulit Anda adalah membantu produksi
kolagen agar kulit Anda tetap sehat, menangkis dan mengurangi tanda-tanda
penuaan, serta kekeringan pada kulit. Oleh karena itu, di pasaran banyak

9
ditawarkan beragam produk krim atau serum vitamin C untuk kulit Anda. Hal
ini karena vitamin C diyakini dapat mencegah kerusakan akibat sinar matahari
dengan mengurangi sel-sel kulit terbakar dan mengurangi eritema
(pembesaran pembuluh darah yang ditandai dengan warna kemerahan pada
kulit) bila terkena radiasi sinar UVA dan UVB. Selain itu, penggunaan produk
yang mengandung vitamin C untuk kulit juga dapat meningkatkan produksi
kolagen dalam kulit Anda.

4. PERHITUNGAN DAN PERENCANAAN DOSIS

a. Pertakaran terkecil

Dalam tiap kemasan 20 gram terdapat 10% (0,1) Asam Askorbat

b. Perkemasan terkecil

Dalam tiap kemasan 20 gram = 0,1 gram x 3 tube = 0,3 gram

5. SPESIFIKASI PRODUK

a. Persyaratan umum sediaan

pH 5-8

Warna Putih

Viskositas 30000-70000 cps

Daya sebar 5 - 7 cm

Homogenitas Tidak terdapat butiran


partikel

b. Rencana spesifikasi sediaan

Bentuk sediaan Setengah padat

10
Kadar bahan aktif 10%

pH sediaan 5-8

Warna Putih

Daya sebar 5 - 7 cm

Viskositas 30000-70000 cps

6. RANCANGAN FORMULASI

a. Skema atau bagan alur fikir

Asam askorbat Larut aquadest Aquadest sebagai


pelarut

Span sebagai Nipagin , nipasol


Agar awet tahan lama
emulsifier (pengawet)

Agar bahan Agar cepat


menthol diabsorpsi
menyatu

b. Komponen penyusun formulasi

Zat aktif

Basis

Enhancer

Pengawet

Emulsifier

11
Pelarut

c. Pemilihan bahan komponen penyusun

Bahan Kegunaan Alasan

Asam askorbat Zat aktif Berfungsi sebagai antioksidan

Cera alba Basis Dapat meningkatkan konsistensi


krim

Menthol Enhancer Dapat memberikan sensasi


dingin pada kulit

Span 80 Emulsifier Mudah larut dalam aquadest

Nipagin Pengawet Dapat terhidrolisa pada larutan


ber pH tinggi

Nipasol Pengawet Dapat terhidrolisa oleh basa


lemah dan asam kuat

Aquadest Pelarut Dapat melarutkan semua bahan

d. Formulasi lengkap dengan kadar yang dipilih

Bahan Fungsi Konsentrasi

Asam askorbat Zat aktif 10 %

Cera alba Basis 15 %

Span 80 Emulsifier 15 %

Menthol Enhancer 5%

Nipagin Pengawet 0,1 %

Nipasol Pengawet 0,1 %

Aquadest Pelarut Ad 100 %

12
7. PERHITUNGAN DAN CARA PEMBUATAN

a. Skala kecil

1. Asam askorbat 10 % = 10/100 x 20 gram = 2


gram

2. Cera alba 15 % = 15/100 x 20 gram = 3 gram

3. Span 80 15 % = 15/100 x 20 gram = 0.03 ml

4. Menthol 5 % = 5/100 x 20 gram = 1 gram

5. Nipagin 0,1 % = 0,1/100 x 20 gram = 0,02 gram

6. Nipasol 0,1 % = 0,1/100 x 20 gram = 0,02 gram

7. Aquadest 54,8 % = 54,8/100 x 20 gram = 4,66


ml

b. Skala besar

1. Asam askorbat 2 gram x 3 = 6 gram

2. Cera alba 3 gram x 3 = 9 gram

3. Span 80 0,03 ml x 3 = 0,09 ml

4. Menthol 1 gram x 3 = 3 gram

5. Nipagin 0,02 gram x 3 = 0,06 gram

6. Nipasol 0,02 gram x 3 = 0,06 gram

7. Aquadest 4,66 ml x 3 = 13,98 ml

c. Cara pembuatan

Bahan

13
Ditimbang semua bahan sesuai perhitungan yang telah dilakukan

Dicampurkan bahan (fase minyak) cera alba, span 80 dan


menthol pada suhu 50-60 %

Dilarutkan vit c dalam aquadest dingin dan nipagin nipasol


dilarutkan dengan air panas (suhu 100 %)

Dicampur fase minyak dan fase air secara perlahan didalam


mortar sambil di aduk hingga terbentuk basis krim
hasil

8. CARA EVALUASI

a. Macam evaluasi
 Uji organoleptis
 Uji homogenitas
 Uji pH
 Uji daya sebar
 Uji viskositas
b. Alat yang digunakan
 Cawan petri
 Mikroskop
 Viskometer
 pH meter
c. Cara kerja
1. Uji organoleptis
- diamati bau, warna dan bentuk sediaan
- ditulis hasil yang sudah diamati
2. Uji homogenitas
- diambil sedikit sediaan krim pada bagian tengah dan atas

14
- dioleskan sediaan pada kaca objek
- diratakan dengan kaca objek lain sehingga terbentuk lapisan tipis
- diamati dengan mikroskop susunan partikel yang terbentuk
3. Uji pH
- ditimbang 1 gram sediaan krim
- dilarutkan dalam 5 ml aquadest
- ditambah aquadest hinggal 10 ml
- diaduk hingga homogen
- diukur dengan pH meter
- dicatat hasil yang diperoleh
4. Uji daya sebar
- dibuat kertas skala pada cawan petri dan diambil 0,5 gram
- diletakkan 1 sendok spatula sediaan krim pada cawan petri
- ditindih dengan cawan petri lainnya
- ditambah beban 50 gram, 100 gram dan 150 gram
- diamati dan dicatat hasil yang diperoleh
5. Uji viskositas
- dihidupkan alat viskometer
- dibuka tempat sampel dan dibersihkan dengan tisu
- diambil sediaan krim sebayak 2 gram
- ditutup kembali tempat sampel
- ditunggu hasil keluar
d. Cara pengelolahan data hasil evaluasi

Pada uji evaluasi sediaan krim vitamin C, dilakukan 5 uji evaluasi yang
dilakukan dan terdapat uji yang menggunakan data kualitatif dan kuantitatif.
Pada pengukuran dengan data kuantitatif dilakukan percobaan 3x dan data

15
yang diambil merupakan hasil rata-rata dari ketiga percobaan tersebut.
Sedangkan pada data kualitatif disesuaikan dengan standart yang telah ada.

9. HASIL PRAKTIKUM

Evaluasi Hasil

Bentuk Setengah padat

Warna Putih

Bau Khas mentol

Rasa Dingin

Homogenitas Tidak homogen

pH 6,5

Daya sebar 1 cm /menit

Viskositas Tidak terdeteksi

10. PEMBAHASAN

Praktikum ini dilaksanakan 2 tahap, pada tanggal 3 April 2018 untuk


pebuatan sediaan dan tanggal 17 April 2018 untuk evalusi sediaan. Pada
praktikum ini dibuat sediaan krim vitamin c tipe O/W yaitu minyak terdispersi
dalam air (Anief,1994). Sebelum dilakukan pembuatan sediaan, sebelumnya
praktikan diharuskan untuk membuat formulasi krim vitamin C sendiri.

Pertama-tama praktikan memformulasikan krim vitamin C dan menghitung


konsentrasi bahan yang diperlukan. Krim yang akan dibuat sebesar 20 gram yang
mengandung bahan berikut:

Bahan Fungsi Konsentrasi Pengambilan

Vitamin C Antioksidan 10 % 6 gram

Cera alba Basis 15 % 9 gram

16
Span 80 Emulsifier 15 % 0,09 ml

Menthol Enhancer 5% 3 gram

Nipagin Pengawet 0,01 % 0,02 gram

Nipasol Pengawet 0,01 % 0,02 gram

Aquadest Pelarut Ad 100 13,98 ml

Setelah dihitung bahan yang harus diambil, kemudian diambil bahan-bahan


yang diperlukan sesuai perhitungan yang sudah dilakukan. Kemudian bahan-
bahan ditampung didalam wadah yang sudah disiapkan. Sebelum mulai
pembuatan krim, disiapkan alat yang berupa mortar dan alu, beaker glass 200 ml,
beaker glass 100 ml, batang pengaduk, sendok tanduk, kaki tiga dan bunsen, pipet
volume 200 ml dan pipet tetes. Lalu, dimulai pembuatan krim vitamin C.

Tahap awal pembuatan krim vitamin C yaitu disiapkan semua bahan yang
akan digunakan. Kemudian cera alba, span 80 dan mentol yang digunakan sebagai
fase minyak dicampurkan dengan suhu 50-60 0C. Lalu vitamin C dilarutkan dalam
aquadest dingin karena menurut Ditjen POM vitamin C larut didalam air atau
dalam lemak. Setelah itu setelah itu nipagin dan nipasol dilarutkan dalam
aquadest dalam suhu 100 0C. Kemuadian fase air dan minyak dicampukan secara
perlahan pada mortar sampai homogen. Cara pembuatan ini tidak sesuai dengan
pernyataan Dewi,Rosmala.dkk (2015) yang menyatakan bahwabahan fase minyak
dicampurkan dalam cawan penguap lalu dipanaskan pada suhu 80 0C hingga
mencair. Lalu bahan fase air dipanaskan pada suhu 80 0C dalam beaker glass.
Setelah krim vitamin C jadi, dimasukkan ke dalam tube sebanyak 3 buah
berukuran 20 gram dan diberi etiket dan brosur, lalu dimasukkan dalam kemasan
yang sudah disiapkan.

17
(Gambar 1. Penimbangan Bahan)

(Gambar 2. Pencampuran Bahan) (Gambar 3. Pengemasan Krim Vit C)

Tahap kedua setelah sediaan jadi yaitu evaluasi sediaan. Evaluasi yang
dilakukan ada 5 macam, yaitu uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, uji daya
sebar dan uji viskositas. Menurut Erawati, Ery.dkk (2016) uji organoleptis
dimaksudkan untuk melihat penampilan fisik suatu sediaan yang meliputi bentuk,
warna dan bau. Pada uji pH bertujuan untuk mengetahui keamanan krim saat
digunakan sehingga tidak mengiritasi kulit. Pada uji homogenitas bertujuan untuk
melihat dan mengetahui tercampurnya bahan-bahan sediaan krim. Pada uji daya
sebar bertujuan untuk mengetahui kemampuan menyebar krim saat diaplikasikan
pada kulit. Untuk uji pH alat yang digunakan adalah pH meter, uji daya sebar
menggunakan mikroskop, uji daya sebar menggunakan cawan petri dan uji
viskositas menggunakan viskometer.

Cara kerja uji organoleptis yaitu pertama-tama diamati bau, bentuk, warna
dan rasa jika diaplikasikan pada kulit. Kemudian dicatat hasil yang telah
dilakukan. Pada uji ini hasil yang didapat yaitu bentuk setegah padat, berwarna

18
putih, bau khas mentol dan rasa ketika dioleskan pada kulit terasa dingin. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Ditjen POM (1995) yang menyatakan bahwa krim
adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Cara kerja uji yang kedua yaitu uji pH adalah pertama-tama ditimbang 1
gram sediaan krim, kemuadian dilarutkan dengan 5 ml aquadest dan diaduk
hingga homogen. Lalu ditambah lagi aquadest hingga 10 ml dan diaduk kembali
hingga homogen. Setelah itu sediaan siap diuji dengan pH meter dan dicatat hasil
yang diperoleh. Hasil yang diperoleh dari uji pH ini yaitu pH sediaan krim
vitamin C adalah 6,5. hal ini sesuai dengan pernyataan Syahfitri Lubis, Ervina.dkk
(2012) yang menyatakan bahwa pH sediaan krim adalah 5-8 sehingga sediaan
tersebut memenuhi syarat untuk sediaan krim.

(Gambar 4. Pengukuran pH)

Cara kerja uji yang ketiga yaitu uji homogenitas adalah pertama-tama
diambil sedikit sediaan krim pada bagian tengah dan atas. Lalu dioleskan pada
kaca objek dan diratakan dengan kaca objek lainnya, ditekan hingga rata dan tipis.
Kemudian diamati dengan mikroskop. Hasil yang diperoleh dari uji ini yaitu krim
tidak homogen karena terdapat partikel-partikel kecil yang terlihat. Hal ini tidak
sesuai dengan pernyataan Erawati,Ery.dkk (2016) yang menyatakan bahwa krim
dapat dinyatakan homogen apabila tidak diperolehnya butiran-butiran kasar pada
sediaan.

19
(Gambar 5. Uji Homogenitas)

Uji yang ke empat yaitu uji daya sebar, pertama-tama dibuat kertas skala
pada cawan petri, lalu sediaan diambil 50 gram dan diletakkan krim pada cawan
petri. Kemudian ditindih sediaan krim dengan cawan petri lainnya dan ditambah
beban sebesar 50 gram, 100 gram dan 150 gram diatas cawan petri. Hasil yang
diperoleh pada uji ini yaitu pada beban 50 gram mempunyai daya sebar sebesar 2
cm, beban 100 gram sebesar 3 cm dan beban 150 gram sebesar 3,5 cm sehingga
jika dirata-rata diameternya didapatkan hasil sebesar 1 cm/menit. Hal ini tidak
sesuai dengan pernyataan Aji Wibowo, Sapto.dkk (2017) yang menyatakan bahwa
daya sebar yang baik menyababkan kontak antara obat dengan kulit menjadi luas,
sehingga absorbsi obat ke kulit berlangsung cepat. Persyaratan daya sebar untuk
sediaan topikal adalah 5-7 cm.

(Gambar 6. Uji Daya Sebar)

Uji yang terakhir adalah uji viskositas, pertama-tama dinyalakan viskometer


NDJ-8s. lalu dibuka tempat sampel dan dimasukkan 2 gram sediaan pada tempat
sampel. Kemudian ditutup tempat sampel dan ditunggu hingga grafik berhenti.
Hasil yang diperoleh dari uji ini yaitu tidak terdeteksi nilai viskositasnya. Hal ini

20
dikarenakan ketidakmampuan praktikan untuk mengaplikasikan viskositas meter.
Menurut Bushe (2003) menyatakan bahwa viskositas sediaan krim adalah 30.000
- 70.000 cps. Apabila terjadi perubahan viskositas itu dikarenakan adanya tekanan
geser dari pengaduk yang digunakan saat pembuatan sediaan. Tekanan geser akan
mengubah struktur polimer basis sediaan menjadi agak renggang, sehingga
menjadi encer saat baru dibuka.

(Gambar 7. Alat Ukur Viskositas)


11. KEMASAN SEDIAAN
a. Kemasan

b. Brosur

C-CREAM KRIM VITAMIN C

KOMPOSISI :
Tiap kemasan @20 gram krim mengandung 10 % asam askorbat.
CARA KERJA OBAT :
Asam askorbat diketahui dapat menghalangi pembentukan
radikal bebas dan menstimulasi
sistem imunologi kulit
INDIKASI :
Untuk menjaga kesehatan kulit dan menangkal radikal bebas.
DOSIS :
Oleskan pada kulit yang sakit 2-3 kali sehari.
PERINGATAN DAN PERHATIAN :
- Hentikan pengobatan bila terjadi iritasi atau sensitisasi.
- Jangan digunakan untuk jangka panjang
EFEK SAMPING :
Dapat mengakibatkan iritasi ringan
KONTRA INDIKASI :
Pasien yang alergi terhadap komponen obat
KEMASAN :
Dus, wadah 20 gram
21

Simpan pada suhu ruangan, terlindung sinar matahari langsung


DAFTAR PUSTAKA
Aji Wibowo, Sapto.dkk. 2017. Formulasi dan Aktivitas Anti Jamur Sediaan Krim
M/A Ekstrak Etanol Buah Takokak (Solanum torvum Swartz) Terhadap
Candida albicans. Jurnal Riset Sains dan Teknologi, vol .1 No.1.
Purwokerto : Fakultas Farmasi Univesitas Muhammadiyah
Anief, M. 1994. Ilmu Meracik Obat Cetakan 6. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Davies MB, Austin J, Partridge DA. 1991. Vitamin C: Its Chemistry and
Biochemistry. Hal : 97-100. The Royal Society of
Chemistry: Cambridge.

Dewi,Rosmala.dkk. 2015. UJi Stabilitas Fisik Formula Krim yang Mengandung


Ekstrak Kacang Kedelai (Glycine max). Pharm Sci Res ISSN 2407-2354.
Depok : Fak Farmasi UI
Ditjen POM, 1973. FARMAKOPE INDONESIA EDISI III. Jakarta ; Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM, 1995. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV. Jakarta ; Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Erawati,Ery.dkk. 2016. Pengembangan Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan
Krim Ekstrak Etanol 70% Daun Labu Siam (Sechium edule (Jacq.)
Swartz) .Farmagazine vol.3 no.1. Tangerang : Sekolah tinggi Farmasi
Muhammadiyah
Kim DO, Lee KW, Lee HJ, Lee CY. 2002. Vitamin C equivalent antioxidant
capacity (VCEAC) of phenolic phytochemicals. J Agric Food
Chem 50(13):3713–17.

22
23