Anda di halaman 1dari 13

REKAYASA IDE

MK. KEPEMIMPINAN
PRODI S1 PBI - FBS

Skor Nilai:

REKAYASA IDE

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN KEBIJAKAN

NAMA MAHASISWA : SAKILA LUBIS


NIM : 2183111050
DOSEN PENGAMPU : M.SURIP, MPd.
MATA KULIAH : KEPEMIMPINAN

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FBS


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
NOVEMBER 2018
ABSTRAK

Kepemimpinan merupakan suatu hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap


pemimpin pendidikan, organisasi, pemerintah dan lainya. Efektivitas seorang
pemimpin ditentukan oleh kemampuan memutuskan suatu kebijaksanaan. Tipe
pemimpin transformasional adalah seorang pemimpin yang mempunyai keahlian
diagnosis, dan selalu meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian dalam
upaya untuk memecahkan masalah dari berbagai aspek, secara rasional dan
sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam
memanfaatkan sumber daya (uang, material, sarana-
prasarana, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya
yang digunakan secara efisien dan efektif dalam kebijakan pendidkan.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
petunjuk serta karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas Rekayasa
Ide (RI) ini. Adapun RI ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kepemimpinan.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan RI ini masih banyak kekurangan,


oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang dapat dijadikan
perbaikan untuk RI yang akan datang.

Dalam menyelesaikan penulisan RI ini, saya telah banyak mendapat


bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penyusun ingin
mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang telah membimbing
dalam penyusunan RI ini.

Saya berharap semoga RI ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya


serta untuk menambah pembendaharaan pengetahuan dalam memahami mata
kuliah kepemimpinan. Semoga bantuan, dorongan serta bimbingan yang telah
diberikan kepada saya dalam penyusunan laporan ini mendapat balasan yang
setimpal dari Allah SWT.

Medan, November 2018

Penulis,

1
DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ..................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 4
A. Rasionalisasi Permasalahan ................................................. 4
B. Tujuan Tugas Rekayasa ide.................................................. 4
C. Manfaat ........................................................................ 4
BAB II IDENTIFIKASI MASALAH ......................................................... 5
A. Permasalahan Umum Kepemimpinan ...................................... 5
B. Identifikasi Permaslahan..................................................... 5
BAB III SOLUSI DAN PEMBAHASAN .................................................... 10
BAB IV PENUTUP ........................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 12

2
BAB I.
PENDAHULUAN

A. Rasionilsasi Permasalahan
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena kendala proses
pembelajaran setiap harinya. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya
tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki
siswanya. Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah
dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak
bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam
menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan
kesempatan pada anak untuk kreatif. Walaupun itu semua untuk kebaikan tapi
kebijakan harus melihat situasi untuk di jalankan. Itu harus dilakukan sebab
pada dasarnya gaya berfikir pelajar tidak bisa diarahkan. Selain kurang
kreatifnya para pendidik dalam membimbing pelajar, kebijakn yang kurang tepat
malah menambah Keberatan hati ntuk mengerjakan semua kebijakan yang
berlaku. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa
memperhatikan kebutuhan pelajar. Lebih parah lagi,pendidikan tidak mampu
menghasilkan lulusan yang kreatif.

B. Tujuan Rekayasa Ide


Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui masalah-masalah apa saja
yang terjadi pada pendidikan di Indoensia yang dillihat dari kebutuhan yang
sesuai pada porsinya masing-masing agar mendapat kan suatu hal yang
seharusnya di gapai.

C. Manfaat
Diharapkan mendatangkan manfaat berupa penambahan pengetahuan
serta wawasan penulis kepada pembaca tentang keadaan pendidikan sekarang ini
sehingga kita dapat mencari solusinya secara bersama agar pendidikan di masa

3
yang akan dapat meningkat baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang
diberikan.

BAB II.
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KEPEMIMPINAN

A. Permasalahan Umum Kepemimpinan


Masalah yang umum pada pendidikan adalah kebijakan yang tidak dapat
diterima dengan baik oleh pelajar-pelajar sehingga sulit dalam memahami
apa yang di jadikan bahan kajian ilmu. Apabila belajar tanpa ketenangan
tidak akan membuahkan hasil yang baik tapi di sisnilah point permasalahan
yang sebnarnya di alami pelajar yang merasakan tekanan waktu dan tenaga
berakibatkan dapat membuat kondisi fisik pelajar menjadi rapuh atas
penyakit.

B. Identifikasi Permaslahan
Berikut paparan permasalahan dalam kebijakan pendidikan :
 Kebijakan yang di jalankan tidak pada porsinya pada pembelajaran
Pemimpin harus mengambil kebiakan terbaik bagi pelajar di
pendidikan untuk kedepanya namun harus di perhatikan kembali
pada porsi yang di butuhkan dan kemampuan apa yang harus di
timbulkan. Banyak sudah terjadi tedengar keluhan atas kebijakan
pemimpin bagi para pelajar karena tidak sesuai porsi yang tepat.

 Kurannya memperhatikan Pengaruh fisik pelajar yang derastis


sebab kelelahan
Dengan kebijakan yang kurang tepat agak membawa
kerugian atau kelelahan dan kehabisan waktu sehingga kurangnya
istirahat bagi pelajar karna menaati kebijakan yang berlaku

 Rendahnya pembanguna Kualitas Sarana Fisik

4
Untuk sarana pada segian tempat banyak sekali sekolah dan
perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan
penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak
lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian
teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih
banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki
perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

 Kurang melihat Kesejahteraan Guru yang terabaikan dengan


perlahan
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam
membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan
pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa
melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah
lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang
mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan
sebagainya.
Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali
kesejahteraan guru dan dosen (PNS) sedikit lumayan. Pasal 10 UU
itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu
disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas
dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang
melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus
serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka
yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas
rumah dinas.
Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri
menjadi masalah lain yang muncul. Di
lingkungan pendidikanswasta, masalah kesejahteraan masih sulit
mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006,
sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak
sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan
amanat UU Guru dan Dosen.

5
 Kurang memantau Prestasi Siswapada wadah yang sesuai
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas
guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun
menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika
dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat
rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS)
2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44
negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44
negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita
jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara
tetangga yang terdekat.
Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations
for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan
hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh
dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development
Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya
menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan
negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di
bawahnya.
Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia
(Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the
Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan
bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada
peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD:
75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina),
dan 51,7 (Indonesia).
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30%
dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab
soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini
mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan
mengerjakan soal pilihan ganda.

6
Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic
and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999)
memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa
SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34
untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah
Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4
universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat
ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

 Kurangnya bimbingan Relevansi Peluang setelah lulus dan


menganggur pada akhirnya
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang
menganggur. Berakibatkan hasil belajar selama menjadi siswa
sampai mahasiswa tidak memiliki wadah yang sesuai. Berdasarkan
Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990
menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh
lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT
sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan
kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing
tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data
Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak
putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga
menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya
ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja
ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap
keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia
kerja.

7
BAB III.
SOLUSI DAN PEMBAHASAN

 Kebijakan yang di jalankan tidak pada porsinya pada pembelajaran


Solusi Terbaik adalah mendatangi atau membahas hal-hal yang mana
penting dan mana yang tidak penting pada kebijakan-kebikjakan yang sudah di
putuskan oleh pemimpin terhadap para pengajar secara terang-terangan agar
dapat menentukan porsi yang sesuai dengan kebutuhan. Dan pemimpin tidak di
perbolrhkan menganggap bahwa hal kecil harus di sepelekan karena walau kecil
tapi di posisikan tidak pada tempatnya tiada arti di terapkan dalam
pembelajaran.

 Kurannya memperhatikan Pengaruh fisik pelajar yang derastis sebab


kelelahan
Solusi dalam dalampak ini adalah menarik atau nonaktifkan kebijakan
yang sudah terapkan namun bisa juga di revisi untuk penyesuaian yang tepat
terhadap pada pelajar dan metode pembelajaran.

 Rendahnya pembanguna Kualitas Sarana Fisik


Solusi dalam masalah ini adalah dengan merapikan daftar keuangan
pemimpin dan mulai membagi nya terhadap hal-hal yang harus di perbarui
maupun di tambahi lagi sarana dan pra-sarana yang di butuhkan agar
kenyamanan dan kemudahan akses kajian ilmu tercapai dalam pemahaman
pelajar.

8
 Kurang melihat Kesejahteraan Guru yang terabaikan dengan perlahan
Dalam masalah ini dapat di atasi dengan menaikkan derajat para pendidik
karena pendidik merupakan faktor penting dalam pembelajaran yang setiap
harinya menyalurkan ilmu yang di miliki kepada para pelajar yang menerima
semua kajian ilmu agar terciptanya generasi pelajar yang sesungguhnya.

 Kurang memantau Prestasi Siswa pada wadah yang sesuai


Dalam hal ini dapat di atasi dengan membuat suatu kegiatan yang
berbagai macam dengan mengintai, bertanya, dan pemilihan skill yang tepat
terhadap diri pelajar yang dapat dijalani dengan senang dan ikhlas tanpa ada
beban yang harus di tanggung di dalam fikiran pelajar setiap harinya.

 Kurangnya bimbingan Relevansi Peluang setelah lulus dan menganggur pada


akhirnya
Berinteraksi secara langsung tehadap pelajar sangant penting dalam
membantu tujuan pembelajaran yang di jalani agar terbina dan tertata dengan
baik hal yang harus memang pada posisinya di jalani kemudian setelah lulus
dapat melanjutkan apa yang sudah di niatkan.

9
BAB IV.
PENUTUP

 Kesimpulan
Banyak sekali factor yang menjadikan rendahnya kualitaspendidikan di
Indonesia. Factor-faktor yang bersifat teknis diantaranya adalah rendahnya
kualitas guru, rendahnya sarana fisik, rendahnya prestasi siswa, rendahnya
kesejahteraan guru, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Namun sebenarnya yang
menjadi masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah system
pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek,
sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap
untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap
zamannya.

 Saran
Di harapkan dan dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan
mesyarakat untuk mengatasi segala permasalahan pendidikan di Indonesia. Agar
di Indonesia tidak lagi bermasalah di dunia pendidikan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Suhardan, Dadang ;(2010) Inovasi dan Kreativitas Pendidikan, hand out perkuliahan
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI ;(2009) Manajemen Pendidikan, Alfa
Beta,Bandung
Susilana, Rudi ; (2007), Media Pembelajaran, CV. Wacana Prima, Bandung
Andri, Herlambang(2010) https://readwansyah.wordpress.com.
Bayu,Aditya. (2014).usaha pengembangan profesi guru
sebagai tenaga http://systemcomputerku.blogspot.co.id.usaha pengembangan
profesi guru sebagai tenaga pendidik.html.
Indra,Khairul.2012http://indrasangpujangga.blogspot.co.id.Solusi Peningkatan
Kinerja Guru .

11