Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN 6

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

ANALISIS KUALITATIF UNSUR-UNSUR DALAM SENYAWA ORGANIK

Kamis, 21 Maret 2019

Oleh kelompok 4:

Hamidah* 170332614555
Arifa Nur Laili 170332614574
Hani Rama Danti 170332614577

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2019
A. Tujuan Percobaan
Mahasiswa memiliki kemampuan melakukan uji untuk menentukan unsur-unsur yang
terkandung dalam suatu senyawa organik

B. Dasar Teori

Senyawa adalah zat yang terbentuk dari penggabungan unsur-unsur dengan


pembentuknya. Senyawa dihasilkan dari reaksi kimia antara dua unsur atau lebih melalui reaksi
pembentukan. Senyawa organik atau senyawa karbon adalah suatu senyawa yang unsur-unsur
penyusunya terdiri dari atom karbon dan atom-atom hydrogen, oksigen, nitrogen, sulfur,
halogen, atau fosfor (Riswiyanto, 2009).

Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung
karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Banyak diantara senyawa organik seperti
protein, lemak, dan karbohidrat merupakan komponen penting dalam biokimia. Diantara beberapa
golongan senyawa organik adalah senyawa alifatik (rantai karbon yang dapat di ubah gugus
fungsinya), hidrokarbon aromatik (senyawa yang mengandung paling tidak satu cincin benzena),
senyawa heterosiklik (yang mencakup atom-atom nonkarbon dan struktur cincinnya), dan polimer
(molekul rantai panjang gugus berulang).

Ada dua jenis model analisis, yaitu analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kualitatif
membahas mengenai identifikasi zat – zat. Urusannya adalah unsur atau senyawa apa yang
terdapat dalam suatu sampel atau contoh. Pada pokoknya tujuan analisis kualitatif adalah
memisahkan dan mengidentifikasi sejumlah unsur (Vogel, 1985).

Analisis kualitatif merupakan suatu proses dalam mendeteksi keberadaan suatu unsur
kimia dalam cuplikan yang tidak di ketahui. Analisis kualitatif merupakan suatu cara yang paling
efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan.Dalam metode
analisis kualitatif,kita menggunakan beberapa pereaksi,di antaranya pereaksi golongan dan
pereaksi spesifik ( Miessler,1991 ).

Ada suatu cara yang relatif sederhana untuk menentukan secara kualitatif apakah dalam
suatu senyawa organik terdapat nitrogen, belerang, atau halogen. Dalam metode ini senyawa
organik yang tidak diketahui diuraikan (didekomposisi) dengan menggunakan logam natrium,
sehingga nitrogen, belerang, atau halogen penyusu senyawa tersebut berturut-turut diubah menjadi
natrium sianida, natrium sulfida, atau natrium halida. Senyawa-senyawa anorganik ini kemudian
diuji dengan berbagai cara.
Untuk menguji nitrogen, larutan direaksikan dengan besi (II) dan besi (III). Jika terdapat
sianida, akan terbentuk endapan biru gelap (biru prusia) yang ditunjukkan dengan persamaan
reaksi:

18 CN-(aq) + 3 Fe2+(aq) + 4 Fe3+(aq) → Fe4[Fe(CN)6]3(s)

Untuk menguji adanya belerang, ditambahkan ion timbal. Jika terdapat belerang, akan
dihasilkan endapan timbal sulfida yang berwarna hitam/coklat, menurut persamaan reaksi:
Pb2+(aq) + Na2S(aq) → PbS(s) + 2 Na+(aq)
Untuk halogen, digunakan uji standar perak nitrat, dan terjadi reaksi:
Ag+(aq) + NaX(aq) → AgX(s) + Na+(aq) (X = Cl,Br,I)
Dengan mengamati warna endapan dan kelarutannya dalam amonia, kita dapat menentukan
apakah halogen tersebut klorida, bromida, atau iodida.

C. Alat dan Bahan


Alat :
1. Tabung reaksi pireks
2. Penjepit tabung
3. Tabung reaksi kecil
4. Kertas tisu
5. Pemanas spiritus
6. Beaker gelas kecil
7. Kaca pengaduk
8. Corong
9. Centrifuge
10. Kertas indikator
11. Kertas saring
Bahan :
1. Larutan besi (II) amonium sulfat jenuh
2. Tembaga (II) oksida
3. Logam natrium
4. Sampel
5. Serbuk sukrosa
6. Etanol
7. Asam asetat
8. Larutan timbal asetat 0,15 M
9. Larutan perak nitrat
10. Larutan natrim hidroksida 6 M
11. Larutan besi (III) klorida 5%
12. Air kapur
13. Tembaga (II) sulfat anhidrat/kertas kobalt klorida
14. Larutan kalium fluorida 5 M
15. Larutran asam nitrat encer

D. Prosedur Percobaan dan Data Hasil Pengamatam

No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan Persamaan Reaksi

1. Uji untuk karbon dan hidrogen


Sukrosa
- Dicampur ½ sendok sukrosa Serbuk sukrosa warna
dengan ½ sendok CuO kering putih dan serbuk CuO
dalam tabung reaksi warna hitam
- Dihubungkan dengan tabung Air kapur larutan tidak
reaksi lain yang berisi air kapur berwarna
menggunakan selang plastik C12H22O11(s)+24CuO(s)
- Tabung reaksi yang berisi → 12CO2(g) + 11H2O(l)
sukrosa dipanaskan +24Cu(s)
- diamati pembentukan gas dan Air kapur berubah warna Ca(OH)2(aq) + CO2(g) →
perubahan air kapur menjadi keruh CaCO3(s) + H2O(l)
(Terbukti bahwa sukrosa
mengandung karbon)
- Di uji cairan pada dinding Kertas kobalt klorida CoCl2(s)(biru)+ 6H2O(l) →
tabung menggunakan kertas berubah warna dari biru CoCl2.6H2O(s)(merah muda)
kobalt klorida anhidrat menjadi merah muda
(terbukti bahwa sukrosa
mengandung hidrogen)
Hasil
2. Uji peleburan sampel menggunakan
logam Na
Sampel
- Diambil sedikit logam Na
menggunakan pinset lalu
dimasukkan ke krusibel
- Dimasukkan pula sampel ke
krusibel
- Krusibel dimasukkan ke 3Na(s) + sampel organik
vurnish → Na2S(s) + NaCN(s) +
- Vurnish dinyalakan dan diatur NaX(s) (X= F,Cl, Br, I)
suhunya
- Setelah selesai vurnish
dimatikan
- Krusibel dikeluarkan lalu
didinginkan
- Ditambah etanol tetes demi Terbentuk gelembung gas Nasisa(s) + C2H5OH(aq)
tetes sampai pembentukan → C2H5ONa(g) + H+(aq)
gelembung gas berhenti
- Krusibel dipanaskan pada hot
plate
- Didinginkan dan dipindahkan
ke beaker gelas 100 mL
- Ditambahkan 15-20 mL
airdingin sambil diaduk
- Dipanaskan sampai mendidih
- Disaring Filtrat: larutan tak
- Filtrat digunakan untuk uji berwarna
belerang, nitrogen, dan Residu: padatan hitam
halogen

Hasil
3. Uji Belerang
Filtrat Percobaan 2
- Dimasukkan dalam tabung Filtrat: larutan tak
reaksi berwarna
- Diasamkan dengan asam asetat Larutan tetap tak
glasial berwarna
- Ditambahkan beberapa tetes Larutan berwarna putih Na2S(aq) +
larutan timbal asetat susu. Ada endapan putih Pb(CH3COO)2(aq) +
CH3COOH(aq) → PbS(s)
Hasil
+ 2CH3COONa(aq)

4. Uji Nitrogen
Filtrat Percobaan 2
- Dimasukkan dalam tabung Filtrat: larutan tak
reaksi berwarna
- Di uji pH-nya pH > 13
- pH > 13, ditambah H2SO4 -
encer
- pH < 13, ditambah NaOH Ditambah 11 tetes
encer
- pH mendekati 13, ditambah Larutan berwarna hijau
dua tetes larutan jenuh muda, ada endapan hijau
(NH4)2Fe(SO4)2 dan dua tetes
larutan KI 5 M
- dididihkan dengan cepat
selama 30 detik
- didinginkan Larutan kuning
- ditambahkan 2 tetes FeCL3 kecoklatan, ada endapan
5% kuning
- ditambahkan asam sulfat 3 M Larutan kuning, endapan 18 CN-(aq) + 3Fe2+(aq) +
dengan hati-hati sambil kuning 4Fe3+(aq) →
dikocok sampai endapan besi (Nitrogen tidak Fe4[Fe(CN)3(aq)
(III) hidroksida tepat larut teridentifikasi)
Hasil
4. Uji halogen
Filtrat Percobaan 2
- dimasukkan dalam tabung Filtrat: larutan tak
reaksi berwarna
- diasamkan dengan asam nitrat Larutan tetap tak
encer berwarna
- dididihkan dengan kuat selama
2 menit
- ditambahkan beberapa tetes Larutan putih susu, ada AgNO3(aq) + NaX(aq)
larutan AgNO3 endapan putih → AgX(s) + NaNO3(aq)
- endapan yang terbentuk diuji Endapan larut dalam X= Cl, Br, I
dengan amonia amonia
(sampel mengandung Cl-)
Hasil

E. Analisa Data dan Pembahasan


Praktikum ini bertujuan untuk menentukan unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam
senyawa organik. Identifikasi unsur-unsur ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan sifat-sifat
kimia pada unsur-unsur yang akan diidentifikasi dengan cara menambahkan larutan-larutan
yang sesuai untuk mengidentikasinya.

1. Uji untuk Karbon dan Hidrogen


Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya unsur karbon dan
hidrogen pada senyawa organik. Sampel yang digunakan pada percoban ini adalah sukrosa.
Mula-mula ½ sendok sukrosa dicampur ½ sendok CuO kering di dalam tabung reaksi tahan
panas. Sampel CuO disini berfungsi sebagai oksidator yang akan mengoksidasi sukrosa
menjadi senyawa Co2 dan H2O. Reaksi ini dapat berlangsung jika dibantu dengan
pemanasan.
Untuk mengidentifikasi adanya unsur karbon dan hidrogen, tabung reaksi yang
berisi sukrosa dan CuO dihubungkan menggunakan selang pada tabung reaksi yang berisi
air kapur. Tabung reaksi yang berisi sukrosa kemudian dipanaskan untuk mengoksidasi
sukrosa menjadi senyawa CO2 dan H2O berdasarkan reaksi;
C12H22O11(s) + 24CuO(s) → 12CO2(g) + 11H2O(l) + 24Cu(s)
Gas yang dihasilkan pada reaksi ini mengalir ke tabung reaksi yang berisi air kapur,
sehingga air kapur yang awalnya tak berwarna berubah menjadi keruh. Perubahan ini
menunjukkan bahwa sampel mengandung unsur karbon dalam bentuk senyawa CO2,
karena kekeruhan ini disebabkan oleh terbentuknya endapan CaCO3 akibat reaksi air kapur
dengan CO2. Reaksinya adalah;
Ca(OH)2(aq) + CO2(g) → CaCO3(s) + H2O(l)
Jika gas CO2 di alirkan terus menerus kedalam air kapur, akan mengakibatkan
endapan CaCO3 larut kembali akibat terbentuknya senyawa Ca (HCO3)2, sesuai reaksi
berikut
CaCO3(s) + H2O (l) + CO2 (g) → Ca(HCO3)2(aq) (larutan tidak berwarna)
(Vogel, 1967)
Setelah itu, untuk mengidentifikasi adanya unsur hidrogen, dilakukan dengan
menguji cairan yang terbentuk pada dinding tabing sukrosa menggunakan kertas kobalt
klorida kering. Pada saat diuji, kertas kobalt klorida yang awalnya berwarna biru berubah
warna menjadi merah muda. Hal ini menunjukkan bahwa sampel mengandung unsur
hidrogen dalam bentuk senyawa H2O, karena kobalt klorida anhidrat berwarna biru
sedangkan kertas klorida hidrat berwarna merah muda. Perubahan warna ini menunjukkan
bahwa sampel yang diuji merupakan H2O
CoCl2(s)(biru)+ 6H2O(l) → CoCl2.6H2O(s)(merah muda)

2. Uji Peleburan Sampel menggunakan Logam Natriun


Pada percobaan ini sebuah sampel organik yaitu putih telur di lebur menggunakan
logam natrium di dalam vurnish. Peleburan sampel dengan menggunakan logam natrium
ini bertujuan, agar senyawa organik terdekomposisi (terurai) sehingga nitrogen, belerang
atau halogen penyusun senyawa organik berturut turut diubah menjadi natrium sianida,
natrium sulfida dan natrium halida.
Setelah dilebur dengan logam natrium sampel ditetesi dengan etanol sampai tidak
terbentuk gelembung gas. Penambahan etanol bertujuan untuk mendekomposisi kelebihan
natrium, sedangkan untuk menguapkan kelebihan alcohol, dilakukan pemanasan diatas hot
plate. Setelah dilakukan pemanasan diatas hot plate, sampel didinginkan dan dilarutkan
dalam 15-20 mL air. Untuk menyempurnakan proses pelarutan, campuran dipanaskan
hingga mendidih kemudian disaring untuk memisahkan zat-zat yang tidak dapat larut.
Filtrate yang dihasilkan inilah yang kemudian digunakan untuk mengidentifikasi adanya
unsur-unsur nitrogen, belerang dan halogen.
3. Uji Belerang
Pada percobaan ini, digunakan filtrate hasil peleburan sampel dengan
menggunakan logam natrium. Filtrate dimasukkan dalam tabung reaksi dan diasamkan
dengan larutan asam asetat glasial. Keasaman diuji dengan menggunakan kertas lakmus.
Kertas lakmus dimasukkan dalam filtrate kemudian ditambahkan asam asetat glasial tetes
demi tetes hingga kertas lakmus biru menjadi merah.
Setelah filtrat menjadi asam, ditambahkan beberapa tetes larutan timbal asetat.
Penambahan larutan timbal asetat bertujuan unutk menguji adanya sulfur dalam sampel.
Bila sampel mengandung unsur sulfur maka akan timbul endapan hitam PbS berdasarkan
reaksi;
Na2S(aq) + Pb(CH3COO)2(aq) + CH3COOH(aq) → PbS(s) + CH3COONa(aq)
Pada percobaan ini, saat penambahan larutan timbal asetat larutan berubah warna
menjadi putih dan ada endapan putih. Hal ini menunjukkan bahwa tidak teridentifikasi
unsur belerang pada filtrat (sampel yang dileburkan). Tidak teridentifikasinya unsur
belerang bukan berarti pada filtrat tidak terkandung unsur belerang. Warna putih dari filtrat
di duga berasal dari senyawa PbSO4, yang artinya pada filtrat terkandung unsur belerang
tapi tidak dapat teridentifikasi sebagai endapan PbS. Hal ini diduga karena sulfur pada
filtrat telah teroksidasi akibat pemanasan pada filtrat yang terlalu lama.
4. Uji Nitrogen
Pada percobaan ini filtrat hasil peleburan sampel dengan menggunakan logam
natrium dimasukkan tabung reaksi dan diuji pH-nya. Saat diuji filtrat memiliki pH kurang
dari 13, yaitu pH 11. Agar pH mencapai 13, filtrat ditambah dengan NaOH encer. Setelah
pH fitrat mendekati 13, ditambahkan larutan jenuh (NH4)2Fe(SO4)2 dan 2 tetes KI. Setelah
itu, filtrat dididihkan selama 30 detik dan larutan menjadi berwarna hijau lumut. Filtrat
kemudian didinginkan dan ditambah dengan larutan besi(III) klorida 5% dan larutan
menjadi kuning kecoklatan, terdapat endapan kuning. Setelah itu filtrat ditambah H2SO4
3M. Larutan menjadi berwarna kuning. Warna kuning ini diduga berasal dari ion Fe3+ yang
gagal membentuk kompleks dengan CN yang diduga karena CN terlalu sedikit . Pada uji,
ini unsur nitrogen yang seharusnya ada, tidak teridentifikasi. Adanya unsur nitrogen
seharusnya teridentifikasi dengan warna biru prussian pada laruran setelah penambahan
H2SO4 berdasarkan reaksi:
18 CN-(aq) + 3Fe2+(aq) + 4Fe3+(aq) → Fe4[Fe(CN)3(aq)
5. Uji Halogen
Percobaan ini dilakukan menggunakan filtrat hasil peleburan sampel dengan logam
natrium. Filtrat dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan diasamkan dengan asam nitrat
encer. Apabila filtrate sudah dalam keadaan asam, filtrate dimasukkan almari asam dan
dididihkan selama 2 menit. Tahap ini dilakukan untuk menghilangkan hydrogen sianida
atau hydrogen sulfide, apabila dalam sampel terkandung unsur belerang dan nitrogen.
Larutan kemudian didinginkan lalu ditambahkan larutan perak nitrat tetes demi tetes.
Penambahan perak nitrat bertujuan supaya unsur halogen yang terkandung dalam filtrat
mengendap sebagai senyawa peraknya berdasarkan reaksi;
AgNO3(aq) + NaX(aq) → AgX(s) + NaNO3(aq) X= Cl, Br, I
Pada percobaan ini penambahan perak nitrat menyebabkan terbentuknya endapan
putih. Endapan putih ini mulanya diduga merupakan senyawa AgCl atau AgBr. Untuk
memastikan hal tersebut, endapan diuji menggunakan amonia. Endapan kemudian larut
dalam amonia. Hal ini menunjukkan bahwa endapan tersebut adalah AgCl. Jadi, pada
percobaan ini dapat disimpulkan bahwa sampel mengandung unsur halogen berupa klor.

F. Kesimpulan
1. Pada percobaan uji karbon dan hydrogen pada sukrosa, karbon dan hydrogen
teridentifikasi sebagai senyawa CO2 dan H2O. Adanya CO2 dibuktikan dengan
keruhnya air kapur, sedangkan adanya H2O dibuktikan dengan perubahan warna
menjadi merah muda pada kertas kobalt klorida biru.
2. Untuk menguji adanya unsur belerang, nitrogen dan halogen, sampel organik
didekomposisi menggunakan logam Na supaya sampel terurai menjadi senyawa
anorganiknya dan lebih mudah di uji.
3. Sampel terbukti mengandung unsur sulfur dalam bentuk senyawa PbSO4 bukan
PbS karena unsur sulfur diduga telah teroksidasi
4. Unsur nitrogen tidak teridentifikasi dalam sampel. Hal ini diduga karena
kandungan nitrogen dalam sampel sangat sedikit dan kesalahan praktikan dalam
melakukan penambahan larutan tertentu
5. Sampel terbukti mengandung unsur halogen berupa klor yang teruiji dalam bentuk
endapan AgCl yang larut dalam amonia.
G. Daftar Pustaka

Mutammimah, Siti, dkk, 2017. Petunjuk Praktikum Kimia Organik I. FMIPA.


Malang : Universitas Negeri Malang.
Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1983, Techniques and Experiments for.
Organic Chemistry, a.b. Pudjaatmaka, Willard Grant Press, Boston.
Missler,G.L dan Tarr,D.A 1991. Inorganic Chemistry,Prentik.Hal inc . London

Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Edisi Kelima.
Kalman Media Pustaka, Jakarta. Vreeburg, J.H.G., Boxal, J.B. 2007
H. Lampiran