Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL PENILITIAN

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES


MELLITUS TENTANG PENATALAKSANAAN PENGOBATAN

DI SUSUN OLEH:

ACHSAN TUDHONNY
151611913003

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS VOKASI UNIVERSITAS AIRLANGGA

TP.2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini
tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “proposal penilitian gambaran
tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tentang penatalaksanaan pengobatan

Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan tantangan dan


hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi.
Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya
mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian
Terima kasih.

Lamongan, 1 Desember 2018

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................... i

Kata Pengantar .............................................................................................. ii

Daftar isi.......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
1.3 Tujuan penelitian ........................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengetahuan .................................................................................................. 4


2.2 Diabetes mellitus .......................................................................................... 8
2.3 Kerangka Teori ............................................................................................. 15

BAB III

3.1 Desain Penelitian .......................................................................................... 17


3.2 Populasi dan Sampel ..................................................................................... 17
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................................... 18
3.4 Pengumpulan data ......................................................................................... 18
3.5 Analisis Data ................................................................................................. 19
3.6 Etika penelitian ............................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme
yang disebabkan kurangnya produksi insulin, zat yang dihasilkan oleh
kelenjar pankreas. Bisa pula karena adanya gangguan pada fungsi insulin,
meskipun jumlahnya normal (Redaksi Agro Media, 2009). Diabetes
mellitus adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan
hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi
insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (M.
Clevo Rendy, 2012).
Diabetes adalah penyakit yang berbeda dari kebanyakan penyakit
lainnya dengan dua alasan penting. Pertama, seperti halnya hipertensi,
diabetes dapat merupakan pembunuh tersembunyi. Yaitu, karena hanya
terdapat sedikit gejala, sampai tahap akhir penyakit, dimana pada waktu
tersebut biasanya sudah terlambat untuk memulihkan kerusakan yang
diakibatkan. Kedua, para penderita harus terlibat secara aktif dalam
pengobatannya ( Michael Bryer, 2012).
Diabetes mellitus telah menjadi ancaman cukup serius bagi umat
manusia seluruh dunia. Diperkirakan pada tahun 2025 jumlah pengidap
diabetes melitus akan membengkak menjadi 300 juta orang.
Indonesia menduduki peringkat keempat dunia dengan jumlah diabetes
terbanyak dibawah India 31,7 juta jiwa, China 20,8 juta jiwa, Amerika
Serikat 17,7 juta jiwa. Survey kesehatan rumah tangga (SKRT) memberi
gambaran terjadinya peningkatan prevalensi DM dari tahun 2001 sebesar
7,5% menjadi 10,4% pada tahun 2004, Diperkirakan menjadi 21,3 juta jiwa
pada tahun 2020 ( Dhania, 2009 ).
Penyakit DM juga dikenal sebagai penyakit akibat dari pola hidup
modern dimana orang lebih suka makan makanan siap saji, kurangnya
aktivitas fisik karena lebih memanfaatkan teknologi seperti penggunaan

1
kendaraan bermotor dibandingkan dengan berjalan kaki. Banyak penderita
DM dikarenakan gaya hidup/perilaku masyarakat yang tidak
memperhatikan pola hidup sehari-hari seperti mengkonsumsi gizi seimbang
dan berolahrga cukup. Perilaku dan gaya hidup yang kurang memperhatikan
pola hidup sehat disebabkan oleh pengetahuan dan pendidikan yang kurang.
(www. media Indonesia.co.id, 2012).
Para penderita diabetes harus terlibat secara aktif dalam
pengobatannya. Seperti pada kebanyakan penyakit lain, dokter meresepkan
obat-obatan dan satu-satunya tanggung jawab bagi pasien adalah untuk
meminumnya secara tepat. Tidak demikian halnya pada diabetes, pasien
harus cermat dalam diet mereka, olahraga lebih sering, mengukur kadar
glukosanya dalam banyak kasus, membuat jadwal dan mematuhinya serta
melakukan pemeriksaan pencegahan (misal. Pengukuran kebocoran
albumin dan urin) dan pemeriksaan (misalnya memeriksa pembesaran mata
pada optalmologi yang berwenang), semua hal ini dilakukan jika pasien
merasa baik (Michael Bryer, 2012).
Berdasarkan fenomena di atas maka tergambar bahwa pasien perlu
memiliki pengetahuan yang baik tentang penatalaksanaan pengobatan
diabetes agar dapat berperilaku yang baik dalam mengatur pola hidupnya.
Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang ”Analisa gambaran
tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tentang penatalaksanaan
pengobatan diabetes mellitus”.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tentang
”bagaimanakah gambaran tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus
tentang penatalaksanaan pengobatan diabetes mellitus.

2
1.3 Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum:
Mendapatkan gambaran mengenai tingkat pengetahuan pasien
diabetes mellitus tentang penatalaksanaan pengobatan diabetes mellitus.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan penderita DM tentang
penatalaksanaan pengobatan diabetes mellitus.
b. Menganalisis gambaran tingkat pengetahuan penderita DM tentang
penatalaksanaan pengobatan diabetes mellitus.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat bagi peneliti
Hasil dari penelitian dapat memberikan gambaran mengenai
tingkat pengetahuan penderita DM tentang penatalaksanaan
pengobatan diabetes mellitus dan dapat memberi informasi untuk
penelitian selanjutnya
2. Manfaat bagi perawat/profesi
Hasil penelitian dapat memberikan masukan bagi tenaga
keperawatan untuk melaksanakan tindakan keperawatan pada klien
DM, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan mutu asuhan
keperawatan yang diberikan kepada klien yang bersifat
komprehensif.
3. Bagi instasi kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan
institusi pelayanan asuhan keperawatan di Puskesmas sebagai
edukator sekaligus pembaharuan pelayanan pada klien DM.

4. Bagi masyarakat
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan masyarakat tentang DM khususnya penderita DM.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
2..1.1Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris
khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. (Sunaryo, 2004 : 25).
Pengetahuan adalah hasil kegiatan ingin tahu manusia tentang apa saja melalui
cara-cara dan alat-alat tertentu (Suhartono, 2004 : 77).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo,2003 : 127).
Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal.
Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan
bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas
pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang
berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat
bahwa peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal
saja, akan tetapi dapat diperoleh dari pendidikan non formal. Pengetahuan
seeorang tentu suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek
negatif, kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seeorang, semakin banyak
aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin
positif terhadap objek tertentu.
Menurut teori WHO yang dikutip Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk
objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari
pengalaman sendiri. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overtbehavior). Dari pengalaman
dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan-pengetahuan

4
yang cukup, di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo,
2003) yaitu:
1. Tahu
Tahu artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang rendah. Kata kerja untuk mengukur
bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan,
menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut secara benar. Orang yang telah faham terhadap obyek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajarinya.
1. Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat
diartikan aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip
dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
2. Analisis
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
3. Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi yang ada.

5
4. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian –penilaian itu
berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-
kriteria yang telah ada.

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengetahuan


Pengetahuan seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Faktor internal
a. Pendidikan
Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi. Dengan pendidikan yang tinggi masyarakat mudah
mengetahui informasi kesehatan salah satunya diabetes melitus.
b. Pekerjaan
Pekerjaan umumnya merupakan kegiatan yang banyak menyita
waktu. Dengan pekerjaan yang padat dan banyak menyita waktu
mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan informasi tentang
kesehatan.
c. Umur
Menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
Dengan umur yang matang masyarakat mampu berfikir atau mencari
informasi kesehatan diabetes melitus.

2. Faktor eksternal
a. Faktor lingkungan
Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam, lingkungan
merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya
yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok. suatu lingkungan yang kurang mendapatkan tentang informasi
kesehatan terutama tentang diabetes mellitus
.

6
b. Sosial budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi kesehatan tentang
diabetes melitus.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau


angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subyek
penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang akan diukur dari subyek
penelitian atau responden kedalam pengatahuan yang akan kita ukur adapun
pertanyaan yang akan digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara
umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
a. Pertanyaan subjektif, misal pertanyaan jenis essay.
b. Pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan pilihan ganda, betul salah, dan
pertanyaan menjodohkan.
Dari kedua pertanyaan tersebut, pertanyaan objektif khususnya
pertanyaan pilihan ganda lebih disukai untuk dijadikan sebagai alat ukur
dalam pengukuran pengetahuan karena akan lebih mudah disesuaikan dalam
pengetahuan yang akan diukur dan penilaiannya akan lebih cepat (Arikunto,
2001).
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan memberikan
seperangkat alat tes/kuesioner tentang objek pengetahuan yang mau diukur,
selanjutnya dilakukan penilaian dimana setiap jawaban benar dari masing-
masing pertanyaan diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Penilaian
dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban dengan skor
yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya berupa
presentase dengan rumus yang digunakan sebagai berikut:
N = Sp x 100% / Sm
Keterangan:
N = Nilai pengetahuan
Sp = Skor yang didapat
Sm = Skor tertinggi maksimum

7
Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan
diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :
a. Baik : Hasil presentase 76%-100%
b. Cukup : Hasil presentase 56%-75%
c. Kurang : Hasil presentase < 56%

2.2 Diabetes mellitus


2.2.1 Definisi
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner and
Suddart, 2001).
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang
disebabkan kurangnya produksi insulin, zat yang dihasilkan oleh kelenjar
pankreas. Bisa pula karena adanya gangguan pada fungsi insulin, meskipun
jumlahnya normal (Redaksi Agro Media, 2009).
Diabetes mellitus adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan
hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi
insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (M.
Clevo Rendy, 2012).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan diabetes melitus merupakan
gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai kelainan metabolik akibat dari
gangguan hormonal yang ditandai kenaikan kadar glukosa dalam darah dan
menimbulkan komplikasi kronik.

2.2.2 Tipe Diabetes Mellitus


1. Diabetes melitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah penyakit yang serius. Penyakit ini merupakan
penyakit autoimun yang sering muncul pada anak-anak atau pada orang
dewasa dibawah umur 30 tahun. Juvenile diabetes muncul pada masa kanak-
kanak dan harus ditanggulangi dengan memberikan insulin. Lima sampai 10%
dari seluruh kasus diabetes di dunia adalah diabetes melitus tipe 1.
2. Diabetes melitus tipe 2

8
Diabetes tipe 2 sering disebut DM yang tidak tergantung pada
insulin.Diabetes ini muncul pada usia dewasa dan disebabkan karena
kurangnya produksi insulin atau tidak efektifnya penggunaan insulin oleh
tubuh. Sekitar 90-95% dari kejadian diabetes di seluruh dunia adalah diabetes
tipe 2.

2.2.3 Etiologi
1. Faktor Genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe 1 itu sendiri tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya
diabetes tipe 1. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang
memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA
merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi
dan proses imun lainnya.
2. Faktor Imunologi
Pada diabetes tipe 1 terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal
tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya
seolah-olah sebagai jaringan asing.
3. Faktor Lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu sel β pancreas, sebagai contoh hasil
penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu
proses autoimun yang dapat menimbulkan destruksi sel β pancreas.

2.2.4 Tanda dan Gejala


Seseorang dapat dikatakan menderita diabetes mellitus apabila menderita
dua dari tiga gejala, yaitu:
1. keluhan TRIAS: Banyak minum, banyak kencing, dan penurunan berat badan.
2. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
3. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl

9
Keluhan yang sering terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah:
Poliuria, polidipsia, polifagia, berat badan menurun, lemah, kesemutan, gatal,
visus menurun, bisul luka, keputihan.
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes melitus adalah
sebagai berikut:
1) Kesemutan.
2) Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
3) Rasa tebal di kulit.
4) Kram.
5) Cape.
6) Mudah mengantuk.
7) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata.
8) Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.
9) Gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual menurun, bahkan
impotensi.
10) Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam
kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.

2.2.5 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes


Menurut (Adib, 2011) diabetes bukan hanya di karenakan kekurangan
insulin di dalam tubuh, tetapi faktor makanan dan minuman juga bisa memicu
perkembangan penyakit ini. Meskipun pada dasarnya makanan dan minuman
bukan faktor utama penyebab diabetes melitus. Namun ketika makanan dan
minuman dikonsumsi secara berlebihan, maka akan membahayakan tubuh kita.
Berikut ini makanan dan minuman yang dapat memicu diabetes dalam tubuh.
1. Teh manis
Asupan gula yang tinggi dapat menyebabkan kadar gula darah melonjak
tinggi. Hal ini belum ditambah dengan resiko kelebihan kalori. Sekaligus teh
manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan).
2. Gorengan
Jika hanya mengkonsumsi satu gorengan kecil, tentu belum cukup
karena bentuknya yang kecil. Padahal, gorengan adalah salah satu pemicu

10
penyakit degeneratif, seperti kardiovaskuler, DM, dan stroke. Sebab,
penyebab penyakit kardiovaskuler (PKV) adalah penyumbatan pembuluh
darah dengan dislipedemia sebagai resiko utama.
Sebenarnya dislipedemia adalah kelainan metabolisme lipid yang
ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat),
dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah.
Biasanya, peningkatan proporsi dislipedemia dalam masyarakat disebabkan
oleh kebiasaan mengkonsumsi berbagai makanan rendah serat tinggi lemak,
termasuk gorengan. Karena itu kita bisa mengkonsumsi kacang jepang dan
pie buah sebagai pengganti gorengan.
3. Kebiasaan memakan cemilan
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau makan malam, bisa
menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Namun, ketika kita belum
merasa kenyang, perut biasanya diisi dengan sepotong kue dua potong kue
cemilan, seperti biskuit atau keripik kentang. Padahal biskuit, kripik kentang,
kue dan lainnya mengandung hidrat arang yang tinggi tanpa kandungan
pangan yang memadai, sehingga semua makanan tersebut digolongkan
sebagai glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang
terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikan kadar gula
dalam darah. Untuk menghindari penyakit DM, sebaiknya kita mengkonsumsi
buah potong sebagai pengganti cemilan.
4. Malas beraktivitas
WHO mengatakan bahwa kasus diabetes di negara-negara Asia akan
naik hingga 90% dalam dua puluh tahun ke depan. Kurangnya aktivitas fisik
menyebabkan tubuh mudah terangsang kegemukan dan memiliki resiko
obesitas lebih tinggi, untuk menghindarinya, kita sebaiknya membiasakan diri
untuk bersepeda, jalan kaki atau aktivitas fisik lainnya.

5. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian menemukan bahwa perokok aktif memiliki resiko
DM sebesar 22%. Selain itu, disebutkan pula bahwa kenaikan resiko ini tidak

11
anya disebabkan oleh rokok, tetapi juga kombinasi berbagai gaya hidup tidak
sehat, misalnya pola makan yang buruk dan kurang berolahraga.

2.2.6 Komplikasi
Komplikasi-komplikasi pada Diabetes melitus menurut (Hartini, 2009)
dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Komplikasi Metabolik Akut
Komplikasi akut terdiri dari dua bentuk yaitu hipoglikemia dan
hiperglikemia. Hiperglikemia dapat berupa, Keto Asidosis Diabetik (KAD),
Hiperosmolar Non Ketotik (HNK) dan Asidosis Laktat (AL). Hipoglikemi
yaitu apabila kadar gula darah lebih rendah dari 60 mg % dan gejala yang
muncul yaitu palpitasi, takhicardi, mual muntah, lemah, lapar dan dapat
terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Hiperglikemi yaitu apabila kadar
gula darah lebih dari 250 mg % dan gejala yang muncul yaitu poliuri, polidipsi
pernafasan kussmaul, mual muntah, penurunan kesadaran sampai koma.
KAD menempati peringkat pertama komplikasi akut disusul oleh
hipoglikemia. Komplikasi akut ini masih merupakan masalah utama, karena
angka kematiannya cukup tinggi. Kematian akibat KAD pada penderita DM
tahun 2003 di negara maju berkisar 9 – 10%. Data komunitas di Amerika
Serikat, Rochester dikutip oleh Soewondo menunjukkan bahwa insidens
KAD sebesar 8 per 1000 pasien Diabetes mellitus per tahun untuk semua
kelompok umur. Hasil pengamatan di Bagian Penyakit Dalam RSCM selama
5 bulan (Januari - Mei) tahun 2002, terdapat 39 pasien KAD yang dirawat
dengan angka kematian 15%.
2. Komplikasi Metabolik Kronik
Komplikasi kronik pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah
di seluruh bagian tubuh (Angiopati diabetik). Angiopati diabetik untuk
memudahkan dibagi menjadi dua yaitu: makroangiopati (makrovaskuler) dan
mikroangiopati (mikrovaskuler), yang tidak berarti bahwa satu sama lain
saling terpisah dan tidak terjadi sekaligus bersamaan. Komplikasi kronik DM
yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

12
a. Mikrovaskuler :
1) Ginjal.
2) Mata.
b. Makrovaskuler :
1) Penyakit jantung koroner.
2) Pembuluh darah kaki.
3) Pembuluh darah otak.
4) Neuropati: mikro dan makrovaskuler
5) Mudah timbul ulkus atau infeksi : mikrovaskuler dan makrovaskuler.

2.2.7 Pengendalian Diabetes Mellitus


Menurut (Hartini, 2009), pengobatan diabetes atau yang biasa disebut
pegendalian diabetes. Ada 4 hal terpenting yang perlu dijalankan agar penderita
diabetes dapat hidup sehat. Empat hal terpenting itu disebut empat pilar
pengendalian diabetes :
1. Edukasi
Pengobatan diabetes lama, teratur, terjadwal dan perlu disiplin,
terkadang akan mengubah pola hidup. Namun pada sebagian orang, peraturan
itu malah membosankan. Oleh karena itu, penderita diabetes harus dibekali
dengan pengetahuan tentang diabetes. Melalui edukasi, penderita diabetes
atau siapa saja bisa mengetahui dan mengerti apa itu diabetes, masalah yang
harus dihadapi, mengapa penyakit ini perlu dikendalikan secepatnya, dan
seterusnya.
2. Pengaturan makanan (diet)
Pengaturan makanan merupakan pilar terpenting bagi pengobatan
diabetes. Penderita diabetes yang bijak adalah yang mau belajar mengenal
makanan yang menyebabkan gula darah tinggi dan berusaha mengindari
makanan tersebut. Selain makanan penderita juga harus memantau
minumanya. Baik dari diabetes tipe 1 maupun tipe 2 tetap memerlukan semua
bentuk zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat. Pengaturan makanan
maksudnya merancang sedemikian pula makanan yang jumlahnya sesuai

13
dengan kebutuhan sehingga insulin yang tersedia mencukupi. Disamping itu,
susunan zat gizinya sehat dan seimbang.
3. Olahraga / gerak badan
Olahraga atau latihan jasmani adalah pilar pengendalian diabetes ketiga
yang sangat penting. Olahraga baik untuk kesehatan pada umumnya dan dapat
membantu pengendalian gula darah dan berat badan. Gula darah yang tinggi
juga disebabkan oleh resistensi insulin yang dicetuskan oleh kegemukan.
Apabila kegemukan dikurangi, resistensi juga berkurang. Disamping itu,
olahraga walaupun tanpa menurunkan kegemukan juga dapat mengurangi
resistensi insulin.
4. Obat : tablet atau insulin
a. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
Pada penderita diabetes melitus mempunyai dua masalah yaitu
pancreas yang sakit sehingga produksi insulin kurang atau karena sel
menjadi resisten dan tidak sensitif terhadap adanya insulin. Keadaan itu
akan diperberat jika makan dengan jumlah yang terlalu banyak. Oleh
karena itu, diet dan olahraga harus dipertahankan walaupun sudah
mendapat obat-obatan.
Terdapat berbagai obat yang masing-masing dikelompokan
menjadi :
1) Obat untuk memperbaiki jumlah insulin yang kurang adalah
membantu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi
insulin. Obatnya adalah sulfonylurea dan golongan glinid.
2) Obat untuk memperbaiki hambatan terhadap kerja insulin atau
resistensi insulin pada sel-sel, obatnya adalah yang mengurangi
resisten insulin tersebut, yaitu golongan biguanid (metformin) dan
tiazolidindion (TZD).
3) Obat yang diberikan untuk merangsang insulindan menekan glukogen
inhibitor DPP-IV. Pengobatan dengan OHO hanya berlaku untuk
diabetes tipe-2. Untuk diabetes tipe-1 harus segera diberikan suntikan
insulin.

14
b. Insulin
Untuk diabetes tipe-1, insulin merupakan satu-satunya obat dan
diberikan langsung tanpa pertimbangan lain karena pancreas sudah tidak
menghasilkan insulin. Untuk diabetes tipe-2 insulin biasanya diberikan
dalam berbagai kondisi :
1) Apabila bermacam jenis OHO sudah diberikan maksimum, tetapi gula
darah tetap tidak terkendali, obat diganti insulin.
2) Insulin biasanya diberikan sebagai obat pertama pada penderita yang
waktu datang berobat berat badannya sudah turun dratis dalam waktu
singkat dengan gula darah yang tinngi.
3) Insulin biasanya juga diberikan apabila penderita menderita infeksi
hebat atau menjalani operasi besar
4) Pada komplikasi seperti gagal ginjal, gagal hati dan gagal jantung
yang berat, OHO biasanya harus segera dihentikan dan langsung
diganti insulin.

2.3 Kerangka Teori


Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo,2003 : 127).
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner
and Suddart, 2001). Dalam membahas diabetes mellitus, ada beberapa hal yang
perlu diketahui mulai dari pengertian diabetes mellitus, penyebab, klasifikasi,
faktor resiko, gejala klinis, komplikasi, sampai kepada penatalaksanaan
pengobatannya.
Menurut (Hartini, 2009), penatalaksanaan pengobatan diabetes atau yang
biasa disebut pegendalian diabetes. Ada 4 hal terpenting yang perlu dijalankan
agar penderita diabetes dapat hidup sehat. Empat hal terpenting itu disebut empat
pilar pengendalian diabetes :

15
1. Edukasi
2. Pengaturan makanan (diet)
3. Olahraga / gerak badan
4. Obat : tablet atau insulin
a. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
b. Insulin
Kerangka Teori

Pengertian

Klasifikasi
Penyebab
Tingkat
Pengetahuan
penderita DM

Gejala Klinis Komplikasi

Penatalaksanaan
pengobatan DM

Aktivitas Farmakolo
Fisik/ gis/ Obat
Edukasi Diet
Olahraga

Tingkat Pengetahuan:
Keterangan: - Tinggi
- Sedang
: Diteliti
- Rendah
: Tidak diteliti
: Berhubungan

16
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun
sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap
pertannyaan penelitian. Desain penelitian mengacu pada jenis atau macam
penelitian yang dipilih untuk mencapai tujuan penelitian, serta berperan
sebagai alat dan pedoman untuk mencapai tujuan tersebut (Setiadi, 2007)
Jenis penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Desain
dalam penelitian ini adalah cross sectional yaitu jenis penelitian yang
menekankan pada waktu pengukuran/observasi data variabel dependen dan
independen hanya satu kali, pada satu saat (Nursalam, 2003). Pada
penelitian ini peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada
satu saat. Artinya subjek hanya diobservasi satu kali saja dan pengukuran
variabel subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut (Sastroasmoro
dan Ismael, 1995).

3.2 Populasi dan Sampel


3.2.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau
subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan
(Sugiono, 2005). Populasi adalah objek penelitian atau objek yang akan
diteliti (Notoatmodjo, 2005).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menderita
Diabetes Mellitus di dusun bangkalan lamongan dalam kurun waktu 1
bulan.

3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan
sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2007). Sampel

17
merupakan sebagian dari sejumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Hidayat, 2007). Sampel merupakan bagian populasi yang
akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh
populasi (Hidayat, 2007).
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang menderita Diabetes
Mellitus di dusun bangkalan Lamongan dalam kurun waktu 1 bulan.

3.2.3 Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat
mewakili populasi agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai
dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2008).
Pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah total sampling
yaitu suatu teknik penetapan sampling dengan cara menjadikan semua
populasi sebagai sampel penelitian. (Nursalam, 2008).

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian


3.3.1 Tempat
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di dusun bangkalan Lamongan
yang berjumlah 20 orang.

3.3.2 Waktu Penelitian


Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan desember 2018.

3.4 Pengumpulan Data


3.4.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan
pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian
(Nursalam, 2007). Pada penelitian ini pengumpulan data adalah dengan
memberikan kuisioner kepada setiap responden. Kuesioner berisi beberapa
pertanyaan yang sebelum pengisian kuisioner dilakukan, menjelaskan terlebih
dahulu kepada responden mengenai maksud dan tujuan penelitian. Hasil kuisioner
akan dikonfirmasi dalam bentuk prosentase dan narasi.

18
3.4.2 Pelaksanaan
Cara kerja dan teknik pengumpulan data:
1. Membuat instrument (kuesioner)
2. Menyebarkan kuisoner kepada responden
3. Melakukan scoring dan tabulating data

3.5 Analisis Data


3.5.1 Rencana Analisa Data
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan gambaran
mengenai tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tentang penatalaksanaan
pengobatan diabetes mellitus. Maka untuk mendapatkan gambaran antara
variable menggunakan metode analisa data chi square.
1. Variabel Pengetahuan
Untuk mengukur pengetahuan diperhitungkan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
P = f/n × 100%
Keterangan:
P = Prosentase
F = jumlah jawaban yang benar
N = jumlah skor maximal

3.6 Etika Penelitian


Penelitian dengan menggunakan manusia sebagai objek tidak boleh
bertentangan dengan etika.
1. Informed Consent (lembar persetujuan)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan sebelum
dilakukan penelitian ( Aziz, 2007).
Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilakukan. Jika
responden penelitian bersedia untuk diteliti maka mereka harus
menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika menolak untuk di teliti
maka peneliti tidak memaksa dan menghormati hak – hak responden.

19
2. Anonimity (tanpa nama)
Nama responden tidak akan di cantumkan pada lembar kuesioner, dan
untuk mengetahui keikutsertaan responden maka peneliti akan memberi kode
pada lembar kuesioner.
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama
responden pada lembar kuesioner tetapi lembar tersebut tetap diberi kode
(Hidayat, 2007).
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi di jamin oleh peneliti dengan cara hanya
menyajikan / melaporkan data tertentu.

20
DAFTAR PUSTAKA

A. Setiono M. (2005). Hidup Sehat & Normal dengan Diabetes, Yogyakarta:


Thinkfresh
Arikunto, S. (2007), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi
Jakarta Rineka Cipta
Hidayat, A. 2003. Riset Keperawatan Sebuah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta:
Salemba Media.
Hotma Rumahorba, Skp. 1999. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Endokrin. Jakarta. EGC
Michael Bryer-Ash, MD. 2012. 100 Tanya-Jawab Mengenai Diabetes. Jakarta.
Indeks
M. Clevo Rendy. 2012. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan Penyakit
Dalam. Yogyakarta. Nuha Medika
Nursalam, 2001. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : PT Infomedika.
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :
PT.Rineka Cipta.
Prapti. (2009). Solusi Sehat Mengatasi Diabetes. Jakarta: Agro Media
Setiadi, 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan, Yogyakarta : Graha
Ilmu
Sugiyono, 2005. Statistika untuk Penelitian, Bandung : CV Alvabeta.

21