Anda di halaman 1dari 16

A.

TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota


harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua
kegiatan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran
penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai
tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga
harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk
mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan
menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha
kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi
profesi.

B. TANGGUNG JAWAB AUDITOR

Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan


Publik dalam memberikan jasanya, baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran
apapun yang bersifat pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat,
berdasarkan PMK No. 17/PMK.01/2008 hanya dikenakan sanksi administratif,
berupa: sanksi peringatan, sanksi pembekuan ijin dan sanksi pencabutan ijin.
Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan
dalam hal seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan
yang diatur dalam SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang
ditetapkan oleh IAPI, serta juga melakukan pelanggaran peraturan perundang-
undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan,
atau juga akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun telah
mendapatkan sanksi pembekuan izin sebelumya, ataupun tindakan-tindakan yang
menentang langkah pemeriksaan sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran
profesionalisme akuntan publik.
Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui
merupakan suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari
seorang Akuntan Publik, ternyata masih belum menjawab penyelesaian

1
permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah diderita oleh anggota
masyarakat, sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik
tersebut.
Selama melakukan audit, auditor juga bertanggungjawab
(Boynton,2003,h.68):

1) Mendeteksi kecurangan
a. Tanggung jawab untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahan-
kesalahan yang tidak disengaja, diwujudkan dalam perencanaan dan
pelaksanaan audit untuk mendapatkan keyakinan yang memadai
tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material yang
disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan.
b. Tanggung jawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti
adanya kecurangan. Laporan ini dilaporkan oleh auditor kepada pihak
manajemen, komite audit, dewan direksi

2. Tindakan pelanggaran hukum oleh klien


a. Tanggung jawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan
oleh klien. Auditor bertanggung jawab atas salah saji yang berasal dari
tindakan melanggar hukum yang memiliki pengaruh langsung dan
material pada penentuan jumlah laporan keuangan. Untuk itu auditor
harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya tindakan
melanggar hukum serta mengimplementasikan rencana tersebut dengan
kemahiran yang cermat dan seksama.
b. Tanggungjawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. Apabila
suatu tindakan melanggar hukum berpengaruh material terhadap laporan
keuangan, auditor harus mendesak manajemen untuk melakukan revisi
atas laporan keuangan tersebut. Apabila revisi atas laporan keuangan
tersebut kurang tepat, auditor bertanggung jawab untuk
menginformasikannya kepada para pengguna laporan keuangan melalui
suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar

2
bahwa laporan keuangan disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi
berterima umum.
Lebih jauh Soedarjono dalam Sarsiti (2003) mengungkapkan bahwa
auditor memiliki beberapa tanggung jawab yaitu:
a) Tanggung jawab terhadap opini yang diberikan.
Tanggung jawab ini hanya sebatas opini yang diberikan, sedangkan
laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen. Hal ini
disebabkan pengetahuan auditor terbatas pada apa yang diperolehnya
melalui audit. Oleh karena itu penyajian yang wajar posisi keuangan, hasil
usaha dan arus kas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum,
menyiratkan bagian terpadu tanggung jawab manajemen.
b) Tanggung jawab terhadap profesi.
Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah
disepakati IAI, termasuk mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku, standar
auditing dan kode etik akuntan Indonesia.
c) Tanggung jawab terhadap klien.
Auditor berkewajiban melaksanakan pekerjaan dengan seksama dan
menggunakan kemahiran profesionalnya, jika tidak dia akan dianggap lalai
dan bisa dikenakan sanksi.
d) Tanggung jawab untuk mengungkapkan kecurangan.
Bila ada kecurangan yang begitu besar tidak ditemukan, sehingga
menyesatkan, akuntan publik harus bertanggung jawab.
e) Tanggung jawab terhadap pihak ketiga
Tanggung jawab ini seperti investor, pemberi kredit dan sebagainya.
Contoh dari tanggung jawab ini adalah tanggung jawab atas kelalaiannya
yang bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar, seperti pendapat yang
tidak didasari dengan dasar yang cukup.
f) Tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak
ditemukan. Dengan melihat lebih jauh penyebabnya, jika kecurangan

3
karena prosedur auditnya tidak cukup, maka auditor harus bertanggung
jawab.1[1]

C. KONSEP-KONSEP HUKUM YANG MEMPENGARUHI


KEWAJIBAN

Faktor-faktor yang mendorong makin meningkatnya jumlah tuntutan hukum


maupun besarnya tuntutan:

1. Meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab


akuntan public
2. Meningkatnya perhatian Bapepam sehubungan dengan tanggung jawab
melindungi kepentingan investor
3. Bertambahnya kompleksitas masalah auditing dan akuntansi
4. Meningkatnya penerimaan masyarakat atas gugatan-gugatan oleh pihak
yang dirugikan terhadap siapa saja yang dapat memberikan ganti rugi tanpa
memandang siapa yang bersalah (konsep kewajiban "deep pocket")
5. Kesediaan banyak kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah
hukum di luar pengadilan
6. Banyaknya alternatif prinsip akuntansi yang dapat dipilih oleh klien2[2]

Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek dari tugasnya,


termasuk audit, pajak, konsultansi manajemen, dan pelayanan akuntansi serta
pembukuan. beberapa konsep hukum dapat diterapkan pada segala macam
gugatan terhadap akuntan publik. Konsep-konsep ini adalah konsep kehati-hatian,
kewajiban atas tindakan orang lain, dan terbatasnya hak komunukasi istimewa.

1[1]http://ismail125cc.blogspot.co.id/2014/03/etika-profesi-dan-kewajiban-hukum.html (diakses
tanggal 29 September 2015)

2[2]http://stdln.blogspot.co.id/2011/02/kewajiban-hukum_18.html(diakses tanggal 1 Oktober


2015).

4
1) Konsep Kehati-Hatian (Prudent Person)

Ada perjanjian antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan
penjamin atau penanggung jawab laporan keuangan. Auditor hanya berkewajiaban
untuk melakuakan audit secara teliti. Meskipun demikian, auditor bukan tanpa
cela. Standar ketelitian yang dapat diharapkan dari auditor sering disebut sebagai
konsep prudent person. Ini dinyatakan dalam cooley on Torts sebagai berikut:

“ Setiap orang yang memberikan jasanya kepada orang lain dan


dipekerjakan olehnya mempunyai keawajiban untuk menggunakan keahlian yang
dimilikinya dengan hati-hati dan sungguh-sungguh. Dalam semua pekerjaan yang
membutuhkan keahlian khusus ini, jika seseorang menawarkan jasanya, dapat
dianggap bahwa dia menyediakan dirinya kepada masyarakat sebagai orang yang
mempunyai tingkatan keahlian yang juga dipunyai oleh orang lain dalam
mengerjakan pekerjaan yang sama, dan jika apa yang dia janjikan ternyata tidak
berdasar, berarti dia melakukan penipuan terhadap semua orang yang telah
mempercayainya. Akan tetapi tidak seorang pun, apakah dia ahli atau bukan, yang
dapat menjamin bahwa pekerjaan yang dilakukannya akan berhasil 100% tanpa
kekeliruan atau kesalahan. Dian hanya menjamin itikad baik dan integritas tetapi
tidak menjamin akan bebas dari kesalahan, dan dia bertanggungjawab atas
kecerobohan, itikad buruk, atau ketidakjujuran, tetapi terbebas dari kerugian yang
berakibatkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan”.

2) Konsep Kewajiban Atas Tindakan Orang Lain

Para partner atau pemegang saham dalam perseroan professional secara


bersama-sama bertanggungjawab atas tindakan perdata yang ditujukan terhadap
salah seorang anggotanya.

3) Kurangnya Hak Komunikasi Istimewa

Menurut common law, akuntan publik tidak berhak untuk menahan


informasi jika diminta oleh pengadilan dengan alasan bahwa informasi itu
dirahasiakan. Seperti informasi dalam kertas kerja seorang auditor dapat diminta

5
dan diwajibkan oleh pengadilan jika diperlukan. Pembicaraan rahasia klien dan
auditor tidak dapat ditutupi dalam pengadilan.

D. PERATURAN MENTERI KEUANGAN, UU PASAR MODAL DAN


PERATURAN BAPEPAM, PERATURAN BANK INDONESIA

Tanggung jawab Akuntan Publik berdasarkan PMK No. 17 Tahun 2008 pasal
44 ayat (1) menyatakan akuntan publik dan/atau KAP bertanggung jawab atas
seluruh jasa yang diberikan dan ayat (2) menyatakan Akuntan Publik bertanggung
jawab atas Laporan Auditor Independen dan Kertas Kerja dari Akuntan Publik
yang bersangkutan selama 10 (sepuluh) tahun.

Tanggung Jawab Akuntan Publik dalam Pasal 80 UU No.8 tahun 1995 tentang
Pasar Modal menyatakan Akuntan Publik sebagai jasa professional ikut
bertanggung jawab bila Pernyataan Pendaftaran Emiten yang dijaminnya tidak
memuat informasi mengenai Fakta Material sesuai Undang-Undang sehingga
informasi tersebut menyesatkan. Namun tanggung jawab auditor terbatas pada
pendapat yang diberikannya.

Tanggung jawab Akuntan Publik berdasarkan Keputusan Ketua Badan


Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: KEP-86/BL/2011
tentang independensi akuntan yang memberikan jasa di pasar modal, pada pasal 7
menyatakan dalam penerimaan penugasan profesional, Akuntan wajib
mempertimbangkan secara profesional dan memiliki independensi yang dapat
dipertanggungjawabkan sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan
Publik (SPAP).

Tanggung jawab Akuntan Publik berdasarkan Peraturan Bank Indonesia


Nomor: 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank, pada pasal
19 menyatakan Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Laporan
Keuangan Tahunan Bank wajib :

6
a. Melakukan audit sesuai dengan standar professional akuntan publik
serta perjanjian kerja dan lingkup audit yang disepakati Bank dan
Kantor Akuntan Publik
b. Memberitahukan pelanggaran perundang-undangan dan keadaan lain
yang dapat membahayakan kelangsungan usaha bank selambat-
lambatnya 7 ari setelah ditemukan.
c. Menyampaikan hasil audit dan Management Letter kepada Bank
Indonesia.
d. Memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur Undang-
Undang Nomor 10 tahun 1998.

E. TUNTUTAN HUKUM YANG DIHADAPI AKUNTAN PUBLIK

Hampir semua akuntan publik menyadari bahwa mereka harus


memberikan jasa profesinya sesuai dengan standar professional akuntan publik,
mentaati kode etik akuntan publik dan memiliki standar pengendalian mutu. Jika
tidak akuntan publik bisa salah dalam memberikan opini, karena memberikan
opini wajar tanpa pengecualian padahal laporan keuangan mengandung salah saji
material ( ini disebut audit failure).
Saat ini sudah dikeluarkan Undang-Undang Akuntan Publik Nomor 5
Tahun 2011 yang salah satu pasalnya menyebutkan akuntan publik bisa dikenakan
sanksi pidana jika terbukti lalai dalam menjalankan tugasnya dan terbukti terlibat
tindak pidana. Bapepam LK dan PPAJP Departemen Keuangan pun membuat
berbagai aturan, antara lain menyangkut indepensi akuntan publik, pembatasan
jangka waktu pemberian jasa audit (3 tahun untuk Akuntan Publik dan 6 tahun
untk KAP yang memiliki lebih dari satu partner ).
Akuntan publik bisa dituntut secara hukum oleh klien jika tidak bisa
memenuhi kontrak yang dibuat dengan klien atau tidak hati-hati (lalai) dalam
memberikan jasa profesionalnya. Tuntutan hukum juga bisa terjadi karena
business failure, audit failure, dan audit risk.

7
 Business Failure terjadi manakala perusahaan tidak mampu membayar
kewajibannya atau tidak bisa memenuhi harapan investor karena kondisi
ekonomi atau bisnis yang memberatkan.
 Audit Failure terjadi manakala akuntan publik memberikan opini yang
salah karena gagal mematuhi apa yang diatur dalam standar auditing.
 Audit Risk adalah risiko bahwa akuntan publik menyimpulkan bahwa
laporan keuangan disajikan secara wajar dan memberikan opini wajar
tanpa pengecualian padahal dalam kenyataannya laporan keuangan
mengandung salah saji material.

Tanggung jawab hukum akuntan publik terjadi jika timbul kelalaian atau
akuntan publik tersangkut Fraud.
Di Indonesia , tuntutan hukum bisa berasal dari :
o Klien
o (Calon) investor
o Bapepam –LK
o PPAJP-DepartemenKeuangan
o Bank Indonesia
o Pengguna Laporan Keuangan

Sanksi yang diberikan PPAJP-Departemen Keuangan bisa dalam bentuk


peringatan tertulis, penghentian sementara pemberian jasa akuntan publik atau,
usulan kepada Menteri Keuangan untuk pencabutan izin praktik akuntan publik
tergantung berat atau ringannya pelanggaran.
Sanksi yang diberikan Bapepam-LK dalam bentuk peringatan tertulis,
larangan pemberian jasa dipasar modal. Pihak lainnya (klien, investor BI,
pengguna laporan keuangan) bisa mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan jika
merasa dirugikan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan akuntan publik untuk menghindari tuntutan
hukum antara lain :
 Jangan sembarangan menerima klien, pilih klien yang memiliki integritas

8
 Pilih audit staf yang qualified dan memiliki integritas
 Pertahankan independensi (in fact, in appearance, and in mind)
 Patuhi standar auditing, kode etik akuntan publik
 Miliki system pengendalian mutu
 Pahami betul bisnis klien
 Lakukan audit yang berkualitas
 Dukung laporan audit dengan kertas kerja yang lengkap
 Untuk setiap penugasan harus ada kontrak kerja (engagaement letter)
 Dapatkan surat pernyataan langganan sebelum mengeluarkan audit report
 Jaga data confidential klient
 Jika memungkinkan asuransikan jasa professional yang diberikan
 Jika memungkinkan miliki penasihat hukum
 Terapkan sikap skeptic yang professional
 Selain itu Ikatan Profesi (IAI, IAPI) juga bisa membantu anggotannya
dengan cara :
 Menyediakan pelatihan bagi anggotanya melalui PPL dengan biaya yang
reasonable
 Menerapkan peer review
 Mengupdate standar auditing dan aturan etika
 Melakukan research dibidang auditing
 Melakukan lobby ke regulator untuk mencegah undang-undang dan
peraturan yang merugikan anggota
 Memberikan edukasi kepada pengguna laporan keuangan
 Berikan sanksi yang tegas untuk anggota yang melakukan pelanggaran

F. CONTOH-CONTOH FRAUD DI INDONESIA DAN AMERIKA


SERIKAT

Hasil penelitian di luar negeri dan di indonesia tentang karakteristik personal,


pengalamn audit, independensi akuntan public, penerapan etika akuntan public dan
kualitas audit.

9
No. Penelitian Judul Penelitian Hasil Penelitian
(Tahun)
1 Pany dan The Effect of Gifts, Pemberian hadiah berpengaruh
Reckers (1980) Discount,Personalty signifikan terhadap independensi
Characteristic,and auditor, karakter personal auditor
Client Size on berhubungan positif dengan
Perceived Auditor independensi auditor, sedangkan
Independence ukuran klien tidak terpengaruh secara
signifikan
2 DeAngelo Auditor Independence, KAP yang besar akan berusaha untuk
(1981) *Low Balling*, and menyajikan kualitas audit yang lebih
Disclouser Regulation besar dibandingkan dengan KAP yang
kecil
3 Meixner and Judgement Consensus Menunjukkan bukti empiris bahwa
Walker (1988) and Auditor consensus yang terjadi diantara staf
Experience: An auditor semakin meningkat karena
Examination bertambahnya intensitas waktu
ofOrganizational untukberhubungan dengan manajer
Relation audit yang sama
4 Merchant Analogical Reasoning Auditor yang semakin berpengalaman
(1989) and Hypothesis akan memiliki kemampuan yang lebih
Generation in baik dalam mengidentifikasi
Auditing kesalahan-kesalahan dalam
melakukan telaah analitik dan
semakin tinggi tingkat
independensinya
5 Libby and Experience and The Semakin banyak pengalaman yang
Frederick Ability to Explain dimilii oleh seorang auditor maka
(1990) Audit Findings semakin banyak pula baik sikap
skeptisme profesionalnya dalam
menghasilkan berbagai macam
dugaan dan menjelaskan temuan audit
6 Tubs (1992) The Effect Of Auditor independen yang

10
Experience on The berpengalamanlebih sensitive dalam
Auditor’s mendeteksi kekeliruan-kekeliruan
Organizational and yang tidak lazimatas temuan-temuan
Amount of dalam audit
Knowledge
7 Davis (1996) Experience and Auditor yang independen
Auditor’s Selection of berengalaman menunjukkan tingkat
Relevant Information perhatian selektif yang lebih tinggi
for Reliminary terhadap informasi yang relevan dan
Control Of Risk lebih mudah dalam menerapkan
Assesment prinsip-prinsip etika
8 Lawrence and The Ethical Menunjukkan bukti empiris bahwa :
Shaub Construction 1. Orientasi dan alas an etis auditor
ofAuditor’s : An berpengaruh terhadapkeputusan
examination of the professional dan keputusanetis.
effects of gender and 2.Auditor senior lebih mudah dalam
career level mengadopsi pandangan etis tentang
relativisme dan situasi etis disbanding
auditor junior
9 Maryani dan Survei atas Faktor- Ada Sembilan factor yang
Ubti Ludigdo Faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku
(2001) mempengruhi sikap akuntan publik, yaitu: religiusitas,
dan Perilaku Etis pendidikan, organisasional,emotional
Akuntan quotient,lingkungan
keluarga,pengalaman hidup,imbalan
yang diterima,hukum,posisi atau
kedudukan
10 Widagdo, Analisis Pngaruh Ada 6 atribut yang berpengaruh
Lesmana, dan Atribut-atribut terhadap kualitas audit yaitu:
Irwandi (2002) Kualitas Terhadap pengalaman melakukan audit,
Kepuasan Klien (Studi memahami industry klien, responsive
Empiris pada terhadap pengguna laporan audit, taat
Perusahaan yang pada standar auditing, komitmen

11
Terdaftar di Bursa terhadap kualitas audit, dan
Efek Jakarta) keterlibatan komite audit.
11 Sekar Analisis Pengaruh Factor-faktor yang mempengaruhi
Mayangsari Independensi Kualitas integritas laporan keuangan: 1.
(2003) Audit, serta Spesialisasi auditor 2. Independensi 3.
Mekanisme Corporate Mekanisme corporate governance
Governance terhadap
Integritas Laporan
Keuangan
12 Ida Surida Pengaruh Etika, Memperoleh bukti: 1.
(2005) Kompetensi, Etika,kompetensi,pengalaman audit
Pengalaman, Risiko dan risiko berpengaruh terhadap
Audit dan Skeptisme skeptisisme professional baik secara
Professional Auditor parsial maupun secara simultan. 2.
Terhadap Ketepatan Pengaruh skeptisisme professional
Pembeian Opini auditor terhadap ketepatan pemberian
Akuntan Publik opini akuntan public masih kurang
(Survei terhadap para dari lima puluh persen dan 3.
akuntan public di Etika,kompetensi,pengalaman
Indonesia) audit,risiko audit dan skeptisisme
professional auditor berpengaruh
positif terhadap ketepatan pemberian
opini akuntan public baik secara
parsial maupun simultan

Contoh-contoh yang lainnya:

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah transaksi


kartu kredit yang tidak sesuai ketentuan alias fraud hingga Februari 2013
mencapai 6.100 transaksi. Nilai volume transaksinya mencapai Rp7,5 miliar. "Itu
adalah total fraud untuk kartu debet dan kredit," kata Direktur Eksekutif
Departemen Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah, Kamis (21/3). Adapun
rinciannya adalah Rp3,6 miliar per Januari 2013 dan Rp 3,9 miliar per Februari

12
2013. Menurut Difi, BI sudah menanyakan langsung perihal kasus yang terjadi
pada dua bank, Bank Mandiri dan BCA di sebuah salah satu gerai ritel fashi

Phar Mor Inc, termasuk perusahaan terbesar di Amerika Serikat yang


dinyatakan bangkrut pada bulan Agustus 1992 berdasarkan undang-undangan
U.S. Bangkruptcy Code. Phar mor merupakan perusahaan retail yang menjual
produk yang cukup bervariasi, mulai dari obat-obatan, furniture, elektronik,
pakaian olah raga hingga videotape. Pada masa puncak kejayaannya, Phar Mor
mempunyai 300 outlet besar di hampir seluruh negara bagian dan
memperkerjakan 23,000 orang karyawan yang berpusat di Youngstown, Ohio,
United States. Phar-Mor dididrikan oleh Michael I. Monus atau biasa disebut
Mickey Monus dan David S. Shapira di tahun 1982

Ikhtisar Hasil Penelitian Empirik Terdahulu Efek Kualitas Tata Kelola Korporasi
dan Implementasi Prinsip Etika Bisnis terhadap Potensi Kecurangan Pelaporan
Keuangan.

No Nama Judul Penelitian Hasil Penelitian


1 Karpoff dan Lott The Reputational Rerata kembalian abnormal dalam dua
(1993) penalty firms bear atau tiga hari jendela sekitar
from committing ditemukannya kecurangan, secara
criminal fraud signifikan adalah lebih negative dalam
kasus kecurangan pelaporan keuangan
ketimbang dalam kasus kecurangan
lainnya
2 Mc Mullen Audit committee Perusahaan dengan pelaporan keuangan
(1996) performance an yang handal (yakni, tidak ada
investigation of the kesalahan, dan tindak melanggar
consequences hukum) memiliki komite audit
association with
audit committees
3 Agrawal et al Management Hubungan penemuan kecurangan

13
(1999) turnover and dengan perpindahan direktur dan
governance manajer senior, mereka tidak
changes following menemukan hubungan dimaksud.
the revelation of Mereka memeriksa 103 perusahaan
fraud yang melakukan berbagai macam
kecurangan, tetapi hanya menemukan
empt diantaranya yang melakukan
kecurangan pelaporan keuangan
4 Abbot et.Al. The Effects of Efektivitas komite audit untuk
(2000) audit committee keperluan deteksi kecurangan
activity and merupakan fungsi dari kehadiran
independence on anggota luar dari komite audit, dan
corporate fraud frekuensi rapart komite audit.Namun,
mereka tidak menemukan hubungan
signifikan antara karakteristik dewan
komisaris dan kecurangan
5 Beasly dan Board Pertama,kemungkinan perusahaan
Petroni (2001) independence and asuransi memperkerjakan auditor
audit firm type ternama (big 6) yang berspesialisasi
dalam industry suransi meningkat
secara pararel dengan presentase
anggota dewan direksi dari luar.Kedua
peneliti tidak menemukan hubungan
signifikan antara komposisi dewan
direksi dan pilihan pengguna auditor
yang tidak ternama
6 Sharma (2004) Board of Director Meningkatkan presentase direktur
characteristics independen dan pemilikan institusional
institutional menyebabkan kemungkinan
ownership and kecurangan menurun. Terdapat
fraud : evidence hubungan positif antara dualitas dan
from Australia kemungkinan kecurangan
7 Farber (2005) Restoring trust Pertama,perusahaan yang melakukan

14
after fraud: does kecurangan memiliki tata kelola yang
corporate jelek relatife terhadap sampel control
governance matter? dalamtahun sebelum kecurangan
terdeteksi.Kedua,dalam perusahaan
yang melakukan kecurangan, analis dan
pemilikan institusional tidak bertambah
karena kredibilitas masih merupakan
masalah dalam perusahaan tersebut
8 Utama dan Audit committee Komposisi komite audit mempunyai
Leonardo (2006) composition, dampak positif terhadap efektivitas
control of majority komite audit disamping juga
shareholders and dipengaruhi oleh control tata kelola
their impact on perusahan melalui pemegang saham
audit committee mayoritas
effectiveness:
Indonesia Evidence

15
DAFTAR PUSTAKA

Alvin A Arens., Randal J Elder, Mark SBeasley, Auditing dan Jasa Assurance,
(Jakarta: Erlangga), Jilid 1, Edisi 12, 2008
Dan M Guy, C Wayne Alderman, Auditing, (Jakarta: Erlangga), Jilid 1, Edisi 5,
2002..
http://stdln.blogspot.co.id/2011/02/kewajiban-hukum_18.html (diakses tanggal 1
Oktober 2015).
http://krissaptataruna4.blogspot.co.id/ (diakses tanggal 31 Desember 2014)
http://sbwicaksono.blogspot.co.id/2013/10/tanggung-jawab-akuntan-publik.html
(Diposkan 7 October 2013 oleh Satrio B. Wicaksono)

16